Title: Friends, Family, and Love
Disclaimer: Persona Series bukan punyaku. Kalo punyaku ini sudah kujadiin FES-nya. -dilempar ke jurang-
A/N: Di penghujung chapter ini nanti bakalan ada jawaban kuisnya. Di penghujung, lo! supaya jadi kejutan gitu, hehe. -gaje- Enjoy!
--Yasogami High School--
Yosuke Hanamura— seorang pemuda berambut oranye sedang membuka lokernya, dan saat itu, sebuah surat dengan amplop hijau terjatuh dari dalamnya.
"Apa ini?" ia memungut benda itu dan ketika ia membukanya, ternyata benda itu adalah surat. Surat dengan tulisan tangan kacau yang membelalakkan matanya.
~isi dari surat tersebut~
Maaf bila suratku mengejutkanmu, tapi aku harus mengatakan hal ini.
-Sejak dulu aku mempunyai perasaan spesial padamu, dan kau tidak pernah menyadarinya.
-Dan sekarang, kau lebih memilih Karin daripada aku.
-Padahal dulu, kulakukan apa saja supaya aku bisa berdebat— atau berbicara denganmu.
-Dan aku sangat senang bila kau membalas apa saja yang kukatakan.
-Memang aneh, tapi aku harus mengakui hal ini, bahwa aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan Karin, walaupun Karin adalah adik Souji.
-Ya, kau tidak salah lihat atau apa, apa yang kutulis di atas adalah kenyataan.
-Sesungguhnya cukup satu kalimat saja untuk mengatakan hal ini, tapi aku mau kau tau.
-Bahwa aku menyukaimu— ya, kau, bukan orang lain.
-Kau— Yosuke Hanamura, aku menyukaimu sejak dulu.
-Dan ketika kau membaca tulisan di atas, kau TIDAK sedang bermimpi.
Gadis bodoh,
Chie Satonaka
~back to normal view~
Yosuke membelalakkan matanya sekali lagi, menggosoknya beberapa kali dan memelototi surat tersebut satu kali lagi. Sekarang pikirannya benar-benar kacau, dan ia rasa ia perlu masuk ke UKS sekarang juga, karena saking shocknya ia merasa mau pingsan. Ia terus terpaku di sana dengan pandangan tertuju ke surat tersebut, sampai seseorang menyapanya.
"Ada apa?" tanyanya. Yosuke terkejut dan kemudian berbalik, menemukan sahabatnya sudah berdiri di belakangnya.
"Ti, tidak ada apa-apa...." katanya terbata. Souji mengernyitkan dahinya, memperhatikan kelakuan Yosuke yang tidak biasa itu.
"Surat apa itu?" tunjuknya ke surat yang sedang digenggam oleh Yosuke. Ia buru-buru menyembunyikannya ke belakang badannya.
"Bu, bukan apa-apa!" jawabnya, sekali lagi terbata. Souji, tanpa banyak bicara langsung mengangkat tangan Yosuke dan menyabet surat itu, kemudian membacanya. Yosuke sendiri, saat ini sedang dipenuhi dengan keringat dingin.
"Jadi masalahmu adalah....." Souji menoleh ke arah partnernya itu, yang sedang berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi seperti seseorang yang baru melihat hantu. Ya, pucat. Putih seperti kertas. Souji sedikit sweatdrop melihat keadaan sahabatnya yang terbilang keterlaluan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang surat itu lebih lanjut, melihat kondisi Yosuke yang sepertinya tidak memungkinkan.
-------------------------------------
--3-E Class--
Chie sedang bercakap-cakap dengan Yukiko, mengenai masalah surat itu tentunya.
"Ka, kamu benar-benar mengirim surat itu?" tanya Yukiko kaget. Chie mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang terlontar dari mulut sahabatnya yang bisa dibilang sedang dalam keadaan yang terbalik dengannya.
"Ya, aku mengirimnya. Dia harus tau, seperti apa sebenarnya aku melihatnya," sahutnya ketus, namun raut wajah sedih terlihat di wajahnya. Yukiko menatap iba gadis berjaket hijau itu.
"Aku tidak bisa membayangkan seperti apa wajah Yosuke saat ini...." kata Yukiko yang sweatdrop. Baru selesai ia bicara, masuklah Yosuke dengan Souji di belakangnya, yang kelihatannya telah 'mendorong' Yosuke untuk masuk ke kelas.
"Yo," sapa Souji dengan bahasa yang tidak biasanya, yang membuat semua orang di kelas itu melongo— kecuali Rin yang sedang sibuk mendengarkan lagu dari iPod miliknya.
"Lha, Yosuke kena—" Souji meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh sang ketua kelas untuk diam. Setelah 'meletakkan' Yosuke di bangkunya, Souji mendekati dua gadis yang sedang berbincang itu.
"Aku salut," katanya dengan sebuah senyum yang aneh. "Ternyata kau berani melakukan hal seperti itu." Gadis berambut coklat susu di hadapannya membelalak kaget.
"Ka— kau membaca surat itu?!" katanya shock. Souji terkikik geli, menyebabkan Yukiko yang melihatnya sweatdrop karena menyangkanya sudah gila.
"Yosuke sedang berdiri terpaku di depan lokernya ketika aku lewat," sahut Souji. "Dan karena dia menujukkan gelagat yang aneh seperti itu, aku bisa menebak apa yang menyebabkan kekagetannya," sambungnya. "Yah, di samping itu aku juga membaca surat itu, sih."
Chie dan Yukiko melongo, tidak menyangka bahwa seorang Souji akan berkata begitu. Rin akhirnya bergabung dengan mereka, karena sudah bosan dengan semua lagu yang ada di iPod-nya.
"Sekarang, yang jadi masalah," ia mendudukkan dirinya di sebelah Yukiko. "Harus kita apakan si Yosuke yang sedang depresi di pojokan itu?" pandangan tiga orang lainnya langsung tertuju ke Yosuke yang sekarang sedang menyudut dengan aura-aura tidak enak di sekitarnya.
"Ternyata kau mendengar juga apa yang kami bicarakan," kata Chie yang sudah sweatdrop duluan. Rin tidak menghiraukan perkataan Chie.
"Yah, tidak taulah," ujar Souji yang sepertinya juga kehabisan akal. "Setidaknya, mungkin ia akan terus begitu sampai beberapa hari kedepan."
-------------------------------------
--Yasogami High School – Front Gate--
"Hei, Yosuke-senpai kenapa?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Rise, begitu ia melihat senpainya itu berjalan dengan langkah gontai di depan mereka.
"Tau, tuh...." sahut Kanji yang kelihatannya juga bingung. Chie membuang pandangannya ke arah lain, tidak mau berkomentar soal hal itu. Souji menahan tawanya yang hampir meledak. Sepertinya hari ini Souji sedang kerasukan.
"Heheh," tawanya perlahan. Semua anggota I.S., baik yang lama maupun yang baru— kecuali Karin yang tidak bisa pulang bersama karena masih punya kegiatan, menoleh ke arahnya.
"Sepertinya masalah kita hari ini lebih dari satu," bisik Naoto ke Yukiko yang ada di sebelahnya. "Ada yang aneh dengan senpai...."
"Ah," kata Souji tiba-tiba. "Aku ada urusan, duluan ya!" tanpa berkata lebih banyak, ia langsung meninggalkan teman-temannya. Semua— bahkan Yosuke yang sedang depresi sekalipun melongo melihat ke-OOCan Souji hari ini. Nampaknya keadaan Souji justru lebih parah dari keadaan Yosuke.
-------------------------------------
--Samegawa Flood Plain – Riverbed--
Souji memperhatikan lingkungan sekitarnya, memastikan bahwa tidak ada orang di sana. Kemudian ia pergi ke balik sebuah pohon, dan terduduk di sana.
"....ternyata," gumamnya pelan. "Keadaanku malah jauh lebih parah dari Yosuke."
Ia kemudian menutup mulutnya dan terbatuk, dan setelah ia membuka mulutnya, dapat dilihat olehnya darah segar berwarna merah yang terwadahkan di telapak tangannya.
"Urgh...." erangnya sambil menyandarkan diri di pohon. Kepalanya sakit. Pandangannya buram. "Berakting aneh seperti tadi ternyata susah juga," gumam Souji sambil mengingat kelakuannya di sekolah tadi. Pandangannya semakin buram, dan akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
-----------------------
"....ji..."
"S...ji..."
"Souji...."
Souji membuka matanya perlahan, dan didapatinya Minato tengah berlutut di sampingnya. Souji bangkit, kemudian duduk.
"Uh... apa yang terjadi?" tanyanya bingung. Minato menghela napas.
"Aku mendapatimu tak sadarkan diri di sini...." jawabnya. "Mestinya aku yang bertanya padamu, apa yang terjadi?"
"....itu...." Souji tampak enggan menjawab. Benar-benar enggan. Minato berdiri, kemudian menatap ke langit.
"Yah, aku mengerti bahwa kau tidak ingin membuat siapa pun cemas, tapi tidak seharusnya kau menyembunyikan hal ini dari kami," katanya. "Kau tau, sepulang sekolah tadi Naoto tak henti-hentinya bicara tentangmu."
"....." Souji hanya bisa diam. Dia tau, bahwa yang dikatakan Minato ada benarnya. "....kau benar, Minato-san. Tapi aku...."
"Kau tidak ingin membuat mereka khawatir, benar?" sambung Minato. Souji mengangguk perlahan.
"Aku...." Souji masih belum bisa bicara banyak, selain memang kondisinya yang terbilang lemah, dia memang kehabisan kata-kata.
"....baiklah," ujar Minato tiba-tiba. "Aku tidak akan mengatakan ini pada siapa pun, tapi kau harus berjanji satu hal," katanya sambil menatap tajam Souji.
"Apa?" tanyanya. Minato menghela napas sekali lagi.
"Bila terjadi sesuatu padamu, jangan kau sembunyikan lagi. Yakinlah kami akan membantumu," jawab Minato. Kemudian ia mengulurkan tangannya. "Deal?" Souji tersenyum, kemudian menjawab uluran tangannya.
"Deal," jawab Souji sambil tersenyum. Tiba-tiba muncul Ken, yang membuat kedua pemuda itu kaget.
"Sedang apa kalian berdua di sini?" tanya siswa SMP itu.
"Hanya ngobrol biasa," jawab Minato santai. Kemudian beranjak dari tempat itu. "Sou, sebaiknya kau pulang sekarang. Sebentar lagi gelap, dan keluargamu pasti cemas." Souji hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
Minato pun berlalu. Ken memperhatikan Souji. "Hanya perasaanku, atau Souji-san terlihat pucat?" tanyanya.
"Ah?! A-ah, tidak, kok. Cuma perasaanmu saja, ahahaha," jawab Souji. "Su-sudah ya, aku pulang dulu!" Souji segera berlari meninggalkan tempat itu. Tinggallah Ken sendirian di sana.
"....aneh...." gumamnya. Kemudian ia sendiri pergi meninggalkan tempat itu.
-------------------------------------
--Unknown--
"Selamat datang."
Itulah kata yang diucapkan oleh Suzuka ketika melihat pria yang masuk ke ruangan tempat mereka berkumpul. Pria yang dimaksud itu mengangguk, sambil membenahi topinya.
"Jadi, maukah kau membantu kami, seperti yang sudah kami katakan sebelumnya?" tanyanya langsung. Seekor kucing hitam muncul dari balik jubah pria itu. Pria itu sendir tampak berpikir.
"Bagaimana menurutmu?" pria itu bertanya pada kucing hitam di bawahnya.
"Terserah padamu," sahut kucing tersebut. Pria itu berpikir sejenak.
"Baiklah, sudah kuputuskan," katanya. Kuga yang tidak sabaran langsung menanyainya.
"Jadi, kau akan membantu kami?"
"Tidak."
Kuga melongo mendengar jawaban tegas dari pria itu. Suzuka tersenyum masam. Ryoji sweatdrop di belakang.
"Kau yakin?" katanya.
"Yakin. 1000%," jawab pria itu. Kemudian pria itu berbalik, bersiap meninggalkan ruangan itu. "Oh, dan terimakasih karena sudah membangkitkanku. Sudah, ya," katanya lagi sambil melambai. Kucing hitam tadi mengikutinya dari belakang. Meninggalkan Kuga yang terbengong-bengong, Suzuka yang tersenyum masam, dan Ryoji yang sweatdrop.
"....benar-benar orang yang menyebalkan...." gerutu Suzuka dongkol. "Lihat saja nanti, Kuzunoha-san...."
-------------------------------------
HELL-----------O!! -diinjek Shuu-kun (Tetsuwa Shuujin) karena ngopi salamnya- Akhirnya chapter yang sangat gaje ini jadi juga -___-" sumpah, gaje banget ni chapter. Pertama Yosu, kemudian nyambung ke Sou. Aaaah, saia binguuung -bodoh-
Yak, jadi jawaban kuisnya adalaaaah.... eng ing eng!! -dijitak- RAIDOU KUZUNOHA!! Berarti pemenangnya adalaaaah~ lala-san dan 'T-800' MacTavish!! O iya, lala-san, di review-mu di chapter 10 kan anda milih option D, padahal Raidou itu E ^^;; D itu Jin.... ah, lupakanlah. Apakah tebakan anda benar, Iwanishi-san? Atau saia panggil anda Nana-san aja? Dan untuk lala-san dan 'T-800' MavTavish, silahkan anda ambil hadiahnya berupa dua buah gambar Raidou berhubung saia tidak bisa mengirimkan tiga buah piring cantik kepada anda :D -dijemur- Saia persilahkan anda mengambil gambarnya dari forum PLI, di topik MegaTen Wallpapers atau apalah itu namanya. -dibantai Admin- Maaf kalo anda ternyata sudah punya yak :DD -tak bertanggung jawab-
Di chapter ini, saia mengubah penggunaan bahasanya. Sudah tidak ada lagi kan, SFX -ditendang-, -digiles-, -digiling- dan/atau lainnya di dalam cerita? Karena kalo ada itu jadinya nggak rapi, dan saia baru menyadarinya sekarang -____-" bego banget....
By the way, saia menjadikan Raidou sebagai 'tokoh masukan' di sini padahal saia belum tamat mainin Shin Megami Tensei, Devil Summoner 2: Raidou Kuzunoha vs King Abaddon. Baru pertengahan chapter 1, e kasetnya ilang. Nasib.... TT^TT -curhat gaje-
Anyway, sudikah anda untuk memberi saia review? -ngarep-
