[ Masa sekarang, di rumah Kise, sehari kemudian setelah berita sakitnya Midorima ]
(Text = Bahasa Jepang)
"...gun! Bangun!"
Suara seorang wanita dewasa perlahan menyapu seorang remaja cowok yang masih tertidur dengan lelapnya pada pagi yang sejuk dalam musim panas itu. Merasa terganggu, cowok itu lalu berguling memalingkan tubuhnya dari wanita itu. Satu perempatan muncul pada dahinya, dan wanita itu lalu berjalan menuju ujung ranjang itu, di mana kaki cowok itu dibiarkan begitu saja tanpa pengamanan.
Terlintas ide konyol yang tiba-tiba lewat dari imajinasi liar wanita yang hobinya mengerjai adik cowok satu-satunya itu.
Kedua tangannya lalu memegang pergelangan kaki cowok itu, dan tiba-tiba ia memelintir kedua kakinya dengan sekuat tenaga sambil berteriak dengan perkasa, mengawali aktivitas anak-anak keluarga Kise itu, "BUANGUUUUUNNNNNNNN, RYOUTA-CHAAAAAAAAAANNNN! ! ! ! ! HARI INI KAU HARUS SEKOLAH, DASAR ADIK BEBAAAAALLLLL! ! !"
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Legend of Emperors
© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, ada karakter dari game lain (Marlina, Roxy, Ygress, Manston, Alexi, Talia / Hero Dream © Efunen Company) dan menggunakan surname khas Eropa Barat, OC, etc.
Guest : D-ne dari Shuuen no Shiori Project © 150P dan Suzumu
A/N (Mun) : Ayey~ aku senang kalian membaca fanfic geje ini! Maaf kalo AkaKuro-nya belom tampil, soalnya ntar mau dieksplorasi habis-habisan di chap-chap terakhir~ jadi mohon bersabar ya~ aku nabung dulu scene-nya sambil mimisan—*ditabok*oh ya, adakah yang bertanya-tanya tentang chap lalu? Tenaaang, Mun sengaja kasih yang demikian karena akan ada hal penting di chap selanjutnya~ selamat membaca!
.
.
.
NYUT NYUT.
Kini seorang Kise Ryouta terpaksa menangisi nasibnya harus seatap dengan salah satu dari dua kakaknya yang ya ampun mengerikan sekali.
Dan ia kini berada di atas ranjang, mengaduh-aduh selama beberapa saat nonstop setelah sukses dipelintir dengan ganasnya oleh wanita dewasa itu. Kedua pergelangan kakinya bahkan sudah diperban oleh kakak nomor satu, yang tidaklah semengerikan kakak nomor duanya. Bisa gawat nih, aku bakalan libur bermain basket nih... Pertandingan persahabatan melawan SMA Josei kan sudah di depan mata... Hiks...
"Anu... Ryouta-chan, sudah tidak apa-apa kan?" tanya kakak nomor satu yang berambut panjang bergelombang dan juga berwarna sama sepertinya, khawatir sambil memotong perban yang melilit pergelangan kaki kiri cowok itu.
"Iya, Ryouka-neechan... Sakit benar... Ryouko-neesan itu kejam benar jadi kakak-ssu..." keluh cowok itu menangis sungguhan.
PUK.
Ryouka, nama kecil kakak nomor satu itu, tersenyum kecil usai menepuk pelan pergelangan kaki kiri cowok tersebut, "Ya, sudah selesai. Kalau mau, Ryouta-chan bisa minta libur kok. Nanti aku e-mail Kasamatsu-san biar dia tahu keadaanmu. Harusnya kau tahu, jam bekermu mati, dan kau juga harus tahu bahwa tenaga kakak nomor duamu itu setara dengan temanmu Kuroko-chan itu."
Iya deh... Aku lupa kalau dia sama mematikannya dengan Kurokocchi... Diam-diam Ryouta meringis pelan, membayangkan kakaknya akan melakukan ignite pass kai kepada dirinya. Bisa-bisa dirinya sudah RIP sebelum menikahi Kurokocchi atau bahkan di'rape' oleh Aominecchi. Memalukan sekali.
KRASAK KRUSUK.
Ryouka lalu berdiri seraya membawa kotak P3K-nya sambil mengingatkannya, "Nanti aku bawakan saja makanan untukmu. Lebih baik hari ini kau tidak masuk, sepertinya tenaga yang dikeluarkan Ryouko-chan sangat keras..."
"Baik-ssu..." sahut Ryouta menuruti nasihat kakak nomor satu itu.
"Ganti baju aja sana dulu."
BLAM.
Cowok itu lalu menghela napas selagi melihat pintunya ditutup oleh kakaknya. Ia kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang itu, memikirkan apa yang baru saja terjadi kemarin. Kurokocchi... Kau kemana sih-ssu? Kenapa kau harus menghilang? Dengar, ini aku lagi menderita dipelintir dengan kejamnya oleh kakakku-ssu... Gimana ini—.
—Kise... Kise...
DEGH!
Ia langsung menegakkan punggungnya lagi, memastikan suara itu memang baru saja menyapanya entah dari mana.
—sini... Tolong—.
Cowok itu lalu menoleh ke sisi belakangnya, dan dipastikan tidak ada siapapun di sana. Ia lalu fokus pada suara itu, dan mendapatinya suara itu terus-menerus muncul dari segala arah. Bingung akan sumber suara itu, ia memutuskan untuk mengambil bantal dan kembali tidur dengan bantal itu menutupi telinga sebelah kanannya. Kedua kakinya juga sudah diluruskan, untuk jaga-jaga dan sudah dipasang pengaman (baca: selimut dan sejumlah guling).
Dan tanpa diduga cowok itu, rasa mengantuk kembali menyerang dan menidurkannya.
Zzzzzz...
.
.
.
—biar aku...—ntikan kau—... tolong...
-xXx-
[ Di gymnasium sekolah Kaijou, sore hari pada hari yang sama. ]
RING RING RING.
Beberapa cowok lalu melirik salah satu tas olahraga yang ditaruh di atas bangku panjang yang ada di salah satu sisi gymnasium itu. Salah satunya bahkan menyadari sumber suara itu, dan langsung pamit untuk mengambil HP-nya itu. Mereka menggangguk pelan, dan kembali melanjutkan aktivitas berlatih basketnya, sedangkan seorang cowok berambut spike yang berpakaian sport berwarna biru tua tanpa lengan dengan celana pendek sport berwarna putih dan kaos olahraga berwarna hitam serta sepatu putihnya menghampiri bangku itu.
Kedua tangannya yang berkeringat lalu membuka restleting tas berwarna biru gelap miliknya, dan mendapatinya HP-nya sudah bergetar cukup lama.
Tanpa tedeng aling-aling, ia lalu mengambil dan membuka screen-nya serta melihat ada panggilan masuk dari seorang temannya yang bernama Kise Ryouta.
Haaaahhh... Cowok itu hanya bisa mendesah kesal.
KLIK.
"Moshi-moshi?" sapa cowok itu bete.
Hening. Tidak ada balasan dari salah satu anggota timnya itu.
Tidak sabar untuk memutus sambungan teleponnya, ia lalu bertanya sekali lagi, "Moshi-moshi? Kau kemana aja, Kise?"
Hening lagi.
Cowok itu minta ditampol yaaaa... Nggak tahu tata krama nih!
Ia lalu menjauhkan HP-nya dari telinga kanannya dan hendak menekan tombol merah ketika ada sebuah balasan yang datang darinya, "Tolong jangan tutup ini. Aku mau bertanya... Kau tahu nomor HP anak klub basket putra SMA Seirin? Kapten atau pelatihnya atau siapapun yang bisa dihubungi—selain Kagamicchi dan Kurokocchi-ssu."
Nomor HP anak basket Seirin? Ah, aku dapat nomor HP Hyuuga... Cowok itu lalu membalasnya seraya berkacak pinggang, "Ya, ya. Aku ada nomor HP kapten klub itu. Tunggu, aku coba hapalkan dulu. 09XXXXXXXXX. Memangnya ada apa? Tidak seperti biasanya kau minta nomor HP anak basket Seirin selain Kagami dan Kuroko."
"Tidak apa-apa... Cuma, aku ingin memastikan bahwa nomor ketiga dari Seirin bisa kuhubungi, dan nomor Kagamicchi dan Kurokocchi tidak aktif. Makasih ya, Kasamatsucchi."
PIP PIP.
Mata hitam milik cowok bernama Kasamatsu itu menyipit dan alisnya terangkat satu begitu ia memandang screen HP-nya itu. Dari lubuk hatinya, ia sudah merasakan sesuatu yang buruk menyerang tulang punggungnya, membuat cowok itu sempat gemetaran. Firasat apa ini...? Aku bisa merasakan firasat buruk...!
-xXx-
[ Perpustakaan SMA Seirin, 10 menit setelah Kasamatsu menerima telepon ]
(Text = bahasa Jepang, Text = bahasa Latin)
KRING KRING KRING.
PLUK!
Sebuah tangan kiri menepuk keras HP berwarna merah tua yang tergeletak di atas meja persegi panjang yang ditempatinya, dan mengambil HP tersebut. Tangan itu dengan gesit membuka screen-nya dan mendapatinya ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ibu jarinya dengan cepat menekan tombol hijau, dan mendekatkannya ke telinga kirinya, "Moshi-moshi. Siapa Anda?"
"Moshi-moshi, ini Kise Ryouta—tidak... Kalian tidak kenal aku kok, tetapi aku 'tahu' satu hal-ssu."
"Apa-apaan sih—tunggu... Kamu Kise?" tanya cowok berkacamata itu menaikkan satu alis.
"Iya... Tapi yang memakai suara ini bukan Kise yang asli kok. Sebentar... Di sini... Ada tupai kecil yang bisa berbicara, ya kan?" Kise—nama cowok yang menelepon si tsundere berkacamata itu, bertanya dengan suara lirih.
Cowok itu tersentak kaget mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Kise. Menyipitkan kedua matanya, ia lantas mengganti suasana menjadi sedikit tegang, "Kamu itu sebenarnya siapa...? Aku mengenal suaramu sebagai Kise Ryouta si ace dari SMA Kaijou, tetapi rasanya... Aneh. Ya, kamu terlihat berbeda."
"... Pintar juga kamu. Kau pasti tahu siapa yang memanggilmu ini."
GLEK.
Kalimat itu... Jangan-jangan? !
Cowok berambut spike yang meneleponnya, langsung memekik pelan ke teman-temannya selagi masih meneleponnya; menyadari perbedaan suara itu dengan yang satunya lagi, "Teman-teman—tidak, Ymir, ada seseorang yang meneleponku dan menggunakan bahasa asing yang seperti bahasa Latin."
"APA? !" Tupai mungil plus anak-anak yang bercokol di dalam perpustakaan itu, langsung memekik balik dengan wajah tidak percaya.
"Berikan HP-nya ke aku-cit!" Seru tupai yang bertengger di atas kepala seorang anak perempuan satu-satunya di antara gerombolan anak cowok itu, mencicit dengan keras.
Cowok itu menggangguk cepat, dan mengangsurkan HP-nya di atas meja dengan screen-nya tertekuk sekitar 45 derajat ke belakang dari posisi tegaknya. Tupai kecil itu langsung melompat ke meja itu dan mendekati HP milik cowok itu. Tupai itu dengan lirih membuka pembicaraannya, "Halo, Yang Mulia Ground Emperor... Saya Ymirelmir, seekor tupai dari salah satu penyihir pada tahun 14XX-cit... Suatu kehormatan bisa berbicara dengan Anda-cit."
Sang Ground Emperor hanya bisa tersenyum lemah di seberang teleponnya, dan membalasnya dengan sopan juga, "Suatu kehormatan bisa mengetahui adanya makhluk yang bisa memahami diriku. Sekarang, saya butuh pertolongan... Sungguh, kondisi kami benar-benar terdesak. Forest Emperor-cchi itu... Sekarang dia mengincarku untuk memakan kekuatanku—beruntunglah saya minggat ke sini. Water Emperor-cchi masih terluka dan ada kemungkinan tersusupi oleh sesuatu yang buruk. Flame Emperor-cchi juga terancam dengan ditahannya Water Emperor-cchi di daerahnya. Saya tidak tahu kondisi Magic Emperor-cchi dan Sky Emperor-cchi..."
CIT!
Tupai itu lalu membalasnya dengan sedikit panik, "Apa kata Anda, Yang Mulia Ground Emperor-cit? Tiga orang Emperor itu sekarang berada dalam bahaya? Kebetulan sekali... Dua orang teman—tidak, sepertinya cicit dari Anda semua, juga tersusupi oleh sesuatu yang buruk. Saya kurang tahu secara detail, tetapi memang demikian kenyataannya. Dan satu lagi-cit."
"Ya?"
"Bagaimana cara Anda bisa melarikan diri ke sini-cit?" tanya tupai itu penasaran.
"Saya terpaksa meninggalkan jasadku di sana, entah bagaimana caranya saya bisa berteleportasi ke sini... Bisa gawat kalau Forest Emperor-cchi memakan jasadku itu... Aku bisa-bisa tidak kembali serta jiwaku akan terjebak dalam sini dan tato kutukan itu akan menempel pada tubuh yang 'kupinjam' ini... Kebetulan sekali, tubuh ini milik cicitku..." jawab sang Ground Emperor terkekeh pahit.
Kondisi bertambah gawat lagi... Tupai kecil itu merasakannya demikian.
CIT!
Makhluk mungil itu lalu menyahutnya, "Tapi... Sejak saya terjebak di sini... Saya samar-samar merasakan ada suatu kerusakan dimensi... Entah apa itu kejadiannya. Anda tahu ini-cit, Yang Mulia Ground Emperor?"
"Itu... Seseorang membuka paksa dimensi ini dan menyambungkannya ke sana. Saya juga samar-samar merasakan itu, Ymirelmir."
GLEK.
Tupai itu lalu menggangguk pelan, "Ya. Ada yang perlu disampaikan, Yang Mulia?"
"Untuk saat ini, tidak ada. Besok saya usahakan datang ke sini dan memberitahu kepada cicitku di dalam tubuh ini. Kita perlu banyak orang untuk membantuku dan juga Emperor lain. Kita hanya perlu menanti kematian dari Yang Diatas, tidak ada lagi yang dapat 'membunuh' kami! Anyway, terima kasih, Ymirelmir."
TUT TUT.
Bola mata hitam dan kecil milik tupai itu menatap dalam-dalam screen-nya. Tidak mungkin... Di eraku saja sudah seribut ini? !
Menyadari bahwa manusia yang ada di sekitarnya sedang penasaran, tupai itu lalu menghadap kepada mereka seraya menjelaskan sesuatu sambil mengipas-gipaskan ekornya, "Kondisi di eraku juga memburuk-cit. Ada kemungkinan tiga teman kalian—Midorima, Aomine dan Takao—sakit karena adanya pengaruh dari era di sana-cit. Selanjutnya kalian bisa simpulkan sendiri-cit."
"Mana mungkin—."
TING.
Gadis berambut cokelat sebahu yang menyadari sesuatu, lalu mencoba menjawab teka-teki yang diberikan tupai itu dengan wajah tidak percaya, "Jangan-jangan... Kau mau mengatakan bahwa sesuatu terjadi pada beberapa orang yang berkaitan—maksudnya kakek buyut jauh-nya Midorima, Aomine dan Takao?"
Satu anggukan yang memastikan akan jawaban yang diberikan gadis itu, "Kau benar, Riko-cit."
ZLEB.
"Kakek buyut mereka dalam bahaya-cit. Ada banyak efek yang menimpa mereka, salah satunya jatuh sakit secara mendadak. Namun di sinilah teka-tekinya... Momoi-san mengatakan bahwa tubuh Aomine itu dihinggapi semacam bercak warna hitam pada tubuhnya, 'kan? Itu yang menjadi misteri." papar Ymirelmir padat dan jelas.
Seisi perpustakaan segera saja menjadi hening usai mendengarkan penjelasan tupai itu. Bahkan Riko, satu-satunya gadis itu dan Hyuuga, yang memiliki HP itu dan juga yang memimpin misi uniknya itu, tidak dapat berkomentar. Sore hari itu diakhiri dengan suatu perasaan sedih, kesal, dan suatu napsu ingin menolong sang sahabat sekaligus salah satu anggotanya dari masalah itu...
-xXx-
[ Kediaman Akashi di Tokyo, usai makan malam pada hari yang sama ]
Manik heterokromnya memandang sebuah lukisan besar yang dipajang di koridor menuju kamarnya sendiri.
Lukisan itu adalah seorang wanita dewasa berambut merah membara seperti dirinya, duduk di kursi antik menghadap ke kanan depan dengan menggendong seorang bayi yang tertidur dengan damainya di balik kain besar berwarna putih yang melilitnya. Mata merahnya memancarkan kehangatan dan kelembutan serta bibirnya mengulas senyuman manis, khas seorang ibu yang merupakan impian semua anak. Tapi sayang beribu sayang, wanita itu kini sudah tidak ada lagi di sisinya, mengisi hari-hari bahagianya bersamanya.
"Ibu…" gumam sang pemuda pemilik mata heterokromik itu kangen.
CTARRRRR.
Cuaca malam hari yang buruk takkan menghalangi seorang Emperor untuk mengeluarkan sisi yang tidak akan pernah dibeberkannya kepada siapapun—kecuali seseorang yang sangat ia cintai melebihi ayahnya.
Pemuda berambut merah membara itu lalu menyandarkan dahi dan kedua tangannya pada lukisan itu seraya bergumam, "Ibu... Aku tahu kalau aku ini seorang laki-laki tidak normal, tetapi aku menyukai dan menyayangi Tetsuya. Dari dia, aura khas Ibu sangat terasa darinya. Kekeraskepalaannya, tekadnya yang kuat, serta kebaikan hatinyanya benar-benar mirip sama Ibu."
Hening. Tidak ada yang membalas curhatan mendadak pemuda itu.
Tersenyum miris, ia kembali menjauh dari luksan itu, menahan tangisannya, "Sudah ya. Aku harus tidur, dan besok aku akan membolos untuk mencari Tetsuya dan si bodoh Taiga itu selagi aku akan setor muka ke Otou-sama. Biar bagaimana pun, rasanya bermain basket itu terasa hambar tanpa menantang Tetsuya, Taiga dan semua teman-teman klub basketku waktu Teikou dulu. Dukung aku dari Surga ya, Ibu."
Ia lalu mengelus-elus lukisan itu, dan kemudian meninggalkannya.
Tetsuya... Aku akan mencarimu. Bersabarlah sebentar lagi... Dengan kekuatan Emperor-ku...
BLAM.
Pemuda itu lalu masuk ke kamar pribadinya, dan dengan malas ia mengambil TV remote-nya dari ranjangnya dan menyalakannya. TV itu lalu menayangkan breaking news pada hari itu selagi anak tunggal keluarga Akashi itu membuka pakaian sekolah Rakuzannya.
"...Saya D-ne dari NHKNews melaporkan dari Rumah Sakit Himewajima, distrik Chiba. Di sini telah terjadi suatu pembantaian seluruh orang di lantai dua dan tiga oleh seseorang, yang terjadi pada kira-kira pukul 7 lewat 10 menit tadi. Diketahui dari olah TKP yang sedang terjadi, ada dugaan pelakunya hanya satu orang, dan berikut korban-korbannya..."
Pemuda itu tidak peduli pada berita itu, dan beberapa saat selanjutnya, ada suatu nama yang membuat ia terkesiap kaget.
"... Momoi Satsuki... Aomine Tsukiko... Midorima Shinji..."
DEGH.
Mata heterokromiknya segera menoleh ke TV plasma itu. Apa telingaku tidak salah tuh...? Jangan bercanda...!
Sayangnya, selang beberapa detik kemudian, sebuah daftar korban-korban pembantaian mengerikan itu terpampang dengan jelas di TV plasmanya. Dan ia menyadari adanya nama mantan managernya dan ibu si ace itu, bonus ayah si shooter itu berada dalam daftar orang-orang yang dipastikan tewas malam yang menakutkan itu, minus Daiki. Satsuki... Aomine-san... Dan Midorima-san...? !
"Ini tidak mungkin... Ini gawat!" Pemuda itu langsung memakai kembali kemeja seragam Rakuzannya—kali ini tanpa blazernya—dan menyambar HP dan sebuah gantungan kunci yang membawa belasan kunci di atas ranjangnya.
DRAP DRAP!
Ini tidak mungkin!
BLAM!
Selagi berlari seperti orang kesetanan, sang Emperor lalu mengambil HP-nya dan menelepon kepala pelayannya, "Pak! Aku akan keluar menggunakan helikopter di lantai atas! Tolong cari informasi, apapun, mengenai keadaan Momoi Satsuki, Aomine Tsukiko, Midorima Shinji, dan Aomine Daiki! Sampaikan permohonan maaf dariku kepada Otou-sama karena malam ini aku batal kembali ke Kyoto!"
"Diterima, Akashi-sama." jawabnya singkat.
PIP PIP.
Ini sepertinya buruk...! Kalau memang benar Momoi Satsuki, Aomine Tsukiko dan Midorima Shinji terbunuh, kenapa Daiki tidak? ! Pasti ada sesuatu!
-xXx-
[ Abad 14XX, di dalam Istana Terlarang pada siang hari ]
("Text" = bahasa Middle-English)
Hosh... Hosh...
Sesosok pemuda berpakaian kimono bercorak biru malam, berdiri dengan tatapan hampa.
Di sekitarnya benar-benar terjadi festival berdarah, di mana banyak mayat bergelimpangan dengan menakutkannya di sana-sini. Tubuh sawo matangnya benar-benar bermandikan darah para korbannya, dan kedua tangannya berubah menjadi sirip maha besar yang sangat menakutkan dan juga memiliki bercak hitam di sekitarnya. Bahkan di wajahnya juga tidak luput dari warna hitam tersebut.
Rambut biru dongkernya lalu diacak-acakannya, dan dalam sekejap dia sudah berubah menjadi sosok manusia raksasa dengan leher dan kepala seperti kepala ular laut dan kedua tangannya benar-benar berevolusi menjadi sirip yang tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tadi. Mata biru gelapnya membesar menjadi seperti mata belut itu, dan berubah warnanya menjadi merah darah. Warna kulitnya berubah menjadi biru gelap, licin dan bersisik, plus ototnya membesar dengan gilanya.
BZZZZZZTTT BZZZZZTTTT.
Di belakang monster itu, muncul lubang hitam yang membelah dimensi daerah itu. Monster itu lalu menoleh ke belakangnya, dan mendapatinya ada seseorang—seorang laki-laki paruh baya—yang datang kemari ke situ dengan seringaian mengerikan dan pakaian China modernnya dari lubang hitam itu.
"Kerja yang bagus, Water Emperor... Tidak, Daiki." puji laki-laki itu tenang.
Monster itu dengan gemetaran bersimpuh di depannya seraya berkata dengan terbata-bata, "Y...a... Tu...an..."
PUK PUK.
Laki-laki itu menepuk pelan kepala ular laut-nya Water Emperor itu, dan menggangguk pelan, "Tidak apa-apa. Kau akan terbiasa dengan itu. Kendalikan napsumu, dan jika ada seseorang yang berani sedikit saja melangkahi jalan kita, kau boleh menghabisinya sesadis mungkin. Untuk sementara ini, kau berburulah mangsa di sekitar Selat Santa George."
"Ke... na... pa...?" tanyanya gemetaran.
"Aku sengaja menyiapkan pesta khusus untukmu... Mengenang reuni kamu dengan Sky Emperor. Dia sedang dibawa oleh Jormungand dan akan dihisap 'Kuroko Tetsuryu'-nya. Setelahnya, kau boleh memakannya bersama-sama dengan dua penyihir dan satu manusia." jawab pria itu menyudahi elusannya pada kepala yang licin dan bersisik itu.
DEGH.
Mata merahnya bergerak-gerak tidak teratur, seolah-olah ia mengisyaratkan kebahagiaannya akan bertemu dengan teman terbaiknya itu. Mengerti akan ekspresi monster yang jelek itu, pria itu lalu menciumi kepalanya, "Sebentar lagi... Jika tidak keberatan, kau bisa mengajaknya bergabung dengan Brotherhood of Aegis... Aegis-sama kelihatannya menginginkannya."
Satu anggukan pelan menjawab permohonan kecil pria itu.
Tersenyum bangga, ia lalu menepuk pelan kepala monster itu dengan tangan kanannya, "Baguslah. Aku harus kembali ke markas, tinggal menanti 'hukuman'nya terhadap Magic Emperor—maksudku Fioletovsky... Laki-laki itu memang sulit dipercaya dan seharusnya bawahanku yang memegang jabatannya. Nanti Jormungand akan membimbingmu bertemu dengannya, ok? Jadi anak baik ya."
PUK PUK.
Sang Water Emperor lalu menggangguk sekali lagi, kali ini sedikit lebih pelan dan masih gemetaran.
Pria itu lalu berbalik dari monster itu dan kembali masuk ke lubang itu. Monster itu segera saja melompat dengan hebatnya menuju langit setelah pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya, menuju laut China hanya untuk bersatu kembali dengan habitat aslinya. Namun di luar rencana mereka berdua, seorang pria berambut merah membara terkulai lemah di belakang tembok yang membentenginya dari pengawasan mereka.
Brrrrrr. Brrrrrr.
Manik heterokromnya gemetaran untuk pertama kalinya. Belum pernah seumur hidupnya ia merasakan ketakutan yang sedemikian besarnya begitu menguping pembicaraan mereka. Andai mereka sampai melakukannya, apa gunanya aku melindungi 'itu'? ! Tidak seharusnya mereka merampas hak hidup dan hak untuk menghukum kami selain Sky Empero—maksudku Tetsuryu!
Kedua tangannya yang kekar namun begitu rapuh itu memeluk sebuah gulungan tebal, dan pria itu lalu berkata dengan lirih dengan kedua matanya menerawang ke langit yang sedemikian cerahnya.
Tetsuryu... Tetsuya... Kemanakah kalian...? Su-Sudah sebulan ini... Tolong, siapapun... Siapapun...
.
.
.
[ To be Continued ]
