Under The Sky [Ch. 12]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
Ochobot terdiam ketika ia membuka pintu geser dihadapannya. Dilihatnya empat kembar terkapar di lantai, suara dengkuran mereka terdengar jelas. Ochobot menghela napas panjang, dirinya baru saja ikut mengobati korban perang, tentu saja itu melelahkan. Ia juga ingin tidur, tapi kamar sudah penuh.
Ochobot menggeleng, berdecak. Ia lalu memilih untuk mengambil buku dari tasnya dan keluar dari kamar mencari tempat untuk istirahat.
.
.
"Ochobot!"
Ochobot menoleh, mendapati Ying berjalan kearahnya. Ying menaiki lantai gazebo dan duduk di hadapannya, ia menaruh keranjang plastik di lantai.
"Kau mau?" tanya Ying.
Ochobot tampak tertarik, "Apa itu?" tanyanya.
"Bakpau. Para koki membuatnya tadi. kau belum makan kan?" tanya Ying, menyodorkan sebuah bakpau padanya.
Ochobot menerima bakpau itu dengan senang hati, "Apa isinya?" tanyanya sebelum melahap makanan itu.
"Kacang hijau. Cobalah." Jawab Ying, lalu mengambil satu untuknya sendiri.
Ochobot mengangguk.
"Ini enak." Ucap Ochobot, wajahnya berseri.
Ying mengangguk, "Ngomong-ngomong, mana empat kembar?" tanyanya.
"Mereka tidur seperti ikan terdampar." Jawab Ochobot.
Ying terkekeh, "Mereka pasti lelah setelah pulang dari perang." Ucapnya.
"Apa Fang juga melakukan hal yang sama?" tanya Ochobot.
Ying menggeleng, "Sekarang dia lagi pergi ke kota." Jawabnya.
"He? Untuk apa?" tanya Ochobot.
"Karena kepemimpinan kota sekarang kosong, jadi dia mengambil langkah awal untuk memimpin kota sementara sebelum pemimpin yang baru diangkat lagi." jawab Ying.
"Memangnya pemimpinnya sekarang kenapa?" tanya Ochobot,
"Air sudah mengalahkannya." Jawab Ying.
Ochobot memiringkan kepalanya, tidak mengerti. Ying menghela napas.
"Kamu tahu tentang petugas-petugas yang sering berkeliaran dikota?" tanya Ying.
Ochobot mengangguk.
"Nah, mereka punya pemimpin. Yang kebetulan juga sebagai pemimpin kota, mereka termasuk orang-orang kerajaan yang berseteru dengan Klan ini. Dan saat perang tadi, mereka membantu pasukan musuh. Di perang tadi juga, Air mengalahkan pemimpin kota dan kak Fang mengalahkan pimpinan musuh. Kak Fang lalu menyuruh musuh menarik diri, semuanya, termasuk kelompok bantuan dari pimpinan kota. Maka dari itu, kepemimpinan kota sekarang kosong." Terang Ying.
Ochobot mengangguk mengerti, "Jadi begitu…"
Ying mengangguk, lalu memakan bakpaunya.
"Oh ya, Ochobot. Buku apa yang kau baca?" tanya Ying.
Ochobot melirik buku di sampingnya, lalu mengambilnya.
"Oh, ini hanya buku cerita biasa." Jawab Ochobot sambil menyodorkannya pada Ying.
Ying mengambil buku yang disodorin oleh Ochobot dan membuka lembaran-lembaran buku itu.
"Ah.. ini buku berisi cerita yang sering ibuku ceritakan dulu…" ucap Ying.
Ochobot menelan bakpau yang baru saja ia kunyah, "Ibumu?" tanyanya.
Ying mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Tapi aku tidak pernah melihat ibumu." Ucap Ochobot.
"Dia sudah tiada, beberapa tahun lalu." Balas Ying.
"O—oh.. maafkan aku." Ucap Ochobot.
"Tidak apa kok, orangtuamu bagaimana?" tanya Ying.
Ochobot menelan potongan bakpau terakhirnya, "Aku tidak tahu, aku tidak pernah bertemu mereka."
"Maaf.."
"Tidak apa, toh selama ini ada seorang yang sudah kuanggap orang tuaku sendiri." Ochobot tersenyum.
"Kau pasti menyayanginya." Ying ikut tersenyum.
"Ya, aku sangat menyayanginya." Jawab Ochobot, ia teringat akan sosok Mirajane dan tersenyum tipis.
.
.
=CoffeyMilk=
.
Halilintar menatap dimana dirinya berada. Sebuah taman bunga yang luas. Disekelilingnya terdapat tanaman bunga beraneka macam, tertata rapi dan teratur. Beberapa kursi taman diletakkan sebagai tempat istirahat. Ada juga beberapa gazebo dengan meja dan kursi di dalamnya.
Ia memutar tubuhnya saat mendegar suara riang dan ceria anak-anak kecil. Matanya mengerjap dan bibirnya terasa terkunci saat melihat seorang wanita cantik berputar sambil membawa seorang anak kecil di gendongannya, disekitarnya juga ada beberapa anak kecil yang berteriak senang.
Halilintar melirik saat seorang anak kecil berlari melewatinya, pakaian anak itu berwarna hitam dengan beberapa garis merah dibeberapa tempat.
"Ibu! Aku-aku!" teriak seorang anak kecil berbaju hitam pada wanita itu.
Si wanita menurunkan anak dalam gendongannya, lalu menggendong anak kecil berbaju hitam itu. Si anak tertawa-tawa senang saat sang ibu memutar.
"Ibu? Aku?"
"Aku! Aku!"
"Aku~"
"Ibu.."
.
.
Halilintar tersenyum tipis melihat pemandangan di hadapannya, ia duduk bersila dengan tangan menopang kepalanya melihat wanita dan anak-anaknya itu bermain.
Wanita itu mulai menyanyi, anak-anaknya mengikuti dengan suara cempreng mereka. Halilintar tak kuasa untuk tidak tertawa. Ia tertawa kecil hingga air matanya turun menganak sungai di kedua pipinya.
"Sudah berapa lama aku tidak merasakan perasaan rindu ini?" tanyanya berbisik.
Halilintar menatap wanita dan anak-anaknya itu lagi. Ia berdiri, melangkahkan kakinya perlahan kearah mereka.
"Apakah aku bisa menyentuh mereka?" tanya Halilintar berbisik lagi.
Tangannya terangkat, menjulur kearah wanita itu, berusaha menggapai sosok itu. Tapi ia terdiam saat ia hanya bisa menangkap udara kosong di tangannya.
Halilintar menghela napas, ia sudah menduganya. Namun, jantungnya berdegup kaget saat mata wanita itu menatap matanya dengan bingung dan sesaat kemudian wanita dan anak-anak itu menghilang.
Halilintar terdiam, menggerakkan jari-jarinya, dan tersenyum miris.
"Aku tidak bisa menggapainya.." bisiknya.
Lama Halilintar dilingkupi keheningan, ia menoleh ketika seseorang berdiri di sebelahnya. Halilintar mengerjap dan mulutnya menganga.
Orang itu tersenyum kearahnya, matanya menatap Halilintar teduh. Orang itu lalu berjalan meninggalkan Halilintar.
Halilintar menatap orang itu dengan bingung, ia merasa pernah melihat orang itu. Ia tersadar kemudian wajah orang itu mirip dengan dirinya dan saudara-saudaranya.
"Maaf, tunggu-!" teriaknya, berlari mengejar sosok itu.
Orang itu menoleh, senyum masih terpatri di wajahnya. Kemudian orang itu menghilang.
Halilintar terdiam, tanah tempat ia berpijak seolah berputar. Dan pandangannya mengabur.
.
.
"Halilintar. Halilintar."
Halilintar terbangun, ia melihat wajah Gempa diatasnya.
"Oh, ya." Ucap Halilintar dan duduk, sinar mentari langsung menerpa penglihatannya.
Gempa beralih membangunkan Taufan. Halilintar melihat sekitarnya. Taufan terbangun dengan cepat, Air bahkan sudah bangun dan Ochobot tak terlihat batang hidungnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Halilintar parau, khas orang bangun tidur.
"Tujuh pagi." Jawab Gempa.
Halilintar mengangguk dan segera melipat selimut yang menutupi tubuhnya saat tidur tadi sambil menguap.
"Masih mengantuk? Padahal kita tidur lama sekali lho." Ucap Gempa saat melihat Halilintar menguap lebar.
"Tidak juga." Jawab Halilintar.
Gempa mengangguk, lalu membuka pintu geser dihadapannya, "Aku duluan." Ucapnya.
"Aku ikut." Ucap Air dan mengikuti Gempa.
.
.
=CoffeyMilk=
.
Gempa meletakkan sumpit di atas meja, ia lalu beralih pada Fang yang sedang menghabiskan kuah tofu di mangkuknya.
"Fang." panggilnya.
"Hmm?" Fang menaruh mangkuknya dimeja, "Apa?" tanyanya.
"Aku sudah menyelesaikan bacaan ku, aku ingin meminjam yang lainnya." Jawab Gempa.
Fang mengangguk.
"Kau berjanji akan menunjukkan perpustakaan pribadimu." Ucap Gempa.
Fang mengangguk, "Oke."
Ochobot menoleh, "Perpustakaan? Aku ikut." Ucapnya.
"Aku juga ikut!" seru Ying.
"Aku mauu~" ujar Taufan.
"Aku." Ucap Halilintar.
"…."
"Ya, ya, baiklah." Ucap Fang.
.
.
.
Mereka memasuki sebuah pintu ganda besar berwarna hitam berukiran bunga lotus dan naga yang indah. Keempat kembar dan Ochobot berdecak kagum saat melihat isi ruangan setelah melewati pintu itu. Langit-langit atap berlukis awan dan langit biru cerah. Terdapat empat buah rak buku di tengah ruangan dan beberapa rak lainnya memenuhi dinding kanan kiri. Rak-rak itu penuh dengan buku berbagai jenis macam. Beberapa meja lengkap dengan kursi juga ditata rapi di tengah dan pojok ruangan. Sebuah lukisan berukuran besar di pasang di dinding beberapa meter dihadapan pintu. Cahaya matahari masuk menyinari ruangan melewati jendela besar panjang di beberapa tempat.
"Waw." Komentar Taufan.
"Besar sekali tempat ini." Ucap Ochobot.
Ying tersenyum kecil, "Selamat datang di perpustakaan pribadi keluarga Li." Ucapnya.
Fang tertawa kecil, lalu berbalik, "Kalian bisa mencari buku yang kalian mau, silahkan." Ucapnya.
Gempa mengangguk. Ochobot terlihat antusias, ia langsung menghampiri sebuah rak buku di tengah ruangan. Halilintar masih menelusuri isi ruangan dalam diam. Air mendudukkan dirinya diatas kursi di tengah ruangan.
Mata Halilintar berhenti di sebuah lukisan besar di dinding dihadapannya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita dari arah belakang, rambut hitamnya berkibar karena angin, di tangannya terdapat sebuah pedang panjang, wajahnya sedikit terlihat dan bibir wanita itu tampak tersenyum.
Halilintar mengerjap. Gempa menghampirinya.
"Hwaa… cantik sekali." Ucap Gempa.
Halilintar mengangguk. Gempa menolehkan kepalanya kearah Fang yang sedang membuka sebuah buku.
"Fang, siapa ini?" tanya Gempa.
Fang menoleh, menatap lukisan itu, "Oh… itu Knife Lady, wanita yang pernah Ayah cintai sebelum menikah dengan Ibu." Jawabnya.
Halilintar melirik Fang setelah mendengar jawabannya.
"Knife Lady? Jadi dia ibumu?" tanya Halilintar.
Fang menutup bukunya dan menggeleng, "Bukan, dia bukan Ibuku. Dia cuma wanita yang pernah Ayah cintai sebelum menikah dengan Ibuku." Jawabnya.
Halilintar terdiam. Taufan menghampiri keduanya.
"Senyuman wanita ini sepertinya tidak asing." Ucap Taufan, membuat Halilintar menoleh.
"Kau juga berpikir begitu?" tanya Halilintar.
Taufan mengangguk kecil, ia menatap dalam-dalam lukisan itu.
"Rasanya seperti rindu melihat senyuman seperti itu." jawabnya.
Gempa melirik kedua saudaranya, lalu kembali menatap lukisan itu. Ochobot mendekat, ikutan menatap lukisan itu.
"Siapa yang melukisnya?" tanya Ochobot.
"Ayah." Jawab Fang, ia memasukkan buku kedalam rak lalu mengelurakan buku yang lain.
Ochobot mengernyit heran, "Apakah tidak apa-apa? Maksudku, Ibu mu tidak marah Ayahmu memasang lukisan wanita lain di rumah ini?" tanyanya.
"Ibu tidak marah, malah senang." Jawab Ying.
"Ya, benar, aku bahkan tidak mengerti jalan pikiran kedua orangtua kita." Timpal Fang.
Perpustakaan terasa lenggang sejenak, tak ada yang berbicara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Hei, Fang. Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Halilintar.
Fang menoleh dan menggeleng, "Tidak. Ayah bilang wanita itu menghilang lima belas tahun yang lalu," Fang kembali berkutat dengan buku-bukunya, "keberadaannya tidak diketahui atau mungkin orangnya telah meninggal." Lanjutnya.
Halilintar mengangguk mengerti.
Perpustakaan kembali sunyi, Air menatap lukisan itu lamat-lamat lalu memejamkan matanya.
.
.
.
Mereka semua keluar dari perpustakaan setelah puas membaca disana. Ochobot dan Gempa bahkan meminjam beberapa buku dari sana.
Saat mereka melintasi lorong seorang pelayan mendekati Fang dengan terburu lalu menunduk hormat pada mereka.
"Ada apa?" tanya Fang.
"Anda kedatangan tamu penting tuan." Jawab pelayan itu.
Ying melirik Fang, "Tamu penting?" tanya Ying.
Fang menggaruk kepala, "Ah, aku lupa hal itu. Ayo Ying, kita sambut mereka." Jawab Fang lalu pergi.
Ying mengangguk.
"Oke, sampai nanti."
Keduanya lalu pergi meninggalkan keempat kembar dan Ochobot. Kelimanya terdiam, hingga Taufan mengeluh panjang.
"Aku bosaaaaaaannn~" keluh Taufan lalu merangkul Air, "Air, bagaimana kalau kita pergi ke pantai? Aku ingin melihat laut.." ucapnya.
Air menatapnya, lalu mengangguk, "Boleh."
"Ah, ide bagus. Aku dari kemarin ingin kesana juga." Sahut Ochobot.
"Kalau gitu ayo kesana!" ucap Gempa.
.
.
"LAUUT~" teriak Taufan senang, menghirup udara disekitarnya dalam-dalam.
Gempa tertawa. Ochobot melepas sepatunya, lalu berjalan ke bibir pantai, membiarkan air membasahi kakinya. Kemudian, Taufan dan Gempa mengikutinya.
"Heh. Kalian seperti tidak pernah ke laut saja." Celetuk Halilintar.
Ketiganya menoleh kearah Halilintar.
"Aku pernah!" seru Taufan sengit.
"Aku memang tidak pernah ke pantai." Ucap Gempa dan Ochobot bersamaan.
"Pantes kampungan." Sahut Halilintar.
Taufan menendang pasir dibawahnya kearah Halilintar, Ochobot dan Gempa menyibakkan air kearahnya juga.
"HEII! Teriak Halillintar tidak terima.
Taufan, Gempa dan Ochobot tertawa. Halilintar melepas sepatunya dan melemparkannya ke belakang lalu berlari kearah mereka, bersiap menghukum mereka satu-satu jika saja Air tidak mendorongnya kuat-kuat kearah Taufan, Gempa dan Ochobot.
BYYUUURR!
"HUWAAAHH!" keempatnya teriak berbarengan saat tubuh mereka menghantam air di bawah mereka.
Air terkekeh sambil melepas sepatunya. Keempat orang itu menatapnya marah, keempatnya lalu bangkit. Taufan berlari dan menarik lengan Air lalu melemparkannya ke air.
Byuurr!
Taufan tertaawa, disusul oleh Gempa, Ochobot dan Halilintar. Air menatap mereka masam, lalu menyeringai. Di cipratkannya air ke arah mereka. Gempa membalas, juga mencipratkan Air kearah Halilintar. Halilintar menghindar, tapi cipratan dari Ochobot malah mengenai wajahnya. Halilintar tertawa, ia akhirnya juga mencipratkan air kepada Ochobot, tapi malah membasahi Taufan.
Mereka berlima bermain air, juga berenang. Sampai lelah. Dan memutuskan untuk berbaring diatas hamparan pasir putih pantai.
Kelimanya terengah dan tertawa.
"Ah.. ini mengasyikkan." Ucap Gempa.
"Ayo kapan-kapan lagi kita begini." Usul Taufan.
"Ayo!" seru Ochobot.
"Kalian memang bocah." Ucap Halilintar.
"Ahaha. Tapi Halilintar tadi ikut juga." Balas Air.
"Yah… mau bagaimana lagi.." Halilintar menghela napas.
"Kita ajak Api juga!" Taufan berseru.
Hening.
Keempatnya melirik Taufan yang sekarang terduduk. Gempa menghela napas.
"Api, ya…" desis Halilintar.
"Ah, benar… kita harus mencarinya…" ucap Gempa.
"….."
"….."
"Baiklah, ayo lanjutkan perjalanan kita untuk mencari Api." Ucap Gempa, sambil merentangkan tangannya.
"Ya." Ochobot mengangguk.
"Kapan kita akan pergi?" tanya Taufan.
"Secepatnya." Gempa tersenyum.
"Tapi, sebelum itu biarkan aku menyelesaikan pertarunganku dulu dengan Fang." celetuk Halilintar.
"Ah, ya. Aku hampir lupa," Balas Gempa, "yaah… itu bisa nanti, tenang saja." Lanjutnya.
Gempa lalu menoleh kearah Air yang kini memejamkan matanya.
"Air? Kau mau ikut kami?" tanya Gempa.
Air diam, lalu menghembuskan napas panjang dan mengangguk.
Halilintar, Ochobot dan Taufan meliriknya.
"Ya, aku ikut." Jawabnya sambil membuka mata.
"Oke!"
.
.
CoffeyMIlk
.
Kelimanya tiba di kediaman Klan Li dengan pakaian mereka basah kuyup. Halilintar, Gempa dan Air bahkan melepas baju mereka dan meremas baju itu hingga airnya menghilang. Sedangkan Taufan dan Ochobot tak terlalu peduli dengan baju mereka.
Memasuki gedung utama kediaman Klan Li dan berpapasan dengan Fang yang membawa beberapa berkas di tangannya. Fang terkejut melihat kelimanya.
"Ha? Dari mana aja kalian? Sampai basah seperti itu?" tanyanya sambil menggelengkan kepala.
"Ke laut." Jawab Gempa.
Fang membuka mulutnya, lalu mengatupkannya dan mengangguk.
"Ya sudah, mandi terus ganti baju sana. Ada yang harus aku kenalkan pada kalian." Ucap Fang kemudian berlalu.
Gempa, Air, Ochobot, Halilintar dan Taufan mengangguk, mereka segera pergi ke kamar mereka.
.
.
"Air, kita akan kemana?" tanya Gempa.
"Ruang tamu." Jawab Air.
Gempa menaikkan alisnya, "Memangnya siapa sih tamunya?" tanyanya.
Air meliriknya, lalu kembali menatap kedepan, "Lima ketua dari Klan-klan yang bekerja sama dengan Klan Li," jawab Air, "Itu termasuk tamu penting disini, jadi aku pikir ini tidak salah." Lanjutnya.
"Bekerja sama? Untuk apa?" Gempa melirik Air.
Air balas meliriknya dan mengendikkan bahunya, "Melengserkan kerajaan mungkin." Jawabnya.
"Melengserkan kerajaan, ya…." Gempa lalu terdiam tidak bertanya lagi.
Ochobot, Halilintar dan Taufan hanya diam mengikuti keduanya berjalan menuju ruang tamu.
.
Ruang tamu tampak ramai, dipenuhi beberapa pengawal yang berjaga disetiap sudut. Ditengah ruangan diatas sofa, duduk beberapa orang termasuk Fang dan Ying. Mereka terlihat sedang membicarakan suatu hal.
Melihat kedatangan empat kembar dan Ochobot, Fang menghentikan obrolannya dengan para tamunya dan menyapa mereka.
"Ah, kalian sudah datang." Ucap Fang, membuat tamu-tamu Fang menoleh kearah mereka.
Air mengangguk kecil kearah Fang dan para tamu itu.
"Shui! Lama tak berjumpa!" seru seorang gadis berambut hitam pendek kearah Air.
Air mengangguk kecil, "Lama tak berjumpa semuanya." Ucapnya.
Seorang pemuda berambut hitam lurus menatap Air dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Kau tidak berubah ya," ucapnya. Lalu menatap tiga kembar dan Ochobot di belakangnya, "siapa di belakangmu?" tanyanya.
Fang berdiri, lalu memperkenalkan satu persatu tiga kembar dan Ochobot.
"Dia Boboiboy Gempa." Gempa menganggukan kepalanya kearah para tamu Fang, "Salam kenal." Ucapnya sopan.
"Lalu Boboiboy Halilintar." Halilintar mengangguk kecil.
"Selanjutnya, Boboiboy Taufan." Taufan melambaikan tangannya, "Salam kenal!" serunya riang.
"Yang terakhir Ochobot." Ochobot mengangguk kecil, "Em… salam kenal.."
Fang lalu beralih pada para tamunya yang menatap empat kembar dan Ochobot dengan antusias.
"Lalu, mereka… para tamuku adalah ketua-ketua dari klan lain." Ucap Fang.
"Yang gadis berambut pendek itu Shan Mei Lin, ketua Klan Shan." Ucap Fang.
Gadis itu tersenyum cerah, "Salam kenaaal! Aduh! Mereka saudara Shui? Berarti pangeran jugaaa~" ucapnya.
Fang menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku gadis itu, "Kemudian, pemuda berambut lurus ini Agata Kyoshiro. Ketua Klan Agata."
"Mei Lin, gak usah kampungan, ah. Malu-maluin," ucap Kyoshiro, lalu menatap kembar Boboiboy dan Ochobot, "salam kenal…" kemudian tersenyum.
"Itu Grania Brita, Ketua Klan Brita." Ucap Fang sambil menunjuk kearah seorang wanita tua.
"Anak muda kurang ajar, sopanlah sedikit pada orang tua." Omel wanita itu pada Fang, "oh, salam kenal tuan-tuan muda Boboiboy." Lanjutnya.
Fang terkekeh.
"Saya Agam Reynand, ketua Klan Reynand." Ucap seorang lelaki paruh baya sambil mengangguk kecil kearah mereka, "Salam kenal." Lalu tersenyum kecil.
Fang tersenyum lebar, "Baiklah, lalu yang terakhir, Linnea Angelica, ketua Klan Linnea." Ucap Fang sambil menunjuk kearah wanita cantik berambut hitam panjang, "kalian harus tahu dia wanita tercantik di negara ini, jadi kapan-kapan ajaklah dia berdansa." Ucap Fang sambil tertawa.
Taufan lalu maju dan mencium tangan wanita itu.
Linnea Angelica, tertawa kecil dan tersenyum saat Taufan berkata padanya, "Berdansalah denganku."
"Dalam rangka apa mengajakku berdansa sekarang?" tanyanya.
Taufan melepaskan tangan wanita itu, "Fang yang menyuruh." Jawab Taufan.
Wanita itu menggerling, "Lebih baik kau tidak mendengarkan makhluk kurang ajar itu, oh ya, dan Fang. sebetulnya aku tidak suka daun muda." Ucapnya.
Fang mengendikkan bahu tidak peduli. Taufan mengerjap.
"Em.. memangnya berapa umur anda?" tanya Taufan.
"Tiga puluh tiga." Jawab wanita itu.
Taufan berjalan mundur, auranya berubah kelam. Para ketua klan itu tertawa.
"Heh, itulah kau, terlalu pede." Celetuk Halilintar sambil tersenyum remeh kearah Taufan.
Taufan menendangnya. Halilintar balas menendangnya. Terus begitu hingga Fang menyuruh mereka semua untuk duduk.
.
"Kalian ingin kami bekerja sama dengan kalian untuk melengserkan kerajaan?" tanya Gempa terperanjat.
Fang mengangguk.
Gempa mengatupkan mulutnya, lalu membukanya lagi, "Kalian sedang tidak bercanda?"
Para ketua klan mengangguk, semuanya tampak serius.
"Kenapa?" tanya Gempa, "Kenapa kalian berniat melengserkan kerajaan?"
"Mereka pantas untuk mendapatkannya, karena mereka sama sekali tidak memperdulikan rakyat, mereka hanya berusaha memperkaya diri mereka sendiri. Rakyat ditindas, terutama rakyat kecil, mereka sengsara." Jawab Kyoshiro Agata.
Shan Mei Lin mengangguk, raut wajahnya tampak sedih, "Aku bahkan harus mendengarkan keluhan orang-orang dari sekitar klan sampai sepuluh kali dalam satu hari. Dan aku hanya bisa membantu mereka sebisaku."
"Sejak awal aku tak menyukai keberadaan mereka, mereka pemberontak, merebut kerajaan, memimpin negeri ini dan menghancurkan penduduknya." Ucap Grania Brita.
"Tapi, sejauh dari daerah-daerah yang aku lewati, aku tak melihat daerah yang…"
"Kau mungkin belum melihatnya secara keseluruhan, nak. Tapi, itulah yang terjadi. Jangan hanya melihat dari luarnya, lihatlah dalamnya juga." Potong Grania Brita.
Gempa terdiam, ia teringat sesuatu, sebuah desa tanpa penduduk dan desa yang terbengkalai yang pernah ia lewati selama perjalanannya. Gempa mengepalkan tangannya. Ia lalu menatap kearah saudaranya dan Ochobot.
Air tampak tak peduli, Taufan tersenyum dan mengangguk kecil, Ochobot menatapnya, Halilintar mengendikkan bahunya dan meliriknya.
"Kau mungkin bimbang, tapi aku akan mengikuti apapun yang kau pilih, Gempa." Ucap Halilintar padanya.
Gempa tersenyum tipis, lalu menatap kearah Fang, "Biarkan aku memikirkannya dulu." Ucapnya.
Fang tersenyum, "Tentu saja, aku menghormati pilihanmu." Balas Fang.
Gempa tertunduk, sekelebat ingatan masa kecilnya membuatnya bertanya jika sang Ayah masih hidup apa yang beliau pikirkan tentang hal ini. Ikut berperang melawan pihak musuh atau hanya menonton dari kejauhan?
Gempa menarik napas dan menghembuskannya.
Ia teringat lagi sosok sang Ayah dalam balutan armornya dan memegang sebuah senjata ditangannya. Gempa membulatkan matanya, menyadari sesuatu.
Pastilah Ayah memilih untuk ikut berperang pada waktu itu. Bukannya mengamankan dirinya ataupun melihat dari jauh.
Gempa mengepalkan tangannya lagi, hingga kuku-kukunya berbekas pada kulit telapak tangannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap seluruhnya yang ada disana.
"Baiklah. Selama yang kita lakukan adalah untuk memperbaiki negeri ini, aku setuju." Ucap Gempa.
Keenam ketua itu tiba-tiba berdiri, lalu berlutut empat kembar. Diikuti oleh para pengawal ketua yang berjaga disana, juga Ying dan Ochobot, serta beberapa pelayan yang ada disana.
"Hormat kami kepada anda, wahai para calon raja yang baru." Ucap Agam Reynand.
Empat kembar terperanjat. Mata mereka sontak melebar.
"E—eh, apa yang kalian lakukan? To-tolong angkat kepala kalian." Ucap Gempa.
Mereka pun mengangkat kepala mereka dan menatap kearah empat kembar.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya Gempa.
"Tentu saja, jika semua masalah negeri ini selesai, kami ingin salah satu dari kalian menjadi Raja negeri ini." Jawab Fang.
Gempa menganga, "Itu tidak mungkin!" serunya.
"Kenapa tidak? Kalian adalah keturunan sah Raja, orang-orang yang berhak menjadi Raja." ucap Linnea Angelica.
Gempa terdiam, ia melirik saudara-saudaranya. Halilintar, Taufan dan Air juga terdiam, menatap kearah Gempa, bingung. Gempa menghela napas, lalu beralih kearah keenam ketua dan tersenyum kearah mereka.
"Untuk sekarang, aku mohon kepada kalian untuk berdiri."
.
.
.
.
Pagi hari berikutnya, para ketua klan tampak bersiap untuk meninggalkan kediaman klan Li.
"Terimakasih sudah mengunjungi kediaman kami." Ucap Ying.
Shan Mei Lin memeluknya, "Terimakasih juga Li Ying!"
"Sesekali berkunjunglah ke Klan ku." Ucap Linnea Angelica.
Ying mengangguk senang. Sebuah tepukan mendarat dikepalanya.
"Klan Agata juga kalau kau mau, Ying. Aku bosan hanya melihat kakakmu terus selama klan Li berkunjung." Ucap Kyoshiro Agata.
Fang mendelik.
Agam Reynand tertawa, lalu menunduk hormat kepada empat kembar. Empat kembar sontak mengangguk kecil kearahnya.
"Kau keponakan Mirajane?" tanya Grania Brita kepada Ochobot.
"E-eh, iya," Jawab Ochobot, "dari mana anda tahu?" tanyanya.
"Mirajane pernah mengatakan nama mu beberapa tahun yang lalu saat kami bertemu." Jawab Grania.
Ochobot terpaku, "Anda mengingat hal sekecil itu?" tanyanya.
Grania Brita mengangguk, "Tentu saja, dia pernah membantuku saat sebuah masalah terjadi di klan ku, aku berhutang kebaikan padanya."
Ochobot tersenyum.
"Semoga kalian selamat di perjalanan." Ucap Fang.
Kelima ketua klan itu pun pamit, satu persatu mulai meninggalkan kediaman klan Li.
.
Setelah kepergian para tamu itu, Halilintar menghampiri Fang.
"Kita lanjutkan pertarungan kita." Ucap Halilintar.
Fang menyeringai, "Baiklah, ayo." Balasnya.
.
.
.
Tbc
Hola! Saya kembali dengan membawa ch 12! Maaf karena membuat kalian semua menunggu! X3
Aduh, lama banget ya, saya ga updet. Kena writer block untuk ff ini sih :') plot ada, ngerangkainya yang bingung :') dan ide cerita baru mulai sliweran di kepala, ah, muter-muter, sudahlah xD
Btw, saya balas review dulu!
Fire Foxs : aku pikir Api bakal muncul ch 14 :)
Annisa AT : kepergian mereka dari kediaman klan li chp selanjutnya, sori :') mm.. kalo udah ketemu Api… aku pikir masih ada konflik lagi (._.) jadi g langsung ending, doakan saya bisa menyelesaikannya :'D makasih uda kasih saya semangat :3
DesyNap : masih klan Li nih~ thanks~
Another Guest : Thanks! :3 Air bakal ikut kok, tenang saja. Dimana Api berada? Ntar tahu kok :3 pasukan Baron? Ntahlah~ aku rasa mereka tidak kembali lagi :3
Guest : iyap, makasiii~ :3
Firda : ch 14 ya~ makasih~ aku juga senang~ maaf ya saya updet lama u,u
Guest : Yaya sudah pernah saya keluarkan (walau Cuma sekilas, maap) n_n
Fajrin : Oke, thanks xD
Tazkya : Api satu chap lagi, hehe :D oke, pertanyaan yang lain setengahnya uda dijawab melalui cerita ch ini/weleh/ saya gak bakal disc kok, tapi lama updet kayaknya mungkin ya xD/digampar/ oke, ini udah lanjut
Tazkya (lagi xD) : Tok Aba gak saya keluarin (._.) Knife Lady, Beard monster, red gemini mungkin bakal muncul mereka, tapi untuk bertarung sama Hali saya belum memikirkannya xD
Azure : thanks uda fav dan follow :3 ini saya udah lanjut (btw, inbox mu dibuka ya) :))
Asih : maap Api belum muncul :') thanks ~
Diffa : Api…. Tinggal sama siapa ya… ntahlah xD tenang saja dia bisa ketemu ama saudaranya nanti kok :D
Guest : iyap, ini udah lanjut.
Rendi : untuk dua-tiga chap ke depan mungkin gak ada perang. Tamatnya sampai ch berapa? Pengen banget yah ini cepet tamat? Hmm… saya gak tahu ini ff sampai ch berapa ._. Saya pernah bilang mungkin di bawah 15 sebelumnya, tapi kalau dipikir2 lagi ini bisa lewat dari 15 ch ._.
Ciko : karena kalau Api muncul di ch 11, gak seru, terlalu terburu-buru, bagi saya lho. :3 santai aja lagi~ makasih untuk semangatnya, wahai pembaca :v haha
Boboiboy Lovers : iyap thanks :3
Hinata-chan : ini udah lanjut :v
ReaderHere : saya sudah memasukkannya ;)
MA : makasiiiii~ sori belum ketemu Api, saya belum nemu kompor, btw/dipatok xD
Oke, thanks buat yang udah review untuk ch kemarin. :3 Thanks juga uda mau baca chapter ini :3
Lalu… boleh saya minta sesuatu? Tolong jangan review menggunakan kata-kata yang bermaksud menyinggung/memaksa/memerintah saya, saya gak terima lho, beneran. Bikin sakit hati, stress, kesel, dan kadang berujung saya malas melanjutkan ff ini.
Walau mungkin kalian menganggap ini lelucon sementara, tolong hargai orang yang sudah bersusah payah membuat sebuah karya. Ini tidak hanya berlaku di ff saya, di ff yang lain juga, oke? (kebetulan saya senang baca review ff lain/hehe/digampar)
Btw, ini untuk sebagian orang aja, kalau anda beneran merasa, saya minta maaf udah menyinggung perasaan. Dan saya senang sekali kalian sudah review ff ini! :3 maaf saya malah ceramah+curhat, hoho
.
.
Sekian, untuk chapter 12 ini~ sampai jumpa di chapter berikutnya~ :3
.-RnR-.
