Terima kasih untuk semua perhatian, dan review yang sudah diberikan, bahkan menjadikan The Iris favorite story, im so glad, love u guys.
.
Disclaimer : I don't own Bleach
.
.
.
Tittle : THE IRIS
By : Nakki Desinta
.
.
Chapter 11
Yang pertama kali menyapa mataku adalah cahaya terang lampu ruangan yang serba putih, setengah sadar aku memegang kepalaku yang luar biasa berat. Ingatan tentang Rukia menyeruak begitu cepat dan aku langsung menghentakkan punggung, terduduk seketika, tapi sakit kembali menderaku dan kali ini berasal dari perutku.
"Kakak, jangan banyak bergerak dulu."
Aku menoleh pada sepasang tangan yang memegang tanganku, tangan lembut yang sangat aku kenal.
"Yuzu?" kataku bingung, melihat mata Yuzu yang berair menahan tangis, aku tersenyum lemah untuk meyakinkannya aku baik-baik saja, karena Yuzu memiliki hati jauh lebih lembut dari siapapun dalam keluarga Kurosaki, aku tidak bisa membiarkannya ikut kena imbas tragedi ini.
"Kakak jangan bangun tiba-tiba seperti itu," kata Karin yang bergerak mendekat padaku.
"Kau terlalu memaksakan diri, Nak. Rukia sedang di tangani dokter."
Suara Ayah menyapa telingaku, jadi semua sudah berada disini untuk menjengukku? Betapa mengerikannya diriku saat ini, tidak bisa menjaga diri dan membiarkan Rukia terluka, hingga seperti ini.
"Ayah, bagaimana keadaan Rukia?" ucapku perlahan, menyembunyikan ragu dan takut dalam diriku.
"Sejauh ini Rukia baik-baik saja, dan dokter sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kandungannya," jelas Ayah perlahan, sangat hati-hati dengan tiap kata yang ia ucapkan, dia tidak ingin aku khawatir, karena itu ia menggunakan kalimat yang sangat halus dan samar maknanya.
Namun itu justru membuat hatiku mencelos, aku bukan tenang malah semakin cemas mendengar keadaan kandungan Rukia yang belum diketahui.
Aku tertunduk, menyembunyikan wajahku yang pasti terlihat sangat lemah saat ini. Ayah selalu mengajariku untuk terus menjadi laki-laki kuat dalam menghadapi hidup, tapi kali ini aku tidak bisa. Maafkan aku, Ayah, kali ini aku tidak bisa menjadi laki-laki kuat, aku tidak bisa kuat sementara nyawa calon bayiku terancam.
"Menangislah jika kau ingin, Nak," bisik Ayah yang perlahan mendekat, tangannya terulur meraih bahuku dan membawaku dalam dekapannya, pipiku menempel di kemejanya yang lembut.
"Jangan menahan diri. Aku tidak ingin melihatmu kembali tersiksa, seperti saat mendapati kematian ibumu, kau manusia seutuhnya, dan kau pantas untuk menangis. Rukia adalah bagian dari hidupmu sekarang, bayi dalam kandungannya juga menjadi cahaya dalam hidup kalian."
Aku menahan air mata yang sudah siap tumpah dari mataku. Ayah selalu saja memiliki sisi yang tidak aku mengerti, terkadang sangat keras, namun di sisi lain dia bisa begitu lembut, namun aku harus mengakui bahwa dia lah yang paling mengerti aku.
"Menangislah. Tapi jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi, Ichigo," lanjut Ayah seraya mengusap puncak kepalaku.
Apakah aku begitu rapuh saat ini?
Ya, aku rapuh. Aku tidak bisa kehilangan Rukia ataupun bayi kami, mereka adalah bagian terindah dari hidupku, mereka adalah dua nyawa yang harus aku jaga.
"Dia akan baik-baik saja," tambah Ayah meyakinkanku, aku mengangguk dan membiarkan air mata menetes di pipiku. Dari balik tangan Ayah, aku melihat Yuzu dan Karin yang ikut menangis melihatku, aku tersenyum untuk menenangkan mereka, bahwa aku baik-baik saja, aku hanya perlu menguatkan diri lagi setelah ini.
Kedua adikku yang telah berubah menjadi remaja cantik yang mampu mempesona banyak pria. Mereka tetap seperti itu, memerhatikanku yang tidak pernah peka pada sikap mereka, kelembutan hati Yuzu mengingatkanku pada ibu, dan ketegaran pada Karin membuatku seperti melihat potret lain dari diriku. Awalnya saat kami menghadapi kematian Ibu, aku ingin menjadi seorang kakak yang baik dan bisa menjaga mereka semua, namun pada akhirnya aku hanya menjadi kakak yang terus menyalahkan diri sendiri karena merasa bersalah atas kematian ibu.
Ibu meninggal karena menyelamatkanku saat dua orang penjahat merampok rumah kami. Ibu menghalangi penjahat yang hendak menusuk perutku, karena aku melawan mereka, dan akhirnya malah Ibu yang menjadi korban. Secara tidak langsung aku lah penyebab kematiannya.
Ayah meyakinkanku bahwa aku bukanlah penyebab semua itu, tapi aku tau aku tidak akan pernah lepas dari ingatan itu, dan sekarang hal itu terjadi lagi pada Rukia dan kandungannya. Bagaimana aku harus menghukum diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada mereka? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.
"Kakak tenang saja, Kakak Rukia kuat, dia pasti bisa melewati masa sulit ini," bisik Yuzu yang mendekat dan mengusap punggungku.
"Kau jangan lembek begini! Bagaimana aku bisa membanggakanmu pada teman-temanku," celetuk Karin seraya meninju bahuku.
"Terima kasih," bisikku tulus. Aku memiliki keluarga yang sangat baik.
.
.
Matahari terbit, membutakan mataku karena cahayanya yang terlalu terang. Rumah sakit pun sangat tentram, mengirim suara pagi yang sangat indah, dan damai, ku harap hatiku bisa setenang pagi ini, tapi nyatanya gemuruh yang aku rasakan tak juga reda, semua cemas, dan takut ini menghantuiku hingga ke tulang.
Sejak tersadar dua jam lalu, aku tidak bisa lagi membuat diriku tertidur, hanya terpejam, kosong. Ingatan tentang kejadian semalam, ditambah lagi apa yang sedang terjadi pada Rukia, dan aku tidak bisa memastikan bagaimana keadaannya, serta keadaan bayi kami, semua memperburuk kegundahanku. Dokter belum bisa memberitahu ku keadaan terakhir mereka berdua, dan itu lah penyebab kecemasan yang terus melemahkanku sekarang.
Yuzu dan Karin terlelap di sofa, sementara Ayah bersandar di sisi sofa dengan mata hampir jatuh tertutup rapat, dia berusaha untuk tidak tertidur. Kasihan Ayah, si 'Jenggot Tua' itu lah sebutanku untuknya, setiap kali kami beradu mulut karena sikapnya yang terlalu terang-terangan. Sekarang dia kembali menjadi seorang Ayah bagiku, padahal sudah seharusnya aku menjadi pribadi mandiri yang mampu menopang bebannya sendiri, namun bebanku saat ini terasa sangat berat, baik aku maupun Rukia, kami berdua sama-sama tau beban itu tidak akan mudah kami lewati.
Aku melihat keluar jendela dari ranjang tempat aku bersandar sekarang, tidak berani banyak bergerak karena dokter bilang rusukku retak dan bisa fatal jika sampai patah. Langit perlahan berubah warna, awan bergerak perlahan menggantikan kabut yang masih terlalu pekat.
Cahayaku akan bersinar seperti matahari ini, dia akan menyinari seluruh hidupku, berada di sisiku ataupun tidak, dia akan terus menyinari hidupku. Aku berdoa untuk keselamatan anak ku.
"Ichigo!"
Aku menoleh ke arah pintu masuk, asal suara. Di sana berdiri Renji dan Keigo, lalu di belakang mereka, adalah Kuchiki Byakuya. Wajah dingin Byakuya sudah berganti, sekarang kekalutan dan cemas tingkat tinggi mewarnai wajahnya, setelah sekian lama dia tidak memiliki warna wajah. Aku berharap dia tidak datang membawa berita buruk, tentang siapapun itu!
"Bagaimana keadaanmu, Ichigo?" ucap Renji simpati.
Aku tersenyum sederhana untuk meyakinkan mereka, karena sesungguhnya aku baik-baik saja, tapi hatiku yang tidak baik-baik saja. Sebelum aku menengok Rukia, aku tidak akan sanggup menjawab semua macam pertanyaan tentang keadaanku.
"Rukia baru saja dipindahkan ke ruang rawat, tepat di sampingmu." Kali ini Byakuya menunjuk tembok di sisinya, dinding yang memisahkan ruanganku dengan ruangan milik Rukia.
"Bagaimana keadaannya?"
Byakuya menghindari tatapan mataku, dan memilih melihat lantai yang ia jejak, ini sama sekali bukan khas seorang Kuchiki Byakuya.
"Dokter belum bisa memastikannya, masih harus memeriksa lebih lanjut, namun ada berita baik, Rukia normal dan kandungannya pun baik," jawab Byakuya, matanya menyiiratkan cemas yang sama denganku.
Jika memang semuanya baik, kenapa dia masih memberikanku wajah penuh kekalutan seperti tu? Ada yang ia sembunyikan, dan mereka sengaja melakukan itu untuk menjaga hatiku, tapi aku tidak membutuhkan pengecualian, karena yang aku butuhkan sekarang adalah kebenaran.
"Apa maksudmu dengan baik?" ucapku sanksi.
Byakuya menyimpan suaranya, dan tidak menjawabku. Baik aku, Renji maupun Keigo sama-sama memusatkan perhatian padanya, berharap dia akan menjawab pertanyaanku.
"Katakan, BYAKUYA!" bentakku secara tidak sadar, aku hanya tidak ingin terus dibohongi, aku ingin kebenaran dari semua keadaan ini, tidak ada kebohongan lain, ini menyangkut istri dan anakku, aku tidak akan tinggal diam seperti ini.
Byakuya mendongakkan wajahnya, menatapku ragu. Dia tidak terganggu dengan suara kerasku, karena tetap memberikan raut wajah yang sama untukku.
"Dokter bilang kandungannya mengalami abortus iminens, kemungkinan kandungan bisa diselamatkan, tapi kau harus siap menerima kondisi paling buruk sekalipun jika dokter tidak bisa menyelamatkan kandungannya, Ichigo."
Guntur itu menghampiri hatiku yang terdalam, menghilangkan denyut jantungku, mengirimkan sakit yang amat sangat hingga menghujam setiap bagian dalam diriku, sakit dan sesak, tidak ada lagi yang mampu aku katakan. Jangan pernah bilang aku harus siap kehilangan anakku, aku tidak akan bisa!
Kesedihan yang amat sangat kembali menyerangku. Tuhan, jangan pernah hadapkan aku pada kenyataan pahit lagi, aku merasa tidak akan sanggup menerima kepedihan lagi, tidak bisa jika pedih itu jatuh pada Rukia atau anakku, aku tidak akan mampu berdiri lagi dengan kakiku sendiri.
Gelenyar ketakutan itu memuncak, namun aku tidak mampu memberikan reaksi lebih pada diriku sendiri, karena mendadak aku mati rasa, aku tidak mampu merasakan diriku sendiri, aku melayang dalam duniaku sendiri. Bayangan aku akan menggendongnya, membawanya berjalan, bersamanya sepanjang waktu, perlahan pudar, berganti menjadi air mata yang tak hentinya menetes.
"Anak ku akan baik-baik saja, dia akan bertahan, dia tidak akan membiarkan Ayah dan Ibunya menangisinya seumur hidup!" kataku pada diriku sendiri, dan berusaha menghapus bayangan mengerikan itu dari benakku.
"Kami akan mendo'akannya, Ichigo. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak," bisik Keigo seraya mengusap bahuku.
"Terima kasih," bisikku tulus.
Kami semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sinar matahari di luar sana semakin terang, menyinari seluruh permukaan bumi, memberikan harapan cerah pada siapapun yang melihatnya, tak terkecuali aku, aku akan terus berharap dan berdo'a, tidak akan ada kesedihan atau kepedihan macam apapun lagi yang akan menimpa keluarga kecilku.
Pintu ruang rawatku terbuka, dan tiga orang dengan seragam kepolisian muncul di sana. Satu orang yang aku kenal adalah Jendral Ichimaru, si kepala kepolisian yang sangat suka menyeringai, namun aku mendapati seringainya pudar hari ini, tidak lagi selebar yang pernah aku lihat. Tubuh tinggi kurusnya melintas di ruangan, bersama dua orang anggotanya yang satu berambut pirang dengan sebaris nama di kanan bajunya, K. Izuru, dan satu lagi, dengan nama Omaeda.
Aku sudah mengira mereka akan datang, dan meminta semua keterangan serta kesaksianku tentang penyerangan itu, dan aku sudah cukup siap untuk memaparkan semuanya, karena aku sudah merasa sedikit lega sekarang, sekalipun belum sepenuhnya, setidaknya dua orang AS yang sedang mengincar Rukia sudah berkurang sekalipun aku tidak tau berapa banyak orang yang berada dalam organisasi mengerikan itu.
"Selamat pagi, Mr. Kurosaki. Bagaimana keadaan Anda?" sapa Jendral Ichimaru seraya mendekat padaku, dan Renji serta Keigo membuka jalan untuknya dapat lebih dekat padaku yang berusaha terbaring senyaman mungkin.
"Seperti yang bisa Anda lihat," jawabku singkat. "Apakah Anda ingin meminta keterangan tentang kejadian semalam?" tanyaku dan mengenai sasaran, karena entah mengapa alis Jendral Ichimaru terangkat sedikit, seperti menggambarkan dirinya yang disengat rasa sakit. Ada apa dengannya?
"Ya." Dia memberi isyarat pada kedua anggotanya untuk menyalakan notebook mereka.
Aku mengangguk menyatakan kesiapanku, tapi lalu aku mendapati Yuzu terbangun di sofa, lalu disusul Karin dan Ayah, mereka bertiga menatap ku penuh simpati.
"Ayah, bisakah kau ajak Yuzu dan Karin untuk sarapan?" kataku.
Ayah adalah orang yang paling bisa mengerti isyarat dari ku, dia tau aku tidak ingin kedua adikku mendengar kejadian yang mengerikan itu, aku tidak ingin membagi mimpi burukku dengan mereka. Ayah menggerakkan kepalanya sedikit, dan langsung mengajak Yuzu serta Karin keluar ruangan, namun sebelum Karin benar-benar mencapai pintu keluar, dia menoleh padaku.
"Kakak pasti bisa melewatinya, karena Kakak tidak pernah membiarkan orang lain menindas Kakak, kan?" ucapnya lirih.
"Tenang saja, Karin. Kau tau bagaimana aku," sahutku seraya tersenyum menenangkan.
"Kami juga akan menunggu di bawah," kata Renji seraya mengajak Keigo, mereka tau mereka tidak akan dilibatkan dalam interograsi ini.
Kami yang berada dalam ruangan, menunggu hingga mereka semua keluar ruangan, setelah itu baru Jendral Ichimaru menarik kursi untuk duduk di sebelahku. Belum ditanya apapun, aku merasa kepalaku berdenyut sangat hebat, membuat sakit yang mendera sekujur tubuhku jadi jauh lebih parah.
Jendral Ichimaru menarik napas, memasang wajah penuh penyesalan untukku, ya, simpatinya cukup untuk meyakinkan ku dia tidak sedang berada dalam perayaan atas apa yang menimpaku.
"Kalian menangkap kedua pelaku?" tanyaku sebelum mereka menghujaniku dengan pertanyaan.
Yang aku dapati malah wajah berkerut dari K. Izuru dan Omaeda, mereka seperti bingung dengan pertanyaanku. Namun saat aku mendengar helaan napas berat dari Jendral Ichimaru, aku tau ada yang tidak beres.
"Kami telah melakukan pemeriksaan tempat kejadian, namun yang kami temukan hanya Kuchiki Genrei, beberapa pengawal serta pelayan Keluarga Kuchiki yang pingsan, tidak kami temukan pelaku, hanya ada bercak darah di lantai," jelas Jendral Ichimaru.
"Apa?" aku terkesiap seketika, ini sama sekali bukan hal yang mungkin aku dengar setelah aku jelas-jelas menembak Syazel dan Grimmjow hingga mereka tidak bergerak lagi.
"Sepertinya para pelaku memang berniat membersihkan tempat kejadian dan tidak meninggalkan jejak sama sekali," kata Jendral Ichimaru penuh keyakinan.
Akhirnya aku meminta mereka menjelaskan keadaan sesungguhnya tempat kejadian saat mereka pertama kali tiba di tempat kejadian. Kali ini K. Izuru yang memberikan penjelasan padaku. Dia mengatakan saat mereka datang, berselang tiga puluh menit setelah menerima laporan dari tetangga kami yang mendengar suara tembakan, samar tapi mereka cukup yakin mendengar suara senapan. Dalam hati aku sudah mengira akan terdengar samar, karena rumah keluarga Kuchiki sangat besar dan suara keras seperti apapun akan sulit didengar oleh orang luar, jika tidak sedang dalam keadaan tenang.
Mereka datang ke lokasi dan mendapati beberapa pengawal serta pelayan, termasuk tetua keluarga Kuchiki, Kuchiki Genrei tergeletak di lantai, dan saat mereka mencapai kamar kami, mereka hanya menemukan bercak darah di lantai koridor dan kamar kami, namun tidak ada sisa peluru, hanya bau gas yang terlalu pekat.
Beberapa jam kemudian mereka melakukan olah tempat kejadian, dan memeriksa setiap sudut rumah, memasang garis batas polisi untuk mengamankan lokasi sekitar. Mereka memeriksa sidik jari yang mungkin tertinggal, tapi tidak ada sama sekali, semua tempat bersih, dan darah yang ditemukan adalah darah Rukia saja, tidak ada darah orang lain.
Aku menahan kengerianku sendiri, menelan penuh-penuh ludah yang terasa asam di mulutku, takut karena betapa lihainya para pelaku, atau mungkin komplotan AS dalam membersihkan lokasi kejadian tepat setelah aku meninggalkan rumah untuk membawa Rukia ke rumah sakit. Aku bisa menyimpulkan sendiri, bahwa mereka tidak hanya berdua, ada orang lain yang membawa mereka dan tidak ingin meninggalkan jejak sama sekali.
Karena itu Jendral Ichimaru dan anggotanya langsung kesini untuk meminta keteranganku. Tidak cukup apa yang mereka dapati di lapangan, karena semua bersih, dan terkesan kami sedang menyiksa diri kami sendiri, memukuli diri kami sendiri karena tidak ada satupun sidik jari pelaku disana.
Bulu tengkuk ku berdiri seketika, mereka adalah pembunuh profesional, hanya itu yang mampu terlintas di benakku saat ini. Benar seperti yang Rukia katakan padaku sebelumnya, sepuluh orang pengawal pun tidak akan cukup untuk menghadapi mereka, karena mereka terlatih untuk membunuh tanpa bekas sama sekali.
"Kami bukan ingin lepas tangan, Mr. Kurosaki, tapi tanpa bukti kami tidak bisa menangkap pelaku," tandas Jendral Ichimaru sebelum mengakhiri penjelasannya.
Aku tertegun, merenungi betapa semua ini sangat rumit. Tadinya aku berpikir bisa sedikit lebih tenang karena dua orang anggota AS sudah lenyap, setidaknya berada di penjara, membusuk bersama tahanan lain, tapi aku salah besar, dan ini berarti mereka tidak akan berhenti memburu Rukia.
"Aku diserang Syazel dan Grimmjow, kau seharusnya sudah curiga sejak mereka mencoba mengejar kami, bahkan menewaskan dua orang pengawal Byakuya, Jendral," kataku penuh penekanan, karena aku yakin dia bukan kepala kepolisian yang bodoh sehingga tidak membaca tanda-tanda kejahatan sebesar itu.
"Dia mencoba membawa Rukia, dan…"
Aku menjelaskan semua yang aku dengar dan aku alami tadi malam. Yang aku dengar mengenai masa lalu Rukia, dan yang aku alami tentang kejadian semalam, aku pun menjelaskan bagaimana anggota AS berulang kali meneror Rukia dengan menemui langsung ataupun sekedar mengirimkan karangan bunga yang berisyarat ancaman kematian bagi orang terdekat. Anggota Jendral Ichimaru yang bernama Omaeda menuliskan semua ucapanku dalam notebook, sementara K. Izuru memegang erat alat perekam di tangannya, memastikan tidak ada satupun kalimatku yang terlewat.
Sementara Byakuya berdiri bak patung di tempatnya, mendengarkanku dengan seksama, hanya dua atau tiga kali aku mendapati perubahan dalam ekspresi wajahnya, saat dia mendengar masa lalu Rukia yang kelam, kemarahan terlihat jelas di wajahnya saat mendengar Rukia diseret oleh Syazel hingga mengalami pendarahan.
Hanya satu orang yang tidak pernah merubah raut wajahnya sejak aku menuturkan kenyataan itu, yaitu Jendral Ichimaru, dia tetap santai dengan seringainya, aku tidak heran, karena menurutku wajahnya sudah dicetak oleh Tuhan untuk terus tersenyum seperti itu seumur hidupnya.
"Baiklah, Mr. Kurosaki, Mr. Kuchiki. Kami sudah menerima keterangan sangat jelas dan akan melacak keberadaan organisasi bernama AS serta pelaku penyerangan Mr. Kurosaki dan Nyonya Kurosaki. Kami akan memberikan informasi setiap kali ada perkembangan. Kami juga akan memperketat pengamanan bagi Nyonya Kurosaki dan Mr. Kurosaki, untuk mencegah pelaku kembali menyerang," katanya untuk mengakhiri interograsi ini.
Aku mengangguk dalam, namun diri ku sendiri merasa tidak yakin atas apa yang mereka janjikan padaku, karena organisasi AS sangat mengerti celah dan peluang untuk menyerang kami saat kami sedang lengah, saat kami berpikir sudah berada dalam tempat yang cukup aman, lalu bagaimana mungkin kepolisian yang aksesnya sangat terbatas bisa dengan mudah menangkap mereka?
Jendral Ichimaru pergi bersama kedua anggotanya, berjalan dengan sangat tegap menuju pintu keluar, meninggalkanku dan Byakuya dalam ruangan yang dingin menggigit ini. Aku kembali melihat keluar, merana karena tidak juga bisa lepas dari kenyataan buruk ini.
"Aku akan menjenguk Rukia," kata Byakuya seraya berbalik meninggalkanku.
"Byakuya." Byakuya kembali menghadapku, "benar tidak ada yang kau ketahui tentang masa lalu Rukia?" tanyaku saat ia berdiam menunggu lanjutan kalimatku.
"Kau sudah tau lebih banyak dari aku, Ichigo. Itu artinya Rukia jauh lebih percaya padamu, di banding siapapun. Kau harus yakin Rukia menutupinya bukan karena alasan lain, semata-mata ingin menghindari jerat masa lalunya meluas pada siapapun," tutur Byakuya.
Aku memerhatikan wajahnya, melihat kesungguhan dalam tiap kata-katanya terpancar jelas di matanya.
"Aku tau," kataku lemah. Kenyataan itu yang paling jelas bagiku, tapi aku pun merasa harus menyalahkan Rukia atas apa yang terjadi sekarang. Andai saja ia bersedia jujur, maka kami tidak harus mempertaruhkan anak kami dalam semua kekusutan masa lalunya, aku akan menyewa pengawal, atau mungkin kami lari ke luar negeri, bukan cemas seperti ini, bukan merana sepertii ni, menunggu ketukan palu dari Tuhan, apakah anak kami akan bertahan atau tidak.
Aku takut, sangat takut.
"Sebaiknya kau ikut menjenguk Rukia, Ichigo."
Tanpa ku sadari Byakuya menarik tanganku, menghentakkanku hingga terpaksa berdiri dan mengikuti langkah lebarnya. Tenaganya terlalu besar, ditambah lagi aku masih lemah, hingga tidak bisa menahan diriku sendiri, dia menarikku kuat keluar dari kamar rawatku.
"Kau harus lebih kuat dari siapapun, Ichigo. Rukia bergantung padamu, bagaimana bisa kau melindunginya jika kau lemah seperti ini?"
Mataku membuka lebar, merasakan bagian terdalam dari diriku tertohok oleh kata-kata Byakuya. Byakuya benar, aku seharusnya tidak menangisi diri sendiri seperti ini, bukan mencari objek untuk aku salahkan. Aku harus lebih kuat, lebih tegar, membuktikan bahwa aku bisa menjaga Rukia, karena Rukia adalah orang yang harus aku jaga, harus aku lindungi.
Byakuya tengah menyadarkanku dari keterpurukan yang tidak aku sadari sudah sangat menggrogotiku, bangsawan yang biasanya terlihat tak peduli dan penuh intimidasi ini masih memiliki hati untuk ku, dalam hati aku hanya bisa berterima kasih padanya,karena entah mengapa mulutku sangat berat untuk mengucapkan kalimat itu padanya.
"Masuklah!"
Aku tertegun karena Byakuya membukakan pintu di hadapanku, melewati dua orang penjaga dan mendorongku, melepaskan tangannya yang sedari tadi menjadi penopangku. Tubuhku hampir limbung saat benar-benar berada dalam ruangan, namun aku menguatkan diri, berusaha mengenyampingkan sakit yang mendera di kepalaku.
"Ichigo?"
Kepalaku tersentak menoleh pada pemilik suara dingin dan datar itu, Ulquiorra Schiffer, berdiri di sisi Rukia, mata emeraldnya memandangku dengan sorot mata kosong tanpa ekspresi, sementara Rukia terbaring dengan jarum infus terbenam di tangan kanannya, dan dadaku kembali sakit saat melihat bekas memar di pipinya, wajahnya pucat, dan matanya menatapku dalam, seperti akan menangis.
"Aku keluar dulu," kata Ulquiorra tiba-tiba, membuat pandanganku kembali padanya, mengikutinya yang bergerak lambat menuju pintu di belakangku.
"Terima kasih, Ulquiorra," bisik Rukia.
Namun tidak ada jawaban dari Ulquiorra, dia terus melangkah dan menutup pintu saat keluar dari ruangan.
Sunyi, itulah yang jatuh diantara aku dan Rukia saat pintu ruangan benar-benar tertutup rapat, hanya ada kami dalam ruangan, dan entah mengapa aku merasa sangat berat melontarkan satu kata saja dari mulutku. Aku takut akan mengatakan kata-kata tajam yang akan menyakitinya.
"Kau pasti akan sangat membenciku jika anak kita tidak selamat. Iya kan, Ichigo?"
Mataku kembali membesar, melebar hingga rasanya hampir robek, seperti hatiku yang baru saja terbuka di hadapan Rukia, dia menyuarakan apa yang aku pendam dalam hatiku. Napasku tercekat, menghambat aliran darah hingga aku tidak mampu lagi menahan sakit yang terus menghantam tanpa henti. Lututku lemas, tidak mampu lagi menopang diriku, dan aku terjatuh di lantai.
Rukia membaca seluruh isi hatiku, dan aku merasa begitu hina telah menjadi orang sejahat ini yang menyalahkannya sementara Rukia pun berusaha keras untuk menjaga dan menyelamatkan anak kami.
"Maafkan aku, Rukia," lirihku penuh penyesalan, menangkup wajahku dan mencengkram rambutku frustasi.
"Kau tidak salah, ini memang salahku, bencilah aku jika kau memang ingin, Ichigo."
"Aku ingin menyalahkan seseorang atas semua bencana ini," bisikku, merasakan gemuruh di hati ku makin menyesak.
Aku mendongak dan melihat Rukia yang meneteskan air mata menatapku, kesedihan menggantung di wajahnya. Air mata yang sedari tadi aku tahan pun membludak, sakit, terlalu sakit, menyadari Rukia pun terluka karena aku.
Ku paksa kakiku untuk tegak berdiri, dan melangkah mendekati Rukia, meraih tangannya yang bebas dari jarum infus, dan mengecupnya perlahan. Dingin, sekujur tubuh Rukia dingin.
"Anak kita akan selamat, dia akan bertahan, kau harus yakin," bisikku, dan mengecup dahinya.
Rukia terpejam, membiarkanku beberapa saat menempelkan bibir ku di dahinya, meyakinkan diriku sendiri, dan meyakinkan Rukia, kami akan berjuang bersama, bersama anak kami yang masih berada dalam kandungannya. Tidak peduli abortus iminens atau apapun, anak kami akan bertahan, dia akan sekuat Ayah dan Ibunya.
"Aku sangat menyayangi anak ini. Bencilah aku Ichigo, aku akan terima," bisik Rukia diantara isak tangisnya.
Aku mengangguk dan menempelkan pipiku di dahinya.
"Biarkan aku membencimu hingga hatiku lega, Rukia," kataku. Aku sendiri tidak yakin, namun aku harus bisa menghapus semua kebencianku pada Rukia. Aku akan menunggu hingga hatiku yakin bahwa Rukia bukanlah orang yang tepat untuk menerima semua rasa bersalah ini.
Tuhan, aku mohon lindungi orang yang aku cintai…
.
.
Dokter Unohana merawatku dan Rukia dengan sangat baik, Byakuya meminta khusus pada pihak rumah sakit untuk menugaskan dokter Unohana untuk menjadi dokter ku dan Rukia. Proses penyembuhanku berlangsung cepat, di samping dokter Unohana yang sangat ahli, aku juga memaksa diriku sendiri untuk lebih cepat sembuh.
Pengamanan di sekitar rumah sakit sudah persis seperti rumah presiden, karena dua orang polisi menjaga kamar Rukia, tepat di depan pintu kamarnya, sekalipun mereka tanpa seragam, mereka tampak sangat mencolok, sepanjang waktu berdiri di depan kamar Rukia, bergantian dan terus menerus. Rumah sakit pun memasang detector untuk mencegah peneror menyusup, bahkan jumlah CCTV ditambah hingga luar biasa banyak. Aku bersyukur karena Byakuya, pengaruhnya sebagai seorang bangsawan sungguh besar pada dunia kepolisian.
Genap dua minggu berlalu sejak hari itu, hari- hari awal kami berada di rumah sakit, tidak ada ketenangan sama sekali. Tidak bisa sekalipun aku memejamkan mata, aku takut meninggalkan Rukia sendirian, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam satu kamar rawat bersama Rukia.
Ulquiorra, dan Byakuya menjadi pengunjung tetap Rukia, sementara Yuzu dan Karin tidak pernah absen menemani Rukia setiap kali mereka memiliki waktu kosong. Setelah memasuki minggu kedua, tambah satu lagi pengunjung tetap Rukia, dan yang satu ini sangat janggal bagiku, Jendral Ichimaru selalu hadir sekalipun hanya beberapa menit dalam sehari.
Aku selalu menanyakan alasannya, namun alasan yang ia paparkan sangat kuat hingga tidak ada celah bagiku untuk melihat letak kejujuran atau kebohongan dari kata-katanya. Dia memiliki anggota yang selalu bekerja di rumah sakit, menjaga dan mengamankan kami, dan itu menjadi alasannya hadir setiap hari di rumah sakit, untuk memastikan kinerja anggotnya. Aku tidak bisa membantahnya lagi.
Ditambah lagi Byakuya sangat mempercayai Jendral berambut silver itu, dan tidak ada lagi cacat yang mungkin terbaca dari kesempurnaan seorang Kepala Kepolisian penuh prestasi itu.
Dokter Unohana menyampaikan padaku bahwa kandungan Rukia semakin baik, dan kemungkinan besar anak kami dapat bertahan, aku bahagia sekali saat mendengarnya, namun Rukia hanya tersenyum tipis, kesedihan masih terus membayanginya tanpa akhir, sejak malam mengerikan itu dia terus terlihat pucat, tanpa nafas kehidupan, aku berusaha menghiburnya namun raut wajahnya tidak sedikitpun membaik.
Renji rutin datang ke rumah sakit, selain untuk menjengukku, juga untuk membawa beberapa dokumen kantor yang harus aku tanda tangan, terkadang ia datang bersama Tatsuki, dan Keigo.
Teman lama kami datang menjenguk kami setelah berita tentang kami dimuat besar-besaran oleh media. Sekalipun Byakuya sudah menghadang para wartawan, tetap saja kebutuhan mereka untuk menaikkan oplah jauh lebih besar, hingga mereka mencari berita, atau lebih tepatnya mencari-cari berita.
Hanya satu hal yang hingga saat ini sangat aku sadari. Aku sangat bersyukur karena Tuhan masih mempercayai kami untuk menjaga anugerah Nya.
Hari ini aku membawakan soup untuk Rukia, karena menurut dokter Unohana Rukia hanya sedikit mengonsumsi soup yang disediakan rumah sakit, bahkan secara tidak sadar Rukia sudah mengurangi asupan gizi untuk dirinya dan kandungannya. Aku ngeri dengan kondisi kritis seperti ini.
Aku memerhatikan dua orang pengawal di depan pintu kamar Rukia, hari ini adalah dua orang yang aku lihat di hari pertama kami masuk rumah sakit, kami selalu merubah pengawal untuk mengacaknya, agar para peneror itu tidak bisa menebak siapa orang yang bisa mereka serang, tapi yang jelas kesemua pengawal itu adalah anggota kepolisian yang terbaik.
"Selamat siang, Mr. Kurosaki?" sapa Jendral Ichimaru yang berdiri santai di depan ranjang Rukia.
Aku menenglengkan kepala agar bisa melihat Rukia langsung, dan betapa kagetnya aku saat mendapati Rukia membelalak sambil mencengkram selimutnya, dan disaat mata kami bertemu dia malah menunduk dan menyembunyikan wajahnya dariku.
"Apa yang kau lakukan pada Rukia?" tanyaku yang langsung berlari mendekati Rukia, dan memindahkan tempat makan yang ada di tanganku ke atas meja. Aku meraih wajahnya, tapi seketika Rukia menghentakkan tanganku hingga terasa sakit menusuk hatiku. Dia menolakku.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya singkat.
"Jendral! Apa yang kau lakukan padanya?" seruku, melampiaskan kemarahanku.
Jendral Ichimaru berbalik dengan sangat lambat, mengulur kemarahanku yang semakin memuncak.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menjenguknya, dan sekarang aku ingin pamit. Semoga istri Anda cepat sembuh, Mr. Kurosaki."
Dia pun pergi, menjawab pertanyaanku dengan kebohongan yang sangat jelas di suaranya.
"Jendral!" Aku berusaha mengejarnya, namun aku merasakan sebuah tangan menahanku, menariknya dengan sangat kuat, bahkan aku terhempas satu langkah ke belakang. Aku menoleh pada Rukia, lagi-lagi terkejut karena tenaganya yang begitu kuat.
"Jangan kejar dia, dia memang tidak melakukan apapun padaku. Apa kau membawa sesuatu untukku, Ichigo?" Rukia mengucapkan kalimatnya seiring dengan senyum lebar yang berusaha ia yakinkan padaku, namun aku tau dia sedang memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Aku tidak ingin memaksanya lagi, dia akan tutup mulut, aku tau dari wajahnya, karena itu aku memilih untuk menarik napas panjang dan meredakan emosiku sendiri, lalu meraih tempat makan dari meja di sebelah ranjang Rukia. Rukia duduk dan menurunkan kakinya hingga menggantung di sisi ranjang, tampak sangat tertarik dengan isi kotak makan yang aku bawa.
Ku buka kotak makan, berisi soup yang aku sempatkan untuk memasaknya tadi pagi sebelum berangkat ke sini, untuk mengambil beberapa pakaian Rukia di rumah.
Aku memberikan sendok pada Rukia, dan menyodorkan kotak makan padanya.
"Makanlah, dokter Unohana bilang kau kurang makan sayuran akhir-akhir ini, itu tidak baik untuk kandunganmu," kataku saat ia ragu-ragu menerima sendok pemberianku.
Rukia yang sudah bisa bersenyum penuh ke-pura-pura-an sekarang kembali memasang wajah sedih, aku merasa sudah menikahi seorang aktris hebat saja. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali tersenyum dan mulai menyantap soup buatanku, awalnya dia menciumnya, tapi sepertinya setelah memastikan tidak bau sayuran baru dia mau memakannya. Ternyata dia tidak amnesia untuk urusan ini.
"Apakah kau akan terus tinggal di rumah sakit?"kataku. Rukia berhenti sejenak, menatapku, "Dokter Unohana bilang kondisimu sudah sangat baik, hanya perlu periksa USG lebih rutin untuk memastikan kondisi bayi dalam kandungan," lanjutku.
Rukia kembali menyantap soupnya, kali ini banyak sekali, seperti tengah mendorong sesuatu yang sedang menyumbat tenggorokannya. Matanya menerawang melihat soup yang tinggal setengah itu, cukup singkat baginya menghabiskan setengah dari isinya.
"Apakah kau sangat mencintaiku, Ichigo?" ucapnya tiba-tiba.
Aku menautkan alis dalam-dalam, mempertanyakan maksud kalimat Rukia dalam hatiku sendiri. Bukankah mengenai hal itu, Rukia sendiri yang paling jelas jawabannya, dan aku tidak perlu menjabarkan kembali apa yang aku rasakan padanya.
"Aku hanya ingin memastikan, dan… soup buatanmu enak!"
Aku semakin mengerutkan alis, tidak mengerti dengan perubahan suasana hatinya yang sangat acak ini, setiap detik ia membuatku bertanya-tanya. Tapi aku cukup tenang karena Rukia menghabiskan seluruh soup hingga tetes terakhir, aku cukup senang karena dia sangat menghargai masakan yang aku buat.
"Aku ingin istirahat, kau bisa tinggalkan aku sendiri?" ucap Rukia setelah meneguk minum satu gelas penuh.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar," jawabku seraya bangun dari kursi.
"Tidak usah menungguku, Ichigo. Kau bisa pergi sesuka mu."
Entah mengapa aku menangkap makna lain dari kata-kata Rukia, dia mengatakannya dengan wajah bermuram kegelapan, aku sudah hendak meraih tangannya lagi, tapi lagi-lagi ia menghindari ku.
"Istirahatlah," gumamku seraya mengecup dahinya, dan kali ini dia tidak sempat menghindar, tapi matanya menatap sudut ruangan, kosong tanpa ekspresi, aku merasa seperti tengah mengecup patung pahatan saja.
Aku melangkah keluar kamar dan berpapasan dengan Ulquiorra, dia berdiri tenang dengan tangan tersimpan rapi dalam saku celananya, dan langsung menegakkan diri saat melihatku.
"Aku perlu bicara denganmu, Ichigo."
Ulquiorra mengajakku ke kantin rumah sakit, dan dia memilih tempat paling pojok, jauh dari keramaian, sementara tiga orang pengawal mengikuti kami di belakang, yah, mau tidak mau aku harus membiarkan mereka terus berkeliaran di sekitarku, karena nyawaku sendiri sedang dalam incaran.
Kantin tidak terlalu ramai. Saat kami duduk dan memesan dua gelas kopi, seorang pelayan menyajikannya dengan segera, hanya ada beberapa orang yang mengantri dengan membawa kupon di meja prasmanan. Seorang pelayan meja prasmanan, melirikku dan tidak sengaja mata kami bertemu, dia tersenyum lemah, senyum iba yang ia tujukan padaku.
"Mengenai apa?" tanyaku saat Ulquiorra terdiam cukup lama, entah apa yang ia tunggu untuk bicara, padahal dia yang tadi mengajakku.
"AS, aku baru saja membaca berita di sebuah surat kabar, dan wartawan surat kabar itu menyelidiki sejarah AS, beserta anggotanya." Ulquiorra menegakkan posisi duduknya, memberi kesan jauh lebih kaku padanya.
"Lalu?"
"Aizen Sousuke memang sudah meninggal dalam kecelakaan mobil, namun para anggotanya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Para anggotanya, Syazel dan Ggio memang masuk penjara, lalu Kaien meninggal karena diserang segerombolan orang, Rukia, lalu yang terakhir adalah Gin."
Aku merasakan telingaku berdenging hebat setiap kali mendengar nama itu, membuat tenggorokanku gatal, entah karena apa.
"Ada apa dengan orang bernama Gin itu?"
"Tidak ada satupun catatan mengenai dirinya, apakah kau percaya ada orang yang menghilang begitu saja tanpa ada catatan di pemerintah maupun kepolisian?" tanya Ulquiorra, dan aku mengendikkan bahu, karena aku sendiri tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi.
"Kau bilang Gin yang memerintahkan semua anggota AS untuk menangkap Rukia, kan?"
Aku mengangguk.
"Aku curiga, dan akan menyewa detektif untuk menyelidiki hal ini," kata Ulquiorra.
"Kau benar. Kenapa aku tidak pernah terpikir untuk melakukan hal itu sebelumnya," jawabku, menyesali kelalaian ku dalam hal ini, bahkan Ulquiorra sendiri yang berinisiatif melakukan hal ini.
"Aku melakukan hal ini karena kepolisian terlalu lambat, dan aku tidak ingin hal yang lebih buruk lagi menimpa Rukia," jelasnya.
Dia masih mencintai Rukia. Itu lah yang hatiku serukan saat ini. Ulquiorra masih cemas pada Rukia, dia tidak ingin Rukia terluka, namun ia juga bisa bersikap sangat gentle dengan tidak memaksakan cintanya pada Rukia, bahkan berlapang dada untuk ku dan Rukia.
"Kau akan mendapatkan istri yang baik, Ulquiorra."
Ulquiorra mengerutkan dahinya, dan aku menjawabnya dengan sebuah senyuman tulus seorang sahabat.
"Kau baik, dan aku percaya kau akan mendapatkan seorang pendamping yang baik untukmu. Aku tidak berharap selamanya kau akan menjadi Si Bujang Es!" kataku mencoba bercanda dengannya.
Tapi yang aku dapatkan malah sorot mata tajam, jauh lebih tajam dari pisau tukang daging manapun, dan dia siap mengulitiku dengan tatapannya itu. Ku kira dia tidak suka dengan sebutanku ini.
"Aku hanya bercanda, Ulquiorra," desisku saat ia membuka mulut untuk membalasku.
"Jangan pernah bercanda denganku, Mr. Kurosaki," sahutnya yang kembali ke normal.
Kami melanjutkan acara minum kopi kami, mendiskusikan detektif mana yang mungkin bisa kami sewa, detektif yang profesional dan bisa diandalkan. Akhirnya pilihan kami jatuh pada Tia Harribel, seorang detektif wanita yang sangat mencolok dengan caranya berpakaian. Aku sendiri tidak terlalu respect dengan wanita ini, karena aku tidak bisa meyakini seorang wanita dengan penampilan extra sepertinya dapat mencari informasi yang kami butuhkan, tapi Ulquiorra yang sudah sering menggunakan jasanya dalam mencari informasi tentang para kliennya, sudah mempercayakan Tia Harribel sepenuhnya.
Aku tidak dapat membantah lagi, karena bukti yang paling konkrit sudah terpampang, dan sekarang tinggal menunggu perkembangan penyelidikan dari jati diri seorang Gin.
.
.
Keesokan harinya aku berniat membawakan soup lagi untuk Rukia, tapi belum apa-apa Rukia sudah berpesan untuk tidak membuat apa pun untuknya, dia meneleponku dari line telepon rumah sakit, suaranya kering dan datar tanpa emosi, hingga aku menduga dia sekali lagi sedang beracting padaku.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjenguknya tanpa membawa apapun, kali ini rasanya hatiku sedikit lebih tenang, lagi-lagi hasil USG Rukia menunjukkan kondisi yang baik, bahkan aku bisa melihat gumpalan di layar USG sudah jauh lebih besar dari yang terakhir kali aku ingat.
Di lapangan parkir aku parkir tepat di samping mobil Jendral Ichimaru, aku sangat mengenali mobilnya setelah berulang kali dia datang menjenguk Rukia, mobil Mustang dengan warna hitam mengilat, cukup mencolok untuk Jendral sekelas dirinya. Aku merasa kalah start, karena dia bahkan hadir jauh lebih pagi dariku.
Aku sampai di koridor menuju kamar Rukia, dan tidak sengaja melihat lima orang anggota kepolisian sedang mendiskusikan sesuatu di sebelah pintu kamar Rukia, mereka bergumul membentuk lingkaran. Rutinitas mereka setiap pagi untuk mengubah strategi patrol mereka, sengaja aku tidak ingin menginterupsi dan terus saja jalan menuju pintu kamar Rukia.
Kaki ku kontan berhenti melangkah.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada apa yang tengah aku lihat sekarang, dan aku merasakan kaki ku justru membeku tak bergerak, tak dapat lagi digerakkan karena melihat apa yang ada di balik pintu yang handlenya tengah aku genggam erat-erat.
Mataku membelalak dan menolak untuk berkedip, karena tepat dihadapanku sekarang aku melihat Rukia sedang berciuman dengan Jendral berambut silver yang baru saja melintas dalam benakku. Jari-jari kurusnya terbenam di rambut Rukia, melumat bibir Rukia sementara Rukia hanya terdiam dengan mata terpejam.
Kemarahan, sesak, sakit, kebencian, semuanya meracuni otak ku, membawa ku menyeret langkahku masuk, dan tanpa aba-aba lagi aku merenggut seragam BAJINGAN itu, dan langsung menghantamkan tinjuku yang penuh kebencian ke rahangnya.
"BANGSAT!" umpatku, dan kembali meraih kerah seragamnya, memaksanya kembali menghadapiku dan aku mendaratkan pukulan lain, melampiaskan kemarahanku yang membara panas membakar seluruh tubuhku.
Dia tidak melawan, malah tetap memasang seringai kebanggaanya, dan dia salah besar, karena itu justru membuatku semakin marah, dan terus menghantam wajahnya.
"ICHIGO!"
Aku merasakan tamparan di pipiku, dan melihat Rukia berdiri di sisiku, membuatku melepaskan cengkramanku di kerah seragam Jendral Ichimaru. Sekujur tubuhku kaku, hilang semua kemarahan yang mendarah daging itu, melihat Rukia yang menatap ku, seperti seseorang yang akan menangis, dia mengepalkan tangan yang baru saja ia gunakan untuk menamparku.
"Rukia?" bisikku tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Kelima orang anggota tadi menerobos masuk, bersiap dengan senjata di tangan mereka, siap untuk menembak siapapun penyebab keributan ini, namun mata mereka kembali lemah saat melihat hanya ada pimpinan mereka, aku dan Rukia dalam ruangan ini.
"Ada apa, Jendral?"
"Kami baik-baik saja, dan apapun yang terjadi, lanjutkan tugas kalian," kata Jendral Ichimaru tenang, dia hanya menghapus jejak darah di rahangnya dengan punggung tangan, seperti pukulanku hanya hantaman bantal saja untuknya, dan kemarahan dalam diriku kembali bangkit.
Para anggota masih memerhatikanku saat mereka berjalan keluar untuk meninggalkan kami bertiga dalam ruangan.
"Kau-"
"Cukup, Ichigo!" teriak Rukia dengan tangan berada di dadaku, menghadangku untuk maju lebih jauh untuk menghajar Jendral tak bermoral itu. Aku berusaha menepis keberadaan Rukia dari jarak pandangku, dan menatap Jendral menjijikkan itu.
"Kau mencium istriku! ISTRIKU! Kau ORANG TAK BEROTAK!"
Jendral Ichimaru tersenyum lebar, aku sudah akan menerjangnya lagi, tapi Rukia lagi-lagi menghalangiku, aku kesal melihat sikapnya yang justru melindunginya.
"Minggir, Rukia!" hardikku tidak sabar, rasanya aku ingin mendorong Rukia jauh-jauh dariku, tapi aku ingat kandungannya.
"Aku yang membiarkannya menciumku!" seru Rukia keras.
Seluruh hatiku hancur seketika, denyut jantung dalam diriku samar menghantam rusuk dan meremukkan semua pertahanan dalam diriku, sesak ini jauh lebih menyiksaku, sakit, sangat sakit hingga menghujam berulang kali. Seluruh tenagaku hilang, tidak ada lagi pertahanan dalam diriku, seluruh duniaku berguncang. Aku melihat Rukia meraih tangan Jendral Ichimaru, tangan kotor yang sudah menyentuh Rukia.
"Kau pergilah, aku akan menyelesaikannya dengan Ichigo," bisik Rukia dengan gerakan tangan mendorongnya untuk pergi.
"Baiklah," kata Jendral Ichimaru dengan tangan kembali terulur dan mengelus pipi Rukia sebelum melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Rasanya ingin aku potong tangan hina miliknya itu. Beraninya menyentuh istriku, tapi Rukia malah diam, seolah menerima semuanya.
Adakah sesuatu yang tidak aku mengerti diantara mereka? Apa yang terjadi pada Rukia dan Jendral Ichimaru? Bagaimana mungkin mereka berciuman? Bagaimana mungkin Rukia membiarkan laki-laki lain menyentuhnya? Aku frustasi dan langsung menarik tangan Rukia, menghempaskannya di ranjang hingga ia terbaring kaku.
Sengaja aku memerangkapnya dengan kedua tangan di sisinya, mencegahnya menghindari ku lagi. Aku sangat marah, dan aku tidak akan membiarkannya membuatku merasa terkhianati seperti ini.
"Katakan semuanya! SEMUANYA, RUKIA! Kanapa kau berciuman dengannya?ARGH… SIAL!" aku tidak dapat melampiaskan amarahku selain mengumpat berkali-kali hingga hatiku bisa sedikit lega.
Rukia menatapku dalam, tidak ada kemarahan karena aku sudah menyerapah di depan wajahnya, yang aku lihat malah mata lemah tanpa perlawanan. Emosi ku lumer sedikit karenanya, namun tidak cukup untuk meredakan bahkan menghilangkan bara dalam diriku, kebencian menjilati akal sehatku agar menghajar Jendral itu hingga tak berbentuk lagi.
"Apakah kau akan memukul ku juga?" ucap Rukia setelah sekian lama diam.
"Apa kau berhak?" jawabku dengan gigi rapat menahan ledakan amarah.
"Karena aku menerima ciumannya dengan sukarela."
"RUKIA!" hardikku lagi.
Rukia terpejam dengan tangan menutup telinga rapat-rapat, mungkin suara ku sudah membuat gendang telinganya pecah, tapi aku tidak peduli, yang aku butuhkan sekarang adalah penjelasannya, penjelasan yang akan melegakanku, amat sangat melegakanku.
"Terimalah kenyataan, Mr. Kurosaki."
Aku terbelalak, mendapati nada sinis dari suaranya saat mengucapkan namaku.
"Jangan beri aku kebohongan lagi, Rukia. Kau berbohong, DEMI TUHAN KAU BERBOHONG!"
"Tidak, aku tidak berbohong!" jawab Rukia tanpa menutup telinganya, dan matanya menatapku penuh, tidak lagi menghindari tatapan mataku.
.
.
A/N :
Oh, tidak!
Hatiku sakit sekali saat membuat chap ini, sungguh tidak mampu aku terima sikap Rukia yang seperti itu.
Sini Ichigo sama aku aja ** *diceburin ke air terjun Niagara*
OK lah kalau begitu, aku hanya bisa pasrah menerima review dari Anda semua, hujatlah aku yang sudah membuat Ichigo terluka seperti ini *pundung ke pojokan*
I don't know if I can do this, but…
Keep The Spirit On, Minna-san
