Author: Doushite… Boku wa kowaretta messiah
Huahahahahaha…. Juju lagi dengerin The World niy… Karena Juju entah mengapa lagi rajin hingga bikin 4 Chapter sekaligus. Ya udah karena udah cape kebanyakan Disclaimer jadi yang singkat ajah.
Disclaimer:Juju kagak punya Detnot. Udah ah cape. Tamat
" Warning. Cerita ini mengandung ke yaoi an. Tamat."
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chapter 12 : Suicide
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light terkejut. B mempunyai mata shinigami? Itu tidak mungkin, pikirnya.
" Impossible…," kata Light tidak percaya. B menyerigai semakin besar.
" Itu kenyataannya…," kata B lagi. Light terperangah.
" How…," tanyanya. B berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam sakunya.
" Apakah kau juga memiliki Death Note?," tanyanya lagi. B menggelang kepalanya sembari menyeringai.
" Tidak," jawabnya singkat.
" Bagaimana bisa?," tanya Light lagi.
" Aku memiliki ini sejak lahir," kata B. Light semakin kaget. Bagaimana mungkin seseorang memiliki mata shinigami alami. B menyeringai lagi melihat ekspresi Light.
" Inilah cara ku menemukanmu. Inilah caranya aku bisa mengetahui siapa Kira. Saat aku bertemu denganmu, aku tidak bisa melihat Life Span mu. Aku tak menyangka ternyata Kira masih muda dan tampan. Akhirnya aku jatuh cinta kepadamu dan memutuskan untuk melindungimu," kata B. Dia mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Light untuk sesaat. Light memandangnya tajam.
" Apa hubunganmu dengan L?," tanyanya lagi.
" Aku adalah salah satu calon penerusnya. Watari mendidikku untuk menjadi L," katanya lagi. Light memandang lurus kearahnya. B menyadari mata Light menunjukkan kepedihan setiap kali nama L disebut.
" L Lawliet… Itu memang nama aslinya…," katanya lagi. Light hanya diam sementara B mendekat lagi kearahnya.
" Aku memang dididik untuk menjadi dirinya, tetapi aku tidak akan pernah mengkhianatimu seperti dia…."
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
B mengawasi Light yang sikapnya berubah menjadi lebih baik kepadanya. Light tampak ramah dan ceria seperti biasa tetapi ada yang hilang darinya. Walau setiap hari dia tersenyum kepadanya tetapi matanya tetap menunjukkan kesedihan. Walau Light berakting sangat hebat, B tetap tahu bahwa pandangannya kini berbeda dengan pandangan mata Light yang dulu ia kenal. Pandangannya hampa… seperti ada yang hilang darinya…
B menyibakkan rambut dari mata Light. Ia memandangi Light tertidur disampingnya. Jujur saja, akhir-akhir ini ia lebih menyukai ekspresi Light yang tertidur bukan Light yang memaksa diri untuk tersenyum. Setidaknya dalam tidurnya Light terlihat tenteram.
Beberapa hari sudah lewat sejak L meninggalkan tempat ini. Namun, tetap saja Light masih memikirkannya. Bahkan Death Note yang diberikannya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Mengingat L, B merasa amarahnya muncul. Ia membenci L karena perbuatannya pada Light. Ia tidak akan membiarkan L menyakiti Light lagi. Saat B sedang memandangi wajah Light lekat-lekat, ia menyadari setetes air mata jatuh dari ujung mata Light. B menghela napas. L benar-benar membuat Light sedih.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light bangun di pelukan B. ia menatap wajah B yang kini sedang menatap lurus kearahnya. Sebuah senyuman terlintas di bibirnya.
" Selamat pagi, Light-kun…," kata B. Light terhenyak, cara B memberi ucapan selamat pagi kepadanya persis sekali dengan L. L… Setiap kali namanya terlintas di benak Light sakit di dadanya muncul kembali. Sama seperti kali ini. Dada Light terasa sakit walaupun ia masih berada di pelukan B. Begitu sakitnya hingga ia menahan air matanya susah payah. Ia tidak akan menangis di depan B. Ia harus melupakan L.
Akan tetapi, menghilangkan L dari pikirannya untuk sedetik saja sangat sulit. Memang Light mulai mempunyai perasaan cinta kepada B, tetapi tidak sebesar cintanya kepada L. Kepada orang yang hanya memanfaatkannya. Light berjanji dalam hati, ia akan berusaha mencintai B. Melupakan L…
" Apa yang sedang kau pikirkan, Light-kun?," terdengar suara B membuyarkan lamunannya. Light menggelengkan kepalanya perlahan.
" Tidak ada…," katanya sembari melayangkan senyum palsunya lagi. B membalas senyumannya lalu ia perlahan melepaskan dirinya dari Light.
" Aku akan ke dapur lebih dahulu. Aku yakin Light-kun akan mandi lama seperti sebelumnya," kata B. Ia berdiri dan pergi meninggalkan kamar setelah sebelumnya memandang Light lagi.
Light berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Ia menutup pintu kamar mandi dan perlahan duduk di dalam bak mandi sementara air dingin menyirami tubuhnya. Ia termenung. Beberapa menit kemudian, air mata jatuh lagi dari pipinya. Seperti biasa, setiap hari ia duduk disini, termenung dan meneteskan air mata.
Light menyandarkan kepalanya di samping bak. Air disana belum penuh tetapi perlahan pasti akan penuh dan menenggelamkan kepalanya, namun ia tidak peduli. Ia tidak punya semangat hidup lagi begitu mengetahui orang yang dicintainya hanya memanfaatkannya. Lama kelamaan air mulai menenggelamkan wajahnya hingga ia tidak bisa bernapas. Tetapi, entah mengapa ia tidak merasa takut.
Light menutup matanya. Kini seluruh tubuhnya ditenggelamkan air. Ia tidak peduli. Ia tidak punya hal yang membuatnya bertahan hidup. Ia merasa mungkin seperti ini seharusnya. Mungkin ia memang seharusnya mati.
Entah berapa lama ia disana. Entah berapa lama ia membiarkan air menenggelamkannya. Paru-parunya terasa sakit meminta udara. Tetapi Light tidak peduli. Sakit di paru-parunya tidak mengalahkan sakit di hatinya. Light memegang sisi bak untuk menahannya agar tetap di dalam air. Air di dalam bak mulai luber karena terlalu penuh.
Light tidak peduli lagi. Ia ingin mati. Ya, ia ingin mati dan melupakan L. Ia ingin pergi ke tempat dimana ia tidak bertemu L lagi. Ryuk yang sejak tadi memandangnya tertawa-tawa melihatnya tetapi Light tidak bisa mendengar suara tawanya.
" Dasar manusia bodoh… Khu khu khu… Kalau ia ingin bunuh diri, aku tidak akan menolongnya… Khu khu khu," ucap Ryuk. Sementara Light sama sekali tidak bisa mendengarnya di dalam air. Paru-parunya mulai terasa sangat membakar dan matanya mulai tidak fokus. Light kesakitan, namun hatinya lebih sakit lagi. Ia menggerakkan tangannya untuk tetap menahannya di dalam air. Tanpa sengaja tangannya menyentuh cermin yang diletakkannya di samping bak hingga terjatuh dan pecah. Saat itu pandangan Light mulai gelap. Ia pun pingsan.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Light-kun…," panggil B. Diketuknya pintu kamar mandi beberapa kali. Light mandi terlalu lama hingga B menyusulnya kemari.
" Light-kun…," panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara air mengalir. B baru saja akan kembali 5 menit lagi saat terdengar suara barang pecah dari kamar mandi. B mulai khawatir, ia mengetuk pintu kamar mandi lagi lebih keras.
" Light-kun!," tidak ada jawaban.
" Light-kun!! Apa yang terjadi?! Light-kun!!," teriaknya namun tetap tidak ada jawaban. B benar-benar khawatir ia mencoba membuka engsel pintu. Namun, ia menemukan pintunya dikunci.
" Light-kun!! Light!! Dammit!! Answer me!! Light-kun!!," teriaknya lagi namun yang ia dengar tetaplah suara air mengalir. Saat ia mendengarkan suara air itu, ia menyadari bahwa suara seperti itu hanya akan dibuat jika airnya mengalir hingga luber.dan Light tidak mungkin membiarkan air luber kecuali…
" Oh, No… Light-kun!!," teriak B. Ia menabrakkan dirinya ke pintu kamar mandi kuat-kuat. Ia terus menabrakkan dirinya hingga pintu itu menjeblak terbuka. B segera berlari masuk ke kamar mandi. Ia menyadari pecahan cermin di lantai. Lalu saat ia mendekat ia melihat dengan jelas. Light terbaring tidak sadar di dasar bak.
" Oh, Shit!!," seru B panik. Dengan segera ia mengangkat tubuh Light yang sekarang pucat pasi. Digendongnya Light ke tempat tidurnya. Sekujur tubuh Light dingin. B segera menekan pergelangan tangan Light dan menyadari hilangnya denyut nadi yang seharusnya ada disana.
" Fuck!!," seru B. Ia takut, benar-benar takut. Segera ia memberikan napas buatan dan memompa dada Light. Ia berusaha semampunya namun sepertinya tidak ada hasilnya. Light tetap tidak bernapas. Ia nyaris putus asa. Di ulangnya terus napas buatannya dan ditekannya dada Light.
" Light-kun! Please… wake up… Wake up… come on… breath…," gumamnya sembari terus menekan dada Light. B benar-benar ketakutan hingga tidak disadarinya setetes air mata jatuh ke pipinya. Setelah beberapa lama, terdengar suara batuk. Light batuk dan mengeluarkan air yang telah ia telan.
" B…," bisiknya lemah. B menatapnya dengan sangat khawatir.
" Jangan. Pernah. Mencoba. Bunuh. Diri. Lagi.," katanya jelas. Light memandangnya dengan tatapan hampa penuh kepedihannya lagi. Perlahan air matanya jatuh.
" Kenapa…," katanya lemah. B menatapnya tak percaya. Dimana Light yang dulu yang penuh percaya diri dan ambisi? Dipeluknya tubuh Light dengan lembut. Light menangis dalam diam.
" Kenapa… menolongku…," katanya lemah.
" Karena aku mencintaimu dan tidak ingin kau mati…," kata B lembut. Seluruh tubuh Light berguncang.
" Dia tidak… Dia tidak pernah… Katanya… aku… makhluk yang paling tidak layak di… cintai… di dunia ini…," bisik Light pelan. B mendorong Light hingga mata mereka bertemu.
" Dia salah. Kau sangat layak untuk dicintai. Dia bodoh…," kata B. Ia dapat dengan jelas melihat air mata Light.
" Katanya… aku tak layak… dicintai… aku… makhluk paling hina…," bisik Light. B menarik Light lagi kedalam pelukannya. Ia tidak peduli dengan air di tubuh Light yang membuat seluruh kausnya basah. Dia berbisik di telinga Light.
" Kau layak dicintai…. Aku mencintaimu…," katanya. Light terisak di dadanya hingga ia tertidur karena lelah. Saat itu kebencian B kepada L meningkat.
" Akan kuhilangkan rasa sakitmu, Light-kun…," bisiknya pelan sementara Light sedang larut dalam tidurnya.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Light terbangun karena suara tawa Ryuk. Dibuka matanya dan dilihatnya Ryuk menertawakan sesuatu. Light berusaha bangkit dari tempat tidurnya namun tubuhnya masih sakit. Ia hanya duduk di tempat tidurnya sembari menatap Ryuk yang sepertinya menyadari ia sudah bangun.
" Apa yang kau tertawakan, Ryuk?," tanyanya. Ryuk tertawa lagi dan menatapnya.
" Kekasihmu…," kata Ryuk tak jelas. Light mengangkat alisnya.
" B…," kata Ryuk lagi. Ryuk tertawa lagi sementara Light memikirkan apa yang dilakukan oleh B sehingga membuat Ryuk sesenang ini. Light terdiam sejenak lalu pandangannya terpaku ke mejanya. Dimana sesuatu yang seharusnya ada disana menghilang. Death Note nya tidak ada.
Light terperangah. Pasti B yang mengambil Death Note nya. Tapi, untuk apa? Pikiran Light berlomba-lomba. Ia ingat, dalam tidurnya ia merasa ada seseorang yang berbicara kepadanya. Orang itu berkata bahwa ia akan menghilangkan rasa sakitnya. Pasti B yang berbicara kepadanya.
Menghilangkan rasa sakitnya? Menggunakan Death Note? Light berpikir, apakah sumber rasa sakitnya. Sedetik kemudian wajahnya pucat pasi.
' L….'
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Author: Gyahahahaha akhirnya udah ampe chapter 12 bo!! Udah akh!! Ripyu yah!! Kalo ga ripyu ntar bakalan dilama in nih updatenya!! Ayo ripyu lah aku!!
