BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Alternative Universe, OOCness, possible typo(s), Gajeness, DLDR.

Prompt 12: Aku mah gitu orangnya

.

.

||.||.||.||

.

.

Lalunya sayup angin ringan yang membawa suara, "Bisakah matamu itu berpaling sesaat dari tabletmu dan membantu mama?" ke telinga seorang gadis berkacamata yang kedua mata kelabunya sibuk menatap salah sebuah alat elektronik miliknya.

Kedua pasang mata kelabu itu sedikit memutar malas, gadis berkacamata itu sedikit menghela napas kasar. "Iya. Tunggu beberapa menit lagi," ujarnya singkat.

Kembali sepasang mata itu menatap layar dari benda elektronik canggih miliknya itu. Senyum simpul tercipta di wajahnya ketika matanya menangkap sesuatu yang unik dari layar itu.

Ya—saat ini gadis itu tengah sibuk bermain dengan salah satu akun media sosial miliknya dengan gambar burung biru sebagai maskotnya.

"Wah—model bajunya bagus sekali! Lucu dan imut—! Aku mau pesan baju ini ah—semoga saja masih ada," celoteh gadis berkacamata bulat itu bahagia.

Jemari lentiknya mulai menari ringan di atas layar benda elektroniknya. Jemarinya sedikit menekan layar itu pada sebuah link yang membawanya ke sebuah situs yang biasa dipergunakan untuk jual-beli suatu barang atau jasa. Senyumnya semakin melebar ketika ia menemukan apa yang dicarinya semenjak tadi. Mulailah ia membaca penjelasan singkat yang terpajang jelas di keterangan barang incarannya.

"Jadi cara memesan baju ini dengan mengirim pesan ke nomor telepon yang tercantum di sini ya …"

Segeralah gadis berambut hitam yang diikat dua itu mencatat nomor telepon yang terterah di sana dan secepatnya ia mengirim pesan untuk memesan barang incarannya itu, mengingat ibunya tengah memerlukan bantuannya kini.

"Ying! Kau lama sekali! Katanya mau membantu mama …"

Nah, kan.

Ying mulai mengambil napas panjang, yang kemudian dikeluarkannya dalam sekali hembusan kasar. "Iya, aku datang!"

.

.

||.||.||.||

.

.

Jika sedang tidak ada pekerjaan yang menimpanya kini, maka waktu itu akan dipergunakan oleh Ying untuk bermain dengan benda elektronik kesayangannya. Bahkan kini gadis itu tengah mempersiapkan tempatnya yang cocok untuk bermain dengan salah satu gadget kepunyaannya.

Di tangannya telah membawa sebuah nampan dengan di atasnya sebuah toples berisi kue kering dan secangkir teh untuk menemaninya di bawah langit sore yang memancarkan keindahannya.

Ia mulai medekati kursi untu bersantai yang telah disiapkan sebelumnya oleh dirinya. Ying meletakkan nampan itu di atas meja kecil di sebelah kursi itu. Yang kemudian tangannya mengambil gadget-nya dan segera duduk di atas kursi itu, sepasang matanya sudah fokus terhadap benda yang berada dalam genggamannya kini.

Tiba-tiba saja suara familiar menusuk telinganya, membuatnya hampir menjatuhkan gadget -nya. Tanpa menoleh sedikit pun Ying menyahuti suara familiar itu.

"Hei, Ying. Kau yang memesan baju ini?"

Dengan sedikit rasa penasaran sepasang matanya berpaling untuk menatap barang yang dimaksud oleh pemuda berambut ungu kebiruan yang mencuat berantakan itu—yang sempat meneriaki nama Ying sebelumnya. Seketika rasa penasaran itu tergantikan oleh suara teriak bahagia yang dikeluarkan oleh gadis serba warna kuning itu, hingga membuat pemuda itu harus memasang kapas di telinganya kini.

"Akhirnya pesananku datang juga setelah penantian panjangku selama seminggu ini!"

Pemuda itu hanya bisa menganggukkan kepalanya tidak jelas pada gadis yang masih sibuk dengan kebahagiaannya.

"Ah—Kak Fang~"

Yang disebut namanya bergidik ngeri seketika. Oh tidak, kali ini pemuda berambut ungu kebiruan itu—Fang—mempunyai wirasat aneh yang menjalar dalam tubuhnya.

"Bagaimana kalau Kak Fang yang terlebih dulu mencoba baju itu untukku?"

"… apah?!"

Wirasatnya tidak salah lagi memang. Baru saja Fang akan mengeluarkan semua penolakannya, mata hitam gelap miliknya menangkap sosok Ying sedang melemparkan tatapan memohon pada dirinya. Di mana tatapan itu berhasil membuat pemuda itu bergidik ngeri lagi.

"Ayolah, Kak Fang. Masa Kakak tidak mau melakukan permintaan dari adik satu-satunya ini—?"

Tubuh Fang semakin bergetar hebat, bahkan kini ia mulai mengambil beberapa langkah mundur. Di matanya tatapan yang diberikan oleh Ying bagaikan tatapan seorang iblis yang berhasil mendapatkan mangsa—makna konotasi saja.

Fang pun menghela napas pasrah. "Oke, aku akan mencoba untuk memakai baju ini …"

Suara bahagia yang dikeluarkan oleh Ying membuat pemuda berkacamata itu merinding sesaat. Kemudian dengan membawa barang pesanan Ying di tangannya, Fang masuk ke dalam rumahnya.

Sembari menunggu kakaknya selesai melakukan apa yang dimintanya, mata kelabu terang miliknya kembali menatap gadget yang masih berada di tangannya.

Tidak lama kemudian pemuda itu kembali dengan mengganti semua balutan tubuhnya dengan pakaian milik Ying yang baru saja dipesannya. Kini Fang berpakaian dengan sebuah dress lengan panjang yang didominasi oleh warna hitam, dengan memiliki belundru putih di setiap ujung dress itu, hanya saja rok dress yang kini dikenakannya hanya sampai sebatas paha atasnya saja.

"Ying, apa ini tidak kependekan untukku—maksudku, untukmu?"

Yang disebut namanya kembali mengalihkan pandangannya ke arah pemuda serba ungu itu. "Tidak, kalau aku yang pakai hanya sampai atas lututku saja. Lagi pula Kakak kan lebih tinggi dariku …"

Dengan memasang wajah memelas Fang berkata, "Apa aku sudah boleh melepaskan baju ini? Aku mulai tidak nyaman menggunakannya," pada Ying.

Gadis berkacamata itu memberikan isyarat pada pemuda berambut ungu kebiruan itu agar segera masuk ke dalam rumah dan secepatnya melepaskan pakaian miliknya. Tentunya Fang mensyukuri hal itu di dalam hatinya.

Ying kembali menatap layar gadget-nya, dan segera ia membuka alamat situs di mana mempunyai logo burung biru kembali. Ia segera menulis tweet terbaru di akun miliknya.

Aku pesan baju di sebuah situs online, tapi aku kasih coba Kak Fang untuk memakainya. #AkuMahGituOrangnya

Setelah gadis itu selesai membuat tweet-nya, tak lama kemudian telinganya menangkap suara piring pecah yang berasal dari dalam rumahnya.

"Fang! Tadi aku lihat tweet terbaru dari Ying, katanya kamu mencoba baju yang dibeli Ying?"

"Berisik kamu. Lagi pula untuk apa kau bertanya seperti itu, Boboiboy?"

"Aku kan hanya ingin melihatmu saat mengenakan baju yang dibeli Ying—karena aku tahu Ying membeli baju yang modelnya lucu."

"Otakmu sudah kau taruh di dengkulmu, hah?! Aku tak mau memakainya lagi."

"Ayolah, Fang~"

"Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Jangan paksa aku, Boboiboy yang nakal! Lagi pula, kau itu makhluk yang kedatangannya tidak diminta—sana! Kembali ke asalmu!"

"Aku tidak mau kembali sebelum aku melihatmu memakai baju yang Ying beli! Titik!"

"KELUAR TIDAK DARI RUMAHKU SEKARANG!?"

"ADUH—!"

Kemudian telinga Ying menangkap suara rintihan sakit dari seseorang di dalam rumahnya dengan diiringi suara dentuman keras dari barang-barang yang sengaja dilempar pada seseorang. Sebentar lagi pastinya rumahnya akan seperti kapal pecah.

Mata kelabunya tetap menatap layar gadget miliknya, di mana di layar tersebut memunculkan hal yang menarik untuk dirinya sehingga sebuah seringai kemenangan terbentuk di wajah cantik Ying.

"Tidak salah aku mengambil foto Kak Fang saat mencoba bajuku secara diam-diam. Setelah Kak Fang tidak melemparinya dengan barang-barang yang tidak berdosa itu, akan kutunjukkan foto ini pada Kak Boboiboy!"

Seringai Ying semakin menjadi-jadi, bahkan kini kedua matanya ikut menyeringai.