Langit perlahan berubah. Cerahnya sinar matahari tertutupi oleh awan tebal berwarna gelap. Kyungsoo melirik jam tangan di lengannya. Ia harap Bus yang akan ditumpanginya datang tepat waktu sebelum hujan turun.
Kyungsoo mendengus gelisah. Ia takut sekali hujan akan turun. Bukannya apa, Kyungsoo hanya malas berdesakan-desakan dengan orang di halte yang sempit ini. Saat-saat seperti ini Kyungsoo menyesali pilihannya yang sok pecinta lingkungan untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Padahal ia punya segudang di rumah.
Langit semakin gelap. Bus yang biasa ia tumpangi belum juga terlihat tanda-tanda keberadaannya. Ketika Kyungsoo menoleh ke samping kiri. Ia di kejutkan oleh klakson mobil. Mobil yang warnanya mencolok itu milik siapa lagi kalau bukan Kai?
Sang empu menurunkan kaca. Kyungsoo mendeliknya tajam. "Cepat naik." Perintah anak itu seenaknya.
"Apa?"
"Masuk."
"Tidak, memang aku siapa bisa kau perintah-perintah." Kyungsoo melipat tangannya di depan dada.
"Sssh aku sedang tidak ingin berdebat denganmu saat ini." Tegas Kai terdengar serius. Bus yang di tunggu Kyungsoo sejak tadi akhirnya datang dan membunyikan klakson yang keras pada mobil Kai. Para penumpang juga supir memplototi Kyungsoo.
"Eish." Kyungsoo akhirnya memutuskan masuk ke dalam mobil Kai. Tanpa banyak bicara Kai melajukan mobilnya. Ia tampak berbeda hari ini. Selain mulutnya yang lebih banyak bungkam daripada biasanya. Entah kenapa Kai terlihat keren di mata Kyungsoo hari ini.
"Ah tidak, aku pasti terlalu banyak menatap layar komputer, tugas sialan." Gumam Kyungsoo segera memalingkan wajahnya. Memandang wajah Kai terlalu lama membuatnya sedikit tidak sehat.
Kai tidak terlalu menggubris ucapan Kyungsoo. Ada hal yang lebih penting yang harus ia luapkan. Kai tidak tahu pada siapa. Makanya ia menemui Kyungsoo. Kai memberhentikan mobilnya di pinggir jembatan olimpiade. Salah satu dari beberapa jembatan yang mengelilingi sungai Han.
Di hadapan mereka terbentang sungai luas. Airnya memantulkan aura kesedihan dari langit sendu. Sama sendunya dengan airmuka Kai saat ini. Kyungsoo mengiringinya turun dari mobil. Kai menyenderkan bokongnya pada kap mobil. Kyungsoo menunggunya. Menunggunya mengatakan hal yang ingin diluapkannya.
Kai mulai menghela napas sambil memandang kosong sungai han. "Aku ini anak haram." Gumamnya. Kyungsoo tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia mendekati Kai dan ikut menyandarkan bokong ke kap sedan mahal itu.
"Aku bukan anak Heechul eomma, juga bukan anak ayahku…" katanya lirih. Kyungsoo tercekat. Kai mulai menunduk. Ia tersenyum miris.
"Dan mereka tahu itu, tapi mereka tidak mengatakannya padaku, jahat bukan?" Tanyanya menatap wajah Kyungsoo. Matanya mulai berkaca-kaca. Kyungsoo menggeleng kecil. Tangannya terulur menyentuh bagian belakang kepala Kai dan mengusapnya pelan.
"Kenyataan itu terkadang memang menyakitkan, ada saatnya dimana lebih baik kau tidak mengetahui kenyataan. Itulah mengapa beberapa orang memilih berbohong, bahkan pada dirinya sendiri…" kata Kyungsoo. Kai terdiam. Usapan Kyungsoo terasa sangat lembut. Hangat. Seperti belaian ibunya. Ibu. Jika ia mengatakan ibu, jelas Heechul yang terlintas di kepalanya.
Sejurus kemudian dadanya sesak. Ibu yang selama ini mengasihinya, ibu yang membesarkannya, bukan ibunya. Bukan orang yang melahirkannya. Mereka tidak berbagi darah. "Menangislah kalau menangis membuatmu menjadi lebih baik." Kata Kyungsoo menyentuh pipi Kai. Begitu saja airmata jatuh di pipinya.
Kai langsung menarik Kyungsoo kedalam pelukan. Kyungsoo sempat terkejut. Tapi ia tidak bisa bergerak. Kai memeluknya dengan erat dan membenamkan kepalanya pundak Kyungsoo. Dada mereka saling menempel. Kai jelas pasti bisa merasakan degupan jantung Kyungsoo yang detaknya tidak karuan.
Tangan Kyungsoo bergerak dengan sendirinya melingkar di tubuh laki-laki muda ini. Menepuk-nepuknya, mengusapnya untuk memberikan semangat. Cukup lima menit, Kai melonggarkan pelukannya. Kyungsoo menatap mata sembabnya. Ia mengusap kedua pipi basah itu dengan jempolnya.
"Bayi besar." Katanya dengan senyuman menggemaskan. Kai tersipu. Menyadari apa yang dilakukannya, Kyungsoo ikut tersipu. Kyungsoo membuang pandangannya. Kai menarik dagu Kyungsoo agar menatapnya lagi.
"Pilihanku benar, bersamamu aku selalu merasa lebih baik," Katanya dengan suara yang dalam. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya. Langit mendung perlahan memudar tanpa turunnya hujan. Cahaya matahari berwarna jingga mulai menyinari mereka.
"Teruslah bersamaku." Lanjut Kai. Kyungsoo kehilangan kata-kata.
.
.
.
Baekhyun sesekali menggaruk kepalanya. Bukan karena gatal melainkan karena sejak tadi ia mencoba memahami buku kuliahnya. Bahasa yang digunakan dalam buku ini terputar-putar. Baekhyun sudah membaca tiga paragraph yang sama lima belas menit terakhir tapi tidak juga menemukan inti teorinya.
Di percobaan membaca ke lima belas kalinya, padangan Baekhyun tiba-tiba gelap. Baekhyun mengira mati lampu tapi ternyata pandangannya di tutup sebuah tangan besar. Berbau kimbab daging. Baekhyun menggerakkan sikutnya ke belakang.
"AKh." Perkiraannya benar. Sikut itu tepat mengenai perut Chanyeol. Seisi perpustakaan serentak mendesis memperingatkan Chanyeol agar tidak berisik. Baekhyun memutar tubuh dan mendongakkan kepalanya tersenyum miring. Chanyeol mendumel kesal.
Chanyeol lalu menarik kursi di samping Baekhyun. "Sedang apa?" tanyanya setengah berbisik. Baekhyun menunjuk buku dan menatap Chanyeol seolah-olah mengatakan 'Menurutmu?'. Chanyeol membalasnya dengan cengiran lebar.
"Sudah musim ujian ya." Katanya menatap sekeliling. Musim-musim seperti ini perpustakaan mendadak ramai. Selain tujuannya belajar, perpustakaan memilki alat penghangat yang berfungsi dengan baik. Sehingga berlama-lama di dalam sini tidak akan membuatmu flu meskipun cuaca di luar suhunya mencapai minus derajat.
"Kau sendiri, tidak belajar?" tanya Baekhyun. Chanyeol menepuk-nepuk buku tebal di hadapan Baekhyun.
"Tanpa perlu membacanya aku sudah mengetahui semua isi buku ini." Ucap Chanyeol congkak. Baekhyun mencibir. Ingin sekali ia menjejalkan buku itu ke mulut Chanyeol.
"Oh, kalau begitu kau bisa mengerjakan soal kurang dari sepuluh menit?" tanya Baekhyun lagi.
"Sebelum lima menit pun bisa." Jawab Chanyeol percaya diri. Baekhyun tiba-tiba tersenyum misterius. Membuat Chanyeol merinding. Baekhyun biasanya tersenyum seperti itu kalau ia sedang merencanakan rencana jahat.
"Nah, ujian nanti kau kerjakan dulu punyamu, secepatnya. Setelah itu kerjakan punyaku, hanya untuk matakuliah operasi dan analisa keuangan saja kok. Mau ya?" tawar Baekhyun langsung menatap Chanyeol dengan senyuman super manis.
Chanyeol pura-pura berpikir. Beberapa detik kemudian ia menjentikkan jari. "Call, tapi ada syaratnya." Kata Chanyeol. Baekhyun mendengus.
"Apa?" tanyanya malas. Chanyeol tersenyum miring. Ia menggenggam tangan Baekhyun.
"Ayo pergi kencan." Ajaknya. Baekhyun tersenyum malu-malu.
"Tentu saja, ayo!" sahutnya semangat.
.
.
.
Berakhirlah sepasang anak muda itu di kebun binatang. Baekhyun berseru senang. Ia sangat suka ke kebun binatang. Semua binatang itu sangat lucu di mata Baekhyun. Bahkan ular sekalipun. "Panda!" serunya mendekati kaca pembatas kandang panda.
Chanyeol mengiringinya. Baekhyun menatap panda-panda itu berbinar. Sementara Chanyeol heran pada sikap Baekyun. Maksud Chanyeol, apa sih yang menggemaskan dari hewan berbulu putih dengan corak hitam di lingakaran mata dan perut. Lalu duduk malas sambil mengunyah batang bamboo dan berguling-guling di rumput.
"Dua tahun sekali papa merayakan imlek di kampung halamannya, kebetulan satu kota dengan pusat suaka satwa panda, papa selalu membawaku ke sana." Kata Baekhyun menatap panda itu bernostalgia. Masa kecilnya yang bahagia. Di besarkan sendiri oleh papa. Baekhyun tidak pernah lagi mengingat sosok Eomma. Dan ia tidak butuh. Cukup dengan papanya saja Baekhyun sudah bahagia.
Iya, cukup dengan papa. Tidak ada yang lain. Tanpa gangguan siapapun. Baekhyun pun tersenyum. "Kau sangat mencintai papamu." Komentar Chanyeol.
"Tentu saja, papa adalah segalanya untukku." Sahut Baekhyun. Chanyeol tiba-tiba mendecak cemburu.
"Bagaimana denganku?" tanyanya serius. Baekhyun menoleh menatapnya. Chanyeol menatapnya lurus. "Aku tidak pernah mengenal cinta seumur hidupku. Keluargaku hanya mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengharapkan hidup dari cinta, aku percaya hal itu sampai lima belas tahun yang lalu aku jatuh cinta padamu,"
Baekhyun diam membiarkan Chanyeol meneruskan. "Waktu itu kita memang masih sangat kecil, tapi cinta anak kecil lah yang murni, kau tahu, butuh perjuangan besar untuk menemukanmu dan mendapatkanmu kembali… itu aku, tapi aku tidak tahu denganmu, perasaanmu yang sebenarnya, apakah kau mencintaiku tulus, apakah kau mencintai anak kecil gendut berkacamata atau aku yang sekarang, aku tidak tahu."
Baekhyun tersenyum tipis. Ia melangkah mendekati Chanyeol dan mendongak menatap wajah gelisahnya. "Aku memang mencintai papa, juga kamu. hanya saja tipe cintanya berbeda, aku sayang papa karena papa berbagi darah yang sama denganku, tanpa dia aku tidak akan pernah lahir di dunia ini, tapi kalau kamu…" Baekhyun menangkup wajah Chanyeol.
"Kita berbagi kenangan, kita juga berbagi hati. Tidak peduli mau Chanyeol yang gendut berkaca mata atau Chanyeol yang tinggi dan tampan seperti sekarang, aku mencintai keduanya, aku mencintai hatimu, selama hatimu tidak berubah, aku akan terus mencintai Park Chanyeol." Baekhyun mengecup jemarinya lalu menempelkan jemari itu di bibir Chanyeol.
Chanyeol tersipu. Heran. Kali ini malah dia yang tersipu. "Eishh bisa saja bisa saja…" katanya menarik Baekhyun ke dalam pelukan dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Baekhyun tertawa geli.
"Jadi sekarang… kita pacaran?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja!" sahut Chanyeol berseru. Pengunjung lain sampai menolehkan kepala.
"Hey, lihat kami pacaran!" serunya norak.
"Yak! Jangan norak!" Kesal Baekhyun memukul dada Chanyeol membuat Chanyeol tertawa geli dan kembali memeluknya.
"Habis ini apa?" tanya Baekhyun lagi.
"Bagimana kalau menikah?" Baekhyun terkena serangan jantung.
"M-maksudku sekarang! Kita mau pergi kemana?"
"Enaknya makan masakan ayah mertua." Pandangan Chanyeol terbang ke restaurant favoritnya akhir-akhir ini. Restaurant Hankyung tentunya. Baekhyun mencibir cara Chanyeol memanggil papanya. "Kajja!" Chanyeol merangkul tubuh mungil kekasihnya. Baekhyun memeluk pinggangnya tanpa malu. Buat apa malu, pacar sendiri kok?
.
.
.
Decitan pintu kaca restaurant selalu membuat Donghae refleks berdiri dan membungkuk. Kali ini sebelum ia benar-benar membungkuk, Donghae menatap sinis. Heechul di hadapannya berdiri dengan angkuh seperti biasa.
Ngapain sih nenek sihir ini datang lagi. Batin Donghae. Namun ia berusaha professional. "Untuk meja berapa orang?" tanyanya sopan. Heenim mendelik. Ia heran kenapa Donghae bersikap formal begitu padanya.
"Aku ingin bertemu Hankyung." Ucapnya. Donghae hampir mendengus kesal. Ia masih mencoba tersenyum lembut.
"Maaf tapi beliau sedang sibuk." Kata Donghae.
"Aku akan menunggu." Heechul bersikeras.
"Tidak perlu, karena dia sedang berada di luar kota, menunggunya bisa membuang-buang waktu anda yang berharga, jadi lebih baik anda pulang saja." Usir Donghae halus. Heechul meremas tas tangannya. Ia tampak kesal tapi masih mencoba menahan amarahnya.
"Baiklah, aku akan kembali nanti." Kata Heechul berbalik keluar dari restaurant. Seperginya Heechul, Donghae mendecih kesal. Hankyung yang sejak tadi mengintip dari jendela dapur menghela napas lega.
"Eish dasar wanita keras kepala." Gumamnya. Tak lama pintu kaca kembali terbuka. Baekhyun melangkah masuk dengan wajah kesal. Donghae yakin ia habis berpapasan dengan wanita itu di luar. Di belakangnya laki-laki setinggi tiang listrik berjalan mengiringinya. Akhir-akhir ini laki-laki itu sering sekali datang kesini. Padahal statusnya masih belum jelas, tiap kali Donghae bertanya apakah laki-laki bermarga Park itu pacarnya, Baekhyun selalu berkilat.
"Apa yang di lakukannya?" tanya Baekhyun langsung pada Donghae. Donghae menggedikkan bahu.
"Seperti biasa, dia mencari Han Hyung." Kata Donghae.
"Mereka bertemu lagi?" tanya Baekhyun dengan nada sinis. Donghae menggeleng.
"Tidak, bukan kah ayahmu tidak mau bertemu dengannya lagi?" Donghae balik bertanya. Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Papa bilang begitu?" tanyanya balik lagi. Donghae mengangguk.
"Waktu itu, waktu kau berteriak di wajah wanita itu dan pergi dari restaurant ayahmu langsung mengusirnya. Tapi dia sangat keras kepala, tadi saja dia bilang akan datang lagi. Entah apa yang di carinya." Sahut Donghae. Baekhyun mengangguk-ngangguk. Baekhyun kira Hankyung membela wanita itu. Ternyata salah besar.
"Katanya, Dia ingin mencari kedamaian." Hankyung muncul dengan seragam kokinya. Baekhyun menatap ayahnya heran. Begitu juga dengan Donghae dan Chanyeol.
"Kedamaian?" ulangnya. Hankyung mengangguk. Matanya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Heechul mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca menatap Hankyung. Hankyung hanya bisa menghela nafas menepuk pundak Heechul. "maafkan aku." Ucap Hankyung. Heechul mengeleng pelan sambil mengusap air matanya.
"tidak, ini salahku, aku datang kesini untuk minta maaf tapi.." perkataan Heechul terpotong, ia menangis di hadapan Hankyung lagi setelah sekian lama. Dan itu adalah salah satu kelemahan Hankyung.
Hankyung langsung menggiring Heechul menuju dapur dan mendudukan Heechul di kursi yang di tariknya. Ia ikut menarik kursi di hadapan Heechul dan memberikan tisu pada Heechul. "stts sudah jangan menangis." Ucap Hankyung lembut. "anak itu memang keras hati, juga keras kepala, maafkan dia ya?" lanjut Hankyung lagi.
"padahal aku datang kesini untuk minta maaf.." ucap Heechul di sela-sela isakannya. Hankyung mengangguk, "iya aku tau, tapi mungkin tidak sekarang, kau lihat sendirikan tadi?" Heechul mengangguk.
Hankyung berdiri dan menyerahkan tisu juga air minum untuk Heechul. "kalau kau sudah selesai, kau bisa pulang, dan kembalilah lagi jika menurutmu waktunya sudah tepat." Hankyung mencoba membuat Heechul pergi secara halus.
Mantan istrinya itu malah menggeleng. "Tidak, inilah waktu yang tepat, Han. Aku tidak bisa berlama-lama lagi, sudah belasan tahun aku hidup dalam kesengsaraan batin. Hidupku selalu di hantui rasa bersalah, hidupku baru akan tenang kalau kalian mau memaafkanku." Katanya. Hankyung menaruh gelas air minum. Bibirnya mengatup. Rahangnya mengeras.
Mereka diam cukup lama. "Han…" Panggil Heechul.
"Seenak itu kau mengharapkan maaf dari kami?" tanya Hankyung dengan nada yang dingin. Pembawaannya yang lembut tadi mendadak berubah. "Aku bersikap baik padamu bukan berarti kau bisa seenaknya lagi terhadapku." Ucap Hankyung menekan kata 'lagi' dalam kalimatnya.
Heechul terdiam. Ia menatap Hankyung tidak percaya. "Lima belas tahun yang lalu, kau memintaku untuk melepaskanmu, aku lepaskan bukan semata-mata terpaksa Heechul, tapi aku memang ingin melepaskanmu. Hidup denganmu sama dengan hidup di neraka, Baekhyun tidak pantas punya ibu sepertimu, kau lihat sendiri dia bisa tumbuh dengan baik karena siapa? Karena aku. Dan aku telah membuktikan padamu aku bisa membesarkan Baekhyun seorang diri. Lalu restaurant ini…" Hankyung menunjuk sekitarnya.
"Ini adalah bukti bahwa, apa yang kau katakan lima belas tahun lalu adalah kesalahan besar, Heechul. Aku mendapatkannya dengan darah dan keringatku sendiri. Aku dan Baekhyun telah melalui banyak masa-masa sulit. Perasaan yang menghantuimu itu adalah karma atas perbuatanmu di masa lalu. Dan kau pantas mendapatkannya. Apa kau mengerti sekarang?" lanjut Hankyung menatap Heechul tajam. Tidak peduli wanita itu melelehkan air mata atau melempar gelas yang ada di meja.
"Sampai aku kembali terlahir di dunia ini lagi pun aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku tidak akan membiarkanmu hidup damai. Sekarang pergi dari sini, ini bukan tempatmu, dan jangan pernah menampakan wajahmu lagi." Hankyung merapikan apron kokinya dan berbalik menuju dapur.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
