.
.
.
~ Hissing ~
Chapter 12
.
.
.
I believe dreams for you and me
Memareun naui harue danbiro naeryeo nae maeume naeryeo yonggireul jwo
You make me fly and smile again
Bion dwi mujigaecheoreom sori eobsi naui pume angyeo haengbogeul jwo
I wanna make love
[Beast - Oasis]
"Silahkan diminum Sehun-shi"
"Ah, ne-"
"Bibi Ling, panggil saja seperti itu"
"Ah, ye bibi Ling" dengan sedikit ragu Sehun mengambil secangkir jus orange yang telah disediakan oleh bibi Ling diatas meja. Meminumnya perlahan sambil kedua matanya bergerak melirik Luhan yang ada disampingnya. Dimana namja itu terlihat menekuk wajahnya kebawah dengan bibirnya yang terpout lucu. Setelah cukup membasahi tenggorokannya yang kering Sehun kembali meletakkan gelas jus itu pada tempatnya semula.
"Jadi kau teman sekelasnya Luhan yah?" Tanya bibi Ling
"Ne, teman sekelas"
"Lalu, bagaimana Luhan disekolah?"
"Ne?"
"Bibi..." seketika Luhan mengangkat wajahnya menatap bibinya cemberut.
"Bibi hanya bertanya Lu, nah bagaimana menurutmu Sehun-shi?" Sehun menggerakan matanya kesana-kemari sekilas menjilati bibir bawahnya yang terasa kering, mencari jawaban atas pertanyaan bibi Luhan itu kepadanya. Ia sedikit bingung mau menjawab apa.
"Hmm, menurutku Luhan disekolah, cukup rajin yah dan tentu saja baik" Luhan terdengar berdecak jawaban Sehun terdengar sekali dibuat-buat. Sementara Sehun malah tersenyum dalam hati.
"Ahh, Luhan memang anak yang rajin dan juga baik walau sedikit cerewet" bibi Ling terkekeh kecil diakhir ucapannya membuat Luhan kembali berengut.
"Itu benar bi, bahkan dia juga cukup galak kurasa" Sehun mulai ikutan.
"Yak, kau..."
ikut terkekeh bersamaan dengan bibi Ling karena melihat Luhan sepertinya mulai merasa kesal, sampai melemparkan delikkan tajamnya pada Pada Sehun, namun sedetik kemudian dia menundukkan kepalanya karena Sehun membalasnya dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Ia hampir lupa dengan siapa ia berhadapan sekarang. Melihat itu Sehun tersenyum menang.
"Kau tepat sekali Sehun-shi, dia memang galak jika sudah merasa kesal" oh yaampun sekarang sepertinya bibinya dengan Sehun berniat untuk memojokkannya yah. Dimana kedua orang itu jadi membicarakan dirinya. Dan Luhan benar merasa kesal sekarang. Ia diam sambil memperhatikan juga mendengarkan pembicaraan kedua orang itu tentu yang masih tengah membicarakannya. Mendengus pelan saat Sehun sesekali memberikannya tatapan meremehkan. Apa lagi saat bibinya entah bagaimana bisa menceritakan dirinya saat waktu kecil dulu. Dari kebiasaan buruknya, kejadian memalukan yang pernah Luhan alami dan yang lainnya. Sial, bibinya benar-benar malah membuat Luhan merasa malu akan hal itu terlebih lagi wanita itu menceritakannya pada sang penguasa itu. Sungguh sial bagi Luhan. Ia benar mengutuk Sehun sekarang dalam hati, jika ia punya keberanian mungkin ia sudah akan memukul habis-habisan namja tampan itu.
"Dan kau tau Sehun-shi?, Luhan dulu sering dijadikan model saat waktu kecil dulu"
"Model?"
"Ne, model dengan memakai pakaian anak perempuan"
"Bibi, berhenti menceritakan hal itu padanya!"
"Ptthhh-"
Luhan merasa kepalanya mendidih bibinya benar-benar sudah keterlaluan. Ia kembali berdelik pada Sehun yang terlihat menahan tawanya. Wajahnya pun sudah memerah karena emosi bagaimana tidak Rahasia yang sangat ia simpan itu justru telah dibongkar begitu saja oleh bibinya itu dan Sehun yang telah mendengarnya. Itu sungguh memalukan jika kalian ingin tau.
"Bibi menyebalkan!" Serunya dengan wajah cemberut lalu beranjak bangun dari duduknya. Dan berlalu menaiki tangga kelantai dua meninggalkan begitu saja kedua orang itu.
"Wahh, sepertinya dia marah Sehun-shi, apa aku sudah keterlaluan padanya?" Tanya bibi Ling sambil melihat kepergian Luhan.
"Aku rasa tidak bi" balas Sehun.
"Ah, kau lihatkan dia juga suka merajuk seperti itu" Sehun tersenyum tipis mendengarnya. Ia merasa cukup senang bibi Ling ternyata cukup menarik jika diajak mengobrol. Dan Sehun yang terbilang tak begitu perduli dan sangat acuh pada apa pun sekarang ia malah terlihat akrab dengan bibi Luhan. Sungguh tak bisa dipercaya.
"Yasudah, kau susul Luhan dikamarnya, dia pasti benar-benar marah karena kita membicarakannya dan bibi akan menyiapkan makan malam ne!" Ujar bibi Ling
"Oh, ne bibi Ling" Sehun menatap sejenak kepergian bibi Ling yang pergi kearah dapur, sebelum ia bergerak beranjak dan tanpa ragu menyusul Luhan dikamar namja rusa itu.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
Luhan benar merajuk, lihatlah gayanya yang duduk dipinggiran ranjangnya sambil melipat kedua tangannya didada. Jangan lupakan tatapan tajam miliknya yang justru malah terlihat lucu jika seperti itu tak ada tanda-tanda menakutkan sama sekali. Sehun malah tersenyum meremehkan Luhan seperti anak kecil yang sedang marah.
"Kau, menyebalkan dan sangat keterlaluan Oh Sehun"
"Apa?, bibimu sendiri yang menceritakannya padaku, dan kau marah padaku?"
"Ne, aku tau kau sengaja bukan?, membuat bibi Ling mengatakan semua rahasiaku padamu" Sehun mengangkat acuh bahunya sebelum melangkah melihat-lihat seisi kamar namja rusa itu. Ia menggelengkan kepala saat matanya menangkap sepasang boneka rusa berukuran cukup besar ada disisi kanan-kiri ranjang milik Luhan. Apa namja itu menyukai boneka semacam itu?. Lebih lagi nuansa kamar yang cukup luas itu terlihat sederhana memang tapi menurut Sehun tampak seperti kamar anak perempuan. Rapi tapi sungguh terlihat terkesan feminim. Ah entahlah yang jelas kamar itu cukup terasa nyaman ditempat. Selagi melihat-lihat sang pemilik kamar masih saja memasang wajah garang terus memperhatikan gerak-gerik Sehun.
"Dan kau, kenapa malah kekamarku?"
"Bibi Ling yang meminta, selagi ia menyiapkan makan malam"
"Hah?, maksudmu kau akan makan disini?"
"Mungkin, tanyakan saja pada bibimu itu" Luhan berdecak benar tak habis pikir jika bibinya membiarkan namja semacam Sehun berada dirumah mereka.
"Bibi Ling benar-benar menyebalkan"
"Tidak baik mengumpat pada yang lebih tua"
"Apa perduliku" Sehun kembali menggelengkan kepalanya sambil menghentikan geraknya dan berdiri tepat didepan posisi duduk Luhan. Menatap datar pada namja yang juga tengah menatapnya menantang.
"K-kenapa menatapku seperti itu?" Ingin terlihat melawan tapi nada bicaranya ketahuan sekali sedang merasa ketakutan pula Benar-benar usaha yang baik Xi Luhan. Sehun tak memperdulikan apa yang Luhan katakan. Ia malah kembali bergerak dengan maju beberapa langkah guna lebih mendekati tempat Luhan berada. Dan itu membuat Luhan tak bisa menyembunyikan rasa ketertakutannya terhadap namja penguasa tersebut.
"K-kau, j-jangan mendekat!" Pintanya was-was kala Sehun semakin dekat padanya. Hingga akhirnya Sehun berdiri tepat dihadapan Luhan yang langsung menunduk. Jika saja Luhan mendongakkan wajahnya maka ia akan mendapati pemandangan yang mengejutkan. Pemandangan dimana ia akan langsung melihat sesuatu gundukan dibalik kain celana yang namja tampan itu kenakan. Itu karena keberadaan Sehun yang sungguh sangat dekat padanya sekarang.
"S-Sehun-shi bisa kau menying-, Hiyaaaa... apa yang kau lakukan?" Luhan menjerit seketika saat Sehun dengan gerak cepat mendorong bahunya hingga tubuhnya terberebah diranjang empuknya sendiri. Menatap horror Sehun yang mulai merangkak naik diatas tubuhnya.
"M-mau apa kau?" Ia menyilangkan kedua tangannya didada, ia sudah seperti seorang gadis yang ketakutan hendak diperkosa.
"Melanjutkan apa yang telah tertunda tadi" balas Sehun tepat didepan wajahnya, Luhan jadi memejamkan matanya malah takut.
"A-apa maksudmu?"
"Dasar bodoh"
"Aku tidak bodoh, Sehun-shi tolong menjauhlah!" Pinta sedikit berteriak Luhan semakin ketakutan.
"Tidak mau"
"Kumohon, jangan melakukan hal yang buruk padaku, kumompphhh-"
"Diamlah, kau mau didengar oleh bibimu diluar sana heoh?" Luhan menggelengkan ribut kepalanya dengan mulutnya yang telah dibekap oleh satu tangan Sehun. Melihat hal itu Sehun menyeringai tipis sambil melepaskan bekapan tangannya dimulut Luhan.
"Hahh...hah...Sehun kumohon" Luhan terlihat memelas agar Sehun melepaskannya kali ini.
"Kau tau?, aku bukan orang yang dengan mudah melepaskan seseorang yang telah menjadi mangsaku" ia merasa ingin menangis sekarang, Sehun benar bukan orang yang akan melepaskan mangsanya begitu saja. Dan cara memohon pun tidak akan berguna untuk namja penguasa itu. Karena sang penguasa tak ada yang bisa melawannya, yah itulah dia seorang Oh Sehun.
"Sebaiknya kau diam dan nikmati saja heum, aku tidak akan berbuat kasar, arra!" Entah Luhan bodoh atau apa ia malah menganggukan kepalanya pelan. Membuat Sehun tersenyum penuh kemenangan. Hingga ia mulai bergerak mendekatkan wajahnya, membuat tak ada jarak diantara mereka. Dan untuk kesekian kalinya Sehun menciumnya. Sehun menyakini ia benar merasa candu pada rasa bibir Luhan. Ia suka, ia menyukai bibir namja itu.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
Sehun tau jika ketika ia mencium Luhan namja itu tidak akan memberinya respon atau semacam balasan. Namja rusa itu hanya akan diam pasrah membiarkan bibir kecilnya dikuasai oleh sang penguasa. Ciuman sepihak itu yang Sehun tau, mau bagaimana lagi ia juga tau Luhan itu belum pernah berciuman dan jelas namja itu pasti tidak tau mengenai cara membalas sebuah ciuman pada seseorang. dia tak mempermasalahkannya sebenarnya, tapi jika terus seperti itu Sehun juga pasti akan merasa bosan. Selama ia berhubungan dengan seseorang ciumannya pasti akan dibalas tentu saja. Bahkan lawan mainnya pun membalasnya tak mau kalah dan terlihat lebih ganas.
Hal itu akan membuat Sehun jadi merasa menang saat ia memberi kepuasan yang lebih pada lawannya. Namun akhir-akhir ini ia malah merasa tak tertarik dengan lawannya yang seperti itu. Ia jadi merasa suka saat ia melakukannya pada namja dibawahnya ini. Saat pertama kali mencium namja itu pun Sehun merasakan hal yang berbeda. Hal yang tidak bisa ia ketahui apa itu. Yang jelas ia jadi malas memanjakan bibir tipisnya pada orang-orang yang pernah ia jamah sebelumnya. Dan itu terjadi sejak ia berhasil mencuri ciuman pertama dari seorang Luhan. Dan benar Sehun sungguh tak bisa beralih saat ia kembali merasakan bibir kecil itu untuk kesekian kalinya. Ia candu sangat candu, Luhan benar membuatnya teralih.
"Emphhh..."
CUP
Perlahan tapi pasti ia tak hentinya menggulum belahan bibir kecil itu. Merasakannya dengan sangat pasti bagaimana rasa manis dan tekstur lembutnya bibir itu. Sesekali ia akan menggigit gemas bibir tersebut membuat sang pemilik bibir itu kembali melenguh kecil. Merengek dan bergetar kecil itu yang dibalas oleh sang pemilik. Ia benar-benar memberikan sentuhan yang sangat nikmat untuk namja dibawahnya itu.
"Nghhhamphhh...ssehunmphh..." terus saja namja rusa itu mengeluarkan berbagai macam bunyi lenguhan diantara peraduan bibir mereka. Hingga akhirnya Sehun melepaskan ciumannya. Menaikkan sedikit wajahnya dari wajah memerah Luhan. Dengan sepasang matanya ia buka.
"Hahh...hah..." sesaat Sehun hanya terdiam sambil menatap Luhan yang terengah-engah dibawahnya.
"Apa kau tidak bisa sedikit pun membalas ciumanku?" Suara itu membuat Luhan membuka perlahan kedua matanya hingga tatapan mereka bertemu. Tatapan Luhan yang terlihat sayu terkesan seperti tengah menggoda Sehun.
"Apa itu harus?"
"Kau tau?, aku seperti tengah berciuman dengan sebuah patung dan itu sangat membosankan" "Jika kau bosan, kenapa masih menciumku?"
"Karena aku hanya ingin menciummu" Luhan kembali berengut dengan bibirnya ia poutkan hingga terlihat menggemaskan. Rasa kesalnya muncul lagi karena Sehun.
"Jadi, apa kau sama sekali tidak bisa berciuman eoh?" Tanya Sehun.
"Tidak bisa" dijawab ketus oleh Luhan yang memalingkan wajahnya kesamping. Ia tak ingin Sehun menyadarinya, bahwa saat ini pipinya kembali terasa memanas lagi. Apa lagi karena pertanyaan memalukan dari Sehun tadi. Ia jadi merasa malu mengakuinya. Jika memang dirinya tak bisa berciuman.
"Apa perlu aku mengajarimu cara berciuman?"
BLUSH~
"J-jangan bercanda Oh Sehun, itu tidak lucu"
"Siapa yang bercanda, jika kau mau aku bisa mengajarimu dan kau bisa membalas ciuman dariku bukan" enak sekali Sehun mengatakan hal seperti itu padanya, mengajarinya cara berciuman?, hah yang benar saja Luhan tentu menolak karena itu memalukan untuknya. Sebenarnya apa yang dipikirkan namja penguasa itu?, hingga dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Tidak sulit, kau hanya perlu mengikuti gerakanku dan terus menggulum bibirku" wajah Luhan semakin memerah perkataan Sehun sungguh membuatnya merasa malu sendiri. Dimana namja itu benar mengatakan apa yang harus ia lakukan saat berciuman. Ughh... tidak tau kah namja tampan itu jika dirinya sangat gugup sekarang.
"Kau dengar itu?, lakukanlah seperti apa yang kulakukan!, jadi ayo kau coba" pinta Sehun, seketika Luhan melotot pada namja itu. Dengan wajahnya kembali ia kedepankan sambil menggelangkan cepat kepalanya, bertanda ia menolak. Sehun yang mengerti kembali mendatar.
"Ayo lakukan Luhan!" Ucapnya penuh penekanan. Luhan pun malah menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan terus menggerakkan kepalanya menolak.
"Luhan!"
"Akhu thidak mauphmmm" Luhan berseru dengan mulut yang tertutup. Karena Luhan tak mau, Sehun perlu bertindak agar namja itu melakukannya.
SRET
"SEHUNNNN..."
CUP
"Empphhhh..."
bertindak dengan memaksa menarik kedua tangan Luhan yang menutupi mulut namja itu dan menahannya kuat dengan kedua tangannya pula. Selanjutnya ia bungkamkan paksa mulut Luhan dengan mulutnya sendiri. Hingga ia kembali melumat sepasang bibir kecil itu cukup kasar. Mau tak mau Luhan kembali terdesak. Matanya ia pejamkan erat sambil menggerakkan kedua tangannya yang ditahan oleh Sehun agar terlepas, tapi itu percuma karena Sehun jauh lebih kuat darinya. Sehun sengaja menekan lebih dalam bibir Luhan yang ia lumat bertujuan agar namja itu ikut membalasnya. Sebagaimana yang tadi ia ajarkan Pada namja itu.
Luhan terlihat kalang kabut bergerak tak jelas didalam ciuman mereka. Sehun sampai menekannya lagi menindis lebih kuat tubuh Luhan dibawahnya agar Luhan biasa lebih diam sedikit. Detik berikutnya ia berhasil membuat Luhan lebih tenang. Dimana namja rusa itu tak lagi bergerak tidak jelas seperti sebelumnya. Luhan pasrah ia pun terdiam sesaat. Ia benar tak bisa melawan Sehun. Disaat itu Sehun mengambil kesempatan untuk semakin menekan bibir Luhan dibibirnya.
"Umnghhh..."
entah apa yang telah merasuki diri Luhan sekarang. Ia seketika bergerak sendiri dengan perlahan mulai ikut menggerakkan pelan bibir kecilnya. Membuka sedikit mulutnya dan mulai pula memberanikan dirinya melumat bibir bawah Sehun. Itu membuat Sehun tersenyum dalam hati sepertinya Luhan sudah berani membalas ciumannya. Seorang Oh Sehun benar tak bisa dikalahkan. Hingga pada akhirnya Luhan pun tunduk kepadanya.
"Ngghhh...ampphhh"
namja itu melenguh kedua bibir mereka benar beradu sekarang dengan kedua tangan Sehun yang menahan tangan Luhan tadi. Kini ia lepaskan dan beralih melingkarkan tangan namja rusa itu dilehernya. Agar Luhan merasa nyaman dengan posisi mereka saat ini. Luhan pula semakin mengeluarkan lenguhan halusnya begitu Sehun telah mengajaknya untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Lidah keduanya pun sudah saling berbelit didalam mulut Luhan menghasilkan entah saliva siapa mengalir keluar membasahi sudut bibir namja rusa itu.
Hingga detik berikutnya Sehun melepaskan perlahan tautan Bibir mereka. Tercipta untaian benang saliva yang menghubungkan kedua bibir mereka. Sehun membuka matanya melihat wajah Luhan yang masih kembali terengah.
"Hahh...hah"
"Kau bisa melakukannya bukan?" Sehun tersenyum tipis sambil satu tangannya bergerak menghapus jejak saliva disudut bibir terbuka Luhan. Namja rusa itu sendiri akhirnya membuka pula kedua matanya kemali memandang sayu Sehun.
"Sehun..."
"Hm?"
"A-akuhhh..."
"Apa heum?" Refleks Luhan menutup matanya lagi ketika Sehun mendekatkan wajahnya kearah lehernya.
"Angkat wajahmu Lu!"
Tak menolak ia justru menurut dengan wajahnya ia angkat sedikit. Mempersilahkan Sehun menempelkan wajah namja tampan itu dileher mulusnya. Langsung saja Sehun mulai mengecupi leher itu sebelum ia menghisapnya perlahan dan meninggalkan jejak kepemilikan disana yang cukup terlihat kentara.
"Hmm...a-ahhh...SSehuunnhhh" Luhan mendesah sekarang karena tubuhnya jadi mulai terasa panas sampai ia berkeringat. Sehun masih saja tetap pada kegiatannya. Menjilat-jilat kulit leher itu sudah seperti ice krim ia menjilatinya. Satu tangannya mulai melepaskan dasi yang masih terpasang dikerah seragam Luhan. Lepas dan beralih pada kancing seragam namja rusa itu. Luhan dengan cepat menyentuh tangan Sehun yang membuka seragamnya sambil memalingkan wajahnya kedepan membuat Sehun menjauhkan wajahnya.
"Wae?"
Luhan terlihat masih terengah-engah sampai dadanya naik-turun. Lalu tanpa diduga Luhan justru mengangkat sedikit wajahnya, mulutnya ia buka kecil seperti Ingin digapai oleh Sehun. Awalnya Sehun tak mengerti akan maksud Luhan yang seperti itu padanya. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum bangga begitu tau Luhan menginginkan sesuatu darinya. Yah Luhan ingin Sehun kembali menciumnya. Kesempatan yang tak ingin disia-siakan, Sehun lantas mengabulkan keinginan Luhan padanya dengan senang hati. Hingga terjadilah kembali sensi ciuman mereka. Ciuman yang lebih dalam namun masih terkesan lembut dan intens tersebut terjadi hingga beberapa menit berlalu. Dan Luhan sepertinya benar-benar menerima juga membalas semua perlakuan Sehun saat ini.
"Kau menyukainya?" Bisik Sehun begitu memberi jeda pada ciuman mereka.
"Heumhh..." dapat anggukan kecil dari Luhan yang masih dengan mata tertutup. Sehun jadi kembali tersenyum karenanya. Dan hendak ingin menyatuhkan kembali bibir mereka, tapi harus ia tahan saat terdengar suara ketokan pintu yang berasal dari pintu kamar Luhan.
TOK
TOK
"Luhan ayo turun!, makan malam sudah siap dan jangan lupa ajak Sehun ne, bibi tunggu!" Suara itu membuat Luhan membuka kedua matanya, suara bibinya terdengar dari luar sana.
"N-ne bibi Ling" balasnya tak ingin bibinya merasa curiga atau apa. Hingga terdengar suara langkah dari luar sana yang menjauh dari pintu kamarnya. Lalu Beralih pada Sehun yang terdiam.
"K-kita harus keluar, bibi Ling pasti sudah menunggu kita"
"Aku tau"
mau tak mau Sehun beranjak bangun dari atas tubuh Luhan. Berdiri sambil merapikan penampilannya yang cukup terlihat berantakan. Disusul pula oleh Luhan yang mengancing kembali seragamnya yang sempat terbuka setengah dan berjalan lebih dulu keluar dari kamarnya dengan Sehun mengikutinya dibelakang.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
"Silahkan dimakan Sehun-shi, anggap saja rumah sendiri ne"
"Terima kasih bibi"
"Huwaaa...masakan bibi memang yang terbaik,heumm" Bibi Ling terkekeh kecil begitu mendapatkan seruan andalan seorang Luhan jika namja rusa itu menikmati masakannya. Namja itu sudah seperti seorang anak kecil. Sehun sampai tak berkedip terkejut kala melihat reaksi tak terduga dikeluarkan oleh Luhan.
"Lu, kau itu memalukan" seru bibi Ling.
"Apa?, aku kan sedang memuji masakan bibi"
"Benar, tapi apa kau tidak malu padanya?" Luhan melebarkan matanya menatap bibi Ling didepannya tak mengerti, lalu melirikkan perlahan matanya kearah samping. Dimana ada sosok lain diantara mereka. Yah Sehun yang menatapnya dengan tatapan mengejek. Oh, bodoh ia lupa jika saat ini Sehun ikut makan malam bersama mereka. Seketika ia ingin membuang wajahnya karena merasa malu. Pasti Sehun mengejeknya saat ini. Ia pun langsung menunduk malu. Membuat bibi Ling geli sendiri melihatnya.
"Dia memang seperti itu Sehun-shi, jadi maklumi saja ne"
"Bibi..."
Luhan berengut kesekian kalinya setelah mendapatkan delikkan dari bibinya. Sepertinya bibinya itu suka sekali membuatnya merasa malu atau kesal saat mereka bersama Sehun. Dan itu jelas saja menyebalkan baginya. bibinya pun terlihat begitu sangat perhatian pada Sehun dibandingkan dengan dirinya. Anggap saja saat ini Luhan iri pada Sehun. Ck, itu kekanakan Luhan. Sehun hanya bisa menggelengkan kecil kepalanya sesekali akan tersenyum tipis saat bibi Ling memperlakukannya dengan sangat baik. Ia sungguh senang karena selama ini ia tak pernah merasakan hal seperti itu. Dimana ada seseorang yang terlihat perhatian padanya. Ia sudah terbiasa akan hal-hal yang buruk terjadi padanya dan tidak seperti sekarang ini.
"Ini, ayo dimakan!, Luhan bilang ayam gorang buatanku sangat enak dan aku ingin kau mencobanya Sehun-shi" ujar bibi Ling sambil menyerahkan sepotong ayam goreng kepiring milik Sehun.
"Hmm, cobalah Sehun ini benar-benar enak"
Luhan menimpali dengan senyuman anak kecilnya kearah Sehun. Yang ditatap oleh kedua orang itu diam sesaat, sebelum mengambil potongan ayam yang telah diberi oleh bibi Ling. Mengarahkannya kemulut tipisnya, hingga ia gigit kecil ayam tersebut. Luhan dan bibi Ling menatapnya antusias menunggu reaksi apa yang Sehun keluarkan. Saat namja itu telah mencicipi ayam itu.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya bibi Ling setengah berbisik. Sehun belum menjawab masih mengunyah pelan ayam yang ada didalam mulutnya sebelum ia menatap secara bergantian Luhan dan bibi Ling.
"Ini...hmm aku rasa, aku menyukainya, yahh...ini benar enak" komentar dari Dari mulut Sehun.
"Syukurlah"
"Yeahh, benarkan ayam goreng buatan bibi Ling memang enak" seru-ria dari Luhan yang langsung menyantap habis ayam ditangannya.
"Kalau begitu, ayo makan yang banyak heum, jangan sungkan-sungkan"
"N-ne"
Hingga akhirnya mereka pun memulai acara makan malam tersebut dengan santai. Sesekali mereka akan mengobrol pula. Luhan yang terlihat begitu ceria menimpali cerita dari bibinya sampai Sehun kadang kala ikut tertawa kecil. Ia merasa Luhan beruntung karena bisa memiliki bibi sebaik bibi Ling yang begitu penuh dengan kasih sayang memperlakukannya. Sehun jadi merasa iri sendiri karena ia tak pernah merasa hal tersebut. Ia sesekali akan terdiam memperhatikan kedua orang didekatnya itu. Mereka yang saling melemparkan canda-tawa mengingatkannya akan satu hal yang juga pernah ia rasakan dulu kala. Yah saat ia, ayah dan hyungnya bersama dulu. Ia jadi merindukan hal tersebut. Dan Sehun hanya bisa menunduk diam.
"Oh ya, Sehun-shi apa Luhan pernah menyusahkanmu?" Tanya bibi Ling tiba-tiba pada Sehun. Berhasil membuyarkan lamunan Sehun sesaat.
"Ne?"
"Apa Luhan pernah membuatku kerepotan karenanya?"
"Bibi mulai lagi"
"Ah, itu tentu saja pernah bi"
"Benarkah?, apa dan kapan?"
"Bibi Ling!"
"Hmm...saat dia bertingkah layaknya seperti anak kecil"
"Yak, kapan aku seperti itu padamu?, kau membual" Sehun menoleh cepat memberikan tatapan tajamnya pada Luhan yang seketika menciut.
"Ahh, maafkan ne, jika dia seperti itu, dia memang manja, apa lagi jika bersama ibunya" Sahut bibi Ling. Luhan beralih pada bibinya itu sambil mempoutkan bibirnya.
"Bibi membongkarkan rahasiaku lagi"
"Itu kenyataannya Lu" Sehun tersentum geli Luhan benar-benar membuatnya gemas.
"Kau tau Sehun-shi?, Luhan akan manja jika ia sudah bersama ibunya dan ia akan benar seperti anak kecil, seusianya pasti tentu akan malu jika bertingkah seperti itu, dan Sehun juga begitukan?, sudah malu untuk bermanja-manja pada ibumu benarkan?"
DEG
Ucapan bibi Ling seketika membuat Sehun membeku ditempatnya. Diam dan hanya menatap wanita didepannya itu. Saat itu Luhan pun juga merasa tak enak tiba-tiba apa lagi mengetahui jika saat ini Sehun telah merubah raut wajahnya. Hingga suasana hening seketika. Bibi Ling juga merasakan hal yang sama. Ia merasa pasti ada ucapannya yang telah membuat Sehun seketika berubah jadi terdiam.
"A-apakah aku telah salah bicara?"
Tak mau ini terus berlanjut bibi Ling mencoba untuk memperbaiki suasana yang mungkin telah ia rubah akibat ucapannya tadi. Luhan sendiri menatap Sehun tak enak hati. Ia tau kenapa Sehun terdiam seperti itu. Walau tak begitu tau pasti, Ucapan bibinya benar telah menyinggung perasaan Sehun saat ini. Karena Luhan tau Sehun memiliki suatu masalah dengan ibunya. Entah masalah apa itu Luhan pun tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas ibu dan anak itu tidak pernah akur dan tidak mempunyai hubungan yang baik layaknya seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya.
"Oh, maafkan aku bi, sudah merusak suasana dan bibi tidak salah bicara kok" ujar Sehun telah tersadar dari keterdiamannya tadi, mendongak sedikit sambil memberikan senyuman palsu kepada bibi Ling yang menatapnya dan kembali memakan makanannya yang sempat ia abaikan tadi.
"O-ohh, baiklah ayo dimakan lagi"
"Heum"
Luhan yang masih diam mulai pula melanjutkan makannya. Sesekali melirik Sehun, ia masih merasa tak enak hati Sehun pasti saat ini tengah menahan perasaannya. Dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka tadi. Ia pun hanya ikut pula bersikap biasa agar Sehun bisa melupakan kejadian tadi.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
Luhan dan Sehun saat ini berada dihalaman depan rumah bibi Ling. Usai makan malam mereka Sehun berniat pamit pulang, karena sudah cukup larut malam. Tadinya bibi Ling memaksa Sehun untuk menginap saja dirumahnya, tapi ia mengalah saat Sehun menolaknya dengan cara halus tentunya. Hingga pada akhirnya disinilah mereka. Dengan Luhan yang mengantar Sehun sampai didepan rumah bibinya.
"Kau yakin akan pulang langsung?" Tanya Luhan.
"Jadi kau mau aku menginap heum?" Sehun justru balik bertanya, alisnya ia angkat satu keatas. Luhan jadi gelagapan sendiri.
"T-tentu saja tidak, jangan bercanda" Sehun terkekeh kecil melihat Luhan yang memalingkan cepat wajahnya.
"Ya sudah kalau begitu, lagi pula aku tak ingin merepotkan bibi Ling lagi" Hening sesaat, keduanya tak bersuara lagi. Luhan yang menunduk didepan Sehun yang menatapnya diam. Luhan mulai merasa tak nyaman akan suasana sekarang. Entah mengapa terasa begitu canggung sekali. Ia berdehem Sejenak berniat kembali mengatakan sesuatu pada Sehun. Dan mengangkat sedikit wajahnya guna melihat wajah Sehun.
"S-soal tadi diruang makan, m-maafkan perkataan bibiku, dia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu" Sehun mengernyit menatap Luhan, sedikit tak mengerti mengapa namja itu tiba-tiba meminta maaf padanya?.
"Apa maksudmu?"
"Huh?"
"Untuk apa kau meminta maaf?, memangnya apa yang terjadi?"
"A-ahh, i-itu a-aku..."
"Kau pasti sudah tau mengenai hubunganku dengan wanita itu?, oh aku lupa kau bahkan sudah terlibat akan pembicaraan waktu itu"
"S-Sehun a-aku"
"Sudahlah, tak perlu merasa perihatin seperti itu padaku!, aku tidak secenggeng kau"
Luhan mengatup rapat bibirnya dan kembali menunduk. Ia juga paham dengan apa yang Sehun rasakan sekarang. Karena ia mulai tau apa yang pernah dialami oleh sang penguasa didepannya itu. Bukan untuk ikut campur, tapi ia hanya masih merasa tak enak pada Sehun soal tadi, walau sekali pun namja tampan itu tak menganggapnya apa-apa. Tapi tetap saja Sehun pasti sempat merasa tersinggung tadi. Dan ia ingin meminta maaf karenanya.
"Hey"
"Heum?"
Luhan sempat melamun sampai ia tak sadar Sehun maju beberapa langkah mendekatinya. Tepat dihadapannya namja itu pun berhenti dengan sepasang manik tajamnya tak lepas dari sepasang manik rusa itu pula.
GREB
Mata Luhan melebar, tubuhnya sempat menegang saat Sehun telah merengkuhnya erat. Perasaan hangat mulai ia rasakan kala Sehun semakin membawa tubuh kecilnya lebih masuk kedalam bekapan namja tampan itu. Terdiam membiarkan rasa hangat ikut menjalar kedalam tubuhnya.
"S-Sehun..."
"Biarkan tetap seperti ini arra!" Ucap Sehun sedikit terdengar berbisik. Semakin menggeratkan pelukkannya ditubuh kecil Luhan. Ia tersenyum tipis begitu mendapati anggukkan setuju dari namja yang ia peluk itu. Sampai akhirnya keduanya pun larut akan pelukkan mereka, Luhan pun tak segan membalas pelukkan Sehun ditubuhnya. Dimana ia melingkarkan kedua tangannya dipinggang sang penguasa itu. Merasakan lebih aroma maskulin yang keluar dari tubuh tegak Sehun. Ia tak bisa berbohong jika saat ini ia merasa begitu nyaman. Dan baru menyadari bahwa beginikah rasanya pelukkan dari seorang Oh Sehun?, namja penguasa yang sangat ia benci awalnya, namja yang ia selalu yakini jika namja itu berbahaya untuk dirinya. Dari semua yang ia tau, satu hal lagi yang telah ia yakin dari Sehun, Jika Sehun memiliki rasa hangat ditubuhnya. Rasa hangat yang siapa pun akan membuatmu begitu merasa nyaman dan tak ingin terlepaskan. Luhan bahkan sampai memejamkan kedua matanya enggan untuk pergi jauh dari pelukan namja itu. Hingga ia merasa gitu tak rela saat pada akhirnya Sehun melepaskan pelukan mereka.
"Masuklah dan aku akan pergi" Luhan hanya bisa mengangguk pelan sambil menatap diam kepergian Sehun. Namja penguasa yang pada akhirnya benar pergi dan menghilang dari hadapannya.
"Apa yang akan terjadi, jika aku menyukaimu Oh Sehun brengsek?"
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
BRAK
"Mau menjelaskannya Xi Luhan?!" Luhan mendongak memandang Wajah Kyungsoo yang sudah berdiri disamping mejanya dengan berlipat tangan didadanya.
"Kemarin Suho menghubungiku tiba-tiba dan mengatakan bahwa kau bersamanya, jadi bisa katakan bagaimana bisa kau bersamanya kemarin?" Sudah Luhan duga temannya itu datang pasti tengah menanyakan prihal masalah kemarin ia bersama Suho. Terlihat jelas dari raut wajah namja bulat itu yang terlihat memahan rasa kesalnya saat ini. Kyungsoo pasti selalu seperti itu terhadapnya. Luhan pun menghela nafas bersiap menjelaskan seperti apa keadaan kemarin.
"Ayo katakan!, bagaimana bisa kau bersamanya?, membolos, apa dia melakukan sesuatu padamu?"
"Dia tidak melakukan apa pun padaku Kyung"
"Lalu, apa?"
"Dia hanya mengajakku berjalan-jalan saja dan hanya itu" jelas Luhan
"Jalan-jalan?" Kyungsoo mengernyit tak suka.
"Yah, jalan-jalan"
"Kenapa dengannya?, kau tau kan Suho siapa Lu"
"Aku tau itu Kyung, tapi apa salahnya?, lagi pula memang hanya jalan-jalan saja, dia tidak berbuat apa pun padaku"
Kyungsoo masih menatap curiga pada Luhan. Ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Luhan jelaskan padanya. Ia hanya belum percaya saja jika temannya itu bisa bersama dengan salah satu anggota Exo. Belum lagi namja rusa itu mengatakan bahwa mereka hanya berjalan-jalan saja kemarin. Hah...bagaimana bisa itu terjadi?, bahkan sejak kemarin saat tau Suho mengiriminya sebuah pesan yang mengatakan bahwa Luhan bersama namja berwajah angelic itu. Seketika pula Kyungsoo merasa begitu terkejut pikirannya kacau Takut, khawatir dan tentu cemas ia rasakan terhadap namja rusa itu. Takut jika Suho melakukan suatu hal yang buruk pada temannya itu.
"Kau tidak sedang berbohongkan Lu?"
"Tentu saja tidak Kyung, oh percayalah, jika memang Suho melakukan hal yang buruk padaku, aku pasti tidak akan sekolah hari"
Dan Luhan terlihat sekali menyakini Kyungsoo agar temannya itu percaya dengan apa yang ia katakan tadi. Saat itu Kyungsoo akhirnya menyerah dan percaya, Luhan mengatakan apa yang sebenarnya tidak berbohong sama sekali. Namja bermata bulat itu pun menghela nafas.
"Baiklah, aku percaya setidaknya kau benar tak terjadi apa pun padamu" Luhan menghela nafas legah.
"Kajja, kita kekantin saja sekarang, aku lapar" alih Kyungsoo
"Ne, aku juga lapar"
mereka pun sesaat saling tersenyum sebelum beranjak keluar kelas dan pergi pergi kekantin sekolah.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
Kai melempar bola berwarna orange itu kearah Chanyeol yang berlari disebelahnya. Ditangkap baik oleh yang dilempar dan langsung berlari semakin cepat kearah ring lawan mereka. Tertahan sejenak begitu Suho menghadangnya didepan. Sedikit kesusahan karena Suho terus tak mau kalah menghalanginya untuk semakin maju. Hingga beberapa menitnya ia pun berhasil mengecoh yang lebih tua dan lekas berlari kembali menuju ring didepan sana, namun saat-saat ia sudah dekat Sehun datang menghadang pula. Berusaha merebut bola darinya. Terjadilah perebutan bola tersebut dengan sedikit sengit. Dimana Sehun jauh terlihat ingin dikalahnya.
"Kali ini, tidak akan kubiarkan kalian menang!" Seru Chanyeol dengan penuh keyakinan. Dibalas oleh seringaian oleh Sehun.
"Benarkah?, buktikan saja"
terjadi saling mendorong diantara mereka. Bahkan Chanyeol sampai menghalangi satu kaki Sehun Hingga...
SRET
"Chanyeol cegat bodoh!" Kai berteriak karena akhirnya Chanyeol kehilangan bola ditangannya dan telah berpindah tangan pada Sehun. Sang penguasa itu buru-buru berlari arah ring sebaliknya. Dengan Kai yang tak mau kalah sampai Suho pun ikut bergerak.
"Hyung tangkap!"
HAP
Giliran Suho mengambil arah kesamping kiri Sehun walau ia disusul oleh Kai dibelakangnya. Tak lama Chanyeol mengikuti. Suho masih bergerak sambil menddrible bola ditangannya, sesekali ia akan melirik kearah Sehun yang telah berlari kearah depannya lebih dulu. Dan sepertinya mereka lah yang akan kembali menang. Saat Sehun telah siap, ia pun memberi kode pada namja pucat itu.
"Sehun giliranmu!" Serunya sambil melemparkan bola tersebut tepat pada Sehun didepan sana. Hal itu membuat Kai dan Chanyeol menggeram seketika.
"Sial, Kai cepat!" Kai beranjak menyusul Sehun, tapi ia terlambat begitu Sehun telah membuat mereka kalah telak. Bola masuk tepat ditengah lubang ring itu dan jatuh ketanah.
"Shit, kita kalah lagi" keluh Kai menendangkan kakinya diudara. Chanyeol terlihat frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
"You lose" ejek Sehun menunjuk bergantian kedua sahabatnya itu.
"Kau payah Kai"
"Yak, kau yang payah, tidak bisa menghadang Sehun bodoh!"
"Kau juga bodoh!" Suho menggelengkan kepalanya melihat terjadinya adu mulut diantara kedua saengnya itu. Saling menyalahkan atas kekalahan mereka, dasar kekanak-kanakan.
"Kalian kalah, jangan saling menyalahkan seperti itu, dasar anak kecil"
Suho menyahuti peraduan mulut kedua namja itu. Hingga keduanya pun terdiam pada akhirnya. Sehun sendiri tak mau ambil pusing ia malah mendudukkan dirinya ditengah lapangan basket luar itu guna mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah usai permainan mereka. Disusul Suho pula duduk disebelahnya.
"Kemarin, kalian berdua ada dimana?" Seketika Kai bertanya menempatkan dirinya didepan Suho.
"Ne, kalian selalu pergi meninggalkan aku bersamanya" sahut Chanyeol
"Aku pergi menemani seseorang kemarin" jawab Suho membuat Sehun langsung menoleh padanya.
"Seseorang?, yak nugu?"
"Kalian tak perlu tau"
"Haishh, sekarang hyung main rahasia yah pada kami?, atau seseorang itu teman kencan hyung?" Ujar Chanyeol.
"Bukan, hanya seorang teman" balas Suho menggelak, walau sebenarnya itu benar.
"Teman seperti apa?, aku kira hyung tak memiliki seorang teman, selain kami bertiga" Kai ikut menimpali
"Kau saja yang bodoh mengira hal itu, yang jelas seorang teman yang berbeda dari kalian" terlihat Sehun berdecak tanpa sadar yang mendengarnya.
"Yah, terserah hyung saja"
"Aku jadi penasaran seperti apa orangnya" Sehun menggeraskan rahang karena tak sengaja Suho sedang tersenyum tipis. Ia tau siapa orang Suho maksud itu, jelas karena tanpa namja itu ketahui Ia telah mengikutinya. Makanya ia tau sosok seorang yang Suho maksud, namja mungil bermata rusa, yang terlihat polos tapi sangat cerewet jika sedang kesal. Siapa lagi kalau bukan Luhan. Namja yang sialnya juga telah membuat dunia seorang Oh Sehun berubah seketika.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
"Kau akan ketoilet kan?, kalau begitu aku pergi kekelas lebih dulu ne"
"Ne"
"Jangan lama-lama dan ingat jika terjadi apa-apa padamu, apa lagi sampai Exo mengganggumu lekas hubungi aku arra!"
"Arraseo eomma"
Kyungsoo sesaat berdelik tajam pada Luhan yang telah mengatainya Eomma. Sementara namja rusa itu terkekeh kecil sambil melangkah mengambil arah berlawanan dari Kyungsoo. Dimana namja bermata bulat itu lebih dulu kekelas mereka dan ia menuju arah toilet. Luhan seketika merasa mengantuk setelah perutnya terisi, ia malah jadi ingin tidur. Makanya ia lekas pergi ketoilet sekedar menghilangkan sejenak rasa kantuknya dengan mencuci muka. Walau ia tak begitu yakin dengan cara itu benar bisa menghilangkan rasa kantuknya itu.
Dicoba setidaknya itu yang perlu ia lakukan. Luhan bersenandung kecil diperjalanannya sambil tersenyum tipis saat beberapa siswa lain menyapa dan lewat disekitarnya. Dan tinggal berbelok sedikit maka ia akan sampai ditoilet pria. Tapi terhenti sesaat begitu matanya tak sengaja bertabrakan oleh tatapan seseorang didepannya sana. Tatapan tajam dan siap akan menembus pandangannya. Sementara sosok yang menatapnya sudah berjalan cepat menujunya dengan seringaian tipis terukir dibibir tipis sosok tersebut.
Luhan tak sadar lagi hanya karena mendapatkan tatapan tajam itu, ia sampai diam saja saat sosok itu sudah berdiri dihadapannya. Ia meresponnya dengan kedipan mata beberapa kali. Hingga akhirnya ia merasa tubuhnya tertarik begitu saja oleh sosok itu. Membawanya pergi entah kemana. Yang Luhan hanya tau ia dibawa kearah yang sama dengan arah tujuannya sebelumnya. Sampai ditoilet tubuh Luhan malah didorong tiba-tiba didinding pembatas bilik disalah satu toilet tersebut. Dihimpit oleh tubuh sosok yang telah membawanya itu. Ia hanya bisa memasang wajah bengongnya saja.
"Sehun..." cicitnya pelan memanggil nama sang penguasa didepannya. Sebelum bibirnya telah disatukan dengan bibir sosok itu. Langsung saja Luhan refleks menutup sejenak kedua manik rusanya. Hanya kecupan yang terjadi beberapa detik dan usainya tautan kecil itu terlepas. Luhan membuka matanya menatap polos pada Sehun dihadapannya. Kedua manik rusa Luhan bergerak kesana-kemari guna memperhatikan pahatan wajah tampan Sehun. Didepan wajahnya. Hingga berhenti tepat pada sepasang manik tajam namja itu yang juga telah tertuju padanya.
"Sehunn..."serunya lagi memanggil nama Sehun untuk kedua kalinya. Ia merasa mendadak sesak pada dadanya, ada sesuatu yang terasa bergejolak saat ia sadari siapa namja yang telah berdiri didekatnya saat ini. Semakin bergejolak ketika untuk yang kedua kalinya pada waktu yang sama. Sehun membawanya pada kelembutan ciuman namja tampan itu. Ciuman yang ia rasa begitu berbeda semenjak malam dimana mereka berada pada satu ruangan bersama, yah dikamar Luhan tepat pada malam tadi. Luhan tak perduli sekarang dengan fakta bahwa Sehun berbahaya untuknya saat ia masih mengira hal tersebut pada waktu itu. Sehun sang penguasa, Sehun yang berandal dan sangat brengsek. Semua ia lupakan fakta mengenai namja itu. Yang pasti ia saat ini begitu menerima tulus akan ciuman Sehun. Anggap saja Luhan gila karena bisa jatuh dan terkurung oleh kukuhan sang penguasa tersebut. Ia lantas justru mengikuti apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini. Ingat jika Sehun telah mengajarinya kala malam itu.
Ia terpejam dengan bergerak perlahan dan pasti. Memeluk erat leher Sehun sambil mengangkat sudut bibirnya. Ikut menggulum pelan sedikit menekannya pula. Ia tak ingin Sehun merasa kecewa apa lagi sampai bosan saat mereka mulai bertautan. Kepala Sehun bergerak miring kekiri sedangkan ia bergerak berlawanan arah miring kearah kanan. Saat itu pula Luhan tak bisa pungkiri ia mulai suka dengan Sehun Yang memberikannya sentuhan penuh disepasang bibir kecilnya.
.
.
.
~ Hissing ~
.
.
.
Mata mereka beradu cukup lama usai ciuman itu diakhiri. Sehun yang betah mengelus pipi rona Luhan dengan satu tangannya. Matanya bergerak meneliti lebih setiap lekukan wajah manis namja rusa itu. Ia rindu dengan semua hal yang ada pada namja rusa tersebut. Luhan bisa saja merasakannya pula. Betapa berbedanya sosok penguasa didepannya saat ini. Ia sampai ingin bertanya pada namja itu. Apa beranggan namja itu jadi terlihat berbeda disaat pandangannya sekarang?. Ia menemukan sisi lain dari namja tersebut.
"Sehun..."
Luhan merasa sesuatu tengah menggelitik kecil didalam perutnya saat ia menyerukan nama Sehun dari mulut kecilnya dan ia suka akan sensasi tersebut. Rasanya menyenangkan karena baru pertama kali ia merasakan hal seperti itu. Sehun tak berseru apa pun sebagai balasannya, ia hanya setia menatap teduh pada namja yang tanpa ia sadari telah membuatnya sedikit berbeda.
"Ada apa?" Luhan pun bertanya.
"Tidak apa" itu kata pertama yang Sehun serukan sebelum ia sedikit mengambil jarak dari tubuh Luhan. Lalu bergerak dengan menarik satu tangan Luhan dan membawa namja rusa itu ikut masuk ke salah satu bilik toilet yang kosong.
Pintunya ia tutup rapat setelahnya beralih pada Luhan yang menatapnya tak mengerti. Ia maju kedepan namja itu sambil kembali mendorong pelan tubuh mungil Luhan. Dan berakhir Luhan kembali terhimpit diantara dinding bilik dan tubuh tegak Sehun. Luhan sedikit mendongak Guna lebih memandang wajah rupawan sang penguasa.
"Cium aku sekarang juga!" Seru Sehun dengan nada sedikit memerintah.
"Huh?"
Kedua tangan Sehun bergerak menangkup kedua sisi wajah Luhan, mengangkatnya lebih tinggi agar sedikit menyamai wajahnya. Degupan jantung keduanya tanpa sadar terdengar meningkat begitu sepasang bola manik mereka bertemu melekat. Seakan saling menunjukkan perasaan apa yang telah mereka rasakan saat ini. Walau pada akhirnya mereka pun tak dapat saling menemukan perasaan apa itu. Tak ingin ini terlalu lama larut Luhan walau sedikit tak yakin, namun tetap ia lakukan sebagaimana Sehun telah mengatakan kepadanya. Ia kembali memejamkan kedua matanya dengan kepala yang ia miringkan, perlahan mendekatkan wajahnya pada Sehun.
Dan bibir mereka kembali bertemu dengan lembut. Saling terdiam sesaat guna mendalami rasa bibir mereka masing-masing. Lalu mulai bergerak bersamaan dengan perlahan. Sehun mengapit bibir bawah Luhan pelan menariknya agar semakin dalam. Hal serupa walau lebih terlihat amatir Luhan mengambil gerakkan yang sama dengan bibirnya menarik ujung bibir atas Sehun. Dapat dipastikan bagaimana terjadinya peraduan keduanya saling menyerang. Sehun semakin menekan hingga membuat kepala Luhan sedikit terdorong kebelakang. Ia benar-benar gemas dengan bibir kecil itu sampai ingin merasakannya lagi dan lagi.
Luhan kembali membawa kedua lengannya melingkari leher Sehun. Dibalas oleh Sehun yang juga memeluk pinggang ramping Luhan. Sesekali menariknya agar tubuh Mereka merapat tak berjarak sedikit pun. Sehun menggila ia sungguh menginginkan Luhan didekatnya. Sampai tangannya tak bisa diam saja yang bergerak mulai liar meraba punggung Luhan. Membuat seketika tubuh yang kecil bergetar halus. Ia bisa merasakan hal itu yang justru membuatnya semakin nekat. Bibir Luhan sungguh terbasahi oleh saliva mereka terlihat dari sudut bibirnya yang telah dialiri oleh setetes saliva itu turun melunjur bebas kedagu kecilnya.
"Eunghhhmpphhh..."
kepala mereka bergerak semakin liar kesana-kemari berlawanan arah. Sehun yang kekanan, Luhan kekiri dan sebaliknya seperti itu. Saat Luhan sadar ia hampir kehabisan nafas, Sehun tau dan bergerak lekas melepaskan ciuman menggairahkan mereka. Luhan terengah kacau nafasnya terdengar terputus-putus, disahuti oleh deru nafas berat dari Sehun. Ini gila dan jauh lebih gila dari ciuman yang sebelumnya pernah mereka lakukan.
Sehun tak mau berdiam selagi Luhan focus pada pernafasannya, ia ambil alih pada dagu namja rusa itu. Mengecupnya sekali sampai menggigitnya gemas pada ujung dagu tersebut. Turun kebawah dan berhenti tepat pada jakun milik Luhan. Melakukan hal yang sama pada jakun itu. Menggigitnya pula dibalas dengan satu lenguhan keluar dari mulut sang pemilik. Tak terasa hawa disekitar mereka menjadi lebih panas dari sebelumnya. Usai pada jakun itu Sehun kembali turun dengan gerak sensual menambah sensasi dalan pada hubungan kontak mereka. Menghirup aroma manis yang telah keluar tepat dari leher mulus Luhan. Aroma manis itu adalah hal pertama yang Sehun dapatkan. Karena selama ia berhubungan dengan para mangsanya yang lain, ia tak pernah sekali pun merasakan segairah ini. Begitu ia ingin dan ingin namja tersebut. Luhan sungguh berbeda untuknya. Ia kecup beberapa kali kulit leher itu sambil menghirup lebih aroma manis dengan hidung mancungnya. Ia sungguh menginginkan Luhan. Sehun merosotkan tiba-tiba tubuhnya kebawah, berjongkok tepat didepan Luhan.
Hal itu membuat Luhan membuka matanya seketika dan menunduk guna melihat Sehun dibawah. Ia terkesiap saat merasa sepasang tangan bergerak dipinggangnya, tidak tepatnya pada ikat pinggang yang ia gunakan.
"S-Sehun, apa yang kau lakukan?" Tanyanya takut.
"Diam saja heum!" Sehun membalas tegas. Namja pucat itu terlihat sibuk pada ikat pinggang Luhan. Ia membuka dan melepaskan ikat pinggang tersebut. Usainya beralih pada zipper celana kain yang Luhan kenakan.
"Sehunn" Luhan bergetar kecil menyentuh tangan Sehun yang bergerak membuka zipper celananya. Tak dibalas lagi oleh sang penguasa itu dimana namja itu masih melakukan apa yang ia inginkan.
SRET
"Sehuunnn..." Luhan menjerit kecil Sehun menarik celana seragamnya kebawah, hingga paha mulusnya jadi terbebas dari celana itu. Sehun mendongakkan wajahnya melihat reaksi terkejut Luhan.
"Tenang, ini hanya sebentar heum, tak akan lama" ujarnya menenangkan ketika mendapati raut wajah Luhan yang mulai ketakutan. Ia tersenyum lembut sebagai tambahannya. Tanpa menunggu responan pasti dari namja Rusa itu, ia kembali beraksi kini hendak menarik sisa kain yang melekat pada tubuh bagian bawah Luhan. Kain yang masih menutupi kebanggaan milik Luhan. Ia perlahan menariknya pelan, turun dan semakin turun hingga kain itu benar tak lagi menutupi alat vital pribadi Luhan. Luhan kembali terpejam sambil merapatkan kedua pahanya menutupi juniornya yang terbebas. Ia malu sungguh malu, karena pertama kali seumur hidupnya seseorang selain dirinya telah melihat miliknya dengan sempurna dan itu adalah Sehun. Ia tidak tau apa tujuan Sehun melakukan ini padanya.
Dan sialnya ia tak bisa mencoba untuk menolak dan melepaskan diri dari namja penguasa itu. Sementara Sehun tersenyum tipis ia tau Luhan tengah menahan rasa malunya sekarang. Tak tega sebenarnya tapi rasa keinginannya mengalahkan rasa ketertegaannya pada namja itu. Karena Sehun sudah melakukan sejauh ini. Ia bergerak lagi mendekatkan lebih wajahnya pada selangkangan Luhan. Menyentuh lembut kedua paha si kecil dan terlihat Luhan tersentak karenanya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu Lu!"
"S-sehunnn..."
Luhan kembali bergetar saat Sehun memberinya tiupan lembut pada ujung juniornya. Bentuk rangsangan yang menggelikkan dan Luhan ingin melemas sekarang. Hingga ia refleks membekap mulutnya erat dengan kedua tangannya. Sehun langsung meraup juniornya kedalam mulut namja tampan itu. Bergerak menggulumnya perlahan.
"A-aahhh...ssehunnhhh, a-apa yanghh kau lakukanhhh?"
Bersusah payah Luhan mengeluarkan pertanyaannya, walau ia tau Sehun tak akan memberinya jawaban apa pun. Dimana namja penguasa itu terus menggerakkan mulutnya menggulum habis junior itu. Luhan mengangkat wajahnya keatas rasa geli yang bercampur nikmat ia rasakan saat ini. Ia tidak tau mengapa?, tapi yang jelas ia tidak tau harus apa karena rasa nikmat ini sungguh memanjakan juniornya.
"Ummpphhhhh..." racaunya terpendam akibat bekapan tangannya, ia mulai berkeringat tubuhnya benar melemas sekarang. Bahkan ia rasanya ingin merosotkan tubuhnya begitu tak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Ia lepaskan satu tangannya dan beralih berpegangan pada pundak Sehun. Namja pucat itu masih saja memberikannya Blow Job perdana untuk Luhan. Lidah lihainya ikut ambil alih menjilat-jilat batang junior Luhan bersamaan dengan mulutnya yang semakin meraup habis benda itu. Tangannya pun ikut andil dengan mengelus lembut permukaan kulit paha dalam Luhan.
Namja rusa itu benar-benar terlena jadinya. Luhan tak kuat ini semakin nikmat bahkan menit berikutnya ia merasakan juniornya terasa seperti membesar dan berkedut didalam mulut Sehun. Ia akan sampai sebentar lagi. Itu yang dirasakan Sehun yang langsung sengaja memperdalam kulumannya itu. Menyedot-nyedot milik Luhan membantu agar junior itu cepat lekas pada klimaksnya.
"Aahhh...akhhhh, ssehunnghhh...a-akuhhh...t-tak kuathhh" racau Luhan setengah menjerit dengan mulutnya ia bebaskan dan kini tubuhnya benar melemas sampai berpegangan kuat pada kedua pundak Sehun agar tubuhnya tak terjatuh. Sehun pun Melingkarkan kedua tangannya memeluk paha Luhan bertujuan agar Luhan bisa tetap pada posisinya.
Namja rusa itu merundukkan tubuhnya kedepan membuat wajah tampan Sehun semakin menempel pada bawahannya. Jari-jemarinya sudah ikut serta tanpa ragu meremas suraian hitam milik Sehun. Mulutnya tak henti mengeluarkan berbagai macam racauan halus. Terbuka setengah dan membiarkan salivanya keluar mengalir didagunya. Luhan sungguh berpenampilan kacau saat ini. Dan detik berikutnya Luhan menjerit keras bersamaan dengan cairan sperma pertamanya keluar memenuhi mulut Sehun.
"Akhhh..ahhh...hahh...hah..."
BRUK
Kepalanya terkulai lemas dipundak Sehun. Ia telah sampai pada orgasmenya yang pertama. Ia sungguh merasa lelah seketika. Sehun yang mengeluarkan junior Luhan dimulutnya terlihat menelan setengah dari cairan Luhan tanpa rasa jijik. Lalu ia menarik tubuh Luhan agar jatuh pada pangkuannya. Menangkup wajah Luhan yang telah basah oleh keringat juga tak lupa salivanya sendiri. Mata Luhan terlihat sayu setengah tertutup melihat Sehun. Dan tertutup sempurna begitu Sehun membawanya dalam ciuman panjang. Sehun tak segan membagi sisa cairan milik Luhan pada namja rusa itu. Diterima baik oleh Luhan yang sempat mengerutkan keningnya saat merasakan cairan aneh didalam mulutnya. Lidah mereka berbelit setelah itu hingga keseluruhan cairan sperma itu telah habis mereka bagi bersama. Sehun pun melepaskan ciuman mereka.
"Huwaaaa...rasanya aneh Sehun" jeritan lagi Luhan keluarkan tepat begitu ciuman Mereka lepas. Namja rusa ia membuka matanya menatap memelas pada Sehun. Sungguh menggemaskan.
"Aneh?"
"Heum, sangat aneh"
Sehun tersenyum lembut sambil merapikan poni Luhan yang berantakan.
"Kau akan terbiasa nantinya heum, karena ini yang pertama kau rasakan bukan" Luhan mengangguk kecil bibirnya ia poutnya sedikit. Menambah kesan imut diwajah anak kecilnya itu dan Sehun menggeram karenanya. Ia kembali membawa tubuh kecil Luhan didalam bekapannya. Sambil mengelus sayang kepala namja rusa itu.
"Sehun"
"Yah?"
"Aku lelah"
"Aku tau itu, kalau begitu istirahatlah sejenak!"
"Heumm" Luhan meletakkan kepalanya lagi dibahu Sehun dan kedua tangannya ia peluk leher sang penguasa itu. Dan suasana hening tercipta dimana hanya terdengar suara deru nafas mereka bersamaan.
"Luhan, kau tidur?"
"Hm, tidak"
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu"
"Yah, apa itu?" Sejenak Sehun berdehem menghentikan elusannya pada kepala Luhan. Bersiap untuk kembali mengambil suara. Sesuatu yang ingin seketika ia katakan pada namja rusa itu.
"Luhan, aku rasa aku..."
"Aku menyukaimu..."
.
.
.
~ T.B.C ~
.
.
.
YUHUUUUUUUUUU...
HISSING CHAP 12 HEREE GUYS^^
author come back guys dengan hissing
ni udah lanjut lhooo
yang kemarin masih ngarep hunhan moment?, nih chap 12 full mereka deh^^
jadi moga kalian suka
gk mau banyak bacot deh, thanks untuk yang udah riviuw sebelumnya yah^^
jangan bosan-bosan tunggu kelanjutan ff abal saya ini
so langsung ja
sampai jumpa dichap berikutnya
sedikit bocoran chap depan bakal ada ekhemmm XD
HunHan bakal NC'an yuhuuuuuu
jadi ditunggu ja
okeh byeeee...
Xdhinnie0595
14/02/16
