SOTUS The Series – GMM TV Ltd / BitterSweet
BTS – Big Hit Entertainment
GOT7 | Seventeen | BAP | EXO – Respective Agencies
Penulis tidak mengklaim apapun selain penulisan kalimat dalam bahasa Indonesia dan perubahan seperlunya.
.
.
.
Berjalan tergesa-gesa, Namjoon memanggul ranselnya menaiki tangga meski resleting saku depan terbuka lebar dan sejumlah rekan yang berpapasan sudah mengingatkan supaya menutupnya lebih dulu. Kilasan adegan yang tak sengaja dilihatnya di aula membuat rencana makan siang hari ini berantakan, termasuk Mingyu dan Wonwoo yang ditinggalkannya di koridor menuju kantin. Mustahil melupakan bagaimana senior Yongguk mengevaluasi para angkatan tahun ketiga—terutama panitia kedisiplinan dengan rentetan ceramah serta kritik bertubi-tubi. Menyinggung tentang mahasiswa yang cedera, hukuman yang terlalu mengada-ada, tudingan berdasar emosi, maupun masalah aksi mogok Jungkook, walau yang bersangkutan sudah kembali mengikuti kegiatan setelah empat hari bertapa di lapangan. Bertindak adil, mantan ketua kegiatan orientasi itu meminta seluruh anggota tim melakukan hal serupa dengan apa yang pernah dititahkan tim kedisiplinan sebagai penataran fisik pada adik-adik angkatan mereka. Puluhan kali squat, push-up, dan puncaknya terjadi saat senior Yongguk menyuruh Seokjin mengerjakan terapi ketahanan yang sama persis dengan teguran untuk Namjoon tempo hari. Berlari lima puluh putaran mengelilingi lapangan.
Tadinya Namjoon hendak menyusul Seokjin yang langsung melepas jasnya di depan selusur anak tangga menuju pintu samping fakultas, tapi mencoba menghentikan seniornya pun bukan sikap yang pantas dan pendapat Namjoon pasti akan ditentang oleh anggota pengawas lainnya. Ini di luar masalah gengsi, hanya sebuah bukti bahwa Seokjin sanggup mengerjakan perintah yang keluar dari mulutnya dan bukan semata-mata memberikan hukuman yang mustahil dijalankan demi pelampiasan amarah. Pemuda itu memiliki kemauan kuat dan mental baja, konyol bila Namjoon langsung melesat menghampiri dan berpidato panjang lebar. Yang bisa dilakukannya adalah menemui senior Yongguk dan meminta pria tersebut mengurungkan, atau paling tidak, mengurangi jumlah putaran yang harus dilunasi. Namjoon tak bisa membiarkan Seokjin menguras tenaga di luar sana, apalagi langit tengah redup dan mendung menggelayut hebat. Baru kemarin sore dia bisa berkomunikasi tanpa adu mulut dengan sang senior dan Namjoon tak ingin situasinya kembali memburuk.
"Mereka sudah pulang sepuluh menit lalu," Yoongi yang tanpa diduga berada di depan pintu kantor bagian kemahasiswaan, menyampaikan berita mengecewakan tersebut tanpa ekspresi. Sisi kepala Jimin menyembul ragu-ragu dari belakang bahu pemuda itu, "Tak perlu bertanya kenapa aku bisa tahu apa yang akan kau lakukan. "
Terdiam sejenak, Namjoon mendelik ke sosok bulat di punggung Yoongi, "Jimin-ah."
"Aku cuma kuatir hyung akan bersitegang dengan alumnus! Begitu memergoki senior Seokjin memulai putaran pertama, aku sudah yakin hyung akan berusaha menghentikan tindakan ini dengan cara apapun. Jadi..."
"Jadi kau segera memanggil Yoongi-hyung karena tak bisa menasehatiku sendirian?" desah Namjoon sembari membetulkan letak ransel yang melorot dari bahu. Sorot dingin Yoongi menanggapi protesnya dengan tak bersemangat, "Aku tak berniat cari ribut. Urusan antar senior atau bukan, tetap tak pantas rasanya menyuruh Jin-hyung menanggung semuanya. Dia memberi pelajaran karena aku terus-terusan memulai argumen dengan panitia dan mempermalukannya di depan banyak orang."
Jin-hyung? seloroh Yoongi dalam hati, menggelengkan kepalanya pasrah.
"Biarkan."
"Hyung, ini tidak pa..."
"Biarkan dia menyelesaikan tugasnya, Namjoon-ah," ujar Yoongi tegas, "Dinginkan kepalamu dan menjauhlah dari para senior untuk sementara. Kita semua tahu seperti apa sifat Kim Seokjin. Kau hanya akan makin membuatnya malu jika sampai ketahuan memohon pengurangan hukuman."
Memandang kedua rekannya bergantian, Namjoon membuang muka gusar. Satu bagian dari benaknya membenarkan pendapat lugas Yoongi yang selalu rasional, namun bagian lain bersikukuh jika dia tetap tak menyetujui keputusan tersebut. Namjoon sadar perilakunya kerap terlihat bagai anak kecil yang gemar memberontak dan membantah orang dewasa dengan segala pertimbangan mereka. Namjoon sadar egoisme menguasai lebih dari separuh kepribadiannya dan dia enggan mengubah pola pikirnya hanya untuk memaklumi kondisi yang tak sesuai hati nurani.
Tanpa berucap banyak, kakinya berputar menuju pintu keluar dan pergi ke arah berlawanan. Kening Yoongi mengrenyit walau tak berniat menyusul, dibiarkannya Jimin menatap suram punggung idola kampus itu dari lorong serta memilih menghindar perlahan sembari menyesap sedotan kopinya senyap. Derap-derap pendek Jimin membuntuti setengah terburu seraya menyerukan nama Yoongi agar tak berjalan terlalu cepat.
"Aku ingin tidur di kelas."
"Aku juga mau kembali," ucap Jimin polos, mata minimalisnya bergerak ke kiri dan kanan bak kebingungan, sesekali melirik Yoongi takut-takut. Tali ranselnya dipegang erat lalu sedikit demi sedikit menjajari Yoongi yang sama sekali menolak bereaksi meski disapa oleh sejumlah mahasiswa.
"Hyung."
"Ng?"
"Apa Namjoon-hyung sedang menyukai seseorang?"
Hampir membatalkan tungkainya untuk tetap melaju, Yoongi mengalihkan pandangan sekilas pada Jimin yang menunduk meremas tali penuh dilema, seperti berniat melanjutkan pertanyaan tapi terganjal di tenggorokan. Tengkuknya merona.
"Entahlah, aku tak pernah berminat mencampuri urusan asmara orang lain," Yoongi berkedik sewajarnya, daun telinga berderik penasaran menyikapi perubahan gestur pemuda itu, "Kenapa? Kau menyukai Namjoon?"
Bahu Jimin tampak berkedut begitu disodori tuduhan. Mulutnya seketika terkatup, kepalanya tak menggeleng maupun mengangguk. Yoongi menangkap isyarat tersebut sebagai jawaban tersirat untuk tak menggali informasi lebih jauh dan beralih menghitung jumlah edaran yang dilekatkan di sisi dinding fakultas. Tentang jadwal perkuliahan, poster malam keakraban, promosi klub, pengumuman beasiswa, apa saja.
Mendadak kopi pahitnya terasa lebih pahit dari biasa.
.
.
"Lihat itu!" telunjuk Bambam menuding-nuding kesetanan ke arah pemandangan yang sejak siang tadi membuatnya ngilu walau hanya menyaksikan dari tribun lapangan. Lengan kanannya terus menggenggam pergelangan tangan Namjoon yang berhasil diseret keluar dari asrama setelah gagal berunding dengan senior Yongguk melalui sambungan telepon. Satu payung besar di lengan lainnya menaungi kepala mereka di tengah sejumlah mahasiswa yang turut menyaksikan dari tempat serupa, "Dia masih berlari tanpa jeda. Minum pun tidak. Mingyu bilang sisa putarannya tinggal tiga, tapi senior Seokjin bolak-balik terjatuh karena lintasannya licin."
Yang disebut mendongak dari tingkat dua tribun, tampak lega melihat Namjoon berada di situ. Wonwoo berdiri di dekat Jungkook yang menyumpah-nyumpah tiap mendengar gemuruh mengudara. Hujan turun lebat membuat langit menghitam meski jam digitalnya menunjukkan angka setengah lima. Tak menghiraukan derasnya kucuran air, Namjoon menyelinap dari bawah payung Bambam seraya berseru agar suaranya tak tenggelam di tengah keramaian, "JIN-HYUNG!"
Pemuda itu terhuyung-huyung di putaran keempat puluh delapan, Namjoon mengerang sebal, mengabaikan pundaknya yang mulai basah. Tanggap, Wonwoo bergegas menyodorkan payung yang dipegang dan beringsut masuk ke bawah payung milik Mingyu, "Ini, hyung. Awas terpeleset."
Tak mau berbasa-basi, Namjoon menyambar tawarannya seraya berhati-hati menuruni anak tangga. Kaki panjangnya melesat mengejar laju Seokjin yang makin melambat, bunyi alas sepatunya berkecipak menapaki lintasan dengan tenaga penuh berkat kekesalan yang menumpuk. Hanya butuh sepuluh detik untuk menyamakan temponya di sebelah Seokjin yang kuyup tanpa perlindungan. Kaus beserta celananya melekat menyulitkan gerakan, pun pemuda itu tak memberi tanda menyerah selagi juniornya meracau khawatir.
"Hyung. Berhenti!"
Tak ada respon. Seokjin terus mengayunkan kaki.
"Hyung, tolong berhenti!" Namjoon mengacungkan payung di atas kepala seniornya, tak tega, "Kau tak perlu melakukan ini! Jungkook sudah bersedia mengikuti acara! Rekanku juga sudah pulih. Hyung! Dengar..."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Seokjin merutuk di sela-sela tarikan napas, ujung jari-jarinya mengeriput akibat hawa dingin, "Pergilah!"
"Kau sudah berlari berjam-jam, hyung. Kakimu bisa cedera!"
"Bukan urusanmu!"
Meniti setapak demi setapak dengan susah payah, Seokjin berusaha melewati Namjoon yang belum juga menjauh dari sampingnya. Lengan teracung mantap memegangi gagang, kaki mengiringi perlahan mengimbangi lutut seniornya yang gemetar. Dada Seokjin naik turun terengah. Kram, nyeri, ditambah pelipis berdenyut bercampur menjadi satu dan membuat kepalanya tak sanggup mencerna keadaan. Sosok Namjoon tampak samar-samar bagai bayangan kabur, namun logat bicara pahlawan kesiangan itu masih terekam jelas di telinganya yang mulai berdenging.
"Hyung, kumohon..."
"Tutup mulutmu! Minggir!"
Berdecak, Namjoon tak patah arang, "Kalau begitu, aku akan menemanimu berlari."
"JANGAN BERTINGKAH!" raung Seokjin menggelegar, ditepisnya kasar pergelangan tangan Namjoon hingga payung di atas kepala mereka tumbang terbalik ke tanah. Sepasang mata besarnya memelototi raut cemas itu dengan amarah mendidih, "Aku muak dengan semua aksi heroikmu, 0082! Sudah kubilang jangan selalu menjejalkan dirimu pada segala hal! Belajarlah untuk menahan diri dan memperhatikan dalam diam! Ini tak ada hubungannya denganmu atau Jeon Jungkook. Kalau kau ingin membantu, bawa teman-temanmu ke asrama dan enyahlah dari sini!" pekik Seokjin, menyibak anak rambut sembari mengusap-usapkan telapak tangan ke bagian muka dan kelopak mata. Sangat sukar melihat jelas dengan kondisinya sekarang.
"PERGI KATAKU!"
Namjoon menggeleng cepat, "Hanya jika hyung mau berhen...ARGH!"
Berniat melontarkan alasan, sebentuk lengan tiba-tiba mencengkeram bahunya, menarik kuat dan spontan membuat Namjoon terjengkang ke belakang. Nyaris terjerembab jika tak segera diterima oleh Jungkook yang sigap melompati pagar tribun sejak instingnya menangkap aroma tak beres dari kedatangan para anggota tim pengawas di seberang lapangan. Menengadah, dahinya tertekuk tujuh melihat bagaimana Taehyung melipat tangan jumawa dari balik tudung jas hujan. Alis tebal menyatu garang. Si bandana brengsek, berani sekali mendorong Namjoon di depan matanya.
"Jangan mengganggunya lagi atau kau benar-benar akan mendapat masalah," tukas Hoseok, terpelatuk. Beberapa kali dia masih memaklumi sikap adik angkatannya yang kerap memancing topik sensitif, tapi jika sudah memasuki ranah khusus antar alumni dan panitia, Namjoon benar-benar perlu disingkirkan dari jangkauan agar roda beban tanggung jawab mereka tidak terus berputar.
"Biarkan Seokjin menyelesaikan tugasnya, Namjoon," Chanyeol menimpali, lengan melingkar memapah rekannya yang terbatuk kehabisan tenaga, menyisakan satu keliling terakhir. Tepi-tepi jas hujannya diremas Seokjin dari samping, hampir tak mampu menopang tubuh, "Tinggalkan tempat ini sebelum Taehyung mengamuk."
"Dan kalian berpikir aku tak sanggup melawan?" Jungkook mendelik geram, rambut hitamnya kini lembap terguyur. Sebelah tangan menggenggam erat gagang payung yang barusan diambil dari jalur lintasan, satu tangan lagi ditahan oleh Namjoon yang menghela napas panjang karena dikepung dari berbagai arah, "Namjoon-hyung hanya tidak mau melihat senior Seokjin menjalani tempaan fisik yang terlalu berat. Kenapa kalian sulit sekali menampung simpati? Apa juniormu dilarang membantu atau bahkan membela saat kalian diintimidasi?" cecarnya memuncak. Abaikan statusnya yang masih di bawah umur, toh dia memiliki hak serupa dengan mahasiswa-mahasiswa di sekitarnya yang selalu banyak bertitah.
"Kau dan pemikiran bocahmu yang masih labil itu perlu ditatar lebih jauh, 0031..." Taehyung menyela, bahu bidangnya berpaling menghadap Jungkook yang menatap penuh napsu membunuh, "Aku akan menghukum seluruh angkatan pertama jika kalian bersikeras tak mau pergi."
"Jangan memaksaku mencabut keputusan untuk kembali mengikuti pelatihan, senior," ancam Jungkook tak mau kalah, hidungnya disejajarkan dengan pucuk hidung Taehyung yang ikut berdecak sengit, rahangnya mengeras, "Dan jauhkan tanganmu dari Namjoon-hyung. Aku masuk ke fakultas ini bukan karena sukarela atau pilihan hati. Jadi sebaiknya kalian tak membuatku semakin ingin pindah dengan alasan hiperbolis."
Chanyeol dan Hoseok berpandangan selagi Seokjin meringis kelelahan, energinya tak cukup besar untuk menengahi dan menanggapi keributan tersebut. Maka sambil tertatih, lengannya meraih bahu Taehyung sebagai tumpuan lalu memandang Namjoon yang bergeming memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
"Pulanglah, 0082," tukas Seokjin. Pelan tertelan riuh hujan, namun masih memiliki ketegasan, "Lakukan sesuatu untukku. Pulanglah."
Terpaku meneliti binar lemah di mata seniornya, Namjoon berangsur kehilangan selera untuk mempertahankan ajakan. Seokjin yang tengah kepayahan, dikelilingi sahabat-sahabatnya yang terus mencoba mempertahankan harga diri pemuda itu, seolah menampar Namjoon dengan kenyataan bila dia bukanlah siapa-siapa. Di saat-saat seperti ini, Namjoon hanyalah orang asing yang ingin diikutkan pada berbagai macam konflik di sekitar Seokjin. Ingin mengurungkan pelanggaran yang terjadi di luar rencana dan menarik seniornya dari sana. Melindunginya dari guyuran hujan, membungkusnya erat dengan selimut tebal, serta menawarinya susu stroberi hangat agar Seokjin tak lagi menggigil dengan menyedihkan.
"Jungkook-ah," Namjoon menepuk bahu remaja tanggung yang masih beradu delikan sengit dengan Taehyung di sebelah, "Ayo pergi."
Mendengus sekali lagi, Jungkook akhirnya berbalik untuk mengekor Namjoon yang berjingkat gontai dari kumpulan manusia beralmamater di tengah lapangan. Payungnya digenggam tertutup, tak peduli meski Bambam berteriak-teriak menyuruh mereka menggunakan benda itu agar tak terkena flu.
Sudah kepalang basah, mandi saja sekalian.
"Keras kepala," geleng Hoseok, mengamati punggung-punggung yang meninggalkan lintasan dibarengi sejumlah anak tahun pertama dari arah tribun. Satu persatu. Dugaannya tak meleset. Meski telah menunjuk ketua kelas dan segala perangkatnya, bocah-bocah itu—termasuk Kim Mingyu, tetap terlihat bagai kawanan sekte yang dikendalikan oleh kalimat seorang Kim lainnya.
"Kukira akan ada sedikit pembenahan sikap begitu dipilih menjadi duta kampus, ternyata sifat arogannya sama sekali tak berubah," Chanyeol menimpali, mengeratkan pegangannya pada lengan atas Seokjin yang bersiap melakukan putaran penghabisan, "Ya kan, Taehyung-ah?"
Hening.
"Taehyung-ah?"
Yang dipanggil masih membisu memandang kejauhan, hanya kepalanya yang mengangguk perlahan dalam diam.
.
.
Masih hidup rupanya.
Seokjin menggeliat, mengira umurnya sudah tamat selesai menyaksikan mendiang buyutnya melambaikan tangan di hamparan rerumputan berhias bunga dinaungi langit biru yang berbau seperti surga. Mungkin menertawakan keadaannya yang kini terlihat amat konyol dan berantakan. Apa boleh buat. Berlari lima puluh putaran sudah lebih dari cukup untuk menyedot separuh nyawa, merontokkan tulang kaki, dan menghajar sendi-sendinya hingga harus rebah disangga tumpukan bantal. Buang air kecil pun harus berpegangan di kisi-kisi pintu, ditambah cengir remeh Taehyung yang bersila acuh di lantai, menghabiskan camilan dari lemari sambil mengotak-atik ponsel tanpa berniat membantu.
"Sebenarnya apa fungsimu kemari?"
"Menjagamu, hyung."
"Dengan cara menggigiti cumi kering dan bermain game?" cibir Seokjin dari atas tempat tidur, mengelus-elus perutnya beringas, "Aku lapar."
Lengan Taehyung terjulur ke atas, menyodorkan kantong cumi yang spontan ditendang kasar oleh Seokjin, "Makanan! Bukan camilan! Dan aku juga ingin susu stroberi! Pergilah ke kantin! Cepat!"
"Malas," kedik Taehyung enggan, masih memelototi layar ponselnya, serius, "Jarak kantin ke asrama kan jauh."
"Cuma jalan sedikit saja, astaga! Ada lift kalau kau tak mau naik turun tangga. Sana, sana!"
Mengerang cuek, Taehyung mematikan permainannya dan menegakkan tubuh sambil meraih jaket. Telapak tangannya bergerak-gerak di seberang ranjang, "Mana uangnya?"
"Pakai uangmu dulu, nanti kuganti."
"Kalau saja Hoseok-hyung tak mengancam akan membuang kameraku, sudah kudorong kau jatuh dari beranda, hyung," gerutu pemuda itu, melengos karena punggungnya ditimpuk buku bacaan,
Kantin tak pernah sepi di Minggu pagi, terutama di pusatnya yang beratap dan menyediakan bangku. Taehyung menyeret kaki ke kedai langganan Seokjin, memesan seporsi nasi tim ayam, buah potong, kimchi, serta segelas susu dingin. Khusus pesanan terakhir, ucapannya terlontar bersamaan dengan seseorang yang meminta es kopi, memaksa Taehyung menoleh heran dan menemukan bola mata seseorang menelitinya tepat di samping meja kasir. Mengenakan kaus lengan panjang berlapis kemeja, tampak santai walau tetap menguarkan aura tak mengenakkan.
"Untuk Jin-hyung?" tebak Namjoon, kalem. Taehyung menyepat sinis.
"Kau tak perlu tahu."
"Sejauh data yang bisa kukumpulkan, Kim Taehyung," Namjoon menarik napas panjang dan menghelanya diiringi senyum, "Kau bisa mengelabuhi para mahasiswa baru dengan mengatakan jika usiamu dua puluh satu tahun. Tapi tidak, kau memberi mereka jumlah sesuai tradisi Korea dan bukan usia sebenarnya. Mungkin malah berlebih satu atau dua, hanya karena tak ada yang berani bertanya dan cukup punya alasan untuk memastikan ke bagian administrasi."
Bagai tersambar petir, jakun Taehyung mendadak bergerak gugup. Matanya melipir ke sudut lain selagi Namjoon melanjutkan. Lebih lirih kali ini.
"Min Yoongi punya banyak kenalan dari perkumpulan basket dan beberapa dari mereka ada di antara tim nasional. Jangan meremehkannya," seloroh Namjoon, menggaruk dagu, "Mereka bilang ada mahasiswa yang mengikuti seleksi di usia enam belas tahun dan masih menjadi anggota hingga sekarang. Memiliki profesi sebagai atlet tentu memudahkanmu memperoleh beasiswa kan? Jadi aku mencoba mencari pembenaran ke petugas di ruang kemahasiswaan, meminta sedikit informasi soal biodata beberapa angkatan ketiga, dan..."
"Delapan belas," sambar Taehyung cepat, alis berkerut-kerut, "Aku ikut akselerasi di sekolah menengah. Sekarang katakan apa maumu."
"Sopan sekali."
Mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tak kelepasan meninju raut puas Namjoon yang kini menyeringai, Taehyung menyetarakan pandangannya dengan pemilik tubuh jangkung tersebut.
"Katakan apa maumu, hyung."
Memamerkan lesung pipi, pemuda di hadapannya menuding ke arah gelas plastik berisi susu warna merah muda yang hendak dibayar, sekaligus dengan paket makanan di meja kasir. Taehyung mengerti betul apa yang dimaksud oleh Namjoon, dan satu sisi benaknya sudah bersiap mengajukan keberatan disertai teguran atas perlakukan tak menyenangkan kepada panitia. Namun begitu melihat pakaian yang dikenakan mahasiswa berambut keperakan tersebut, Taehyung seolah diingatkan bila hari ini tak tercantum dalam jadwal pelatihan dan bagian kedisiplinan dilarang menggunakan haknya hingga esok hari.
Didorong pula oleh ponsel sial yang tiba-tiba bergetar di kantong celana, memaksa Taehyung menerima panggilan di tengah pergolakan batin tak berguna, "MENGGANGGU SA...oh, Chanyeol-hyung. Ada apa? Ng? Wakil dekan? Aku harus kesana?" dahi Taehyung tertekuk tujuh, "Sekarang? Ini hari Minggu lho? Aish!"
Menoleh untuk kedua kalinya, Taehyung mendapati alis Namjoon bergerak-gerak jumawa.
.
.
"LAMA SEKALI SIH! KAU BERTELUR DI KANTIN YA?" Seokjin berteriak sekerasnya dari tempat tidur, meredam gerumuh perut kosongnya dengan makian berang ketika mendengar ketukan langkah memasuki kamar, "Cepat siapkan piring dan bawa minumannya kesini!"
Tak sungkan meski bertindak arogan, Seokjin bersikukuh melanjutkan kegiatannya membaca komik superhero selagi menunggu rekannya menutup pintu, "Tak perlu dikunci. Hobi mau datang."
"Ah, begitu?"
Dikejutkan oleh suara familiar yang seharusnya tak ada di sana, Seokjin reflek menegakkan tubuh, matanya membulat horor kala memergoki sosok junior berkaki panjang tengah mengacungkan plastik makanan. Gigi-gigi putih berbaris rapi, menyilaukan.
"Selamat pagi, Jin-hyung."
"SEDANG APA KAU DI SINI?"
"Mengantar sarapan."
Menyampingkan jawaban yang jelas-jelas nyata, kepala Seokjin justru sibuk mencari makhluk beraut kosong yang sejatinya bertugas membawa belanjaan tersebut ke asrama, lalu tercengang saat melihat tak ada orang lain berdiri di dekat pintu, "Dimana..."
"Kim Taehyung? Maksudku, senior Taehyung?" Namjoon berucap tenang, sengaja menekan nada di ejaan 'senior' diiringi gelengan tak bersalah, "Ke kantor petinggi fakultas, mungkin? Kudengar seseorang meneleponnya waktu kami sama-sama membayar pesanan. Bagaimana keadaan kakimu, hyung? Sudah membaik?"
Congkak, Seokjin bergegas menurunkan kedua kakinya dari gundukan bantal dengan tangan terlipat di depan dada, hidung kembang-kempis, "Aku? Aku baik-baik saja! Sehat! Lima puluh putaran tak ada artinya!"
Kesombongan tak beralasan Seokjin sungguh terdengar lucu dan Namjoon menanggapinya dengan senyum terkembang lebar. Ditaruhnya kotak nasi di atas meja belajar dekat ranjang, menarik keluar bungkusan buah dan kimchi, lalu membawa gelas minuman yang agak berembun ke sisi betis seniornya. Iseng, dipencetnya jempol kaki pemuda itu keras-keras hingga Seokjin sontak mengaduh kencang. Urat lehernya mencuat hebat.
"BRENGSEK!"
"Masih sakit kan? Tak usah berlagak," ujar Namjoon sarkastis sambil mengulurkan minuman yang segera disambar Seokjin walau tetap berjengit. Diseretnya kursi dari celah meja, lalu bersandar mengamati pemilik atap menyesap susu dengan bersungut-sungut. Ujung-ujung rambut mencuat liar, wajah pucat akibat kurang istirahat, pipi membengkak tembam, mata sembab penuh kantuk, dan bibir mengilap bekas tetesan susu.
Merah.
Namjoon mengulum sedotannya, gamang. Urung melanjutkan tegukan es kopi karena terlalu serius memperhatikan. Entah mana yang lebih menerbitkan selera. Campuran susu dan stroberi, atau mulut itu sendiri. Toh Namjoon cukup betah bertahan dalam posisinya sampai sebuah sanggahan di sebelah membuyarkan apapun yang tengah melintas di benak pemuda itu.
"Apa kau akan menyuapiku atau membiarkan nasinya dingin?"
Bola mata Namjoon berbinar girang, "Hyung mau kusuapi?"
"Tentu saja tidak! Berikan kotaknya!"
Mendesah kecewa, Namjoon bangkit dari duduknya dan membantu sang senior menyiapkan petak makan memakai papan alas kertas sebagai pengganti nampan karena Seokjin tak mempunyai meja lipat. Gelas susu dijajar di samping nasi bersama kemasan sumpit kayu daur ulang yang nyaris dirobek jemari Namjoon, jika Seokjin tak keburu mencegah.
"Aku punya sumpit sendiri," telunjuknya ditudingkan pada laci meja sebagai isyarat agar anak tahun pertama itu membuka tuas benda yang dimaksud dan menarik keluar apa yang diminta Seokjin. Sebuah kotak persegi panjang berwarna gradasi putih ke merah muda, bergambar binatang berleher panjang dengan inisial Seokjin tertoreh di bagian depan. Namjoon tergelak pelan usai menyerahkan sepasang sumpit yang diambil dari dalamnya.
"Llama?"
"ALPAKA!" tegas Seokjin tersinggung, butiran nasi terlontar dari mulut, "Tidak lihat wujudnya lucu begitu?"
"Llama juga lucu."
Napas Seokjin berhembus keras, tak setuju, "Kalau tak ada keperluan lain, kau boleh keluar."
Bukan Namjoon namanya jika langsung menurut saat diperintah. Dan Seokjin cukup paham untuk tak membuang-buang tenaganya demi hal yang sia-sia. Masih mengunyah, matanya berpendar mengikuti kemana tungkai Namjoon beredar. Mulai dari melihat-lihat koleksi figurinnya (yang dijawab datar oleh Seokjin, "Iya, aku suka Mario. Kau mau apa?") berlanjut ke deretan literatur, lemari pakaian, membuka-buka lemari es, lalu berakhir terpaku di depan tumpukan baju kotor yang berjejal memadati keranjang di sudut mati antara batas dinding kamar mandi dan pintu beranda.
Seokjin sedang mengulum lauk ketika Namjoon tahu-tahu membungkuk dan meraup seluruh isi keranjang cucian keluar dari belokan. Sepasang matanya membelalak sempurna hingga spontan membanting sumpit dan berseru melengking, "KEMBALIKAN BAJU-BAJU ITU KE TEMPATNYA!"
"Terlalu lama menimbun pakaian bekas tak bagus untuk sirkulasi oksigen, hyung," Namjoon berujar, tak khawatir akan dilempar memakai apapun yang tengah digenggam Seokjin, "Jangan panik, aku cuma ingin membawanya ke laundry dekat asrama. Dengan kondisi kaki seperti sekarang, hyung pasti tak bisa mondar-mandir dengan bebas kan?"
Seokjin mengibas tangannya gusar, "Aku bisa minta tolong pada Hobi, atau siapapun. Taruh. Kubilang."
"Ayolah hyung, ijinkan aku membantu sedikit," desak Namjoon, melangkah perlahan-lahan di samping ranjang tempat Seokjin mengamatinya sambil memicing galak. Sumpit diapit antara telunjuk serta ibu jari, seolah siap dilesakkan menuju perut juniornya kapan saja, "Kalau hyung tetap menolak dan bersikeras menunggu senior Hoseok datang, aku tak mau keluar dari sini."
Bocah sialan, Seokjin memijat kening, pelipisnya kembali berdenyut setelah lima menit pulih. Disesapnya seteguk susu dingin selagi Namjoon berdiri menanti. Nasi dan lauk dalam kotak teraduk-aduk tak karuan seperti selera makannya, "Aku tak tahu dosa apa yang telah kuperbuat di masa lalu sampai harus berurusan dengan manusia sepertimu, 0082."
Tersenyum lebar, Namjoon mengeratkan lengan pada gundukan pakaian di pelukannya dan berkedik tanpa dosa ke arah Seokjin yang masih menggerutu sepihak.
"Sama kok," tukasnya, terkekeh hangat, "Aku juga tak tahu negara mana yang kuselamatkan di kehidupan sebelumnya sampai harus bertemu dengan senior semanis Jin-hyung."
"PERGI SANA!"
Namjoon pun balas terbahak kencang.
.
.
"Katakan saja kalau tujuan kita membawa anak-anak itu hanya untuk bersenang-senang. Toh mereka sudah diminta menyerahkan surat ijin orangtua kan? Tak ada paksaan harus ikut atau wajib berpartisipasi. Aku benar-benar tak paham dimana letak ketidakjelasan acara ini dibanding program piknik para dosen yang suka pulang pergi ke pemandian air panas," seloroh Taehyung, menggaruk-garuk bagian belakang telinganya setelah membuang kertas pembungkus permen karet tepat ke tong sampah terbuka di jalanan menuju lorong tembusan. Jalan pintas, lebih tepatnya. Bagian depan pintu masuk fakultas selalu dipenuhi mahasiswa yang mondar-mandir meski tak ada kegiatan perkuliahan, tak nyaman. Dia lebih suka meniti landasan setapak yang sunyi dari manusia meski terhalang kisi-kisi pagar dan dipenuhi susunan mesin-mesin tua yang diangkut setahun sekali.
Musim seperti ini, apalagi mengingat dirinya sedang bebas tugas, sebenarnya bisa digunakan Taehyung untuk tiduran di asrama dan menyelesaikan babak akhir permainannya sambil minum soda. Tapi mengingat rekan-rekannya sedang kalang kabut mendiskusikan dokumen perijinan untuk wisata pelatihan ke Busan, mau tak mau Taehyung harus memenuhi panggilan hadir ke pertemuan dadakan bersama wakil dekan.
"Jin-hyung sudah tak apa-apa. Jangan menginterogasi begitu, aku bukan dokter. Kalau benar kalian khawatir, kenapa tak minta salah satu panitia kesehatan mengawalnya dua puluh empat jam?" racau Taehyung sebal, mengalihkan ponsel dari telinga kiri ke kanan, "Ada yang menggantikanku tadi, makanya jangan tanya macam-macam. Iya, ini juga masih jalan. Astaga, hyung. Kalau bisa melayang sih sudah kulakukan dari dulu. Bilang pada Hoseok-hyung dan ..."
.
"Kau pikir kau hebat?"
"Kalau iya?"
.
Mengerenyit, Taehyung menghentikan langkahnya tepat di turunan halaman. Cuping telinga berderik menyadari bahwa dia tak sendirian.
.
"Mentang-mentang anak baru, jangan sok bergaya."
"Kalian juga tahun pertama kan? Menyingkirlah."
.
Salah satu suara terdengar begitu familiar di benaknya dan Taehyung mencoba menghampiri sumber percakapan, tentu setelah buru-buru memutus sambungan walau Chanyeol masih mengomel habis-habisan di ruang dekan. Dikantonginya ponsel tersebut di saku celana seraya berjalan tergesa-gesa. Jika ada gencetan di luar intuisi kepanitiaan dengan tujuan mengincar junior tanpa alasan jelas, Taehyung tak akan segan-segan menyeret mereka ke bagian kemahasiswaan.
Enam? Delapan? Taehyung tak bisa menghitung persis berapa jumlah manusia yang tengah mengerumuni sesuatu di sudut halaman, pojok dinding belakang perpustakaan. Salah satunya sibuk mencengkeram kerah kaus seseorang dan melontarkan makian yang disetujui gerombolannya. Satu lagi tampak mengusap rahang bawah yang mulai membiru, sementara lainnya menyeka robekan di tiap sudut mulut. Sepertinya sempat terjadi perkelahian satu lawan satu sebelum yang bersangkutan sanggup diserang balik dan ditatar beramai-ramai.
Tapi siapa? Taehyung menebak penasaran. Gerakan tungkainya berangsur memelan seiring mata yang menajam curiga. Semakin dekat, dicobanya memiringkan kepala agar bisa melihat sisi lain dari sosok yang kini dikepung oleh punggung-punggung asing berkemeja putih, sekaligus menelusuri lengan yang berusaha melepaskan diri dari cekikan leher.
Vokal nyaring yang kerap ditangkapnya saat berargumen, kulit bersih dari pergelangan kekar yang sering teracung mengancam tiap senior di penjuru aula, serta bentuk dagu yang dihapalnya kala melempar sumpah serapah akibat ucapan seorang junior yang selalu mengundang masalah.
Dan begitu berhasil mengenali wajah mahasiswa yang tersembunyi di balik kerumunan para pembuat onar tersebut, mata besar Taehyung sontak terperangah.
"Astaga, Jeon Jungkook!"
.
.
.
.
