Bulan purnama memancarkan cahaya nan lembut ke seantero langit kerajaan. Angin malam bertiup dan membuat tumbuhan bagaikan menari mengikuti arah angin berhembus. Suasana malam di hutan begitu tenang, tanpa sedikitpun suara yang terdengar selain suara jangkrik yang sesekali berbunyi dan suara hembusan angin malam.

Sasuke bersembunyi di semak-semak dan mengaktifkan sharingan nya, berusaha mengawasi Naruto yang berada di kejauhan untuk menjalani pekerjaan pertama nya, misi paling mudah menurut Sasuke, namun tidak bagi Naruto.

Jantung Sasuke berdebar lebih keras dari biasanya saat ia menyadari Naruto yang terlihat gugup di kejauhan. Ia tidak peduli jika Naruto gagal menjalankan misi, ia hanya perlu datang dan 'membereskan' kekacauan yang dibuat Naruto. Ia hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan Naruto.

Jika saja Sasuke mampu berdoa saat ini, maka ia akan mendoakan keselamatan Naruto, jika perlu membelikan jimat keberuntungan sekalian. Namun ia merasa tak layak untuk berdoa. Ia terlalu hina dan najis untuk berkomunikasi dengan kami-sama.

Sasuke terfokus untuk memperhatikan Naruto hingga ia menurunkan kewaspadaan nya. Ia bahkan tak menyadari jika seorang lelaki berusaha menghampirinya dari kejauhan dengan chakra yang sangat dikenal Sasuke, chakra lelaki terkutuk yang telah membuat Sasuke kehilangan segalanya hanya dalam satu malam.

Sudah terlambat bagi Sasuke ketika ia menyadari keberadaan chakra kuat yang menuju kearahnya. Ia tak akan sempat bersembunyi dan ia menyesal telah lupa menyembunyikan chakra nya agar tak terdeteksi. Kini, ia tak bisa menghindari lelaki brengsek yang telah mengetahui lokasi keberadaan nya sekalipun ia menyembunyikan chakra sekalipun. Lokasi bajingan itu kurang dari lima kilometer dan konsentrasi Sasuke terdistorsi akibat kekhawatiran nya pada Naruto.

Sasuke memutar kepala dan menyadari jika sosok lelaki jahanam itu semakin mendekat. Ia segera melemparkan beberapa shuriken sebagai peringatan jika ia telah mengetahui keberadaan lelaki jahanam yang kini semakin mendekat.

Dari kejauhan, ia menatap shuriken-shuriken nya yang ditangkis dengan mudah menggunakan pedang oleh Itachi. Lelaki itu menyeringai, merasa senang karena telah menemukan keberadaan Sasuke.

Sasuke berharap agar Naruto tak segera kembali dalam waktu dekat, setidaknya hingga Itachi meninggalkan Sasuke.

"Amaterasu," gumam Sasuke dengan suara sangat pelan dan seketika api hitam muncul serta menuju kearah Itachi yang mendekat pada Sasuke hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa puluh meter. Api itu mati dengan sendirinya ketika mendekati Itachi yang telah mengaktifkan dojutsu dan membuat Sasuke panik dan tak bisa berkonsentrasi.

"Hisashiburi, otouto," ucap Itachi dengan suara yang terdengar menjijikan bagi Sasuke meski diucapkan dengan nada datar.

"Diamlah! Aku tidak sudi menjadi otouto mu!" bentak Sasuke sambil berlari dan mencoba menerjang Itachi dengan bola petir besar. Namun ketika Sasuke mencoba mengenai Itachi, lelaki dihadapan nya mengelak dengan begitu cepat dan serangan Sasuke mengenai tanah hingga terdapat lubang besar.

Sasuke tak peduli. Ia sama sekali tak menyerah. Kini ia bahkan menggunakan dojutsu dan ninjutsu sekaligus untuk menyerang Itachi. Ia menggunakan amaterasu dan chidori sekaligus meskipun menguras chakra nya dan membuat konsentrasi nya semakin kacau.

Itachi kembali menghindar dan kini telah berada di belakang tubuh Sasuke serta mengikat tubuh Sasuke menggunakan tali yang menyerap chakra dengan sangat cepat sambil menghindari serangan Sasuke.

"Aku hanya ingin bicara denganmu, otouto."

Sasuke mengatupkan mulut nya erat-erat dan ia menggeliat. Setahunya, Itachi tak memiliki kemampuan menghindar secepat itu dan ia tak seharusnya bisa dikalahkan semudah ini. Ia benar-benar merasa marah, namun tubuh nya terasa lemas, seolah chakra nya tersedot.

"Bagaimana kabarmu, Sasuke?"

Tak ada jawaban dan Itachi mendekati Sasuke serta berusaha menatap mata Sasuke lekat-lekat. Sasuke segera menoleh ke samping dan menolak memandang Itachi.

"Hn? Tidak mau menjawab?" ucap Itachi sambil nya sibuk memikirkan cara agar Sasuke mau memberinya informasi ketika ia sedang berbicara dengan Sasuke.

"Siapa lelaki yang bersama denganmu? Aku merasakan chakra lelaki itu saat ini, chakra itu hangat dan terang, berbeda dengan milikmu."

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke dengan suara sinis sambil menatap tajam.

Itachi tertawa sinis melihat reaksi Sasuke yang berubah drastic ketika ia menyinggung lelaki yang bersama sang adik.

"Bukan urusanku? Bagaimana jika aku 'berkenalan' dengan lelaki itu dan menawarkan kehidupan baru baginya?"

Sasuke menatap Itachi dengan tatapan membunuh meskipun tubuh nya sedang terikat. Ia memahami makna dibalik ucapan Itachi. Lelaki itu memang hendak menawarkan hidup baru bagi Naruto, dengan terlebih dulu mengirim Naruto menuju kematian,

"Sekali kau menyentuh nya, maka aku akan membunuhmu, Itachi."

"Membunuhku?" ulang Itachi sambil tertawa sinis. Ia mengarahkan dua jari nya ke kening Sasuke seperti yang dulu sering dilakukannya dan Sasuke segera memundurkan kepala. Namun ia kehilangan keseimbangan akibat lemas dan segera terjatuh hingga tubuhnya membentur tanah dan kepala nya terasa sakit.

"Kau tak berubah, otouto. Kau masih tetap bodoh seperti biasanya."

"Diam!" bentak Sasuke. Ia mencoba duduk, namun tubuh nya terlalu lemas dan semakin ia berusaha menggeliat untuk melepaskan diri, chakra nya tersedot semakin banyak.

"Kau tak ingin memberikan informasi sedikitpun mengenai teman seperjalananmu, hn? Bagaimana jika aku mengincarnya sebelum membunuhmu?"

"Dia tak mengenalmu, brengsek," desis Sasuke dan memberanikan diri menatap Itachi dengan tatapan sinis,"Langkahi mayatku sebelum kau menyentuhnya."

Itachi tertawa keras dan mengeluarkan sebilah pedang dan segera menusukkan nya ke perut Sasuke. Sasuke hampir menjerit ketika pedang menancap di perut nya. Cairan merah hangat berbau anyir mulai mengalir dari perut nya dan ujung pedang menghancurkan tulang Sasuke dan menembus tubuh nya.

Sasuke menatap Itachi yang mengeluarkan pedang lain nya dan segera menusukkan nya ke leher Sasuke. Pedang membuat leher Sasuke seolah tercekat dan ia tak sanggup berteriak meskipun ia merasakan sakit yang teramat sangat di tubuhnya. Darah kental berbau amis berwarna hitam mengalir dari mulut Sasuke yang sedikit terbuka. Tubuh Sasuke terasa nyeri hingga keseluruh sel-sel tubuh nya.

Seolah tak puas, Itachi meniupkan api ke tubuh Sasuke yang hampir sekarat, membuat Sasuke merasakan panas yang membakar kulit nya dan sanggup melelehkan daging-daging tubuhnya. Sasuke tak sanggup berteriak, namun ia tak memejamkan mata nya dan terus memandang Itachi.

"Selamat tinggal, otouto. Senang bertemu denganmu," ucap Itachi sambil tersenyum sinis sebelum ia berbalik dan meninggalkan Sasuke yang terus memandangnya sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

Di benak Sasuke hanya terdapat sosok Naruto saat ini. Naruto tak akan sanggup bertahan sendirian dengan kemampuan nya saat ini dan ia harus tetap hidup demi Sasuke, setidaknya hingga Naruto tiba dari misi. Dunia merupakan tempat yang kejam, terutama bagi lelaki tanpa keluarga seperti Naruto. Dan setidaknya, Sasuke ingin Naruto mampu bertahan dalam dunia yang kejam tanpa seorangpun yang dapat dipercayai selain diri sendiri.

'Dobe, maafkan aku. Bertahanlah dan jalani hidupmu dengan baik,' ucap Sasuke dalam hati.

Ia tak sanggup menahan rasa sakit nya. Perlahan ia memejakan mata, menyembunyikan iris onyx nan kelam miliknya, tak menyadari jika ia tengah berada di dalam ilusi.

.

.

Naruto berlari secepat mungkin dengan langkah setengah berjinjit. Ia telah melupakan rasa takut akan kegelapan yang pernah dimilikinya dan ia berlari menembus malam dengan sebuah gulungan berwarna emas yang terselip di balik pakaian nya.

Bibir Naruto terangkat seketika dan membentuk senyuman saat ia mendapati semak-semak tempat Sasuke berada. Namun senyum nya menghilang saat ia mendapati Sasuke telah terbaring di tanah dan seorang lelaki berambut panjang yang berdiri tak jauh dari Sasuke. Lelaki itu menatap Naruto dan Naruto segera mendekati Sasuke serta mengguncang tubuh lelaki itu.

"Teme ! Apa yang terjadi padamu? Bangunlah!"

Sasuke tak bergeming dan Naruto menatap lelaki itu dengan tajam. Ia tanpa ragu mengeluarkan pedang nya dan mendekati lelaki berambut panjang itu.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada Sasuke, huh?" ucap Naruto dengan suara meninggi sambil mengarahkan mata pedang pada Itachi.

Itachi tersenyum sinis dan ia menatap Naruto sambil berkata, "Hn. Belum pernah aku bertemu bocah yang berani menantangku."

Emosi benar-benar menguasai Naruto. Ia yakin jika perasaan yang belakangan ini muncul membuatnya merasa marah jika seseorang melukai Sasuke.

"JAWAB PERTANYAANKU, BRENGSEK!" bentak Naruto dengan keras pada lelaki dihadapannya. Tanpa ragu ia mendekati Itachi dan berusaha menusukkan pedang nya, namun ketika jarak mereka sudah dekat, Itachi menangkis pedang Naruto dengan mudah dan Naruto terkejut saat ia melihat wajah lelaki itu dengan jelas.

Tenggorokan Naruto seolah tercekat saat ia menyadari wajah lelaki itu terlihat agak mirip dengan Sasuke. Mereka bahkan memiliki mata yang sama, hanya saja lelaki dihadapan nya memiliki bulu mata yang lebih lentik dari Sasuke dan wajah yang terlihat lebih tua.

"K-kau…" ucapan Naruto terputus dan ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia teringat dengan ucapan Sasuke mengenai sang kakak yang membantai keluarganya dan tubuh nya menggigil seketika. Sudah jelas jika lelaki itu sangat kuat hingga mampu mengalahkan Sasuke, dan Naruto yakin ia akan segera menemui ajal nya jika lelaki itu menyerang nya.

Itachi melangkah maju dan menghampiri Naruto, dan Naruto secara refleks melangkah mundur beberapa langkah. Ketika Itachi tinggal berjarak tiga langkah dari Naruto, Naruto menundukkan kepala dan tak berani mengangkat kepala nya.

"Keberanian mu telah hilang, hn?"

Naruto menggelengkan kepala erat-erat dan tetap menundukkan kepala. Ia teringat dengan pesan Sasuke padanya untuk tak menatap mata Itachi jika sewaktu-waktu ia bertemu lelaki itu. Dan kini ia tak tahu apakah ia terjebak dalam ilusi atau tidak.

"Tidak! Kau telah mencelakai teman ku!" jawab Naruto dengan suara meninggi meskipun jantung nya saat ini berdegup kencang. Seharusnya ia mengikuti pesan Sasuke dengan pergi sejauh mungkin jika lelaki itu terlibat pertarungan apapun, namun ia malah mendekati Sasuke.

"Teman?" jawab Itachi sambil tertawa sinis. "Seharusnya kau berterima kasih padaku telah menggantikanmu membalaskan dendam, Uzumaki Naruto."

Deg… jantung Naruto berdebar keras dan mata nya terbelalak. Ia terkejut dengan Itachi yang bahkan telah mengetahui identitasnya.

"Kau… tahu nama ku?"

Tak ada jawaban dan Naruto mematung di tempat serta terlarut dalam pemikiran nya. Ia merasa takut, namun juga marah. Ia memang seharusnya bersyukur karena ia tak perlu bersusah payah melukai Sasuke, namun ia marah karena Itachi melukai Sasuke.

"Sasuke… apa yang kau lakukan padanya? Kau tidak membunuhnya, kan?"

Itachi menggelengkan kepala. Ia tak berniat membunuh Sasuke, sekalipun ketika ia berniat membunuh Sasuke, ia tetap tak bisa melakukannya entah mengapa. Seolah sesuatu menghentikan dirinya untuk menghabisi nyawa sang adik meskipun ia memiliki kesempatan untuk melakukannya.

"Dia tidak akan sadar selama dua hari."

Naruto mengernyitkan dahi mendengar ucapan Itachi dan ia merasa takut. Sasuke tak bisa melindunginya dan ia pun tak bisa melindungi dirinya sendiri. Ia bahkan tak memiliki kesempatan untuk kabur.

Seolah mengetahui isi pikiran Naruto, Itachi segera berkata, "Aku tak berniat membunuh siapapun hari ini, Uzumaki."

Naruto terdiam dan ia hanya memandang Itachi yang berjongkok dihadapan Sasuke dan meletakkan dua jari nya di kening lelaki itu serta membuat goresan pedang memanjang dari dada hingga perut Sasuke Goresan itu cukup dalam hingga membuat kulit Sasuke mengeluarkan darah seketika.

"Aku akan bertemu dengan kalian lagi. Dan ketika saat itu tiba, aku tak akan segan membunuh Sasuke ataupun kalian berdua."

Naruto hendak berteriak, namun Itachi segera meninggalkan tempat itu setelah menyelesaikan ucapan nya. Naruto mengepalkan tangan dan berusaha mencari sosok Itachi dalam kegelapan malam, namun ia tak menemukan lelaki itu.

Naruto segera menghampiri Sasuke yang masih berbaring. Ia segera mengusap tubuh Sasuke dengan ujung pakaian nya sendiri serta berusaha menggendong Sasuke di punggung nya meskipun terasa berat.

Naruto menatap sekeliling dan berusaha menaikkan Sasuke ke atas kuda yang terikat di pohon. Tubuh Naruto terasa agak lelah, namun ia berhasil menaikkan tubuh Sasuke setelah bersusah payah dan ia sendiri naik ke atas kuda. Dengan cepat ia menunggang kuda dan meninggalkan hutan itu, berusaha agar tak terlihat oleh siapapun.

.

.

"Okaa-san…." Gumam Sasuke dengan lirih dan ekspresi yang menyayat hati. Naruto yang baru saja hendak tertidur kembali terjaga dan ia menatap Sasuke yang sedang mengigau.

Entah mengapa hati nya terasa sakit saat ia melihat Sasuke yang tampak menderita. Ia mengerti bagaimana perasaan Sasuke karena ia sendiri juga merasakan nya, namun penderitaan Sasuke jauh lebih parah dibandingkan dirinya. Bagaimanapun, ia masih memiliki Sasuke yang bisa melindunginya, setidaknya untuk sementara. Sementara Sasuke tak memiliki siapapun yang bersedia melindunginya sejak awal.

Naruto melirik tubuh Sasuke yang ditutupi dengan ramuan obat dan dibalut dengan perban. Ia merasa lega hanya dengan melihat dada Sasuke yang bergerak naik turun, pertanda jika lelaki itu masih bernyawa.

"Jangan… jangan tinggalkan aku," gumam Sasuke.

Naruto segera menghampiri Sasuke dan mengenggam tangan lelaki itu. Ia menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak, teme. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Ekspresi wajah Sasuke terlihat melembut dan Naruto menatap wajah Sasuke. Seketika ia merasa menyesal telah mengatakan janji yang kemungkinan besar tak akan dipenuhi. Ia tak bisa terus bersama Sasuke, ia tak seharusnya memaafkan lelaki itu meskipun ia merasa aman dan nyaman bersama Sasuke. Ia harus membalaskan dendam dan memberikan hukuman setimpal atas perbuatan lelaki itu pada keluarganya jika ingin orang tua nya memperoleh kedamaian dalam keabadian. Dan ia berkewajiban mementingkan orang tua nya dibandingkan Sasuke yang bahkan baru dikenalnya tiga bulan lalu.

Namun di sisi lain, ia tak ingin berpisah dengan Sasuke dan tak suka jika lelaki itu dilukai oleh orang lain. Naruto tak tahan jika harus hidup sendirian tanpa Sasuke.

Naruto segera menggeser futon nya sehingga menempel dengan futon Sasuke. Ia membuka selimut Sasuke dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu. Ia menatap wajah Sasuke dan memeluk tubuh Sasuke dengan hati-hati, berusaha membagikan sedikit kehangatan tubuhnya pada lelaki itu.

.

.

"Ini dokumen yang anda minta, tuan," ujar Naruto sambil membungkukkan badan kepada seorang laki-laki berusia tiga puluhan akhir yang segera menerima gulungan yang diberikan Naruto.

Lelaki itu membaca isi dokumen dengan seksama dan menganggukan kepala sambil tersenyum. Ia telah mendapatkan dokumen yang diinginkannya dan merasa sangat puas, meskipun dokumen itu didapatkan dengan cara illegal.

"Dimana Taiko (1)? Mengapa kau hanya sendirian saja, Ruki (2)?"

Naruto segera membuka mulut dan mengucapkan alasan yang telah dipersiapkannya jika sang penyewa jasa menanyakan keberadaan Sasuke, "Ah, dia sedang menerima pekerjaan lain, Sanada-san."

"Begitukah?" ujar lelaki itu sambil tersenyum, "Apakah kau belum lama ini menerima pekerjaan seperti Taiko? Aku belum pernah mendengar namamu sebelumnya."

"Begitulah," jawab Naruto dengan ambigu tanpa maksud memberikan jawaban. Setelah menerima tawaran pekerjaan, Sasuke berkali-kali mengingatkan Naruto untuk tidak banyak berbicara dengan penyewa jasa demi keamanan identitas dan menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Sasuke juga mengingatkan Naruto untuk tidak makan dan minum apapun yang disuguhkan penyewa jasa.

"Kurasa aku tidak cukup banyak mendengar informasi mengenaimu. Kau tidak mungkin seorang amatir. Pekerjaanmu sama baiknya dengan Taiko yang merupakan seorang professional."

"Pujian anda terlalu berlebihan, tuan," ujar Naruto sambil tersenyum tipis. "Mohon maaf, namun saya sedikit terburu-buru saat ini. Saya harus pergi ke suatu tempat."

"Oh, baiklah," ujar Sanada seraya meletakkan kantung kain berisi lima oban, "Ini bayaranmu."

Naruto segera membuka kantung kain itu dan menghitung jumlah koin di dalamnya. Kemudian ia menundukkan kepala dan berkata, "Terima kasih telah memakai jasa kami. Senang dapat bekerja sama dengan anda."

Sanada tersenyum dan menganggukan kepala, "Tentu saja. Akan kurekomendasikan kau pada rekan-rekanku yang lain."

Naruto kembali mengucapkan terima kasih dan setelahnya ia meninggalkan rumah Sanada. Ketika ia sudah merasa yakin tak seorangpun mengikutinya, ia segera melepas topeng dan memasukkan nya ke balik yukata serta menuju daerah yang cukup ramai serta membaur diantara kerumunan penduduk.

Naruto segera berjalan menuju kedai ramen yang kebetulan dilewatinya dan segera masuk ke dalam. Ia memesan ramen dan segera memakan nya ketika ramen itu dihidangkan.

Kali ini bukanlah kali pertama Naruto mengunjungi kedai ramen itu. Namun ramen itu terasa hambar, tak seperti biasanya. Bahkan potongan daging dan kuah yang mengepul tak lagi menggodanya. Ia tak bisa berhenti memikirkan Sasuke yang masih belum tersadar dan ia khawatir terjadi sesuatu pada lelaki itu.

"Aku sudah selesai. Berapa harga nya?" ujar Naruto kepada seorang lelaki pemilik kedai ramen.

"Dua puluh dua sen dengan minuman," jawab lelaki itu sambil menatap ramen di mangkuk Naruto yang masih tersisa sedikit.

Naruto segera mengeluarkan uang dua puluh lima sen dan berkata, "Kembalian nya untuk paman saja."

Lelaki penjaga kedai itu tak sempat mengatakan apapun dan Naruto segera bergegas meninggalkan kedai ramen. Ia berjalan lebih cepat dan berjalan menuju klinik tempat Sasuke dirawat.

Iris sapphire Naruto terbelalak saat ia mendapati Sasuke yang baru saja keluar dari klinik. Tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya heran, ia segera berlari menghampiri Sasuke dan merentangkan tangan, hendak memeluk lelaki itu.

Sasuke terkejut ketika Naruto tiba-tiba saja memeluknya. Ia masih merasa agak pusing dan hampir terjungkal, namun ia membiarkan Naruto memeluknya dengan erat.

"Teme ! Sejak kapan kau sadar?"

"Satu jam yang lalu."

"Baka! Mengapa kau langsung meninggalkan klinik?" ujar Naruto dengan khawatir. "Omong-omong, aku telah bertemu Itachi di hutan, lho."

Sasuke menatap Naruto dengan tajam dan ia segera mengangkat tangan nya serta melayangkan tamparan ke wajah Naruto dengan keras hingga wajah Naruto memerah.

"Kau yang bodoh atau tuli, dobe?! Sudah kubilang, kau harus menghindar jika bertemu bajingan itu," ucap Sasuke dengan suara meninggi.

Naruto mengusap wajah nya yang memerah. Namun ia tak melepaskan pelukan dari Sasuke dan malah berkata, "Pokoknya aku tidak akan meninggalkanmu, teme. Aku tak akan rela jika Itachi membunuhmu."

Untuk sesaat Sasuke terdiam, namun beberapa detik berikutnya ia segera memeluk Naruto dengan sangat erat tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya. Ia berbisik di telinga Naruto dengan suara sangat pelan, "Arigatou, dobe. Daisuki desu."

Sasuke terperanjat dengan apa yang diucapkannya sendiri, begitupun dengan Naruto. Wajah Naruto tiba-tiba saja memerah dan sesaat pelukan nya hampir terlepas.

"Kau bilang apa, teme?" Naruto dengan sengaja bertanya, berusaha memastikan pendengaran nya sendiri.

"Tidak."

Naruto berpura-pura percaya pada Sasuke meskipun ia telah mendengar ucapan lelaki itu. Ia menenggelamkan wajah di tubuh Sasuke dan berbisik, "Aku juga menyukaimu, teme."

Sasuke terkejut mendengar ucapan Naruto yang terdengar begitu jelas di telinga nya. Untuk pertama kali nya dalam enam tahun terakhir, ia merasa begitu bahagia hingga ingin membagikan kebahagiaan nya ada dunia.

Sasuke mengusap rambut Naruto dengan lembut dan menatap lelaki itu. Ia tahu jika perasaan nya terlarang dan setelahnya ia akan mengendalikan perasaan itu, namun kini ia begitu ingin melampiaskan perasaan nya.

Sasuke menatap sekeliling dan melepaskan pelukan nya sejenak. Ketika jalanan sedikit lebih sepi dan tak banyak orang melintas, ia mengecup pipi Naruto dengan cepat dan tersenyum tipis sesudahnya. Ia bahagia telah menyatakan perasaan dan mencium lelaki yang dicintainya.

-TBC-


Keterangan :


1. Taiko : Nama samaran Sasuke

2. Ruki : Nama samaran Naruto.


Author's Note :


Dikarenakan kesibukan, mulai chapter ini update akan lebih lama dibandingkan biasanya. Author akan fokus menyelesaikan fanfict yang akan tamat sebentar lagi.

Makasih udah menunggu kelanjutan fanfict ini, semoga chapter ini nggak mengecewakan.