The Half-Devil Lucifer

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini.

Genre : Adventure, Family, Supernatural, Romance, Etc.

Rate : M untuk Bahasa, Storyline dan lain sebagainya.

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya!

Warning : AU, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream [Mungkin], OOC, Adult-Theme, Violence, DLL.

.

.

.

.

.


Arc II : Awal dari semua masalah!

Chapter 12 : Death Game!

Author Note :
[1] Tehnik buatan sendiri dan ada juga saya ambil dari beberapa Anime yang mempunyai kemampuan memanipulasi api yang sedikit saya ubah untuk Naruto
[2] Beberapa Kekuatan Chara banyak berubah baik di segi tehnik maupun tingkatan kekuatan. Adapula yang perannya diubah.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah cahaya keemasan melintal vertikal tiba-tiba muncul di ruang tengah kediaman Quartet mahluk absurd. Memecah kesunyian malam hari di sana. Klon Madara dan Hashirama yang menyadari kemunculan tehnik teleportasi orang yang sangat mereka kenal, langsung berjalan mendekati cahaya itu. Saat sudah berjarak sekitar 2 meter, si pengguna melompat keluar dengan kondisi pakaian compang-camping seperti gelandangan di pinggir jalan.

"Bagaimana?" Ucap Klon Madara dengan nada datarnya walau hanya sebuah tiruan, melayangkan sebuah pertanyaan untuk membuka topik pembicaraan yang sudah pasti mengarah ke masalah pemuda berambut dark silver itu dengan gadis iblis berdarah murni, Rias Gremory.

Naruto tersenyum tipis sejenak, senyum yang sudah cukup untuk menjawab pertanyaan dari klon Madara. "Lebih dari kata sukses." Kata Naruto memperjelas semua yang telah ia lakukan untuk Rias Gremory dan para budak iblis gadis itu.

Klon Madara tidak merespon apapun, malah saling menautkan alis memperhatikan keadaan pemuda bernama Naruto yang tengah berdiri di depannya. Jika memang sukses kenapa keadaan Naruto seperti habis dikroyok satu kompleks warga. "Hn. Kenapa kau bisa babak belur seperti itu?" Tanyanya sedikit penasaran.

"Haaa, mereka main kroyokan. Begini deh jadinya." Jawab Naruto dengan nada tenang, lalu merentangkan kedua tangan ke samping untuk memperlihat pakaiannya yang compang-camping tak berbentuk lagi.

Walau pakaian yang dikenakan sudah compang-camping. Namun, tubuh Naruto sama sekali tidak menerima luka serius yang mengancam nyawa, bahkan setelah terkena salah satu tehnik andalan dari Kaisar Naga Merah [Sekiryuutei]. Hanya ada beberapa luka goresan kecil serta bekas darah yang sudah mengering di bagian lengan dan wajahnya.

"Hn." Dan ya, gumaman ambigu pun dikeluarkan klon Madara disertai wajah datar sedatar tebing setelah mendengar penjelasan dari Naruto. Membuat pemuda berambut dark silver itu meneteskan keringat sebesar jempol kaki pada bagian belakang kepala, sweatdrop lebih tepatnya.

'Tidak asli, tidak klon. Sama-sama bermuka tebing.' Batin Naruto meringis sweatdrop.

"Jadi . . . . Bisa kita berangkat sekarang?" Klon Hashirama pun ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Membuat Naruto pulih dari sweatdrop dan langsung menatapnya dengan wajah serius.

"Tunggu sebentar!" Kata Naruto menjawab pertanyaan Klon elemen kayu dari mantan pemimpin Konohagakure. "Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua sebelum kita berangkat . ." Naruto memberi jeda sejenak, memperhatikan masing-masing klon dari dua orang terdekatnya.

"Aku sudah tau konsep Chi Bunshin dan Mokuton Bunshin. Jadi jika aku memberitahukan kepada kalian, si Teme dan Dobe akan mengetahuinya . . . . Benar kan?"

"Hn."

"Anak pintar!" Hashirama memberikan satu jempol yang membuat kepada Naruto, membuat pemuda itu lagi-lagi meneteskan keringat sebesar jempol kaki di belakang kepala, sweatdrop ria melihat tingkahnya. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ini soal Yuki . . . . Mungkin sudah waktunya bagi dia mengetahui semua tentang dunia supranatural. Dan aku yakin Rias-chan tidak akan tinggal diam atas apa yang baru saja kulakukan pada dia dan Peerage-nya . . . . Jadi pastikan si Teme dan Dobe tau hal ini." Klon kedua shinobi itupun mengangguk tanda paham akan penjelasan yang diberikan Naruto.

'Bagaimana denganmu, Kurama? Apa kau setuju dengan ini?' Kini giliran sang Youkai Kitsune di tubuh Naruto yang dimintai persetejuan. Kurama, sang Youkai itu pun mendengus ala rubah raksasa menjawabnya. Jawaban yang berarti setuju.

'Terserah kau saja Naruto.' Kata Kurama memberi kepastian jika dirinya hanya mengikuti apa yang Naruto inginkan.

'Arigatou, Kurama! Kau memang sahabat terbaikku.'

'Grrrr, berhenti mengatakan hal itu bocah sialan! Aku merasa tidak enak mendengarnya.' Di dalam tubuh Naruto, si Kitsune Tsundere mengumpat kesal membuat si empunya tubuh tertawa terbahak-bahak dalam hati. Tapi, sedetik setelahnya, senyum rubah terlihat sama-samar terpampang pada wajah Kurama di dalam alam bawah sadara Naruto. Entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu. Yang jelas sesuatu pasti tengah dipikirkan oleh rubah itu.

"Yuki, cepat kesini." Dengan suara agak keras, Naruto memanggil Imouto tersayang-nya.

"Tunggu sebentar, Nii-chan."

Beberapa menit setelah Yuki membalas panggilan Naruto, dia tidak menyadari jika sang kakak memanggilnya tanpa suffix -chan seperti biasa.

Tak bersalang lama Yuki pun muncul dari pintu dapur dan berjalan menghampiri ketiganya. Dan hanya berselang beberapa detik setelah tiba di depan Naruto. Yuki memekik khawatir melihat keadaan Aniki-nya. "Astaga, apa yang terjadi pada Nii-chan?"

Yuki panik bukan main melihat keadaan Aniki-nya, lebih mirip gelandangan di pinggir jalan yang habis dikroyok dan memang itulah yang terjadi. Naruto dikroyok oleh sekumpulan iblis muda dari Underwold. Cepat-cepat Yuki segera berjalan menuju Naruto untuk mengetahui lebih jelas tentang keadaannya.

Naruto tersenyum hangat. "Tenang saja, aku tadi diserang segerombolan iblis saat pulang." Ucapnya menenangkan kepanikan Yuki, mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu Naruto membersihkan telapak tangan kanannya dan langsung mengusap pelan mahkota putih halus nan tebal milik Yuki.

"Aku baik-baik saja kok."

"Ta-Tapi baju Nii-chan ro_"

"Pstttt . ." Naruto langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir mungil Yuki, menghentikan ocehan gadis loli itu. " Aku baik-baik saja kok." Kata Naruto sekali lagi dengan nada lembut. Setelah itu, Naruto memperhatikan dress hitam berlapis celemek putih yang dikenakan oleh Yuki. Berpikir sejenak dengan mengusap dagu dengan tangan kirinya. Tidak sadar jika tangan kirinya dipenuhi debu.

Yang dipikirkan oleh Naruto adalah tentang memberitahukan Yuki tentang mahluk-mahluk lain selain manusia di dunia ini. Dan sebentar lagi, mungkin saja mereka akan segera menghadapi salah satu dari mahluk supranatural itu jika bertemu dengan dalang dibalik penyerangan Konohagakure.

"Segera ganti pakaianmu dan usahakan pakaian yang membuatmu mudah bergerak." Kata Naruto setelah mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana caranya dia menjelaskan hal yang dipikirkan ke sang adik.

Yuki langsung memiringkan kepala sejenak menambah kesan imutnya di mata orang-orang di sekitarnya. Bingung dengan permintaan Naruto yang menyuruh dirinya untuk berganti pakaian. "Memang kita mau kemana, Nii-chan?"

"Ke tempat yang mungkin akan merubah kehidupan kita selamanya." Jelas Naruto dengan raut wajah serius tepat di depan Yuki.

Adik Naruto tersentak mendengar penjelasan tadi. Dia ingin bertanya lebih banyak, tapi takut melihat wajah serius kakaknya itu. Ini adalah kali kedua untuknya melihat kakaknya berekspresi seserius itu. Kali pertama ketika ia diserang oleh Malaikat Jatuh beberapa bulan yang lalu. Dan waktu itu, Naruto berbohong dan mengetakan jika Da-Tenshi yang menyerang Yuki adalah orang jahat yang ingin menculiknya.

Yuki pun menganggukan kepala lalu berkata memberi kepastian. "Wakatta, Nii-chan!" Dan tepat setelah iyu, Dia segera berlari menuju tangga ke lantai dua. Hanya berselang sekitar 10 menit saja, Yuki sudah selesai mengganti pakaian dan segera menghampiri Naruto dan dua Klon Shinobi dari Konohagakure.

Sekarang dia mengenakan T-shirt biru tua, celana pendek selutut hitam sehingga lengan dan betis putih mulusnya terekspos jelas. Mahkota putih yang melewati pinggulnya, dia ikat twintails. Terakhir, sepatu olahraga putih dan kaos kaki putih yang melewati mata kaki ia gunakan sebaga pelengakap.

"Bagaimana, Nii-chan?"

Naruto mulai memperhatikan Yuki dari ujung rambut hingga kaki. Dia pun menganggukkan kepalanya. "Itu sudah cukup!" Naruto lalu merogoh saku kantong ninja miliknya dan mengeluarkan sebuah Smartphone. Pesan singkat langsung diketik dan dikirim ke Jiraiya. Tentu saja isi pesannya adalah bagaimana cara ia menemukan lokasi tempat pencarian si penggila penelitian, Orochimaru.

Tak berselang lama. Pesan balasan pun tiba. Pada pesan singkat itu, Jiraiya menyuruh Naruto dan yang lain pergi ke kediamana pemimpin Youkai Kitsune di Kyoto, tidak lain adalah Yasaka no Kyuubi, seseorang yang telah dianggap bibi oleh Naruto. Di sana, Jiraiya sudah mengirimkan salah satu mata-matanya bernama Kotetsu untuk menunggu kedatangan Naruto. Tugas dari Kotetsu nantinya adalah mengantarnya menuju lokasi Jiraiya, Madara dan Hashirama.

Naruto memasukkan kembali alat komunikasi jarak jauh itu ke tempat semula. Setelah itu, dia segera membuka gerbang tehnik teleportasinya.

"Ayo berangkat!"

Perintahnya ke yang lain. Dan secara bersamaan, mereka melompat ke cahaya melintang vertikal yang baru saja di cipatakan Naruto. Tujuan mereka tidak lain adalah kediaman sang pemimpin Youkai Kitsune di kota Kyoto.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[Katon : Haijingakaure no Jutsu]

Brushh!

Pria berambut hitam bercampur biru sepunggung yang tadi menyerukan nama tehnik itu tiba-tiba melompat ke udara dan menyemburkan asap bercampur api yang langsung menyelimuti area di bawahnya. Puluhan mahluk berbagai macam bentuk dan jenis seketika meraung kesakitan merasakan panasnya asap bercampur api itu, tehnik yang merupakan [Ninjutsu] salah satu dari lima elemen dasar. Kulit menghitam, meleleh dan melepuh menjadi pemandangan indah di bawah sana.

"Kalian bertiga, cepat selesaikan!" Dalam keadaan melayang di udara, pria yang diketahui adalah Uchiha Madara berteriak ke empat orang yang tengah bertarung melawan mahluk yang sama seperti yang baru saja dia musnahkan.

"Diamlah, Teme!"

Dari kejauhan, teriakan kesal satu dari empat orang menginterupsi pendengaran sang Uchiha. Dia pun mendecih tidak kalah kesalnya dari orang yang membalas teriakannya tadi.

'Cih, dasar orang tua bangkotan.' Batin Madara kesal dan mendarat tidak jauh dari kepulan asap yang masih mengepul. Suara logam yang saling bertabrakan dari armor yang dikenakannya pun terdengar. Iris merah darah berhiaskan tiga tanda menyerupai koma menatap tajam ke kepulan asap yang mulai menghilang.

"Groooaaarrrrr!"

Beberapa monster yang selamat dari serangan Madara meraung keras hingga air liur mereka muncrat kemana-mana, tampaknya monster-monste ini merupakan hasil penelitian gagal yang tidak mampu mengendalikan kesadaran mereka. Hanya ada satu yang para monster ini pikirkan. Bunuh, bunuh dan bunuh! Itulah yang ada di pikiran kacau mereka. Madara menyungging seringai dewa kematian dan langsung melesat bagaikan kilat meninggalkan retakan pada permukaan tanah di tempatnya tadi berdiri.

"Mari berdansa!"

Duaarrr!

Dengen kecepatan hampir menyamai bidak Knight, Madara menerobos sekumpulan mahluk hasil penelitian orang yang mereka buru. Ledakan besar pun terjadi tepat di pertangahan sekumpulan mahluk tidak jelas itu dan beberapa dari mereka pun terhempas ke udara dengan luka ringan maupun berat. Banyak suara khas dua kelompok yang tengah bertarung pun terdengar sana-sini.

Madara menangkap salah satu monster berukuran sama dengan tubuhnya lalu dilempar ke arah 5 monster lain yang hendak menyerangnya. Suara benturan tubuh lunak dan tulang retak lalu diakhiri raungan rasa sakit pun terdengar. Setelah itu, Madara menundukan tubuhnya, surai raven pria ini pun terangkat ke atas saking cepatnya dia menunduk menghindari dua cakaran yang hendak mengenai tubuhnya dari belakang.

Sharingan miliknya pun bergerak dengan gerakan begitu cepat, membaca gerakan 5 monters yang mengepungnya dari segala arah. Setelah selesai, dia merangsek ke arah kiri dengan kecepatan tinggi sembari melakukan tendengan yang mengenai kepala monster bertangan empat yang menjadi target pertamanya.

"Groooaarr!"

Sepersekian detik kemudian, Madara melakukan manuver salto kebelakang dan menghantamkan dua kakinya pada bahu monster di berada di belakang, kedua lengannya menjadi tumpuan tubuh yang kini dalam keadaan terbalik. Dua telah tumbang dan tersisa tiga lagi, itulah yang dipikirkan oleh Madara.

Setelah itu, Sharingan Madara kembali bergerak liar membaca dua serangan lain. Siku seketika ditekuk lalu dihentakkan secara bersamaan sehingga mendorong tubuhnya ke atas dan . . . .

Duaaarr!

. . . . Dua serangan tadi pun berhasil dia hindari, menciptakan sebuah ledakan kecil pada permukaan tanah tempat Madara tadi. Dalam keadaan terbalik di udara, rangkaian segel tangan pun dibentuk dan kedua pipi mengembung siap menyemburkan sesuatu.

[Katon : Gōkakyū no Jutsu]

Blaaarr!

Bola api hasil dari [Chakra] alam milik Madara berukuran 5x5 meter pun disemburkan ke bawah, menghanguskan sisa-sisa monster yang belum diajak berdansa oleh si Uchiha terakhir.

.

.

.

.

.

"Jiraiya, kita selesaikan secara bersama-sama." Hashiram yang tengah sibuk melawan 2 monste jatahnya berteriak keras member arahan pada Jiraiya yang juga tengan bertarung melawan monster lainnya.

"Wakatta, Hokage-sama!"

Secara bersamaan, mereka berdua melompat menjauh sambil merangkai segel tangan berbeda. Dan tepat setelah mendarat. Hashirama menghentakkan telepak tangan pada permukaan tanah sedangakn Jiraiya menarik nafas dalam-dalam.

[Mokuton : Mokuryū]

[Katon : Gōryūka no Jutsu]

Dari dalam tanah di depan Hashirama seekor naga kayu berukuran besar secara tiba-tiba muncul dan diikuti seekor naga api yang keluar dari mulut Jiraiya.

Grooaarr!

Blaarr!

Kedua naga berbeda elemen itu pun meraung keras dan menyatu membentuk naga kayu yang diselumitu api panas. Setelah itu, Hashirama mengubah bentuk segel tangan yang dibentuk sehingga naga seukuran bus itu pun meliuk-liuk dengan indahnya di depan mereka. Satu per satu lawan mereka pun meraung kesakitan terkena lindasan, hantaman dan panas dari naga itu hingga akhirnya tidak ada yang selamat.

Booomm!

"Are? Aku berlebihan." Hashirama melepaskan segel tangan lalu menggaruk kepala belakangnya, tidak lupa memasang wajah konyol yang menatap ledakan besar penutup rangkaian serangan tadi.

Jiraiya dan satu anggota mata-matanya pun sweatdrop melihat tingkah Hashirama barusan. Tidak mengerti dengan isi kepala Hashirama kenapa malah mengomentari ledakan barusan.

Dan tak berselang lama Madara yang terlebih dulu selesai dengan lawannya menghampiri mereka. Saat melihat tingkah Hashirama, si Uchiha hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Dasar dobe." Bukannya memuji, dia malah mengejek sahabatnya. Tipikal Madara ketika kebodohan sahabatnya kumat.

Mereka tidak menyangka pria itu masih bisa berkata seperti tadi disaat mereka mereka tengah berada dalam [Death Game] yang merupakan serangkaian rencana dari Orochimaru untuk mempermainkan mereka.

Death Game atau permainan kematian?

Di luar dugaan, lawan mereka atau yang lebih dikenal dengan nama Orochimaru. Shinobi yang dikenal sangat menggilai penelitian ternyata sudah menyusun sebuah rencana yang amat sangat licik karena sudah tau pasti Madara, Hashirama dan Jiraiya cepat atau lambat akan mengejarnya. Sejak awal pertemuan Orochimaru dan Jiraiya di pabrik tua beberapa hari yang lalu, rencana ini sudah disusun matang-matang. Mulai dari sengaja tidak membawa peta empat lokasi penelitiannya. Hingga persiapan permainan kecil-kecilan ini.

.

.

.

.

.

- Flashback -

[Sekitar 1 jam yang lalu]

Di depan sebuah konstruksi bangunan 10 lantai jauh dari pusat kota Kyoto, berdiri empat pria berpenampilan berbeda-beda. Mereka adalah Madara, Hashirama, Jiraiya dan mata-mata Jiraiya bernama Genma. Sebelum memasuki area itu, Jiraiya menoleh ke Genma dan menanyakan apa benar ini adalah salah satu lokasi yang ditunjuk oleh peta yang ditemukan olehnya.

"Aku yakin Jiraiya-sama . . . . Izumo bersama tim-nya sudah memeriksa lokasi ketiga dan tidak menemukan apa-apa. Jadi 70 persen ini adalah tempatnya dan sisanya berarti ada lokasi lain yang tidak ada pada peta anda." Jelas pria Genma atau lebih lengkapnya Genma Shiranui. Dia adalah satu dari tiga mata-mata handal Jiraiya. Dua lainnya adalah Izumo dan Kotetsu. Dan sebagai bawahan Jiraiya, tiga mata-mata itu sudah dilatih cara bertarung ala shinobi walalupun tidak memiliki sistem chakra di dalam tubuh mereka.

"Hmn, kalau begitu mari kita masuk dan periksa seluruh area ini secara keseluruhan."

Secara serentak mereka melangkahkan kaki memasuki area konstruksi itu, tapi baru mengambil beberapa langkah. Mereka secara tidak sadar mengaktifkan sesuatu. Pemicunya adalah sebuah benang baja tipis yang terikat pada kedua sisi pagar pembatas. Kubah kebiruan seketika menyelimuti area itu secara keseluruhan.

Jiraiya, Hashirama dan Genma langsung terkejut dan memasang pose bertahan apabila ada perangkap lain yang akan menyusul. Sedangkan Madara hanya menyeringai karena ini tandanya lokasi ini adalah tempat penelitian Orochimaru.

Tak berselang lama setelah seluruh area konstruksi diselumuti kubuha biru tadi. Ketiga orang yang tadi memasang pose bertahan, menghilangkan pose mereaka tatkala Sebuah layar proyektor besar tiba-tiba muncul dia atas mereka. Secara serentak mereka mendongak ke atas. Dan pada layar besar tersebut, Orochimaru terlihat dengan seringai ular penuh kemenangan.

"[Khukukukuku, akhirnya tikus-tikus yang kutunggu kedatangannya masuk juga dalam perangkap]"

"Tidak usah bertele-tele, Ular! Katakan saja apa sebenarnya maksudmu melakukan semua ini?!" Madara memasang wajah tanpa ekspresinya dan langsung merespon salam pembuka dari Orochimaru dengan melayangkan sebuah pertanyaan sekaligus perintah.

"[Saa, kau benar-benar tidak berubah Madara-chan. Selalu ke topik utama dan tidak lupa wajah datarmu itu]"

"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya. Aku sendiri yang akan memaksamu . ." Madara mulai kesal namun bisa ditutupi dengan wajah datarnya. Segel tangan mulai dirangkai untukmenghancurkan layar proyektor di atasnya.

". . Mahluk melata brengsek!"

"Sabar Madara!" Hashirama tiba-tiba menepuk pundak sahabatnya agar bisa tenang dan tidak bertindak gegabah. Hashirama berpikir ada yang berubah dari Madara yang biasanya ia kenal dengan ketenangan tingkat ekstrim walau dalam keadaan genting sekalipun. "Aku tau sangat ingin menghancurkan Orochimari. Tapi sabarlah sedikit." Decihan kecil pun dilontarkan Madara lalu menatap tajam layar proyektor yang menampakkan wajah Orochimaru.

"[Sepertinya kau sudah berubah Hashi-chan . . . . Biasanya kau selalu riuh dan bersemangat. Tapi, sekarang aku lihat kau begitu tenang]"

Iris kuning keemasan khas ular Orochimaru lalu bergerak pelan melirik Jiraiya yang sedari tadi hanya diam di samping kiri Madara.

"[Oh ya, aku lupa. Dimana murid kesayangan kalian? Kalau tidak salah namanya, errr Narto? Natto? Naruto! Nah itu, dimana dia?]"

Seringai Madara tiba-tiba muncul karena mendengar ucapan Orochimaru yang tumben menanyakan keberadaan seseorang. "Kau tidak perlu mencari Naruto. Sebentar lagi dia pasti muncul dan membakar kulit ularmu itu sampai hangus!" Ucapnya datar, mencoba memancing Orochimaru untuk mengatakan sesuatu tentang Naruto atau mungkin hal yang menyangkut penyerangan Konoha.

"[Khukukukuku, apa tidak kebalik Madara-chan? Dia itu hanya bocah yang Jiraiya pungut lalu dibawa ke Konoha. Dan aku sampai tidak kepikiran bagaimana kalian bisa menerima bocah itu begitu saja, padahal dia berasa dari dunia luar]"

Madara dan Hashirama mengerutkan kening mereka. Dalam hati memikirkan ucapan Orochimaru yang ada benarnya juga.

"[Sungguh memalukan . . . . Secara terang-terangan kalian sudah melanggar larangan Kaguya-sama tentang dunia luar]"

"Memangnya kenapa kalau aku melakukan itu, haa?" Jiraiya yang sedari diam tiba-tiba berteriak lantang menanyakan apa ada yang salah apabila Naruto dibawa ke Konoha.

Madara dan Hashirama yang tengah memikirkan tentang benar atau tidaknya mereka menerima Naruto di Konoha seketika tersadar mendengar teriakan lantang Jiraiya. Pulih dari lamuan mereka dan sekali lagi mendongak ke atas menatap Orochimaru.

"Dan asal kau tau saja, sebenarnya kaulah yang melanggar larangan Kaguya-sama, Orochimaru."

"Ya itu benar . ." Madara tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan yang membahas tentang Naruto. Lalu sebuah cara membuat Orochimaru agar lebih tergoda untuk memakan umpan yang dipasang olehnya muncul. "Atau jangan-jangan kau takut, suatu saat nanti Naruto bisa melampauimu."

"[Takut? Hahahahahahaha, memangnya apa yang spesial dari bocah itu, sampai-sampai kau mengatakan dia bisa melampauiku, Madara-chan?]"

Madara menyungging senyum meremehkan. Orochimatu tampaknya mulai memakan umpannya. "Ya, dia sangat spesial dan aku percaya kau akan dilampui suatu saat nanti."

"[Hee, kau sepertinya berubah ya, Madara-chan . . . . Ini pertama kalinya kudengar kau mempercayai seseorang]"

"Sudah sepatutnya kakak percaya pada adik-nya sendiri." Tatapan Madara tiba-tiba serius, menyadari jika Orochimaru sepertinya sedang mengulur-ngulur waktu dan berpura-pura termakan oleh umpannya untuk mempersiapkan sesuatu.

"Katakan saja apa maumu, Orochimaru? Aku sudah tidak sabar memukul wajahmu sebelum dibakar Naruto."

"[Baiklah-baiklah, kau menang Madara-chan]" Sennin ular itu kembali menyeringai lalu mengeluarkan lidahnya. "[Aku sudah tau tujuan kalian mencariku. Jadi tidak usah menanyakan hal itu. Aku akan mengatakan semuanya . . . . Tapi sebelum itu, kalian harus melawan hasil penelitianku dan mencari lokasiku sekarang]"

"[Dan kalian berdua tidak usah repot-repot menggunakan Senjutsu. Karena tempatku dilindungi Kekkai yang menghalangi tekanan chakra agar tidak keluar]"

Jiraiya dan Hashirama menggertakan gigi mereka secara bersamaan. Jadi kemampuan Sage Mode mereka tidak akan berguna jika ingin mencari tahu keberadaan Orochimaru. Ah, sialan! Ular memang'lah mahluk melata yang penuh dengan kelicikan.

"[Dan masalah takut kedatangan tamu. Tidak usah khawatir, area ini sudah dilapisi dua macam Kekkai berbeda. Sehingga tidak ada yang akan mengetahui pertarungan kita]"

"[Saa, selamat datang untuk kalian berlima di . . . . Death Game]"

Dan tepat setelah mengatakan hal itu. Puluhan mahluk berbeda hasil dari penelitian Orochimaru muncul dari berbagai macam tempat di area konstruksi itu. Seketika keempatnya memasang kuda-kuda bertarung.

- Flashback End -

.

.

.

.

.

"Sekarang bagaimana?" Genma melayangkan pertanyaan untuk memecah kesunyian disana akibat ulah dari Hashirama barusan. Madara dan Jiraiya pun menoleh ke pria yang mengenakan uniform serba hitam khas mata-mata itu.

"Tentu saja memasuki bangunan ini untuk mencari mahluk melata keparat itu . . . . Ayo berangkat!" Jawab Madara datar. Genma dan Hashirama yang sudah pulih dari lamuan gobloknya menangguk paham dan hendak melangkahkan kaki mereka memasuki bangunan yang sudah setengah jadi di depan mereka.

"Tunggu dulu!"

Ketiganya menghentikan langkah mereka dan menoleh ke Jiraya yang kini tengah mengusap dagu memikirkan sesuatu. Tampaknya ada yang mengganggu pikiran Pertapa katak ini sedari tadi. Itu adalah . . . .

"Apa kalian tidak menyadari ucapan Orochimaru sebelum mahluk-mahluk tadi bermunculan?"

Madara dan Genma yang baru mengingat hal itu pun mengangguk. Sedangkan Hashirama malah mematung tidak mengerti maksud Jiraiya. "Dia bilang 'kalian berlima', itu berarti ada orang lain selain kita disini. Jika itu Naruto, pasti tidak mungkin karena jarak kediaman Yasaka-dono dari sini lumayan jauh dan dia juga pasti datang bersama Kotetsu." Kata Jiraiya menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan. Itu adalah orang ke-lima yang disebut oleh Orochimaru.

Setelah mendengar penjelasan dari Jiraiya barusan, barulah Hashirama bisa mengerti. Walau cuma sedikit sih.

"Dari tadi aku sudah memikirkan hal itu dan masa bodoh untuk memperdulikannya, karena orang ke-lima itu pasti ada pihak kita. Tujuanku saat ini hanya satu . . . . menghancurkan ular keparat itu." Kata Madara mengutaran pendapatnya tentang orang ke-lima itu. Dan seperti biasa, ia tidak peduli. Hanya Orochimaru'lah yang menjadi tujuan utamanya saat ini.

"Aku tau itu, Madara . . . . Tapi, yang menjadi pertanyaannya siapa orang itu."

Keempat orang ini pun seketika tenggalam dalam pikiran mereka untuk mencari tahu siapa orang itu. Dan seperti biasa lah, Madara yang pertama menemukan solusi mengenai masalah ini. Iris hitam kelamnya pun berganti menjadi merah darah berhias tiga tanda menyerupai koma. Mata sakti Madara kini berkibar dengan gagah untuk melakukan apa yang telah dipikirkan oleh si pria Uchiha ini.

Mengedarkan pandangan ke segela arah selama beberapa menit, mata Madara seketika membulat sempurna ketika aliran chakra seseorang yang jika dia lihat dari pose-nya, tengah tertidur tertangkap mata sakti miliknya.

"M-Mustahil!"

"Ada apa, teme?" Hashirama tiba-tiba melayangkan pertanyaan ketika melihat sahabatnya terkejut dengan mata membulat sempurna, sebuah pemandangan langka dimana seorang Uchiha terkejut dengan mata melebar sempurna.

Dengan gerakan pelan, Madara mengarahkan lengan kanan ke lantai dua konstruksi di depan mereka.

"Di sana . ." Jari telunjuk Madara teracungkan, ketiga orang di dekatnya pun mengikuti arah yang ditunjuk. ". . Ada aliran chakra seseorang dan aku yakin itu bukan Orochimaru!" Ucap Madara, menjelaskan apa yang membuat matanya melebar sempurna -semi jantungan- tatkala melihat kejadian mustahil dengan mata saktinya.

"A-Apa kau yakin, teme?" Tanya Hashirama memastikan dia tidak salah dengar atau Madara yang salah melihat aliran chakra itu. Pria Uchiha itu pun menggeleng pelan dengan wajah yang kini kembali datar. "Bagaimana mungkin ada yang selamat selain kita? Bukannya kau sudah memeriksa seluruh area Konoha sebelum pergi dan tidak mendapat tanda-tanda kehidupan ataupun aliran chakra." Ucap Hashirama setelah mendapatkan jawaban berupa gelengan dari Madara.

"Itu hanya di Konoha! Bagaimana jika ada yang berhasil kabur atau terlempar jauh terkena serangan besar."

"Madara benar . . . . Daripada penasaran, mending kita periksa saja." Ucap Jiraiya, memberikan jalan utama untuk memecahkan misteri siapa pemilik aliran chakra yang dideteksi oleh Madara tadi.

Tanpa menunggu persetujuan yang lain karena sudah tau merek pasti sependapat, Jiraiya langsung berlari memasuki bangunan diikuti yang lain. Tapi baru saja memasuki pintu masuk setengah jadi bangunan itu. Mereka langsung dihadang 6 monster berukuran lebih besar dari monster yang sudah dikalahkan oleh mereka beberapa menit sebelumnya.

Sambil berlari. Mata Madara dan Jiraiya menyipit merasakan di dalam tubuh 4 dari 6 monster itu terdapat aura iblis.

"Mengganggu saja!" Madara mendesis tajam. "Hashirama."

Pria yang dipanggil mengangguk paham. Secara bersamaan keduanya langsung menambah kecepatan mereka mendahului Jiraiya dan Genma. Dan dalam hitungan beberapa detik saja, keduanya sudah berjarak beberapa meter dari lawan. Sambil berlari, Hashirama mulai merangkai segel tangan, setelah selesai, dia mengerem lajunya dengan kaki kiri lalu merentangkan kedua lengan ke depan.

[Mokuton : Mokusatsu Shibari no Jutsu]

Dua lengan Hashirama pun berubah menjadi sulur-sulur kayu berujung runcing yang semakin melesat jumlahnya semakin berlipat ganda.

Sedangkan Madara, setelah melihat sahabatnya mengambil tindakan terlebih dulu, ia segera melompat ke atas menghindari serangan dari elemen kayu Hashirama.

Jleeb!

Jleeb!

"Groaaaaarrrr!"

"Arrgggghhhh . . . . Manusia brengsek." Salah satu monster yang memiliki aura iblis disana berteriak kesakitan tertusuk sulur kayu Hashirama, setelah itu mengeluarkan kata-kata kotor untuk orang yang menyerang mereka.

Sementara monster ber-aura iblis lain hanya meraung kesakitan sembari berusaha melepaskan tusukan elemen kayu dari Hashirama.

Sedangkan beberapa meter di depan para monster ciptaan Orochimaru, terlihat Madara tengah melayang di udara sambil merangkai segel tangan tunggal untuk mengeluarkan sesuatu dari tehnik penyegelan [Fuinjutsu] tempat ia menaru semua senjata-nya, hanya berselang dua detik saja, sebuah katan kini dipegang oleh Madara. Setelah itu, Madara memutar balikkan tubuhnya dan berlari di langit-langit menuju 6 lawan yang sudah menunggu di bantai ala shinobi.

2 Monster yang tidak tertusuk melompat menuju Madara dengan senjata masing-masing. Satu berlengan mirip tombak, satunya lagi dengan cakar-cakar tajam. The Last Uchiha tiba-tiba melesat bagai kilat menuju lawan yang melompat ke arahnya, meninggalkan retakan besar pada langit-langit.

Jleb!

Setibanya di monster berlengan tombak yang berada di posisi depan, Madara langsung menghunuskan katana ke kepala hingga menembus batok kepala si monster yang tidak dapat mengeluarkan teriakan penuh rasa sakit karena mulutnya tersumbat bilah katana. Dan dengan satu kali dorongan ke atas . . . .

Jrash!

. . . . Kepala sang monster terbelah menjadi dua bagian. Dan masih dalam keadaan melayang, Madara melirik ke bawah sejenak melihat Jiraiya dan Genma yang sudah siap menyelesaikan 2 monster yang terlepas dari tusukan dan jeratan sulur kayu Hashirama. Setelah selesai, perhatian Madara kembali menuju ke depan ketika monster bercakar siap menyerang dia.

Dengan Sharingan, sang Uchiha mulai menganalisa keadaan. Iris merah darah itu bergerak mencari cara terbaik untuk menghindari serangan lalu melakukan serangan balik mematikan. Sepersekian detik kemudian, tubuh monster yang sudah tak bernyawa di samping kiri Madara ditarik kebawah lalu dijadikan batu loncatan.

"Groaaaaarrr!"

Sang monster melayangkan ke-10 cakarnya. Tapi sayang, Madara sudah terlebih dulu melompat dan mendarat di langit-langit. Kemudian, sang monster mendongak ke atas dan langsung membulatkan mata besarnya.

Ternyata sesampainya di langit-langit, Madara kembali melompat ke bawah meninggalkan retakan ke dua pada langit-langit tempat dia berpijak.

"Hn." Madara memegang katana dengan dua tangan dengan ujung terunus ke bawah dan . . . .

Jleeb! Wussh!

"Arggggkkkhhhhhh!"

. . . . Teriakan penuh akan rasa sakit menggema dari mulut sang monster tatkala katana Madara menusuk dalam di punggungnya hingga tembus. Tapi belum cukup sampai disitu saja. Madara terus mendorong katana yang menembus punggunnya hingga membuat mereka berdua melesat menuju lantai dengan kecepatan tinggi.

Duaarr!

Krakk! Krakk!

Prang!

Ledakan besar disertai kepulan debu pun tercipta lalu diikuti suara lantai retak dan kaca-kaca pecah tatkala Madara dan monster tadi menghantam lantai dengan kerasnya. Saking kerasnya suara dan efek ledakan tadi, sampai-sampai membuat Jiraiya dan Genma yang tengah bertarung berhenti sejenak untuk memasang pose bertahan.

"Cih, dia selalu berlebihan jika bertarung!" Gumam Jiraiya agak kesal dengan cara bertarung Madara yang tidak memperdulikan kondisi di sekitar. "Gawat!" Jiraiya segera memutar tubuhnya ke belakang ketika sebuah serangan mendadak dilancarkan salah satu iblis penelitian Orochimaru disaat dirinya tengah kesal dengan tingkah laku Madara.

Duag!

Tepat setelah berbalik, Jiraiya pun terkena hantaman kepalan jari berukuran besar dari lawan hingga terpental menabrak dinding.

"Jiraiya-sama!"

"Jiraiya?!" Hashirama berteriak dari kejauhan dan melepas segel tangan yang dirangkai. Sulur-sulur kayu yang menjerat dua iblis pun terlepas sehingga bebas bergerak walaupun di tubuh mereka sudah terdapat lubang menganga hasil serangan pembuka tadi.

"Keparat kalian!" Genma mendesis dingin melihat orang yang telah memberinya pekerjaan sekaligus mengajarinya tehnik bertarung terkena serangan. Kini dia sudah amat sangat marah. Dan tanpa berpikir jernih, dia menyerang iblis tadi secara membabi buta dengan tehnik bertarung yang diajarkan Jiraiya.

Hashirama tidak tinggal diam. Dia kini sudah ikut bertarung bersama Genma melawan 4 iblis hasil penelitian Orochimaru. Sementara di tempat Madara, kepulan debu mulai menghilang. Dan terlihatlah sebuah kawah tak berbentuk dimana Madara berdiri di atas lawannya dengan katana yang masih tertusuk. Sedangkan sang monster sudah tewas mengenaskan dengan luka tusukan dan tulang-tulang yang repuk. Dari mulut monster itu mengalir cairan merah kental ke sela-sela kawah.

Madara menarik katana miliknya lalu segera berlari menuju tempat pertarungan Hashirama dan Genma melawan 4 iblis yang sudah terluka.

.

.

"Haaaa-haaa-haaa . . . ." Deru nafas Jiraiya terdengar jelas. Dia tengah duduk bersandar pada dinding. Dengan kasar dia menghapus darah di sudut bibirnya hasil dari pukulan lawannya tadi. Matanya menyipit tajam memandangi pertarungan tim-nya sembari perlahan bangkit dari acara duduk bersandarnya pada dinding.

"Genma!" Tiba-tiba saja Jiraiya berteriak keras ketika sudah berdiri tegak.

Tanpa buang-buang waktu, ia segera melesat menuju tempat pria bernama Genma itu dengan kecepatan tinggi.

.

.

"Khukukukukuku~~ Ternyata yang satu ini sangat lemah."

Dan alasan kenapa Jiraiya berteriak tadi terungkap. Tenyata kepala Genma di cengkram kuat-kuat oleh salah satu iblis dengan tangan besar. Saking besarnya, sampai-sampai hampir keseluruhan kepala Genma dicengkram. Dan pasti hancur jika diremas dengan kekuatan besar dari sang iblis.

"Lepaskan aku, Keparat!" Genma meronta-ronta dengan menendang-nendang tubuh iblis di depannya. Tapi tidak berefek sama sekali.

"Grrr, diamlah!"

"Arrgggggggg! Brengsek!" Genma meraung kesakitan lalu mengumpat marah ketika kepalanya diremas kuat-kuat hingga pasukan oksigen tidak dapat dihisap olehnya.

"Matilah . . . ." Si Iblis hendak meremas kepala Genma hingga hancur, namun secara tiba-tiba dia menoleh ke samping kiri karena merasakan aura membunuh yang sangat pekat dan hasilnya . . . .

[Rasengan]

Duaar!

Jrassh!

. . . . Sebuah aliran chakra kebiruan berbentuk bola kecil yang mempunyai perputaran sangat cepat menghantam wajah iblis hingga meledak dan mengakibatkan kepala itu hancur berkeping-keping meninggalkan noda darah yang terciprat kemana-mana. Tubuh sang iblis seketika kaku ditempat, dan perlahan ambruk kebelakang dan Genma pun akhirnya selamat dari jurang kematian karena si iblis'lah yang didorong masuk ke dalam jurang kematian oleh Jiraiya.

Suara tubuh besar yang menghantam tanah pun terdengar jelas disana tatkala tubuh iblis terjatuh.

Dan satu lagi hasil penelitian Orochimaru tumbang di tangan Jiraiya.

.

.

"Jiraiya." Di sela-sela pertarungannya dengan iblis lain, Hashirama berteriak agak keras. "Bawa rekanmu itu keluar dari sini! Aku dan Madara akan menyelesaikan pertarungan ini!" Jiraiya mengangguk paham, lalu membopoh Genma keluar dari bangunan konstruksi.

Hashirama langsung menyilangkan lengan di depan wajah ketika sebuah pukulan dari lawannya mengarah ke dirinya. Dia pun berhasil memblok serangan itu, namun tubuhnya terseret beberapa senti kebelakang. Lengan yang disilangkan dia turunkan beberapa senti kebawah, dan terlihatlah iris hitam gelap yang menyiratkan sedikit kemarahan.

"Ayo mulai Madara!" Hashirama berteriak keras kepada sang sahabat yang tengah bertarung melawan dua iblis lain tidak jauh darinya. Di sisi Madara, sebuah seringai kecil disungging tatkala mendengar teriakan darinya.

'Menarik! Baru kali ini ada yang membuat Hashirama seserius ini kecuali aku.' Batin pria berambut runcing sepinggang hitam bercampur biru itu. Kedua poni yang membingkai wajahnya bergerak bebas mengikuti gerakannya saat menghindari serangan demi serangan dari lawan yang dihadapi.

"Bagus! Itu baru rival abadiku." Dia pun membalas teriakan Hashirama lalu melompat kebelakang.

Hashirama ikut melompat menuju Madara. Kedua punggung rival abadi ini pun saling bertabrakan satu sama lain ketika Hashirama mendarat. Secara bersamaan keduanya memasang kuda-kuda berbeda, Madara memposisikan bilah mengkilap katana di depan wajah, sedengakan Hashirama menyatukan kedua telapak tangan di depan dada.

"Sia-sia yang kalian lakukan, manusia! Kami adalah iblis abadi hasil penelitian Orochimaru."

"Abadi, hee?" Madara tersenyum meremehkan, kedua mata disipitkan sehingga Sharingan miliknya hanya terlihat setengah saja. "Terus kenapa rekan kalian bisa mati terkena tehnik aneh Jiraiya tadi? Mungkin kami perlu mengajari kalian perbedaan antara 'abadi' dan 'berumur panjang'."

Ketiga iblis itu tersentak. Dengan gerakan cukup pelan, ujung katana Madara mulai diarahkan menuju dua iblis di depan pria itu. "Hashirama!" Seketika Madara tiba-tiba tersentak mendeteksi ledakan chakra beritensitas besar dari sahabatnya. Dia pun menoleh ke belakang dan mendapati Hashirama kini memasuki mode terkuatnya saat ini.

Memanfaatkan cadangan chakra yang banyak miliknya, Hashirama saat ini sudah menggunakan energi alam [Senjutsu] yang dicampur chakra sehingga memasuki [Sage Mode] miliknya yang berbeda dari pengguna [Senjutsu] yang lain. Tanda merah pun menghiasi bagian bawah dan sekitar mata juga tepat di tengah-tengah dahinya.

"Heee, apa yang membuatmu sampai memasuki mode itu, Hashirama?" Kata Madara melayang sebuah pertanyaan dengan nada datar.

"Beberapa hari ini kemarahanku kutahan hingga tingkat terendah karena beberapa kejadian . . . . Dan ini saat yang tepat untuk melampiaskan semuanya."

Madara tersenyum tipis mendengar ucapan Hashirama. Inilah salah satu sifat yang membuat Madara mengakui Hashirama sebagai sahabat sekaligus rival abadi. Mampu menahan amarah hingga tingkat terendah dan melampiaskannya secara bersamaan ketika dibutuhkan. Dan jika saja Madara bukan seorang Uchiha, maka sudah dari sejak dulu, dia mengakui bahwa Hashirama lebih kuat darinya.

Dan satu hal yang hanya diketahui oleh Madara bahwa sebenarnya Hashirama mempunyai sisi gelap yang sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari dirinya sendiri. Tapi sisi gelap itu sangat berbeda dari sisi gelap pada umumnya. Dan sampai saat ini Madara belum mengetahui apa yang membuat sisi gelap itu berbeda.

"Kalau begitu . ." Mata Madara menutup secara bersamaan lalu dibuka secara perlahan. Tiga tanda mirip koma di iris merah darahnya pun berputar hebat hingga membentuk pola baru. ". . Akan ketemani kau melampiaskan semuanya."

Tubuh ketiga iblis disana pun merinding, rasa takut mulai menghantui mereka tatkala merasakan aura pembunuh sangat pekat dan kelam dari Madara dan Hashiram. Tapi Ego yang besar membuat mereka langsung menghilang rasa takut itu dan menenangkan diri agar tidak merinding lagi.

"Mereka adalah penghalang besar bagi kita terutama Orochimaru untuk mencapai tujuan besar kita! . . . . AYO, HANCURKAN HINGGA BERKEPING-KEPING!" Suara berat salah satu dari ketiga iblis itu pun menggema di seluruh bangunan, sangat menakutkan jika saja manusia biasa yang mendengarnya. Tapi di depan mereka adalah dua shinobi terkuat di era ini. Jadi teriakan serta ancaman tadi sama sekali tidak berpengaruh.

Tepat setelah itu, ketiga iblis ini pun menerjang lawan mereka. Hashirama dan Madara mengangguk secara bersamaan lalu melesat ke lawan mereka masing-masing. Hashirama yang tiba pertama di depan lawannya langsung menunduk dan menyarangkan sebuah uppercut keras.

"Uhuukk . ." Lawan pria itu pun memuntah banyak air liur terkena serangan, setelahnya iblis ini menunduk dan mengumpat marah. ". . Brengsek kau!"

Hashirama mengidahkan umpatan tadi dan melanjutkan serangan [Taijutsu] brutal yang dalam [Sage Mode] membuat sang iblis benar-benar dibuat babak belur. Walaupun masih bisa melakukan serangan balik, Hashirama dapat menghindari semuanya.

.

Di tempat Madara, setibanya di depan dua lawan. Langsung menciptan lengan mekanik berwarna kebiruan di samping kiri tubuhnya. Salah satu iblis lawannya pun menjadi korban pertama tatkala lengan itu berayun searah jarum jam dengan kecepatan tinggi.

Duag!

Suara dentuman keras pun tercipta diikuti suara raungan penuh akan rasa sakit yang berasal dari iblis yang terkena sapuan lengan kiri [Susano'o] Madara, seketika lawan Madara pun dikirim menuju tembok hingga menciptakan ledakan disertai kepulan debu pekat.

"Giliranmu." Madara mengalihkan pandang ke iblis lain yang menjadi lawannya.

"Jangan meremehkanku, manusia!" Sang iblis melompat sembari menyatukan lengan berukuran besar miliknya dan langsung dihantamkan ke Madara.

Duag!

Suara benturan yang dihasilkan dari pukulan monster dan sesuatu yang amat sangat keras pun terdengar. Sang iblis terkejut bukan main, ternyata pukulan darinya hanya mengenai sebuah tulang rusuk mahluk astral berwarna biru yang muncul entah sejak kapan dan melindungi sang Uchiha.

"Kau sebut itu pukulan?" Madara mulai menggerakkan kepala ke atas. Wajah yang memperlihatkan ekspresi datar. Iblis lawannya pun dibuat geram karena benar-benar merasa diremehkan. Karena seharusnya dialah yang meremehkan Madara. "Hashirama . ." Teriak sang Uchiha memanggil sahabatnya yang tengah sibuk melakukan penyiksaan ala shinobi.

Jari telunjuk tangan kiri Madara bergerak pelan dan . . . .

Grab!

Lengan mekanik yang tersambung dengan tulang rusuk [Susano'o] Madara tiba-tiba bergerak dengan kecapatan tinggi dan menangkap tubuh sang iblis.

". . Selesaikan sekarang juga sekaligus ciptakan jalan pintas tercepat menuju lantai teratas." Lengan sebelah kanan [Susano'o] Madara tiba-tiba tercipta dari ketiaadaan dan menyapu bersih kepulan debu tempat iblis yang terlempar tadi.

Grab!

Suara tubuh yang tertangkap sekaligu terdengar dan arahanya berasal dari kepulan debu itu. Saat lengan kanan mahluk astral Madara melewati kepulan debu, terlihatlah iblis tengah digenggam dan meronta-ronta agar segera dilepaskan.

"Lepaskan aku mahluk rendahan!"

"Diamlah!" Bentak Madara dingin.

Dan tepat setelah itu, lengan mahluk astral Madara saling membenturkan kedua iblis lawannya satu sama lain hingga menciptakan suara dentuman keras disertai ringisan penuh akan rasa sakit. Madara memutar tubuh 180 derajat sehingga dua lengan mahluk astral yang merupakan salah satu tehnik dari [Mangekyo Sharingan] itu bergerak searah dengan tubuhnya.

"Hashiramaa!"

Mantan pemimpin Konoha yang tengah bertarung melawan lawannya melirik sejenak si pemanggil tadi, tau apa maksud dari Madara. Ia pun memberi anggukan pelan tanda paham. Setelah itu kembali melanjutkan pertarungan.

Duag!

Sebuah uppercut keras disertai [Chakra Senjutsu] kembali dilancarkan Hashirama ke perut lawannya, memberikan rasa teramat sakit hingga mencapai tulang rusuk dan bagian dalam perut yang serasa di remas kuat-kuat. Belum cukup sampai disitu saja, dengan kekuatan fisik alami yang sudah ditingkatkan dengan [Sage Mode] Hashirama mengankat tubuh sang iblis yang ukurannya lebih besar dari dia.

"Madara!"

Secara bersamaan, mereka melempar lawan masing-masing ke arah yang sama, dentuman keras pun terdengar tatkalan tiga tubuh berukuran besar para iblis itu bertabrakan tepar di udara.

Dan tepat sebelum ketiga iblis itu termakan gaya gravitasi bumi. Dengan kecepatan di atas rata-rata yang mampu menyamai bidak Knight dalam sistem [Evil Piece] para iblis, Hashirama melesat meninggalkan retakan besar pada tempatnya berdiri dan muncul tepat di bawah ketiga lawannya, segel tangan pun mulai dirangkai dengan cepat lalu menghentakkan telapak tangan pada permukaan lantai.

[Mokuton]

Brak! Brak!

Satu per satu ubin yang terpasang pada lantai mulai retak akibat adanya sesuatu yang akan segera keluar dari sana. Dan tak berselang lama, akar-akar kayu mulai bermunculan di sekita Hashirama, tumbuh dengan cepat dalam jumlah banyak dan melesat ke atas menusuk ketiga iblis.

Jrash! Jrash! Jrash!

"Arrrrgggggghhhh~~!"

Teriakan rasa sakit disertai banyaknya darah yang menyembur keluar menjadi hasil dari tusukan akar-akar kayu tadi. Ketiga iblis itu pun meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Hashirama sedikit kagum atas daya tahan mereka yang masih mampu bertahan walaupun sudah mengalami luka serius yang diberikan olehnya dan Madara.

'Pantas saja Kaguya-sama menginginkan agar keturunannya bisa hidup sejalan dengan mahluk-mahluk supranatural lain. Mereka baru iblis kelas rendah hasil penelitian Orochimaru, bagaimana dengan pemimpin mereka.' Pikir Hashirama. Perlahan aura berwarna kebiruan mulai keluar dari segel tangan yang masih belum dilepaskan olehnya.

Dana hasilnya, akar-akar pohonnya tiba-tiba bergerak liar. Tenyata pria itu mempercepat pertumbuhan akar-akarnya dengan maksud menciptakan jalan tercepat menuju lantai teratas.

Brakk! Duarrr!

Akar-akar beserta tiga iblis itu pun menghantam langit-langit lantai dasar bangunan itu hingga hancur.

Hashirama menoleh ke sahabatnya. "Madara!" Pria yang dipanggil mengangguk pelan dengan seringai bak dewa kematian. Dua lengan dan tulang rusuk mahluk astral yang menyelubungi Madara seketika menghilang.

"Tumben kau pintar, Hashirama!" Ya, walaupun tengah serius. Bisa-bisanya Madara masih sempat mengejek sahabatnya, dia menyadari apa yang sudah direncakan oleh pria keturuna klan Senju itu. Yaitu menciptakan jalur cepat menuju lantai teratas.

Madara pun melompat menuju lubang hasil ciptaan elemen kayu Hashirama, mengikuti kemana arah kayu-kayu itu pergi.

Brakk! Duarr!

Brakk! Duarr!

Brakk! Duarr!

Lantai-lantai demi lantai ditembus oleh akar-akar kayu Hashirama. Dari bawah, Madara dengan lincahnya melompat dari satu tempat ke tempat lainnya agar bisa sampai ke puncak terlebih dahulu. Ketika berada di lantai tujuh, perhatiaan Madara sedikit teralih ketika melihat sebuah ruangan yang dilindungi pelindung kebiruan. Setelah selesai dan mengingat lokasi pelindung itu, Madara kembali fokus untuk segera mencapai puncak bangunan.

Wush!

Madara menembus atap banguna setengah jadi itu dan melayang tepat di atasnya, menunggu kedatangan elemen kayu Hashirama beserta tiga iblis yang nasibnya sudah tidak diketahui lagi, apa masih hidup dan bertahan terkena serangan mantan pemimpin desa ninja itu atau malah sudah tewas karena menghantam 9 lantai dengan kerasnya.

Brakk!

Setelah menunggu sekitar satu menit, apa yang ditunggu Madara akhirnya tiba. Sementara di lantai dasar, Hashirama yang sudah mengetahui apa yang dia inginkan telah berhasil, dia segera merangkai segel tangan baru.

[Dai Jubaku Eisō]

Brakk!

Prang! Prang!

Kayu-kayu yang tadi dia tumbuhkan tiba-tiba menumbuhkan cabang-cabang baru disertai dedaunan dengan cepat, kaca-kaca jendela pecah akibat dari tumbuhnya cabang dari batang kayu berukuran besar itu. Dan dalam hitungan detik saja bangunan konstruksi 10 lantai itu kini terlihat seperti sebuah pohon berukuran sangat besar.

.

.

Di luar bangunan, Jiraiya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tindakan Hashirama berbeda dengan Genma yang malah terkagum-kagum melihat sebuah keajaiban berupa menciptakan pohon berukuran besar hanya dalam hitungan menit saja. Baginya ini pertama kalinya dia melihat hal seperti ini.

'Jadi ini kemampuan pemimpin desa asal Jiraiya-sama? Benar-benar menakjubkan.'

'Dasar muke gile!' Direksi pandangan Jiraiya lalu dialihkan ke atas bangunan dan membulatkan mata melihat Madara merangkai segel tangan dari kejauhan tapi sangat dia kenali.

'Busyet! segel tangan itu? Jangan-jangan kalian berdua berniat menjadikan Orochimaru . . . . . Jadi ular panggang?'

.

.

Di tempat persembunyian Orochimaru. Sebuah seringai ular disungging tatkala melihat apa yang telah dilakukan Hashirama dan Madara dari sebuah layar monitor kecil. Ternyata, di seluruh penjuru bangunan ini, dia telah memasang puluhan alat perekam yang entah di dapat darimana.

"Jadi begitu rencana kalian semua?" Orochimaru bangkit dari kursi yang diduduki lalu berjalan ke sebuah rak kecil dan mengambil sebuah gulungan aneh bertuliskan nama sebuah tehnik.

"Acara utama akan segera dimulai . . . . Khukukkukukuukuku!" Tawa ularnya pun seketika menggema di ruangan yang sudah dilapisi dua pelindung berbeda itu. Tertawa karena sebentar lagi dia akan memperlihatkan sebuah maha karya seorang shinobi sekaliber dirinya.

.

.

.

"Hanguslah bersama dengan hasil penelitianmu!" Sambil mempertahankan segel tangan kuda yang dia buat, Madara menarik nafas dalam-dalam

[Katon : Gōka Mekkyaku]

Blaarr!

Semburan dinding api berintensitas sangat besar hasil konversi chakra di dalam tubuh Madara pun keluar dan menyapu bersih hingga hangus lantai demi lantai bangunan di bawah. Kini, bangunan itu bagaikan sebuah pohon berdaun api yang berkobar dan mengeluarkan hawa yang sangat panas. Saking panasnya, Jiraiya dan Genma yang berada di luar bangunan sampai merasakannya, keringat seketika memenuhui beberapa anggota tubuh mereka.

.

.

.

Sementara di sebuah ruangan di lantai dua, orang yang tadi Madara temukan aliran Chakra-nya menggunakan Sharingan seketika bangun dari tidur cantiknya merasakan hawa panas yang mulai menerpa kulit mulus yang hanya ditutupi dengan lilitan kain putih pada bagian dada dimana terdapat dua gumpalan daging berukuran rata-rata.

"Sial! Kenapa tiba-tiba panas?" Tubuh indah khas wanita sosok itu pun perlahan bangkit diiringi umpatan kasar. Ketika menoleh ke pintu masuk ruang tempatnya sekarang, cahaya kemerahan mulai muncul. Surai abu-abu pun melambai-lambai akibat dari hembusan angin yang tercipta dari tehnik api Madara.

Ternyata oh ternyata, perempuan ini tertidur sangat lelap sampai-sampai suara gaduh pertarungan sebelumnya tidak didengar. Dia baru terbangun dari tidur cantiknya setelah merasakan hawa panas dari tehnik [Katon : Gōka Mekkyaku] milik Madara.

"Sialan!" perempuan itu segera bangkit dan berlari menuju jendala. Tidak perduli tubuhnya hanya tertutupi celana biru tua dan tubuh atas hanya tertutup lilitan perban pada dua gumpalan daging disana.

Prang!

Kaca jendela pun pecah saat dia melompat turun, disaat bersamaan api Madara pun melasap seisi ruangan itu. Bahkan api itu sempat mengejar perempuan itu, melewati bekas tempat dia menerobos kaca dan sela-sela dinding. Untung saja gaya gravitasi berhasil menyelematkan si perempuan, karena terkena gaya gravitasi bumi membuatnya dirinya perlahan jatuh kebawah, menghindari api tadi.

"Hampir saja!" Gumam gadis itu dengan wajah horor dibuat-buat dalam keadaan melayang ke bawah.

.

.

.

.

.

Beberapa detik sebelum si gadis melompat.

"Madara sialan, muka papan cucian, mata iritasi brengsek! Apa dia tidak tau kalau masih ada aku di dalam?" Beberapa umpatan kesal Hashirama ucapkan tatkala mendongak ke atas dan melihat semburan dinding api sahabatnya yang sudah siap menghanguskan dia.

Walau sudah tau Madara akan melakukan ini, Hashirama tentu saja kesal. Setidaknya tunggu dia keluar bangunan dulu baru mengelurkan tehnik api berskala besar itu. Itulah yang dipikirkan olehnya tentang perbuatan kelewat kurang ajar Madara.

Tidak mau ikut menjadi korban kebrutalan tehnik pemusnah Madara, Hashirama seketika melepas segel tangan dan segera berlari menuju dinding terdekat di sebelah kiri. Tanpa pikir panjang, Hashirama menerjang dinding beton setebal 30 centi itu.

Brakk!

Untung saja, pria itu tengah memasuki [Sage Mode] sehingga menerjang dinding beton tadi hanya seperti sebuah dinding rapuh yang mudah ditembus. Itu semua berkat [Sage Mode] yang membuat kekuatan dan ketahanan fisiknya berlipat ganda melebihi batasan seorang manusia biasa.

Namun naas bagi Hashirama. Ketika menjebol dinding tadi, dia terlalu banyak menggunakan kekuatan. Sehingga ketika sudah menjebol dinding, dia tidak bisa mengontrol laju tubuhnya. Dan disaat bersamaan . . . .

"Kyaaaaahhhh~~!"

Bruuk!

. . . . Sebuah teriakan feminim tertangkap indra pendengaran Hashirama. Dan dengan timing yang sangat tepat, mereka berdua bertabrakan satu sama lain dengan posisi Hashirama berada di bawah dan si perempuan di atas.

"Itteeeee~~~" Hashirama memekik kesakitan tubuhnya dijadikan bantalan untuk mendarat. Tapi dalam keadaan berbaring pada permukaan tanah. Wajahnya berkata lain, memerah hampir di semua bagian dan lubang hidung mengeluarkan darah, bahkan [Sage Mode] miliknya pun sudah tidak aktif lagi.

Posisi mereka berdua saat ini bisa dikatakan posisi sangat intim dan tidak patut untuk disaksikan. Dua gumpalan daging berukuran rata-rata perempuan itu menghimpit wajah Hashirama yang berada tepat di bawah. Dan bagian selangkangan Hashirama ditindih paha sebelah kiri si perempuan.

Perlahan si perempuan bangkit. "Gomen~Gom- Ekh, Hokage-sama!"

"Hilda!"

Secara bersamaan kedua orang itu memekik mengucapkan nama orang di depan mereka masing-masing.

"Hashirama, sialan!" Jiraiya yang baru tiba di sana pun berteriak histeris dengan wajah syok melihat posisi Hashirama dan perempuan bernama Hilda itu sangat menurutnya sangat menguntungkan. Bagi orang se-mesum Jiraiya, ditindah seorang gadis adalah salah satu hal palinng diidam-idamkan di dunia ini. Aura kesuraman seketika menyelubungi tubuh Jiraiya karena depresi berat bukan dia yang berada di posisi Hashirama.

'Apa yang terjadi disini?' Genma yang baru tiba hanya bisa membatin sweatdrop melihat keadaan di sekitanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beralih ke kota Kyoto. Beberapa menit sebelumnya.

Di depan sebuah rumah tradisional jepang yang letaknya tepat berada di samping sebuah kuil, sebuah cahaya melintang vertikal tiba-tiba muncul. Beberapa penjaga yang tengah berada di depan bangunan tradisional itu pun terkejut dan memasang kuda-kuda bertarung.

"Naruto-san?!" Salah satu penjaga itu pun tersentak ketika seorang pemuda berambut dark-silver melompat keluar, diikuti tiga orang lain.

"Maaf, Naruto-san." Penjaga itu mengalihkan pandangan ke rekan-rekannya yang masih memasang kuda-kuda. "Turunkan kuda-kuda kalian!" Perintah Youkai Kitsune yang merupakan bawahan dari bibi angkat Naruto, Yasaka no Kyuubi.

"Naru-niichan!"

Dari dalam rumah, seorang gadis berambut pirang keemasan diikat poni tail, iris keemasannya terlihat berbinar melihat kedatangan pemuda yang dipanggil 'Naru-niichan' itu. Gadis itu terliha mengenakan pakaian Miko tradisional putih perpaduan merah dengan geta tinggi dan tabi putih, lengan haori yang dihiasi simbol pentagram merah besar yang dikelilingi simbol pentagram kecil.

Naruto berjongkok dan melebarkan tangan siap menerima tubrukan tubuh gadis Loli yang tengah berlari ke arahnya. Dia seolah tau seperti apa reaksi dari gadis itu ketika mereka bertemu. Dan dalam hitungan detik, apa yang diprediksikan Naruto terjadi. Si Gadis Loli langsung menabrak dan memeluknya dengan erat, seolah-olah mereka sudah tidak bertemu puluhan tahun lamanya.

"Hehehe, kau selalu saja seperti ini, Kunou-chan." Naruto mengacak-ngacak rambut pirang keemasan sang pewaris tahta kepemimpin Fraksi Youkai Kitsune yang tengah memeluknya, sang empunya pun tersenyum akan perlakuan Naruto.

"Siapa dia Nii-chan?" Adik Naruto yang lain tiba-tiba merasa iri kakaknya dipeluk oleh Kunou, ia pun langsung melayangkan pertanyaan dengan nada memaksa.

Kunou memiringkan kepala untuk menatap Yuki yang berdiri beberapa meter di belakang Naruto. "Dan kau siapa? Kenapa memanggil Naruto-niichan seperti tadi?" Dengan nada yang tidak lagi seperti anak-anak melainkan nada layaknya seorang putri pewaris tahta Youkai Kitsune, Kunou melayangkan pertanyaan yang hampir sama maknanya dengan pertanyaan Yuki barusan.

"Aku Yuki, Imouto Nii-chan!"

"Nani?" Kunou memekik tidak percaya. Ia lalu menatap Yuki dengan tatapan tajam. "Nggak, aku Imouto Naru-niichan! Bukan kau!" Kata Kunou setelahnya, mengakui bahwa dia'lah satu-satunya adik Naruto. Walau cuma sebatas adik angkat dan ibu Konou hanya dianggap bibi oleh Naruto.

Kunou melepaskan pelukannya pada Naruto dan berjalan menuju Yuki. Saling lempar tatapan tajam pun terjadi antara dua gadis Loli ini dan tidak lupa saling mengakui kalau mereka adalah adik Naruto.

Duo klon shinobi dibelakang Yuki meneteskan keringat sebesar jempol kaki, sweatdrop. Mereka tidak menyangka Yuki bisa juga melempar tatapan tajam seperti sekarang dan tidak lupa mengakui hanya dia'lah adik Naruto sama seperti yang dilakukan oleh Kunou barusan.

"Nii-chanku!"

"Tidak, Naru-niichan punyaku!"

"Punyaku!"

"Punyaku!"

"Puny-"

Kedua gadis loli itu seketika berhenti berdebat secara bersamaan tatkala sebuah tangan kekar menyentuh pucuk kepala mereka. Pemilik tangan itu tidak lain adalah orang yang diperebutkan, Naruto.

"Hentikan! Kalian berdua adalah Imouto-ku dan sama-sama kusayangi melebihi diriku sendiri."

Seketika dua gadis Loli di dekat Naruto pun terdiam mendengar ucapan itu, tidak menyangka Naruto bisa mengatakan hal itu setelah sekian lama tidak didengar oleh mereka. Dan tanpa mereka sadara, semburat merah pun hinggap di pipi putih mulus keduanya, kekehan kecil terdengar dari mulut Naruto melihat dua adik angkatnya.

"Maaf, aku lupa memberitahukan kepada kalian satu sama lain jika aku mempunyai dua Imouto." Ucap Naruto. Mengakui bahwa dia'lah yang salah karena tidak mengatakan bahwa sebenarnya ia masih memiliki adik angkat lain kepada keduanya.

"Nii-chan tidak perlu minta maaf!"

"Naru-niiichan tidak perlu minta maaf!"

Secara bersamaan, dengan timing yang sama pula. Kunou dan Yuki sama-sama membantah ucapan Naruto yang meminta maaf kepada mereka. Pemuda tampan itu kembali mengacak-ngacak rambut dua gadis Loli di dekatnya. "Baiklah~Baiklah . . . . Karena ini pertama kalinya kalian bertemu, ada baiknya kalian berkenalan biar makin akrab sesama Imouto-ku."

"Hmmmpt . . . ." Keduanya secara bersamaan memalingkan wajah yang terlihat berekspresi tidak suka dengan permintaan Naruto untuk melakukan perkenalan satu sama lain.

"Oh ayolah, aku lagi buru-buru nih."

Naruto mulai kesal akan tingkah dua adik angkatnya ini, Tidak berhasil dengan kata-kata tadi, wajah memelas pun di pasang dan sedikit ditambah ekspresi sedih yang dibuat-buat. Dia akhirnya mengeluarkan salah satu senjata pamungkasnya untuk meluluhkan dua gadis loli adik angkatnya ini. Mereka berdua, Yuki dan Kunou tampaknya ngambek seperti seorang wanita yang lagi masuk pada bulannya.

Yuki dan Kunou menoleh dengan gerakan pelan. Raut wajah kasian pun mereka pasang tatkala melihat ekspresi sedih dibuat-buat dariNaruto. Yuki yang sudah tinggal setahun bersama Naruto pun sadar jika kakaknya sudah seperti sekarang, sangat susah dibujuk kecuali menggunakan senjata andalannya, padahal sebenarnya Naruto cuma mempermainkan dia saja tapi karena masih polos.

Maka dari itu, Yuki pun memutuskan untuk menjadi yang pertama melakukan perkenalan dengan mengulurkan tangan kanan ke Kunou.

"Ha-Hajimemashite, watashi wa Yuki desu. Dō-Dōzo yoroshiku." Ucap adik Naruto dengan nada yang tidak lagi kesal, melainkan senang dan diakhiri dengan senyum polosnya. Sebuah perubahan signifikan hanya karena termakan wajah sedih dibuat-buat Naruto.

Kunou menerima uluran tangan Yuki dan ikut tersenyum manis yang ikut termakan perangkap Naruto. "Watashi wa Kunou desu. Dōzo yoroshiku, Uki-chan!"

"Uki-chan?"

"Hmmmnn . . . . " Kunou mengangguk antusias ketika mendengar Yuki mempertanyakan panggilan darinya.

"Nah karena sudah berkenalan, Kunou-chan . ." Sang pewaris tahta Youkai Kitsune menoleh ke Naruto. ". . Beritahu ke Yasaka-baasan nanti saja berkunjungnya, aku lagi buru-buru dan tolong panggilkan teman Jiraiya-sensei yang mungkin ada di dalam." Kunou hanya merespon dengan anggukan kepala, walalupun agak kecewa Naruto tidak bisa berlama-lama disini.

Naruto dapat melihat sejenak ekspresi kekecewaan dari Kunou, dia pun segera tersenyum dan ketiga kalinya mengacak-ngacak rambut pirang keemasan milik gadis loli itu. "Hehehe, tenang saja Kunou-chan. Setelah masalahku selesai, aku pasti kesini kok."

"Benarkah?" Naruto memberikan anggukan pelan menjawab pertanyaan memastikan dari Kunou. Mendapat jawaban iya dari Naruto, Kunou pun tersenyum dan segera berjalan memasuku kediamannya untuk melakukan apa yang diminta kakak angkatnya tadi.

Naruto kemudian mengalihkan perhatian ke klon Madara dan Hashirama. Anggukan kecil pun dilakukan Naruto untuk memberikan tanda ke dua salinan manusia abnormal itu. Setelah itu, kedua klon itu hancur menjadi dua unsur berbeda, darah dan kayu. Yuki pun terkejut melihat tubuh kakak dan pamannya hancur.

"Maddie-niichan, Ojii-chan!"

"Tenang saja, mereka hanya klon."

"Klon?" Yuki memiringkan kepala karena belum mengetahui maksud dari ucapan Naruto. Pemuda berambut dark-silver itu mendesah pelan dan berpikir sejenak. Jika ia ingin memberitahukan Yuki tentang dunia ini, maka kemampuan dari Madara dan Hashirama pun harus ikut dijelaskan.

Naruto pun mulai menjelaskan apa yang Yuki tanyakan. Dan tepat setelah penjelasan Naruto berakhir dan Yuki sudah paham, mata-mata yang dikirim Jiraiya untuk membantu Naruto menghampiri mereka.

"Kita langsung berangkat saja." Perintah Naruto langsung ke intinya saja. Setelah itu, dia berbalik membelakangi Yuki lalu membungkukkan badan dan menadahkan tangan di samping pinggulnya.

"Naiklah!"

"Perjalanan kita agak jauh dan harus cepat sampainya, jadi cepat naik ke punggungku!" Perintah Naruto pada adiknya. Yuki hanya menangguk paham dan segera memanjat ke punggung Naruto lalu memeluk leher sang kakak dari belakang.

Setelah itu, Naruto menegakkan badannya kembali dan memandang lurus ke depan dengan sorot mata begitu serius.

"Ayo, berangkat!"

"Hmnn!"

Kedua orang itu pun langsung berlari menuju arah selatan Kyoto yang merupakan sebuah hutan yang tidak cukup lebat. Kotetsu berada di depan sebagai penunjuk jalan dan Naruto mengekor dari belakang sambil menggedong Yuki yang hanya diam dan sesekali menoleh ke segala arah karena penasaran kemana sebenarnya tujuan mereka..

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yoooo~~ '-')/ . . . . Ketemu lagi ama ane, si Author Lolicon yang Gak Jelas asal-usulnya.

Hmnnn . . . . Mulai dari Chapter 12 sampai Chapter penutup Arc II ini. Berfokus pada konflik Orochimaru dan Penyerangan Konoha. Masalah NaruRias ane pending dulu.

Satu per satu kebenaran tentang Orochimaru akan terungkap. Salah satunya adalah yang terjadi di Chapter ini dimana terdapat beberapa iblis yang menjadi bahan penelitiaanya. Jadi pasti bisa ketebak siapa saja yang bekerja sama dengan si mahluk melata satu ini 'kan?

Trus ketiga mata-mata Jiraiya bernama Genma, Kotetsu dan Izumo yang muncul di Chapter ini bukanlah seorang shinobi, atau manusia yang memiliki aliran chakra. Mereka hanya manusia biasa yang diajarkan Taijutsu oleh Jiraiya sebagai alat pertahanan diri apabila menjalan tugas mereka sebagai mata-mata.

Lalu tentang gadis yang berjalan di hutan pembuka Chapter 11 kemaren. Itu bukanlah Hina, sosok misterius dari masa lalu Naruto. Gadis yang berjalam di hutan itu namanya Hilda. Identitasnya akan terungkap di Chapter berikutnya.

.

.

Balasan Review :

Archilles = Keknya seneng banget liat Rias and the genk dihajar ama Naruto :v

enZans = Muehehehehehe, It's just beginning . . . . Tapi klo sadis, mungkin ane gak bakalan buat terlalu sadis tapi bakalan ane buat greget dah . . . . Wokey '-')/

ara dipa = Mungkin saja, hehehehehe . . . . Tunggu saja, bakalan ada kok alasan kenapa Rias membenci Naruto.

ashuraindra64 = Saat pertemuan 3 Fraksi. Tapi tidak menutup kemungkin ane buat lebih lama atau sebaliknya.

Setya566 = Makasih~Makasih . . . . Gadis yang berjalan di hutan itu namanya Hilda dan siapa sebenernaya si Hilda ini akan terungkap di Chapter depan . . . . Kalau ane buat sadis sih kemungkinan kecil iya, terus kedepannya Naruto hanya akan ane buat 'Gray' atau 'Semi-Dark'.

Ajeel = Kagak 'lah. Naruto bukan Dragon Slayer. Ane cuma ngambil nama dan serangan punya Natsu.

I = Kushina? Ah, entar ane dibacok ama para Milf-Lovers klo Mami-Kushina mereka ane jadiin Pair Naruto . . . . Terutama si Stark Fullbaster 012 kampret yang bantu ane bikin plot Fic ini.

Pendy uye uye = Ya, KTT 3 Fraksi ada kok . . . . Tunggu aja, paling cepet sih setelah KTT berakhir baru dibuka ingatannya . . . . Kagak masuk dan tentu saja ketemu lah.

Kazuto Astaroth = Makasih, Oiy! . . . . Tentu saja. Tunggu aja tanggal mainnya :v :v

iqbal yuliawan666 = Ahh, Sory. Fight-nya kurang GG. -_-)

raitogecko = Kagak punya . . . . Yang dipake lempar Naruto itu bukan sandal, tapi benda padat di depan Dedek Yuki . . . . Ah, mana rela ane buat Dedek Yuki dijadiin eksperimen ama tuh mahluk melata gak jelas.

Azazel Da Tenshi = Mungkin tidak . . . . Malahan mungkin ane buat Sirzehcs acuh tak acuh ama perbuatan Naruto ke Rias untuk yang satu ini. Toh, Rias sendiri yang minta.

rahmanarief448 = Sory ane buat kurang GG. :v

ayub pratama 792 = Yoooo~~ Bakayarou, Konoyarou . . . . Nih orang sukanya liat Rias-chan kesiksa aje :v . . . . Fic itu lagi ane pikirin alur penyerangan Konoha. Jadi tunggu aja. Tapi ane gak janji bakalan cepat UP-nya.

titoallstar = Itu baru permulaan konflik NaruRias . . . . Ane lagi sibuk banyak urusan di RL, tugas numpuk kek Oppai Dedek Serafall bikin waktu ngetik berkurang drastis.

wsusanto96 = Makasih . . . . Mungkin untuk tindakan Naruto yang satu ini, Sirzechs gak turun tangan. Toh, Rias sendiri yang minta.

uzumakynurroni = Sory kelamaan UP-nya. Lagi sibuk di RL . . . . Naruto cuma datar ke Rias ama Issei [mungkin], Klo ke Asia gak ada perubahan dari sifatnya.

arinasution5 = Gile! Kalo ane buat salah satu Peerage Rias mati, Seluruh Underwold bakalan kroyok Naruto ampe mampus pak :v :v . . . . Wokey '-')/

The Black Water = Ada kok nanti bekas luka yang gak bakalan ilang di tubuh Rias. Tapi mungkin masih lama karena sekarang konflik NaruRias ane pending dulu.

Seneal = Si Hina itu masih tanda Tanya besar. Klo masalah gadis di hutan itu udah terungkap . . . . Namanya Hilda.

Ae Hatake = Karena pertarungan ini hanya untuk membalas perbuatan Rias sekaligus memberi peringatan.

The KidSNo OppAi = Bukan! Gadis yang berjalan di hutan itu namanya Hilda.

Aka na Yuki [My Imouto] = Ah, dipasin aja Dedek Yuki :v :v . . . . Wokey, Dedek Yuki. '-')/

Forneus787 = Typo adalah musuh utama para Author :v :v Lolz

Sederhana = Makasih . . . . Ya, tentu saja akan ada pertarungan lain NaruRias lah . . . . Kgak bisa cepat, banyak tugas numpuk ampe menggunung kek Oppai Dedej Serafall :v :v

Yukari Clarisha-chan = Hehehehe, Makasih atas semuanya, Clarisha-chan.

Owllia = Kali ini tidak karena Rias sendiri yang menginginkannya . . . . Gadis yang berjalan di hutan itu namanya Hilda. Si Hina masih tanda tanya besar statusnya.

Dragon's Saga = Hehehehe, Makasih, Oiy . . . . Klo dibunuh si Sirzechs, Fic-nya bakalan tamatlah :v . . . . . Walalupun MadaHashiNaru itu udah Strong. Tapi belum tentu bisa ngadapin seluruh fraksi Iblis. Apalagi klo Fraksi Malaikat Jatuh ikut serta. Malah tevar mereka bertiga nantinya . . . . Lihat saja nanti di Chapter depan, masalah Orochimaru sedikit ane ungkap di sono.

The World Arcana = Kali ini Sirzechs kagak bantuin Rias kok. Toh dia juga punya masalah ama MadaHashi.

katanya201 = Di Chapter depan ada kok beberapa Chara Naruto yang muncul. Jadi tunggu aja . . . . Gile! Masa MadaHashi nikah. Nista amat tuh mereka klo sampai nikah :v :v

Shirayuki MuiiMauiizz = Saya usahain secepatnya karena lagi banyak urusan di RL

Banyu695 = Kagak bisa tong. Rias ane bikin milik si Issei. Ngapain juga Naruto balikan ama Rias klo udah dibikin sakit hati lalu patah hati dan bisa-bisa mati bunuh diri pake belati dibawah pohon jati :v :v :v

Masahiro Moritaka = Hehehehe . . . . Tunggu aja, perlahan tapi pasti Naruto bakalan Move on dari Rias kok :v :v

Geenndu = Gadis bermata ungu itu Hilda namanya. Dia teman dan identitasnya bakalan terungkap di Chapter depan . . . . Madara baru mau bangkitin EMS klo udah nguasain ato setidaknya MS-nya udah kadaluarsa.

StiffMarco = Ahh, klo Oppai Rias kebakar, gak ada dong sumber kekuatan si Oppai Dragon . . . . Tunggu aja, paling cepet sih setelah KTT berakhir baru dibuka ingatannya

rozi-namikaze = Tunggu aja tanggal mainnya kapan Pair Naruto muncul.

Guest = Sesama Iblis keturunan Lucifer.

Yang Review 'Lanjut' . . 'Next' dan sebangsanya, Nih ane dah lanjut. Ane minta maaf klo balas Reviewnya kek gini dan nambah-nambahin Word aja. Alasennya, ane lgi minim Kuota dan duit buat beli paketan [KANKER : KANTONG KERING], terlebih lagi waktu ane yang lebih banyak ngerjain tugas bikin ane gak ada waktu buat balas Review satu per satu lewat PM.

Okeee! Sekian dulu untuk Chapter ini beserta Uneg-uneg ane!

.

.

.

.

.

Root Wood and Stark Fullbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy ama Dedek Scheherazade dulu! '-')/