Disclaimer : Naruto_Masashi Kishimoto

Disclaimer : THE MUMMY_ Dhiya Chan

Genre : Romance, Humor, Conflik, FriendShip, Adventure

Pair : Sasuke Uchiha & Naruto Uzumaki

Warning : Shounen_Ai, Yaoi (Pasti!), Lemonan (Ya iyalah!), Ngerusak iman dan Takwa,
Bahasa belepotan, Miss Typo juaranya, Hancur Cerita sudah Langganan.

Dibawah 18 Tahun dilarang keras membaca! Tidak baik untuk kesehatan! Menyebabkan Anemia! Don't Try it Any Where. Kalo nekat baca, ga tanggung jawab ga dikasih jajan ama Ortu!

.

.

.

"NARUTO!" Mata onyx Obito melebar seketika saat melihat sosok pemuda berambut pirang cerah dengan manik biru sejernih lautan tepat berada dihadapannya. Pemuda itu hanya terkikik kecil seraya menampilkan senyum lima jari.

Obito menggeleng pelan, mengusap kedua mata melalui punggung tangan untuk melihat lebih jelas pemuda itu benar-benar Naruto, apa cuma imajinasi saja karna terlalu merindukan sosok pemuda pencinta ramen itu? Entahlah, yang jelas Obito ingin memastikan lebih jauh lagi sebelum mengambil sikap. Memastikan apakah dia 'benar-benar' Naruto, atau hanya orang iseng yang menyamar jadi murid kesayangannya agar ia bisa ikut mencari makam musuh Kaisar bersama Kakashi dan tim arkeolog lainnya?

Memang terdengar sangat konyol pemikiran pemuda Uchiha satu ini, tapi tak ada salahnya kan bersikap waspada. Terlebih saat ini Kakashi berserta teman-temannya mengemban tugas penting, resiko kegagalan misi karna adanya kekacuan yang dibuat Kaisar dan Orochimaru untuk menghentikan mereka seperti waktu dulu masih mengancam setiap saat layaknya bom waktu siap meledak kapan saja. Jangan salahkan Obito bila ia bersikap selektif terhadap siapapun. Ia benar-benar tidak ingin menimbulkan masalah baru karna membocorkan rencana pembangkitan musuh Kaisar ke sosok pemuda mirip dengan Naruto yang bisa jadi itu adalah anak buah Orochimaru sedang menyamar menjadi bocah paling berisik ditim arkeolognya.

"K-Kau..." Telunjuk tangan Obito terarah kearah laki-laki berkulit tan terselimuti jubah panjang warna coklat. "Be-nar..benar, Naru...to?"

Naruto mengkerucutkan bibir, pertanda kesal. Pipi bakpau-nya tampak mengembung, tak suka dengan kata-kata sang sensei berwajah setengah sangar itu. Kedua tangan dibalik jubah pun tampak saling melipat diatas dada. "Apa maksud paman Obito? Aku benar-benar Naruto, kok!"

Obito mematung. Didunia ini yang berani (baca: kurang ajar) memanggilnya dengan panggilan 'Paman Obito' hanya satu orang. Iya... Sosok pemuda yang dikatagorikan periang, memiliki 3 garis halus menyerupai kumis kucing, seluruh inci tubuh terselimuti kulit tan eksotis, surai pirang yang menawan, cengiran lebar tak pernah bosan menghiasi wajah imutnya dan klimaks dari semua pesona yang melekat didiri pemuda itu adalah mata biru sejernih samudra mampu membuat siapapun terhanyut kedalam pusaran langit tak berbatas bila langsung menatapnya. Bukannya Obito bermaksud berlebihan, tapi semua keindahan itu hanya dimiliki satu orang didunia ini, yaitu...

Namikaze Naruto.

"Paman Obi-"

'BRUK!'

Ucapan Naruto terhenti saat Obito mendekap erat pemuda itu ke pelukannya. Membenam wajah Obito diperpotongan leher mungil tak berotot milik Naruto. "Bocah bodoh!" Bisik Obito pelan sembari mengeratkan kedua tangan pinggang ramping Naruto, bermaksud ingin memeluk pemuda itu lebih dalam. "Darimana saja kau?! Kami mengkhawatirkan mu, tahu!"

"Pa-man?" Naruto berusaha mendorong dada Obito untuk menjauh. "Ugh! Se-sak..." Ucap Naruto akhirnya dengan diikuti gerakan kedua tangan memukul-mukul punggung Obito karna tak jua merasakan laki-laki itu akan mengurangi intensitas pelukannya, malah sekarang semakin bertambah dekapannya seakan-akan Naruto bisa menghilang didetik itu juga bila ia lenggah sedikit saja.

"Hn." Dua suku kata dari arah sebelah kiri Naruto cukup membuat aktivitas Obito memeluk pemuda itu terhenti. Meskipun terdengar datar, Obito bisa merasakan aura pekat terasa menghujam setiap permukaan kulit-nya ketika mendengar suara laki-laki itu. Tak betah berlama-lama di intimidasi sosok pria misterius tersebut, Obito dengan lantang mengadahkan kepala seraya membusungkan dada. Ingin menantang pria yang telah berani-berani mengganggu moment penting bersama sang murid.

Mata onyx Obito lagi-lagi terbelalak lebar melihat laki-laki berkulit albaster sedang menyenderkan punggung ke dinding apartemennya. Kaki kanan si pria terkekuk dengan telapak kaki berteger tepat dipermukaan dinding. Sama seperti Naruto, pria tersebut memakai jubah, bedanya jubah yang ia kenakan warna hitam dengan tudung jubah menutupi surai raven kebiruan-nya. "Ka-Kau!" Histeris Obito seraya menunjuk sosok pria bermata onyx.

.

Gedung Kepolisian Konoha (Ruang Analisis Data dan Informasi).

Pemuda rambut pirang panjang nampak sibuk mengutak-ngatik keyboard touchsreen yang menghubungkan layar besar extra besar berisikan sederet angka, beberapa web user yang terbuka diprogram OS Windows XP, dan huruf-huruf aneh seperti symbol. Sesekali pemuda itu tampak menghentikan sejenak aktivitas jari-jarinya bermain diatas keyboard, bermaksud merenggangkan otot-otot yang mulai terasa kesemutan karna terlalu lama memaksakan jari-jarinya menekan tombol keyboard. Tak lama ia pun menyipitkan kedua mata dibalik lensa cekung berteger manis dipangkal hidung, ingin mengamati lebih detai objek-objek tertera di permukaan layar layar monitor. Gumaman tak jelas keluar dari bibir tipisnya, lalu ia kembali fokus menekan tombol-tombol keyboard touchsreen setelah dirasa menemukan suatu ide untuk menyelesaikan kemelut permasalahan yang mendera otaknya. "Ini sudah dibuat menjadi server?" Tangan kiri dilapisi kulit coklat menepuk-nepuk pelan komputer didepan meja kerja-nya. Mata pemuda itu melirik sekilas wanita berada tak jauh di sampingnya.

Wanita dewasa berambut coklat sebahu menggangguk pasti menjawab pertanyaan pemuda itu. "Iya. Kami telah menginstall Linux atau FreeBSD di komputer, lalu kami konfigurasi kan sebagai server. Apa ada masalah?"

Pemuda berkucir ala pony tail itu menggeleng pelan sambil memperbaiki letak kacamata yang melorot sampai ke pangkal hidung. "Tidak. Hanya memastikan saja. Oh ya, apa kalian sudah menginstall Apache atau IIS? Aku ingin meng-konfigurasinya sebagai Web Hacking agar bisa mengunggah file transaksi 3 pembunuh bayaran itu." Mata aquamarie sang pemuda menatap penuh wanita yang juga berprofesi sebagai kepala forensik dikepolisian Konoha.

"Err..." Gumam Rin tak jelas dengan kepala tertunduk. Mensejajarkan diri disamping kepala pemuda yang masih fokus menatap layar komputer. "Semua aplikasi dikomputer kami lengkap. Anda tidak perlu khawatir, semua telah di-Install terlebih dahulu oleh pihak Intelijensi kami yang dipimpin Yamanaka-san. Tapi..." Rin ikut menatap arah pandangan si pemuda ke layar monitor.

"Apa dengan menggunakan aplikasi seperti itu, data yang kita cari bisa ditemukan?" Suara bariton khas seorang laki-laki bergema seantero ruangan dilapisi kaca bening. Kedua manusia diruangan itu pun segera mengalihkan pandangan mata kearah laki-laki dewasa berambut pirang panjang nampak gagah memasuki pintu masuk, selang beberapa detik disusul laki-laki memiliki garis luka disepanjang mata hingga kedagu dibelakang sang pria.

Pemuda itu hanya tersenyum kecil menanggapi nada bicara laki-laki bermarga Yamanaka seperti kurang yakin dengan ucapannya. "Saya tahu anda pasti tidak percaya, saya mengunakan aplikasi standart seperti itu untuk menemukan file yang bahkan aplikasi bergensi seperti netcat pun tidak mampu menembusnya. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu Mr. Yamanaka. Percayalah, saya sedikit mempunyai rencana. Tunggu saja, dalam waktu 15 menit, saya pasti bisa membongkar transaksi tersembunyi dari 3 pelaku." Seru pemuda itu mengacungkan tangan kanan semangat.

Laki-laki terliliti kain hitam dikepala, menaikkan sebelah alis melihat kepercayaan diri sang Uzumaki muda. "Kau yakin?"

"Tentu!" Jawabnya pasti sembari membalikan badan kelayar monitor. "Kelemahan kita sebagai hacker adalah terlalu fokus pada satu aplikasi. Kenapa tidak kita singkirkan saja cara berpikir kuno begitu. Mencoba suatu hal baru mungkin, dengan 2, atau 3 aplikasi sekaligus. Saya rasa, lebih pun tak masalah."

"Maksudmu, kau ingin menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan?" Anggukan singkat terlihat jelas dimata Inoichi. Ibiki memijat pelipis sebelah kanan sembari mengelengkan kepala seirama dengan Inoichi yang telah menghela nafas frustasi. "Bagaimana bisa kau melakukan itu? Apakah kau tahu, bila kita menjalankan aplikasi secara bersama, port dan daemon yang sedang berjalan akan sulit di scan. Gangguan pada sistem IT akan terjadi bila kau terus memaksa menggunakan lebih dari 3 aplikasi. Kau tahu resikonya jika itu terjadi, tuan Uzumaki Deidara?" Tanya Inoichi dengan kedua tangan bersedekap dada.

"Kerusakan fatal pada program yang akan kita lacak, kau tahu itu Mr. Yamanaka." Mata aquamarie Deidara menutup secara perlahan. Bersiap mengeluarkan kata-kata sebanyak mungkin untuk menyanggah ketidak-setujuan Kepala Intelejensi Konoha atas rencananya. "Memang kalau menggunakan aplikasi lebih dari 3 bisa menghambat keamanan jaringan saat melakukan penetration test. Tapi bila kita mampu menyesuaikan aplikasi yang digunakan, program yang dijalankan, dan tools yang tepat. Saya rasa tidak ada masalah."

"Mudah bagimu berbicara seperti itu, anak muda." Sanggah Inoichi sarkastik. "Tidak akan menjadi masalah bagiku, bila kau telah berpengalaman menggunakan beberapa aplikasi secara sekaligus tanpa menimbulkan efek negatif bagi kerusakan Processor komputer kami. Malah aku akan dengan senang hati menyerahkan seluruh komputer ku padamu, kalau memang kau berhasil melakukannya 100% tanpa ada kecacatan sedikitpun. Sebagai anggota kepolisan, keselamatan nyawa seseorang adalah yang utama. Terlebih dalam kasus ini, nyawa orang itu adalah anak dari pimpinan kami."

Laki-laki Yamanaka itu menyenderkan pinggang kesisi meja. Kedua tangan dibalik kemeja coklat yang ia kenakan saling melipat satu sama lain diatas dada. "Namun mendengar kata-katamu yang terkesan seperti hendak melakukan percobaan dengan perbandingan persentase keberhasilan 1:10000 pada kasus ini, jelas aku tidak bisa membiarkan kau melakukannya lebih dari ini." Inoichi menempelkan telapak tangan keatas meja dihadapan Deidara, mata jade-nya terlihat berkilat tajam. "Harus kau tahu, anak muda. Kau tidak bisa bermain-main pada kasus ini seperti kau sedang memainkan sebuah game. Salah sekali, kau bisa mengulanginya secara berulang hingga kau menang. Tapi, disini, didunia nyata. Kejahatan tak bisa ditolerir, salah sekali bisa berakibat fatal. Nyawa tak berdosa bisa melayang. Kau tidak akan bisa mengulanginya karna dari awal, kau sudah game over."

Deidara menghembuskan nafas lelah. "Maaf bila ucapan saya menyinggung perasaan anda, Mr. Yamanaka. Namun harus saya tekankan, profesi saya CIA. Saya tak pernah bermain-main dalam tugas saya. Dan saya telah lama berkecimpung dalam dunia hacker selama 6 tahun. Bukannya bermaksud sombong serta tak percaya dengan kemampuan anda. Anda adalah orang hebat, lebih hebat dari saya dan semua orang tahu hal itu. Tapi dari pengalaman saya menghadapi berbagai macam perangkat web server, telah cukup membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan masalah ini."

Deidara tersenyum lembut, memandang penuh harap pada laki-laki marga Yamanaka itu agar mau mengizinkan untuk menjalankan rencananya. "Saya cuma ingin bilang, percayakan semua ini kepada saya. Saya hanya ingin menemukan sepupu saya secepat mungkin sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya. Mohon pengertian anda, Mr. Yamanaka. Saya tak bermaksud di'ungguli atau meng'ungguli anda. Seperti berita yang anda dengar, kedatangan saya disini cuma ada satu alasan..." Inoichi dan Ibiki terdiam, menunggu penuturan kata dari bocah Uzumaki.

"Menemukan Namikaze Naruto."

Ibiki menatap Inoichi intens, mengisyaratkan ia harus mengambil tindakan untuk mengakhiri semua ini. "Aku tahu, Ibiki." Inoichi mendelik singkat Ibiki melalui ekor mata, mengisyaratkan laki-laki marga Morino agar berhenti melancarkan pandangan tak mengenakkan itu. Inoichi kini balas menatap Deidara. "Lakukan sesukamu, Uzumaki." Deidara hampir saja terlonjak gembira, namun suara Inoichi yang belum sepenuhnya berhenti bicara, mengurungkan niat Deidara berhigh five ria dengan di iringi ucapan terima kasih karna telah memberinya izin.

"Tapi jika sesuatu terjadi pada sistem komputer ku. Kau tanggung sendiri akibatnya."

.

.

Sementara di dalam sebuah mobil FRED warna hitam, 3 laki-laki berbeda warna rambut sibuk bergumul aktivitas masing-masing. Telihat jelas dua dari tiga sosok tersebut duduk dengan tenang dijok kursi belakang. Satu dari 2 laki-laki tersebut yaitu sang pemilik mobil nampak memutar stir kemudi kekiri dan kekanan menembus jalan raya dipenuhi berbagai macam kendaraan lalu lalang dengan mulut komat-kamit menggerutu tak jelas. "Kau gila Naruto! Kau gila!" Begitulah kurang lebih kata-kata yang ia keluarkan.

Sedangkan si lawan bicara a.k.a Namikaze Naruto mendengus mendengar umpatan dilayangkan Obito. Ia sama sekali tak ada niat untuk membalas, toh ia sadar apa yang diucapkan pria itu memang benar adanya. "Apa kau tahu yang kau lakukan saat ini, Naruto? K-Kau membawa dia!" Lagi-lagi telunjuk Obito mengarah kembali ke sesosok laki-laki bersurai raven sedang duduk santai sembari menyederkan punggung disandaran kursi. "Apakah kau tahu, dia ini siapa Naruto? Apa kau tahu siapa laki-laki ini, heh!? Demi Tuhan Naruto, kau berhasil membuatku gila untuk kesekian kalinya! Tingkahmu luar biasa ajaib, harus kau tahu itu." Obito memandang pemuda pirang disamping pria pantat ayam melalui kaca spion tepat diatas kepalanya.

"Iya! Aku tahu siapa dia paman. Jadi berhentilah mengulang kalimat sama. Aku benar-benar pusing mendengarnya~" Rengek Naruto menggaruk pelipis kirinya gemas.

"Jangan panggil aku, paman Naruto. Aku serius! Ini bukan waktunya untuk bermain-main!" Obito mengusap wajahnya kasar, lalu kembali menatap intens jalan raya dihadapannya. Telunjuk tangan kanan tiada henti-hentinya mengetuk-ngetuk setir kemudi berulang kali, tak sabar mendengar penjelasan Naruto mengenai laki-laki pembawa bencana yang ia bawa ke apartemen-nya beberapa menit lalu. "Jika memang kau sudah tahu, kenapa kau bawa ke Konoha?! Bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai kau menyeretku untuk pergi ke kantor polisi dan membawa dia ikut serta bersama kita?"

"Tenanglah paman! Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Ada masalah lebih penting harus kita selesaikan secepatnya!" Naruto menatap fokus layar ponsel yang ia pinjam dari Obito. Berkali-kali Naruto menekan beberapa digit nomor di keypad ponsel menggebu-gebu. Seolah-olah kiamat akan datang menerpa mereka, bila ia telat sedikit saja menghubungkan benda tipis itu dengan seseorang yang sendari tadi coba dihubungi. "Akh! Sial! Kenapa tidak diangkat Tou-san?!" Naruto segera memutuskan sambungan telpon begitu suara sang operator seluler bergema ditelinga untuk memintanya menghubungi beberapa saat lagi karna nomor yang dituju Naruto berada diluar jangkauan.

"Bagaimana bisa aku tenang, bocah! Apa yang sebenarnya terjadi? Kau tahu, jika kita membawa laki-laki ini ke kantor polisi, kita akan dikuliti hidup-hidup oleh ayahmu. Dia itu musuh terbesar Konoha- eh, tidak! Dia musuh besar Universal bertaraf internasional. Aku benar-benar tidak mau mati muda, bung! Hanya karna membantu tawanan kelas dunia menyerang kantor kepolisian Kohona." Teriak Obito melengking tak kalah keras dari suara Naruto yang terus mengumpat tak bisa menghubungi ayahnya.

"Paman jangan teriak begitu, aku jadi semakin panik tahu! Apa tidak bisa ngebut sedikit?! 180 juga tidak apa-apa." Paksa Naruto mengabaikan pertanyaan dari sensei-nya. "Kita harus secepatnya sampai di kantor Tou-san sebelum Kakashi-sensei benar-benar pergi dari Konoha. Nasip kita semua bergantung pada cepat atau lambatnya kita sampai dikantor Tou-san ku." Naruto menekan lagi sederet nomor dikeypad ponsel Obito tergesa-gesa, kemudian menempelkan benda flip itu ketelinga kanan.

"Kau gila, Naruto! 180? Yang benar saja!" Histeris Obito menggeleng-gelengkan kepala. "Kau mau mobilku ditilang apa? Aku tidak punya banyak uang untuk menebus mobil ku kalau sampai itu terjadi bocah! Jangan mengada-ngada!" Obito memutar setir kemudi kearah kiri. Dari arah depan bisa Naruto lihat deretan mobil-mobil beragam variasi berjejer rapi disepanjang jalan.

Naruto terperangah. Melihat kemacetan diruas jalan yang menjadi satu-satunya cara agar bisa sampai dikantor tepat waktu dengan cepat. "Sial! Aku benci hari senin." Obito memukul stir kemudi frustasi. Tubuhnya merosot kesandaran kursi sembari memijat-mijat pelipis kiri.

"Oh Tuhan! Jangan sekarang. Jangan sekarang." Gumam Naruto menekan-nekan tombol diponsel, mencoba menghubungi seseorang secepat mungkin walaupun ia tahu, operator seluler lah menyambut dirinya sesaat lagi. "Akkh! Ada apa dengan Kakashi-sensei? Kenapa dia, Baa-chan dan Tou-san daritadi susah dihubungi. Apa sih yang mereka lakukan! Tidak tahu apa ada masalah jauh lebih penting saat ini!"

"Berhentilah berteriak Naruto!" Suara Obito yang sebelumnya teredam, kini naik lagi menjadi 3 setengah oktaf. "Wajar saja Kakashi tidak bisa dihubungi, dia pasti sudah pergi dengan Tim Arkeolog kita untuk menjalankan tugas dari nona gurbenur. Aku sudah bilang padamu kan sebelumnya. Kenapa kau susah sekali sih diberitahu!"

Kalau boleh jujur, Obito sendiri sangat binggung melihat reaksi aneh dari Naruto (menurut Obito) saat berada di apartemennya beberapa menit lalu. Awalnya, Obito sangat shock mendapati pemuda bermata biru itu membawa laki-laki yang menjadi musuh utama dunia ke kediamannya. Tapi hal itu tak berlangsung lama, sebab Naruto segera mengganti topik lain, menanyakan kenapa Minato dan teman-temannya sulit sekali dihubungi. Sebelum bertandang ke tempat Obito, Naruto menghubungi semua orang-orang terdekatnya. Alasan Naruto cukup sederhana mengapa ia menelpon hampir seluruh kenalannya ditelpon umum pinggiran kota Konoha. Ia ingin minta dijemput. Naruto tidak bermaksud manja, ia hanya ingin menyembunyikan keberadaannya dan juga Kaisar agar tak diketahui anak buah orochimaru yang hampir tersebar diseluruh pinggiran kota Konoha. Karna tak bisa menghubungi teman-temannya, akhirnya Naruto berinisiatif ke apartemen Obito untuk meminta bantuan. Mengingat jarak tempuh tempat tinggal Obito cukup dekat dari semua kediaman teman-temannya. Obito yang mengerti kenapa teman-teman Naruto sulit dihubungi, memberitahu pada Naruto bahwa teman-temannya sedang menjalani tugas penting dari gurbenur yaitu 'Mencari makam musuh Kaisar'. Sejak saat itu, tingkah Naruto menjadi semakin aneh dan berujung pada pemaksaan hingga akhirnya disinilah mereka. Didalam mobil, menuju ke kantor kepolisian Konoha.

Naruto yang entah saat itu sedang emosi pada Kakashi, atau pada kemacetan menghambat perjalanan mereka, ikut (kembali) teriak membalas perkataan Obito. "Paman juga jangan berteriak! Yang dari tadi berteriak siapa? Aku atau paman." Sebut Naruto tak mau kalah.

"Kalian berdua berhentilah saling berteriak seperti itu." Sosok yang sendari tadi diam menonton pertengkaran tak bermutu dari guru dan murid, angkat bicara. "Dan kau. Cepat, lakukan sesuatu agar kita bisa cepat sampai di kantor polisi." Ucap, err... Lebih tepatnya perintah pria disamping Naruto.

Obito berdecih kesal. Meskipun tak suka dengan perintah seenak jidat dari pria itu, namun ia tidak bisa membantah ataupun melawan. Obito sadar, sosok yang ia hadapi ini bukan manusia biasa melainkan iblis yang berwujud manusia. "Ck! Kau ingin kau melakukan apa? Menbrak'an mobilku kederetan mobil-mobil itu, begitu?! Tidak ada celah yang bisa kita lewati, sepanjang jalan mengalami macet total! Dan kabar baiknya, aku tidak tahu kapan kemacetan ini akan berakhir." Yah, meskipun tak suka diperintah. Obito tetap tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Terbukti, walau saat ini yang ia hadapi iblis dari neraka, masih saja sikap tak mau mengalah ala Uchiha ia tunjukan secara terang-terangan.

Sasuke menutup mata sebelah kiri dengan tangan. Tak lama keheningan pun melanda 3 sosok pria yang masih duduk manis didalam mobil FRED hitam, menunggu deretan mobil-mobil sepanjang 300 meter beranjak pergi meninggalkan kawasan jalan utama menuju pusat kota Konoha. "Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan adalah membiarkan musuhku hidup hingga mengambil semua milikku." Sebut Sasuke tiba-tiba dengan nada pelan, nyaris seperti berbisik saking pelannya suara yang ia keluarkan dari bibirnya. Walaupun pelan, Naruto dan Obito masih bisa mendengar dengan baik perkataan Sasuke . Selang beberapa detik, tangan kiri Sasuke semula menutup mata kiri, kini terbuka secara perlahan. Menampakkan mata merah dengan bola mata berbentuk segi enam mengalirkan darah pekat menetes dipipi albaster Sasuke. "Untuk kali ini, tak akan kubiarkan mereka mengambilnya lagi untuk kedua kali!"

'BATTS!'

'DRAK! BRAK! BRAK!'

Bunyi besi terlempar disertai decitan ban bergesekan dengan aspal terdengar nyaring ditelinga Naruto dan Obito. Kedua laki-laki berbeda warna rambut itu hanya mampu terdiam ditempat. Mata seterang langit, dan segelap malam terbelalak lebar melihat mobil-mobil yang semula tersusun rapi dihadapan mereka kini berpindah kesisi jalan raya tepatnya diatas trotoar dikhusukan untuk pengguna jalan kaki. Tak sedikit keadaan badan mobil yang sebelumnya mulus bak porselein, sekarang tampak penyok disana-sini dengan klakson mobil dan bunyi alarm saling bersahutan satu sama lain. Obito memandang horor permukaan jalan terlihat retak dihiasi garis-garis ban mobil menghitam dari bagian tengah jalan sampai diatas trotoar.

"Sa-Sasu-ke, A-Apa yang k-au lakukan?" Naruto memandang Sasuke tak percaya. Mata bulat nan besar itu terlihat berkaca-kaca, tak suka dengan sikap sang kekasih terkesan brutal, seperti tidak punya belas kasihan.

Melihat raut wajah kecewa Naruto, Sasuke segera melingkarkan tangan dibahu pemuda pirang itu. Mata kiri Sasuke perlahan-lahan kembali seperti semula, menjadi onyx sekelam malam menatap lembut tepat dikedua mata Naruto. "Jangan khawatir. Mereka tidak apa-apa. Aku hanya ingin mempermudah perjalanan kita." Naruto langsung mengedarkan pandangan mata kearah jendela kaca, ingin memastikan apa yang diucapkan Sasuke benar atau hanya kebohongan belaka.

"Umm... O-Okey." Setelah yakin tak ada jatuhnya korban jiwa saat Sasuke menyingkirkan mobil-mobil itu menggunakan kekuatannya. Obito memberanikan diri kembali menyalakan mesin mobil.

"..."

"Paman..." Naruto memulai pembicaraan setelah kesunyian menyambut sisa perjalanan mereka. Obito tak menjawab langsung, melainkan bergumam tak jelas merespon panggilan dari murid kesayangannya. "Satu yang menjadi pertanyaan ku saat ini. Kenapa paman bisa mengenali wajah Kaisar? Padahal terakhir kali kalian melihatnya, dia dalam wujud tanah liat kan? Kurasa, dalam wujud seperti itu, wajah Kaisar sekarang sangat sulit sekali untuk diketahui."

Sasuke terdiam. Memang Sasuke merasa sedikit aneh, wajah manusianya bisa dikenali dengan mudah oleh Obito yang notabene hanya bertemu sekali pandang saja dengan dirinya. Itu pun kondisi Sasuke masih terbalut tanah liat. Ditengah keadaan seperti itu, mustahil sekali Obito bisa membaca garis wajahnya dalam beberapa kali pertemuan. Terlebih ketika mendengar cerita dari Naruto tentang riwayat hidup Obito, Sasuke yakin Obito bukan ahli pembaca wajah.

"Nona gurbenur, kepolisian Konoha, dan dewan pemerintahan kota menjalankan suatu rencana untuk menyerang markas Orochimaru dengan dalih ingin menggertak agar posisi mereka tersudut. Dewan pemerintahan berserta Kepolisian tak hanya bermaksud menyudutkan Orochimaru saja agar menyerahkan diri, tapi juga memancing kedatangan Kyuubi."

Alis Naruto menekuk tajam. Binggung mendengar jawaban Obito terkesan tidak nyambung. Naruto bertanya apa, Obito bukannya menjawab, malah bercerita. "Memancing Kyuubi?" Tanya Naruto lagi. Obito menggangguk singkat, tangan kirinya dengan cekatan memasukan gigi satu, lalu menjalankan mobil dalam kecepatan sedang. Naruto menggelengkan kepala pelan, pandangan matanya menatap intens Obito yang tengah menyetir. "Tapi untuk apa?" Tuntut Naruto.

"Menangkap Kyuubi menggunakan segel pengikat yang tertulis di artefak klan Uzumaki. Mereka ingin memisahkan Kyuubi dariku agar lebih leluasa menyerang, itu inti penyerangan yang mereka lakukan, Naruto." Sahut Sasuke tiba-tiba.

Obito mengganggukan kepala, tanda mengiyakan. Sejujurnya, Obito cukup terkejut dengan pemikiran Sasuke yang begitu cepat menganalisa permasalahan meski ia baru setengah menceritakan masalah itu. Ia jadi semakin ngeri saat menyakini tingkat kejeniusan Sasuke setara dengan klan Nara dan juga Namikaze yang sepenuhnya merancang ide-ide gila tersebut. Entah ia harus bangga atau takut pada kakek buyutnya itu, ia pun tidak tahu.

"Lalu, apa hubungannya rencana menangkap Kyuubi dengan wajah Sasu- maksudku, Kaisar?" Naruto menatap Sasuke dan Obito penuh keingin-tahuan.

"Karna target mereka saat itu adalah Kyuubi, nona Tsunade dan ayahmu sepakat untuk menyiapkan tentara berkapasitas besar. Tak hanya melibatkan hampir sebagian besar kepolisian Kohona saja. Angkatan laut, darat, dan bahkan anggota FBI pun ikut berkerja sama. Singkat cerita, dari berita yang kudengar, 137 orang pasukan elit diturunkan. 134 tewas, 2 kritis, dan satu orang mengalami luka cukup berat dibagian tulang rusuk. Satu orang saksi yang masih hidup itu adalah anggota FBI, dan dia..." Obito berhenti sejenak, sembari menghela nafas panjang. "...adalah orang yang menyebarkan sketsa wajah Kaisar melalui tim analisis wajah kepolisian Konoha."

Mendengar penjelasan Obito, entah mengapa lidah Naruto terasa kelu untuk berbicara. Bagaimana Naruto tidak shock? Sasuke seakan dicap sebagai penjahat kelas kakap hingga melibatkan dunia. Bahkan orang-orang terdekatnya berlomba-lomba ingin melenyapkan Sasuke dari muka bumi. Tentu saja Naruto terasa terpukul. Sasuke orang baik, ia tidak bersalah seperti yang selama ini mereka tuduhkan. Bagi Naruto, Sasuke hanya terjebak. Terjebak diantara orang-orang rendah seperti Shimura dan Orochimaru hingga menyebabkan ia ikut terkena dampak negatif akibat bualan busuk mereka. Entah kenapa, bila mengingat ketidak-adilan nasip yang mendera Sasuke membuat hati Naruto terasa terbakar. Terbakar akan semangat ingin membersihkan nama kekasih dengan menemui satu-satunya 'pihak' yang bisa menghentikan semua kemelut masalah ini. "Obito-sensei, bisa cepat sedikit?"

Tanpa basa-basih, Obito menginjak kuat pedal gas hingga mobil miliknya melaju menembus jalanan yang telah lenggang tidak lagi dihinggapi kemacetan begitu mendengar sang murid tak lagi memanggilnya dengan sebutan 'paman'. "Ngomong-ngomong," dengan kecepatan diatas 120 km/jam, Obito segera membanting setir kemudi kesebelah kanan. Membuat mobil yang mereka tumpangi menukik ekstrim begitu melihat rambu-rambu lalu lintas berdiri indah diatas trotoar membentuk gambar panah mencuat tajam kearah kanan. Mobil yang dikendarai Obito berdecit hebat, membentuk kemiringan belokan 160 derajat dengan body belakang mobil hampir menabrak trotoar pembatas jalan. "Kalau kalian tak keberatan. Boleh cerita sedikit, kenapa kalian berdua ingin sekali mengagalkan rencana nona gurbenur menghidupkan bangsawan Shimura?" Tanya Obito disela-sela keringat dingin mengucur karna hampir saja menabrakan diri ke pembatas jalan.

"..."

Tak ada jawaban baik Naruto dan Sasuke, Obito pun tak keberatan untuk melanjutkan lagi perkataannya. "Memang ku akui, aku juga tidak begitu setuju dengan keputusan nenek tua itu. Tapi, jika kalian memberitahukan ku alasan kalian, mungkin aku bisa sedikit membantu. Walaupun kenyataan-nya, aku cuma bisa membantu menjadi supir kalian."

"..."

"Hey-hey~! Cerita sedikit tak apakan? Lagipula, aku butuh sedikit kejelasan kenapa kalian menyeretku hingga mengendarai mobil bak orang gila begini?!" Gusar Obito sendari tadi tak mendapat satupun jawaban dari Naruto maupun Sasuke.

Naruto menghela nafas panjang. Pemuda berkulit tan itu menatap laki-laki disampingnya dalam, seperti ingin meminta izin. Mengerti maksud tatapan Naruto, Sasuke menggangguk kepala singkat. Mempercayakan pembicaraan ini, kekasihnya lah yang mengambil alih. "Aku..." Gumam Naruto dengan nada menggantung. "Sebagai salah satu bagian tim Arkeolog, tidak bermaksud untuk menghalang-halangi atau menghancurkan mimpi teman-temanku yang mendambakan untuk mengungkap misteri mengenai situs warisan terbesar dunia. Tapi harus kalian tahu, aku punya alasan tersendiri mengapa melakukan semua ini." Obito memilih diam. Ia benar-benar mengerti, Naruto bukan tipe orang yang sembarangan bertindak tanpa alasan logis. Walaupun dibeberapa kesempatan, bocah pirang itu sering melakukan hal-hal konyol. Tetapi ia tak pernah melihat Naruto seserius ini dalam mengambil sikap. Obito sangat yakin, apa yang ingin Naruto lakukan ada hubungannya dengan masalah yang menjadi buah bibir banyak orang.

"Aku dan Kaisar bukannya ingin menghentikan Kakashi-sensei dan tim arkelog lainnya." Sasuke segera memegang erat jemari tangan Naruto, bermaksud memberi kekuatan pada sang kekasih agar bisa mengungkapkan kebenaran pahit yang dulu mereka alami. "Kami... Hanya ingin menghentikan iblis. Iblis yang telah menyengsarakan aku, Kaisar, dan orang-orang terdekatku diwaktu dulu. Iblis yang sebenar-benarnya..."

.

"Brengsek kau, Sasori! Kau benar-benar brengsek!" Begitulah makian yang terus dikumandangkan sosok pemuda berambut hitam sambil melangkah melangkahkan kaki tergesa-gesa dikoridor kantor kepolisian Konoha. Tak banyak orang-orang yang berlalu dikoridor tersebut memandang heran si Uzumaki muda karna tiada henti-henti menggerutu dengan kata-kata tak pantas untuk diucapkan seorang pejabat kepolisian seperti dirinya.

Sedangkan si lawan bicara berdiri tak jauh disamping pemuda berkulit putih itu, meringis pelan menahan sakit disudut bibir akibat pukulan telak dilayangkan Menma sebanyak 5 kali ketika akan membalas segala umpatan dikhususkan Menma padanya beberapa detik lalu. "Aku tahu, aku memang orang yang brengsek. Kau sudah mengatakannya lebih dari 60 kali sejak 11 menit yang lalu, Menma." Sasori berjalan tertatih-tatih menahan sakit dibagian ulu hati karna diserang oleh Menma.

"Iya, itu sebelas menit yang lalu dan 11 menit kedepan akan kupastikan peti matimu sudah sampai disini tepat pada waktunya, bung!" Gerutu Menma sadis menatap tajam pemuda berkulit Ivory itu.

"Baiklah aku minta maaf padamu, tapi harus kau tahu. Ini bukan sepenuhnya salahku, Kids. Aku benar-benar tidak tahu kalau pemuda pirang itu adalah adik sepupumu." Sanggah Sasori mengusap darah disudut bibir yang ia yakini kulit pipinya telah membiru mengingat kekuatan pukulan Menma. "Kupikir, dia salah satu bawahan Orochimaru. Mengingat saat itu ia bersama dengan Kyuubi. Ditambah, pihak anggota kepolisian kalian pada waktu itu seperti tak mengenal dia. Jika mereka memberitahukan dari awal padaku kalau dia adalah putra Komisaris Jendral, aku tak akan sesungkan itu menembak kakinya."

Menma mengeram marah. Yah, begitu mendengar cerita dari Sasori perihal penangkapan Kyuubi disertai kemunculan Naruto dan dibumbui insiden tembak-menembak. Menma seketika meradang, terlebih Sasori dengan lugasnya memberitahu padanya bahwa dia menembak kaki Naruto menggunakan senjata laras panjang. Tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana emosi pria berumur 22 tahun itu mendapati fakta nyawa sepupunya hampir melayang ditelan puluhan bola meriam atas perintah Sasori. Pukulan demi pukulan hinggap diwajah tampan Sasori sebagai bentuk pembalasan telah berani melukai adik kecilnya. Sasori pun tidak melawan ketika Menma memukulnya. Ia sadar, ia pantas mendapat pukulan itu karna telah membuat putra Komisaris Jendral yang ia hormati terluka.

Menma paham, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anggota kepolisiannya dan juga Sasori yang tak mengenal Naruto. Salahkan bocah pirang itu tak pernah mau datang bila diajak ke pesta yang diselenggarakan ayahnya dengan seluruh para anggota kepolisian. Wajar saja bila kepolisian Konoha saat menangkap Kyuubi, tidak mengenal siapa itu Naruto. 'Damn you Naruto!' Batin Menma miris. Jika saja Naruto lebih sering menampakkan diri pada bawahan Minato, pasti saat ini Naruto telah berkumpul bersama mereka tanpa harus khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa pemuda cantik itu.

"Aku harus memberitahu Deidara juga Minato Ji-san!" Menma bergegas melangkahkan kaki mendahului Sasori.

Sementara itu, diruang Intelijensi Kepolisian Konoha.

Deidara masih sibuk menekan berbagai tombol diatas keyboard touchsreen dengan kecepatan tinggi. Mata aquamarie-nya bergerak liar mengamati detail sederet huruf dan symbol dipermukaan layar monitor. Tak hanya Deidara saja, Inoichi pun nampak sibuk di barisan seperangkat komputer dari arah kiri, ikut mengutak-ngatik tombol keyboard.

"Ibiki, apa sudah siap?" Inoichi mengalihkan pandangan mata kearah Ibiki yang sedang memasangkan beberapa kabel disebuah perangkat elektronik berukuran 30x25 cm. Ibiki menggangguk pasti menjawab pertanyaan Inoichi.

"Baiklah, kita mulai sekarang." Ucap Deidara merapikan kembali kacamatanya yang melorot. Ibiki, Rin, dan Inoichi langsung mengerumuni Deidara. Pemuda berambut pirang itu mengarahkan mouse kesebuah icon disisi kiri dekstop.

"Bila kita mengaktifkan aplikasi secara bersamaan lebih dari 3. Program akan bersifat secara aktif dan pasif. Bila secara aktif, struktur langkah-langkah yang akan dijalankan adalah portscanning, network mapping, OS Detection, application fingerprinting. Semua itu bisa dilakukan menggunakan toolz tambahan seperti nmap atau netcat untuk menyeimbangkan aplikasi yang kugunakan. Secara pasif-nya langkah-langkah yang dijalankan, mailing-list (jasakom, newbie_hacker, hackelink, dsb), via internet registries (informasi domain, IP Addres), dan Website yang menjadi target." Setelah menjalankan langkah-langkah yang ia sebutkan disertai gerakan jari-jari tangan menekan tombol-tombol keyboard. Deidara pun mengakhiri ritualnya dengan menekan tombol enter melalui jari telunjuk tangan kanan sebagai prosesi akhir.

Layar ekstra besar dihadapan mereka menampilkan icon jam pasir dengan tulisan loading selama beberapa saat. Inoichi, Ibiki, serta Rin menatap penuh kebimbangan. Jelas mereka bimbang, bagaimana kalau rencana yang dijalankan Deidara tidak berhasil? Bagaimana kalau data yang mereka inginkan ternyata tidak bisa ditembus seperti hari-hari sebelumnya? Bagaimana bila yang mereka dapatkan nanti kerusakan pada sistem komputer bukan data keberadaan Naruto? Semua ketakutan itu terus menjalar dihati mereka karna icon jam pasir pada layar besar dihadapan mereka tidak juga berganti.

"Apa akan berhasil?" Bisik Rin menatap Deidara. Pemuda itu hanya mengganguk singkat sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangan kiri. Ibu jari tangan kanan Deidara nampak ia gigiti untuk menetralisir kegugupan yang melanda.

'ONE FILE FOUND'

Inoichi dan Ibiki menyerukan kemenangan dengan mendesis lega saat melihat layar ektra besar dihadapan mereka menemukan satu file. Ternyata tidak sia-sia ia mempertaruhkan semua perangkat komputernya pada Uzumaki muda itu, membawakan hasil memuaskan dari mereka duga. "Rin, hubungi Komisaris Jendral. Katakan padanya, data transaksi 3 pembunuh bayaran yang menculik Naruto berhasil ditemukan." Rin menggangguk singkat menyanggupi perintah dari Inoichi. Tanpa banyak waktu, wanita berambut coklat itu segera mengambil ganggang telpon diatas meja.

Deidara mengklik data yang baru saja ia unggah sebanyak 2 kali hingga menampilkan 358 folder. Setelah menyeleksi beberapa folder yang ia anggap berhubungan langsung dengan kasus penculikan Naruto, ia pun mengcopy paste data itu software komputer. Dari sederet folder yang ia ambil, entah kenapa satu folder dengan nama document 'transaksi pengiriman uang', menarik perhatiannya. Segera saja, Deidara membuka data tersebut karna tak kuat terlalu lama dilanda rasa penasaran menyelimuti hati. Benar saja apa yang telah kepolisian Konoha duga, tak hanya mafia kelas berat saja yang menggunakan jasa ketiga orang itu. Pejabat-pejabat tinggi diberbagai negara turut menggunakan mereka. Deidara tak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang memiliki kedudukan tertinggi seperti mereka memakai jasa pembunuh bayaran. Lagi pula untuk apa mereka menggunakan pembunuh bayaran? Menangkap pencuri? Koruptor? Entahlah, hanya mereka dan Tuhan-lah yang tahu.

Disela-sela kesibukannya mengamati sederet nama orang-orang yang melakukan transaksi pengiriman uang, ada satu nama yang berhasil membuat pupil mata Deidara melebar. Setelah memperhatikan lebih seksama, Deidara tak mampu lagi menyembunyikan rasa kagetnya mengingat nama itu menjadi perbincangan hangat dikalangan pemerintahan Jepang saat ini.

Send: Orochimaru

Date: 2-26-2013/ 17:20 PM

Nominal Transfer: ¥36.000.000;

To: Kin

'Dua kali transaksi pengiriman uang pada tanggal 12 dan 26. Hmm, 12 Febuari...' Deidara mengetuk-ngetuk pulpen diatas meja, seperti mengingat sesuatu hal yang penting ditanggal tersebut. "Hari penculikan Naruto." Bisik Deidara tanpa sengaja menjatuhkan pulpen yang ia genggam keatas lantai. Pemuda blonde itu segera mengamati kembali layar komputer masih menampilkan data transaksi pengiriman uang dari 3 pelaku penculikan sepupunya. "Tidak ada transaksi pengiriman uang selain tanggal 26, berarti Orochimaru adalah orang terakhir yang memakai jasa mereka."

"Apa ada masalah?" Tanya Inoichi ikut melirik layar komputer yang diamati oleh Deidara. "Orochimaru? Dia juga memakai jasa mereka? Untuk apa?" Berbagai macam pertanyaan dalam satu tarikan nafas berhasil dilontarkan Inoichi ketika melihat nama Orochimaru tertera di layar komputer.

"Orochimaru?" Ulang Ibiki melangkah mendekat kearah Deidara dan Inoichi. Raut kebingungan terlihat jelas diwajah pria yang sering memakai penutup kepala ketika melihat objek yang dipandangi kedua pria pirang disampingnya. "Apa dia mau menambah pasukannya untuk melawan kita, Inoichi?"

"Kaisar telah lebih dari cukup untuk membunuh seluruh orang di Jepang, Ibiki. Tidak mungkin mereka mau menggunakan pembunuh bayaran itu hanya demi menambah pasukan untuk melawan kita."

Deidara menganggukan kepala, mengiyakan spekulasi inoichi. "Aku juga berpikir begitu, bagaimana mungkin Orochimaru mau repot-repot membayar 3 pembunuh bayaran dengan jumlah besar untuk menghadapi kita. Kecuali..." Deidara mengalihkan pandangan dari 2 orang pria dewasa disampingnya. "... Ia membutuhkan mereka untuk melakukan sesuatu hal."

Inoichi memegang dagu dengan tangan kiri, tanda sedang berpikir. "Apa mungkin, ini ada kaitannya dengan insiden diperbatasan desa Tetsu?"

Deidara dan Ibiki tak bisa lagi menahan kedua alis yang menekuk sembari mengucapkan, "Insiden?"

Inoichi mengangguk. "Kemarin, salah seorang petugas kepolisian melaporkan adanya kecelakaan kereta api dikawasan hutan perbatasan desa Tetsu. Kereta api sepanjang 45 meter dengan 2 gerbong kereta masuk kedalam jurang. Minato-sama menyerahkan kasus itu kepadaku untuk menyelediki penyebab kecelakaan. Awalnya, aku menduga insiden itu 100% murni kecelakaan tunggal. Namun ternyata perkiraan ku salah." Inoichi kembali melanjutkan kalimatnya mendapati 3 orang (ditambah Rin yang telah selesai menghubungi Minato) terus memandangi dirinya seperti meminta kejelasan. "Saat tiba disana, aku menemukan beberapa kejanggalan, seperti setengah jembatan yang hancur dan kereta api yang bisa masuk kejurang sementara kondisi dari kendaraan itu masih dalam keadaan baik. Mustahil bila kereta itu tiba-tiba bisa keluar dari jalur dengan sendirinya mengingat jalur kereta api itu sendiri tidak mengalami kerusakan yang berarti ketika kami periksa. Aku berani bertaruh, kereta itu telah diserang oleh sekelompok orang. Terbukti, saat memeriksa bangkai kereta, permukaan kereta itu tak lagi mulus. Seperti terhantam semacam ledakan. Selongsong peluru kaliber 150 juga menjadi bukti untuk menguatkan dugaan kami. Beruntung tidak ada korban jiwa atas insiden ini."

"Lalu apa hubungannya data transaksi pengiriman uang ini dengan kecelakaan itu?" Tanya Deidara.

"Setelah kami menyelidiki lebih lanjut pada salah satu saksi yang memiliki kereta api itu, aku menemukan satu bukti yang cukup mencengangkan. Dia bilang, kereta api milikinya disewa oleh seseorang dengan bayaran tinggi, mengejutkannya si penyewa itu adalah Orochimaru." Inoichi menghela nafas, lalu melanjutkan kembali perkataan yang tertunda. "Bila kalian bertanya apa hubungan kecelakaan itu dengan data transaksi pembunuh bayaran yang berhasil kita unggah. Jawabannya adalah insiden kecelakaan itu terjadi tepat pada tanggal 26 Febuari pukul 14.40, 3 jam sebelum transaksi itu dilakukan." Ungkap Inoichi menatap tajam 3 orang yang telah membelalakkan mata, terkejut.

"2 gerbong kereta, menyewa pembunuh bayaran..." Gumam Ibiki pelan dengan nada terkesan menggantung. "Dilihat dari cara orang tua itu. Apa mungkin dia ingin melenyapkan seseorang?" Inoichi menggangukkan kepala, menjawab pertanyaan rekan kerjanya.

"Naruto..." suara Deidara terdengar gemetar hebat ditelinga orang-orang itu. "Mungkinkah, Naruto yang ada didalam kereta api itu?"

Rin menggelang kepala pelan, "T-Tidak mungkin Naruto-sama ada disana, Uzumaki-san. Bagaimana mungkin anda bisa berpikir seperti itu?"

Kali ini Deidara lah menggeleng kepala seperti yang dilakukan Rin. "File data ini menunjukan ada dua kali transaksi pengiriman uang yang dilakukan oleh Orochimaru. Pertama pada tanggal 12 Febuari, bertepatan saat Naruto diculik dari rumah sakit. Dan juga tanggal 26, tidak ada aktivitas transaksi pengiriman uang ditanggal berikutnya selain Orochimaru. Bukti pun telah menunjukan pelaku penculikan Naruto adalah 3 pembunuh bayaran itu. Jika sudah begitu, siapa pun bisa menyimpulkan bahwa dalang penculikan Naruto adalah, Orochi-"

'BRAK!'

"Deidara!" Menma mendorak kasar pintu masuk dengan menghentak-hentakan kaki menuju 3 orang pria yang telah memasang raut wajah iblis. "Aku telah tahu siapa penculik Naruto!"

Deidara mengangkat sebelah alis, binggung. "Darimana kau tahu?"

Menma mendecakan lidah, memutar kedua bola mata bosan mendapati raut wajah sang kakak seperti tak percaya dengan ucapannya. "Kau bisa tanyakan langsung padanya," tunjuk Menma pada Sasori yang baru memasuki pintu masuk. "Sebab dia salah satu pelaku yang ikut andil mencelakai Naruto."

"Sudah kubilang itu bukan salahku, Menma!" Tatapan tajam Sasori layangkan pada pemuda surai hitam. "Aku bahkan tidak tahu kalau yang kutembak itu adalah sepupumu. Wajar saja aku berpikiran, dia salah satu komplotan mereka." Elak Sasori.

"Tunggu!" Deidara mengangkat kedua tangan didepan Menma dan Sasori, bermaksud menghentikan adu mulut yang telah siap dilontarkan sang adik untuk membalas sanggahan Sasori. "Bisa kalian jelaskan lebih detail lagi? Maksudku, aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kalian berdua bicarakan sekarang."

Menma menghela nafas lelah, bersiap-siap mengendalikan emosi saat akan mencerita ulang obrolan singkatnya dengan Sasori. "Saat penangkapan Kyuubi beberapa waktu lalu oleh pihak FBI, angkatan laut, darat, juga kepolisian Konoha. Sasori melihat Naruto bersama dengan Kaisar. Dan saat ini, Kaisar berkerja sama dengan satu orang. Menurutku, tidak mungkin Kaisar bisa tahu keberadaan Naruto kemudian menculiknya kalau bukan Orochimaru yang memberitahukan-nya." Dengus Menma jengkel ketika menyebut nama Orochimaru. Entah kenapa nada yang tersirat dari Uzumaki bungsu itu lebih terdengar seperti ingin mencabik-cabik sosok pria tua berkulit pucat itu lalu membuang potongan tubuhnya ke samudra hindia untuk camilan ikan hiu.

"Sudah kuduga, Orochimaru pelakunya!" Geram Deidara lekas merogoh pistol didalam laci meja komputer. "Siapkan satu helikopter ke desa Tetsu, Menma! Aku akan meringkus mereka."

"Hei! Jangan seenaknya kau memberi perintah padaku." Teriak Menma tidak suka diperintah seenaknya.

"Tunggu dulu." Ibiki menarik bahu Deidara yang telah bersiap keluar ruangan. "Kau tidak bisa bertindak seperti itu, Uzumaki-san. Kepolisian kami punya aturan, walaupun anda orang luar, tolong hargai segala tata tertib peraturan kami." Jelas Ibiki sembari melipat kedua tangan.

Deidara berdecih tak suka, meskipun begitu mau tak mau Deidara harus mengikuti perkataan Ibiki. Bukan berarti Deidara mengalah, namun ia cukup tahu diri untuk tidak berbuat onar dinegara orang, terlebih ditempat kerja suami dari bibinya itu. Heckler-Koch HK MG4 MG43 Machine Gun ditangan kanan, Deidara selipkan kembali kebelakang celana, mengaitkan senjata api itu tepat dibalik ikat pinggang. "Sebaiknya kita melaporkan terlebih dahulu semua bukti-bukti ini pada pimpinan kami. Bila Minato-sama telah mengambil keputusan, baru kita bertindak."

"Maaf mengecewakan anda, Mr. Morino. Saya tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar, tapi saya cuma ingin bilang, anda..." Deidara mengusap pelan pundak terlapisi jas hitam dikenakan Ibiki. "Tak perlu repot-repot. Saya yakin tanpa melaporkan bukti-bukti ini pada uncle Minato, beliau juga pasti akan memerintah kami untuk menangkap Orochimaru. Permisi."

Belum sempat Deidara berjalan menuju pintu keluar, suara alarm bergema hebat diseluruh kantor kepolisian Konoha. Ruangan yang semula terang berderang, kini gelap dengan cahaya merah berkelap-kelip mendominasi setiap sudut ruangan.

"Apa yang terjadi?" Pertanyaan yang sama keluar dari bibir Deidara dan juga Sasori pada 3 orang anggota kepolisian Konoha yang telah berlari menuju pintu keluar.

"Bila alarm Detektor keamanan NE 555 dan LM 567 berbunyi." Menma mulai melangkahkan kaki ke pintu keluar menenteng sebuah airsoft handgun berjenis WE M92 (Stainless Silver Finished Slide and Frame). "Itu tandanya, kantor kami disusupi penyusup."

Mendengar hal itu, Deidara ikut mengeluarkan Heckler-Koch dibalik ikat pinggang bagian belakang. Sasori pun melepaskan satu handgun berjenis P38 Walther, pistol semi-otomatis 9 mm terpasang rapi dibelt hitam melilit punggungnya. Ketiga orang pemuda itu mengikuti Ibiki dan Inoichi telah berjalan terlebih dahulu didepan mereka dengan posisi siap menembak.

"Bisa kau hubungi bagian divisi pemantauan, Rin. Kita harus mengetahui dimana posisi penyusup itu untuk meringkusnya langsung." Rin segera menganggukkan kepala mendengar perintah dari Ibiki, wanita rambut coklat yang ikut berjalan disamping Inoichi memasang headset ditelinga kanan.

"Mereka dipintu masuk utama, inspektur. Densus anti teroris dalam perjalanan kelantai satu untuk menyergap mereka terlebih dahulu."

Inoichi menolehkan kepala kearah Rin, sebelah alis pria laki-laki pirang itu tampak terangkat. "Mereka? Penyusupnya lebih dari satu." Inspektur kepolisian yang menangani divisi Intelijensi memasuki lift diikuti beberapa orang-orang dibelakangnya.

Tak sampai 2 menit, pintu lift pun terbuka. "Menurut informasi, pelaku lebih dari satu. Saat ini aku mencoba menghubungi salah satu anggota densus, tapi belum direspon. Kemungkinan saat ini mereka telah- ahh! Itu mereka." Rin mengambil pistol dibalik blazer ia kenakan. Mengacungkan senjata api berwarna hitam itu tepat dikerumunan orang-orang berseragam serba hitam, dilapisi jaket anti peluru, helm, masker hitam dan goggle menutupi kedua mata sedang membentuk lingkaran mengelilingi objek -penyusup- tersebut dengan pistol laras panjang.

52 anggota densus menyadari kehadiran inspektur mereka langsung membukakan jalan untuk akses masuk kedalam tengah-tengah lingkaran. Meskipun 15 anggota membubarkan diri memberi akses masuk, pistol laras panjang yang berada ditangan masing-masing anggota tak bergerak seinci pun, terlihat jelas dari sinar laser berwarna merah tetap mengarah kejantung 3 sosok misterius itu.

5 orang pria dan satu wanita yang baru memasuki lingkaran tersebut membulatkan mata ketika bersitatap dengan 2 orang pria ditengah-tengah lingkaran. "Naruto!"

Pemuda bersurai pirang dengan mata biru seterang langit nampak menangkat kedua tangan, melindungi sosok laki-laki dihujani 52 laser merah dibagian kiri, tepat jantung laki-laki itu berada. "Menma-Nii, Dei-Nii? Kenapa kalian ada di-" Iris blue sapphire Naruto menatap tajam laki-laki berambut merah bata yang ikut menodongkan pistol semi otomatis kearah laki-laki dibalik punggung kecilnya. "-sini?"

"Kemarilah Naruto-sama. Mendekatlah pada kami, laki-laki dibelakangmu sangatlah berbahaya." Inoichi masih mengarahkan revoler-nya pada laki-laki bersurai raven.

"Berbahaya?" Ulang Naruto penuh nada sarkasme. "Menurutku, kalian dan laki-laki rambut merah itu lebih berbahaya daripada Sasuke."

Merasa hanya diri-nya lah satu-satunya laki-laki bersurai merah seperti diucapkan Naruto, Sasori pun angkat bicara. "Maaf untuk masalah tempo hari, tapi sungguh aku sangat menyesal sekali tentang penembakan itu." Ungkap Sasori masih mengarahkan senjata sambil memicingkan mata kanan kearah target .

Pemuda berkulit tan itu mendengus jenggah. "Aku tidak butuh rasa penyesalan kalian. Lebih baik turunkan senjata kalian sebelum aku benar-benar marah!"

"Berhentilah bertingkah kekanak-kanakkan, Naru! Jauhi laki-laki itu atau aku tidak akan segan-segan menembak kalian." Desak Menma bermaksud untuk menggertak.

"Kalau begitu tembak saja aku! Aku tidak takut." Tantang Naruto semakin merentangkan kedua tangan lebar-lebar. "Atas dasar apa kalian memaksa ku menjauhi Sasuke. Kurasa kalian tidak punya hak. Kalian tidak tahu apa-apa! Sebaiknya minggir, biarkan aku lewat. Aku ingin menemui Tou-san." Naruto berusaha beranjak dari tempatnya berdiri, tangan mungil terbalut kulit tan menarik pergelangan tangan pemuda berkulit albaster.

"Jangan buat kami bertindak kasar, Naruto-sama!" Bunyi pelatuk pistol seperti ditarik dari arah depan menyapa pendengaran Naruto. Tak perlu repot-repot mengadahkan kepala, karna Naruto tahu siapa gerangan sosok yang sedang mengacam-nya. "Segera jauhi Kaisar, tidak ada peringatan untuk kedua kali bagi anda kalau masih melanggar. Kami tidak bermaksud kurang ajar, seperti Menma bilang, laki-laki itu berbahaya. Kami hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anda. Mohon pengertian-nya, Naruto-sama."

"Sudah kukatakan kalian tidak tahu apa-apa, Inoichi-san. Kalian mengacungkan senjata pada orang yang salah, Sasuke bukan orang jahat!" Ucap pemuda berkulit tan penuh nada benci. Naruto menghela nafas singkat, sungguh ini bukan moment yang tepat untuk berdebat dengan orang-orang ayah-nya. Naruto paham, waktu yang ia miliki tak banyak. Keadaan semakin mendesak, dan ia tak punya waktu untuk bermain-main. Kakashi pun sendari tadi sulit dihubungi, kemungkinan besar sensei tampan suka membaca buku porno karangan kakek-nya itu tidak lagi berada di Konoha. Dan itu semakin membuat Naruto tambah frustasi menghadapi orang-orang keras kepala dihadapannya kini. Memang semua polisi harus memiliki sikap tegas, tak pandang bulu pada setiap orang yang berpotensi merugikan nyawa orang lain. Jujur Naruto kagum akan kedisiplinan sikap dari rekan-rekan ayah-nya, tapi tidak untuk sekarang. Mau tak mau Naruto pun harus pintar-pintar mencari alasan agar secepatnya terbebas dan menemui sang ayahanda.

"Berhenti, Naruto!"

'DOR!'

Baru selangkah berjalan, timah panas dari kepala badan investigasi berhasil menginterupsi pergerakan Naruto. Laki-laki memakai penutup kepala itu mengadahkan wajah kearah laki-laki berjubah hitam, kembali ia menarik pelatuk menggunakan ibu jari tangan kanan. Mengarahkan benda warna silver itu kepunggung Sasuke meskipun asap putih masih mengepul dari moncong pistol. Ibiki bukannya tak waras, dia masih sadar betul dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kalau boleh jujur, ibiki sama sekali tak punya niat untuk menembak putra semata wayang Komisaris Jendral Kepolisian itu. Ia hanya ingin mengertak Naruto dengan menembakkan satu peluru kesisi pipi pemuda manis tersebut agar diam ditempat, tentunya tembakan itu tidak mengenai seinci pun kulit Naruto.

"Jangan diam saja, Obito! Cepat tarik Naruto agar menjauh dari Kaisar!" Teriak Inoichi pada laki-laki bersurai raven berada tak jauh dari posisi Naruto. Mata onyx pemuda itu memandang ragu sosok yang sedang memeluk (baca: melindungi) Naruto dari timah panas Ibiki. Disatu sisi, Obito ingin sekali membantu sang murid saat mendengar real story dari mulut keduanya. Walau saat itu, mereka bertiga sempat berdebat hebat lantaran Obito tak percaya Naruto reinkarnasi Naruko dan pergi kemasa lalu saat ia dalam keadaan pingsan, tapi setelah berpikir secara rasional, serta menganalisa cerita versi Naruto dengan artefak kuno milik keluarganya. Memang tak bisa Obito pungkiri terdapat sedikit keganjilan dibeberapa bagian, ia pun memilih untuk percaya pada Naruto. Tidak sulit untuk mempercayai perkataan Naruto. Pointnya satu, mayat hidup seperti Kaisar saja bisa bangkit kembali, apalagi Naruto yang pergi kemasa lalu. Tentu semua itu bisa saja terjadi atas kuasa sang pecipta.

Berbicara mengenai pokok inti perintah Inoichi yang harus disikapi Obito. Jujur, disisi lain, Obito juga tak kuasa menolak perintah aparat negara. Sebagai warga negara yang baik, ia harus mematuhi aturan. Sialnya, kepolisian Konoha bukan termaksud orang yang mudah mentolerir suatu masalah, meski masalah sepele pun, sekali salah dimata mereka tetap salah. Dan bagi mereka, kesalahan Kaisar terlalu banyak, saking banyaknya kata maaf pun bukan lagi harga yang pantas untuk diperjuangkan. Jika sudah begitu, berontak pun tak ada guna lagi. Kalau masih tetap melawan, resiko yang ditanggung tak hanya menjadi musuh besar bagi kepolisian Konoha saja, tapi juga seluruh masyarakat Jepang, bahkan dunia karna dianggap membantu penjahat.

"Sa-Sasuke, kau ti-dak apa-apa?" Ucap Naruto khawatir dengan keadaan Sasuke yang tertembak peluru dibahu kanan.

"Hn." Ucap Sasuke singkat membalikkan badan memunggungi Naruto, menghadap langsung orang-orang yang masih mengarahkan senjata padanya. Selonsong peluru yang telah menjadi serpihan kecil tergeletak begitu saja dibawah kaki Sasuke. Meskipun wajah Sasuke tak menunjukkan ekpresi yang berarti, aura hitam yang menguar dibalik tubuh tak bisa lagi ia bendung. Yaa, Sasuke marah. Marah pada sosok pria yang hampir mencelakai kekasihnya. "Seperti yang kalian dengar dari Naruto, kami cuma ingin bertemu Kepala Komisaris-"

'JLEB! JLEB! JLEB!'

"SASUKE!"

"Tahan Naruto, Menma!" Suara bariton khas dari arah depan menggema diantara kumpulan orang-orang yang masih menodongkan pistol kearah Sasuke. Menma dengan sigap menarik tangan Naruto, mengunci satu lengan Naruto agar tidak berontak.

"Sasuke! Sasuke!" Naruto berontak hebat, berusaha melepaskan genggaman tangan Menma. "Lepaskan aku, Menma-Nii! Sasuke! Lepaskan Sasuke!" Teriak Naruto melihat Sasuke telah terlilit tali senar hitam dari ujung pistol anggota kepolisian lain yang baru datang.

Sasuke memandang tali senar yang melilit tubuhnya dalam diam, lalu pandangan mata onyx sekelam malam tanpa bintang menatap datar laki-laki dewasa bersurai pirang dihadapannya. Sekali lihat saja, Sasuke tahu laki-laki itu adalah ayah dari kekasihnya dimasa kini.

"Tou-san! Lepaskan Sasuke, Tou-san! Sasuke tidak bersalah! Kalian salah orang!" Sasuke memejamkan kedua mata mendengar suara kekasih terus menyerukan namanya. Sungguh hati Sasuke bagai tersayat ribuan pedang mendengar suara Naruto bergetar hebat seperti menahan tangis hanya karna memikirkan dirinya. "Lepaskan Sasuke! Aku mohon, Tou-san. Lepaskan Sasuke!"

"Bawa dia ke sel tahanan khusus, Ibiki." Perintah Kepala Komisaris tanpa mengindahkan suara anaknya yang terus memohon agar Kaisar dibebaskan. Ibiki mengangguk singkat, kemudian memberi komando pada beberapa anggota densus dengan bahasa isyrat untuk mengikutinya. Senjata api laras panjang masih setia di tangan masing-masing anggota densus, terus mengarahkan moncong pistol pada Sasuke tanpa ada niat untuk menurunkannya.

"Tou-san! Dengarkan aku, Tou-san! Sasuke tidak bersalah! Lepaskan aku, Menma-Nii! Lepaskan aku!" Naruto menghempaskan tangan Menma yang mencengkram erat lengannya. "Sasuke, Sasuke! Tou-san, lepaskan Sasuke! Dia tidak bersalah! Minggir kalian, jangan bawa Sasuke! Sasuke tidak bersalah. Minggir!" Naruto menerobos anggota kepolisian hendak membawa pergi Sasuke. Tangan mungil Naruto mendorong kuat senjata api yang masih terarah pada Sasuke berserta dengan si pemilik senjata. Naruto menggenggam erat tali senar ditubuh Sasuke, berusaha membuka tali tersebut meskipun ia tahu hal yang ia lakukan sia-sia karna tali senar ditubuh Sasuke didesign khusus oleh ayahnya agar tidak mudah putus.

"Naruto." Bisik Deidara lirih memeluk tubuh Naruto dari belakang, menahan tubuh mungil pemuda bermata biru itu untuk tidak terus berontak melepaskan tali senar ditubuh Sasuke.

"Lepaskan aku Dei-Nii! Tou-san, Sasuke tidak bersalah! Lepaskan Sasuke! Aku mohon, jangan bawa Sasuke!" Teriak Naruto kencang. Tubuh Naruto menggeliat kekiri kekanan, berusaha melepaskan diri saat melihat Sasuke telah dituntun oleh anggota densus menuju sel tahanan khusus. "Berhenti! Jangan bawa Sasuke. Dia tidak bersalah! Lepaskan Sasuke!" Sebutir air mata menggantung dikedua sudut mata biru Naruto menjadi pemandangan miris bagi Menma, Obito, dan Sasori yang masih berada ditempat. Dalam waktu sedetik saja, air mata yang telah menggenang dipelupuk mata tumpah meruah seiring dengan raungan Naruto meminta Sasuke dilepaskan.

Minato yang berada diujung koridor memandang terluka wajah putranya. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan putra tercinta pasca penculikan harus berakhir seperti ini. Berakhir dengan rontaan dan tangisan. Sayangnya tangis yang ia dapatkan bukan tangis kebahagiaan, melainkan tangis kesedihan.

"Lepaskan Sasuke!" Suara raungan Naruto menggema dilorong yang sepi. Sepi tanpa sosok Sasuke karna tubuh laki-laki tersebut telah menghilang ditelan pintu coklat diujung Koridor.

.

(¬˛¬)

.

"Naruto." Ketukan halus disebuah pintu coklat mengalun lembut. Wanita cantik bersurai merah kembali mengetuk pintu setelah tak mendengar jawaban dari si empu kamar. "Sayang, ini Kaa-san nak. Ayo makan dulu, Kaa-san sudah menyiapkan Ramen kesukaanmu." Ucap Kushina mengetuk pintu kamar lebih kuat dari sebelumnya.

Tidak ada jawaban seperti sebelum-sebelumnya, membuat Kushina menghela nafas gusar. Sudah lebih dari seminggu Naruto terus mengurung diri dikamar, tidak mau makan, minum, bahkan menyahut panggilan Kushina pun tidak. Sejak tertangkapnya Kaisar dimarkas besar kepolisian, sikap Naruto berubah. Tidak lagi ceria seperti dulu. Berbagai cara dan bujuk rayu dari orang-orang terdekat tak jua berhasil meluluhkan Naruto. Malah Naruto semakin gigih tak mau keluar sebelum permintaannya dikabulkan oleh sang ayahanda. Seperti pepatah bilang, like father like son. Sikap keras kepala Naruto ternyata menurun dari sang ayah. Meskipun Naruto tidak makan, minum, dan terus mengurung diri, Minato tak ada niat sedikitpun untuk menuruti keinginan sang anak. Profesionalitas, begitu lah semboyan hidup Minato. Urusan keluarga beda dengan perkerjaan, sekali pun dalam situasi genting menyangkut putranya, Minato tak ingin mencampur adukan masalah pribadi dengan perkerjaannya. Tentu saja sikap keras kepala ayah anak itu membuat Kushina semakin khawatir, takut putra tercinta akan jatuh sakit jika terus memaksakan keadaan seperti ini.

"Naruto~, ayo makan sedikit sayang. Kau bisa jatuh sakit, kalau tidak makan." Kushina mencoba kembali memanggil putranya, jemari lentik tangan kanan tak berhenti disitu saja, mengetuk kembali pintu kamar berkali-kali.

"Kushina Nee..." Panggil seseorang dari arah ujung lorong. Kushina mendongkakkan kepala, melihat siapa gerangan yang memanggilnya.

"Outoto." Senyum manis terukir diwajah cantik Kushina mendapati laki-laki berambut merah marun itu mendekat.

Walau senyum yang membingkai wajah wanita itu terlihat seperti dipaksakan, laki-laki bermarga Uzumaki ikut mengembangkan senyum membalas senyum kakak perempuannya. "Bagaimana dengan Naruto? Ada perubahan?"

Mata riak air Nagato berubah sendu melihat gelengan kepala Kushina. "Tetap seperti kemarin." Begitulah yang terdengar ditelinga Nagato setelahnya.

"Biar aku yang membujuknya, mungkin saja bicara dengan ku, ia mau membuka pintu."

"Tidak mungkin, Nagato." Kushina lagi-lagi menggeleng lemah. Tidak yakin dengan usul sang adik. "Dan-Nii dan ayah mertuaku baru saja membujuknya 2 jam lalu. Tapi tidak membuahkan hasil sama sekali." Pasrah Kushina sembari memijit pelan pelipis kanan.

"Kita tidak tahu kalau belum mencoba." Ucap Nagato lembut. Seperti yang dilakukan Kushina sebelumnya, Nagato mengetuk pintu terlebih dahulu. "Naruto, ini Nagato Jii-san. Ayo makan, nanti kau sakit. Sampai kapan kau terus mengurung diri begini? Apa kau tidak kasihan dengan Kaa-san mu?" Lagi-lagi perkataan Nagato dibalas kebisuan Naruto.

Nagato menghela nafas lelah, ini bukan pertama kalinya Nagato diacuhkan oleh Naruto. Terhitung sejak bocah pirang itu mengurung diri, sudah lebih 27 kali panggilan Nagato diabaikan. Nagato menghela nafas lelah, mau tidak mau, Nagato harus mengambil sikap agar Naruto tidak terus-terusan bertingkah kekanakan seperti ini. "Baiklah, bila memang ini yang kau inginkan."

...

3 orang pria berbeda warna rambut menatap diam sosok laki-laki bersurai raven terlilit rantai-rantai besar dari pundak hingga perut. Puluhan lampu-lampu besar berwarna violet menerangi seluruh permukaan kulit pucatnya. Membuat bibir si pemuda pucat pasi dengan permukaan bibir kasar dan pecah-pecah terkena dampak negatif dari radiasi sinar ultraviolet yang sengaja dipacarkan. Tak diberi makan, tak diberi minum, bahkan tempat tidur pun tidak disedikan. Sengaja mereka membiarkan si pemuda terus berdiri ditempat dengan kedua tangan terselimuti kulit albaster saling merapat satu sama lain turut di lilit rantai besar seperti halnya pada bagian pundak dan perut. Memungkinkan sang target tidak bisa melarikan diri dengan mudah mengingat besarnya rantai yang dipakai. Pergelangan kedua tangan dan kaki tidak luput dari pengawasan, turut diborgol menggunakan tembaga kualitas tinggi. Penyiksaan + interogasi = informasi. Begitulah sistem diterapkan kepolisian setiap menangani pelaku kejahatan kelas kakap.

"Masih tetap sama?" Pria berkulit tan melipat kedua tangan diatas dada. Mata biru sejernih lautan menatap sosok laki-laki tertimpa cahaya keunguan sedang memejamkan kedua mata.

Kedua pria dewasa disamping pria berkulit tan menggeleng kepala pelan. "Tidak ada perubahan berarti, informasi yang dia berikan tetap sama seperti saat pertama kali kita introgasi." Jawab laki-laki mengenakan mantel hitam panjang a.k.a Ibiki Morino. "Apa perlu kita tambah, Minato-sama?" Yang ditanya hanya diam. Lebih memilih menatap lurus kedepan tepat dimana si pelaku berada daripada menjawab pertanyaan anak buahnya.

"Kalau pun ditambah, menurutku percuma. Yang kita hadapi ini Kaisar, Ibiki. Sekalipun kita memotong kaki dan tangannya, keadaan tidak ada bedanya dengan sekarang. Kaisar sosok abadi, luka kecil seperti ini tidak akan berpengaruh apa-apa." Tolak Minato atas saran Ibiki yang ingin menambah jumlah siksaan pada Kaisar. "Lagipula, ada satu hal yang menganjal pikiran ku hingga saat ini."

Inoichi dan Ibiki menoleh secara serentak kearah Minato. Tahu arti pandangan penuh tanya dari kedua rekan kerja, Minato pun kembali melanjutkan kalimatnya. "Kaisar adalah orang terkuat sepanjang abad ini. Sosok abadi yang tak akan kalah sekuat apapun kita menggempurnya meski menggunakan senjata biologis tercanggih. Yang menjadi pertanyaan ku saat ini adalah, kenapa Kaisar memilih menjadi tahanan seperti ini?"

"Maksud anda, Minato-sama?" Ucap Inoichi, binggung.

"Saat pertama kali Kaisar menginjakkan kaki ke kantor kita. Aku merasa ada yang aneh. Senar hitam yang kita gunakan untuk menangkap Kaisar memang memiliki kualitas baik, tak mudah putus meski menggunakan senjata tajam sekalipun. Walau begitu, kekuatan Kaisar sangat besar kan? Mudah baginya melepaskan diri dari serangan tak berarti seperti itu. Yang mengherankan ku, kenapa ia lebih memilih diam saat kita memasukannya kedalam sel tahanan bukannya melarikan diri?"

Ibiki dan Inoichi menganggukan kepala, tanda setuju dengan perkataan pimpinan mereka. "Aku pun berpendapat begitu. Cukup aneh juga, Kaisar tidak melawan seperti perkiraan kita sebelumnya. Bila sudah begitu, apa maksud dari semua ini, Minato-sama? Apa mungkin dia sengaja mengelabui kita, dan memilih waktu yang tepat untuk menyerang disaat kita tak mempersiapkan apapun?"

Minato menggeleng lemah. "Dia bisa saja menyerang kita sekarang, kondisi kita sekarang cukup melemah mengingat presiden belum menurunkan perintah. Bila ia memang berniat untuk menyerang kita secara diam-diam, mengapa tidak ia lakukan sekarang? Kenapa ia malah memilih menyerah? Rela ditangkap oleh kita dan menjalani hukuman seperti ini, bahkan membeberkan rencana Orochimaru serta menawarkan kerja sama hanya demi menghentikan pembangkitan jenasad Danzo."

"Aku rasa, wajar dia melakukan hal itu, Minato-sama. Danzo adalah musuh besar Kaisar semasa hidupnya. Mungkin dia takut lenyap dari dunia ini bila berhadapan dengan Danzo." Balas Ibiki.

"Sayangnya aku meragukan hal itu, Ibiki." Ucap Minato singkat. "Sejarah yang tertulis diartefak kuno milik keluarga Uchiha, entah kenapa sulit ku percayai begitu mendengar penuturan dari keduanya. Dan sialnya, insting ku mengatakan apa yang diucapkan oleh Kaisar dan Naruto benar adanya. Danzo adalah iblis sesungguhnya, bukan Kaisar..."

('ںˉ)

Desa Nami (15.15), Distrik penggalian bagian Selatan.

"Apa benar, makam musuh Kaisar ada disini? Sudah sedalam 25 meter kita menggali, kenapa tanda-tanda makam itu berada tidak juga muncul?!" Pemuda berambut jabrik kecoklatan menancap kasar sekop dikedua tangan keatas tanah.

"Just shut up, Kiba! Lebih baik gerakkan tanganmu, bukan mulutmu." Gadis pirang berkuncir satu menatap tajam lelaki memiliki tato segitiga terbalik dikedua pipi.

Kiba mendengus kesal, tidak suka dengan kata-kata Ino yang sendari tadi kerjanya cuma membersihkan dinding tanah mereka gali dengan kuas, bukan seperti dirinya yang harus menggali tanah menggunakan sekop sialan itu. "Hei, perempuan! Kalian enak, kerjanya cuma berkutat dengan kuas dan lampu penerangan saja! Sedangkan kami? Menggali, menggali dan menggali terus. Kau pikir perkerjaan kami mudah apa!" Sunggut Kiba tak mau kalah.

"Berhenti saling berteriak Kiba, Ino! Suara kalian bisa meruntuhkan tanah-tanah ini." Ucap gadis pinky a.k.a Sakura yang sedang memegang light stick untuk menerangi aktivitas Kakashi yang menggali tanah, secara tak langsung merasa tersindiri dengan ucapan Kiba.

"Sungguh semangat muda yang mengagumkan, kau Kiba~~!" Teriak duo alis tebal, Rock Lee dan Maito Guy dengan pose semangat mudanya. Sungguh sinting perkataan mereka berdua, begitulah batin semua orang yang menggali mendengar kata-kata guru murid terkesan jauh dari kata nyambung.

"Lagipula kita tidak mungkin salah tempat, Kiba. Artefak kuno jelas-jelas menunjukkan makam Danzo Shimura ada disini." Jelas Neji masih sibuk menggali tanah menggunakan linggis.

"Kemungkinan besar, orang-orang terdahulu memakamkan Danzo sedalam ini agar jenazah-nya tidak diganggu. Seperti hal nya makam Kaisar." Sambung Asuma menghisap penuh rokok dibibir.

"Aku ju-ga yakin makam Shimura-sama berada di-sini. T-Tempat beli-au dimakam-kan sa-sangat indah, ak-u rasa se-masa hidup. Be-Beliau di-cintai ban-yak orang, mu-mungkin ini sebagai ta-nda terima kasih mereka atas pelawanan peme-rintahan Kaisar yang beli-au lakukan." Ucap gadis berambut indigo, Hyuuga Hinata.

"Terserah! Yang penting aku ingin secepatnya keluar dari pulau terpencil ini dan kembali ke Kono-"

'KRAK!'

Sekop dilayangkan Kiba secara sembarang arah, menacap erat dibawah kaki disertai bunyi benda pecah. Semua mata memandang penuh ekpresi kearah pemuda pencinta anjing it- Ahh! Lebih tepatnya memandang tanah yang telah menganga lebar akibat sekop mematikan milik Kiba.

"Itu..." Tunjuk Kurenai sembari meneguk ludah cepat.

"Makam Shimura Danzo." Lanjut Asuma membuang sembarang rokok yang baru ia hisap diatas tanah.

'DUARR!'

Ruangan sedalam 25 meter tepat Tim Arkeolog berada berhamburan seketika terkena ledakan dahsyat dari arah atas. Entah nasip mereka mujur atau apa, yang jelas Kakashi dan teman-teman tidak tertimbun tanah yang longsor akibat ledakan itu. Malah mereka semua terlempar sejauh 5 meter dengan ruang bawah tanah tempat mereka menggali membentuk kawah besar. Memperlihatkan semacam ruangan mewah dengan pilar-pilar tinggi menjuntai dilangit-langit ruangan. Gundukan batu persegi panjang dilapisi batu-batu permata cantik aneka warna menjadi pemandangan pertama setelah gumpalan asap disekitar kawasan ledakan pergi tersapu angin.

"Khu-khu-khu! Tak kusangka keberadaan kalian ada gunanya juga." Nada suara meremehkan dengan tawa memuakkan terdengar jelas ditelinga Shikamaru yang baru tersadar dari dampak ledakan. Dengan pandangan mengabur dan kepala masih berdenyut hebat menahan luka robek dipelipis kiri, si jenius Nara berusaha menegakkan kepala. Ingin melihat rupa sosok yang menghina mereka dengan posisi tubuh telungkup diatas tanah.

"Orochimaru!"

.

.

.

To-be-Continue...


setelah sebulan lebih, akhirnya dhiya berhasil update juga.. gomen minna lama banget update, Stok ide dhiya tibaau u-tiba mandat ditengah jalan. Padahal udah janji ama salah satu readres yang udah dhiya anggap adek sendiri, mau update cepet seminggu yang lalu. gOMen yaa buat Hikari en teman-teman yang udah kayak supporter bola (menurut dhiya) kalo baca the mummy. waka-waka! Kirim'in yaa Hikari gimna detik-detik Hikari cs baca the mummy. hehehe...

Gomen minna, dhiya ga bisa bales review. Dhiya baru aja mengalami musibah besar! pacar sehidup semati dhiya a.k.a Email yahoo dhiya dibajak ama orang ga bertanggung jawab! Bila teman-teman bertemen ama dhiya di Fb. Pasti ga heran lagi liet status dhiya uring-uringan gara-gara tuu email. Padahal udah bersama_sama selama 2 setengah tahun, tapi dengan tidak elitnya dipisahkan dalam hitungan detik! GAH! BUAT yang hack email dhiya, dhiya kutuk jadi monyet setengah kebo baru tau rasa! ARRGHHH! #banting-banting kasur#

untung aja FFn dhiya ga diganggu~~ TT-TT, (Readres: Dasar author stress! kena sial masih aja bilang untung! *sweetdrop*). buat indah, juga makasih yaa udah mau repot-repot menghibur dhiya disaat mengenang(?) tuu email #hugh Indah#. Thanks banyak-banyak buat

NiMin Shippers, SasuNaru Anime,Guest ,kannabelle B, Gunchan CacuNalu Polepel ,Ren64 , ChaaChulie247,Mirror2, Sytadict, fani, Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong, nasusay,devilojoshi, Isnaeni love sungmin, rama yuliansyah 5,URuRuBaek, BlackXX (gomen Nica-chan, ga bisa bles Reviewmu T_T), ukkychan, kinana , Miyamoto Arufina, ZoeKyu, paradisaea Rubra, Kiseki No Hana, 96, Princess Love Naru Is Nay, Qhia503, , Uzumaki Scout 36, hanazawa kay, AAind88, dan juga buat temen-temen yang udah review tapi ga bisa dhiya sebut'in (abis dhiya cuma liet lewat kolom review the mummy). Gomen yaa dhiya ga mencatumkan nama kalian, sungguh itu semua diluar kekuasaan dhiya (readres: ngomong apa sih? =_=") gara tuu orang glebek hack email yahoo dhiya! Jadi ga bisa bales review kalian. Hiks-hiks!

oke, akhir kata. adakah yang masih bersedia mereview fic ini?