My Heart
.
By :
Deer Luvian
.
Main Casts:
.
Lu Han as Wu Luhan (GS) – 24 y.o
Kim Jongin as Kim Jongin/Kai – 24 y.o
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun (GS) – 22 y.o
Oh Sehun as Oh Sehun – 24 y.o
.
Other Casts
.
Wu Yifan as Wu Yifan/ Kris Wu (Luhan's Father) – 50 y.o
Kim Junmyun as Kim/Byun Junmyun (Baekhyun's Mother and Luhan's stepmother) – 47 y.o
Huang Zitao as Huang Zitao (Baekhyun's friend) – 22 y.o
Kim Minseok as Kim Minseok (GS) (Luhan's Friend) – 24 y.o
Do Kyungsoo as Do Kyungsoo (GS) (Baekhyun's Friend) – 22 y.o
Kim Myungsoo as Kim Myungsoo/L (Kai's brother) – 26 y.o
Kim Jiyeon as Kim Jiyeon/Kei (Kai's sister) – 22 y.o
Kim Sungkyu as Kim Sungkyu (Kai's Father) – 55 y.o
Jung Eunji as Jung Eunji (Kai's Mother) – 48 y.o
Park Chanyeol as Park Chanyeol (Kai's friend) – 24 y.o
And Other will be mentioned.
.
Rated:
T-T+
.
Genre
.
Drama, Hurt/Comfort, Romance, Angst
.
Length
.
Multi Chapter
.
Disclaimmer
.
All Casts are not mine. They are Gods. The stories is mine. Mungkin inspirasi cerita berasal dari film Heart yang ditulis oleh Armantono. Ada beberapa yang mungkin sama tetapi jalan cerita tidak sama dan penokohan juga berbeda. Saya ucapkan terima kasih kepada Armantono sunbaenim yang telah menulis cerita bagus itu. Bisa dibilang plagiatkah? Tidak 'kan? Saya hanya terinspirasi. So, jangan plagiat ff yang telah susah payah saya kembangkan dari otak saya.
Don't plagiat, Don't bash and Don't blame.
This is genderswicth for some casts. So bagi kalian yg tidak suka GS ya jangan dibaca.
KaiLu/KaiHan, slight! Hunbaek, Hunhan, TaoBaek and other crack pair will be showed.
.
Summary:
.
Mengalah bukan berarti kalah 'kan? Aku memilih untuk bisa membuat semua bahagia dengan mengalah.. Tapi, apakah dengan mengalah aku bisa mencapai kebahagiaan? Dan apakah dia kejam jika harus menerima sikap mengalahku?
(Sorry for bad summary)
.
Happy Reading ^^,
.
Chapter Eleven
.
.
Sikap tanggap Sehun perlu diacungi jempol. Bila saja sang kekasih tak lekas membawa, Baekhyun akan dinyatakan terlambat. Bukan hanya itu, keberuntungan lain juga menghampiri Baekhyun. Donor hati yang diumbar-umbar beberapa waktu silam telah ada di rumah sakit. Dengan begitu mereka tinggal menunggu bagaimana Baekhyun berjuang di dalam sana.
Hampir tiga jam sudah, mereka berdiri dengan cemas di depan ruang operasi. Mereka saling menatap dan menggumam. Banyak do'a yang masing-masing panjatkan agar semuanya lancar. Banyak harapan yang terpancar dari masing-masing wajah agar Baekhyun baik-baik saja. Banyak keinginan yang akan diperbuat jika nanti Baekhyun bangun dari operasinya. Yang jelas banyak orang yang menunggu sosok Baekhyun hadir kembali dalam rengkuhan mereka.
Tak terkecuali Luhan dan Kai, apalagi Sehun.
Luhan terus-terusan menangis; wajahnya nyaris tenggelem dalam basuhan air mata. Ia menggenggam tangan Kai erat. Seolah hal itu dapat mengalirkan kecemasan yang membelut di dalam hati. Tak sesekali ia bersandar di dada sang kekasih demi mendapatkan dukungan dan kekuatan juga keyakinan bahwa Baekhyun akan kembali merasakan pelukan juga melihat senyumannya.
"Baekhyun akan baik-baik saja! Dia gadis yang kuat!" Kai mengecup puncak kepala Luhan agar lebih tenang. Lelaki dengan kulit lebih gelap itu paham dengan kegelisahaan hati Luhan.
Sementara Sehun, ia melirik sejenak pada Luhan. Hatinya sama seperti Luhan, penuh dengan rasa cemas, gelisah, takut dan sebagainya. Pikirannya melayang-layang. Meski banyak harapan tentang keberhasilan operasi ini, namun bayangan akan gagalnya operasi ini juga ikut menyertai. Bagaimana jika Baekhyun tak sanggup bertahan?
Tak lama kemudian, pintu kaca itu terbuka. Menampikan lelaki berjas putih dan dua suster di belakangnya. Segera, Sehun dan yang lain mengerubungi mereka. Ada kecamuk yang tumpah disana.
"Bagaimana Baekhyun?" Sehun memegang lengan sang dokter. Tatapan mata elang itu memaksa sang dokter untuk segera menjawabnya.
Seulas senyum yang muncul di wajah lelah dokter itu melegakan hati yang lain: ini pasti bertanda baik. Lelaki itu memegang pundak Sehun.
"Baekhyun berhasil melalui semuanya. Ia sedang istirahat. Kalian bisa menjenguknya. Tapi.."
"Tapi?"
"Jangan semua masuk! Satu-satu, paling banyak tiga orang." Sekali lagi sang dokter tersenyum hangat. "Saya yang kembali ke ruangan, jika nanti ada apa-apa, silahkan panggil saya. Permisi."
Sehun tersenyum hangat dan memberikan jalan pada sang dokter. "Terima kasih dok.."
Setelah itu, Kris dan Junmyun diberikan kesempatan untuk melihat Baekhyun ditemani oleh Sehun. Sementara Luhan dan Kai maupun yang lain menunggu di luar. Luhan merasa bahagia mendengar kabar ini. Setidaknya ia masih bisa diberikan kesempatan bersama dengan Baekhyun nanti.
"Baekhyun?!" Junmyun memeluk tubuh Baekhyun yang masih lemah. Air menggenang di pelupuk mata. "Syukurlah nak, kau sanggup bertahan. Cepat sadar! Lihatlah, disini ada Sehun oppa yang begitu mengawatirkanmu." Junmyun mengecup kening Baekhyun.
"Baekhyun-ah?! Baba percaya kau memang gadis yang kuat." Kris mengusap pipi Baekhyun. "Jadilah pribadi yang selalu bertahan dalam segala hal! Kau ditakdirkan untuk hidup bahagia Baek."
"Umma dan Baba menyayangimu." Baik Junmyun maupun Kris saling memeluk Baekhyun.
Lelaki yang lebih muda tersenyum hangat melihat kedekatan mereka. Ia ingat betul bagaimana dulu Baekhyun bersikukuh menolak kehadiran Kris. Tapi lelaki itu masih gencar mendekati Baekhyun agar menerimanya. Sungguh, mereka adalah keluarga bahagia. Apalagi saat ini Baekhyun dan Luhan juga memiliki hubungan yang erat.
Tak terasa ternyata Sehun tenggelam dalam lamunannya, ia tak sadar jika Kris telah berdiri di depannya dan memberikan isyarat agar menghampiri Baekhyun. Ia mengangguk lalu mendekat pada Baekhyun. Sementara Kris dan Junmyun memilih memberikan waktu kepada mereka berdua.
"Sayang..." Sehun mengecup kening Baekhyun dalam. "Terima kasih kau mau bertahan sampai saat ini. Aku yakin kau tidak akan meninggalkanku 'kan?" Sekali lagi ia mengecup kening Baekhyun. "Kalau kau ingin sesuatu nanti, aku akan mengabulkan untukmu! Sungguh."
Dan waktu berlalu bagi mereka berdua, suara-suara berisikan banyak harapan menjuntai turun dari bibir tipis Sehun. Tak ada yang lain, pasti keinginan untuk Baekhyun kembali yang paling kuat berselancar dalam diri.
.
.
.
.
.
"Kau ingin menikah?" Pekik Luhan tak percaya setelah mendengar keinginan Baekhyun.
Sejak Baekhyun sadar, Luhan dan Kai yang bergiliran menjaga Baekhyun. Sedangkan Sehun, lelaki itu masih berkutat dengan dunia kerja. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan. Dan Sehun tak khawatir selama ada Luhan yang menjaga Baekhyun.
"Iya, aku benar-benar ingin menikah cepat dengan Sehun oppa."
Sekali lagi Luhan mendelikkan kedua matanya. Ia heran dengan Baekhyun yang tiba-tiba mengutarakan keinginannya menikah. Itu bukan hal aneh memang, tapi tetap saja. Bahkan Luhan dan Kai yang direncanakan untuk menikah saja masih belum melaksanakannya. Lalu Baekhyun? Sama sekali belum ada omongan tapi ingin menikah. Ada apa dengan adik kecilnya itu?
Baekhyun tertawa kecil memperhatikan wajah bingung bercampur keterkejutan dari Luhan. Ia tahu jika kakaknya itu tak akan percaya dengan dirinya. Tapi Sungguh, keinginan itu melekat di dalam hati. Apalagi setelah ia sadar dari operasi yang baru saja ia jalani.
"Lalu Sehun? Apa dia mengiyakan?" Kali ini Kai yang akan bicara.
Baekhyun menggeleng kecil. "Aku masih belum mengatakan keinginan ini pada Sehun oppa maupun umma dan baba. Tapi aku sungguh ingin menikah dalam waktu yang dekat." Jawabnya riang.
Keyakinan Luhan akan perbedaan Baekhyun sangat jelas terasa. Ada apa dengan adik kecilnya ini?
"Jangan terburu-buru Baek! Kau masih muda." Luhan mengusak surai cokelat milik Baekhyun.
"Unni! Aku ingin menikah selagi Sehun oppa masih mau denganku!"
Luhan dan Kai berseru bersamaan. "Hey! Sehun tidak akan meninggalkanmu Baek!" Luhan melirik pada Kai lalu bersuara. "Kalau dia ingin meninggalkanmu kenapa tidak sejak kemarin saja? Kau tidak tahu kalau Sehun yang telah mencarikan donor untukmu?" Suara lembut Luhan mengetuk pendengaran Baekhyun. Si lawan bicara mengangguk paham.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi!"
"Tapi aku tetap ingin menikah!"
"Siapa yang ingin menikah?" Suara hangat yang berdampingan dengan pintu bergeser membuat Luhan dan yang lain menoleh. Mereka lekas menyunggingkan senyum dan menyambut kedatangan mereka.
Sosok yang baru datang itu duduk dengan nyaman didekat Kai setelah mengecup puncak kepala Baekhyun. Ia juga meletakkan buah-buahan yang dititipkan padanya.
"Baba!" Baekhyun merajuk. "Biarkan Baekhyun menikah muda ya ba.."
Kris, mendelikkan kedua matanya. Ia pikir kata-kata Baekhyun yang tertangkap telinganya tadi hanya bualan belaka. Ternyata itu memang sebuah keinginan dari sang buah hati. Lelaki paruh baya itu bangkit dan duduk lebih dekat dengan Baekhyun. Ada yang benar-benar ingin ia tanyakan.
"Kau? Kau ingin menikah?" Kris mengusap pipi Baekhyun. "Baiklah! Setelah Luhan unni yaa?"
Baekhyun menggeleng keras. "Tidak, aku tidak ingin menikah setelah Luhan unni. Aku ingin menikah secepatnya!" Pintanya dengan sedikit merajuk.
Sekali lagi lelaki paruh baya itu dibuat keheranan oleh putri tirinya. Banyak tanya yang bergelayut manja di dalam otaknya. Ini kali pertama buah hati dari istrinya itu merajuk seperti ini. Mungkin ini bukan hanya dirasakan oleh Luhan saja, namun juga sang ayah tiri.
Ada apa dengan Baekhyun?
Luhan yang lebih memilih memperhatikan keduanya semakin mengeratkan tebakannya. Ada yang tidak beres dengan Baekhyun. Atau efek dari pasca operasi? Mana mungkin?!
Kris hanya tersenyum sembari mengusak surai cokelat Baekhyun. "Baiklah, kalau itu maumu. Baba akan mengatakannya kepada Sehun." Tukasnya.
"Sungguh? Waahh... Terima kasih baba." Baekhyun berseru girang lalu memeluk tubuh Kris. Sementara Luhan dan Kai ikut tersenyum walaupun Luhan tak melepas pemikirannya itu.
Sesuatu memang perlu dibuktikan.
.
.
.
.
.
Sejak setengah jam yang lalu, Luhan masih belum membuka suara. Keduanya hanya diam dengan tangan memegang es krim yang nyaris mencair. Oh bukan keduanya, hanya Luhan saja. Nyatanya Kai nyaris menghabiskan satu es krim. Sementara Luhan? Jiwa wanita itu masih pergi entah kemana.
Mungkin ini sudah ketiga kalinya Kai menjentikkan jari di depan wajah Luhan. Wanita itu masih tak bergeming. Sedikitpun tidak. Malah genggaman di contong es krim yang tampak mengerat. Sedikit saja Luhan mengeratkan kembali genggamannya, Kai yakin contong itu akan pecah saat itu juga.
Kai mendesah, ia meniup telinga Luhan.
"Eh?"
"Kau melamun?"
"Tidak!"
"Jangan menyangkal!" Kai menarik hidung Luhan.
Luhan menunduk sejenak sebelum menoleh pada Kai. "Kau merasakan ada yang berbeda dari Baekhyun?" Tanyanya tiba-tiba.
"Baekhyun?"
Luhan mengangguk.
"Sepertinya iya, tapi aku tidak yakin apa."
Sang wanita mengarahkan es krim pada mulutnya. Ia menyentuh pinggir es krim sejenak lalu menariknya kembali. Ada keragu-raguan untuk menyantap es krim yang akan meleleh itu. Sepertinya memang ada yang mengganggu di dalam pikiran Luhan.
Bukan mengganggap diri hebat bagaikan seorang paranormal, Kai yakin Luhan seperti ini karena Baekhyun. Ia lekas memeluk Luhan dari samping hingga menyebabkan sang pemilik terjingkat kecil. Luhan menoleh, dari tatapan rusa itu Kai tahu ada tanya disana.
"Kau terlalu khawatir kepada Baekhyun. Itu bukan sesuatu yang aneh Lu. Keinginan menikah itu hal manusiawi."
"Aku tahu." Luhan mendesah pelan. "Tapi kenapa tiba-tiba?"
Kai mengusak surai madu Luhan lalu mengecup puncak kepalanya.
"Sama seperti saat aku memutuskanmu dan kau tidak siap mendengarkannya. Kenapa tiba-tiba?"
"Itu berbeda." Luhan mengerucut.
Kai tersenyum kecil. "Sudahlah, kau hanya belum siap mendengarnya. Kau terkejut, makanya ada yang mengganjal. Bukan begitu?"
"Ya mungkin!"
Luhan menyerah. Berdebat dengan kekasihnya hanya akan membuang tenaga. Kemungkinan Kai tidak peka bisa saja terjadi. Mengingat Kai dan Baekhyun tidak begitu dekat dibandingkan Luhan dengan Baekhyun. Masih terus mengganggu sistem otak kiri Luhan, keinginan Baekhyun itu berputar berulang. Luhan menghela nafasnya pasrah. Mau dipikir bagaimanapun ia tetap tak mendapatkan jawabannya jika tak bertanya pada sang pelaku.
Dengan pandangan yang mulai redup, mata rusa itu mengamati es krim di tangan. Dalam waktu yang tak lama es krim itu akan mencair. Segera Luhan memakannya. Ia tak ingin menyia-nyiakan makanan. Apalagi ada Kai di sebelahnya, bisa-bisa sang kekasih akan mengomelinya.
Setelah menghabiskan satu es krim, Luhan menoleh pada Kai yang tampak diam mengamatinya makan. Tatapan lembut berisikan tanya itu jatuh pada kedua iris Kai. Mau tak mau membuat si pemilik menggeleng kecil seraya mengusap pipi Luhan.
"Kau lucu kalau sedang makan es krim dengan mood yang hampir hilang."
Luhan mengerut bingung.
"Aku yakin kau sedang berada di dunia berbeda bukan?" Kai mengecup pipi Luhan. "Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi Baekhyun. Bagaimana kalau memikirkan kita?"
"Kita?"
"Eum, pernikahan kita?"
Untuk sesaat Luhan membiarkan waktu berlalu tanpa kata. Ia mengarahkan pandangan kepada hamparan langit di atas. Pernikahan, satu kata itu bermain-main di otaknya. Tak lama bibirnya melengkung cantik dalam diam.
"Kapan?"
"Kau tanya kapan?" Kai menimpali dengan tawa kecil menggoda. Ia tersenyum. "Kita bisa melakukannya bersamaan dengan Baekhyun?"
Luhan kembali diam. Ada satu yang disadari Kai seharian ini. Kekasihnya lebih banyak diam, terlebih setelah mereka pulang dari kamar Baekhyun.
"Tidak, Baekhyun ingin cepat-cepat. Sedangkan persiapan kita masih belum seberapa."
"Hey!"
"Aku.. Ah." Luhan menoleh pada Kai. Kedua mata rusa Luhan memancarkan sebuah permohonan. "Setelah pernikahan Baekhyun ya?"
Melihat Luhan seperti ini menimbulkan gelitikan aneh dalam dada Kai. Wanita yang ia cintai ini memang tampak berbeda. Apa karena keinginan aneh dari Baekhyun? Tapi itu bukan suatu yang aneh! Wajar kalau Baekhyun ingin cepat menikah dengan kekasihnya setelah ia sembuh. Atau karena calon suami Baekhyun adalah Sehun? Kai baru ingat kalau Sehun adalah mantan kekasih Luhan. Apakah Luhan masih belum bisa melepas Sehun? Tidak-tidak, Kai sepertinya perlu mendinginkan otaknya. Mana mungkin Luhan belum melupakan Sehun dan tidak rela kalau Baekhyun menikah dengan Sehun.
Lalu apa? Apa yang membuat Luhan seperti ini?
"Baiklah, kita akan menikah setelah pernikahan Baekhyun." Kai mengecup pipi Luhan. "Setelah aku pikir-pikir! Sepertinya memang terlalu mendadak Baekhyun memutuskan ingin menikah!"
Dan Luhan hanya mengerucut menimpali ucapan Kai. Kekasihnya ini terkadang memang menyebalkan. Padahal tadi ia telah mengatakan hal itu dan masih diulang oleh sang kekasih. Dasar!
.
.
.
.
.
Pada akhirnya keinginan Baekhyun tercapai. Setelah omongan-omongan dari kedua belah pihak, rencana pernikahanpun berlanjut. Awalnya Sehun ingin pernikahan ini bersamaan dengan pernikahan Luhan dan Kai, namun karena Luhan masih ingin mengundurnya mau tak mau mereka menggelar pernikahan lebih dulu.
Banyak persiapan yang telah dilakukan hanya dalam waktu lima hari. Untungnya Sehun adalah pebisnis yang memiliki kolega begitu banyak. Ia tak khawatir dengan rekan-rekannya yang mempunyai bisnis EO, ada banyak pilihan yang ditawarkan dan disanggupi terjadi dalam waktu yang singkat. Begitu juga dengan masalah gaun, Baekhyun bukan seseorang pemilih yang keterlaluan. Ia akan menunjuk satu buah gaun jadi, sehingga tak perlu memakan waktu lama untuk menjahit lagi.
Semuanya telah siap, pernikahan yang akan digelar di dua tempat –gereja dan rumah- siap untuk dilaksanakan. Baik keluarga maupun staf yang akan membantu telah menyiapkannya. Baekhyun tak sabar untuk segera menggelar pernikahannya dengan Sehun yang akan dilaksanakan esok hari. Ia benar-benar menantikan momen ini setelah ia merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Baekyun terdiam di kamar. Sesuatu menohok di ulu hati. Rasanya sakit sekali. Bahkan ia bisa merasakan memang ada yang salah dengan dirinya. Baekhyun tak ingin berpikir macam-macam. Bisa saja ini karena rasa gugup yang menyerangnya. Rasa gugup yang bisa datang kapan saja saat suatu acara besar akan dihadapi. Baekhyun meyakini itu. Kemungkinan besar memang karena itu.
Tapi..
Baekhyun mengenal baik dirinya sendiri. Rasa ini telah ia rasakan semenjak ia bangun dari operasi. Ia tak bisa berbohong dan ini tak bisa membohonginya. Baekhyun memejam demi mengurangi rasa itu. Ia mengatupkan bibirnya erat seraya menggumam sebuah do'a di dalam hati. Yang ia inginkan saat ini adalah sebuah kekuatan. Kekuatan yang akan membopongnya sampai nanti ia bisa merasakan sebuah pernikahan dengan Sehun. Sosok yang ia cintai.
Harapan Baekhyun hanya itu. Ia bersyukur Tuhan masih bisa mendengarkan do'anya. Hanya saja, ia juga merasa kalau Tuhan membutuhkannya.
Setetes air turun percuma dari balik kelopak matanya. Segera ia mengusapnya manakal ketukan pelan ia dengar dari arah pintu. Ia merapikan diri dan menyambut siapapun yang datang masuk.
"Oh, unni!" Ternyata Luhan. Gadis cantik itu tersenyum lalu duduk di tepi ranjang Baekhyun.
Ia mengusap pipi Baekhyun. "Ada apa dengan wajahmu? Kau gugup yaa? Atau kau terlalu senang?"
"A-ah, mungkin aku gugup! Aku tidak menyangka akan menikah dengan Sehun oppa besok." Baekhyun menyampirkan selimut yang menutup sebagian kakinya. "Kenapa unni tidak mau menikah bersamaan denganku? Pasti akan sangat menyenangkan kalau kita menikah bersama."
Luhan mengulas sebuah senyum manis untuk adik tirinya itu. Bagaimana Baekhyun berucap saat ini membuatnya merasa gemas. Ia memang membenarkan kalimat Baekhyun hanya saja itu terlalu cepat baginya. Entah mengapa Luhan masih ingin melaksanakan pernikahan sesuai dengan jadwal awal agar tak terkesan terburu-buru atau dikejar sesuatu.
"Nanti unni pasti juga akan menyusulmu!" Luhan mengusak surai cokelat Baekhyun. "Sekarang kau istirahat eum? Kau pasti akan lelah besok! Selamat malam adikku sayang." Luhan bangkit dari duduknya.
Baekhyun mengangguk kecil. Ia mengijinkan kakak tirinya untuk pergi. Dari awal memang Luhan hanya ingin mengecek Baekhyun apakah ia baik-baik saja atau tidak. Luhan merasa ingin sekali menemani Baekhyun tidur. Hanya saja mungkin Baekhyun butuh waktu sendiri untuk merasakan kegugupan karena akan melangsungkan pernikahannya.
Dan setelah kepergian Luhan, Baekhyun memegang kembali titik itu. Rasanya masih sama. Malah bertambah sakit. Ada apa sebenarnya? Kenapa seperti ini? Kelopak mata Baekhyun tak kuasa menahan segalanya. Tetes air berhasil menembus pertahanan dan turun membentuk jalur di kedua pipi Baekhyun. Baekhyun benar-benar tak memiliki kekuatan untuk melawan.
Mencoba agar lebih baik, ia berbaring. Tubuhnya dibungkus oleh selimut tebal. Dengan sedikit memaksa, ia memejamkan kelopak mata. Sayup-sayup do'a terdengar menyayu dari bibir tipisnya. Perlahan namun pasti dengkuran halus terdengar menyingkap keheningan malam.
Dan Baekhyun terlelap dalam mimpi yang indah.
.
.
.
.
.
Hari itu tiba.
Baik kedua belah pihak keluarga telah berpakaian rapi di sebuah gereja yang tak jauh dari kediaman Keluarga Wu. Tak kurang dengan kehadiran Luhan dan sang calon suami. Juga lengkap dengan Keluarga Kim yang datang menyaksikan. Mereka tampak berkumpul dengan wajah cerah berbahagia. Bagaimana tidak, melihat salah satu anggota mereka yang akan melangsungkan pernikahan jelas akan memberikan kebahagiaan sendiri.
Tak terkecuali Luhan dan Kai. Sepasang kekasih itu tak pernah melepaskan senyum dari wajah rupawan mereka. Terutama Luhan, ia masih sedikit tak menyangka jika sang adik tiri akan menikah lebih dulu darinya. Ia masih merasa sedikit aneh dengan pernikahan ini. Meski ia turut senang tapi melihat bagaimana Baekhyun saat ini membuat sesuatu di hatinya bergejolak. Luhan tak tahu mengapa tapi rasanya.
Wajah ayu Baekhyun tampak sumrigah, namun di mata Luhan ada sesuatu tersembunyi. Senyum Baekhyun merekah indah, namun di mata Luhan seakan senyum itu menutup sesuatu. Binar mata Baekhyun memancar cerah, namun di mata Luhan ada sedikit titik yang tampak berbeda. Ada apa denganmu Luhan? Ia memang bahagia dengan pernikahan ini. Tapi...
Sesuatu itu jelas tak bisa dibiarkan begitu saja.
Apalagi melihat sesekali Baekhyun memegang dadanya.
Katakan mata Luhan cukup jeli akan hal sekecil itu. Namun bagaimanapun dan apapun yang membelenggunya saat ini, Luhan terus mengembangkan senyum seakan tak ada apa-apa. Ia memang masih gamang dengan hal ini. Mau bertanya pun tak mungkin. Lebih baik melupakannya saja daripada membuat suasana menjadi runyam.
Dan saat ini waktu yang ditunggu semua. Dua mempelai dengan wajah rupawan penuh kebahagiaan berdiri di depan altar. Wajah cantik Baekhyun memancarkan aura yang luar biasa menawan. Wajah tampan Sehun pun tak kalah sama. Keduanya tampak begitu manis berdiri dengan pakaian pengantin itu. Luhan mengeratkan kaitan di tangan Kai hingga menarik sang pemilik untuk menoleh.
Senyum Kai mengulas lebar manakala ia melihat wajah Luhan tampak berbinar bahagia. Siapapun akan memancarkan hal yang sama di dalam keadaan ini. Bahkan ia juga. Kai yakin bahwa wajahnya juga memancarkan aura yang sama seperti Luhan. Mereka memang bahagia melihat Sehun dan Baekhyun berdiri disana.
Seorang pastur berdiri tegap di hadapan keduanya. Mereka telah siap untuk mengucapkan janji pernikahan. Sehun dan Baekhyun saling membawa text yang siap untuk dibaca nantinya. Senyum Pastor Yoon merekah sebelum ia berucap kepada mempelai.
"Maka tibalah saatnya meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan masing-masing saudara mengucapkan perjanjian nikah di bawah sumpah." Ucap Pastor Yoon.
Sehun tersenyum, sebelum ia membaca bait yang tertulis disana lebih dulu ia melirik pada Baekhyun yang tak sanggup membendung kebahagiaannya.
"Byun Baekhyun, saya memilih engkau menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam keadaan untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup."
Baekhyun tersenyum, ia mengangkat sebelah tangannya seraya membaxa text di tangan.
"Oh Sehun, saya memilih engkau menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya bersedia mencintai dan menghormati engkau seumur hidup."
"Saya berjanji akan menjaga Baekhyun selamanya."
"Saya berjanji melindungi Sehun Oppa di sisa usia saya."
"Saya akan memperlakukan Baekhyun sebaik-baiknya. Seperti saya memperlakukan diri saya sendiri."
"Saya akan menuruti semua keinginan Sehun Oppa sampai saya tak mampu melakukannya lagi."
Setiap untaian sumpah janji yang diucapkan oleh keduanya terasa begitu menyayat. Pernikahan mereka terasa sekali kesakralannya. Ditambah dengan iringan tetes air mata yang turun manakala Baekhyun membacakan sumpah janji pernikahan mereka.
Baekhyun bersyukur dengan tetesan air mata yang mengalir pelan. Pernikahan yang ia inginkan telah dilaksanakan dengan kidmat. Akhirnya, ia telah resmi menjadi istri dari Sehun seperti apa yang ia inginkan. Baekhyun tak berhenti bersyukur atas kekuatan yang diberikan oleh Tuhan sampai saat ini.
Suasana yang penuh dengan ucapan selamat itu begitu mengharukan. Sepasang kekasih yang telah mengikatkan janji suci di depan Tuhan ini memberikan keharuan yang luar biasa. Banyak tepuk tangan dan gumam pujian yang ia terima. Rasa bahagia jelas tercetak di masing-masing wajah mereka. Terlebih mereka yang saling mengucap janji.
Sedari tadi Kai tak berhenti menggenggam tangan Luhan. Ia tahu dan hapal bahwa hati Luhan itu lembut. Kekasihnya tak akan bisa menahan air mata saat melihat adegan seperti ini. Kai tersenyum. Ketulusan Luhan jelas terpancar dari mata rusa dan senyum indahnya. Ingin sekali ia mengecup bibir mungil itu. Namun Kai masih bisa mengontrol untuk tak sembarangan menyentuh kekasihnya.
"Jangan menangis! Akan tiba waktunya kau juga seperti itu!" Ucap Kai dengan menoel hidung mancung Luhan.
Digoda demikian membuat Luhan mengerucut. Kekasihnya ini benar-benar tahu bahwa saat ini dirinya memang sedang terharu melihat bagaimana bahagianya Baekhyun yang telah bersanding dengan Sehun secara sah. Selain itu rasa cemburu dan iri memang tengah menggelayutinya juga. Luhan tak menampik itu dan itu memang hal yang wajar bukan?
.
.
.
.
"Semua akan baik-baik saja 'kan?"
Baekhyun membuka percakapan setelah beberapa saat keheningan menguasai. Saat ini ia berada di dalam kamarnya bersama dengan Sehun. Pesta pernikahan mereka telah berakhir sejak beberapa jam yang lalu. Hari ini merupakan hari yang sangat sibuk dan melelahkan. Apalagi bagi Baekhyun yang seharusnya masih berada dalam tahap pengembalian energi pasca operasi. Butuh banyak waktu untuk istirahat demi pulihnya sang tubuh.s
Keduanya masih belum sanggup terpejam. Sejak sejam yang lalu, Sehun masih sibuk dengan rutinitasnya sebelum tidur. Ia lebih dulu membersihkan diri. Sementara Baekhyun hanya menunggu Sehun yang tengah siap-siap sebelum tidur.
"Apa maksudmu Baek?" Mendengar pertanyaan Baekhyun membuat Sehun mengerutkan keningnya bingung. "Pasti semua akan baik-baik saja." Meski ia tak tahu makna di balik pertanyaan Baekhyun, Sehun mencoba untuk berpikir positif.
Baekhyun tersenyum. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju Sehun yang masih terduduk di depan nakas. Baru saja lelaki yang ia cintai itu keluar dari kamar mandi dengan surai yang basah.
"Hanya merasa bahwa sesuatu akan terjadi pada kita." Baekhyun mengambil alih handuk yang sempat menggantung di tangan Sehun. "Aku ingin mendengar dari oppa bahwa semua akan baik-baik saja." Lanjutnya seraya mengusap lembut surai kelam milik Sehun.
Alih-alih menanggapi, Sehun malah menarik tangan Baekhyun demi menghentikan aktivitasnya. Sehun membawa tubuh Baekhyun menghadap dirinya. Untuk beberapa saat, Sehun memberikan tatapan penuh tanya pada paras ayu istrinya itu. Setelahnya, ia mengecup kilat bibir Baekhyun.
"Apa? Kita pasti baik-baik saja." Tangan Sehun mengusap surai coklat milik Baekhyun. "Pasti." Lalu meninggalkan satu kecupan dalam pada kening Baekhyun.
Dan Baekhyun mengulas senyum. Ada kelegaan yang mampu membekukan gemuruh. Sebuah perasaan yang entah mengapa menggerogoti keyakinan Baekhyun. Ia tahu, kemungkinan besar apa yang saat ini Baekhyun rasakan hanyalah sebuah kekhawatiran. Tapi mengapa sebuah kekhawatiran harus mengambil alih seluruh keyakinannya?
Rasanya memang bukan sebuah kekhawatiran biasa. Ada sesuatu di balik ini semua dan Baekhyun mampu mengenalinya dengan cukup baik. Bahwa perasaannya tak pernah meraba sesuatu yang salah. Memang akan ada hal lain yang menjadi sebuah cerita nantinya.
Sehun pun memeluk tubuh mungil Baekhyun dan membiarkan terdekap dalam tautan lengannya. Sesekali ia mengecup puncak kepala Baekhyun. Meski ia tak tahu mengapa tiba-tiba Baekhyun seperti ini. Sehun hanya berusaha untuk memberikan ketenangan bagi Baekhyun. Ia hanya menebak mungkin ini bagian dari sisa operasinya kemarin.
Terkadang ada perasaan gelisah meski tahu bahwa semua telah berakhir dengan baik.
"Sekarang kita tidur eum?! Lusa kita harus melakukan perjalanan jauh. Kau harus menjaga kesehatanmu." Sehun melirik sekilas pada jam yang menggantung. "Lagi pula jam sudah menunjukkan pukul satu malam."
Baekhyun mengangguk dalam pelukan Sehun. Sebelum ia melepas pelukannya, lebih dulu tangannya mengerat. Seolah memberikan tanda pada Sehun untuk tak melepaskannya dengan cepat. Dan Sehun tampak mengerti, ia pun memberikan waktu bagi Baekhyun untuk tetap bertahan dalam pelukannya.
Hingga tanpa disadari ada tetes air mata yang mengalir pelan dari sudut mata cantik Baekhyun.
.
.
.
.
Pagi datang dengan semangat baru. Cicit burung yang menghibur di luar sana menjadi teman sinar mentari yang menerjang. Sesekali angin pagi ikut meramaikan suasana pagi yang tampak tenang dari sebelumnya. Meski masih pukul tujuh, rupanya kesan ramai telah mampu ditangkap oleh telinga Baekhyun.
Pelakunya adalah Luhan dan Sehun yang sedikit berselisih tentang apa yang akan menjadi hidangan pagi ini. Pantas saja selepas Baekhyun membuka mata, ia tak mendapati sosok Sehun di sebelahnya. Ternyata lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu berada di dapur dan beradu pendapat dengan kakak perempuannya. Lucu sekali.
"Pagi!" Seru Baekhyun demi menghentikan pekikan-pekikan kecil yang menyesak telinga.
Baik Sehun maupun Luhan sama-sama menoleh pada sumber suara.
"Oh, Baekhyun? Sudah bangun?"
"Suara kalian membuatku terbangun!" Gerutunya kecil dengan kerucutan yang menghias wajah.
Sehun tersenyum dan mendekat pada Baekhyun. Sempat ia berikan kecupan kilat pada bibir mungil itu. Jangan salah sangka! Sehun tak sedang membuat Luhan meradang. Ia hanya ingin menenangkan istrinya saja.
"Maaf!" Luhan mengulas senyum. "Aku ingin membuat sarapan tapi suamimu tiba-tiba merusuh!"
"Hey yaaa! Aku hanya ingin membantu!" Sungut Sehun tak terima.
Alih-laih marah, Baekhyun malah terkikik tak jelas. Melihat bagaiman kedua insan yang telah berstatus adik dan kakak ipar itu memberikan hiburan sendiri baginya. Lucu sekali mereka berdua. Apalagi mengingat keduanya adalah mantan kekasih. Ah, jangan diingatkan lagi. Itu hanya akan membuat Baekhyun merasa bersalah.
Luhan pun mendorong tubuh Sehun dan Baekhyun. "Sudah, kalian duduk saja! Aku yang akan memasak untuk hari ini. Jangan ribut! Nanti baba dan umma terbangun." Titah Luhan tanpa bisa dibantah.
Pada akhirnya Sehun dan Baekhyun mengalah. Keduanya duduk dengan anteng melihat Luhan yang sibuk merajang sayuran. Sebenarnya mereka ingin membantu tapi melihat bagaimana garang-garangnya Luhan membuat mereka urung. Lebih baik Baekhyun membuat susu saja.
Tak membutuhkan waktu lama, sarapan pagi telah tersaji di depan mata. Baekhyun berseru senang. Kris dan Junmyun pun juga sudah berada disana. Mereka berlima duduk melingkar untuk menikmati sarapan pagi bersama. Sarapan pagi yang untuk pertama kali dengan anggota keluarga baru.
"Waahh, sarapan kali ini sepertinya enak." Kris memperhatikan satu persatu makanan yang dimasak oleh Luhan. "Apa ini semua Luhan yang buat?"
Luhan mengangguk. "Eum, spesial untuk penyambutan anggota keluarga baru." Sahutnya dengan nada bercanda.
"Ah, Oh Sehun! Ayo sekarang dimakan."
Semua mengangguk. Menurut pada kata Kris dan mulai mengotak-atik makanan di depan masing-masing. Luhan pun sama, ia juga melakukan itu. Beberapa detik setelah meracik makanannya, Luhan mulai menyantapnya secara perlahan.
Keterdiaman menyambar mereka. Tak ada suara yang keluar kecuali dentingan suara sendok yang menyentuh nakal piring-piring itu. Mereka tampak fokus dengan apa yang disantap sampai lupa tradisi cerita bersama saat sarapan tiba. Hingga pada akhirnya Luhan yang memecah keheningan itu.
"Jadi?" Luhan mengusap bibirnya. "Kalian akan bulan madu kemana?" Tanya Luhan pada Sehun dan Baekhyun. Ia tak lupa mengambil alih gelas yang sebelumnya tampak tenang di atas meja.
Eye smile yang dapat meluluhkan hati siapapun muncul dengan cantik di wajah Baekhyun. "Kita memutuskan untuk pergi ke Paris." Sahut Baekhyun antusias.
"Paris?" Kali ini Junmyun yang menimpali. "Kenapa Paris?"
"Paris tempat yang menyenangkan umma. Bolehkan kita kesana?"
Kris mengusap pipi Baekhyun dengan senyum mengembang. "Pasti. Kalian bisa kemanapun yang kalian inginkan." Tukasnya.
"Yeeiii!"
Luhan tersenyum melihat bagaimana Baekhyun berseru antusias.
"Oh yaa.." Luhan meletakkan gelas minumnya. "Jangan lupa pulang nanti harus ada kabar bahwa anggota baru sudah tiba." Kerlingan mata Luhan menjadi ikon untuk menggoda Baekhyun.
"Unniii!" Pekik Baekhyun. "Tapi.. Nanti kalau aku punya anak perempuan aku akan memberi nama Luhan."
"Uh?" Luhan mendelik. "Kenapa?"
Sebelum menceritakan keinginannya, Baekhyun melipat tangan di atas meja dan mulai menatap Luhan yang tampak bingung. Bibir tipisnya membentuk senyum cantik. Lalu ia mulai bersuara.
"Unni adalah salah satu sosok hebat yang pernah aku temui. Mempunyai sifat lembut dan baik hati. Aku ingin anakku nanti seperti itu juga unni."
"Hey! Tapi tidak dengan nama Luhan 'kan?" Sahut Luhan dengan kerucutan kecil.
Baekhyun hanya tertawa lalu menoleh pada sang baba.
"Baba, apa tidak boleh Baekhyun memberi nama Luhan untuk anakku nanti?"
Kris terhenyak kecil. Ia lalu mengulas senyum tipis. "Tanyakan pada suamimu sayang. Kalau baba sih tidak masalah mau Baekhyun beri nama siapapun." Jawabnya.
"Tuh!" Baekhyun melirik ke arah Sehun dan Sehun hanya tersenyum. "Bagaimana unni?"
Luhan terdiam sesaat. Entah kenapa lensa kembarnya menangkap raut berbeda dari Baekhyun. Ia tak sedang berada dalam dunia berbeda kan? Kenapa Baekhyun tampak sedikit...
"Unni?"
"Uh? Ah, yaa-yaa.." Luhan kikuk sendiri. "Y-ya, ya kau bisa menggunakan namaku."
Dan senyum itu. Senyum dari Baekhyun tampak tak sama jika dibandingkan dengan senyumnya yang biasa. Ada apa? Seolah ada hal lain yang ingin disampaikan oleh Baekhyun. Bahkan sorot mata itu. Tak secerah biasanya.
Bukankah saat kita telah mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan semua hal akan menjadi cerah? Tapi ini?
Luhan membiarkan pikirannya melayang menebak apa saja yang membuatnya merasa kurang begitu nyaman.
.
.
.
.
TBC
.
Hayy!
Ada yang masih inget ini FF gak? Sudah buluk kali yaaa, hahahaha
Maaf banget ini FF lama sekali gak diupdate, ada banyak alasan yang kalau aku tuangkan bakal bikin kalian mual.
Dari akhir tahun lalu, aku sibuk ngurus buat syarat wisuda dan teman-temannya.
Terus sibuk ini sibuk itu gak ada hentinya.. -.-
Terus sedikit kehilangan feels, entah kenapa.
Terus yang bikin aku sedikit gondok dan sempet pengen berhenti nulis ini FF adalah berita dating kai dan krystal.
Aku suffering banget waktu itu, hahaha alay..
Sebenarnya sih nggak, cuma agak gimanaaaaaaa gitu, yaudah numbuhin lagi buat bisa nerusin ini FF butuh waktu lama.
Akhirnya dah ini bulan Juli baru kelar chapter ini.
Jadi silahkan direview yaa. Maaf kalau makan waktu lama sekali..
Terima kasih bagi kalian yang masih berminat dengan FF ini dan meluangkan waktu untuk membaca.
Saranghae~
.
.
Best Regards
.
.
Deer Luvian
