War Prisoner (AkaKuro ver.)
.
Disclaimer
War Prisoner © Li Hua Yan Yu
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
.
Cast
Akashi Seijuurou as Wanyan Xu
Kuroko Tetsuya as Su Yi
.
Warning : Yaoi
Cerita ini mungkin sedikit berbeda dengan cerita aslinya.
Chapter sebelumnya
"Dengan langit sebagai saksinya, meskipun Kuroko Tetsuya telah berjuang dan berpartisipasi dalam banyak pertempuran. Aku akhirnya tidak dapat melestarikan lahan ini untuk negaraku. Sekarang, ibu pertiwi telah dihancurkan. Kuroko Tetsuya telah mempermalukan hidupnya sampai hari ini, dan tidak dapat menjelaskan kepada semua tentara yang telah mengorbankan hidup mereka untuk negara kita. Aku hanya bisa memohon pada Surga agar dapat mengerti bahwa aku memiliki kesulitan dan memungkinkan diriku untuk menemani negaraku dalam kematian."
Setelah menyelesaikan pidatonya, Kuroko menarik pedang keluar dari sarungnya. Pedang itu berkilauan seperti es, teman lama ini sangat tajam di masa lalu. Khawatir bahwa penundaan lebih lanjut akan membawanya pada kemalangan, dia tidak ragu-ragu untuk membawa pedang itu pada posisi horizontal tepat di lehernya. Dalam beberapa saat, seorang pria dengan karakter pantang menyerah akan kehilangan hidupnya di istana. Tanah airnya.
"Tuan Muda, apa yang anda lakukan?!"
Sebelum kalimat itu selesai. Seperti kilat, Momoi melompat melalui jendela dan masuk ke dalam ruangan.
.
.
.
Chapter 12
Mengetahui bahwa perbuatannya diketahui oleh seseorang, Kuroko ketakutan lalu memperat cengkeramannya pada pedangnya, luka memanjang di leher mulus Kuroko. Mengalirkan darah yang cukup banyak, namun tidak mematikan. Dalam kepanikannya, Momoi memegang pedang itu, keahliannya dalam seni bela diri tidak lebih rendah dari Kuroko, sehingga pria itu tidak dapat membuat kerusakan lebih lanjut pada dirinya sendiri.
Hati Kuroko sedang dalam kekacauan besar, ia tahu bahwa jika ia gagal dalam membunuh dirinya sendiri, konsekuensinya akan menjadi lebih mengerikan daripada yang bisa ia bayangkan. Kuroko mencoba untuk mengerahkan kekuatan lebih, tetapi Momoi juga memegang pedang begitu erat. Meskipun darah mengalir deras dari telapak tangannya, perempuan itu tidak gentar.
"Tuan Muda, kumohon berhentilah. Saya telah membiarkan anda memiliki baju besi dan pedang itu kembali, jika anda harus menggunakan mereka untuk mengakhiri hidup anda, saya akan berada dalam kesulitan." Momoi tahu bahwa Kuroko memiliki hati yang lembut. Momoi sengaja memilih kata-kata ini untuk membuatnya goyah.
Kuroko mulai ragu, tapi ia memikirkan konsekuensi dari kegagalannya. Setelah Akashi tahu tentang hal ini, siapa yang tahu metode baru apa yang akan digunakan untuk mengancam dirinya. Selain itu, Akashi ingin menobatkan Kuroko sebagai ratu. Ketika waktu itu tiba, tidak Surga maupun bumi akan mampu mencegahnya dari nasib buruk daripada kematian. Dengan gelombang baru dan penuh tekad, ia mendesah frustrasi
"Nona, aku tidak layak mendapat kabaikanmu. Aku hanya bisa membayarmu di dunia yang lain nanti."
Karena itu, tangan kirinya bergerak seperti kilatan petir. memberi totokan di beberapa titik akupuntur gadis itu. Momoi hanya peduli mencegah pedang itu memotong leher Kuroko, sehingga sama sekali tidak siap terhadap serangan Kuroko.
Kuroko dengan hati hati menarik pedang dari tangan Momoi ketika ia melihat bahwa tangan gadis itu mengalami pendarahan hebat. Kuroko buru-buru mengambil saputangan putih dari kepala tempat tidur dan mulai membungkus luka-lukanya.
"Aku harus mengemis karena pengertian Nona. Karena kau telah menderita cedera seperti ini, Akashi tidak akan menyalahkanmu atas kegagalanmu."
Setelah berkata demikian, ia membungkuk dalam-dalam. Kuroko kembali ke meja untuk mengambil pedang yang dia tempatkan di sana, tapi pedang itu tidak ada disana.
"Tetsuya, apa yang kau cari? Apakah pedang ini?"
Suara itu. Suara sedingin es yang membuat jantung Kuroko seakan berhenti berdetak. Kuroko mematung di tempat. Perlahan Kuroko berbalik dan melihat Akashi bersandar pada pintu. Kepala tertunduk, matanya tertuju pada pedang bernoda darah yang dipegangnya dengan tangan gemetar. Meskipun darah masih mengalir dari luka di leher Kuroko.
Kuroko berdiam diri. Dalam keadaan ini, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Cukup lama waktu berlalu dan Momoi mampu melepaskan dirinya sendiri. Namun seperti Kuroko, dia tidak berani bergerak.
Ruangan begitu tenang, bahkan mungkin suara sebuah jarum yang jatuh akan terdengar. Akashi perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat Kuroko. Matanya penuh dengan emosi yang berkecamuk. Kuroko juga menatapnya. Jika seseorang menatap mata pria bersurai biru itu, dia akan mengetahui jika pria itu tidak mudah untuk ditaklukan.
Mereka saling menatap untuk waktu yang lama sebelum Akashi tiba-tiba mulai tertawa sinis. Menggelengkan kepala pelan.
"Tetsuya, kau memiliki mata yang indah, mereka seperti yang kulihat ketika dipenjara. Jadi... Jadi kau tidak pernah berubah, benar, akulah yang berubah... berubah menjadi berhati lembut, berubah menjadi... begitu mudah... mempercayaimu. Ketika kau berjanji untuk menjadi Permaisuriku, semua yang kau inginkan adalah agar aku melepaskan prajuritmu... Setelah itu kau bisa mati sebagai pahlawan tanpa kekhawatiran sama sekali..."
"Apa yang menggelikan adalah bahwa aku benar-benar jatuh pada kebohongan yang jelas seperti ini, apa aku benar-benar Akashi Seijuurou? Satsuki, apa yang kau pikirkan. Apakah aku benar-benar Raja Rakuzan yang telah kau layani begitu lama?" Akashi tertawa serak mengejek dirinya sendiri. Ada butiran air mata yang meminta untuk keluar berusaha untuk ditahannya.
Kuroko menyaksikan Akashi terus tertawa seperti orang gila. Tawa itu membuat jantung Kuroko terasa begitu sakit, tetapi ketika dia berbicara.
"Akashi-san, karena kau telah melihat kegagalan rencanaku, aku tidak dapat mengeluh lagi. Tapi aku dapat memberitahumu bahwa tidak peduli apapun, sebagai manusia, aku tidak bisa menjadi Ratumu. Bahkan yang lebih penting lagi, aku tidak akan pernah bisa menjadi istri laki-laki dari Kaisar Rakuzan."
Tawa Akashi terhenti, menatap Kuroko dengan mata dingin. Jelas mengartikulasikan setiap kata. "Hatiku bisa sekeras besi, kau dapat mencobanya jika kau tidak percaya."
Setelah mengatakan itu, dia melihat Momoi dan berkata. "Kenapa kau masih berdiri di sana dan hanya tertegun, apa kau ingin dia punya kesempatan lagi untuk bunuh diri?"
Momoi terburu-buru berdiri di depan hadapan Kuroko. "Tuan muda... mohon maafkan kekasaran saya." Mohon gadis itu dengan suara rendah.
Momoi mengeluarkan strip sutra putih dan mengikat tangan Kuroko. Mengisi gumpalan sutra putih tipis lain ke dalam mulut Kuroko sebelum dia membantunya untuk berbaring di tempat tidur. Kuroko tidak melawan, karena ia tahu, itu akan menjadi sia-sia. Fakta bahwa Akashi mampu mengambil pedang berharga dari sisinya tanpa Kuroko sadari. Ia tahu bahwa keterampilan Akashi dalam seni bela diri sangat jauh melampaui dirinya.
Prak
Suara itu berasal dari pedang berharga Kuroko yang terbelah menjadi dua bagian dengan mudahnya di tangan Akashi. Melempar mereka ke samping, Akashi bangkit dan dengan suara dingin, memberi petunjuk pada Momoi.
"Cari Shintarou dan balut luka-lukanya, upacara penobatan untuk Ratu tidak bisa ditunda. Segala sesuatu harus segera siap."
Momoi menatap Kuroko dengan canggung. "Tapi, Tuan Muda..."
Akashi menatapnya dingin. "Apa yang kau khawatirkan? Apa kau takut aku tidak dapat mengontrolnya? Lucu sekali, lakukan apa yang aku katakan."
Akashi menatap Kuroko dengan eksresi dingin yang tidak berubah. "Kau benar-benar berpikir jika satu-satunya cara untuk mengancammu adalah prajuritmu?" Pria bersurai merah itu tertawa mengejek dan meninggalkan ruangan.
Melihat mata Akashi yang sedingin hutan dimusim dingin, dan mendengar tawanya yang tanpa emosi, membuat Kuroko ketakutan. Tetapi, prajuritnya sudah lama dibebaskan, dan untuk menangkap mereka semua bukan hal yang mudah. Dia tidak berpikir jika Akashi dapat menangkap mereka semua, terutama jika dia harus mengumpulkan mereka satu demi satu.
Mengancamnya dengan rakyat Seirin itu tidak akan mudah. Mengingat bagaimana rakyat Seirin yang begitu percaya pada Raja baru mereka. Dia tidak akan mungkin melakukan hal yang menghilangkan kepercayaan rakyat. Selain prajurit dan rakyat Seirin tidak ada hal lain yang bisa dipikirkan Kuroko yang akan digunakan Akashi untuk mengancamnya. Midorima datang untuk menangani lukanya. Ia mengatakan banyak hal padanya, tapi Kuroko tidak bisa manangkap satupun.
.
.
Setelah Akashi meninggalkan kediaman Kuroko, dia langsung pergi ke ruang kerjanya. Memangil Mibuchi Reo, menteri pemerintah yang bertanggung jawab dari Departemen Kehakiman.
Pada awalnya, ketika Akashi mendengar dari Momoi bahwa Kuroko terus menatapnya penuh kerinduan ketika dia akan berangkat. Perasaan manis memancar melalui hatinya, seolah-olah ia telah menelan madu. Meskipun ia mengirim Momoi kembali tanpa bermaksud untuk kembali juga, pada akhirnya Akashi tidak dapat menahan rasa bahagianya dan memutuskan kembali ke tempat Kuroko.
Hanya untuk melihat peristiwa itu.
Berpikir tentang bagaimana dia telah begitu percaya pada Kuroko dan upaya yang telah dia lakukan untuk menyenangkan hati Kuroko setiap hari. Akashi merasa seolah-olah jiwanya telah rusak dan semangatnya terluka. Campuran gejolak penuh amarah dan kebencian berputar-putar dalam dirinya.
"Reo, aku memerintahkanmu dalam waktu tiga hari, kau harus menangkap semua teman-teman dan kerabat dari Kuroko Tetsuya yang tinggal di Teiko. Itu termasuk semua teman-teman lama dan tetangga dekat serta keluarga mereka, setiap satu dari mereka harus ditangkap. Jika ada satu pun yang hilang, kau akan menggantinya dengan hidupmu. Juga, seluruh operasi ini harus dilakukan dengan sangat rahasia, sehingga tidak akan ada kerusuhan antara rakyat. Apakah kau paham?" Katanya kasar sesampainya Mibuchi di hadapan Akashi.
Mibuchi yang dibangunkan malam-malam itu bergegas untuk melakukan tugasnya. Meskipun dia bingung, dia bisa melihat dari wajah Kaisar jika ada sesuatu yang telah terjadi. Jadi, dia tidak memiliki keberanian untuk menanyainya atau menawarkan konsultasi. Setelah menerima dekrit kaisar, dia dengan patuh berjanji untuk memenuhinya dan kemudian segera meninggalkan ruangan untuk melaksanakan tugasnya.
Beberapa pejabat yang pernah bertugas di Kerajaan Seirin saat ini sedang ditahan di penjara. Ketika Mibuchi kembali ke kediamannya sendiri, dia segera memerintahkan orang untuk membawa mereka untuk diinterogasi. Setelah mereka yang telah mempunyai hubungan dekat dengan Kuroko masuk dalam list. Pada hari kedua, Mibuchi memulai operasi untuk menangkap mereka semua.
.
.
Kuroko masih diikat, dikurung di kamarnya. Meskipun dia menolak untuk makan, petugas yang membawa makanannya juga tidak mencoba untuk memaksanya. Tiga hari berlalu seperti itu, dan dia merasa semakin pusing seperti melihat bintang-bintang yang beterbangan diatas kepalanya. Akibat dari rasa laparnya.
Jka aku bisa terus tinggal di sini tanpa harus peduli tentang hal-hal lain, aku tidak akan keberatan mati kelaparan.
Tapi, setiap kali Kuroko memikirkan bagaimana mata Akashi menatapnya dengan segudang emosi kekecewaan. Sebelum akhirnya berubah menjadi begitu dingin pada malam naas itu, hatinya mulai berdenyut nyeri. Terjepit di antara rasa takut bahwa orang yang tidak bersalah harus membayar harga untuk usaha bunuh dirinya.
Pada hari keempat, Midorima datang untuk menerapkan lapisan salep diatas luka-lukanya. Kuroko tidak berbicara, dan Midorima juga tetap diam. Ketika selesai membalut luka-luka Kuroko, Midorima berdiri meski akhirnya memilih untuk duduk lagi.
Dia ragu-ragu sebelum berbicara. "Tuan Muda, tolong maafkan aku untuk berbicara seperti ini... Mengenai penobatan Ratu, anda harus menyetujui hal itu. Cepat atau lambat, jadi kenapa menempatkan diri anda pada semua penderitaan ini?"
Kuroko merasa bahwa ada makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Menatap Midorima penasaran, tapi pria itu jelas tidak mau mengatakan apa-apa lagi. Kuroko hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Midorima tentu memahami bahwa pria itu menolak untuk berkompromi dengan ucapannya. Menghela nafas berat lalu melangkah pergi, meninggalkan Kuroko untuk memikirkan hal itu di dalam hatinya.
Pada saat sore tiba, cuaca telah berubah. Awan gelap menyelimuti langit dan itu sungguh luar biasa untuk musim semi seperti ini, hembusan angin yang kuat mulai bertiup dari utara. Melihat melalui jendela, perasaan Kuroko tiba tiba gelisah karena alasan yang tidak bisa dijelaskan.
Baginya, cuaca itu tampaknya menjadi pertanda hal yang buruk akan segera datang. Lalu, pintu terbuka dan beberapa pengawal kekaisaran berjalan masuk. Mereka tidak berbicara saat mereka mendekatinya untuk membawa Kuroko ke luar. Sejak segumpal sutra masih merekat di mulut, Kuroko jelas tidak dapat mengajukan pertanyaan pada mereka.
Ketika mereka telah mencapai alun-alun yang akan digunakan untuk latihan, Kuroko melihat Akashi duduk di atas kursi kekaisaran dengan ukiran seekor naga dipunggung kursi itu. Akashi tersenyum dingin saat melihat Kuroko. Dengan isyarat tangan pelayan istana mendekati Kuroko untuk mengambil kain dari mulutnya.
Kuroko menahan sakit ketika kain itu dibuka paksa dari mulutnya setelah melekat selama tiga hari, dia merasa sangat nyeri di pipinya sementara gigi dan lidahnya terasa kelu. Untuk saat ini, dia tidak dapat menutup mulutnya.
Kuroko melihat pelayan istana mengambil sepasang kawat gigi yang digunakan dalam bidang medis dan dipasang di atas giginya. Sambil tersenyum, pelayan itu berkata.
"Yang Mulia Raja mengatakan, sebentar lagi akan ada sebuah pertunjukan singkat, dan beliau takut bahwa anda tidak akan dapat menahan diri dari menggigit lidah anda."
Kecemasan dan ketakutan Kuroko meningkat. Ketika Akashi melihat wajah Tetsuya-nya mulai panik, ia merasa begitu senang. Karena, kecemasan dan ketakutan Kuroko akan membawa kemenangan untuknya. Kuroko memiliki hati yang lembit, dan Akashi tahu ia bisa memanfaatkan kelemahan pria itu untuk mencapai tujuannya.
Alun-alun besar itu benar-benar kosong, hanya ada Akashi, Kuroko, pengawal kerajaan dan beberapa pelayan istana. Kuroko berpikir, sebenarnya pertunjukan seperti apa yang akan Akashi tunjukkan padanya. Mata Kuroko memicing ketika menyadari ketidakhadiran Momoi Satsuki, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi dan Kise Ryouta bersama Akashi.
Kuroko tahu, keempat orang itu adalah pelayan pribadi Akashi. Biasanya, salah satu dari keempat orang itu selalu ada bersama Akashi untuk melayaninya. Putra Mahkota yang menyukai untuk terlibat dalam aksi tertentu juga tidak hadir. Hal itu membuat Kuroko waspada.
Akashi yang melihat kebingungan Kuroko tersenyum tipis. "Tetsuya, apa kau bertanya-tanya. Kenapa putraku Seiya dan para pelayan pribadiku tidak hadir. Sejujurnya, itu karena aku akan membuat sebuah pertunjukan 'istimewa' khusus untukmu, sebuah pertunjukan yang kejam. Jadi, aku tidak ingin mereka menyaksikannya. Akan tetapi, Tetsuya kau harus menguatkan dirimu untuk apa yang akan kau saksikan ini."
Akashi memberikan isyarat dengan tepukan tangan. Lalu sekelompok orang yang dirantai keluar dari belakang podium secara paksa, dengan lebih dari selusin pengawal kerajaan dibelakangnya. Kelompok itu terdiri dari pria dan wanita dari berbagai usia.
Ketika Kuroko mengangkat kepala, tubuhnya bergetar saat mengetahui siapa orang-orang yang di rantai itu.
"Tetsuya-kun, selamatkan aku! Tolong selamatkan aku!"
Tubuh Kuroko terhuyung. Ada seribu hal yang pernah dipikirkannya, namun ia tak pernah berpikir bahwa Akashi akan menangkap 'semua' teman dan tetangganya dulu. Seseorang yang berteriak minta tolong tadi adalah tetangganya. Ia adalah Shiori, puteri paman Amamiya tetangganya dulu.
Mereka —ia dan Shiori telah bermain bersama sejak mereka masih anak-anak. Meskipun laki-laki dan perempuan harus menjaga jarak, hubungan mereka selalu dekat. Bahkan setelah Shiori menikah, dia masih tinggal di rumah di belakang rumah Kuroko. Kedua keluarga mempertahankan hubungan yang sangat ramah, hanya ketika Kuroko berangkat ke perbatasan, mereka kehilangan kontak satu sama lain.
Tiba-tiba berhadapan dengan kenalan lamanya di waktu dan tempat seperti ini, Kuroko merasa satu juta perasaan yang berbeda beredar di dalam hatinya. Menyayat dalam kesedihan dan ketakutanya.
"Apa yang kau inginkan? Jika kau memiliki nyali, fokuskan serangan langsung padaku, dan kau bahkan tidak melepaskan perempuan dan anak-anak?"
Akashi berdiri dengan santai, lalu mendekati kelompok sandera. "Tetsuya, kau menipuku dengan membebaskan prajuritmu. Menangkap mereka kembali benar-benar akan merepotkan. Selain itu, mereka semua laki-laki yang kuat sepertimu. Itu tidak akan menyenangkan ketika menyiksa mereka. Tapi itu berbeda dengan teman-teman lamamu dan keluarga mereka, mereka tinggal di sini di ibukota, menangkap mereka begitu mudah. Selain itu, mereka semua begitu pemalu dan petakut. Ketika pembunuhan ini dimulai, aku pikir jeritan menyayat mereka akan sangat mempengaruhimu."
Setelah berkata demikian, Akashi menghampiri seorang wanita tua. Beralih kembali untuk melihat Kuroko, dia tersenyum. "Aku mendengar bahwa wanita tua ini tidak memiliki putra atau putri, tapi kau telah mengurusnya seolah-olah dia adalah ibumu sendiri. Bahkan setelah kau ditempatkan di perbatasan, setiap tahun kau akan mempercayakan seseorang membawa sedikit uang untuk membantu hidupnya. Apakah itu benar?" Akashi menjeda ucapannya.
"Seperti benda usang yang tidak berguna, hidupnya dibumi ini tidak lebih dari sebuah beban. Mengapa kita tidak membiarkan dia pergi ke Surga dengan cepat. Menyelamatkannya dari keharusan untuk menderita di dalam kehidupan yang fana ini?"
Setelah berkata demikian, Akashi mengulurkan tangannya. Pelayan istana segera melangkah maju untuk menempatkan pedang ke tangannya. Akashi tersenyum mengejek sambil mengelus bilah pedang itu.
"Tetsuya, bagaimana jika aku mengeluarkan isi perut kanannya tepat di depan matamu hari ini?" ucap Akashi kejam.
.
Kuroko merasa seluruh tubuhnya mulai gemetar tak terkendali. Meskipun dia tahu bahwa Akashi tidak pernah bertingkah begitu kejam, dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa pria itu akan bertindak tanpa ampun sejauh ini. Benar-benar tanpa ada perasaan sebagai manusia lagi.
Apakah ini benar-benar Akashi Seijuurou yang dia kenal? Kuroko menatap mata Akashi, yang berawan dengan niat membunuh dan senyum yang haus darah hinggap di sudut bibirnya. Kuroko merasakan hawa dingin naik dari bawah kakinya, menyebar ke seluruh tubuh untuk membekukan semua organ-organ tubuhnya hingga akhirnya Kuroko tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.
Tapi, Kuroko tetap berusaha keras untuk lari ke depan. Namun tertahan oleh penjaga yang tidak mau melepaskan kedua tangannya. Kuroko ingin berteriak agar Akashi menghentikan semua ini, tapi meskipun mulutnya terbuka tak ada suara yang keluar. Wajahnya pucat dan tubuhnya membungkuk, seperti banteng yang sedang berusaha dengan segala cara untuk melarikan diri hingga akhir.
Kuroko menyeret kakinya maju selangkah demi langkah, tapi segera ditarik kembali pada kesempatan berikutnya. Seluruh temannya diselimuti dengan rasa horor dan air mata yang mengalir di wajah mereka. Akashi perlahan-lahan mengangkat pedangnya, di bawah sinar matahari pedang itu berkilat dingin.
Wanita tua itu sudah hampir pingsan, tapi dua orang kasim menyandarkannya ke atas dinding di belakang mereka. Akashi tertawa dingin. Mencengkeram gagang pedang, ia mulai menurunkannya perlahan.
"Jangan... jangan...!" sebuah teriakan penuh penderitaan, meletus dari mulut Kuroko. Suara itu terdengar seolah-olah tubuhnya sudah lepas dari rohnya. Wajah Kuroko ditutupi dengan air mata. Dengan suara serak, ia mencoba berteriak.
"Jangan... jangan... Akashi... aku... aku mohon... tolong... tolong biarkan dia hidup... dia... hanya.. hanya orang tua yang menyedihkan."
Akashi berbalik menatap Kuroko, tanpa ekspresi di wajahnya. Seolah-olah Kuroko hanya penonton yang sedang menikmati pertunjukan. Benar-benar tenang di tengah-tengah adegan seperti itu, Akashi yang nampak tenang itu menatap sosok lemah Kuroko.
Akashi menyeringai. "Jangan membunuhnya? Betul, dia juga sudah tua. Bahkan jika aku tidak membunuhnya, dia tidak akan memiliki banyak tahun yang tersisa. Hal ini hanya akan membuang-buang energiku untuk membunuhnya secara pribadi. Baiklah. Kemudian Tetsuya, mari kita memilih yang lain lagi." Sekali lagi, Akashi perlahan-lahan berjalan sepanjang garis tahanan, dan berhenti di depan seorang gadis yang berusia sekitar delapan atau sembilan tahun.
"Tetsuya, aku pikir kau mungkin tidak mengenalinya? Tapi sebenarnya, kau ingin sekali memeluknya dulu ketika dia merayakan ulang tahunnya yang ke satu tahun. Aku mendengar bahwa dia menangis tak terkendali dan bahkan ibunya tidak mampu menghiburnya, tapi ketika dia melihatmu wajah mungilnya mulai tersenyum bahagia. Tentu saja, kau mulai memeluknya dan menghabiskan ulang tahun pertamanya dengan terbuai dalam pelukanmu. Sepertinya kau harus tahu siapa dia sekarang." Akashi bahkan tidak repot-repot memutar kepalanya untuk melihat Kuroko. Seolah-olah dia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Tapi dia percaya bahwa Kuroko mendengarkan penuh perhatian pada setiap ucapannya.
Gadis kecil itu memandang Akashi dengan rasa takut, dan terus berusaha untuk bergerak mundur. Seolah-olah dia sedang berusaha untuk bersembunyi di balik tubuh ibunya. Seorang wanita yang sudah menikah mencengkeram bahunya erat. Memohon.
"Yang Mulia Raja, dia masih begitu muda..." Mendengar semua itu, Kuroko merasa hatinya sakit seperti dipotong-potong. Tubuhnya lemah, karena kelaparan selama beberapa hari dan sekarang stres ditambahkan. Kuroko tidak mampu lagi untuk berdiri.
Kuroko Benar-benar hancur, ia berlutut di tanah dan menangis dengan suara serak.
"Akashi, aku mohon-"
"Kau pikir kau siapa? Mengapa aku harus mengampuni seseorang hanya karena kau menginginkannya? Apa kau benar-benar dalam posisi untuk membantu orang lain?'' Akashi memotong ucapan Kuroko tajam.
Kuroko tidak pernah merasa dirinya menjadi begitu lemah sebelumnya, bahkan pada malam hari di mana dia telah dipaksa untuk melakukan oral seks pada Akashi, dia tidak selemah ini.
Pada saat ini, Kuroko tidak peduli tentang hal-hal lain. Masih berlutut, dia merangkak ke depan beberapa langkah dan mulai mendekat pada Akashi. Bersujud. Kuroko menangis dan memohon.
"Aku mohon... aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, silakan bebaskan anak ini, dia hanya seorang anak kecil. Aku mohon... biarkan dia pergi..."
Akashi melihat pria mungil itu menjedukan kepalanya di atas tanah beberapa kali diikuti dengan aliran darah. Akashi tidak bisa menghentikan tubuhnya sendiri yang gemetar ketakutan melihat pemandangan tersebut, dan harus mengambil beberapa napas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri.
Dengan nada dingin Akashi kembali berkata. "Kau pasti menyadari apa yang aku inginkan. Apakah kau ingin aku mengatakannya lagi?"
Tertegun. Kuroko mengangkat kepalanya dan menatap Akashi kosong. Melihat keengganan diwajah itu, Akashi merasa kesal dan marah.
"Sebenarnya, apa yang kau katakan adalah benar. Akulah penguasa tertinggi Rakuzan ketika aku berkenan untuk menggunakan pisauku, aku harus memastikan bahwa itu akan membawa hasil yang luar biasa."
Akashi manarik seorang wanita keluar dari kerumunan tahanan. Dia tidak lain adalah wanita yang meminta pertolongan pada Kuroko. Teman bermain masa kecilnya.
Menatap perut buncit wanita itu, Akashi tertawa kejam. "Kau benar, dengan satu sapuan pedangku dua kehidupan akan berakhir. Itu memang luar biasa. Tetsuya, aku telah menyetujui permintaanmu untuk memberikan kehidupan pada gadis kecil itu. Jadi, bagaimana jika wanita ini sebagai gantinya?"
Kuroko melolong keras. Terkejut, dia mencoba untuk terburu-buru ke depan tapi dia hanya berhasil merangkak beberapa langkah sebelum kembali diseret ke posisinya semula oleh para penjaga. Kuroko melihat dimata Akashi ada secercah kegembiraan bersinar, yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Akashi bergumam. "Saat ini, aku tidak akan melepaskannya tidak peduli apapun. Mungkin ketika aku menusuknya, sesosok bayi akan muncul dan akan menjadi mainanku."
Kuroko melihat Shiori ketakutan, ia mulai menangis dan menjerit diantara tangisnya. Shiori terus memelas memanggil Kuroko.
"Tetsuya... Selamatkan aku... tolong selamatkan aku..."
Ketika ujung pedang Akashi sudah menggores jaket teman lamanya, Kuroko tidak bisa lagi menahan tekanan itu dan berseru dalam suara yang menyedihkan.
"Lepaskan dia... Lepaskan dia... Aku berjanji... aku berjanji padamu..."
Akashi menarik napas panjang, lega. Meski ia tidak melonggarkan cengkeraman pada pedang miliknya, ia tidak melakukan gerakan bahkan satu incipun dari jaket wanita itu.
"Kau berjanji untuk apa? Katakan, biarkan aku mendengarnya."
Seolah-olah semua kekuatannya telah hilang, Kuroko jatuh di atas tanah. Menatap pedang di tangan Akashi, suaranya gemetar tak terkendali. Perlahan-lahan Kuroko mulai berkata.
"Aku berjanji untuk menjadi Ratumu... menjadi..."
Suara Kuroko melemah, lalu lenyap saat dia berbicara. Akashi baru mulai merasa gembira ketika dia ingin mendengarnya secara lebih jelas, wajahnya beralih kembali untuk menatap Kuroko,. Tetapi Kurok sudah tergeletak tak sadarkan diri di tanah —tidak mampu mengatasi trauma yang ditimbulkan pada fisik dan psikis-nya, hingga ia jatuh sebelum menyelesaikan perkataannya.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Ahh~ ini chapter yang 'berat'...
Review...?
