Ia mulai menyesali apapun yang ada dalam dirinya yang selalu membuat para namja memandang penuh nafsu ke arahnya. Sedikit rasa bangga, namun lebih banyak kesedihan yang ia rasakan.
(Bittersweet_Blood_Chapter 12)
His Charm (Bab I)
"Aku telah membaca artikel yang memuat tentang anda" Katanya, kepada namja berusia tiga puluhan itu.
Jongin melempar senyuman, dan membuat namja bernama Louis Huang itu ikut tersenyum. Dia adalah rekan bisnis barunya—setelah ia membatalkan kerja kontraknya dengan Choi Minho, yang kini tengah mendekam di penjara.
"Aku menyukai banyak desain yang anda tawarkan" Jongin berkata lagi.
Louis huang adalah namja dewasa tampan dengan gaya pakaiannya yang nampak seperti detektif. Terkesan unik dan misterius—namun Jongin sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
"Ah, dibagian tipe satu atau tipe duanya?" Louis Huang bertanya. Ia membuka katalog besar yang ia bawa di dalam tas kerjanya.
"Niatnya aku akan membangun sebuah cafe yang tidak terlalu kecil namun tidak terlalu besar juga, Mr Huang"
"Aku sudah mendengarnya dari Mr Shim. Istrinya bilang ingin sebuah cafe bergaya minimalis yang terkesan elegant dan trendy"
Jongin tertawa kecil. Mungkin Louis mengira dia dan Changmin masih terikat. Nyatanya mereka sudah bercerai, dan dengar-dengar Changmin tengah menjalin hubungan dengan seorang yeoja yang 2 tahun lebih tua darinya. Tapi benar atau tidaknya pun juga tidak tahu, ia juga tidak mau terlalu memusingkan dengan siapa Changmin berkencan.
"Oh, astaga..Maafkan aku, Jongin-ssi. Aku sama sekali tidak tahu jika kalian sudah berpisah" Katanya, dengan nada menyesal saat Jongin menjelaskan jika mereka sudah tidak bersama lagi.
Jongin tersenyum menghargai ucapan penyesalan namja jangkung itu. Namun Louis sama sekali tidak tertipu melihat raut wajah Jongin yang mulai tidak suka dengan pembicaraan ini.
"Baiklah, Mr Huang. Bisa ku lihat katalognya?"
Louis menganggukan kepala. Ia menunjukan katalog di tangannya. "hmm..semuanya terlihat bagus. Aku hampir sulit sekali memilih" komentar Jongin. Dia baru kali ini melihat desain yang begitu sempurna.
Keduanya duduk di sofa besar yang sama. Membuat namja bernama lengkap Louis Huang itu seakan mabuk membaui aroma yang memabukan dari dalam diri ibu muda di sampingnya ini.
"Mr Huang?" Jongin sedikit menyingkir saat ia melihat tingkah aneh Louis yang terus-menerus bernapas di tengkuknya.
"Ah..Iya..Maafkan aku, Jongin-ssi. Aku hanya sedikit..emmhh, maaf..sekali lagi maafkan aku"
Jongin mengangguk. Ia mulai menyesali apapun yang ada dalam dirinya yang selalu membuat para namja memandang penuh nafsu ke arahnya. Sedikit rasa bangga, namun lebih banyak kesedihan yang ia rasakan.
Tubuh rampingnya serta kulit tannya yang sexy memang kerap kali mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya. Bahkan ia ingat, saat ia mencoba mengikuti Changmin ke sebuah club malam. Seorang laki-laki menggesekan kejantanannya pada butt kenyalnya dan meremasnya dengan sangat gemas. Rasanya ia ingin meronta, namun tenaga laki-laki itu terlalu kuat. Dan saat ia menoleh, ia kenal namja itu. Lee Seohyuk, seorang model papan atas yang paling digandrungi oleh para remaja.
Mungkin besok ia akan menemui Louis di restoran saja dibandingkan di rumah besar laki-laki Huang itu yang terlihat sepi dan mustahil suara teriakannya terdengar sampai ke depan pagar sana.
.
.
.
.
Kris pasti akan senang, pikir Junmyeon. Ia hendak membuat salmon panggang untuk makan malam nanti. Ia sudah terbiasa keluar seorang diri dari apartment Kris untuk berbelanja keperluan mereka di swalayan.
Sudah berapa lama dia tinggal dengan namja tampan berkacamata itu? 2 minggu? 1 bulan? Ah, tidak..Sudah 3 bulan lamanya ia resmi tinggal di sana dan menjalin hubungan yang begitu intim.
Kris sangat menyayanginya dan memperhatikan apapun yang ia butuhkan. Maka dari itu Junmyeon mulai bisa membuka pintu hatinya dan menerima namja itu sebagai ayah dari bayi yang sedang ia kandung.
Mungkin ini terlalu cepat. Saat 7 hari yang lalu, ia mendapati tubuhnya yang terasa lemas dan muntah-muntah di pagi hari. Kris dengan begitu telatennya merawat dirinya dan memanggil seorang dokter.
Rasa haru ia rasakan di hatinya begitu sang dokter berkata jika ia tengah mengandung. Dan usia kandungannya baru 3 minggu. Mereka bukan orang yang saling mengenal, teman, sahabat ataupun pacar. Mereka hanya tak sengaja dipertemukan dalam kondisi yang sangat pelik. Namun Junmyeon merasa beruntung karena tanpa sengaja Kris sudah menyelamatkannya dan meyadarkan dirinya dari kejahatan yang mungkin saja bisa membahayakan nyawanya suatu hari nanti.
"Kau tahu, baby? Daddy-mu sangat suka Salmon panggang cheese sauce. Kau pasti juga akan suka" Junmyeon berbisik pelan. Ia mengusap lembut perut datarnya dan meletakan satu 1 salmon fillet potong ke dalam troli belanjanya.
"Sedang berbelanja, hyung?"
Junmyeon membatu saat mendengar suara seorang namja yang sangat ia kenali. Ia berbalik badan, dan mendapati Zitao tengah berdiri di belakangnya. Dia yakin, pasti namja ini sudah lebih dulu mengikutinya tanpa ia sadari.
"Z..Zitao"
Zitao tersenyum, ia mengambil sebuah brokoli dan berjalan mendekati Junmyeon. "Kau selalu membuat brokoli krispi saus keju yang enak, hyungie" Katanya, seraya memasukan brokoli itu ke dalam troli.
"A..apa yang kau inginkan?"
"Aku? Apa yang aku inginkan? Kau lebih tahu mengenai apa yang ku inginkan" jawab Zitao. "Mengapa kau nampak ketakutan, hyung?"
"Oh? Apa adik bayi juga merasa takut?" Zitao merundukan wajahnya di depan perut Junmyeon. "Hey, baby..Ini Aku pamanmu" ia menyapa, dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Zitao, ku mohon jangan mengusikku lagi! Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya"
"Oh, itu bagus" Sahut Zitao. Ia menegakan kembali tubuhnya. "Jadi aku tak perlu menjelaskan lagi padamu"
"Pergilah" Pinta Junmyeon.
Zitao menyeringai. "Tanpa kau minta, hyung" Ujarnya. "Ah, aku sama sekali tidak sabar melihat reaksi Namjoon nanti"
"Kim Namjoon, si bungsu Kim. Satu-satunya adik kesayangan Kim Junmyeon"
.
.
.
Jongin meletakan tab miliknya setelah membaca email yang dikirimkan Louis untuknya. Ada juga email dari Changmin yang mengiriminya informasi mengenai perkembangan bisnisnya dan rencana namja itu yang hendak mengajak Kyungsoo berlibur ke Hawai.
"Jimin, kapan kau dan Jungkook berangkat ke Nagoya?" tanya Jongin. Ia melirik Park Jimin, kekasih adik bungsunya yang sedang berlibur ke Busan.
Nyonya dan Tuan besar Kim sedang pergi ke New York dan mengembangkan bisnis restorannya di sana. Jadi Jungkook yang ditugaskan menemaninya di Busan—dan kebetulan Jimin, kekasih Jungkook baru saja menyelesaikan ujian kelulusannya dan hendak berlibur sebelum liburan panjangnya yang akan dihabiskan di Jepan bersama Jungkook.
"Hmm..Mungkin 1 minggu lagi, hyung" jawab Jimin. Seraya meletakan kue muffin buatannya di atas meja.
"1 minggu?"
Jimin mengangguk pelan. Jongin tersenyum simpul, ia mengambil satu kue muffin itu dan mencicipinya pelan-pelan. "Ini enak" pujinya. Dengan hati-hati memakannya karena masih agak panas.
Suara cempreng Kyungsoo mulai terdengar. Sepertinya anak itu sedang dalam perjalanannya ke dapur. Dan tak lama munculah Jungkook dengan Kyungsoo yang berada di gendongannya. Anak itu tertawa-tawa bahagia dan membuat siapapun berdecak gemas melihatnya.
"Yeayy, Muffin" Kyungsoo dan Jungkook bersorak.
Jongin memutar mata malas. Ya ampun, adiknya ini bukan main childish-nya. "Hati-hati kookie itu masih pan—"
"Adududhhhh" Jungkook memekik kepanasan dan membuat Kyungsoo digendongannya tertawa girang. Ia menjewer gemas telinga sang paman dan menggodanya. "Paman cih tidak hati-hati" katanya. Ia mengarahkan kedua tangannya ke arah sang ibu, berharap Jongin mau menggendongnya.
Jongin ikut tertawa, ia menyambut pelukan buah hatinya yang kini sudah berada di gendongannya.
"Makanya hati-hati" kata Jongin.
"Aish, hyung" Jungkook berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum.
"Dia masih saja ceroboh" Jimin berkata.
"Kau harus sabar menghadapinya, Min" Timpal Jongin.
Kyungsoo memakan Muffin-nya sambil meniup-niupnya pelan. Anak itu tak mau lidahnya kepanasan seperti sang paman.
Jimin menunduk malu. Membuat Jongin semakin gencar menggodanya.
"Hyung, jangan menggodanya terus!" Jungkook membela sang kekasih.
Jongin hendak menyahut, namun suara bel berbunyi.
"Itu pasti kapten Oh" Kata Jungkook.
Dan sekarang Jongin lah yang merona malu saat Jungkook mulai membahas Sehun yang katanya akan segera menjadi ayahnya Kyungsoo. Kyungsoo kecil yang tidak mengerti hanya mengangguk saja. Lagipula, yang ada di pikirannya kan paman Oh tampan. Jadi tidak apa-apa jika Sehun jadi ayahnya.
Cklek..
"Ibumu menelponku untuk memeriksa keadaan kalian" kata Sehun, saat pintu rumah itu terbuka.
"Jadi kalau mommy tidak menelpon, kau tidak akan kemari?" tanya Jongin, dengan bibir yang dikerucutkan.
Sehun tertawa kecil. "Siapa bilang? Aku malah hendak menginap di sini" katanya. "Paman dan Bibi Han kapan pulang?"
"Mungkin 3 minggu dari sekarang"
"Kau tidak menyuruhku masuk?" Tanya Sehun.
Jongin memutar matanya malas. "Biasanya juga kau sering mengendap-endap lewat balkon"
"Sayang, jangan membuka kartuku di sini"
"Baiklah, sayangku. Ayo masuk, kita bisa berbicara di dalam" sahut Jongin.
.
.
.
His Charm (Bab II)
Gangseo, Pukul 10 malam..
"Bagaimana dengan pendapatmu?" Tanya Zitao, seraya meletakan satu map coklat di atas meja.
Namjoon mengambil map itu dan membukanya—mencoba mencari tahu isi di dalam map yang dimaksud oleh namja Huang ini.
"Apa gunanya sebuah sandi tanpa pemecah sandi" Zitao bergumam tak jelas. Ia membiarkan Namjoon melihat isi map itu, bahkan ia berharap si bungsu Kim itu bersedia membaca isinya.
Namjoon mulai membaca kumpulan-kumpulan berita terbaru mengenai kakak sulungnya dengan seorang namja bermarga Oh. Kakaknya terlihat tengah berbelanja dengan seorang namja bertubuh jangkung di sebuah supermarket. Mereka terlihat begitu mesra, bahkan ia bisa melihat Junmyeon tersenyum begitu manis dan membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum.
"Namjoon?"
Bungsu Kim itu mendongak. Meletakan isi map itu di atas meja. "Dia bukan kapten Oh" katanya. Lagipula dia juga sudah hafal betul wajah tegas Kapten Oh yang menyebalkan tanpa ekpresi.
"Memang bukan" sahut Zitao. "Tapi dia salah satunya"
"Maksud, hyung?" tanyanya.
Ia mengernyit bingung. Maksud Zitao apasih? Dia sama sekali tidak mengerti. Lagipula jika kakaknya sudah memiliki pendamping hidup sekalipun itu sama sekali bukan masalah. Toh, akhirnya ia sudah cukup tenang jika keberadaan kakak sulungnya itu sudah ditemukan.
"Kau naif sekali" Zitao berkata.
Kecerdasaan alamiah seorang Huang Zitao. Kepintaran yang dikagumi oleh mendiang Kim Jongdae. Jelas tidak akan membuat semua itu diragukan oleh yang lain. Namjoon pun tahu, jika namja bermarga Huang ini adalah seorang namja pintar—atau malah seorang Prodigy keluarga Huang. Bahkan sampai saat ini Namjoon masih tidak tahu, asal-usul keluarga Zitao. Yang ia tahu, Zitao adalah seorang yatim-piatu, memiliki satu kakak perempuan, dan adik angkat bernama Taehyung. Semua itu ia tahu setelah ia mengenal dekat seorang Zitao sebagai kekasih mendiang kakak perempuannya.
Taehyung masuk dengan membawa 3 kaleng bir di tangannya sewaktu Namjoon masih berkutat dengan pemikirannya.
"Minumlah, hyung" katanya. Sambil meletakan sekaleng bir di atas meja untuk Namjoon. "Pekerjaanmu di Jeju sedikit membuatmu lupa untuk apa rencana kita berjalan"
Zitao tersenyum meremehkan. Ia membuka penutup kaleng bir di tangannya, untuk kemudian ia meneguknya hingga lelehan air bir menuruni lehernya. "Target kita adalah keluarga Oh, Namjoon"
"Kau tidak pernah bicara soal ini sebelumnya, hyung" katanya.
"Aku hanya membalaskan dendam Dae Noona. Bukan untuk membantai habis keluarga Oh"
Alisnya berkerut saat ia mulai paham dengan situasi ini.
"Wah..Wah..Ini sangat mengecewakan ya, Kim" Kata Zitao.
"Disini ada dua Kim, hyung" Canda Taehyung.
Namjoon menatap keduanya curiga. "Apa yang kalian sembunyikan?" tanyanya.
Taehyung mengeluarkan pistolnya, dan menodongkannya ke arah Namjoon.
Namjoon mundur beberapa langkah. Ia sangat terkejut saat mendapati Taehyung telah siap untuk menembaknya.
Sementara Zitao duduk diam sambil memainkan arloji di tangannya. Ia mulai merasa bosan. "Simpan senjatamu, Taehyung!" serunya.
Namja itu berdiri.
"Kau ingin mendengar sebuah cerita?" tanya Zitao.
Namjoon terdiam, ia sedikit was-was bilamana namja Huang itu telah menyiapkan sesuatu yang membahayakan nyawanya.
.
.
"Kecelakaan yang mengerikan" Kata Jongin, setelah membaca koran harian langganannya.
Tertulis berita baru di kolom teratas, mengenai tewasnya seorang pekerja industri yang tergiling di mesin penggilingan baja. Pikirannya mulai mengada-ada, mengenai darah dimana-mana dan membuat perutnya terasa mual.
"Berita itu sama sekali tak layak diberitakan" Sehun berkomentar. Seraya memperhatikan Kyungsoo kecil yang sedang asyik bermain dengan boneka-bonekanya.
Apartment Oh Sehun, seperti biasanya mereka menghabiskan waktu weekend bersama. Jongin mengangguk membenarkan. Ia baru saja hendak menyahut, namun suara timer oven yang berbunyi membuatnya buru-buru beranjak dari duduknya untuk memastikan Lasagna buatannya matang dengan sempurna.
"Jangan baca-baca berita seperti itu lagi!"
Jongin yang tengah memotong lasagna di atas piring menoleh. Dan hanya menyaksikan Sehun yang telah membuang koran berita itu ke dalam tong sampah. Sejak pemberitaan kedekatan antara mereka beredar, Sehun jadi sangat membenci koran-koran yang diterbitkan oleh daily Gangseo.
"Mommy, Coo mau"
Ia tersadar saat merasakan piyama tidurnya ditarik-tarik oleh Kyungsoo yang merengek ingin mencicipi Lasagna buatannya.
Jongin meminta putranya duduk di meja makan, sementara ia memotong Lasagna itu dan meletakannya ke atas piring untuk kemudian bisa mereka sajikan pagi ini.
"Oh, Sehun.. Bagaimana dengan kasus yang sedang kau tangani saat ini?" tanya Jongin. Sudah dua minggu ini tidak ada berita terbaru mengenai pembunuhan di distrik Gangseo.
Sehun nampak mengernyitkan keningnya. "Kita bicarakan nanti malam" jawabnya, santai. Seraya membantu Kyungsoo memakan Lasagna-nya.
"Paman, kenyang" rengek Kyungsoo.
"Benarkah? Kau baru memakannya sedikit, Soo"
Kyungsoo menggeleng pelan. Dia tidak mempedulikan ibunya yang berdecak sebal dan turun dari kursi untuk kembali asyik dengan boneka-boneka kesayangannya.
"kau ingin kemana, baby? Lasagna-nya belum habis" Jongin berseru.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Pedasc..Cooie tidak mau" katanya.
Sehun mencicipi Lasagna itu. rasanya memang tidak terlalu pedas, namun ia yakin berbeda sekali bilamana Kyungsoo yang memakannya.
"Sekarang?"
"Apa?" Sehun menatap Jongin penuh tanya.
Sementara namja berperawakan manis itu begitu menuntut dan menanti jawaban apa yang hendak diucapkan bibir tipis itu.
"Bagaimana dengan kasus distrik Gangseo akhir-akhir ini?" tanyanya. Matanya yang bulat makin pekat dan berbinar.
"Sayang, kau ingatkan jika aku paling malas membicarakan kasus pembunuhan itu jika kita sedang bersama"
Ibu satu orang anak itu mengerutkan keningnya. "Baiklah..Baiklah"
"Lalu bagaimana dengan rekan bisnismu itu?" tanya Sehun.
Jongin yang hendak menikmati Lasagnanya pun menghentikan niatnya. "Dia orang yang tampan" jawab Jongin, kemudian melanjutkan acara makannya yang tertunda.
"Aku Jealous mendengarnya" celetuk Sehun.
Jongin terkekeh pelan sambil mengunyah. "Tapi kau tetap yang paling tampan bagiku" Jongin merayu, seraya mengusap lembut rahang tegas Sehun.
"Aku penasaran dengan Louis Huang. Setampan apa sih namja itu?"
"Dia sangat tampan. Tapi jika orang di depanku mau melamarku, orang itu jauh lebih tampan dari seorang Louis Huang"
Sehun menggaruk tengkuknya malu. "Oh, sayang..Harusnya aku yang lebih dulu melamarmu"
Raut wajah Jongin segera berubah. Dia merutuki mulutnya yang telah membuatnya malu. Heol, seharusnya dia jangan menunjukan sifat binalnya di depan namja tampan ini.
.
.
.
Oh Kibum nampak muram malam ini hingga membuat kekasih tercintanya menatapnya dalam kecemasan. Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari lainnya. Biasanya di malam weekend begini, Kibum akan pergi ke rumah gundiknya yang lain untuk bercumbu mesra. Meski sudah tua, wajahnya tetap terlihat tampan dengan wibawanya yang mempesona.
Donghae tak akan marah, atau pun merajuk. Ia hanya menginginkan jika namja berpangkat jenderal itu tidak merasa bosan dengannya. Dia hanya tak tahu, jika selama ini hanya wajah dan tubuhnya saja yang selalu diinginkan Kibum dibandingkan gundik-gundik lainnya.
"Tuan Oh" Suaranya yang lembut menyapa. Tubuh rampingnya dibalut kimono tidur yang sangat tipis dan mengundang. Yah, mengundang untuk dilucuti oleh namja setampan Oh Kibum.
Kibum menoleh, ia mematikan rokoknya di atas asbak. Membiarkan Donghae duduk di sampingnya seraya memasukan kedua kakinya ke dalam kolam. Paviliun mewah ini sengaja di bangun Kibum di atas kolam renang hanya untuk beristirahat. Sebenarnya selain Donghae, ia juga sangat menyukai air. Melihat pancuran dan genangan air bisa membuatnya sedikit bernapas lega dari semua kepenatannya.
"Kau tidak tidur?" tanya Kibum.
"Tidak" jawab Donghae, seraya menggelengkan kepala.
Ia membiarkan kedua kakinya terendam di dalam air kolam yang dingin. Pertanyaan-pertanyaan terus berputar dalam kepalanya, membuat namja yang memutuskan menjadi seorang yeoja itu terus-terusan menoleh ke arah Kibum tanpa berani bertanya. Dia tak pernah bisa ber-praduga apapun tentang namja Oh itu.
"Apapun yang ingin kau tanyakan, cukup tanyakan saja" Kata Kibum, seolah bisa membaca pikiran sang kekasih. Dia laki-laki yang peka dibalik sifat angkuh dan keras kepalanya.
Donghae gelagapan, rambutnya yang panjang sebahu itu melambai pelan terbawa angin yang menerpa wajah manisnya. Kau tidak akan percaya, jika yeoja ini sebenarnya tidak pernah terlahir sebagai seorang yeoja tulen. Jika seandainya Oh Kibum tidak memaksanya untuk menjadi seorang transgender.
"Aku" ia menjeda kalimatnya. Terlihat berpikir.
"Apa?" Kibum menunggu pertanyaan yang hendak ditanyakan Donghae padanya.
"Apa yang terjadi, Tuan? Mengapa Tuan tampak gelisah malam ini?"
Kibum menghela napas pelan. Donghae berbicara terlalu cepat, namun ia masih bisa menangkap pertanyaan sang kekasih.
"Hae" Ia sebut nama sang kekasih dengan tatapan yang lembut. "Ada sesuatu yang selama ini aku sembunyikan dari siapapun, termasuk dirimu"
"Rahasia?" Maniks hitam Donghae melirik ke bawah genangan kolam biru dimana kedua kakinya sengaja ia celupkan di sana.
Kibum mengangguk pelan, ia membuang napas perlahan seolah membuang semua beban pikirannya. Akhir-akhir ini pikirannya begitu rancu dan membuatnya sedikit kesulitan menjalani bisnis.
"Maukah kau mendengarnya?" Laki-laki tampan itu bertanya.
"Aku akan sangat merasa terhormat sekali, Tuan"
Kibum tersenyum, sangat lembut. Membuat yeoja itu menunduk malu. Akhir-akhir ini Kibum selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
.
.
.
"Kejadian yang sangat buruk" Louis Huang berkata.
Jongin mengangguk, kemudian berkata. "Tapi sekarang putraku sudah kembali. Dan aku pun tidak perlu lagi merasa takut"
Louis Huang hanya menatap sosok ibu satu orang anak ini. Wajahnya yang manis, serta suaranya yang lembut membuatnya seperti tersihir. Kim Jongin seorang monster! Ya, monster penuh pesona yang membuat para namja bertekuk lututnya padanya.
"Mr Huang?"
"I..Iya.."
"Anda melamun" Jongin berkata. Ia mengaduk pelan jus strawberry-nya dengan sedotan. Ia tersenyum melihat tingkah kikuk Louis.
Diam-diam Louis menulis sesuatu di ponselnya. Entah apa, dan Jongin pun tampak tidak mau mengganggunya.
Tidak ada kecurigaan di hati seorang Kim Jongin. Ia malah membuka kembali katalog-katalog terbaru yang di bawa Louis Huang untuknya.
Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Ia berusaha untuk menahannya, memijat pelan keningnya, meskipun tak fokus dengan apa yang baru saja dikatakan oleh seorang Louis Huang.
"Eunggh" lenguhnya.
Tiba-tiba saja pandangannya gelap dan ia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/n :
Nujum itu apa?
Ahli Nujum itu semacam Fortune-teller
Usia Kyungsoo berapa sih, kok masih nenen?
Tadinya 2,5. Tapi aku baru ngeh kalo Usianya 4 tahun. Yaudahlah, malah keterusan deh. Hehehe..
Jongin hamilnya kapan?
Kapan-kapan, hehe..Tenang nanti ada kok.
Terus gimana sama tetangganya bibi Wookie?
Bibi Wookie tinggal di pedesaan. Di kanan kirinya Cuma ada ladang. Huehehe..Maaf ya, lupa jelasinnya.
Boleh Request FF?
Maaf, lagi gak open Request:(
