SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 12
Pair: Jeno/Renjun
YAOI, OOC, MPREG, Sangat bingung ketika mengedit chap ini, coy kalo cewek nyusui wajar kan ye, lah kalo cowok itu begimane? Kayak mimi peri dengan payudara mungilnya? Najis :v mungkin kalian bakalan mual baca bagian itu :v yaudahlah :v
Happy Reading~
BAB 12
Entah berapa jam proses operasi yang menyiksa itu dan Jeno duduk di sana dengan seluruh tubuh menegang dan tersiksa. Haechan masih menungguinya di sana, sementara Jaemin sudah berpamitan, karena puteranya membutuhkannya. Jaemin bilang akan kembali besok pagi.
Lalu terdengar tangis bayi. Tangis bayi yang sangat kuat dan keras, seakan memompa seluruh udara yang ada ke dalam paru-parunya.
Jeno terkesiap dan saling berpandangan dengan Haechan, tubuhnya makin menegang. Apakah itu suara anaknya?
Tiba-tiba lampu menyala hijau, dan seorang perawat keluar, memanggilnya, "Tuan Lee Jeno."
Jeno diajak masuk ke ruangan dalam di bagian ruang persiapan operasi, yang menjadi pembatas antara ruang tunggu dengan ruang operasi,
"Ini Putera anda Tuan Jeno, kami menunjukkannya sebelum dia dibawa ke kamar bayi."
Bayi itu menangis begitu keras, seolah-olah memprotes kenapa dia direnggut dari kehangatan yang nyaman di perut ibundanya ke dunia yang penuh marabahaya ini.
Jeno mengamati bayi itu dengan takjub, mahluk kecil tak berdaya itu, yang selama ini tumbuh di perut Renjun, darah dagingnya, yang tumbuh dari percintaannya dengan Renjun. Makhluk itu begitu tak berdaya, dan ingatan bahwa Jeno memusuhinya dulu terasa begitu konyol.
Anak laki-laki ini anaknya. Buah cintanya dengan Renjun. Perawat itu menunjukkan alat kelamin bayi itu, anak laki-laki yang sehat. Dan wajahnya itu, yang bahkan sudah menunjukkan kemiripannya dengan seluruh keturunan Lee, lalu membawa sang bayi ke ruangan khusus.
Sejenak Jeno masih tertegun di sana, lalu teringat kepada Renjun… Renjun.. bagaimana isterinya?
"Suster," Jeno memanggil suster itu, berusaha agar tidak terdengar panik, "Bagaimana dengan isteri saya?"
Suster itu melirik ke ruang operasi, "Masih belum sadar tuan, kondisinya cukup stabil meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang, Anda bisa menengoknya nanti ketika dia sudah dipindah dari ruangan operasi ke ruangan iccu." Lalu suster itu pergi meninggalkannya, memaksanya menunggu ke dalam ketidakpastian yang menyiksa lagi.
Kalau dulu, Jeno pasti akan membentak, memaksa, menggunakan cara kasar agar bisa dituruti kemauannya. Dia ingin melihat Renjun segera! Kenapa para dokter tidak becus itu begitu lama menanganinya?
Tetapi Jeno menahan dirinya. Tidak. Mereka sedang menyelamatkan Renjun. Dia tidak boleh mengganggu mereka, karena nyawa Renjun taruhannya.
Ruangan iccu itu sepi, hanya ada Renjun dan suara detak jantungnya yang dimonitor. Renjun masih belum sadarkan diri, dan menurut penjelasan dokter tadi, kondisinya masih belum lepas dari kritis.
Jeno duduk di sana, di samping ranjang Renjun, mengamati wajah Renjun yang terbaring pucat pasi. Dia pernah mengalami ini sebelumnya dan ternyata Saeron tidak pernah terbangun lagi. Akanlah Renjun melakukan hal yang sama pada dirinya?
"Kau tidak boleh meninggalkanku Renjun," Jeno menggeram parau, "Kau tidak boleh meninggalkanku sebelum aku mengizinkanmu, putera kita menunggu di sana, ingin disusui jadi kau harus bangun dan menyusuinya, membantunya tumbuh menjadi anak yang sehat..yang..," suara Jeno tertelan, menyadari bahwa dia sudah berkata-kata terlalu banyak.
Jeno lalu menyentuh jemari Renjun dan menggenggamnya, "Maafkan aku," bisiknya parau, "Maafkan aku karena selalu memaksamu, menyakitimu, bahkan ketika kau mengandung anakku, aku tidak pernah memperhatikanmu seperti seharusnya," Dengan lembut Jeno mengecup jemari Renjun, "Bangunlah sayang, dan akan kutebus semua kesalahanku."
Hening, Hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di ruangan itu, Jeno menggenggam jemari Renjun makin erat,
"Bangun sayang, apakah kau akan tega meninggalkanku dan putera kita? Kau bahkan belum memberinya nama, akan aku panggil apa dia?"
Mata Jeno terasa panas membakar. Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi kediaman Renjun yang begitu berbeda dengan kesehariannya yang berapi-api membuatnya merasakan aliran dingin merayapi benaknya. Ketika kemudian panas membakar itu berubah menjadi tetesan hangat yang mengalir di sudut matanya, suara Jeno berubah serak,
"Aku mencintaimu Renjun, isteriku. Dan aku bersumpah akan mengabdikan seluruh kehidupanku kepadamu jika kau mau bangun dari tidur pulasmu yang menakutkan ini."
Air mata Jeno menetes di jemari Renjun. Dan kemudian jemari itu bergerak, membuat Jeno terpaku. Jemari itu bergerak lagi, samar. Dan kemudian gerakannya lebih mantap.
Bersamaan dengan itu, bulu mata Renjun bergerak-gerak, membuat Jeno menunggu dengan cemas. Lalu setelah penantian yang sepertinya terasa seumur hidupnya, mata Renjun terbuka langsung menatap mata Jeno yang basah,
"Kenapa…. Kau…menangis,,,?"
Jeno langsung memasang muka sedatar mungkin meskipun perasaannya meluap-luap, "Mataku kemasukan debu."
"Oh," Renjun memejamkan mata lagi, sepertinya percakapan itu membuatnya lelah, "Anakku?"
"Dia laki-laki kecil yang sehat dan sempurna, tangisannya sangat keras membuat para suster harus menutup telinga dengan kapas ketika mengurusnya."
Renjun tersenyum, dan mencoba membuka matanya lagi, "Namanya …"
"Apa Renjun?"
"Aku mempersiapkan namanya…," suara Renjun melemah, "Do…..Donghyuck."
"Donghyuck?," Jeno mengerutkan keningnya, dari sekian banyak nama, kenapa Renjun memilih nama Donghyuck?
Renjun tersenyum lemah,
"Dia… putera… dari seorang … malaikat."
Aku iblis yang jahat! Bukan malaikat! Batin Jeno berteriak keras membantah. Setelah semua yang dia lakukan kepada Renjun, laki-laki itu masih menganggapnya sebagai malaikat?
"Men…cin…."
"Apa Renjun?," Jeno berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Renjun karena suara Renjun semakin lemah, "Mencintaimu….Jeno." Lalu Renjun kembali tak sadar, meninggalkan Jeno kembali dalam tidur lelapnya.
Air mata mengalir lagi di mata Jeno, mata seorang iblis yang telah disentuh oleh sang malaikat. Renjun salah, dia bukanlah malaikat. Renjun adalah malaikatnya. Dan pernyataan cinta Renjun membuat dada Jeno terasa sesak. Sesak oleh perasaan meluap-luap yang tak pernah terungkapkan sebelumnya.
Kondisi Renjun membaik seiring berjalannya hari, bahkan pagi ini dia sudah diperbolehkan menyusui Donghyuck, untuk pertama kalinya. Renjun menerima bayi itu di pelukan lengannya degan takjub. Bayinya, puteranya, yang selama ini bertumbuh di perutnya dan dikandung olehnya. Sekarang ada di dunia nyata, dengan rambut tebal cokelatnya dan mata cokelat milik ayahnya, yang sekarang sedang penuh air mata. Ya, Donghyuck sedang menangis keras-keras sekarang.
"Dia lapar," suster Ana terkekeh geli dan membantu Renjun setengah duduk, Renjun membuka baju pasiennya yang lebih cocok untuk pasien perempuan dan mendekatkan payudaranya, yang sudah mirip seperti milik perempuan sungguhan -_- (Gk bisa bayangin). Secara otomatis Donghyuck langsung mencari dan melahap putting itu. Lalu menghisapnya dengan begitu rakus. Renjun takjub merasakan bahwa puteranya berbagi makanan dengan dirinya, bahwa tubuhnyalah yang memberikan makanan untuk puteranya. "Dia sepertinya sangat lapar," suara itu berasal dari ambang pintu dan Renjun menoleh. Mendapati Jeno berdiri di sana. Hari ini jam sembilan pagi, dan Jeno sepertinya belum pernah pulang dari rumah sakit, lelaki itu tampak lelah.
Jeno berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari puteranya yang menyusu. Puteranya sedang menyusu di tubuh isterinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya.
"Kau tampak lelah." Renjun menatap Jeno lembut.
Lelaki itu mengalihkan pandangan dari puteranya ke mata Renjun, menatap Renjun dengan mata beningnya yang berwarna cokelat, "Aku belum pulang, Haechan membawakanku baju ganti dan aku mandi serta bercukur di sini, di lantai atas aku punya kamar sendiri." Renjun baru sadar bahwa ini rumah sakit yang sama tempatnya dirawat setelah kecelakaan dan kemudian diculik oleh psikopat kejam itu. Ini adalah rumah sakit milik Jeno,
"Yah ini rumah sakit yang sama," Jeno tersenyum meminta maaf, "Tetapi kali ini tidak ada lagi penjagaan di depan, aku sibuk mengurusmu sampai aku tidak sempat mencari musuh."
Renjun tersenyum mendengarnya. Tepat ketika Donghyuck melepaskan putingnya dan tertidur lelap dengan pipi montoknya masih menempel di payudara ibunya. Diperbaikinya posisi tidur Donghyuck sehingga nyaman, dan Jeno mengikuti semua itu dengan pandangannya.
"Kau mungkin bisa pulang dan beristirahat Jeno."
Jeno mengangkat bahu, "Aku akan pulang untuk beberapa urusan, mungkin beberapa jam, lalu aku akan kembali," dengan canggung Jeno berdiri, sejenak hanya menatap lama, lalu mengangguk dan melangkah pergi.
Seorang suster masuk dan berpapasan dengan Jeno di pintu, dia bertugas mengambil Donghyuck dan membawanya ke kamar bayi.
"Sungguh Anda isteri yang beruntung memiliki suami sebaik itu," suster itu tersenyum menatap punggung Jeno yang hilang di balik pintu. "Dan seorang Lee Jeno pula, Anda sungguh beruntung dicintai seperti itu."
Renjun mengernyit, menyerahkan Donghyuck untuk digendong sang suster dengan hati-hati.
"Beruntung?" Apakah maksud suster itu dia beruntung karena memiliki suami seperti Jeno Lee? "Oh Anda tidak tahu ya?," suster itu meletakkan Donghyuck dengan lembut di kereta kaca khusus bayi yang dibawanya, "Tuan Jeno sangat setia menunggui ketika Anda tak sadarkan diri hampir 2 hari lamanya. Dia selalu ada di sana tak pernah meninggalkan Anda. Kondisi Anda saat itu masih belum pasti, kadang Anda tersadar dan menceracau. Lalu tak sadarkan diri lagi, kadang kondisi Anda sangat drop sehingga kami harus menangani Anda secara intensif, dan tuan Jeno menuntut untuk ada di sini, setiap detiknya mendampingi Anda. Ketika kondisi Anda stabil, dia ada di sebelah ranjang Anda, mengajak Anda berbicara dan menggenggam tangan Anda. Sepertinya semua penantiannya tidak sia-sia karena akhirnya Anda bangun dan membaik," suster itu tersenyum memuji, "Sungguh suatu anugerah yang tak terkira, bisa memiliki suami sebaik itu."
Lalu dengan mendorong kereta bayi suster itu pergi meninggalkan Renjun yang masih termenung di atas ranjang. Benarkah Jeno, Jenonya yang sombong, arogan, dan pemarah itu melakukan semua yang dikatakan oleh sister itu? Benarkah Jeno mencemaskannya sampai sedemikian?
Rasanya tidak bisa dipercaya….
Renjun sudah boleh pulang bersama Donghyuck, dan Jeno menjemputnya tepat waktu. Lelaki itu tidak berubah, tetap begitu dingin hingga Renjun berpikir jangan-jangan yang dikatakan suster waktu itu hanyalah kebohongan atau khayalan semata. Jeno duduk di sebelah Renjun dalam mobil itu diam dan menatap ke jendela, tampak menjaga jarak,
"Kau.. eh, sudah baikan," Akhirnya Jeno memecah keheningan, menatap ringan pada Donghyuck yang tertidur di pelukan Renjun, dan tatapannya melembut, "Dia sepertinya sangat sehat."
"Dia menyusu dengan kuat," Renjun tersenyum dan mengecup dahi Donghyuck dengan sayang. Semula Renjun merasa sedikit takut atas reaksi Jeno kepada Donghyuck. Lelaki itu membenci Donghyuck dengan alasannya ketika dia di dalam kandungan Renjun, apakah lelaki itu akan membenci Donghyuck ketika dia sudah lahir ke dunia ini?
Sepertinya Jeno menyayangi Donghyuck, meski tidak ditunjukkannya dengan kata-kata. Renjun sering menangkap tatapan penuh kelembutan yang dilemparkan Jeno kepada Donghyuck. Oh ya, Renjun mengerti, seorang Jeno mungkin tidak bisa lepas dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada anak kecil, tetapi Donghyuck telah mencuri hati Jeno dan Renjun mensyukuri itu. Mereka sampai di rumah, dan dengan takjub Renjun menyadari bahwa kamar bayi sudah disiapkan. Kamar itu terletak di kamar kecil yang memiliki pintu penghubung dengan kamar mereka sehingga Renjun bisa dengan mudah mendatangi Donghyuck ketika putera mereka membutuhkannya.
Dengan lembut, Renjun meletakkan Donghyuck yang tertidur pulas di boks bayi barunya. Bayi itu sangat pandai, tidak rewel, dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan suasana di tempat barunya. Jeno berdiri di ambang pintu penghubung dan mengamati Renjun, kemudian membalikkan badannya hendak pergi,
"Jeno,"
Lelaki itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Renjun,
"Ada apa?"
"Apakah… apakah setelah sekarang kita mempunyai putera, kau masih menganggapku sebagai pengganti Saeron?"
Renjun harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putera dan Renjun tidak mampu hidup dalam ketidakpastian semacam ini. Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling mencintai, dan ketiika Jeno tidak bisa memberikannya. Maka Renjun akan pergi,
"Apa?" ada nyala di mata Jeno dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan buat Renjun, tetapi dia tidak mau mundur, dan dia tidak bisa.
"Kau selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Saeron. Sekarang kita mempunyai Donghyuck, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Donghyuck." Wajah Jeno mengeras. "Kau pikir apa yang sedang kau katakan?"
"Aku sudah mempelajari surat perjanjian itu, dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus menikahimu di usiaku yang ke dua puluh dua tahun, tidak dituliskan klausul apabila kita berpisah… saat ini aku ingin berpisah."
Kau bilang waktu itu kau mencintaiku! Jeno ingin meneriakkan kata-kata itu di depan Renjun, dia begitu marah hingga jemarinya mengepal,
"Berani-beraninya kau mengajukan perpisahan kepadaku? Tidak pernah ada seorangpun yang bisa meninggalkan Lee Jeno!"
Wajah Renjun tampak sedih sekaligus kuat membalas tatapan Jeno yang membara.
"Aku tidak bisa hidup hanya sebagai boneka pengganti seseorang. Aku juga punya kepribadian sendiri dan aku lelah." Kemarahan Jeno yang semula menggelegak langsung surut mendengar perkataan Renjun. Kenapa Jeno tidak menyadarinya? Yang diinginkan Renjun hanyalah pengakuan bahwa dia bukanlah pengganti Saeron. Hanya itu. Dan Jeno bodoh karena selama ini tidak menyadarinya. Baiklah, jika memang itu yang diinginkan Renjun, dia akan memberikannya,,,
"Ikut aku," Jeno mengambil tangan Renjun dan membawanya keluar kamar, dia setengah menyeret Renjun yang kebingungan menuruni tangga, langsung menuju sayap kebun mawar itu. Sayap rumah di mana lukisan Saeron terpasang rapi di balik pintu bernuansa emas.
Para pelayan tampak mengintip mendengar keributan itu, bahkan Haechan juga muncul dari depan dengan waspada. Tetapi kemudian langsung mundur ketika menyadari bahwa Jeno membawa Renjun ke sayap rumah itu.
Jeno berhenti menyeret Renjun ketika mereka berada di pintu kamar emas itu, "Kau ingin jawaban bukan?" Jeno melangkah masuk dan kemudian keluar lagi sambil membawa lukisan Saeron yang semula tergantung di dinding. Lalu melangkah dengan langkah berderap marah meninggalkan Renjun. Dengan segera Renjun mengikutinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Jeno kepada lukisan itu. Jeno melangkah ke halaman belakang, membanting lukisan itu di tanah, dan ketika Renjun menyadari apa yang akan dilakukan oleh Jeno, semuanya sudah terlambat,
"Jangan!"
Terlambat. Jeno sudah melempar api ke lukisan itu, dan dalam sejejam api itu sudah membakar kanvasnya yang rapuh. Seluruh lukisan Saeron yang sedang hamil muda dan tersenyum itu habis menjadi arang tipis yang kehitaman dilalap oleh api yang begitu ganas. Renjun berdiri terpaku menatap sisa pembakaran itu dan menoleh menatap Jeno dengan bingung, "Kenapa kau melakukannya?"
"Karena," Jeno tiba-tiba meraih Renjun dan merenggutnya ke dalam pelukannya. Ciumannya kasar sekaligus mendamba, penuh gairah. Bibir Jeno melahap bibir Renjun seolah-olah akan mati kalau tidak mencecapnya. Lidahnya menjelajah dengan bergairah, mencicipi seluruh rasa manis Renjun yang sudah lama tidak dicecapnya. Jeno memuaskan kerinduannya, amarahnya, dan rasa frustrasinya dalam ciuman itu. Sebuah ciuman menggelora yang hanya dilakukan oleh pasangan yang luar biasa merindu.
Ketika Jeno melepaskan ciumannya yang membara itu, tubuh Renjun lemas hingga Jeno harus menopangnya.
Dengan gerakan tegas, lelaki itu mengangkat dagu Renjun dan menghadapkan ke arahnya.
"Karena Nyonya Lee Renjun, aku mencintaimu, Sungguh mencintaimu, sebagai Renjun yang menjengkelkan dan keras kepala yang selalu menentangku," Jeno melumat bibir Renjun yang menganga takjub dengan penuh gairah.
"Kau tersimpan di hatiku," dengan lembut Jeno membawa tangan Renjun ke dadanya, "Hati ini dulu sudah kubuang jauh jauh ke dasar, tapi kau membawanya ke permukaan lagi dan meletakkan dirimu di sana. Aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sana setelahnya," Jeno menatap lukisan yang sudah terbakar habis itu, "Aku pernah mencintai Saeron sebelumnya. Tetapi sekarang, dia hanyalah kenangan yang harus kuhormati. Hanya itu. Cintaku kepadanya sudah pergi pelan-pelan seiring berjalannya waktu, dan kutegaskan padamu Nyonya Lee Renjun, aku memperisterimu bukan karena kau harus menggantikan siapapun, aku memperisterimu karena aku mencintaimu, dan ternyata kita sangat cocok di ranjang merupakan bonus."
"Jeno," pipi Renjun memerah, berusaha menahan Jeno mengucapkan kata-kata vulgar yang lebih parah. Mereka ada di ruang terbuka dan Renjun tahu para pelayan yang terkejut dengan kehebohan itu sedang berkumpul di sudut-sudut, berusaha menguping dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jeno menghentikan ucapannya dan menyadari bahwa banyak yang mengintip mereka dengan diam-diam, tetapi dia tak peduli lagi.
"Sekarang Nyonya Lee Renjun, waktumu untuk menjawab!" Jeno berdiri di situ menatap Renjun dengan tatapan arogannya, sejenak memunculkan dorongan hati Renjun untuk melawannya.
Rupanya Jeno menyadari niat Renjun entah dari ekspresi wajahnya, atau mungkin dari kilatan matanya,
"Dan jangan mencoba membantah," Gumam Jeno sombong, "Aku tahu kau juga mencintaiku."
Renjun merasa pipinya memerah, panas sampai ke telingatelinganya.
"Darimana kau berkesimpulan seperti itu?"
"Aku mendengar pengakuan itu langsung dari bibirmu," Jeno tersenyum puas menatap Renjun yang kebingungan, "Ketika kau terbaring koma, kau berkali-kali mengigau dan mengucapkan 'aku mencintaimu Jeno' berulang-ulang dengan kerasnya hingga semua dokter dan suster mendengarnya."
Sebenarnya Renjun hanya mengucapkan satu kali, dan hanya Jeno yang mendengarnya, tetapi sungguh memuaskan melihat wajah Renjun yang makin memerah karena malu ketika mendengar kata-katanya.
"A… aku tidak mungkin mengucapkan itu… mana buktinya?" Jeno bersedekap, menatap Renjun dengan puas, "Para dokter dan perawat bisa menjadi saksi," dia mulai merasa geli melihat ekspresi Renjun yang tampak amat malu. "Mungkin… mungkin itu akibat pengaruh obat," Renjun berusaha menghindari tatapan Jeno, merasa amat sangat malu. Benarkah dia meneriakkan kata-kata cinta kepada Jeno ketika dia sedang tidak sadar? Astaga alangkah malunya dia, dia tidak mau ke rumah sakit itu lagi. Jeno terkekeh melihat ekspresi Renjun yang berubah-ubah, dengan lembut dirangkumnya wajah Renjun di kedua tangannya, "Renjun, kau sungguh keras kepala. Di sini aku, seorang Lee Jeno menyatakan cintanya kepadamu, dan kau bahkan masih menyangkal perasaanmu kepadaku," tawa di mata Jeno menghilang dan berubah menjadi sensual. Bibirnya mendekat ke bibir Renjun dan mengecupnya dengan kecupan yang panas dan menggoda, "Katakan kau mencntaiku."
Renjun mengerang dalam hati merasakan ciuman itu, Jeno curang telah memanfaatkan pesona tubuhnya untuk memaksa Renjun mengakui perasaannya. Bibir Jeno mengecupnya dengan kecupan-kecupan kecil menggoda di sekitar bibrinya, membuat Renjun ingin meminta lebih banyak lagi.
"Katakan Renjun," bibir Jeno menggoda Renjun lagi, lelaki itu sudah sangat mengenal Renjun dan mengetahui kelemahan
Renjun, ketika Jeno mengigit bibirnya lembut dan melepaskannya. Renjun setengah menjerit, setengah mengerang,
"Ya!" seru Renjun hampir berteriak, marah karena didesak,
"Aku mencintaimu Jeno!"
Jeno langsung melumat bibir Renjun, memuaskan gairahnya dan mencium Renjun lagi, dan lagi tanpa ampun.
Para pelayan hanya menatap takjub kepada tuan dan nyonyanya yang berciuman dengan mesra di taman, dan Haechan yang mengamati sedari tadi tersenyum samar, lalu membalikkan badan memasuki rumah dengan perasaan lega. Lega karena tuannya, Lee Jeno, akhirnya menemukan cahaya yang membawanya kembali kepada kebahagiaan.
Pesta itu berlangsung elegan, sebuah jamuan makan malam yang diadakan Jeno bersama rekan-rekan bisnisnya, untuk keberhasilan proyek mereka yang terbaru.
Renjun ada di sana bersama Jaemin dan isteri-isteri pengusaha lainnya, mengamati Jeno yang ada di seberang ruangan, sedang mengobrol dengan rekan-rekannya. Jantung Renjun berdegup kencang. Dia sudah menghitung di kalendernya. Malam ini dia sudah bebas. Dan memang kondisi tubuhnya sudah membaik sejak hampir dua bulan melahirkan. Dan Jeno masih belum tahu itu.
Jeno sendiri merasakan Renjun sedang mengamatinya, dan gairahnya naik, gelenyar ketegangan seksual telah menggeletar di antara mereka mengingat telah lama mereka tidak bercinta. Jeno menunggu dengan sabar dan menahan diri, meskipun lama-lama hal itu membuatnya sedikit frustrasi, dorongan untuk memeluk Renjun, merasakan Renjun menyerah di dalam pelukannya sangat kuat. Mereka belum pernah bercinta sejak pernyataan cinta yang hebat itu, dan Jeno terobsesi, ingin menunjukkan kepada Renjun, betapa hebatnya sebuah percintaan jika kedua pasangan telah terbuka untuk saling mencintai.
"Jeno," suara Mark menggugah Jeno dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati Mark sedang bersama dengan seorang lelaki.
"Aku ingin memperkenalkan salah satu rekan bisnisku, kami mengembangkan kerja sama di bidang properti," Mark mengedikkan bahunya, dan menyebut nama sebuah perusahaan yang cukup terkenal karena maju pesat dalam waktu singkat. Gosipnya karena pemiliknya adalah seseorang yang jenius, "Dia pemilik perusahaan itu," jelas Mark tenang, "Kenalkan Lee Jeno, ini Zhong Chenle."
Jeno menjabat tangan yang kuat itu dan menatap mata Chenle dalam-dalam. Lelaki yang kuat jiwanya, batinnya.
"Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama," Chenle menggumam dengan suaranya yang tenang, lalu mengangguk untuk berpamitan karena ada urusan lain.
Mark dan Jeno menatap kepergian Chenle,
"Dia si jenius yang membuat perusahaan luar biasa itu?" Mark tersenyum, "Kenapa? Tidak sesuai bayanganmu?" Entah sejak kapan Jeno dan Mark berteman. Mungkin karena kedekatan isteri-isteri mereka.
"Sama sekali tidak sesuai bayanganku. Aku membayangkan seorang laki-laki aneh yang serius dengan penampilan tak kalah serius, Chenle terlalu tampan untuk menjadi seorang jenius yang menghebohkan."
Kali ini Mark terkekeh mendengar kata-kata Jeno, "Dia memang tampan, tapi dia tak pernah punya reputasi sebagai playboy, seperti kita sebelum menikah. " Mark melirik Jeno dengan tatapan menyindir.
Jeno tersenyum miring, "Mungkin agar tidak merusak reputasi jeniusnya," sahut Jeno, "Kurasa aku akan menyukainya kalau ada kesempatan mengenalnya."
Mark tersenyum lagi, "Yah kau akan lebih sering bertemu dengannya nanti, kami sudah bersahabat sejak lama. Dia sudah menjadi patner bisnis resmiku sejak sebulan yang lalu," Mark melirik jam tangannya, "Sudah malam, kami harus segera berpamitan. Terima kasih atas pesta yang luar biasa ini."
Tamu terakhir sudah pulang dan para pelayan mulai membersihkan seluruh rumah supaya esok hari seluruh bagian rumah sudah bersih dan sempurna.,
Renjun sedang duduk di depan meja rias setelah mencuci muka, Dia mengganti bajunya dengan piyama tidur. Saat itulah Jeno masuk, tampak begitu tampan dan mempesona, dengan kemeja putih yang sudah dibuka dua kancingnya. "Hmmmm, aromamu sangat menyenangkan," Jeno memeluk Renjun dari belakang dan menempelkan bibirnya ke leher Renjun, mengecupnya lembut.
Renjun tersenyum menatap rambut coklat Jeno yang terpantul di cermin sementara lelaki itu mencumbu lehernya. Kehidupan pernikahan mereka luar biasa baiknya setelah pernyataan cinta itu. Semua salah paham sudah dilepaskan, Jeno berhasil meyakinkan Renjun bahwa di satu titik tertentu dia sudah jatuh cinta kepada Renjun tanpa dia menyadarinya, Renjun percaya karena dia pun merasakan hal yang sama,
Tidak ada yang tahu kapan cinta itu muncul, Sungguh tak terduga, Renjun tidak menyangka akan jatuh cinta dan berbahagia menjadi seorang isteri dari lelaki yang bahkan di pertemuan pertama mereka menyekapnya di dalam bagasi, melemparnya dari balkon, menculik dan menahannya di rumahnya dan menghujaninya dengan berbagai arogansi yang tidak terkira. Tetapi Renjun memang jatuh cinta, kepada Jenonya yang tampan, yang meskipun emosinya masih meledak-ledak dan arogansinya sering muncul ke permukaan, lelaki itu ternyata juga mencintai Renjun dan memperlakukannya dengan luar biasa lembut.
Ketika tidak ada penghalang di antara mereka, Jeno ternyata adalah suami yang baik. Dia memperlakukan Renjun dengan hormat dan penuh kasih sayang. Kadang mereka masih beradu argumentasi, tetapi mereka menikmatinya sebagai rutinitas suami-isteri, bukan sebagai ajang luapan kebencian. Dan terhadap Donghyuck, Jeno benar-benar menjadi ayah yang luar biasa. Begitu penuh kasih sayang dan ketakjuban, layaknya seorang ayah baru dengan putera pertamanya. Renjun membayangkan betapa Donghyuck nanti akan begitu mirip ayahnya, dan mungkin menjadi anak yang memuja ayahnya, semoga begitu. Mengenai kehidupan percintaan mereka di ranjang… Well selama ini mereka belum bisa melakukannya karena Renjun belum boleh melakukannya setelah melahirkan. Tetapi hari ini bisa. Renjun mengingat hitungan kalender itu, dan jantungnya berpacu liar,
Jeno sekarang sedang menggigit ringan telinga Renjun, lalu membalikkan tubuh Renjun dengan lembut dan memeluknya erat. Pelukan itu begitu erat hingga Renjun bisa merasakan kejantanan Jeno yang menekan tubuhnya dengan kerasnya.
"Mungkin aku harus memelukmu beberapa lama, sebelum aku masuk ke balik selimut, mencoba tidur dan menjadi gila seperti biasanya," Jeno menyentuh bibir Renjun dengan jemarinya, lalu mengecupnya lembut
"Malam ini aku sudah bebas." Renjun berbisik pelan sambil berjinjit di telinga Jeno.
Kata-katanya langsung berimbas ke seluruh bagian tubuh Jeno. Matanya menyala penuh gairah dan antisipasi, dan Renjun bisa merasakan bahwa di bawah sana Jeno makin mengeras menekan tubuhnya.
"Jadi…," suara Jeno terdengar parau, "Kau sudah bisa…" Renjun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Detik itu juga Jeno langsung mengecup bibirnya dengan penuh kehausan, tanpa ampun, malam ini mereka bisa menuntaskan kerinduan mereka, yang telah tertahan sekian lama. Tanpa melepas kecupannya, Jeno mengangkat tubuh Renjun, lalu membaringkannya di ranjang dan menindihnya, senyumnya penuh gairah dan matanya penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Nyonya Lee Renjun, dan kuharap aku bisa menjadi lelaki yang bisa kau andalkan," tatapan lembut Jeno membuat mata Renjun berkaca-kaca tapi juga kesal, "Eye y ey, aku masih seorang laki-laki Lee Jeno."
Mereka telah melalui segalanya, kebencian yang meluap, kemarahan, kesalahpahaman, dan kemudian kekecewaan, Tetapi pada akhirnya mereka dipersatukan oleh cinta, yang luar biasa dalam dan tumbuh begitu saja tanpa di sadari,
Renjun menatap Jeno dengan lembut dan kemudian memejamkan mata ketika bibir Jeno menunduk ke arahnya, hendak mengecupnya dengan kecupan lembut, "Dan aku juga mencintaimu, Lee Jeno, suamiku, ayah dari anakku," suara Renjun berubah menjadi desahan ketika bibir Jeno melumat bibirnya dalam gairah cinta yang menggelora.
END
.
Ngengggg, udah tamat. Selesai cuy. Iya, ending. Dan Donghyuck yang jadi anaknya NOREN :v Mau tau alasanya? :v nggak usahlah, otak gue lagi konslet :v Dan Chenle udah gue munculin kokkkk :v meski sebentar.. sorry ✌✌
Ini ff terahir gue. Maaf gue nggak bisa nepatin janji pada seseorang, gue udah nggak bakal publish ff lagi. Apapun itu. Ini yang terahir. Gue bakal ninggalin akun ini. Tapi tenang… ff nya nggk di hapus kok. Dan gue juga nggak bakal nongol di review para author lagi, pokoknya gue kudu ngorbanin dunia ff demi masa depan vroh :v sakit sebenarnya, tapi yasudahlah. :v
Ngomong-omong, maafin gue bila selama ini gue ada salah sama kalian... Gue yang uploud-Delete-Undeleted-Delete again, dan gitu terus :v gue gk tau kenapa gue labil banget :v Pokoknya maafin gue ye.. maaf juga gk bisa nyebu satu-2 readers yg udah review :''' aku sayang kamu semua kok yang udab review, yang siders gue sakit hati lah :v jahat sih jadi hantu, enggk muncul muncul :v apa perlu gue nyalain kemenyan? :v
Terima kasih buat 5k +++ readers untuk ff ini. Makasih banget yang udah review, follow, fav, dan juga siders deh, makasih udah berkunjung.
Good bye. Dan semoga kalian sukses. Jangan lupa tinggalin jejak!
