"Dengarkan aku, Kim Ryeowook."

.

.

.

~ Snowy Wish ~

.

.

.

YeWook Fanfiction © R'Rin4869

.

.

.

Genre : Hurt, Romance, Family

Pairing : YeWook

Genre : T

Warning : Typos, YAOI, OOC, etc.

Disclaimer : Semua tokoh di fic ini milik diri mereka sendiri, fans, dan orang tuanya sedangkan cerita ini milik saya

Dont bash the charachter

Dont Like Dont Read

.

.

.

"Ryeowook!"

Seorang namja dengan kruk mencoba berlari melewati halaman untuk mengejar namja lainnya yang sudah bergerak cepat masuk ke rumah sakit.

"Ya! Kim Ryeowook!"

Ryeowook tidak juga mau berhenti, kakinya melangkah lebar-lebar ke arah lobi rumah sakit itu. Mengabaikan panggilan Yesung di belakangnya.

"Ah! Ryeowook oppa!"

Namja itu sudah akan melangkah lagi ketika dirasanya namanya dipanggil untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini dengan reflek dia berhenti. Mengenali suara yeoja yang barusan memanggilnya.

"Yoona ya."

Gadis itu berjalan ke arah Ryeowook. Pandangannya jelas bingung.

"Ada apa? Kenapa berlari seperti itu?"

"Kim Ryeowook, tunggu! Ya! Kim Yoona, tahan namja itu di sana."

Yoona nyaris saja terlonjak dibuatnya saat suara kakaknya terdengar berupa teriakan agak terengah. Halaman rumah sakit ini sepi, untung saja. Kalau tidak pastilah ada orang lain yang menatap heran pada kejadian yang sekarang ini ada di depan mata Yoona.

Kakaknya itu sedang berusaha mencapai tempatnya berdiri dengan bantuan kruk. Tampak sekali kesulitan untuk melintasi halaman yang cukup luas. Jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, tapi Yoona yakin ada suatu hal yang membuat Yesung harus bergerak secepat itu.

Pandangannya kini beralih pada Ryeowook yang tadinya akan dihampiri olehnya. Dan kesadaran itu datang begitu cepat saat Yoona bisa melihat lebih jelas raut wajah Ryeowook yang dinilainya tidak lazim kali ini. Masih ada jejak airmata di sana, wajah namja itu memerah, dan tampak jelas sedang menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya dengan mati-matian.

"Jangan dengarkan dia." Ryeowook mendesis. Tatapannya menjadi jauh lebih tajam saat diarahkan kepada Yesung.

Namja itu memang diam bergeming di tempatnya tanpa Yoona menuruti kakaknya untuk menahannya di sana. Tapi raut wajah Ryeowook menyiratkan jika dia tidak sukarela berdiri di sana. Dan demi Tuhan! Yoona masih tidak mengerti apa yang harus diperbuatnya sekarang.

"O-Oh," Gadis itu kini diambang rasa penasarannya. Kedua orang ini jelas sekali sedang bertengkar saat dirinya datang.

Yesung sekarang sudah berada makin dekat. Memcoba bernapas dengan benar meskipun kesulitan. Penampilan kakaknya itu mengerikan. Rambut Yesung yang berantakan dan perban di bagian-bagian tubuhnya menambah kesan horor saat Yesung memancangkan obsidiannya pada Ryeowook.

Dan sesaat, Yoona menyesal telah datang ke tempat ini. Ke tengah-tengah konflik yang sedang terjadi antar 'pasangan' di depannya.

Suara Yesung terdengar serak saat akhirnya namja itu mampu mengucapkan satu kalimat tunggal dengan intonasi mendesak.

"Aku... Aku mau menjelaskannya."

.

.

.

"Cukup!" Yoona mengangkat tangannya. Memotong kata-kata yang diucapkan Yesung saat itu. "Aku keluar. Aku yakin kalian butuh tempat bicara yang lebih privat."

Gadis itu bergerak ke arah pintu ruangan itu dan membukanya. Keluar tanpa banyak suara.

Keheningan di antara Ryeowook dan Yesung di kamar rawat itu jauh lebih mengerikan setelahnya. Ryeowook yang tidak berkomentar apapun sejak awal Yesung bicara kini seperti patung batu di sana. Sama sekali tidak menunjukkan minat untuk merespon pernyataan Yesung.

"Kumohon Ryeowookie." Yesung berkata lemah.

Ryeowok masih diam.

Pria yang lebih tua itu menghembuskan napasnya keras. Punggungnya menyentuh ranjang rumah sakit dengan gerakan cepat.

"Aku tahu aku salah. Aku membohongimu. Baiklah. Aku benar-benar minta maaf."

Ryeowook tetap diam. Memandang malas pada vas bunga yang berada di meja sebelah tempat tidur Yesung.

"Ryeowookie."

Ryeowook kali ini menutup matanya dengan frustasi yang membuncah. Masih bisa diingatnya dalam hitungan jam dia baru saja menyatakan perasaannya secara tidak langsung pada namja di depannya, dan pada saat selanjutnya dia diberi tahu satu kenyataan paling idiot dalam hidupnya jika dia tertipu mentah-mentah karena nyatanya... Seorang Kim Jongwoon bukanlah pengidap amnesia pasca kecelakaan bermotor yang diterimanya! Pria itu hanya mau mengerjainya. Setidaknya itulah kesimpulan yang dia dapatkan.

"Aku masih tidak bisa percaya." Ryeowook akhirnya bersuara. Meskipun nadanya terdengar sangat mengerikan di telinga Yesung.

Ketika kedua karamel itu membuka dan bertatapan langsung pada obsidiannya Yesung bisa menyadari apa yang telah diperbuatnya selama ini.

"Aku minta maaf."

"Kau sudah mengatakannya lebih dari hitungan puluhan."

"Jebal."

Emosi Ryeowook nyaris meledak sekarang ini. Dia masih tidak tahu apakah sebaiknya dia harus marah ataukah bersyukur saja.

"Aku tidak mau tahu lagi."

Suaranya terdengar sedingin es, dan Ryeowook memilih untuk mengikuti jejak Yoona. Keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan Yesung yang kini meratap sendirian di kamar rawatnya.

.

.

.

Cklek!

"Sudah?"

Gadis itu kembali masuk ke kamar Yesung begitu dirasanya sudah tepat.

"Mana Ryeowook oppa?"

"Dia pergi."

"Aku tidak terkejut." Yoona menyahut pedas.

Yesung memandang adiknya dengan tatapan permohonan. "Kau marah juga?"

"Sangat."

"Yoona ya,"

Yoona menatap garang pada kakaknya.

"OPPA PABBO!"

Gadis itu meledak. Memandang Yesung garang.

"Oppa tahu apa yang oppa lakukan selama ini, hah?!"

Yesung mengejek dirinya sendiri dalam hati.

"Aku membohongi kalian."

"Oppa membohongi semua orang!" Yoona nyaris menjeritkan kalimat itu.

"Sungguh, Kim Yoona. Kau tahu kenapa aku melakukannya!"

Anggukan kaku diterima Yesung dari gadis itu.

"Tapi apa oppa tahu betapa sedihnya Ryeowook oppa saat itu? Apa oppa tahu dia putus asa untuk membuat oppa ingat kembali padanya? Apa oppa sadar jika dia sudah cukup lelah untuk menghadapi semua ini? Oppa nyaris membuatnya gila dalam beberapa hari!" Napas Yoona terengah. Dia meluapkan emosinya pada Yesung.

"Demi Tuhan, Kim Yoona!" Yesung membentak dengan putus asa. "Aku tidak bermaksud sampai sejauh itu!"

"Tapi itulah yang terjadi selama ini."

Yesung mengerang. "Aku tidak tahu kalau dia benar-benar mencintaiku pada akhirnya." Suaranya terdengar lirih.

Yoona mendengus. "Aku kecewa dengan cara oppa yang satu ini." Gadis itu berucap jujur.

"Aku tahu."

Yoona berdecak keras. Mendekap tubuhnya dengan tangannya sendiri. "Ryeowook oppa mungkin akan benar-benar menjauh darimu kali ini, oppa."

Walau terdengar getir, Yesung tetap menjawab, "Dia pasti sudah membenciku sekarang."

"Tapi setidaknya, jika akhirnya Ryeowook oppa berbalik membencimu, oppa mungkin tidak harus bertemu dengannya lagi untuk melihatnya."

Mata Yesung melebar karena terkejut, sekaligus mengandung ketakutan yang tersamarkan.

"Apa maksudmu, Yoona ya?"

.

~Y~~W~

.

Ryeowook tidak berpikir semuanya akan seperti ini. Tidak, setidaknya sampai beberapa saat yang lalu...

Tangannya mengambil gelas di meja bar dan menenggak isinya. Mengalirkan cairan hangat ke tenggorokannya yang terasa semakin panas akibat alkohol yang terkandung di dalam minuman tersebut. Matanya memicing saat sosok yang dikenalnya serasa mendekat padanya.

"Ryeowook,"

Heenim menatap heran pada namja di depannya itu. Sudah lama sekali sejak Ryeowook mabuk terakhir kali di klub malamnya. Dia berpaling pada Kyuhyun yang bertugas sebagai bartender di sana dan mendapatkan gelengan dari namja itu. Tanda jika Kyuhyun pun tidak tahu menahu perihal apa yang terjadi pada Ryeowook saat ini.

"Ada apa?" Heenim memegang bahu Ryeowook. Meremasnya pelan.

Ryeowook cegukan sedikit, tapi mencoba mengumpulkan suaranya. "Namja bodoh itu..."

Alis Heenim menaut. Siapa yang dimaksud Ryeowook? Tapi siapapun yang bisa dipanggil bodoh oleh Ryeowook, tidak lain tidak bukan pastilah...

"Yesung hyung?"

Kyuhyun berbisik agak keras, mencoba mengalahkan suara musik yang berdentam-dentam keras di pendengaran mereka. Heenim menatapnya. Keduanya bertatapan dan sama-sama mengangguk pada saat berikutnya.

"Ya, Yesung hyung yang bodoh itu, hik...hik..." Ryeowook cegukan lagi.

Heenim meragukan apakah Ryeowook masih bisa bercerita padanya atau tidak malam ini. Wajah namja itu memerah. Dan dia terus cegukan.

"Berapa gelas yang kau berikan padanya, Kyu?"

"Hanya segelas sherry. Kujamin dia tidak meminta tambah setelah itu." Kyuhyun bersungut saat merasa jika dirinya dicurigai.

Heenim makin terlihat bingung sekarang ini. Dari pengalamannya, tampaknya Ryeowook termasuk peminum yang tangguh. Jadi tidak mungkin segelas sherry bisa membuat namja itu mabuk seperti ini. Tapi jika tidak minum banyak, berarti tanda-tanda yang ditunjukkan Ryeowook barusan bukanlah tanda dari orang yang mabuk. Wajah memerah, suara serak, dan cegukan itu... nampaknya seperti Ryeowook...

"Ryeowook hyung!" Kyuhyun terkesiap saat melihat lelehan bening mengalir di pipi Ryeowook saat ini. Pemuda itu meninggalkan botol vodkanya dan menghampiri Ryeowook dengan sekotak tissue.

Ryeowook menangis.

"Ryeowook." Heenim ikut membantu mengelap airmata Ryeowook yang tumpah. "Ceritakan padaku ada apa?"

Ryeowook mendongak. Memandang penuh harap pada Heenim, kemudian memeluk namja yang lebih tua darinya itu. Membuat Heenim kembali bertambah bingung.

"Yesung hyung... jahat sekali... hik... hik... Dia membohongiku..."

.

~Y~~W~

.

Yesung mengacak rambutnya. Mengerang saat nada sambung di ponselnya berubah menjadi pemberitahuan jika nomor yang sedang dihubungi sedang tidak dapat menerima panggilan. Untuk kesekian kalinya dia mencoba, dan pemberitahuan itu terus didengarnya. Dia menyerah kali ini.

Tangannya menggenggam ponselnya dengan wajah lelah. Dia harus menghubungi Ryeowook secepatnya. Dan mendapatkan maaf dari namja itu.

Yesung menghela napasnya. Tangan kirinya yang masih diperban terasa agak nyeri dan kepalanya pusing. Harusnya dia menuruti suster untuk beristirahat secepatnya malam ini, tapi dia melanggarnya. Hanya untuk mencoba menghubungi Ryeowook.

Itu karena dia sadar jika dia bersalah.

Memang bukan pemikiran brilian sekaligus bijak saat dia memutuskan untuk berpura-pura kehilangan ingatan tentang Ryeowook. Jelas itu salah, dan tidak akan mudah pada akhirnya. Sekarang dia sudah membuktikannya sendiri.

Namun satu yang tidak pernah disangkanya adalah ketika Ryeowook menyatakan perasaan padanya lewat ciuman di halaman rumah sakit itu. Yesung benar-benar tidak menyangka akhirnya dia bisa menjadi sosok yang begitu berharga untuk Ryeowook. Hal yang selama ini selalu dia upayakan secara perlahan, karena rasa cintanya sendiri pada namja itu.

Sejujurnya, Yesung tidaklah setega itu untuk melupakan Ryeowook dan membuat namja itu mengejar-ngejarnya seperti yang terlihat selama ini. Yesung hanya ingin menguji, apakah Ryeowook akan lekas meninggalkannya? Apakah namja itu tidak akan peduli padanya jika ia katakan jika dirinya telah melupakan seluruh hal tentang Ryeowook? Jika Ryeowook meninggalkannya, paling tidak Yesung sudah siap saat itu.

Dia sudah terlalu lelah untuk memberi kepercayaan pada Ryeowook. Yang selama ini selalu menghindar darinya tanpa penjelasan. Jadi ini sudah batasnya, dimana dia sendiri yang mengetes apakah usahanya selama ini sia-sia ataukah tidak. Dan sekalipun sudah mengharapkan saat-saat seperti ini sejak lama, Yesung tetap terkejut.

'Es itu sudah nyaris meleleh'

Kepalanya menggeleng perlahan.

Dia telah membuat Ryeowook bersikap begitu manusiawi dengan menunjukkan segenap perasaan cinta padanya, tapi akhirnya dia juga yang menghancurkan kepercayaan namja itu dengan membohonginya. Entah apakah Ryeowook masih mau memaafkannya atau tidak.

Dengan gelagat khas orang yang frustasi Yesung mengacak rambut hitamnya lalu mengalihkan pandangan. Dan entah mengapa dua kotak besar di meja samping tempat tidurnya nampak begitu mencolok saat ini. Padahal tadinya dia nyaris tidak sadar sama sekali jika kotak-kotak itu ada di sana.

Mata sipit Yesung berusaha membaca tulisan yang terdapat di kartunya. Kartu itu sendiri diikat oleh pita yang cukup rapi.

'To : Yoona. Merry Christmas~'

"Hadiah natal?" Tanya Yesung bingung, entah ditujukan pada siapa. "Siapa pengirimnya?"

Tangannya bergerak dari balik selimut, mencoba meraih kotak teratas saat tiba-tiba saja getaran dari ponselnya mengejutkannya. Agak terburu, Yesung memencet tombol penerima dan mengangkat ponsel itu ke telinganya.

"Yeoboseyo?"

"Yesung hyung,"

Suara berat Kyuhyun lah yang terdengar beserta sayup-sayup bunyi musik yang menjadi latarnya. Kyuhyun menelponnya dari klub pada jam kerja, ada apa?

"Kyu? Ada apa?" Yesung penasaran.

Sejenak Kyuhyun tidak menjawab, tapi tampaknya pemuda itu sedang berbicara dengan seseorang di sana.

"Hyung,"

"Ya?"

"Tahu tidak? Aku sering berpikir kau ini bodoh dan idiot, hyung. Tapi sungguh aku tak menyangka jika KAU BISA SEIDIOT INI!"

Yesung serta merta menjauhkan ponsel itu saat telinganya berdengung akibat dari teriakan Kyuhyun yang sadis.

"Ya! Apa maksudmu, Cho?"

"Maksudku?" Kyuhyun berbicara dengan nada meremehkan. "Maksudku adalah ketika ada seorang namja manis yang lagi-lagi datang kesini untuk mabuk tapi akhirnya malah menangis dan menceritakan segala hal tentang kebohongan sialan yang telah kau buat selama ini..."

"Tunggu!" Yesung menyela. Punggungnya mendadak tegak. "Ryeowook ada di sana?"

"Ya," sahut Kyuhyun. "Sedang mengumpat-ngumpat padamu dibawah dukungan langsung dari Heenim hyung."

"Oh astaga,"

Namja itu mendadak lemas di kasurnya. Pengakuannya baru beberapa jam yang lalu tapi kabarnya sudah tersebar secepat ini. Hal buruk apalagi yang bisa terjadi keesokan harinya?

"Puas dengan hasil kerjamu?" Kyuhyun menyindir dari line seberang.

Yesung mendesah keras. "Jujur saja, Kyu, aku sangat merasa bersalah soal ini."

"Sudah sepantasnya."

"Dan tolonglah jangan hakimi aku lagi. Setidaknya bukan kau yang menangis seperti Ryeowook."

Kyuhyun berdecak.

"Apa yang dikatakannya tentangku?" Yesung akhirnya bertanya.

Kyuhyun diam sejenak. "Katanya kau membohonginya, dan Heenim hyung meminta penjelasan lengkap. Lalu setelahnya Heenim hyung mengumpat-ngumpat dan Ryeowook mengikutinya. Sekarang entahlah, sepertinya Heenim hyung sedang memberikan nasihat mematikan pada Ryeowook untukmu."

"APA?!"

Yesung melotot kali ini. Sungguh, Ryeowook tanpa Heenim pun Yesung sudah kesulitan untuk menanganinya, apalagi jika Heenim ikut campur?

Nasibmu tidak akan beruntung besok, Jongwoon.

.

~Y~~W~

.

"Ryeowook? Kau baru pulang?"

Kibum melongok dari pintu kamarnya saat suara langkah kaki terdengar berasal dari koridor lantai dua. Menemukan Ryeowook di sana dengan penampilan agak kusut dan wajah yang tidak fit dalam cahaya samar-samar yang datang dari jendela. Namja tampan yang berprofesi dokter itu memutuskan untuk mendekati adiknya.

"Jam satu pagi." Telunjuk Kibum menunjuk pada jam besar yang terpasang di dekat tangga.

Ryeowook berdecak. Sejak kapan Kibum bisa berlaku sesuka hati dan mulai membatasinya?

"Aku lelah, hyung."

Kibum bisa melihat kantung mata Ryeowook dengan jelas, dan matanya yang memerah.

"Aku tahu," Namja itu sudah berada tepat di depan Ryeowook sekarang. Penciumannya bisa menangkap bau aneh yang berasal dari Ryeowook. "Astaga, Ryeowook! Kau bau alkohol, kau pulang dari bar?!"

Suara Kibum yang meninggi membuahkan sakit yang berdenyut di kepala Ryeowook. Namja itu diam-diam menggerutu dalam hati. Kenapa sih Kibum harus menyadari kepulangannya? Biasanya juga dia tak pernah dapat larangan untuk pulang pagi sekalian.

"Aku dari bar, karena aku menemui temanku." Jawabnya agak malas. "Sekarang biarkan aku tidur."

Kibum menolak. Kedua tangannya memegangi bahu Ryeowook.

"Berapa banyak yang kau minum?"

"Demi Tuhan, Kibum hyung! Kau boleh tidak percaya, tapi aku hanya minum segelas sherry dan tidak ada lagi setelahnya. Buktinya aku bisa pulang dengan selamat." Sergah Ryeowook. Dia melepaskan tangan Kibum dari bahunya.

"Ryeowookie," Kibum menatapnya. "Jangan biasakan itu."

"Kau tidak pernah melarangku sebelumnya."

"Karena aku tidak tahu."

"Lalu? Toh aku sudah cukup umur."

Tatapan Kibum melembut. Menyadari jika dia salah selama ini. Ryeowook butuh seseorang di sini. Seseorang yang bisa mengawasi dan menjaganya. Dan entah kenapa, Kibum merasa tidak pernah bertanggung jawab atas hal itu pada Ryeowook di waktu-waktu sebelum ini.

"Baiklah, dongsaeng. Sekarang bersihkan dirimu dan tidurlah." Kibum mengacak sedikit rambut Ryeowook. "Selamat malam."

Dengan lega, Ryeowook melanjutkan jalannya ke kamar. Menggumamkan sesuatu seperti 'aku bukan anak kecil lagi' dan masuk ke kamarnya. Bersyukur dalam hati karena tidak ada pertengkaran dengan Kibum malam ini.

Sementara Kibum masih berdiri di sana. Mengawasi Ryeowook dalam diam sambil bersedekap. Secuil perasaan bersalah itu kembali datang, menghantuinya sejak dia berada di rumah ini kembali.

"Haaah, kau benar. Kau sudah kelewat dewasa sekarang."

Terkadang, masa kecil memang tempat yang nyaman untuk melakukan segala hal yang harusnya kau kerjakan. Sebelum semuanya terlambat.

.

~Y~~W~

.

Ketika menyetir mobilnya pagi ini, Ryeowook sudah mendapatkan indikasi tidak nyaman dari dirinya sendiri yang sudah berusaha ditolaknya. Sebagian dari egonya menyuruhnya untuk tetap diam di rumah, dan sebagian dari hatinya ingin dia pergi ke tempat ini. Ryeowook menimbang-nimbang keduanya, dan nyatanya toh kemauan hatinya menang. Dan di sinilah dia berada sekarang pada jam enam pagi yang muram.

'Pelan, Ryeowook... Pelan...'

Dia memperingatkan dirinya sendiri ketika menutup pintu itu dengan perlahan. Sedikit mungkin suara, maka semakin baik. Walaupun kecil sekali kemungkinannya jika namja yang berada di dalam kamar itu akan menyadari keberadaannya di sini pada jam sepagi ini.

Setelah pintu itu menutup, Ryeowook berpaling. Dalam hati namja itu masih bertanya-tanya, dia ini bodoh atau apa? Bukannya harusnya dia pergi dari Yesung? Namja yang dengan teganya membohonginya selama ini?

'Persetan dengan itu'

Pikiran Ryeowook menepisnya cepat-cepat. Langkah kakinya hanya terdengar berupa gerakan angin yang amat samar. Mendekati kasur rawat yang berada di depannya, dan kembali menatap wajah polos yang tertidur di sana. Kerinduan itu kembali hadir dan keraguannya sudah tersapu rata.

Setidaknya Yesung mengingatnya. Dan mengakui hal itu di depannya tanpa menunggu waktu lebih lama lagi sampai dia menyerah dalam usaha mengingatkan Yesung kembali pada dirinya.

Setelah dia berpikir-pikir kembali, Ryeowook sadar jika mungkin itulah yang dirasakan oleh Yesung sebelum ini. Menunggu untuk dia membuka hatinya bagi namja itu. Berusaha setiap harinya, agar mereka semakin dekat. Kekaguman itu datang begitu saja ketika Ryeowook juga menyadari jika ketulusan namja di depannya ini nyaris tak terbatas untuknya. Dia mendesah pelan.

Napasnya mengeluarkan uap hangat. Dan Ryeowook baru sadar jika kamar ini lebih dingin daripada yang seharusnya. Maka itu dia mengambil remote AC di meja dan mulai menaikkan suhu ruangan ini. Kado natalnya masih ada di atas sana, belum dibuka sama sekali. Mungkin Yesung tidak sadar jika dia menaruhnya di sana? Entahlah, itu tak terlalu penting.

Wajah Yesung jauh lebih menarik perhatian Ryeowook dibanding apapun di kamar itu.

"Hmm, tampan," Ryeowook berbisik pelan, menyentuh pipi Yesung dengan jemarinya.

Segera saja dia merasa seperti anak gadis yang mendapat kesempatan berduaan saja dengan orang yang disukainya. Yah, kenyataannya, Ryeowook sudah berusaha berdamai dengan dilemmanya dulu, karena sekarang dia mau saja mengakui jika dia memang mencintai namja di depannya ini.

"Akh!"

Mata Ryeowook membulat karena terkejut saat tiba-tiba tangannya mendapat cengkeraman erat. Jantungnya hampir saja melompat saat kedua obsidian itu terbuka dan menatapnya tajam, menghunus tepat ke karamelnya yang panik.

"Kau..." Suara serak itu berujar. "Tidak mengangkat teleponku satu kalipun dan sekarang datang seperti hantu kesini."

"Lepaskan tanganku." Ryeowook memerintah, tatapannya tak kalah tajam.

Yesung mencoba bangun dari tidurnya, dan kini duduk di ranjang. Tidak sekalipun berniat melepaskan Ryeowook, entah tangannya, maupun tatapannya dari namja itu. Dan itu membuat jantung Ryeowook makin berdetak secara gila-gilaan.

"Kau akan pergi lagi jika kulepaskan."

"Memang."

Mata Yesung memicing. "Lalu untuk apa kau datang kesini? Hanya menatapiku yang sedang tidur? Aku tahu aku memang tampan, Kim Ryeowook." Nada suaranya setengah mengejek dan setengah menggoda.

Ryeowook mendelik. Wajahnya dihiasi oleh rona kemerahan yang sama sekali tidak dikehendaki olehnya.

'Sialan'

"Dengar, Ryeowookie, aku tahu kau masih marah."

Ryeowook memutar matanya. "Aku kesal padamu, puas?"

"Kemarahanmu sudah menyurut sedikit rupanya." Yesung tersenyum kecil.

"Yesung hyung, lepaskan aku."

"Tidak."

Dengan kesal Ryeowook memberi deathglare pada pria itu.

"Aku sudah kebal dengan itu." Yesung berucap dengan santai. "Ayolah, kau kan tidak kesini hanya untuk melihatku jadi putri tidur, Ryeowookie."

"Lalu apa maumu?" Ryeowook bertanya tegas.

"Hmmm," Tatapan mata Yesung berubah. Obsidian itu tampak teduh dan menenangkan kali ini. Menghanyutkan Ryeowook dengan pesonanya. "Mendekatlah."

Ketika Yesung memerintahnya, Ryeowook tidak tahu kenapa dia mau menuruti perintah itu begitu saja. Tapi saat itu juga, ketika Ryeowook mengambil satu langkah agar lebih dekat, dengan gerakan yang sama sekali tidak terduga Yesung memeluk Ryeowook tepat di pinggangnya. Memenjarakan tubuh Ryeowook dengan tubuhnya sendiri.

Ryeowook memekik pelan karena terkejut.

"Ya! Lepaskan aku!"

"Tidak akan pernah." Yesung berbisik, tepat di perpotongan leher Ryeowook.

Namja itu merinding saat merasakan napas hangat yang berhembus di lehernya. Jantung Ryeowook kini bukan hanya berdetak secara over lagi, tapi sudah terasa seperti mau meledak. Wajahnya panas dan dia tidak dapat melakukan hal apapun selain memalingkan wajahnya dari Yesung.

"Aku minta maaf."

Setelah keheningan yang berlangsung beberapa detik, Yesung mengucapkan kalimat itu. Tapi Ryeowook sama sekali tidak merespon.

"Kalau kau mau tahu, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa minta maaf padamu, Ryeowookie."

"Apa maksudmu?"

Ryeowook mulai curiga.

.

"Ingat ketika aku mendaftarkanmu untuk ikut pertukaran mahasiswa, oppa?"

Yesung mengangguk. "Lalu?"

"Nah," Yoona mengeluarkan sebuah kertas surat dari mantelnya. Menaruhnya di ranjang, tepat di sebelah Yesung. "Kau diterima. Jurusan musik, di Boston."

Yesung terperangah sekarang.

"Ini bukan kejutan natal iseng darimu kan, Kim Yoona?"

"Ya!" Yoona memandang kakaknya dengan kesal. "Apa aku harus serajin itu untuk berbohong segala padamu?"

"Tapi jika aku pergi," Yesung melihat celah lain di sini. "Bagaimana denganmu?"

Yoona mengangkat bahunya acuh. "Tidak masalah. Toh aku sudah ditransfer dari kampusku untuk pergi ke Boston lebih awal, aku hanya mencari teman ke sana." Gadis cantik itu nyengir.

"Kau merahasiakannya dari oppa!" Tuduh Yesung galak.

"Astaga," Yoona menggeleng-geleng. "Seperti oppa akan mengizinkanku saja untuk pergi sendirian."

"Kau sudah tahu itu."

"Itu sebabnya aku mendaftarkan oppa ke pertukaran mahasiswa!" Sahut Yoona ketus.

Diam-diam Yesung tersenyum untuk usaha adiknya.

"Lalu keberangkatannya?"

"Segera setelah liburan musim dingin selesai. Tanggal 10 Januari. Kita harus mempersiapkan banyak hal di sana." Jelas Yoona.

Yesung menghela napas. "Itu cepat sekali."

Gadis itu mengangguk menyetujui. Menatap lekat-lekat pada kakaknya.

"Memang. Karena itulah... Oppa harus bergerak cepat juga. Berbaikan dengan Ryeowook oppa, atau kau harus benar-benar meninggalkan dia tanpa keterangan apapun di sini. Itu pilihannya."

.

"Bukankah pilihan yang kedua itu sama sekali tidak menyenangkan?" Yesung tersenyum kecut. Masih memeluk Ryeowook dengan erat.

Ryeowook mencoba mencernanya baik-baik. Boston? Yesung akan meninggalkannya ke Boston sebentar lagi?

"Aku..." Suara Ryeowook seperti tercekat sekarang. "Aku ikut!"

Yesung nyaris saja terlompat dari tempatnya saat mendengar perkataan Ryeowook barusan.

"Apa?"

"Aku bilang aku ikut."

"Bagaimana caranya?"

Ryeowook menggertakkan giginya dengan kesal dan berbalik menghadap Yesung.

"Dengar, Kim Jongwoon yang pabbo! Aku tinggal mengurus surat kepindahanku dari kampus dan mendaftar di Boston. Jelas?"

Yesung menatap mata Ryeowook tidak percaya.

"Kau serius dengan ini?" Namja itu mencoba meyakinkan Ryeowook dengan keputusannya.

"Dan apa untungnya aku untuk berbicara main-main di sini?"

Karamel itu tampak menantang. Yesung sendiri kehilangan kata-katanya. Dia memang tak pernah menyangka jika Ryeowook mau pergi... bersamanya.

"Kim Ryeowook," Tangannya sudah bergerak ke atas, mengelus pipi Ryeowook yang lembut. Perlahan tapi pasti Yesung mendekatkan wajahnya, bergumam pelan, "Aku mencintaimu."

Ryeowook menerima ciuman itu dengan berdebar. Menutup matanya rapat-rapat ketika bibir Yesung menyapu bibirnya dengan gerakan yang memabukkan. Membuatnya kehilangan logikanya dalam sekejap saja. Tangannya mencengkeram erat seragam pasien Yesung, tepat di bagian dada untuk melampiaskan sensasi ganjil yang menderanya.

Ciuman ini berbeda dengan yang kemarin. Karena gairah jelas meletup-letup dalam diri keduanya saat ini. Maka saat Yesung memperdalam ciuman itu, Ryeowook menurutinya. Membuka mulutnya untuk memberikan akses bagi Yesung. Saliva mereka tercampur ketika lidah mereka saling membelit. Menunjukkan siapa yang mendominasi di dalam ciuman ini.

Ketika napas Ryeowook sudah tersengal, dia meninju pelan dada Yesung untuk melepaskan ciuman itu. Namun Yesung tetap bergeming. Dan ketika itu pula pintu di belakang Ryeowook terbuka. Menampilkan tiga orang pria dan satu orang gadis yang sama-sama terkejut saat menatap pemandangan dalam kamar.

Sang pria yang paling tua berkacak pinggang di depan pintu.

"KIM JONGWOON! KIM RYEOWOOK! BERHENTI BERBUAT MESUM DI RUMAH SAKIT!"

.

.

.

[ T . B . C ]

.

.

.

Rin lagi UTS dan malah update ff =.=

Maaf ya updatenya lamaaaaaa~~~

Nih kayaknya yang nanyain pertanyaan soal amnesianya jongwoon ada di sini semua jawabannya xD *plak*

Thank you buat yang review di chapter kemarin dan maaf ngga bisa balas reviewnya Dx

So, MIND TO GIMME YOUR REVIEW?