Title: Its Not Like That, Darling
Pair : Yewook
Genre: Romance
Rate : T
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, orangtua nya dan SMEnt. Fict ini saya adaptasi dari komik milik Nagae Tomomi yang judulnya sama dengan fict ini.
Warning : Genderswitch, Gaje, abal, typho(s)
Summary: Wookie menyukai Yesung, namun Yesung menyukai sosok Eunhyuk yang ada dalam diri Wookie
Chiekyu-Yewook ™
.
.
.
-Wookie POV-
Kekuatan misteri Kibummie-lah yang membuatku berada di sini.
Aku mengedarkan pandanganku sekeliling. Berjajar-jajar rumah penduduk. Aku merasa asing dengan perumahan ini. Tiba-tiba aku merasa kepalaku pening. Sebenarnya dimana aku? Ini kapan?
"Kau rapikan barangmu ya..." Aku menoleh ke kanan dan kiri mencari asal suara perempuan itu. Aku berharap besar kalau orang itu dapat memberiku petunjuk.
"Apa kau sudah siap, Jongwoonie?"
Jongwoonie? Sepertinya aku merasa familiar dengan nama itu. Tapi siapa ya?
Aku melangkahkan kakiku mendekati sebuah rumah yang kuyakini tempat suara itu berasal. Aku berdiri di balik pagar rumah. Mataku menangkap sosok perempuan sedang membelakangiku dan memasukkan beberapa tas dan keranjang makanan ke dalam mobil. Apa perempuan itu hendak piknik?
Perempuan itu berbalik seusai memasukkan semua barangnya. Mataku sedikit membelalak. Aku terpaku. Dia... Dia Eunhyuk.
"Kalau tidak salah minggu lalu kita bertemu saat kecelakaan itukan.. Kim Ryeowook kan?" Perempuan itu menatapku dengan tatapannya yang menyejukkan. Wanita ini begitu cantik. Suaranya lembut dan berkharisma. Pantas saja Yesung oppa begitu mencintainya dulu.
Aku menggaruk belakang kepalaku. Katanya aku bertemu dengannya saat aku kecelakaan setahun lalu. Ah berarti itu... "A-aku kakaknya Ryeowook. Namaku Sungwook," jawabku sedikit gugup. Entah kenapa aku memilih membohonginya. "Aku dengar kaulah yang menolong adikku.. Terima kasih..."
"Sungwook-ssi, sepatumu dimana?!" tanya Eunhyuk dengan ekspresi agak terkejut.
Aku sontak melirik kakiku. Ternyata aku memang sedang bertelanjang kaki. "I-itu..." Otakku berputar mencari alasan yang tepat untuk diutarakan. Mana mungkin aku mengatakan kalau sebelumnya aku berada di rumah lalu terlempar ke masa depan dan akhirnya terlempar lagi ke masa 1 tahun yang lalu. "Hm.. Sebenarnya baru saja sepatuku kecurian."
"Pencuri sepatu?" Kulihat Eunhyuk mengerutkan keningnya. Mungkin ia sedikit tak percaya dengan jawaban bodohku. "Ah, tunggu sebentar.." ucapnya lalu memasuki rumahnya dengan tergesa. Aku hanya bisa memandangi tubuh Eunhyuk yang sedang berjalan memasuki rumahnya.
Aku termenung sendiri. Sebelum ini aku terlempar ke masa depan dimana Kibummie sudah beranjak remaja dan kini aku terlempar ke masa setahun yang lalu. Dan di tahun ini, Eunhyuk akan mati. Tapi kalau memang begitu kenyataannya, tapi kenapa di masa depan ternyata Eunhyuk masih hidup?
Aku memegangi kepalaku yang mulai berdenyut. Semuanya tampak membingungkan di otakku. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Sungwook-ssi.. " Aku tersentak dari lamunanku begitu mendengar suara Eunhyuk. Wanita berambut pirang sebahu itu berjalan menghampiriku dengan membawa sepasang sepatu. "Ini.. Cobalah..." Tanpa banyak bicara aku langsung mencoba sepatu yang disodorkannya.
"Ah.. Syukurlah ternyata ukurannya cocok." Eunhyuk berkata dengan nada riang. "Sepatunya memang sudah lama tapi masih bisa dipakai kok.." tambahnya.
Aku memandangnya lalu membungkukkan badan. "Terima kasih banyak.." ucapku sopan.
Wanita itu tersenyum lembut. "Sama-sama.."
"Siapa itu, Hyukkie?" Terdengar sebuah suara lelaki dari dalam rumah membuatku dan Eunhyuk langsung mengalihkan pandangan ke dalam rumah.
"Dia adalah kakak dari anak yang kecelakaan waktu itu, Jongwoonie.." jawab Eunhyuk bersamaan dengan munculnya seorang lelaki dari dalam rumah.
Wajahnya.. Wajahnya sangat mirip dengan Yesung oppa. Hanya tatanan rambut saja yang membuat mereka berbeda. Tatanan rambut Jongwoon lebih rapi dibanding Yesung yang terkesan agak berantakan.
"Selamat sore..." Lelaki itu menyapaku dengan sopan.
Aku membungkuk sebentar. "Eunhyuk-ssi sudah menyelamatkan adikku.. Terima kasih.."
Lelaki itu tersenyum. Senyumannya begitu mempesona tak jauh berbeda dari senyuman Yesung oppa. "Bagaimana keadaan adikmu?" tanyanya ramah. Aku bisa merasakan kalau si kakak memiliki hati dan perhatian yang lebih besar daripada Yesung oppa.
"Kondisi adikku mulai membaik.." Ucapanku terhenti saat mataku menangkap sosok kecil Kibummie berlari ke arah kami.
Aku berjongkok menyetarakan tinggiku dengan Bummie. "Hai.." sapaku sambil melambaikan tanganku yang membuat Bummie melompat ke pelukanku dengan tertawa. "Aiya.. Hahaha.." Bocah kecil itu tertawa renyah.
Aku berdiri dengan Bummie dalam gendonganku. "Kau imut sekali..." Aku menciumi wajah mulus Bummie dengan sayang. Rupanya Bummie saat ini lebih imut daripada yang biasa kulihat di masaku.
"Wah, hebat.." seru Eunhyuk.
"Sepertinya Bummie sudah mengenalnya ya.." Kudengar Jongwoon bergumam. "Padahal dia hanya bisa seperti itu dengan kita dan Yesungie.." sahut Eunhyuk menimpali.
" Begitukah?" Aku tertawa pelan kemudian menyerahkan Kibummie ke gendongan ibunya. "Apa kalian berencana untuk pergi?" tanyaku dengan perasaan sedikit was-was.
"Iya.. Kami berencana akam pergi ke pemandian air panas." Eunhyuk menjawab dengan disertai senyuman sedangkan Jongwoon hanya memamerkan senyumnya dan merangkulkan lengannya di bahu istrinya.
Mereka benar-benar keluarga yang bahagia. Tapi, kedua orang ini akan segera meninggalkan Bummie karena kecelakaan itu. Bagaimana aku harus mengatakannya pada mereka?
Sebelumnya Eunhyuk pernah berkata, 'kita tak bisa menantang apa yang akan terjadi' padaku. Tapi sekarang aku berada disini, kalau aku mengatakan pada mereka yang akan terjadi, mungkin saja...
Kalau aku mengatakan soal kecelakaan itu...
"Hyukkie... Hyung..." Aku langsung mencari sumber suara itu. Aku mengenal suara itu. Itu suara Yesung oppa.
"Syukurlah kau masih ada disini. Ini buku yang kau minta.." Kulihat Yesung oppa mengulurkan sebuah buku ke Jongwoon. Kuamati Yesung oppa dengan seksama. Tak ada perubahan signifikan. Hanya saja di masa ini wajahnya terlihat lebih fresh. Mungkin karena peristiwa kecelakaan itu yang membuatnya sedikit mengalami guncangan.
Bagaimana kalau aku menghentikan kecelakaan itu? Kalau Eunhyuk tidak meninggal, aku tak akan bisa bertemu dengan Yesung oppa di masa setahun mendatang. Apa yang harus kulakukan? Kalau aku menyelamatkan mereka, sudah pasti Eunhyuk akan selamat. Apa aku harus menyelamatkannya? Tapi bagaimana kalau akhirnya aku tak bisa bertemu Yesung oppa lagi?
Aku menundukkan kepala saat kurasa ada yang menarik-narik pelan celanaku. Aku berjongkok saat melihat Bummie hendak memberikan sesuatu kepadaku. "Ini untukku?" tanyaku sebelum menerima sebuah permen dari Bummie.
Aku menggenggam erat permen tersebut. Aku tak ingin menyiakan kesempatan. Kalau Eunhyuk tak bisa membuatku kembali, maka Bummie harus bisa membuatku kembali ke masaku. Aku memfokuskan pikiranku. 'Aku ingin bertemu dengannya... Aku ingin bertemu Yesung oppa di masa yang sesungguhnya...' batinku keras sebelum aku merasa kepalaku teras pening dan tubuhku berputar-putar tak menentu.
.
.
Aku membuka mataku perlahan. Kulihat sekelilingku. Aku tahu tempat ini. Ini adalah kamar mandi di apartemen Yesung oppa yang kumasuki sebelum aku terlempar ke dimensi waktu yang lain.
Aku membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Aku berharap semoga saat ini aku berada di masaku yang sesungguhnya, bukannya terlempar lagi ke dimensi waktu yang asing.
Mataku menangkap sosok Yesung oppa dan Kibummie yang meributkan hal tak penting seperti sebelum aku menghilang dalam kamar mandi tadi. Aku juga mengedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan. Semuanya masih sama. Syukurlah, akhirnya aku bisa kembali. Tapi.. Apa yang tadi itu hanya mimpi? Terlempar ke dimensi waktu yang lain itu hanya mimpi belaka? Mungkin saja iya..
"Ada apa kok kelihatannya kaget begitu?" Suara Yesung oppa menegurku. Tanpa sadar aku mengeratkan genggaman tanganku. Eh, apa ini? Aku baru menyadari kalau menggenggam sesuatu. Kulihat sebungkus permen berwarna ungu di atas telapak tanganku. Ini kan... permen yang diberikan Bummie di masa setahun lalu. Mataku langsung menengok ke bawah, ke arah kakiku. Aku tertegun begitu melihat sepatu yang kukenakan adalah sepatu Eunhyuk. Jadi... Apa yang tadi itu bukanlah mimpi?
Aku menarik napas mencoba menenangkan diri. Aku berjalan menuju ke arah Yesung oppa lalu memeluk lehernya. "Oppa..." lirihku. Aku merasa sangat lega karena bisa bertemu Yesung oppa lagi.
"Hey, kau kenapa?" tanya Yesung oppa heran. Aku hanya menggeleng sambil semakin menenggelamkan kepalaku di lekukan leher Yesung oppa dari belakang
"Bummie.. sudah malam. Sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu dan tidur." Yesung memerintah Kibummie dan langsung dituruti oleh Kibum.
"Ayo, kau juga harus segera beristirahat. Kau kelihatan sangat lelah." Yesung oppa melepas pelukanku di lehernya lalu menuntunku memasuki kamarku.
"Ada apa sebenarnya, Wookie?" tanya Yesung oppa lembut sambil menggenggam kedua tanganku.
"Hm.. Apa aku.. boleh memanggilmu Yesungie?" pintaku ragu. Aku ingin memanggilnya seperti panggilan Eunhyuk padanya.
Kulihat Yesung oppa tersenyum senang. "Tentu saja. Coba kau bilang sekali lagi.." pintanya. Aku tak menyangka Yesung oppa akan senorak ini hanya karena panggilan itu saja. Rasanya malu sekali.
"Hm.. Aku masih belum siap mengatakannya, boleh kubatalkan saja?"
"Tidak bisa. Ayo katakan.." Yesung oppa menggerak-gerakkan tubuhku. Uh, kenapa Yesung oppa menjadi berlebihan seperti ini sih?
"Ayo katakan..."
Aku menghela napas. "Ye-Yesungie.."
"Wookie.." Yesungie langsung menarikku masuk ke dalam pelukannya. Dia memelukku begitu erat sambil tertawa. "Kau tahu, aku sempat cemburu mendengarmu memanggil Siwon dengan lembut seperti itu, sedangkan padaku tidak." Lelaki ini semakin mengeratkan pelukannya. Kuharap selepas ini aku tak terkena sesak napas. "Aku mencintaimu, Wookie.. Sangat mencintaimu..."
Hatiku terasa damai dan bahagia mendengar pernyataan cintanya. Jangan ditanya lagi, tentu saja aku juga sangat mencintainya. "Aku juga.." jawabku pelan.
Yesungie melepaskan pelukannya. "Kalau kau menjawab sependek dan selirih itu, aku merasa kau sedang membohongiku.." ucapnya dengan penuh selidik.
Aku memutar kedua bola mataku. Haruskah aku meneriakkan puisi cinta agar lelaki keras kepala ini percaya? "Aku.. juga.. mencintaimu.." Aku mengucapkannya dengan penuh penekanan.
"Ah.. Aku sangat bahagia.." Yesungie kembali menarikku ke pelukannya. "Aku sangat mencintaimu.."
Pernyataan cintanya membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Aku merasa bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi, di ujung hatiku aku merasa kalut. Aku tak bisa berhenti memikirkan kalau suatu saat aku akan berpisah dengannya. Aku tak ingin kehilangannya. Sungguh, aku sangat mencintainya dengan segenap hatiku.
Yesungie mencium keningku dengan lembut. Aku memejamkan mataku, meresapi kecupannya yang membuat hatiku terasa damai. "Meskipun kita sudah tinggal bersama, tapi baru kali ini kita seperti ini.." ucap Yesungie setelah menyudahi kecupannya lalu menatapku lembut.
Aku turut menatap mata obsidian gelap miliknya. "Ini semua bukan terpaksa kan? Kau bukan sedang membayangkan orang lain kan?Awas saja kalau memang begitu," tukasku.
Entah kenapa bibir Yesungie sedikit tertarik, dia menertawaiku. "Percayalah.. Hanya kau yang ada di hatiku sekarang.. Kau selalu ada di hati dan otakku hingga aku tak bisa memikirkan apapun lagi selain dirimu." Yesung oppa mengusap puncak kepalaku pelan. "Kalau bisa... Aku ingin menghentikan waktu yang sekarang. Aku sangat menyukai saat-saat kita berdua, bermesraan dan saling menatap penuh cinta." Setelah lelaki itu menyelesaikan ucapannya, ia meraih tengkukku dan memagut bibirku dengan intens. Lidahnya dan seisi rongga mulutnya serasa memanjakanku. Seumur hidup aku tak pernah berciuman sehebat ini selain dengan Yesungie.
"Saat seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan.." ucapnya dengan napas memburu lalu kemudian kembali memagut bibirku dan menjalankan tangannya merabai seluruh tubuhku.
Kalaupun saat ini Yesungie ingin aku menyerahkan tubuhku, aku akan menerimanya dengan senang hati. Aku tak akan memberontak bahkan pingsan seperti saat pertama kali dulu sebelum aku memiliki perasaan padanya.
Saat ini aku merasa yakin. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Tak ada satupun yang dapat menyangsikannya. Aku tak lagi membenci darah Eunhyuk yang mengalir dalam tubuhku. Darah Eunhyuk-lah yang mempertemukanku dengan Yesung oppa. Cintaku.
xXxXx
Tubuhku terkulai lemas di atas ranjang. Aku benar-benar tak bisa meragukan kehebatan Yesungie. Lelaki itu selalu bisa membuatku berteriak nikmat dan meraung memintanya bergerak lebih dalam. Oh Tuhan, aku merasa seperti habis pergi ke surga.
Di sela kebahagianku, tiba-tiba suatu pemikiran ganjil menghampiriku. "Hm.. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi kalau Eunhyuk masih hidup.. Apa kita akan seperti ini nantinya?" tanyaku ragu dengan pikiran menerawang.
Yesungie menghentikan gerakan tangannya yang sedang menaikkan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. "Benar juga.. Kalau memang dia masih hidup, mungkin hubungan kita akan lain ya.." sahutnya dengan merebahkan tubuhnya lalu memandang langit-langit kamar dengan pikiran entah kemana. "Aku mungkin tak akan bertemu denganmu.."
Aku menatapnya sendu. Hatiku terasa perih mendengarnya. "Kalau ada Eunhyuk, kau pasti tak akan pernah memikirkan aku.." ucapku dengan menahan tangis.
Yesungie beralih menatapku. Tatapannya sama sendunya denganku. "Maafkan aku.. Ini semua adalah pemikiran yang sulit.." Dia menarikku dalam dekapannya. "Seandainya saja hyung dan Hyukkie tidak jadi pergi ke pemandian air panas waktu itu.. pasti kecelakaan itu tak akan pernah terjadi.." katanya penuh kesedihan.
Aku jadi teringat kalau aku baru saja dari masa itu. Kalau saja saat itu aku bisa menghentikan mereka, mungkin semuanya akan bahagia sekarang. Terutama Yesungie. Aku tak ingin membuatnya selalu sedih saat mengingat kecelakaan itu. Ya meskipun pada akhirnya hanya akulah yang menderita karena merasa tersisih.
"Bagaimana... kalau seharusnya kecelakaan itu tak pernah terjadi?" Aku melepaskan dekapan Yesungie lalu bangkit duduk.
"Wookie..." Yesungie terlihat bingung melihat sikapku. Tapi aku tak peduli. Semuanya harus segera dituntaskan. Biarpun nantinya aku yang merasa tersakiti, aku akan ikhlas.
"Sebelumnya aku baru saja dari masa itu.. Dengan kekuatan Bummie.." Aku menatapnya dengan penuh tekad. "Padahal saat itu, aku bisa menolong mereka. Tapi aku bingung karena berpikir aku tak akan bisa bertemu dengan oppa lagi." Mataku memanas saat mengatakannya. "Kalau aku kesana lagi..."
"Wookie..." Yesungie sedikit berteriak mengagetkanku. Aku hanya menatapnya dengan air mata mulai menggenang di mataku. "Tenanglah..." Dia menarik lalu memelukku. "Aku sudah tak peduli soal Eunhyuk.. Bagiku kini, kau lah yang terpenting.." Kurasakan dia mengecup pucuk kepalaku. "Aku sudah menerima semua yang terjadi. Jangan pernah berpikiran bodoh seperti itu lagi.."
xXxXx
Yesungie sendiri yang mengatakan padaku kalau aku adalah yang terpenting. Lelaki itu melarangku memikirkan Eunhyuk lagi. Tapi... mengingat kebaikan Eunhyuk kepadaku membuatku merasa bimbang. Saat aku kecelakaan, dia yang menolongku bahkan ia tak peduli kalau bajunya akan terkena darahku dan tetap mengantarkanku ke rumah sakit.
Saat itu, aku mengalami kecelakaan karena seekor anjing. Dan setelah itu semua orang mencelaku idiot. Tapi karena hal itulah aku bertemu dengan Yesungie oppa dan Bummie.
Kalau saja saat itu aku tidak selamat, aku pasti tak akan sesenang ini. Kalau aku tidak selamat, mungkin hatiku tak akan sebahagia ini.
Aku tak ingin menjadi orang yang tak tahu balas budi. Eunhyuk sudah menyelamatkan nyawaku, bukankah kini saatku untuk menyelamatkan nyawa Eunhyuk? Tapi.. jika aku memilih menyelamatkan Eunhyuk, aku harus siap untuk kehilangan cintaku, Yesungie oppa. Apa yang harus kupilih?
Aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Aku harus membuat , aku harus memilih Eunhyuk. Aku harus membalas budi orang yang telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tak ada dia, aku tak akan bisa hidup sampai saat ini. Aku harus bisa melakukannya. Apapun resikonya nanti.
"Bummie.." Aku mendekati Bummie yang sedang asyik menonton film kartun.
Aku menyetarakan tinggiku dengan Bummie. "Kumohon, Bummie.. Tolong penuhi permintaan noona.." Aku memejamkan mataku dan menundukkan kepala sambil memegang kedua bahu Bummie.
"Aku ingin menyelamatkan Eunhyuk dari kecelakaan.." lirihku dengan mata masih terpejam. Sekarang aku harus berpikir dimana saat aku menolong anjing itu. Apa yang harus kulakukan? Yang kulakukan sebaiknya adalah lari..
.
.
Aku membuka mataku setelah kurasakan kepalaku telah berhenti berputar. Ah, aku sudah berteleportasi.
Aku menelisik sekitar. Daerah ini adalah rute komunikasi. Wah, ada yang menjatuhkan koran. Aku harus memastikannya dengan itu. Jangan sampai aku kesasar ke masa yang lain lagi.
Ah, korannya segera berlari mengejar koran terbang itu. Hap, aku mendapatkan koran itu jatuh di bawahku.
Aku tertegun saat melihat ke bawah. Jantungku serasa berdegup kencang dan otakku serasa berhenti berpikir. Kakiku.. kenapa kakiku menjadi kaki binatang?
"Anjing lucu..." Aku mendengar suara seorang gadis di dekatku. Aku mendongak. Deg.. Aku?! Dari masa lalu?!
Aku menjadi anjing?!
Tubuhku terangkat saat 'aku dari masa lalu' menggendongku. "Hei, kau kabur kemana saja?" ucap 'aku masa lalu' dengan tawa riang.
Tanpa kusadari, aku menjilat pipi sosok yang menggendongku. Ya Tuhan, aku melakukan ini pada diriku sendiri. Ini benar-benar aku? Kenapa aku bisa menjilat wajah orang yang adalah diriku sendiri?
Tidak! Lepaskan aku! Aku meloncat dari gendongannya dan berlari tanpa haluan.
"Awas..."
Tubuh anjingku terasa didorong begitu keras hingga terpental di pinggir jalan.
Ckit... Brakk..
Dengan cepat aku menstabilkan napasku lalu berbalik melihat ke tengah jalan. Astaga, 'aku masa lalu' tergeletak pingsan di tengah jalan dengan bersimbah darah. Dia telah memdorongku dari mobil itu..
Ini adalah saat dimana aku mengalami kecelakaan. Dan aku adalah anjingnya...
Aku tak bisa bicara kan? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus mencari pertolongan? Bagaimana caraku berbicara dengan Eunhyuk? Apa aku tak bisa kembali lagi ke masaku sebenarnya? Dan.. Apakah selamanya aku akan menjadi anjing?
TBC
Hai... maaf kalau updet nya bener-bener lama *bow*
Ini maksudnya itu.. Wookie bisa berteleportasi ke masa depan dan masa lalu. Hanya Eunhyuk dan Bummie yang memiliki kekuatan membuat seseorang berteleportasi.
Teleportasi yang terakhir itu, Wookie menjadi anjingnya di masa lalu saat sosok manusia nya kecelakaan.
Ada yang masih belum paham? Kalian tanya saja di kolom review, sebisa mungkin saya balas di chapter depan.
Maaf kalau deskripsi dan penjelasan saya kurang bisa dipahami..
Makasih yang udah baca dan review di chap kemarin..
Sampai jumpa..
