.

Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted/Slight yuri

Genre : Crime/psychology/Tragedy/Slice Of Life

No Pair (Pair di akhir cerita)

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story by DarkGrin

.

POSESIF

You Belong To Me : 2

Chapter 11

...

Sasuke menjelaskan pada Shikamaru dan Naruto kalau barusan saja dia melihat Sakura dan Sasori. Dia yakin tak salah lihat karena Sakura juga tadi melihatnya dan langsung melarikan diri darinya. Sasuke yakin sekali kalau ia tak sedang bermimpi atau berimajinasi.

"Kau yakin tidak salah lihat?" Shikamaru tampaknya ragu saat mendengar penjelasan Sasuke.

"Mungkin kau terlalu lelah Sasuke... " sambar Naruto yang juga ikutan tak percaya. Maklum saja pemuda itu sangat sibuk karena pameran ini. Siapa tahu dia kelelahan dan jadi melihat yang tidak-tidak.

"Aku yakin dengan apa yang kulihat dan mataku belum rusak!" kenyataan Naruto dan Shikamaru tak mempercayainya membuat Sasuke semakin ngotot.

"Bukannya kami tak percaya, hanya saja Sakura dan Sasori dinyatakan tewas dalam kebakaran itu... " Naruto dan Shikamaru hanya bisa saling diam. Mereka merasa Sasuke tak mungkin berbohong, tapi apa benar kedua Akasuna itu masih hidup?

"Kalau kalian tak percaya ya sudah." Sasuke mendengus. Dia tahu kalau Naruto dan Shikamaru tak bisa menerima apa yang dia katakan barusan, "tapi aku akan mencari tahu sendiri dan akan kubuktikan kalau mereka berdua masih hidup," ucapnya penuh dengan tekad.

Sasuke kemudian menenangkan dirinya sendiri, dan setelah merasa lebih baik, pemuda itu kembali berjalan menuju ke arah para wartawan yang sedang menunggunya, seolah-olah sedang tak terjadi apa-apa barusan. Naruto dan Shikamaru menyusulnya dari belakang sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah ucapan Sasuke itu benar? Apa pemuda itu benar-benar melihat Sakura dan Sasori? Bagaimana kalau kedua Akasuna itu ternyata memang masih hidup dan sekarang berkeliaran di Sunagakure untuk mencari korban?

"Shikamaru... ".Naruto berpikir untuk mengutarakan pendapatnya pada Shikamaru, kalau masalah ini tak bisa dianggap kecil. Siapa tahu ucapan Sasuke benar.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku rasa kita juga harus menyelidiki mengenai kebenaran kematian Sakura dan Sasori," sambar Shikamaru cepat yang ternyata sependapat dengan apa yang dipikirkan oleh Naruto. Naruto mengangguk lega karena Shikamaru sependapat dengannya.

...

Sementara itu Temari yang tidak mengetahui kepergian Sakura bersama Gaara tadi benar-benar dibuat repot oleh belasan reporter yang sedang mengelilinginya dan melontarkan pertanyaan kepadanya secara bersmaan.

"Tolong tanyanya satu-satu!" entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu memijit keningnya, saking pusingnya melihat kerumunan orang di sekitarnya.

"Wah, wah sepertinya Sabaku yang satu ini sedang sibuk sekali, ya?" terdengar suara seorang gadis dari belakang Temari dengan nada setengah mengejek.

"Wah, ini benar-benar kebetulan yang menguntungkan!" celetuk seorang reporter pria saat melihat sosok yang hadir di belakang Temari.

"Bukankah dia Mei Terumi? Model yang sedang naik daun itu?" seorang reporter lain tampak begitu antusias saat melihat kedatangan Mei di sana.

"Ayo kita hampiri dia!" sambar wartawan lainnya. Pada akhirnya para reporter itu berpindah mewawancarai Mei yang berdiri tak jauh dari Temari.

Sekarang giliran Mei yang dibuat pusing tujuh keliling oleh para wartawan itu. Para reporter itu melemparkan begitu banyak pertanyaan kepada Mei secara bersamaan, membuat gadis yang memiliki tahi lalat khas di atas bibir itu bingung harus menjawab pertanyaan yang mana duluan. Temari yang berada tak jauh dari Mei dan sedang memperhatikan gadis itu diam-diam tersenyum puas.

"Lebih baik aku mencari Sakura... " gumamnya pelan sambil memutar tubuhnya.

"Ah, Temari tunggu aku!" seakan tak rela melihat Temari pergi, Mei bergegas menerobos kerumunan wartawan dan mengejar gadis pirang itu.

Temari melirik ke arah Mei yang sukses menempel persis di sebelah dirinya. Sebenarnya, kalau mau jujur dia merasa risih dengan sikap Mei yang tiba-tiba saja bermanja-manja kepada dirinya. Gadis itu dengan seenaknya merangkul erat lengan Temari seperti anak kecil.

"Mei, bisa tidak kau lepaskan tanganmu dariku?" ucap Temari dengan nada sedikit memerintah.

"Eh, memangnya kenapa? Aku suka memegangmu seperti ini. Membuatku merasa dekat denganmu," balas Mei yang sepertinya enggan untuk menuruti permintaan Temari. Dia malah semakin menempel pada Temari.

"Kau membuatku tidak nyaman!" Temari mengatakan apa yang dia rasa secara blak-blakan agar Mei mengerti dan berhenti bersikap manja seperti itu kepadanya.

"Ta-tapi kenapa? Aku seperti ini karena aku menyukaimu Temari!" jantung Temari nyaris lompat keluar saat mendengar pengakuan Mei sesaat tadi. Gadis itu berhenti sebentar dan beralih menatap Mei.

"Bilang apa kau barusan tadi?" tanya Temari lagi, hanya untuk meyakinkan ucapan Mei yang sebelumnya.

"Aku bilang kalau aku menyukaimu... " jawab Mei lirih. Temari sukses membulatkan kedua bola matanya sambil terus menatap Mei untuk mencari kebenaran dari ucapan gadis itu.

"Ikut denganku!" tanpa banyak basa-basi lagi, Temari segera menarik Mei.

...

Kedua gadis itu berjalan dengan langkah terburu-buru sambil menelusuri tiap-tiap ruang di gedung tersebut. Mei hanya bisa menatap heran ke arah Temari dan memilih untuk pasrah saat dirinya ditarik-tarik dan diseret oleh Temari. Berkat tingkah keduanya yang mencurigakan kini kedua gadis itu sontak jadi perhatian puluhan pasang mata para pengunjung pameran. Meski demikian, Temari dan Mei sama-sama bersikap acuh pada tatapan mata orang-orang di sekitar mereka.

Karena tak menemukan tempat yang cocok, akhirnya Temari membawa Mei ke toilet wanita karena setiap sudut dari ruangan galeri begitu penuh dan dipadati oleh pengunjung. Hal itu juga menjadi fakta baru bagi Temari kalau ternyata minat penduduk Sunagakure begitu besar terhadap karya seni.

"Kita bicara di sini saja," ucap Temari sambil menutup pintu toilet rapat-rapat dan memastikan tak ada satu orang reporter pun yang tadi mengikuti mereka.

"Sekarang katakan padaku, apa maksud dari semua perkataanmu tadi? Kau menyukaiku?" Temari mulai menginterogasi Mei.

"Aku menyukaimu dan tidak ada maksud lain. Semua ini murni dari perasaanku sendiri." Mei mengulangi lagi pernyataannya saat di aula gedung tadi.

Temari terdiam. Tatapan matanya tajam menelusuri raut wajah Mei serta gerak-geriknya. Apakah gadis berambut merah itu sungguh-sungguh? Atau dia hanya ingin mengetes saja?

"Kau menyukai aku seperti apa?" tanya Temari yang tak ingin terjebak dengan pernyataan Mei. Dia tahu Mei adalah gadis yang licik. Mungkin saja dia melakukan ini untuk menjatuhkan pamornya sebagai model nomor satu sekarang, atau ada sesuatu yang lain?

"Aku menyukai dan tertarik padamu seperti halnya aku tertarik dengan laki-laki... " Mei menjelaskan dengan sedikit ragu, "kau... Mengerti maksudku, kan?" tanyanya penuh harap agar Temari berhenti untuk bertanya-tanya lagi. Entah kenapa, mendadak saja dia merasa canggung membicarakan perasaannya seperti ini.

"Sejak kapan?" Temari menatap Mei dengan dingin, "sejak kapan kau menyukaiku?".

"Se-sejak pertama kali aku melihatmu di majalah top model Sunagakure. Dari situ aku mulai mengagumimu, tapi perlahan aku mulai tertarik padamu dan belakangan a-aku menyadari kalau perasaanku padamu seperti aku tertarik pada laki-laki... " Mei mengutarakan perasaannya pada Temari dengan wajah yang merona.

"Oh, ya aku juga mengumpulkan setiap majalah yang memuat dirimu!" dengan antusias Mei menunjukkan sebuah majalah dengan wajah Temari pada bagian sampul depannya.

"Jadi, kau benar-benar menyukaiku seperti itu, Mei?" Temari sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan Mei sambil memberikan tatapan yang menggoda. Seringai nakal bermain pada bibirnya yang berwarna merah.

Melihat respon Temari yang agresif, Mei memilih untuk mundur selangkah, menjaga jarak dari gadis itu. Temari yang melihat Mei mundur menjauhinya hanya menyeringai dengan bibir yang terlihat semakin merekah.

"Kau bilang suka padaku, kan?" Mei mengangguk perlahan dengan pertanyaan Temari yang begitu mengintimidasi dirinya." Kalau begitu aku ingin bukti," ucapnya seperti menuntut suatu keharusan.

"Bukti? Bukti apa?" setelah melontarkan pertanyaan kepada Temari, Mei tahu kalau dia telah salah bicara. Apalagi seringai di wajah Temari malah semakin melebar, membuatnya merasa ngeri seketika.

Greb!

Temari kembali menarik tangan Mei secara tak terduga. Dengan cepat gadis itu membuka kenop pintu salah satu kamar mandi yang ada di sana dan langsung menyeret Mei masuk ke dalam bersama dengan dirinya.

"Te-Temari apa yang mau kau lakukan?" Mei tampak cemas dengan sikap Temari yang mendadak saja menjadi liar.

"Untuk membuktikan, apakah perkataanmu itu sungguh-sungguh atau bukan," balas Temari sambil menangkupkan dagu tirus Mei yang terlihat seksi. Tanpa basa-basi lagi Temari menyerang bibir merah Mei dengan ganas. Tanpa bisa mengelak Mei hanya bisa pasrah menerima ciuman panas yang dilakukan Temari.


Kediaman Sabaku


Saat ini Sakura tengah terduduk diam di ruang tamu bersama dengan Gaara yang sedang berdiri di hadapannya. Tampaknya Sakura masih merasa shock dengan kejadian tadi. dia benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan sasuke di sana. Orang dari masa lalunya yang paling tak ingin dia temui, karena begitu melihat wajahnya, dia akan teringat dengan Sai. Kalau sudah begitu rasa bersalah akan menjalar ke seluruh tubuhnya dan teriakan-teriakan 'pembunuh' akan terngiang di dalam telinga, otak dan hatinya.

"Sakura, kau tidak apa-apa? Mau kuambilkan air minum?" tawar Gaara saat melihat gadis itu hanya duduk dan diam saja tanpa berkata apa-apa semenjak pulang dari pameran tadi.

"Siapa laki-laki tadi yang mengejarmu?" tanya Gaara mulai mencari tahu apa yang sebenarnya tadi terjadi di sana, sampai-sampai Sakura harus melarikan diri dari acara pameran tersebut.

"Dia... Bukan siapa-siapa... " Sakura menggeleng lemah. Tentu saja dia tak bisa berterus terang mengenai Sasuke.

"Sakura jangan bohong padaku," dengus Gaara saat melihat Sakura masih tak mau jujur kepadanya, "laki-laki itu tak mungkin mengejarmu tanpa sebab dan kau tak mungkin lari ketakutan seperti itu setelah melihatnya kalau kau tak mengenal dia sebelumnya." Gaara memang pandai menganalisa keadaan. Tentu saja jawaban Sakura tak bisa dengan mudah ia percayai. Pemuda itu yakin kalau Sakura ada hubungannya dengan laki-laki yang mengejar Sakura di acara pameran tadi. Apalagi kondisi Sakura yang ketakutan seperti ini mengingatkannya saat pertama kali mereka menemukan Sakura, terlihat gemetar, ketakutan dengan pakaian yang hampir di nodai darah sebagiannya.

"Dia... Sasuke Uchiha... " tahu kalau dirinya tak mungkin bisa berbohong pada Gaara, akhirnya Sakura memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya (meski tak semuanya). Gaara masih berdiri diam di Sakura, menanti gadis itu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.

"Aku dan dia bersekolah di satu tempat yang sama... dan kami... sempat berhubungan sebentar, setelah itu kami berpisah. Perpisahan kami tak begitu baik... " jelas Sakura tak sepenuhnya benar juga tak semuanya salah.

"Lalu, kenapa kau harus lari ketakutan seperti tadi? Apa kau punya salah padanya?" Gaara yang tidak puas dengan penjelasan Sakura masih melontarkan pertanyaan pada gadis itu.

Sakura hanya mampu terdiam saat mendengar pertanyaan Gaara barusan. Sungguh ia tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Lehernya merasa tercekik dan dadanya terasa sesak. Gadis itu hanya mampu meremas bajunya kuat-kuat.

"Maafkan aku... Untuk saat ini aku masih belum bisa mengatakannya... Tapi suatu saat nanti pasti akan kukatakan bila waktunya tepat," ucap Sakura lirih sambil menggigit bibir bawahnya.

"Sakura... Kau tahu kalau kau tak sendirian. Ada aku di sini." Tanpa terduga Gaara berlutut di depan Sakura dan menggenggam kedua tangan gadis itu.

"Maaf, aku membuatmu susah... " Sakura berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh dari kedua bola matanya yang kini sudah mulai digenangi air.

"Sakura, sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan padamu." Genggaman pemuda itu menjadi semakin erat, "aku mencintaimu, Sakura... " satu pernyataan cinta yang sama sekali tak diduga meluncur dari bibir Gaara.

'A-apa? Apa barusan aku tak salah dengar? Gaara mencintaiku?' Sakura hanya bisa bengong, bingung dan heran setelah mendengar pengakuan Gaara barusan.

Kedua pasang manik yang senada itu kini sedang beradu pandang. Tatapan keduanya sama-sama terkunci dalam keheningan keadaan. Emerald yang satu menatap dengan tatapan untuk mencari kebenaran sementara emerald yang lain melemparkan tatapan penuh kesungguhan.


Gedung Pameran


Kembali ke acara yang sedang berlangsung di jantung kota Sunagakure. Orang-orang yang datang semakin ramai dan Sasuke tetap berusaha menyambut para pengunjung dengan sikap biasa walaupun sebenarnya saat ini dia benar-benar gelisah karena melihat kehadiran Sakura dan Gaara (yang dianggapnya sebagai Sasori). Berbagai macam pikiran sudah melayang entah kemana.

Di tengah keramaian itu Sasuke menangkap dua sosok gadis yang sepertinya baru dari toilet. Memang hal yang wajar tapi gerak-gerik keduanya mencurigakan. Apalagi gadis yang satu ia ketahui adalah Temari, gadis yang dicurigai terlibat sebuah kasus pembunuhan.

"Shikamaru, Naruto." Dengan cepat Sasuke memanggil kedua pemuda itu yang sedang mengawasi tak jauh darinya. "Kalian berdua lihat mereka?" Sasuke melirik ke arah di mana Temari sedang berjalan bersama Mei. Untungnya kedua gadis itu belum jalan terlalu jauh jadi masih dapat tertangkap mata oleh Naruto dan Shikamaru.

"Ayo kita ikuti mereka." Shikamaru yang biasanya malas bergerak sendiri mengikuti kedua gadis itu dari belakang dan disusul oleh Naruto.

TBC


A/N : Sakura bisa saja bersama dengan Gaara pada akhirnya, atau mungkin Sasuke (?) atau malah tidak berakhir dengan siapa-siapa. Well, jangan lupa warn chara death di atas (antisipasi)