Penulis: ksomm814

Penerjemah: Mini Marauder

Harry Potter series © JK Rowling

Informasi selengkapnya, kembali ke Bab 1.


Bab 12 The Marauder's Map

Sisa akhir minggu rasanya berlangsung lama. Setelah Madam Pomfrey menyembuhkan Harry sepenuhnya, dia bersikukuh Harry menginap sampai Senin pagi. Harry tidak menolak. Dia sendiri tidak ingin bicara banyak tentang apapun. Dia terlalu patah hati kehilangan sapunya dan memori tentang jeritan ketakutan ibunya lagi. Dia belum bercerita kepada siapapun soal mendengar ibunya dan Voldemort, tetapi dia tahu semua curiga. Lagipula, seseorang duduk di ambang jendela, memandangi halaman lama sekali, cukup membuat semua orang khawatir.

Para penjenguk terus datang tanpa henti, tetapi Harry hanya memberi jawaban atas semua pertanyaan mereka dengan satu kata. Itu kalau dia memang menjawab semua pertanyaan itu. Guru-guru bahkan ikut mencoba mengangkat semangat Harry, tetapi sia-sia. Banyak yang mengira Harry depresi atau semacamnya. Tetapi semua, yang mengenal Harry dan melihat kepedihan di matanya, tahu bukan itu kasusnya. Ron, Hermione dan Ginny pernah melihat ekspresi semacam itu di kereta yang membawa mereka ke Hogwarts, setelah kejadian yang melibatkan Dementor.

Masalahnya, tidak seperti sebelum-sebelumnya, Harry tidak punya teman bicara. Dia tidak mau membebani Ron dan Hermione dengan ini, juga guru-guru yang lain. Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Profesor Lupin tahu apa yang harus dikatakan, tetapi Harry masih sakit hati untuk memikirkan opsi mendatangi dia. Harry mulai bisa mempercayai laki-laki itu lagi setelah tahu Lupin tahu tentang Midnight, yang sebetulnya juga Sirius Black, hanya untuk tahu bahwa kepercayaannya itu ternyata bertepuk sebelah tangan. Profesor Lupin tidak pernah mempercayainya, jadi mengapa dia harus mempercayai Profesor Lupin? Mengapa dia harus mempercayai seseorang?

Tidur di malam hari menjadi tidak mungkin. Setiap kali Harry memejamkan mata, dia langsung ditarik oleh permohonan ibunya, tawa sinting Voldemort dan hawa dingin intens Dementor. Madam Pomfrey memperhatikan Harry enggan tidur, sehingga memintanya meminum Ramuan Tidur-Tanpa-Mimpi. Harry lega, tetapi dia tahu langkah ini bersifat sementara. Dia tahu mimpi-mimpi buruknya sangat mengganggu karena dia tidak bisa melakukan apapun selain mendengarkan suara-suara. Sekali lagi, dia tidak berdaya.

Kembalinya dia mengikuti pelajaran-pelajaran di hari Senin, setidaknya memberi sedikit distraksi dan pergantian pemandangan. Karena Gryffindor memenangkan pertandingan, Malfoy berujung mengejek Harry soal Dementor dan jatuh dari sapu. Masalahnya, tidak semua orang tertawa bersamanya. Harry tampak sangat lelah dan masih murung. Dengan semua orang mengetahui efek yang diberikan Dementor, mereka mengira-ira kali ini efeknya lebih dahsyat dari sebelumnya.

Ron dan Hermione menyerah memancing informasi dari Harry dan memutuskan tetap di sisi Harry, siapa tahu dia ingin bicara. Harry tahu dia tidak boleh menarik diri dari semua orang, tetapi dia tidak bisa tidak begitu. Seakan memang dia harus begitu. Semua orang berbohong kepadanya. Midnight—er—Sirius Black berbohong soal dia bisa berubah menjadi seekor anjing. Profesor Dumbledore berbohong tentang bagaimana kedua orangtuanya meninggal. Profesor Lupin berbohong… well, lebih ke enggan mengatakan yang sebenarnya, tetapi sama saja.

Setidaknya bagi Harry sama saja.

Sampai di ruang kelas Pertahanan, Harry baru akan masuk ketika Ron menariknya mundur. "Kurasa aku tidak tahan kalau Snape yang mengajar," kata Ron. "Setuju, kan, Harry?"

Harry hanya mengangkat bahu dan masuk kelas dan melihat bahwa Snape bukan yang mengajar. Harry tidak tahu harus merasa apa. Benar, Snape adalah orang menyebalkan yang suka bias. Tetapi melihat Lupin hanya mengingatkannya pada sakit hati yang dia berusaha sembunyikan.

Profesor Lupin masih tampak sakit dan makin kurus. Sekarang, terlalu banyak kebetulan untuk diabaikan. Profesor Snape mengenalkan topik Manusia Serigala untuk sebuah alasan: agar para murid sadar siapa sebenarnya Profesor Lupin.

Murid-murid, sayangnya, terlalu sibuk memprotes apa yang Profesor Snape berikan pada mereka. Profesor Lupin tersenyum melihat kemarahan mereka sampai dia sekilas memandang Harry dan menemukan tanggung jawabnya itu menghindari kontak mata. Bukan pertanda bagus. Setelah protes-protes itu sampai ke ronde dua, Profesor Lupin mengambil kendali kelas dengan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak perlu menyelesaikan tugas dari Profesor Snape. Anak-anak langsung lega, kecuali Hermione yang tampak kecewa karena sudah menyelesaikan tugas itu.

Mereka lalu membahas Hinkypunks. Gryffindor mendapatkan kembali angka-angka yang hilang berkat Snape di pelajaran Pertahanan yang lalu. Begitu bel berbunyi, anak-anak bergerak menuju pintu. Harry tahu dia harus keluar dari kelas sebelum emosinya meledak-ledak, tetapi sayangnya, Profesor Lupin tidak membiarkannya pergi dengan mudah.

"Harry, boleh aku bicara sebentar denganmu?" panggil Profesor Lupin.

Harry menghela napas dan berdiam di tempatnya, selagi semuanya pergi. Dia berputar di tempat dan perlahan bertemu dengan tatapan lelah Profesor Lupin. Dia benar-benar tidak ingin bicara apapun di sini, sekarang. Dia tidak mau bicara soal akhir minggu lalu. Dia hanya ingin sendiri.

"Aku ikut menyesal mengenai sapumu, Harry," kata Profesor Lupin, sambil memenuhi tas kopernya dengan buku-bukunya. "Profesor Dumbledore memberitahuku tentang kejadian Dementor. Apa kau mengalami reaksi yang sama seperti yang kau alami di kereta?"

Harry berpaling. "Saya tidak ingin membicarakan ini, Profesor," katanya, tegang.

Profesor Lupin terhenyak mendapati nada bicara Harry. "Harry, ada apa?" dia bertanya, seraya mendekat. "Kau tahu kau bisa memberitahuku apa saja, apa saja."

Harry menggeleng pelan. Dia ingin berteriak, tetapi menahan diri. Dia ingin mengerti mengapa semua orang berbohong kepadanya. "Tidak lagi," gumam Harry, lalu mendongak memandang Lupin. "Akhir minggu ini rasanya panjang sekali. Hanya itu, Profesor. Jadi, kalau tidak ada lagi urusan yang lain…."

Profesor Lupin mengulurkan tangan untuk menjangkau bahu Harry, tetapi Harry melangkah mundur, menjaga jarak. "Apa salahku, Harry?" dia bertanya, hati-hati. "Aku minta maaf aku tidak bisa menjengukmu kemarin. Aku sedang sakit waktu itu."

Bohong! Tidak bisa menahan diri lagi, Harry mencabut esainya tentang Manusia Serigala dari tasnya. Dia membanting dua rol perkamen itu di meja di kanannya. "Esai saya, Profesor," katanya, marah. "Tolong pastikan Profesor Snape membacanya. Saya tahu beliau akan kesal kalau tidak ada yang tahu alasan sebenarnya mengapa beliau mengangkat topik Manusia Serigala."

Mata Lupin melebar, wajahnya pucat pasi. "Harry… aku…."

Harry tidak memberinya kesempatan. "Kau berbohong kepadaku!" dia menjerit, tidak sadar benda-benda di ruangan mulai bergetar. "Aku mempercayakan semuanya kepadamu dan kau berbohong kepadaku! Semua orang berbohong kepadaku! Aku pikir kau berbeda!"

Beberapa kaca meledak, pecah. Lupin secara insting mengangkat tangannya ke kepala, melindunginya dari pecahan-pecahan kaca. Tidak merasa terkena sesuatu, dia menurunkan lagi tangannya dan melihat air mata membanjiri wajah Harry. "Harry, dengarkan aku…" katanya, waspada. "Maafkan aku tidak memberitahumu. Aku takut. Aku takut kau akan takut kepadaku. Aku tidak mau kehilangan kamu. Hanya kamu yang aku punya sekarang ini."

Harry jatuh berlutut dan membenamkan wajahnya ke tangannya. Ini sudah keterlaluan. Semuanya berkelebatan diluar kontrol: Sirius Black, Dementor, Keluarga Dursley, jeritan ibunya, lengking tawa Voldemort… suara tidak manusiawi itu, dan kebenaran tentang Profesor Lupin. Mengapa semua ini harus terasa sulit? Ini tidak adil!

Profesor Lupin bergegas menghampiri sisi Harry dan merengkuh anak remaja itu ke dadanya. "Tidak apa-apa, Harry," katanya, lirih. "Semua akan baik-baik saja. Keluarkan semuanya."

Profesor Lupin baru bergerak ketika Harry pingsan kelelahan. Dia harus mengakui bahwa dia marah. Tidak, marah sekali. Severus Snape tidak berhak melakukan apa yang dia lakukan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memperbaiki kekacauan ini dan bagaimana membuat Harry mempercayainya lagi.

Mengetahui Harry membutuhkan istirahat lebih dari apapun, Lupin membawa Harry ke kuarternya dan membaringkan Harry di tempat tidurnya. Dia melepas kacamata dan sepatu Harry, sebelum menyelimutinya. Setelah dia yakin Harry dalam posisi nyaman, Remus pergi ke perapian untuk membuat dua panggilan: satu untuk Albus Dumbledore, satu untuk Severus Snape.


"KAU TIDAK PUNYA HAK!"

Suara keras itu sontak membangunkan Harry dari tidur. Dia tidak perlu membuka mata untuk tahu dimana dia berada. Tempat tidur empuk dan aroma ruangan cukup memberitahu Harry bahwa dia ada di kamar tamu Profesor Lupin; ruangan tempat Harry tidur selama hampir sebulan sepanjang musim panas. Hal terakhir yang Harry ingin lakukan adalah bangun. Sakit kepala mendentum-dentum di balik tengkoraknya, dan dia masih sangat kelelahan. Mengapa dia merasa lelah sekali?

"Bukan salahku kalau kau tidak kompeten," kata Snape, dingin. "Kelasmu ketinggalan pelajaran. Guru lain, siapapun, pasti akan melakukan hal serupa."

Tidak butuh orang jenius untuk tahu Profesor Lupin dan Profesor Snape bertengkar di ruang sebelah, mengingat apa yang baru saja terjadi di ruang kelas Pertahanan. Harry ingin bangun dan memberitahu kedua gurunya agar diam, tetapi bergerak sedikit saja sudah menambah parah sakit kepalanya. Mengapa kepalanya sakit sekali? Tidak masuk akal.

"Tidak, mereka tidak akan melakukan itu!" Profesor Lupin berkata keras. "Kau jangan beraninya mengelak! Kau membahas topik Manusia Serigala untuk satu tujuan semata, yaitu agar semua orang tahu! Harry tahu!"

"Harry tahu?" tanya Profesor Dumbledore."Severus, aku pikir aku sudah menjelaskan semuanya. Harry saat ini sedang rapuh. Dia membutuhkan seseorang yang bisa dia percaya. Terserah Remus akan memberitahu Harry atau tidak, tentang kondisinya."

Harry mengerang kesakitan ketika dia mencoba duduk. Dia mengabaikan pusingnya dan memejamkan mata selagi berjalan menuju pintu. Dia ingin mereka semua berhenti bertengkar. Dia ingin kepalanya berhenti berdenyut-denyut.

"Oh baiklah, mari kita semua memanjakan Potter," Snape mencibir.

"Cukup, Severus," Dumbledore memperingatkan. "Tunggu aku di kantorku. Aku akan bicara denganmu nanti di sana."

Keheningan menyela. Harry berasumsi Snape pergi melalui perapian karena kalau dia melewati pintu, dia pasti sudah membanting pintunya keras-keras. Saking kerasnya, seluruh penghuni kastil bisa kaget mendengarnya. Mencapai dinding, Harry mencari-cari pegangan pintu dengan rabaan, lalu berhenti sejenak ketika pusingnya bertambah intens.

"Harry bagaimana?" tanya Profesor Dumbledore dengan nada perhatian.

"Marah," jawab Lupin tanpa basa-basi. "Dia tidak mempercayaiku lagi. Aku tahu ini ide buruk. Seharusnya aku tidak pernah setuju mengambil pekerjaan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau Harry membenciku, Dumbledore. Kepercayaan darinya itu sangat sulit didapat. Aku tidak tahu bagaimana aku memperbaiki semua ini."

"Jujurlah kepadanya," Dumbledore menasehati. "Harry dibesarkan bersama Muggle. Jadi, dia tidak tahu apa yang kaualami selama bertahun-tahun. Apa ada orang lain yang mungkin mengetahui soal ini?"

"Mungkin Hermione," kata Lupin. "Dia satu-satunya selain Harry yang menyelesaikan tugas dari Snape."

Tidak bisa memfokuskan diri lebih lama lagi, Harry ambruk. Dia mendengar bunyi pintu dibuka, disusul dua orang membantunya kembali ke kasur. Harry hanya bisa menduga mereka adalah Lupin dan Dumbledore. Setelah membuka matanya separo dan melihat bayangan-bayangan figur, memang betul itu mereka.

"Aku akan memanggilkan Poppy," kata Dumbledore, lirih. "Jagai dia agar tetap tenang, Remus."

Lupin terus memperhatikan Harry begitu Kepala Sekolah meninggalkan ruangan. Dia bisa melihat remaja itu berusaha menjaga kesadarannya, meski dengan ekspresi kesakitan menyampuli wajahnya. Agak ragu, Profesor Lupin menangkupkan telapak tangannya ke dahi Harry, tetapi tidak menemukan tanda-tanda demam. "Aku tidak tahu bagaimana agar kaupercaya, aku benar-benar minta maaf, Harry," katanya, pelan. "Aku tidak pernah berharap kau tahu dengan cara ini. Aku hanya mencoba melindungimu. Kupikir, kalau kau tahu soal sisi gelapku, kau akan takut kepadaku."

Harry tidak punya tenaga untuk menjawab. Dia perlahan menutup dan membuka lagi matanya, terus memandangi sebentuk bayangan kabur yang adalah Profesor Lupin. Mengapa laki-laki itu harus takut? Hal itu tidak masuk akal. Dia tahu Manusia Serigala dianggap makhluk-makhluk jahat, tetapi Parseltongue dianggap sebagai kemampuan jahat. Kalau Lupin tidak mengakui Harry jahat, mengapa Harry harus mengakui Lupin jahat?

Sebuah ketukan di pintu membuat Profesor Lupin menoleh melalui bahunya. Madam Pomfrey melangkah masuk dengan cepat, diikuti Dumbledore. Profesor Lupin menyingkir dan membiarkan Pomfrey melambaikan tongkat sihirnya ke sekujur tubuh Harry dan memekik tertahan. "Ya Tuhan, Potter!" dia berseru. "Bagaimana kau masih bisa sadar?!"

"Ada apa?" desak Profesor Lupin.

Madam Pomfrey mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya. "Sakit kepala, Profesor," katanya, seraya membuka tutup botolnya. "Sangat parah, tetapi tidak membahayakan nyawa." Dia memposisikan kepala Harry agar memandang langit-langit dan membuatnya menengadah. "Buka mulutmu, Potter."

Dia menurut dan meringis ketika rasa tidak enak Ramuan menuruni tenggorokannya. Rasa sakitnya mulai berkurang ketika Harry terlelap tidur.


Pada momen berikutnya Harry bangun, Profesor Lupin ada di samping tempat tidurnya. Setelah Harry makan, Lupin menjelaskan segalanya mulai dari bagaimana Manusia Serigala diperlakukan di dunia sihir. Setelah mendengar deskriminasi dan kepercayaan kolot, Harry tidak terkejut kalau Profesor Lupin menyembunyikan 'kondisi'-nya.

Pada akhirnya, baik Harry maupun Profesor Lupin menyadari bahwa mereka berdua ternyata lebih mirip terhadap satu sama lain lebih dari yang pertama kali mereka duga. Mereka sama-sama dipandang dan dinilai karena sesuatu yang berada di luar kontrol (Harry sebagai Anak-Yang-Bertahan-Hidup dan Lupin sebagai Manusia Serigala). Tidak ada orang yang pernah melihat siapa mereka sebenarnya, lepas dari gelar itu. Dan mereka berdua sama-sama pernah berada dalam kesendirian.

Setelah mendengar semuanya dari sudut pandang Profesor Lupin, Harry meminta maaf berkali-kali atas luapan emosinya. Lupin memaafkannya dengan enteng, sama sekali tidak menyalahkan Harry barang sedikit. Mereka mengobrol sampai dini hari, sebelum mereka berdua memutuskan tidur. Harry memberitahu Profesor Lupin bahwa dia mendengar ibunya dan Voldemort di Pertandingan Quidditch lalu, sedangkan Lupin mengungkapkan kisah ketika dia digigit Manusia Serigala sewaktu kecil. Segalanya belum kembali seperti sedia kala, tetapi ada perkembangan pesat.

Akhir minggu berikutnya datang dengan cepat. Alasan Profesor Lupin dan Harry akan membahas tentang orangtuanya, cukup membuat Ron dan Hermione setuju membiarkan Harry pergi bersama Profesor Lupin setelah jam makan siang. Profesor Dumbledore datang tak lama kemudian. Kemudian selama tiga jam berikutnya, Harry berlatih Mantra Patronus sampai Harry sekali lagi membebani Mantra-nya, tetapi tidak separah sebelumnya. Harry mengalami kemajuan. Kabut perak yang keluar dari tongkatnya mulai tampak jelas, namun belum mengambil bentuk. Profesor Lupin benar. Menguasai Mantra Patronus memang sulit.

Pertandingan Quidditch di akhir November menampilkan Ravenclaw yang membantai Hufflepuff, menjadikan Ravenclaw di puncak klasemen. Hal ini mendorong Oliver menciptakan strategi yang benar-benar baru untuk memastikan mereka memenangkan Piala Quidditch. Latihan-latihannya sangat melelahkan dan keras, di bawah hujan yang membekukan, yang sepertinya tidak akan berhenti bahkan sampai Desember. Seluruh anggota tim meniru kebiasaan Harry mengenakan Mantra Penghangat agar mereka tidak mati kedinginan.

Harry menyelesaikan belanja Natal melalui katalog dengan bantuan Profesor Lupin. Daftar hadiahnya sekarang lebih panjang, mengingat dia punya keluarga baru. Sulit sekali menentukan apa yang cocok, tetapi Harry merasa harus menunjukkan rasa terima kasih kepada mereka yang memberikan banyak hal kepadanya. Dia berbelanja Natal secara sembunyi-sembunyi, karena tidak ada murid yang akan bisa memahaminya.

Dengan datangnya hari libur, hampir seluruh isi kastil pulang, tetapi Ron dan Hermione tetap tinggal. Harry mencoba meyakinkan teman-temannya itu bahwa dia tidak masalah kalau mereka ingin pulang, tetapi mereka bersikukuh. Ron mengaku tidak tahan bersama Percy di The Burrow selama dua minggu, sedangkan Hermione beralasan ketinggalan materi untuk mengerjakan PR dan butuh mengejar semua ketertinggalannya. Lega dia akan menghabiskan libur bersama orang-orang sepantaran, Harry tidak melawan alasan-alasan itu. Dia menerimanya saja.

Ada kunjungan terakhir ke Hogsmeade di akhir minggu terakhir semester ini, yang kebetulan bersamaan dengan pelajaran Patronus. Jadi, Harry tidak terlalu kecewa dibuatnya. Patronus-nya perlahan mulai memadat, meski belum ada yang bisa melihat bentuknya. Kebiasaannya membebani Mantra mulai berkurang, yang mana melegakan bagi semua yang hadir di ruangan.

Di pagi hari dimulainya rekreasi ke Hogsmeade, Harry berpisah dengan teman-temannya, lalu melihat-lihat majalah Sapu Terbang yang Mana yang dia pinjam dari Oliver, dengan harapan menemukan sapu terbang pengganti Nimbus 2000-nya. Selama ini dia memakai sapu terbang sekolah yang sudah tua, lambat pula. Dia jelas tidak bisa menggunakan sapu itu di Pertandingan berikutnya, kecuali ingin kalah.

Hari masih sangat pagi, sehingga mengherankan ketika dia mendapati si Kembar Weasley duduk di seberang meja, berpakaian rapi dan siap berekreasi ke Hogsmeade. "Hei, Harry," kata Fred. "Kami sepakat memberimu hadiah Natal lebih awal."

Harry memandang mereka skeptis. "Er—entahlah," katanya. "Aku ingat jelas hadiah terakhir yang kalian berikan ke Ron."

Fred san George nyengir bangga. "Agak amatiran, tapi waktu itu kami terjepit oleh waktu," kata George. "Yang ini sama sekali tidak seperti itu. Percaya padaku, kau akan menyukainya." Dia menarik keluar sebuah perkamen sangat besar dan tua dari jubahnya, dan menyerahkannya ke Harry.

Harry menatapnya selama semenit, sebelum kemudian memandang mereka. "Aku tidak mengerti," katanya.

"Itu, Harry, adalah rahasia kesuksesan kami," kata Fred. "Kami dengan bangga telah menggunakannya selama bertahun-tahun—"

"—tapi kami sependapat kau lebih membutuhkannya daripada kami," George melanjutkan saudaranya. "Kau tahu, dulu waktu kami masih kelas satu, masih inosen dan polos—"

"—mengejutkan, kami tahu," timpal Fred. "Kami terjebak bersama Filch dan menemukan benda ini dari rak yang ditandai Disita dan Sangat Berbahaya. Yah, kau bisa menebak apa yang kami lakukan."

"Sekarang, bersiaplah mempelajari ilmu yang paling berharga yang bisa kautemukan di Hogwarts," kata George, nyengir, lalu mengeluarkan tongkat sihirnya dan menyentuhkan ujungnya ke perkamen. "Aku bersumpah bahwa aku orang tidak berguna."

Garis-garis tinta menyebar dari ujung tongkat George. Garis-garis itu saling menyambung dan memotong. Kata-kata terbentuk di atas perkamen, bertuliskan:

Messrs. Moony, Wormtail, Padfoot and Prongs

Penyetor bantuan kepada Pembuat Keonaran Sihir

dengan bangga mempersembahkan

THE MARAUDER'S MAP

Harry tercekat. The Marauder's? Ayahnya membuat ini? Tapi siapa itu Moony, Wormtail, Padfoot dan Prongs? Nama-nama itu pasti nama julukan, tetapi siapa masing-masing pemilik nama itu? Harry langsung berpikir untuk menanyakan hal ini kepada Profesor Lupin, tetapi cepat-cepat menghapus pikiran itu. Bagaimana dia menjelaskan dia tahu nama-nama julukan para Marauder?

Melihat lebih dekat perkamen itu, Harry menyadari bahwa perkamen itu adalah peta Hogwarts yang sangat mendetil. Ada titik-titik mungil bergerak-gerak, dilabeli nama-nama. Dia bisa melihat Profesor Dumbledore mondar-mandir di ruang baca, dan Profesor Lupin baru memasuki kantor.

"Nah, ada tujuh jalan rahasia menuju Hogsmeade," kata Fred sambil menyusurkan jemarinya di atas peta. "Filch tahu tentang yang empat ini—" dia menujuk jalan-jalan rahasianya— "tapi hanya kami yang tahu tentang jalan-jalan yang ini. Jangan pakai jalan yang ini, karena Dedalu Perkasa ditanam persis di mulut jalan, dan jangan pakai jalan yang ada di balik cermin di lantai empat. Lorongnya sudah runtuh. Jalan yang ini langsung menuju ruang bawah tanah Honeydukes. Kami sarankan pakai yang itu. Jalan masuknya persis di luar ruang ini, lewat belakang patung nenek tua satu mata berpunuk."

"Baiklah," kata George, lalu memandang berkeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Jangan lupa tutup Peta-nya setelah selesai menggunakan—"

"—kalau tidak, bisa dipakai orang lain," tambah Fred, seraya mencabut tongkat sihirnya dan menunjuk perkamen itu. "Ketuk saja lagi dan bilang—"

"—Keonaran telah terlaksana," kata mereka serempak.

Harry menonton Peta itu kembali ke semula, yakni perkamen kosong. Pertanyaan-pertanyaan tak terhitung jumlahnya merebak di benaknya. Peta ini bisa sangat membantu dalam menemukan Sirius Black. Haruskah dia menyerahkannya ke Profesor Lupin? Atau haruskah dia menggunakannya sendiri? Harry tidak tahu.

"Sampai ketemu di Hogsmeade," kata George, mengedip, lalu beranjak bersama saudaranya.

Harry terjebak dilema: menyerahkan ke Profesor Lupin atau tidak. Dia tahu kalau dia menyerahkannya, maka dia tidak akan melihatnya lagi kedua kalinya. Profesor Lupin adalah salah satu dari Marauder. Jadi, dia pasti turut campur dalam pembuatan Peta ini dan tahu bagaimana cara kerja Peta ini. Lupin akan merebut Peta ini dan menyerahkannya ke Profesor Dumbledore untuk mencari Sirius Black. Tetapi Peta ini sama seperti Jubah Gaib ayahnya. Terlalu sedikit warisan dari kedua orangtuanya yang ingin dia jaga.

Siang harinya, Harry bertemu Profesor Lupin dan Profesor Dumbledore untuk pelajaran Patronus-nya. The Marauder's Map tersimpan aman di kopernya. Pada akhirnya, hatinya menang dari otak. Dia tidak bisa menyerahkan Peta yang dibuat oleh ayahnya. Meski begitu, dia tidak akan menggunakan Peta untuk tujuan yang Fred dan George sarankan kepadanya. Dia terlalu takut.

Profesor Lupin menemukan Boggart untuk latihan, membuat pelajaran semakin sulit. Harry terlalu fokus meredam suara-suara yang didengarnya, bahkan berjuang agar tidak membebani Mantra. Dia berhasil mengerahkan beberapa Mantra sebelum pingsan di setiap sekali Mantra. Tetapi yang keluar dari tongkat sihirnya jauh dari apa yang selama ini berhasil dia capai.

Profesor Lupin dan Profesor Dumbledore mencoba meyakinkan Harry bahwa dia mengalami kemajuan lebih daripada yang mereka harapkan, tetapi Harry masih frustrasi. Dia melakukan semua yang mereka ajarkan, tetapi mengapa tidak berhasil juga? Dia tahu pelajaran ini memang sulit, tetapi ini lucu sekali.

Lebih lelah dari yang dia pikirkan gara-gara pelajaran itu, Harry merayap ke tempat tidurnya sebelum Ron dan Hermione kembali dari Hogsmeade. Dia tidak tahu berapa lama dia berbaring di sana, hanya melamun. Ron dan Hermione beberapa saat kemudian kembali, bertanya lirih apa dia bangun, tetapi dia tidak bergeming, pura-pura tidur. Dia toh tidak tahu harus menjawab apa. Dia benci menyimpan banyak rahasia dari mereka. Rasanya seperti dia tidak lagi mengenal mereka.

Akan kuselesaikan masalah-masalah di antara kami. Secepat mungkin setelah aku mendapatkan caranya.


Heya. Berkaitan dengan judul bab kali ini, saya pakai bahasa asli, supaya terdengar sinkron. Marauder's Map—Peta Perampok. Nggak lucu, kan, kalau jadi Peta Marauder *krik* Tapi kalau cuma "map", masih saya terjemahkan Peta kok.

Soal yang 'Dumbledore berbohong tentang bagaimana orangtuanya meninggal' ini… saya sendiri bingung *plak* Mungkin maksudnya lebih ke… tidak menjelaskan kematian sebenarnya. Yah, kita tahu gaya Dumbledore menjelaskan itu pasti tidak tuntas. Kiasan-lah, tidak semuanya disampaikan-lah. Menurut saya, testimoni Harry ini lebih gara-gara Dumbledore tidak bercerita bagaimana persisnya kejadian malam itu. Dumbledore hanya menyampaikan bahwa ibunya memasang perlindungan yang sangat kuat di Harry dan Mantra itu dipicu oleh pengorbanannya. Mungkin saya perlu membaca ulang. Dulu saya paham cerita ini, tapi kok sekarang hilang arah ya wkwkwk.

Ah ya, lepasan sihir Harry yang dipicu oleh rasa marahnya ini jangan dilupakan ya. Ini akan jadi kunci utama fanfiksi ini dan seri-seri setelahnya.

Balasan review:

(1) ainun anissa 9, iya ;(

(2) Nyanmaru desu, Hahaha. Iya, intinya begitu. Sirius bisa lolos dari Azkaban yang dijaga Dementor. Dementor di Hogwarts sudah bukan masalah dong. Sirius, kan, dari kecil emang bakat penyusup ;D Marauder, kan? Hyahahaha.

Iya sih, Scabbers kayak tikus got…. Tapi tikus putih itu lucu *nggak ada yang nanya*

Mau bagaimana lagi, Sirius memang tidak dalam situasi yang menguntungkan di fanfiksi ini. Biarkan dia bersembunyi, lah. Nanti juga muncul lagi. Hahaha.

(3) Aoi YU Hara, Nggak apa-apa. Iyaaa…

Terima kasih sudah me-review! Dan selamat menikmati akhir minggu, semuanya.

Mini Marauder