Tittle : GONE
Casts: Suho/ Kim Joonmyeon
Kris/ Wu Yi Fan
Luhan/ Wu Luhan
Baekhyun/ Wu Baekhyun
Tao/ Wu Zitao
Oh Sehun
Akan bertambah sesuai kebutuhan (?)
Genre : Drama, family, Hurt/Comfort, GenderSwitch (GS) for Suho
Rate : T
Disclaimer : Mereka semua punya Tuhan, dan cerita ini punya saya.
-Happy Reading-
Previous Chapter
"Jangan memberitahuku tentang 'hubungan' macam apa yang kita punya, aku tidak bodoh untuk mengetahui semua itu, jadi pergi dan bawa semua milikmu, jangan membawa anak-anak karena mereka milikku."
"Berhentilah bersikap egois! Mereka juga anak-anakku! Jangan membuatku menjadi jahat Suho!"
"Aku – aku memutuskan untuk ikut Appa ke Beijing."
"Tak ada yang perlu disesali Eomma, bukankah rasa sesal memang selalu datang terlambat?"
"Baek Hyung? Apakah Luhan Hyung akan pergi ke Cina? Apa Hyung tak akan tinggal bersama Tao lagi?"
'Maafkan Eomma sayang, andai saja kami tak seegois ini sejak awal, andai ada hal yang bisa Eomma lakukan untuk kalian...'
"Jika kau yakin dengan keputusan ini Appa akan menyuruh Jonghyun untuk memesan tiket ke Cina segera Lu."
"Tapi aku punya beberapa syarat."
.
.
.
Gone 12 begin...
"Syarat apa Lu?"
Luhan masih menatap tajam pada ayahnya, menembus mata elang dengan alis tegas yang dapat mempesonakan siapapun.
"Setidaknya sebulan sekali aku akan pulang ke korea, aku akan pulang setiap hari besar, setiap hari ulang tahun Eomma, Baekhyun, ataupun Tao."
Kris menganggukkan kepala, walaupun ia tak tak tahu bisa menuruti keinginan Luhan yang satu ini atau tidak, tapi yah dia akan mengusahakannya. Penerbangan Cina – Korea setiap Bulan bukan masalah besar baginya, mengingat siapa Kris dan jabatan apa yang ia miliki, biaya akomodasi tak jadi masalah, Kris bahkan punya pesawat pribadi jika Luhan ingin pulang ke Korea tanpa harus berdesakan di bandara. Tapi waktu mungkin akan jadi masalah besar bagi Luhan, dan ah satu lagi.
"Tapi Lu, bukankah kau punya acrophobia? Bagaimana mungkin kau akan melakukan penerbangan setiap bulan sekali? Appa tahu penerbangan dua jam itu bukan waktu yang singkat bagimu."
"Ketakutanku bukan masalah besar, aku akan konsultasi dengan dokter Kang." Luhan memainkan jemarinya, dia sedikit gugup jika membicarakan tentang phobia miliknya, karena selama ini ia tak pernah ada yang mengungkit tentang ketakutannya ini, termasuk kedua orang tuanya.
"Kau yakin?" garis kekhawatiran melukis wajah Kris.
"Keputusanku sudah bulat," Luhan mengangguk, kembali menatap wajah ayahnya,namun tak lagi sekeras biasa ekspresinya kini melunak, "bukankah Appa bilang ketakutan itu untuk dilawan, seharusnya ketakutanku akan membuatku kuat, bukan untuk menjadikanku lemah."
Lelaki jangkung itu tertawa kecil, "Kau masih ingat?"
Ia kembali tersenyum saat pria yang lebih muda mengangguk pelan. Berdiri dari duduknya Kris menghampiri Luhan, meremas bahu sempit si sulung lalu menepuknya pelan, "Appa tahu kau kuat Luhan, kau lebih kuat dari apa yang kau kira, Appa bangga menjadi ayahmu, ayah kalian."
"Baiklah, Appa harus menyelesaikan beberapa urusan tentang kepindahanmu, termasuk sekolahmu." Kaki panjang Kris hendak melangkah keluar ruangan.
"Jika kau begitu bangga menjadi ayah kami, kenapa kau meninggalkan kami? Apa kau tak pernah bangga menjadi suami dari ibu kami? Kenapa kau memilih berpisah dengan Eomma dan hidup dengan wanita lain? Apa kami tidak cukup membanggakan lagi bagimu?"
Kris memutar tubunya untuk melihat Luhan yang sudah berdiri dari duduknya dengan kedua tangan yang mengepal.
"Luhan... kenapa membicarakan ini? Kau tahu bukan itu alasan Appa dan Eomma bercerai, kami hanya tak lagi sepaham Lu."
"Tak lagi sepaham atau Appa yang tak pernah memahami Eomma? Aku tahu bagaimana Eomma mencintaimu, mencintai dengan arti yang sesungguhnya bukan hanya sekedar topeng kemunafikan yang selalu Appa tunjukkan, aku tahu bagaimana Eomma yang menangis setiap malam semenjak Appa tinggalkan, aku mungkin masih terlalu naif untuk berbicara tentang cinta, tapi setidaknya aku bisa membedakan ketulusan dan kemunafikan." Luhan menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis.
"Luhan," Kris berjalan mendekat, "ibumu tak lagi mencintai Appa, atau mungkin ia tak pernah benar-benar mencintai Appa, ibumu sekarang sangat membenci Appa Lu."
"Itu karena Appa lebih memilih tinggal bersama dengan wanita lain, itu karena Appa selalu bersikap egois dan tak pernah memahami Eomma." Luhan mengeratkan rahangnya.
"Apa kau akan menggantikan posisi Eomma dengan wanita itu? Lalu apakah wanita itu lebih baik dari Eomma?"
"LUHAN!" Kris berteriak tertahan, rahang pria jangkung itu ikut mengeras, "hentikan semua omong kosongmu! Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?"
"Appa dan segala sikap Appa yang membuatku seperti ini."
Luhan berjalan keluar ruangan, dan berhenti tepat di depan pintu, dan memutar tubuhnya kembali menghadap sang Appa.
"Ah ya, dan satu syarat lagi," mata tajam Luhan tepat menusuk ke dua bola mata Kris, "jangan pernah berpikir untuk menikahi wanita itu, tidak wanita itu, tidak pula wanita lain."
"Luhan! Apa apaan kau ini?!" Kris menatap Luhan tak percaya, "darimana kau belajar untuk memerintah ayahmu sendiri? Apa hakmu mengatur kehidupan Appa?!"
"Kalau begitu jangan mengatur kehidupanku, jangan mendikte tentang apa yang harus aku lakukan dan yang tidak harus kulakukan." Semakin tajam Luhan menatap ayahnya.
"Jika Appa tetap ingin menikahi wanita itu atau wanita lainnya, maka jangan berharap aku akan melakukan apa yang Appa perintahkan." Setelahnya Luhan berlari keluar ruangan, meninggalkan ayahnya.
Kris mendudukkan kembali tubuhnya ke kursi. Pria jangkung itu memijat pangkal hidungnya, dahinya berkerut, kepalanya sudah hampir pecah sekarang, belum lagi luka-luka yang ia dapat tadi malam dari kakak iparnya belum sembuh benar. Satu helaan nafas lelah meninggalkan bibir tebalnya, ia tak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi semua ini. Kris tak menyalahkan Luhan atas segala sikap keras yang ditunjukkan pemuda itu padanya, ia menyadari bahwa semua ini berawal dari keegoisan masa mudanya yang tak kunjung padam. Jika saja ia bisa belajar melepas cinta pertamanya, andai saja ia tak tergoda gairah masa muda yang terus menggerogoti hati dan pikirannya, andai saja ia tak pernah bertemu Yixing kembali, mungkin semua tak akan berakhir serumit ini. Ah sudahlah, jutaan pengandaian sekalipun tak akan mengembalikan semuanya, bukankah rasa sesal memang selalu datang terakhir.
.
.
.
Luhan membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau lapangan sepakbola sekolahnya, matanya sedikit menyipit, cuaca hari ini sangat cerah meski baru menunjukkan pukul sembilan pagi tapi matahari sudah bersinar menyilaukan mata. Ia letakkan lengannya di atas dua matanya yang tertutup, mengurangi pancaran sang surya yang menusuk langsung ke dua mata bola miliknya. Satu helaan nafas lolos dari bibirnya, helaan nafas kedua kembali lolos, ketiga, keempat, sudah tak ia hitung lagi berapa kali ia menghela nafas dalam tiga puluh menit terakhir.
Ia tak tahu bagaimana bisa meneriakkan pikirannya begitu saja di depan ayahnya tadi. Sejak kejadian tadi malam saat ibunya menyebut-nyebut wanita lain, hal itu terus saja mengganggu pikiran Luhan. Dugaannya selama ini benar bahwa ayahnya meminta cerai karena ada wanita lain di hatinya. Dan Luhan benar-benar tak suka jika ada wanita lain yang menggantikan posisi ibunya, ia mungkin masih akan terima jika ayahnya hanya akan tinggal berdua saja dengan wanita barunya. Tapi kenyataanya adalah Luhan akan tinggal untuk waktu yang lama bersama ayahnya di Cina sana, dan kehadiran wanita lain di tengah mereka akan sangat mengganggu bagi Luhan. Anggaplah Luhan egois, tapi ia tak peduli.
Begitu banyak yang mengganggu pikirannya, dirinya, hidupnya, keluarganya, ibunya, adiknya, ayahnya. Kembali ia memikirkan tentang keputusannya untuk ikut dengan ayahnya ke Beijing. Meski sudah semalaman kemarin ia memikirkan tentang ini dan sudah membulatkan niatnya, tapi masih ada sisi lain dalam dirinya yang berteriak untuk tetap tinggal.
Bayangan Baekhyun dan Tao singgah di pikirannya, suara tawa kedua adik manisnya itu seolah menggaung memenuhi ruang-ruang dalam otaknya. Kemudian bayangan Minseok dan tim sepakbola mereka yang mencetak gol di lapangan hijau ini, lalu Sehun dan logat bicaranya yang lucu bergantian hinggap di otak kecilnya.
Luhan menurunkan lengannya yang sejak tadi menutup kedua matanya saat merasakan ponselnya bergetar, dengan gerakan malas ia merogoh saku celananya. Sedikit memicing Luhan membaca si penelepon lalu menekan tombol hijau.
"Eo, Sehunna?" baru kemarin mereka saling mengenal dan Luhan sudah merasa mengenal Sehun sejak lama, berbicara pada orang baru sesantai ini adalah hal baru bagi Luhan.
"Hyung, kau dimana?"
"Aku?" Luhan menggigit bibirnya, "di rumah, aku sedang tak enak badan." Kebohongan meluncur indah dari bibir tipisnya, tak tahu untuk alasan apa.
"Oh, cepat sembuh, baiklah aku tutup."
"Hm, terima kasih."
Tut tut
Luhan kembali menghela nafas sambil terpejam, lengan kanannya kembali ia letakkan di atas kedua matanya yang tertutup. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat merasakan matahari pagi seakan membakar kulit wajahnya, dengan angin yang sedikit berhembus menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya. Luhan selalu suka sensasi ini, rasanya seperti saat ia berlari mengejar bola di bawah terik matahari di musim panas, begitu menyenangkan.
Namun senyuman Luhan memudar saat ia tak lagi merasakan panas matahari pagi menyentuh kulit wajahnya.
Bukankah tadi sangat cerah, tapi kenapa sekarang tiba-tiba ada awan?
Dengan dahi berkerut perlahan ia membuka dua kelopak matanya, bukan langit biru tapi kini payung berwarna birulah yang menaungi dirinya, saat ia menoleh hal yang pertama ia lihat adalah hidung bangir dan mata hitam yang mempesona.
"Sehun," Ya, pria yang lebih muda itu juga kini tengah membaringkan tubuhnya di samping tubuh Luhan, tangan kokohnya memegang payung biru yang menghalangi terik sang mentari membelai wajah keduanya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?"
"Haruskah aku beritahu satu rahasia?" Sehun tersenyum penuh misteri, menimbulkan tanda tanya besar di wajah Luhan.
Sehun memajukan sedikit kepalanya, bibirnya tepat berada di depan telinga Luhan "Aku adalah Sehun Potter, adik Harry Potter yang tak pernah diungkap ke publik." Tawa renyah lolos dari bibir Sehun.
"Berhentilah bicara omong kosong." Luhan tersenyum lebar, menampakkan barisan gigi rapinya.
"Bukankah 'tak enak badan' tak begitu tepat untuk kondisimu saat ini? Kurasa otakmu yang tidak sehat Hyung," Sehun menoleh kepada Luhan, "apa yang kau pikirkan hingga tesenyum seperti tadi?"
"Sehun, hal apa yang paling kau sukai di dunia ini?"
"Eum, aku sangat menyukai dance, aku tak tahu bagaimana jadinya aku tanpa dance," Sehun menarik nafasnya pelan, ia rentangkan kedua tangannya di atas rumput menjatuhkan payung biru yang tadi ia pegang.
"Dance bagiku seperti candu yang dikirim Tuhan, saat sedih, kecewa, marah, aku selalu menari, seperti kokain, dance akan membuatku terbang dan melupakan segala masalah, namun seberapapun aku mengkonsumsi kokain yang satu ini tak pernah sekalipun aku overdosis, that's why I choose dance as my drug."
Luhan memperhatikan bagaimana bibir tipis Sehun bergerak, ia melihat mata Sehun berbinar saat membicarakan tentang candunya. Luhan tersenyum.
"Aku sangat menyukai sepakbola." Luhan menatap langit biru di atas kepala mereka, "aku suka sensasi saat aku berlari di tengah lapangan hijau dengan paru-paru terbakar semangat," Luhan memejamkan matanya, otaknya memutar kembali bagaimana sensasi itu, "saat aku berlari, dunia seolah datang padaku, saat aku mencetak goal rasanya jantungku akan meledak karena bahagia."
"Tapi Hyung, aku masih tak habis pikir bagaimana dua puluh dua orang di dalam lapangan 45 kali 90 meter memperebutkan bola yang sama."
Kalimat Sehun disambut kekehan kecil dari Luhan, "Haruskah kita menambah bolanya?"
"Silly Hyung" Sehun tersenyum.
Ada jeda tercipta, keduanya masih menyelam dalam pikiran dan mimpi-mimpi mereka. Luhan menoleh untuk melihat wajah Sehun, mata pemuda itu terpejam, ujung rambutnya bergerak diterpa angin pagi. Wajah Sehun sangat tampan, dengan rahang tegas, alis tebal, hidung bangir, dan bibir tipis yang mempesona, terkadang Luhan menginginkan wajah seperti itu alih-alih memiliki wajah yang manis dan terkesan feminim.
Awalnya Luhan mengira Sehun adalah berandalan brengsek yang berjalan di bawah atap kekuasaan bersama teman-temannya, menghancurkan orang-orang lemah yang mereka anggap 'sampah', mempermainkan hati orang lain dan meninggalkannya. Tapi ternyata Luhan salah, Sehun bukanlah orang semacam itu, meski wajahnya terkesan dingin tapi hatinya hangat, terlebih saat sudah mengenalnya. Walau baru kemarin ia mengenal Sehun tapi ia merasa sudah sangat dekat dengan pemuda berwajah datar ini, seperti dua batang magnet yang saling tarik-menarik, keduanya seolah diikat oleh benang tak kasat mata bernama takdir.
"Sehun-ah..."
"Hmmm?" Sehun masih memejamkan matanya.
"Besok aku akan ke Cina"
"Liburan? Bukankah masa liburan sudah lewat?"
"Bukan." Luhan menarik nafas pelan, "aku akan membantu ayahku mengurus perusahaan, aku akan menetap di Cina."
Sehun tak menanggapi, kembali memejamkan matanya yang tiba-tiba menjadi panas.
"Sehun-ah?" Luhan menoleh ke arah Sehun, kembali mengamati wajah si Tampan itu.
"Aku tahu Hyung," Kini giliran Sehun yang menoleh ke arah Luhan, mata keduanya beradu pandang, segaris senyum tipis tergambar di wajah Sehun, "kau melakukan ini untuk keluargamu, aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi dirimu Hyung."
Raut kebingungan hinggap di wajah manis Luhan, dahinya berkerut-kerut dengan mata rusa yang sedikit menyipit, wajahnya seolah meneriakkan 'bagaimana kau tahu?'. Membuat Sehun tertawa kecil.
"Apa? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku adalah Sehun Potter."
"Silly Hun." Keduanya tertawa ringan, seringan angin yang menerbangkan kabar rindu.
Diam kembali mengambil alih, menjadi pemeran utama diantara kemelut pikiran dua anak manusia yang terbaring di bawah langit Tuhan. Sehun kembali memejamkan matanya, sebenarnya ia sudah mengetahui tentang rencana kepergian Luhan ke Cina sejak tadi malam. Menjadi keponakan Lee Donghae dan tinggal satu atap dengan pengacara terkenal itu membuatnya sedikit banyak mengetahui kasus-kasus yang sedang dihadapi pamannya, termasuk masalah perceraian orangtua Luhan. Karena Paman Donghae-nya itu bukanlah orang yang pendiam seperti kelihatannya, setiap makan malam pria tampan itu pasti akan mengoceh panjang lebar pada keponakannya.
Menjadi pengacara tentu memaksanya hidup di bawah tekanan dan merahasiakan kasusnya di hadapan publik, namun di hadapan keponakan kesayangannya dia tetaplah Lee Donghae yang cerewet. Sehun sudah ibarat diary berjalan bagi Donghae, ia sangat mempercayai Sehun karena ia tahu Sehun bukanlah tipe yang suka membual kesana kemari, malah terkadang Sehun akan membantunya meyelesaikan masalah. Sungguh hubungan paman dan keponakan yang manis.
"Hyung..."
"Hmmm?"
"Kau tahu, mungkin dance bukanlah satu-satunya hal yang aku sukai di dunia ini?"
"Lalu?" Luhan menoleh dan disambut mata elang Sehun yang menatapnya intens.
"Kurasa aku mulai menyukaimu."
Luhan tak menanggapi, tidak pula menunjukkan ekspresi apapun, mata pemuda menatap dua netra hitam Sehun, sesekali mengamati gerakan Sehun yang membasahi bibir dengan ujung lidahnya. Luhan tak menyadari saat Sehun kembali mengangkat payung biru yang tadi ia bawa, kembali menaungi keduanya dari matahari yang sudah mulai tinggi. Dengan gerakan sangat cepat Sehun sudah menempelkan bibir tipisnya yang mempesona itu di bibir tipis yang lainnya, membuat Luhan membelalakkan matanya. Tidak ada lumatan, tidak ada pertukaran saliva, dan tidak ada dua lidah yang saling membelit. Hanya kecupan manis untuk waktu yang cukup lama, di bawah naungan payung biru yang manyamai warna hamparan langit Tuhan di tengah hijaunya lapangan sepakbola.
.
.
.
Suho dan Kris hanya saling tatap, tak ada yang berbicara, hanya sesekali Siwon yang menghembuskan nafas jengah, sebelum akhirnya pria itu pergi meninggalkan sepasang mantan suami istri ini di ruang tengah. Siwonlah yang memaksa keduanya untuk duduk dan menyelesaikan pemasalahan ini. Sebagai kakak, Siwon tentu saja tak ingin perang dingin antara adik dan mantan adik iparnya ini berlarut-larut, bukan ia tak kesal pada Kris karena menyakiti adiknya begitu dalam. Tapi Siwon sadar siapa yang akan menjadi korban perang tanpa akhir ini, tiga keponakannya. Siwon adalah seorang ayah, ia juga orang tua, ia tak mungkin membiarkan anak-anak itu hidup di tengah orangtua yang saling membenci, ketiga putra mereka tak mungkin dipaksa memilih kepada siapa mereka akan berpihak.
Luhan, Baekhyun, dan Tao memang tinggal bersama Suho, dan kasih sayang ketiganya mungkin lebih berat kepada Suho. Tapi apakah Kris tak berhak diberi kesempatan, bukan Siwon tak tahu bahwa Kris juga menyayangi ketiga putranya, pria jangkung itu bukanlah pria yang acuh seperti kelihatannya, setidaknya sepanjang yang ia ingat sejak kelahiran Luhan tak sekalipun Kris melewatkan ulang tahun anak-anaknya. Siwon hanya ingin bahwa meski kedua orang tua mereka bercerai, Luhan, Baekhyun, dan Tao tetap mendapat kasih sayang yang sama sama seperti sebelum orang tua mereka bercerai.
"Joonmyeon-ah, aku minta maaf karena aku harus membawa Luhan ke Cina, tapi kau tahu bahwa Luhan yang memintanya sendiri, aku tidak memaksanya." Kris menatap Suho yang tak mengalihkan pandangannya dari jari-jari tangannya yang saling berpaut.
"Joonmyeon-ah..."
"Joonmyeon." Dengan suara sehalus mungkin Kris mencoba meraih tangan Suho.
Suho menjauhkan tangannya, menatap Kris tajam.
"Apa kau pikir Luhan mau ikut denganmu itu berarti bahwa ia benar-benar ingin? Kau tahu Yifan, Luhan punya mimpi, aku hanya tak ingin kau menjadikan Luhan sebagai robot pencetak uang di perusahaan yang selalu kau banggakan itu." Sejenak Suho menangkup wajah pucatnya dengan dua belah tangannya.
"Aku tak ingin anak-anakku menjadi sepertiku, terpuruk karena keegoisan orangtua, kau tahu itu Yifan."
"Kau pikir aku tak menginginkan hal yang sama?" Kris mengeratkan rahangnya, "aku juga tak ingin Luhan terperangkap dalam kehidupan yang sama sepertiku, menjalani hal yang sama sekali tak aku sukai, diberi tekanan oleh banyak pihak."
"Tapi kau tahu Joonmyeon, kita, kau, aku, Luhan, Baekhyun, dan Tao lahir di kehidupan yang seperti ini," Kris mengusap wajahnya kasar, "aku tak bisa melepas perusahaan yang dititipkan ayahku begitu saja, aku tak mungkin membiarkan ribuan karyawan ayahku berada di bawah kepemimpinan seorang diktator seperti Paman Li."
"Tapi kenapa harus di Cina Yifan, tak bisakah Luhan membantumu dari Korea saja?" Suho menatap Kris dengan tatapan memohon.
Kris hanya menggeleng pelan. Suho kembali menangkup wajahnya dalam dua telapak tangannya, bahunya bergetar. Suho pasti sedang menangis sekarang, ia tahu ini berat bagi wanita ini. Selama hidup bersama dengan Suho, Kris tak pernah melihat mantan istrinya berada dalam kondisi yang seperti ini. Kris tahu ini semua salahnya, meninggalkan keluarganya tanpa kabar, mengajukan cerai, berselingkuh dengan cinta pertamanya, hingga meminta Luhan untuk ikut ke Cina bersamanya. Semua kejadian pahit itu terjadi berurutan dalam jangka waktu yang singkat, siapa yang kuat menanggung beban seberat ini seorang diri. Kalau ada orang yang berhak dikutuk, maka Kris lah orangnya.
Suho tak tahu kenapa ia bisa menjadi secengeng ini, bukan seperti ia akan berpisah selamanya dengan Luhan kan. Tapi tentu saja sulit bagi ibu tiga anak ini melepas putra sulungnya, karena selama ini tak pernah sekalipun ia terpisah jauh dari putra-putranya untuk waktu yang lama. Hatinya sakit, karena Luhan yang akan pergi meninggalkannya, karena Kris yang memenangkan Luhan, karena ia akan mengurus dua anaknya seorang diri, hatinya sakit karena seberapapun Kris telah menyakitinya masih ada saja rasa cinta yang tertinggal untuk pria itu.
Dengan gerakan pelan Kris mendudukkan tubuhnya di samping Suho, mengusap pelan punggung sempit wanita itu. Merengkuh tubuh rapuh itu dalam pelukannya, mencoba menenangkannya. Suho tak menolak, Kris semakin mengeratkan pelukannya, membisikkan kata-kata penenang. 'Luhan akan baik-baik saja', 'Ia akan pulang jika ada waktu'.
Mungkin Kris tak mencintai Suho seperti cintanya pada Yixing, tapi bukan berarti hatinya tak pernah bergetar setiap kali melihat wajah Suho. Wanita dalam pelukannya ini bukanlah tipe yang sulit untuk dicintai, dengan wajah menawan dihiasi senyuman manis dan sikap yang keibuan siapa yang tak akan jatuh ke dalam pelukan malaikat ini. Jika saja Kris tak lagi terjerat oleh masa lalu mungkin ia akan bertekuk lutut mencintai Suho.
Suara derap langkah kaki menyadarkan Kris, saat ia menoleh didapatinya Luhan yang sedang berdiri kaku, hal baru baginya melihat orangtuanya berpelukan sejak mereka bercerai.
"Eo Luhan? Naiklah, ganti pakaianmu, setelah itu panggil Baekhyun dan Tao dan ajak mereka makan malam." Kris tersenyum tipis.
"Baik." Setelahnya Luhan berjalan ke lantai dua, meninggalkan orangtuanya.
Cukup lama Kris menenangkan Suho, sebelum akhirnya mereka beringsut menuju meja makan untuk makan malam. Semua terasa tenang hingga Tao merengek untuk duduk di pangkuan ayahnya, dengan senang hati Kris menuruti keinginan si Bungsu, selain karena Tao sangat manja dengan ayahnya juga karena rasanya sudah lama sejak ia makan malam dengan bocah manja yang satu itu.
"Appa, Tao tak suka wortelnya." Tao memajukan bibirnya lucu.
"Hei, anak Appa kenapa tak suka wortel? Ayolah Tao, ini baik untuk mata."
Tao hanya menggeleng sembari menggoyang-goyangkan kakinya saat ayahnya menyodorkan wortel tepat di depan bibirnya.
"Baiklah baiklah." Kris mengalah, menjepit daging dengan sumpitnya dan menyuapkan ke mulut Tao.
Suho hanya tersenyum tipis melihat bagaimana kelakukan si manja yang keras kepala itu, lalu kembali menunduk sambil mengaduk –aduk makanannya, ia sedang tidak berselera makan, saat ini terlalu banyak yang mengganggu pikirannya. Suho mendongak kembali saat mendengar Siwon berdehem pelan.
"Jadi kapan kalian akan berangkat ke Cina Yifan?" Siwon meletakkan sumpitnya di sisi meja, menatap Kris.
Mendengar pertanyaan tersebut, semua orang menghentikkan aktivitas mereka, seolah dihentikan oleh waktu mereka termangu, sesekali berganti pandang antara Kris dan Siwon. Kris yang merasa ditatap intens meneguk liurnya pelan, menyisihkan sumpit yang sedang ia pegang.
"Besok, penerbangan pukul 12.00 siang."
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"
"Sudah Hyung, tiket keberangkatan, kepindahan sekolah Luhan, paspor, visa, semuanya sudah siap."
"Baiklah." Siwon mengatupkan dua telapak tangannya, "Luhan? Bagaimana denganmu, kau siap"
Luhan hanya menunduk memperhatikan mangkuk nasinya yang tersisa setengah, tak menanggapi pertanyaan pamannya.
"Luhan?" Kembali tak menjawab, Luhan seperti tidak disana, pikirannya melayang entah kemana.
"Luhan?" Kali ini Baekhyun terpaksa menyentuh pelan lengan Luhan menyadarkannya, Luhan tersentak saat semua mata sedang menatapnya.
"Y-ya?"
Siwon menggelang pelan "Apa kau siap Lu?"
"Ya, aku siap."
"Apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu?"
Luhan tak segera menjawab, ia perhatikan dulu wajah sang ibu yang duduk berseberangan dengannya, ibunya tersenyum tipis, ada guratan kesedihan dan rasa kecewa di wajah cantik itu, tapi senyuman keikhlasan itupun tak luput dari pandangannya. Ibunya mengangguk pelan, Luhan yakin, Eomma-nya menghargai setiap keputusan yang ia buat.
Dalam satu tarikan nafas Luhan mengangguk, "Aku yakin."
Siwon tersenyum tipis, mengangguk pelan pada Luhan, sebelum akhirnya matanya menjelajah isi ruangan memandangi wajah-wajah anggota keluarga adiknya itu, Baekhyun, Suho, Tao, dan mantan adik iparnya Kris. Ada raut-raut kekecewaan disana, Siwon hanya menghela nafas pelan. Sedikit banyak ia mengutuki sikap Kris yang seolah tak peduli dengan kebahagiaan anak-anaknya, tapi Siwon sadar di dunia seperti apa mereka hidup. Dunia bisnis bukanlah dunia yang penuh kasih sayang, dunia ini memaksamu mengesampingkan keegoisanmu, membuat uang, kedudukan, dan kekuasaan menjadi tuanmu. Dunia ini sangat kejam, sekali kau menunjukkan kelemahanmu kau akan hancur terinjak-injak.
Tentu saja Siwon tahu bagaimana kerasnya dunia binis, karena bagaimanapun juga ia hidup di dunia yang sama. Jika saja Luhan tidak dengan sukarela ikut ayahnya ke Cina, Siwon masih bisa membantu membuat Suho memenangkan hak asuh atas tiga putranya, namun apa yang bisa lakukan jika Luhan sendiri yang memintanya, terlebih lagi Luhan sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusannya sendiri.
"Appa..."
"Wae?"
"Apakah Luhan Hyung dan Appa harus pergi ke Cina?" Tao menatap ayahnya penuh harap, "tak bisakah Appa dan Luhan Hyung tetap di sini saja bersama Eomma, Baekhyun Hyung, dan Tao?"
Kris menggeleng pelan, "Tak bisa sayang, Luhan Hyung akan membantu Appa di Cina."
"Apakah lama Appa?"
"Appa masih belum tahu sayang."
Tao memajukan bibirnya, matanya sudah berkaca-kaca, "Kalau begitu Tao akan ikut bersama Appa dan Luhan Hyung, tak bisakah?"
Sang ayah hanya tersenyum tipis, menghapus titik air mata yang sudah jatuh di pipi gembul Tao. Kris mengusap pelan rambut halus Tao, mengamati wajah si bungsu yang menggemaskan.
"Jika Tao ikut bersama Appa dan Luhan Hyung, lalu siapa yang akan menjaga Eomma dan Baekhyun Hyung hmm?" Tao kembali memajukan bibirnya, ia menghembuskan nafas kekecewaan.
"Berjanjilah pada Appa, Tao akan menjaga Eomma dan Baekhyun Hyung selama Appa dan Luhan Hyung ada di Cina, bisakah Tao berjanji pada Appa?" Kris menyodorkan kelingkingnya, disambut kelingking mungil lainnya dan anggukan kecil Tao.
"Tao berjanji akan menjaga Eomma dan Baekhyun Hyung, Tao juga tak akan membuat Eomma sedih lagi," Tao mengalihkan pandangannya pada sang ibu yang duduk bersebelahan dengan ayahnya, "Tao sering melihat Eomma menangis sekarang, Tao tidak suka saat Eomma menangis, Eomma tidak cantik lagi jika menangis, Eomma uljimayo."
Suho hanya mengangguk, meyakinkan si Bungsu. Tapi bagaimanapun juga kelenjar air matanya kembali tak bisa diajak bekerja sama, matanya memanas, dan mendung air mata seketika berubah menjadi hujan, mengalir melewati pipi pucatnya. Isakan hampir saja lolos begitu saja dari bibirnya, Suho sudah tak kuasa menahan isakan berbalur air mata yang semenjak tadi ia tahan, dengan tergesa meninggalkan meja makan menuju kamarnya di lantai dua.
"Eoh, apa Tao membuat Eomma menangis?" Tao menatap kepergian ibunya bingung.
"Tidak Tao, mungkin Eomma hanya sedih karena besok Luhan Hyung akan pergi ke Cina bersama Appa." Kris kembali mengusak punggung mungil Tao.
"Begitukah?" Tao meletakkan kepalanya di dada bidang sang ayah, mengeratkan pelukannya dan mencari kenyamanan dalam pelukan hangat ayahnnya. Tak berselang lama Tao benar-benar memejamkan matanya, menjelajah ke alam mimpi, membuat Kris dengan susah payah membawa si Bungsu yang manja ini ke kamar tidurnya.
.
.
.
Jika Tao tidur dalam pelukan ayahnya di atas tempat tidur berbalut selimut transformer miliknya. Maka Luhan dan Baekhyun tidur di kamar ibunya, setelah membereskan sisa makan malam, keduanya menyelinap ke atas tempat tidur ibunya, berbaring di kedua sisi tempat tidur, mengapit sang Eomma.
Tentu saja Suho menghapus jejak air matanya, tak mungkin ia terus-terusan menunjukkan air mata di depan dua anaknya ini. Malam itu mereka bercerita banyak hal, mengenang kenangan masa lalu tentang bagaimana nakalnya Luhan dulu sewaktu dalam kandungan, tentang Baekhyun yang tak berhenti mengompol hingga menginjak taman kanak-kanak yang disambut rajukan manja dari Baekhyun dan kekehan geli Luhan.
Malam itu tak ada air mata, ketiganya hanya tertawa dan tersenyum entah itu karena cerita lucu dari masa kecil Luhan dan Baekhyun atau tentang cerita kepolosan Tao kecil yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Cerita 'penghantar tidur' itu terus berlanjut hingga pukul dua pagi sebelum akhirnya terdengar rintihan lucu seperti anak anjing yang terbuang dari bibir Baekhyun. Mengundang kekehan geli dari Suho dan Luhan, kebiasaan tidur Baekhyun itu tak pernah gagal membuat siapapun yang mendengarnya tertawa gemas.
"Han..."
Luhan menoleh, jarang sekali ibunya memanggil dengan panggilan itu, saat ibunya menggunakan panggilan tersebut berarti ibunya akan membuatnya berjanji.
"Waeyo Eomma?"
"Berjanjilah pada Eomma, kau akan melakukan apa yang telah kau pilih ini dengan sepenuh hati, jika kau memang memilih untuk membantu Appamu, maka bantulah ia sekuat yang kau bisa, biar bagaimanapun juga kau adalah harapannya, dan saat kau sudah mengambil keputusan maka kau harus berjalan di jalan yang kau pilih, jangan menyerah karena kau sudah tahu konsekuensi apa yang akan kau hadapi."
"Baiklah Eomma."
Suho tersenyum tipis, lalu mengusap pelan rambut Luhan.
"Berjanji juga pada Eomma, kau akan kembali jika ada waktu. Eomma dan adik-adikmu pasti akan merindukanmu sayang."
"Tentu saja, aku bahkan sudah merindukan kalian."
Malam itu Luhan tertidur dalam belaian hangat sang ibu, sudah lama sejak terakhir kali ia merasakan belaian lembut wanita cantik ini. Luhan bukanlah tipe yang manja seperti Baekhyun dan Tao, ia terbiasa melakukan apapun sendiri sejak Eommanya melahirkan Baekhyun. Sikap Baekhyun yang manja dan perajuk membuatnya mengurungkan niat untuk kembali bermanja-mana peada orangtuanya, karena tentu saja akan sangat sulit mengurusi tiga anak manja sekaligus.
.
.
.
Hari ini adalah hari keberangkatan Luhan dan Kris ke Cina, sejak pagi Baekhyun dan Tao terus saja menempel pada si Sulung bahkan menolak untuk berangkat ke sekolah. Membuat Suho terpaksa harus menelepon wali kelas dua anak nakal itu, Suho juga harus izin dari Taman Kanak Kanak tempatnya mengajar karena, yeah siapa yang akan melewatkan hari terakhir dengan anaknya, sebelum keberangkatan Luhan ke Cina dan tak tahu kapan akan kembali.
Tawa terus mengalir dari bibir tiga anak dalam kamar Luhan, Baekhyun dan Tao sedang membantu kakaknya menyusun barang-barang yang akan dibawanya. Tao bahkan bersorak girang saat tak sengaja menemukan album photo Luhan kecil di salah satu laci meja. Belum selesai merapikan barang-barang yak akan dibawa Luhan, ketiganya malah sibuk berkomentar tentang Luhan kecil membuat wajah si empunya photo memerah malu.
"Lihatlah wajah Hyung jelek sekali saat menangis." Baekhyun.
"Whooa Lu Hyung sangat cantik, aku akan menyukai Hyung jika aku lahir lebih awal." Tao saat melihat photo Luhan memakai gaun mungil berwarna merah muda, tolong jelaskan dari mana si bungsu ini belajar berbicara sesuatu tentang menyukai, does puberty hit Tao this fast?
"Astaga Hyung kau telanjang saat berenang?" Baekhyun.
Luhan menarik paksa album photo tersebut, menyembunyikan tepat di belakang tubuhnya, setelah sebelumnya menjitak pelan kepala Baekhyun.
"Ya ya ya ya! Berhenti mempermalukanku."
"Lu Hyung, ayolah sebentar lagi saja." Tao merengek, menarik narik kemeja Luhan.
"Hyung." Baekhyun
"Tidak."
"Lu Hyuuung~." Tao.
"Tidak."
"Hyung~." Baekhyun.
"Tidak."
Dan ketiganya berakhir di atas tempat tidur Luhan, memperebutkan album photo yang dianggap 'aib' oleh pemiliknya. Hari ini mereka berjanji tidak akan ada air mata, hanya akan ada senyuman bahagia.
Tapi rencana hanyalah rencana, semua tidak berjalan seperti semestinya saat Luhan berdiri di pintu keberangkatan, Baekhyun dan Tao mulai meneteskan air matanya, mebuat hati Luhan terasa begitu berat untuk meninggalkan Korea. Terlebih lagi melihat ibunya sudah banjir air mata.
Entah setan apa yang merasuki Suho, ia jadi teramat sangat cengeng, ia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak akan lagi menangis di depan Luhan saat keberangkatannya. Meskipun adalah hal yang wajar jika ia menteskan air mata, karena well siapa yang tak sedih jika berada di posisi yang sama seperti Suho, tapi yah Suho tetaplah Suho, selalu merasa kesal jika melanggar janji yang ia buat sendiri.
Dengan bibir bergetar Suho mengusap pelan wajah si Sulung, memperhatikan setiap lekuk wajah putranya itu takut jika suatu saat mungkin ia akan melupakan wajah manis yang selama ini selalu menghiasi hari-hari mereka.
"Jagalah dirimu baik-baik Lu, jangan sakit, istirahat teratur dan makan yang cukup." Suho tersenyum tipis, air mata masih terus mengalir dari dua matanya, ia menggigit bibir bawahnya kuat menghindari isakan yang mungkin saja lolos.
Luhan mengangguk, lalu memeluk ibunya, "Ne Eomma." Untuk beberapa saat keduanya masih berada di posisi yang sama, membiarkan kemeja Luhan basah oleh air mata ibunya. Air mata Luhan juga ikut menetes, mengalir membasahi pipi.
Setelah melepas pelukan dari ibunya, Luhan berjongkok di depan Tao, memeluk adik kecilnya yang sudah banjir air mata.
"H-Hyung berjanjilah, ak-akan selalu menghubungi T-Tao."
"Hyung janji Tao."
"Berjanjilah juga padaku Hyung." Baekhyun ikut memeluk adik dan kakaknya itu, air mata tak kalah membajiri pipi chubby-nya yang selalu ia banggakan.
"Heum, Hyung janji." Luhan mengangguk pelan dalam pelukan dua adiknya.
"L-Lu Hyung bawalah Baby bersamamu." Tao menyerahkan boneka kesayangannya itu kepada Luhan setelah pelukan ketiganya terlepas.
"Kenapa Tao? Tao tidak menyukainya lagi?" Luhan bingung, tapi tetap menerima boneka tersebut.
"Tao akan meminjamkan Baby untuk menjaga Hyung, jadi Hyung harus membawa Baby kembali secepatnya karena Tao tidak meminjamkan Baby untuk waktu yang lama." Luhan hanya tersenyum mendengar jawaban Tao.
Setelah memeluk Baekhyun dan Tao, dan mengucapkan salam perpisahan pada Siwon dan Suho, Kris merangkul Luhan berjalan menuju pintu pintu keberangkatan karena sepuluh menit lagi pesawat mereka akan lepas landas. Dengan langkah berat Luhan berjalan melewati petugas bandara setelah sebelumnya ia melambaikan boneka 'pinjaman' Tao dan memberikan senyuman terbaiknya.
Setelah punggung Luhan dan Kris menghilang di balik pintu kaca, Suho menangis terisak, mebuat Siwon merengkuh tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung yang belakang ini menjadi semakin rapuh, membisikkan kata-kata penenang sebisanya. Suho menggigit bibirnya, apa ini? Bahkan ia sudah merindukan Luhan.
.
.
.
Kris sedang membolak-balikkan majalah Time saat pesawat yang mereka tumpangi lepas landas dari bandara Incheon menuju Beijing. Kris tak begitu menghiraukan para pramugari yang sedang memperagakan bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat keadaan darurat, karena yeah Kris bahkan dapat mengulang setiap kata-kata dan gerakan yang sedang mereka peragakan secara bersamaan.
Begitu seriusnya menekuni setiap baris artikel dari majalah yang ia baca, Kris bahkan tak terganggu oleh suara tangisan anak kecil yang sepertinya baru pertama kali terbang, wanita tua yang menggerutu memarahi pramugari, dan para pramugari yang hilir mudik. Ia baru tersadar saat Luhan yang berada di sisi kirinya bergerak gelisah, ia menoleh dan terkejut saat mendapati Luhan yang dibanjiri keringat dan tengah menggenggam erat pegangan kursi.
"Luhan apa yang ter- Astaga!"
.
.
.
To Be Continued...
.
.
Yo...
It's been a long time right? How are you guys doing?
Maaf banget gak update selama beberapa bulan terakhir, ada beberapa alasan pertama hardisk laptop saya sempet rusak dan semua datanya hilang termasuk draft ff yang udah saya bikin, terpaksa harus ulang ngetik lagi. Dan juga, semester lalu saya sibuk terus, tugas tiap hari, baru sempet ngetik ff lagi setelah UAS, jadi maaf aja kalo tulisan saya agak aneh, masih kobam UAS soalnya. Lol
What do you think guys about this chapter? Lol ada Hunhan tadi, apa apaan ini /apa banget dah lu Hun, cium cium anak orang sembarangan/ anggap aja author satu ini lagi rindu sama hunhan. Am I the only one who miss Hunhan here? Huhuhu...
Buat kalian yang nungguin ff ini saya ucapin thank you banget, yang udah review, follow, sama favorite terima kasih banyak.
Okay, untuk chapter selanjutnya, saya usahain update secepatnya, saya gak bisa janji, tapi saja usahain.
Dan yang terakhir maaf atas kesalahan dalam penulisan.
Don't forget to leave your review below ^^
EXO WE ARE ONE!
EXO SARANGHAJA!
.
.
