29 November
"Netairi no Kami ya?" gumam Naruto pelan. Dia melirik ke arah sebuah batu raksasa yang berada di sisi kanan gerbang Desa Netairi. Naruto segera berlari ke arah batu tersebut dan duduk di atasnya. Kaki kanannya terjulur lurus, kaki kirinya ditekuk ke atas. Naruto mengambil sebotol air minum dari kantong kiri tas-nya dan meminumnya. Setetes air jatuh dari tepi bibirnya dan Naruto mengelapnya menggunakan ibu jari kanannya.
"Air minumku tersisa sedikit. Aku harus mencari air…" Naruto melirik ke arah kanan, ke arah jalan yang tadi dilaluinya. Dia memejamkan mata perlahan.
'Sepertinya duo Zetsu itu tidak mengikutiku…'
Naruto turun dari batu tersebut dan meletakkan ranselnya di tanah bersalju. Dia dengan cepat membuka jubah hangatnya dan menarik sesuatu dari dalam pakaiannya.
Gulungan-gulungan jutsu Shodaime Hokage dan dua buku tentang Uzumaki yang dia ambil dari persembunyian Madara terjatuh berserakan di tanah. Naruto mengambil buku tebal yang berisi tentang Rahasia Sumi-Kyo dan membersihkannya dari salju. Dia kemudian memasukkanya ke dalam tas. 6 jam sejak dia meninggalkan markas Madara, Naruto kini memulai pencariannya. Dengan berkeyakinan pada masih bersinarnya Gerbang Saiken, Naruto percaya…
Shion, Sang Ratu Negeri Iblis dan istri sah-nya, masih hidup!
"Sekarang…" Naruto merangkul ranselnya setelah semua gulungan dan buku dia masukkan ke dalam tas, membuat tasnya menjadi sedikit lebih berat. Dia segera menutup zipper jubah hangatnya dan menghembuskan napas perlahan. Uap air keluar dari mulut sang Yondaime Uzukage. Naruto berjalan dengan tenang memasuki Desa Netairi, sesuai perkiraannya, 3 jam lagi dia akan sampai di Negara Air dan Kirigakure.
THE UZUKAGE
BY DONI REN AND ICHA REN
NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO
THE UZUKAGE PROJECT
STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR
GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA
PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION
POV: NORMAL POV
HAVE FUN READ, BRO AND SIS!
.
.
.
The Rise of Uzushiogakure
Chapter 12
29 november, Nitairi no Kami (Desa Hutan Hujan)
Uzumaki Naruto berjalan menyusuri jalan setapak di Desa Nitairi dengan wajah tenang. Sesekali dia memperhatikan salju-salju yang jatuh dari dahan pohon akibat angin musim dingin yang berhembus kencang namun belum dikategorikan badai. Pikiran sang Uzumaki terus berputar diantara istri dan desanya. Pemimpin muda itu terus meyakini dirinya bahwa Gerbang Saiken tidak pernah berbohong soal cahaya kekuatannya.
Bagi Naruto, setelah apa yang dia dapat dari pertarungan singkatnya dengan Kazekage, Raikage dan 7 Ninja pedang Kirigakure, serta apa yang dia dapat dari kegagalan dirinya dalam mempertahankan Uzu, Naruto tahu bahwa celah yang dimanfaatkan 5 Kage adalah saat dia menikah. Satu hal pasti yang dia dapatkan, dan sering juga dikatakan ayahnya sewaktu dirinya masih kecil. Kata-kata yang selalu dia anggap sebagai nasihat tak berarti
"Sekutu adalah kekuatan tersembunyi yang bisa menghancurkan pemimpin, Naruto…kau harus belajar bersosialisasi sesama pemimpin jika menjabat gelar Uzukage nantinya…"
Naruto tersenyum tipis. Sekutu ya…begitulah yang dipikirkan Uzumaki muda tersebut. Yah…dia dapat melihat salju turun di desa lain karena desanya sudah menjadi puing-puing kenangan. Dia teringat setahun yang lalu, ketika melihat salju turun di Uzu bersama Yahiko, Nagato dan Konan. Dia teringat perdebatan tak pentingnya dengan Nagato kenapa salju berwarna putih dan lidah bisa melekat di besi ketika musim dingin. Mengingat itu membuat pendaran safir sang Uzukage sedikit bergetar sedih. Naruto kembali menatap lurus ke depan dan memikirkan tentang rencana dia selanjutnya.
'Derap kaki kuda…' Naruto dengan cepat menutup rambut jabrik merahnya dengan tudung jubah hangatnya. 3 menit kemudian, sebuah gerobak bertutup kain dan dua ekor kuda sebgai 'mesin penggerak roda' gerobak tersebut berhenti di samping Naruto. Naruto melirik cepat ke kanan saat seorang pria setengah baya dengan dagu besar dan mata ramah berbicara sopan kepadanya.
"Anda mau ke mana? Bisa saya antarkan…" katanya sambil melambatkan kudanya, membuat kuda-kuda tersebut berjalan santai.
"Ah, nama saya Hiro, Matshushima Hiro. Saya seorang pedagang Kirigakure. Anda mau ke mana?"
'Dia mengulangi pertanyaan yang sama…' Naruto mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis "Saya…" Naruto berhenti sejenak. Dia berpikir…
NAMA SAMARAN APA YANG BAGUS UNTUK DIRINYA?!
"Saya Haruto…Maki Haruto…saya ingin ke Kirigakure juga. Saya seorang pengembara…" kata Naruto dengan senyuman yang dipaksakan.
'MAKSA AMAT NAMA SAMARANNYA!' teriak Naruto dari dalam hati. Uzumaki, diubah menjadi Maki. Naruto, diubah menjadi Haruto…
Ternyata seorang pemimpin yang selalu dijuluki prodigy seperti dirinya selalu bodoh dalam hal-hal seperti ini. Naruto menepuk jidatnya di dalam hati.
"Ohh…Maki-san, ah…apa saya boleh memanggil nama depan anda?" Tanya Hiro sopan "Anda juga boleh memanggil nama depan saya…"
"Si-silahkan." Kata Naruto pelan 'DIA PERCAYA?! DIA TIDAK MENGANGGAP NAMA ANEH YANG KUBUAT 1 MENIT YANG LALU?!' teriak Naruto senang di dalam hatinya 'Heheheh…Yondaime Uzukage keempat gitu lho…' dan sifat angkuh sang Uzukage keempat mulai keluar.
"Ah, karena tujuannya sama, anda bisa masuk ke gerobak saya, Haruto-san. Bagaimana?"
"Eng…" Naruto memiringkan kepalanya "Tidak apa-apa, Hiro-san?"
"Tidak apa-apa…" kata Hiro sambil tersenyum ramah. Naruto menganalisis wajah dengan dagu besar tersebut. Dengan pembelajara psikologi fisik yang dia selalu baca di ruang baca istana Uzu, Naruto menilai orang baru yang ditemuinya. Walaupun tawarannya terdengar menguntungkan Naruto, setelah pengalaman dikhianati 5 desa besar, Naruto harus selalu waspada dimanapun berada.
'Tipe pedagang murni…dagu lebarnya menandakan dia selalu tersenyum dengan pelanggannya…' Naruto tersenyum tipis "Baiklah…arigatou, Hiro-san." Naruto pun berjalan menuju ke gerobak bertutup kain tersebut. Sebelum masuk ke dalam, Naruto menoleh ke arah Hiro yang siap mencambuk kedua kudanya agar kembali berlari di jalan setapak bersalju ini.
"Hiro-san!"
Hiro menoleh ke arah Naruto dengan wajah sigap "Hm? Ada apa Haruto-san?"
"Apa ada toko yang menjual minuman di desa ini?" Tanya Naruto dengan wajah polos. Hiro mengacungkan jempolnya
"Tenang saja, akan saya antar anda ke sana!"
Naruto tersenyum dan masuk ke dalam gerobak berpenutup kain tersebut. Saat masuk ke dalam, safir Naruto melebar terkejut.
Di dalam gerobak, selain beberapa barang dagangan, ada 5 anak dengan wajah suram dan menggengam ikat kepala ninja di tangan mereka. Walaupun terlihat sedikit karena tangan anak-anak tersebut menutupi lambangnya, Naruto tahu bahwa ikat kepala itu melambangkan desa Kiri.
"Kalian…siapa? Maksudku, apa yang kalian lakukan di dalam sini?"
Kelima anak itu tidak menjawab. Mereka menundukkan kepala dan memalingkan wajah dari Naruto. Wajah Naruto perlahan-lahan berubah serius.
.
.
.
Guncangan pemberhentian menandakan bahwa Hiro dan kudanya sudah sampai di tujuan. Naruto yang ingin turun memandang sejenak ke arah anak-anak tersebut. 3 orang anak yang ketahuan menatap Naruto segera memalingkan wajah mereka dari hadapan Naruto. Naruto memiringkan kepalanya sedikit.
"Kalian mau Paman belikan makanan di Toko?"
Tidak ada yang menjawab. Naruto menghela napasnya dan segera turun dari dalam gerobak. Hiro sedang mengelus kudanya dengan lembut.
"Hiro-san, boleh Tanya sesuatu?"
Hiro berdiri dan berbalik ke arah Naruto dengan pandangan ramah. Naruto memasukkan kedua tangannya di dalam kantong jubah hangatnya dan menatap datar Hiro.
"Siapa anak-anak di dalam gerobakmu itu?"
Hiro tertawa pelan. Dia menjetikkan jarinya dengan puas.
"Anda pasti bertanya hal tersebut, Haruto-san. Mereka adalah peserta Ujian Chunnin Kirigakure, mereka berlima datang dari daerah pesisir Kiri, yang disebut sebagai Kogai atau daerah pinggiran."
'Ujian Chunnin?' Naruto menautkan alisnya kebingungan "Kalau tidak salah, bukankah Ujian Chunnin biasanya diadakan di suatu desa dan pesertanya adalah Genin-Genin dari berbagai desa?"
Hiro menggelengkan kepalanya perlahan "Ya, memang ada yang seperti itu. Tetapi Kirigakure punya Ujian Chunnin sendiri, di mana ketika peserta yang lolos dari Ujian Chunnin Kiri maka akan langsung masuk dalam pelatihan Anbu Kiri di bawah pengawasan langsung dari Yondaime Mizukage-sama. Berbeda dengan peserta yang lolos dari Ujian Chunnin gabungan, mereka harus melalui Ujian Jounin dan Ujian masuk Anbu jika ingin memiliki jabatan yang lebih tinggi di mata Yondaime Mizukage-sama. Perbedaan inilah yang membuat para orang tua mengharapkan anak-anaknya untuk aktif ikut dalam Ujian Chunnin Kiri."
"Apa faktor yang menyebabkan Ujian Chunnin Kiri lebih diminati daripada Ujian Chunni gabungan, Hiro-san?" Naruto melirik ke arah toko sederhana 5 meter di depannya. Toko Serba Ada. Begitulah nama kanji yang dapat dia baca di atas pintu masuk toko. Mata Naruto beralih kembali ke Hiro saat pria berdagu besar itu menjawab pertanyaannya dengan nada sopan.
"Tentu saja kemenangan di Ujian Chunnin Kiri tidak hanya memberikan prestite kepada pemenangnya, tetapi Yondaime Mizukage akan memberikan hadiah yang besar kepada pemenang dengan uang yang begitu banyak. Apalagi jika langsung masuk pelatihan Anbu…" Hiro menggosok kedua telapak tangannya dengan semangat. Uap-uap dingin keluar dari mulutnya yang sepertinya senang membicarakan hal tersebut. Benar benar pedagang "…Ketika masuk pelatihan Anbu kiri, anda tidak hanya diajarkan teknik-teknik Ninja tingkat tinggi…tetapi anda juga akan digaji sebagai tunjangan masuk ke sana. Benar-benar Mizukage yang baik kan, Haruto-san?"
Naruto mengangguk pelan setuju. Tetapi dia memang baru mendengar soal Ujian Chunnin tersendiri dari Kirigakure. Sejak pertama kali bertemu Mizukage keempat dan berbicara dengannya di berbagai pertemuan, mau dari Yagura sang Yondaime Mizukage maupun pihak 4 desa lainnya tidak pernah menyinggung hal tersebut ketika mereka memasuki topik tentang Ujian Chunnin. Naruto dapat menyimpulkan sendiri alur dari cerita yang dia tangkap saat ini dan kolerasi dengan ingatannya tentang sikap Yondaime Mizukage.
Ujian Chunnin Kiri merupakan rahasia Kirigakure!
"Ano Hiro-san…" Naruto menggaruk belakang kepalanya dan menyengir "Tidak apa-apa menceritakan kepadaku soal Ujian Chunnin Kiri?"
Hiro menepuk pelan telapak tangan kirinya dengan kepalan bagian bawah tangan kanannya "Are? Tidak salah sebulan yang lalu Yagura-sama mengatakan bahwa Ujian Chunnin Kiri tidak apa-apa dibicarakan dengan bebas karena ujian tersebut tidak menjadi rahasia lagi. Kalau tidak salah Yagura-sama mengatakan itu setelah…" Hiro menggosok dagu lebarnya dengan tangan kirinya "Ano…"
Naruto melirik ke arah toko serba ada di depannya. Timbunan salju menutupi atap toko tersebut.
"Ah ya!" Naruto menoleh ke arah Hiro saat pedagang itu kembali menepuk pelan telapak tangan kirinya menggunakan kepalan bagian bawah tangan kanannya "Yagura-sama mengatakan Ujian Chunnin Kiri bukan rahasia lagi setelah Desa yang katanya akan menyerang 5 desa besar telah hancur. Beliau bilang desa berisi orang-orang kuat tetapi jahat telah ditiadakan dan 5 desa besar sudah menggalangkan persatuan dan kedamaian," safir Naruto bergetar hebat saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hiro yang bersemangat "Jadi hal seperti Ujian Chunnin tersebut tidak perlu ditutupi lagi…"
Naruto menundukkan kepalanya. Hiro yang tadi bersemangat memiringkan kepalanya kebingungan ketika merasakan atmosfir tidak enak di hadapannya.
"Haruto-san?"
Naruto mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis ke arah Hiro
"Begitu ya, Hiro-san. Menarik…menarik…" Naruto berjalan menuju toko dan memberi isyarat kepada Hiro untuk menunggunya. Hiro seperti biasa mengacungkan jempolnya dengan semangat.
'Rahasia yang dibuka ya…' Naruto melirik sekilas ke arah gerobak bertutupkan kain tersebut 'Tetapi wajah anak-anak yang ikut Ujian tersebut tidak nampak bahagia dan bersemangat…' Naruto memandang lurus ke depan dengan tajam '…Di wajah anak-anak itu tercetak jelas ekpresi sedih dan ketakutan!'
.
.
.
"Selamat datang di Toko Serba ada, ada yang bisa kami bantu?"
Naruto menutup pintu berkaca hitam itu perlahan. Dia memandang datar seorang pria tua berkacamata dengan jidat lebar setengah botak dan rambutnya terbelah dua di bagian belakang, di mana masing-masing belahan itu mencuat ke atas. Warna rambut pria itu berwarna hijau muda. Pria itu berdiri di samping rak mainan dan menepuk-nepuk telapak tangannya dengan semangat. Di kasir, berdiri seorang wanita bersurai ungu dengan poni disisir melengkung bawah ke arah kanan. Jepitan merah tua menjepit poninya dan dia mengikat rambutnya di bagian belakang. Mata wanita itu seperti setengah tidur dengan tatapan bosan.
'Bos yang bersemangat dan kasir yang pemalas…' Naruto berjalan mendekati pria tadi '…Kontras sekali.'
"Ano, Tuan…"
"Panggil saja saya Yoro-san, dan kasir saya yang cantik itu adalah Kazuki-chan," pria tua bernama Yoro itu menoleh ke kasirnya "Ka-Kazuki-chan! Bersemangatlah sedikit ketika ada pelanggan di depanmu!"
"Haiii'" kata Kazuki dengan nada malas. Naruto memandang sweatdrop ke arah wanita tersebut.
"Nah, jadi apa yang anda inginkan, Tuan…"
"Haruto."
"Ah ya, Haruto-san. Apa yang anda inginkan?"
Naruto ingin langsung mengatakan kalau dia butuh dua botol air, tetapi otaknya berputar cepat.
"Apa toko ini memakai sistem barter?" Tanya Naruto dengan nada tenang. Yoro menjetikkan tangannya dengan semangat
"Tentu saja, Haruto-san." Yoro melompat salto tiga kali dan menekuk lutut kirinya ke lantai "Toko serba ada selalu melakukan hal apa saja untuk memuaskan pelanggannya!"
"Berarti aku boleh mengambil barang di sini secara gratis…" gumam Naruto santai
"BUKAN BEGITU JUGA!" teriak Yoro dengan wajah sedikit kesal. Naruto tersenyum tipis. Dia berjalan ke arah meja kasir dan meletakkan ranselnya di depan Kazuki. Kazuki tidak bergeming sedikitpun dan tetap memandang malas ke depan. Yoro yang berada di belakang kiri Naruto menggaruk belakang kepalanya perlahan.
"Aku akan menukar dua kaleng makanan dengan dua botol air dan…"
"Matte Haruto-san," Yoro menggosok kedua tangannya "Boleh anda keluarkan dua kaleng makanan tersebut?"
Naruto mengeluarkan dua kaleng makanan pemberian Zetsu putih dengan cepat di atas meja kasir di samping ranselnya. Kazuki tetap tidak bergeming dan menatap malas ke depan. Mata Yoro berbinar-binar takjub.
"Wuooh, daging sapi kalengan dari Kumogakure! D-dari mana anda mendapatkan makanan kalengan mahal ini?!"
Naruto sedikit drop mendengarnya 'Aku tak menyangka Zetsu putih ternyata memberikanku makanan kualitas tinggi…' Naruto tersenyum tipis dan mengetuk meja kasir perlahan dengan jari telunjuknya
"Ah…aku seorang pengembara dan pernah ke Kumogakure. Ini adalah oleh-oleh dari sana. Nah, bagaimana Yoro-san anda-"
"SILAHKAN AMBIL APA SAJA YANG ANDA MAU! INI ADALAH HARTA BAGI PARA PEENJUAL SERBA ADA SEPERTIKU, BENAR KAN KAZUKI-CHAN?! Teriak Yoro senang sambil mengangkat dua kaleng makanan tersebut dengan dua tangannya.
"Haiii'" kata Kazuki dengan nada bosan. Matanya tetap memandang malas ke depan.
Naruto pun mengambil 4 botol air minuman dan memasukkan dua botol di dalam ranselnya, dua botol lainnya masing-masing di kantong ransel yang terletak di sisi kanan-kiri. Safir Naruto sedikit berbinar saar melihat sebuah lemari kaca yang berisi puluhan wig di dalamnya. Naruto megambil sebuah wig dengan model jabrik berwarna kuning cerah. Naruto menoleh ke arah Yoro dan mengangkat wig itu perlahan.
"Benda ini tidak mudah lepas dari kepala kan, Yoro-san?"
Yoro menepuk kedua telapak tangannya dengan semangat "Tenang saja, Haruto-san. Wig ini bahkan bisa anda pakai untuk bertarung, lihat di bagian sisi dalam kanan dan kiri wig tersebut…" Naruto memeriksa bagian dalam wig, di sisi kiri-kanannya terdapat seperti alat perekat. Naruto tersenyum tipis melihatnya.
"Tapi jangan juga banyak bergerak menggunakan wig tersebut, alat perekat itu benar-benar pengaman yang bagus lho…iya kan, Kazuki-chan?!"
"Haiii'"
Naruto berjalan dengan tenang menuju belakang toko. Dia menemukan rak yang berisi alat semir rambut dan semir kulit.
"Semir…kulit?"
"Aha!" tiba-tiba Yoro berdiri di sampingnya dengan wajah senang "Anda baru pertama kali mendengarnya Haruto-san? Semir kulit ini akan memanipulasi kulit anda menjadi warna kulit yang anda inginkan, dan semir kulit ini tidak luntur kecuali oleh cairan pelunturnya yang dijual satu paket dengan semirnya lho!"
"Promosi yang bagus…" kata Naruto pelan. Uzumaki muda itu dengan cepat mengambil satu set semir kulit dengan warna brown dan black. Naruto juga mengambil beberapa makanan, minuman kaleng dan kue ringan. Setelah memasukkan wig dan alat set semirnya ke dalam ranselnya, Naruto pun mengambil kantong belanjaan yang telah diikat Kazuki sambil mengedipkan mata ke kasir tersebut. Kazuki balas mengedipkan matanya ke arah Naruto dengan ekspresi orang yang mau tidur. Naruto tersenyum kecut.
"Baiklah…aku pergi dulu, Yoro-san." Kata Naruto sambil melambaikan tangan dan membuka pintu kaca hitam toko tersebut "Kau juga, Kazuki-san…bersemangatlah!"
"KAU JUGA, HARUTO-SAAAAN!" teriak Yoro heboh hingga Naruto bisa mendengar suaranya sampai ke luar toko. Naruto berjalan mendekati Hiro dan memberikannya sebuah kopi kaleng. Hiro menerimanya dengan senang. Pedagang berdagu besar itu meneguk kopi kalengnya hingga habis. Dia mengucapkan terima kasih kepada Naruto dan mengacungkan jempol dengan semangat. Naruto mengangguk sopan. Setelah sang pemimpin Uzu itu masuk ke dalam gerobak bertutup kain, Hiro memacu dua kudanya untuk melanjutkan perjalanan menuju Kirigakure. Perlahan tapi pasti, Uzumaki muda itu sedang mengejar takdirnya.
~TU~
Kirigakure, 29 November
"Meninggalkan wanita itu di sini. Apa maksud kalian semua para Kage?" Yagura memandang tajam 4 Kage lainnya. Pertemuan 5 Kage di Kiri akan segera ditutup. Setelah beberapa kejadian psikologi yang dimainkan Kazekage ketiga untuk menekan Sang Ratu Negeri Iblis berhasil, serta beberapa keputusan dan kesepakatan bersama, para Kage juga berusaha menyepakati di mana tawanan berharga mereka, yakni Shion akan ditempatkan. Usulan dari Danzo adalah di Kiri, karena setelah penyerangan Uzu, sang Ratu langsung di bawa di Kiri karena sedikit lebih dekat dengan Uzu daripada 4 desa lainnya dan Kirigakure memiliki 2 Jinchuuriki, di mana sang Yondaime Mziukage adalah Jinchuuriki juga, dan 7 ninja Pedang yang sangat amat terkenal. Ternyata 3 Kage lainnya menyetujui.
"Berbahaya jika kita membawanya lagi, Yagura-sama. Para bandit yang tahu kalau kita membawa Sang Ratu pasti akan mengumpulkan tenaga besar-besaran untuk menculiknya." Kata Danzo dengan nada tenang.
"Lagipula, aku dan Raikage akan membuat berita kematian Shion kepada petinggi Negeri Iblis. Kami juga akan menahan mereka agar tidak melawan 5 desa besar, Yondaime Mizukage…" kata Kazekage menimpali dengan nada dingin. Yagura mendecih pelan.
"Lagipula, Negeri Iblis bukanlah Negeri para Shinobi. Itu urusan mudah…nah kakek tua, kerjaanmu apa hah?!" Tanya Yagura dengan nada dingin. Oonoki menggosok punggungnya perlahan. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berdehem pelan membersihkan tenggorokannya.
"Aku akan mengkoordinir desa kecil lainnya soal kehancuran Uzu. Kita harus memainkan informasi politik di sana, Yagura-danna…" Tsuchikage menatap datar Yagura "…Agar tidak terjadi pertumpahan darah kecil-kecilan."
"Heh, kau pasti mengerti itu, Mizukage…" kata Raikage dengan nada sedikit mengejek. Yagura menatap tajam Raikage.
"Baiklah…baiklah…semuanya sudah sepakat dengan keputusan ini?" Tanya Danzo perlahan. Kazekage dan Raikage menganggukkan kepala perlahan. Tsuchikage menggosok punggungnya kembali dan menatap datar Danzo. Danzo tidak bergeming. Oonoki menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Shimura Danzo tersenyum. Sebuah senyuman yang aneh.
"Baiklah, anda hanya mengurung wanita itu di penjara bawah tanah anda yang terkenal dengan air kotornya…Mizukage-sama." Kata Danzo tenang. Matanya melirik ke arah Shion yang terduduk di pojok ruangan sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya benar-benar tertutupi helaian surai pirang kepucatannya. Danzo menyengir licik.
"Kalau mau, anda juga bisa merasakan keperawanan Sang Ratu untuk pertama kali…"
Yagura tidak bergeming menanggapi perkataan Danzo. Dia hanya menatap datar pemimpin Konoha tersebut. Matanya kemudian melirik ke arah Shion. Suatu pendaran pemikirian terlihat jelas di iris penglihatannya.
.
.
.
"Ini…"
Naruto melemparkan dua bungkus keripik kentang berukuran jumbo di depan 5 anak berwajah murung tersebut. Cahaya suram akibat sinar yang tidak masuk ke dalam gerobak bertutup kain membuat Naruto tidak terlalu jelas melihat perubahan ekspresi kelima anak itu. Guncangan kecil terjadi saat roda gerobak Hiro melewati lubang jalan. Naruto dapat melihat sebuah kotak kecil jatuh dari drum kecil yang berada di belakang anak-anak. Di sebelah kiri drum terdapat tumpukan pakaian yang dikemas dengan plastik putih dan beberapa kotak kecil yang sama persis dengan kotak di atas drum. Naruto benar-benar maklum dengan kegiatan para pedagang.
"Kalian tidak mau?" Tanya Naruto sambil memandang lekat anak itu satu persatu. Safirnya mulai melihat tajam wajah para bocah tersebut. Anak pertama memiliki rambut putih yang disisir klimis ke belakang. Beberapa helai rambutnya jatuh ke depan dan membentuk poni kecil yang lucu di wajah coklatnya. Matanya berwarna abu-abu dan bibirnya tipis. Tatapannya tersirat kekuatan dalam menghadapi kesulitan hidup. Safir Naruto beralih ke anak kedua. Seorang perempuan kah? Naruto tidak tahu pasti. Anak tersebut memiliki mata lentik besar dengan iris jingga dan rambut kemerah-merahan pendek. Hidungnya mungil dan tipe garis wajahnya benar-benar mirip perempuan bertipe lembut. Naruto mengangguk perlahan.
Anak ketiga memiliki tatapan keras. Naruto dapat melihat semangat di matanya. Rambutnya berwarna hitam, tergerai sebahu dan lurus. Bibirnya tertekuk membentuk huruf U terbalik dan memandang tajam Naruto. Naruto tersenyum tipis. Anak keempat dan kelima memiliki wajah yang hampir mirip. Pasti atau tidaknya, tetapi Naruto yakin mereka kembar. Yang satu memiliki rambut jabrik hijau keabuan dengan mata tajam, dan yang satunya memiliki rambut jabrik hijau agak gelap dengan mata lembut. Tetapi semua bentuk wajah mereka sama. Naruto kembali mengulangi menatap intens mereka sehingga membuat kelima anak itu risih.
"Jika kalian tidak mau…" Naruto yang selesai dengan kegiatan mengamatinya tiba-tiba mengambil satu keripik kentang yang tadi dia lemparkan "…Biarkan Paman yang menghabiskannya-"
"Berani sekali kau mengambil kembali barang yang telah kau berikan, Paman mata biru…"
'Paman mata biru?' Naruto memiringkan kepalanya. Yang berbicara adalah anak yang ketiga. "Ternyata kau berbicara juga nak."
"Jangan sok akrab…kau tidak tahu apa-apa! Ruri-chan, ambil keripik di depan kita! Tanaki dan Taneki, pegang kedua tangan paman itu! Zi, ambil keripik kentang di tangannya!" kata anak ketiga tersebut. Naruto yang kebingungan tiba-tiba merasakan kedua tangannya sudah dipegang oleh kedua anak kembar tadi. Sementara keripik kentang yang tidak diambilnya langsung disambar dengan cepat oleh anak perempuan atau laki-laki berambut merah. Keripik kentang yang berada di tangan kanan Naruto langsung disambar oleh anak laki-laki bersurai putih.
"Merepotkan melakukan ini…" gumam anak kecil berambut putih tersebut. Naruto menyengir licik. Dia menjatuhkan keripik kentang tersebut dan membuat Zi-bocah berambut putih-tanpa sengaja menangkap angin, dan menabrak Taneki yang memegang tangan kanan Naruto. Anak ketiga mendecih kesal.
"Teknik pergumulan! Lindungi keripik kentangnya!"
Akhirnya, Naruto pun ditimpa dengan beringas oleh kelima anak tadi.
Sementara Hiro tersenyum sedih ketika mendengar barang-barangnya jatuh terguling di dalam gerobaknya. Terdengar juga umpatan kekesalan Naruto dan teriakan kemarahan para bocah Kiri. Hiro memandang langit dan memperkirakan kalau mereka akan sampai di gerbang Kirigakure pada malam hari.
.
.
.
Selama kurang lebih 1 jam pergumulan di gerobak Hiro terjadi dengan sengitnya. Naruto pun menyerah ketika anak bersurai kemerah-merahan yang dipanggil Ruri menggelitik perutnya dan membuatnya kejang-kejang kegelian. Naruto duduk senang memandang 5 bocah itu memakan 2 bungkus keripik kentang pemberiannya dan saling berbagi sambil bercerita penuh senyuman. Naruto menghela napasnya sejenak. Dia kembali teringat senyuman dan tawa anak-anak Uzumaki, para generasi penerus di Uzu yang siap menjadi Uzukage selanjutnya. Tetapi dia telah gagal melindungi kehidupan daun-daun muda tersebut.
"Paman mau?"
Safir Naruto berkedip dua kali. Pupil matanya mengarah ke arah anak ketiga yang memberikannya keripik dengan tatapan tegas. Naruto tersenyum tipis.
"Tentu saja…" kata Naruto sambil mengambil segenggam keripik dari dalam bungkusnya.
"KEBANYAKAN!" teriak empat anak lainnya dan membuat Naruto jatuh sweatdrop di dalam gerobak bertutup kain tersebut.
"Eto…boleh Paman tanya sesuatu?" Tanya Naruto sambil memakan keripik yang ada di tangan kanannya dan memandang 5 anak itu satu persatu.
"Dimulai dari kau," Naruto menatap datar anak ketiga. Yang ditatap balas menatap Naruto. Tetap konsisten dengan tatapan tegasnya.
"Namamu siapa?"
"Inari."
Naruto mengangguk mengerti "Inari ya…kalian dari desa yang sama?"
"KALAU LEBIH TEPATNYA, DAERAH YANG SAMA PAMAN!" teriak Taneki, si kembar yang memiliki mata lembut.
"Jangan berbicara dengan nada seperti orang teriak, Taneki…" kata Tanaka, si kembar yang memilik mata tajam.
"Daerah yang sama?" Naruto memasang wajah penasaran "Maksudnya?"
"Beberapa dari kami adalah pendatang." Inari mulai menjelaskan. Perhatian Naruto beralih ke anak bersurai hitam tersebut "Aku sebenarnya berasal dari Nami no Kuni, Zi berasal dari Numa no Kuni, Ruti-chan berasal dari Kawa no Kuni. Hanya Tanaka dan Taneki yang merupakan anak asli Kirigakure. Desaku, desa Zi dan desa Ruri-chan adalah desa yang berbatasan langsung dengan Kiri, dan merupakan daerah yang sama dengan daerah Kiri yang ditempati Tanaka dan Taneki…yakni Kouga atau daerah pinggiran."
Guncangan kembali menerpa gerobak tersebut. Tampaknya roda gerobak kembali menabrak lubang.
"Daerah Kouga adalah daerah yang dipenuhi keluarga miskin dan tak mampu. Aku dan keempat temanku mengikuti Ujian Chunnin Kiri karena ingin mendapatkan hadiah yang besar dari Mizukage…"
"Apa kalian Genin?" Tanya Naruto pelan. Dia mengambil satu keripik dan memasukkannya ke mulut dengan cepat.
Inari tersenyum. Senyuman dengan tatapan tajam "Tidak Paman. Itulah uniknya ujian ini. Mizukage tidak memberikan syarat harus Genin untuk mengikuti ujian ini. Mizukage hanya memberikan syarat umur 10-14 tahun dan siap mengikuti syarat utama di ujian nantinya. Hal tersebut yang membuat para orang tua dengan mudah mendaftarkan anak-anak mereka untuk mengikuti ujian ini…"
Naruto memasang wajah curiga. Semakin dia mendengar tentang ujian dari Kiri, semakin banyak hal yang dia pertanyakan di dalam pikirannya. Naruto menatap tajam Inari dan berusaha menekan sedikit psikologi anak kecil tersebut dengan aura pemimpinnya.
"Inari, boleh Paman Tanya sesuatu dan Paman harap kau menjawabnya dengan jujur!" Naruto mulai melakukan tekanan suara yang sedikit lebih tegas.
"Paman, kok ja-jadi agak se-seram ya…" kata Ruri sambil menggenggam kedua tangannya dan menatap agak ngeri ke arah Naruto dengan mata bulat besarnya yang lucu. Zi hanya menatap datar ke arah Naruto, tetapi getaran matanya bisa mengetahui bahwa Naruto bukanlah 'Paman' sembarangan.
"Tanya saja, Paman…" kata Inari sambil tersenyum. Naruto tahu, walaupun bocah di hadapannya ini berusaha kuat menahan tekanan auranya, tetapi Inari menjadi sedikit panik dengan setetes keringat yang keluar dari dahinya. Naruto menunggu 10 detik sebelum dia mengajukan pertanyaan.
"Kenapa…" Naruto berhenti sejenak "…Kenapa kalian berwajah murung dan ketakutan untuk mengikuti ujian ini? Yang Paman dengar dari cerita kalian seharusnya wajah-wajah muda di sini dipenuhi semangat dan senyuman yakin akan kemenangan…tetapi saat pertama kali melihat wajah kalian…" Naruto kembali teringat wajah kelima anak itu saat dia pertama kali masuk ke gerobak bertutup kain "…Paman tahu kalau ujian dari Kiri adalah sesuatu yang ingin kalian hindari…jawab Paman Inari, apa yang mendasarimu ingin mengikuti ujian ini?!"
Inari langsung terkejut. Dia menelan ludahnya perlahan dan matanya memandang wajah Naruto yang menatapnya tajam namun tulus. Inari menoleh ke arah teman-temannya. Tanaki dan Taneki menganggukkan kepala memberikan isyarat bahwa Inari harus menceritakan yang sebenarnya. Ruri memberikan tatapan dukungan kepada Inari. Zi seperti biasa, menampilkan ekspresi tidak peduli dan seolah-olah berkata "Kuserahkan kepadamu Inari."
Inari menghela napasnya sejenak. Wajah yang keras itu langsung berubah menjadi muram. Mata Naruto berkedip pelan. Ini dia…ini wajah yang pertama kali dia lihat saat masuk ke gerobak Hiro. Wajah muram. Wajah yang menunjukkan akan kegelisahan dan ketakutan.
"Aku mungkin akan cerita soal Kirigakure pertama kali Paman…" Inari mengambil sebuah keripik dengan tangan kanannya dan menggigitnya. Matanya memandang sendu bungkus keripik kentang tersebut. Saat semua kunyahannya habis, Inari kembali bercerita.
Kirigakure di bawah kepemimpinan Mizukage keempat, yakni Yagura, sekaligus Jinchuuriki Sanbi memiliki sistem aturan militer ninja yang ketat. Di tangan Mizukage keempat, Kirigakure telah menjadi salah satu desa shinobi yang mampu menyaingi Konoha. Hal tersebut dikarenakan kerasnya pelatihan yang dicanangkan Mizukage untuk menghasilkan ninja-ninja bermental baja…
"…Dan aku lebih suka menyebutnya monster, Paman." Kata Inari pelan "…Ninja-ninja hasil didikan Yagura-sama bukan lagi manusia berkemampuan shinobi, tetapi monster yang siap membunuh tanpa ampun dan tidak mempunyai perasaan sedikitpun. Yagura-sama telah menciptakan generasi-generasi mengerikan di jaman kepemimpinannya."
Naruto terdiam. Inari kembali memakan sebuah keripik kentang dan mengunyahnya perlahan. Dia kemudian melanjutkan ceritanya.
Ninja-ninja 'Monster' tersebut merupakan realisasi hasil dari Ujian Chunnin Kiri dan Pelatihan Anbu Kiri. Peraturan yang paling terkenal dari Ujian Chunnin Kiri adalah bahwa dari ratusan peserta yang mendaftar, hanya ada satu yang akan mendapat gelar Chunnin. Sedangkan yang lainnya 'Kalah'. Kalah dalam artian MATI. Ya…Ujian Chunnin Kirigakure berlandaskan pertarungan sampai mati. Tidak ada teman. Yang ada hanya lawan. Berbeda dengan sistem Ujian Chunnin Gabungan dengan 1 tim 3 orang pada tahap-tahap awalnya, Ujian Chunnin Kirigakure langsung memakai 1 individu sebagai kompetitor yang melawan individu lainnya. Tahap yang terkenal adalah pertarungan saling membunuh di Hutan Kabut, dan pertarungan satu lawan satu hingga mati di arena berdarah Kirigakure. Bisa dibilang, shinobi yang memenangkan Ujian Chunnin Kiri adalah orang yang paling banyak membunuh di Ujian tersebut!
"Jadi itu sebabnya peraturannya adalah anak berumur 10 sampai 14 tahun…" gumam Naruto sambil memegang dagunya dengan tangan kirinya. Inari dan teman-temannya memandang bingung ke arah Naruto.
"K-kenapa Paman?" Tanya Ruri dengan nada penasaran. Naruto menatap lima bocah itu dengan serius.
"Apa kau tahu tentang pelatihan Anbu Kiri, Inari?" Tanya Naruto dengan serius. Inari memandang ke bawah dengan wajah berpikir. Dia menelan ludahnya kembali.
"Yang aku dengar Paman…yang terkenal dari pelatihan Anbu Kiri di bawah didikan Mizukage keempat adalah melatih ninja untuk membunuh orang, bukan untuk meningkatkan skill mereka. Mizukage memang sepertinya ingin membuat shinobi tempur berdarah dingin…"
'Begitu ya…' Naruto mulai mengerti sistem yang dibuat Yondaime Mizukage. Sistem pendidikan Shinobi yang mengerikan. Syarat 10 sampai 14 tahun yang dibuat Mizukage keempat ternyata memang tepat. Pemimpin Kiri itu memang benar-benar ingin menempa jiwa 'Monster Pembunuh' pada generasi Kiri dari awal.
'Pembentukan karakter yang rentan terhadap seseorang dimulai dari umur 5-16 tahun. Dengan memberikan syarat umur 10-14 tahun, Mizukage keempat tahu bahwa trauma saling bunuh-membunuh di Ujian Chunnin-nya secara tak langsung menghancurkan hati nurani anak-anak tersebut. Tempaan selanjutnya di pelatihan Anbu akan menjadi lebih mudah…' Naruto menatap 5 wajah bocah di hadapannya. Wajahnya mengeras.
"Paman…" gumam Ruri perlahan saat melihat sedikit emosi di pancaran safir Naruto.
"Paman ingin tahu kenapa aku mau mengikuti Ujian ini walaupun tahu bagaimana bahayanya ujian dari Mizukage?"
Naruto tersentak sedikit. Dia memandang Inari dengan pandangan penuh minat. Inari menatapnya dengan tatapan tajam. Wajah bocah itu kembali mengeras.
"Aku mengikuti ujian ini karena Kaa-san dan Jiji-ku diancam akan dibunuh, Paman. Ini bukan masalah uang atau kebanggaan saja. Mizukage keempat…Mizukage keempat tahu bahwa Tou-san adalah anggota Pasukan Rebellion dan akhirnya melakukan tindakan keras terhadap keluargaku. Lebih baik aku yang mati di ujian tersebut daripada Kaa-san dan Jiji! Lebih baik aku yang mengikuti Tou-san di alam sana daripada Kaa-san dan Jiji! Mereka sudah cukup menderita! Me-mereka…hiks…hiks…"
Naruto menghela napasnya. Ternyata wajah keras dari Inari adalah bentuk dari kesedihan mendalam yang dia tahan. Naruto perlahan mengelus kepala bocah tersebut. Dia tahu…dia tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai. Sama seperti Inari. Apalagi Inari adalah daun muda, yang perlu disiram dan dirawat dengan cinta.
"Pasukan Rebeliion…apa maksudmu Inari?" Tanya Naruto pelan.
"Kami juga begitu Paman…" kata Tanaki dengan wajah serius, namun itu membuatnya terkesan lucu "Tou-san dan Kaa-san kami adalah Pasukan Rebellion, tetapi mereka tertangkap para Ninja Mizukage dan kami diancam jika tidak mengikuti Ujian Chunnin Kiri ini!"
"Kaa-san dan Tou-san akan dibunuh di depan mata kami jika kami menolak mengikuti ujian ini." Kata Taneki sambil menutup wajahnya sedih.
"Nii-san adalah a-anggota Rebellion terhebat di angkatannya. Be-beliau dengan pasukan garis depan nomor tiganya berhasil menghancurkan pelabuhan barang yang dibangun Mizukage keempat u-untuk penerimaan alat-alat ninja. Te-tetapi beliau berhasil ditangkap dan dibunuh di-di depan rakyat Kiri oleh Mizukage keempat sendiri…" Ruri menggigit bibirnya sedih "Ru-rumah kami dibakar. Ka-Kaa-san dan Tou-san ditangkap bersama orang-orang yang ingin menggulingkan Mizukage…a-aku ingin mengikuti ujian ini ka-karena alasan yang sama dengan Tanaki dan Taneki. A-aku tidak mau melihat keluargaku mati…" Ruri menundukkan kepalanya. Naruto memandang sedih anak tersebut. Dengan tangan kirinya yang bebas, dia mengusap kepala bersurai kemerah-merahan tersebut perlahan. Tiba-tiba sang pemimpin Uzu mendengar decihan tidak suka di samping Ruri. Zi memalingkan wajahnya. Naruto berdehem pelan.
"Jadi kau…eng Zi-kun ya?"
"Jangan sok akrab denganku!"
"Apa alasanmu ingin mengikuti ujian tersebut?"
"Bukan urusanmu!"
Naruto terdiam. Keheningan menyelimuti suasana tersebut. Suara isak tangis pelan Ruri mengikuti irama jalannya gerobak yang dikendarai Hiro. Naruto menghela napasnya perlahan.
"Paman tertarik dengan cerita kalian soal Pasukan Rebellion. Boleh Paman Tanya sesuatu?" Tanya Naruto dengan senyuman menenangkannya. Empat bocah lainnya menatap Naruto. Mata mereka merah. Mata kesedihan menahan kepedihan.
"A-apa Paman?" Inari bertanya balik kepada Naruto.
"Boleh Paman tahu nama pemimpin Pasukan pemberontak Rebellion itu?"
Mata Inari menangkap getaran aneh saat melihat wajah tenang Naruto. Wajah tenang namun punya daya mematikan yang hebat. Inari kembali menelan ludahnya.
"S-sampai sekarang belum ada yang tahu pemimpin asli dari Pasukan Rebellion, Paman…kecuali para petinggi pasukan itu sendiri…"
Safir Naruto terlihat menangkap sesuatu yang jelas. Butir-butir cerita di Kirigakure mulai terlihat jelas di pikiran Naruto…
TBC
OC DATABASE IN ARC KIRIGAKURE, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE
Matshushima Hiro. Pedagang berdagu besar yang membantu Naruto menuju Kirigakure. Semangat dan senang mengacungkan jempolnya.
Yoro dan Kazuki. Bos bersemangat dengan kacamata serta kepala setengah botak dan gaya rambut terbelah mencuat ke atas di bagian belakangnya. Rambutnya berwarna hijau muda. Kazuki adalah kasir pemalas yang cantik dengan rambut ungu dikuncir kuda. Memilik poni melengkung ke arah kanan bawah dan mata setengah tidur.
Zi. Bocah bermata keabu-abuan dan bibir tipis. Memiliki pandangan yang dingin. Rambut putih klimis ke belakang dengan beberapa helai rambut tergerai ke depan membentuk mini-poni.
Ruri. Gender masih dibingungkan. Berwajah girly dengan mata bulat besar dan bentuk wajah seorang perempuan yang lembut. Rambutnya pendek seperti style rambut cowok berwarna kemerah-merahan.
Tanaki dan Taneki. Kembar. Tanaka memiliki rambut jabrik hijau keabuan dan mata tajam, Taneki memiliki rambut hijau agak gelap dengan mata lembut.
Inari sendiri adalah Inari di arc Nami no Kuni Naruto series.
A/N:
Hai minnaaaa! Sekarang Icha memegang A/N di chap ini dan mendepak Doni-san yang mesum agar fic ini tetap suci sedia kala KYAHAHAHAHAHA*Icha mulai gila-_-*
Jadi, sebelum-
Readers: ICHAAAA, JANJI MSB SEASON 2 LO MANAAA!
Jadi, sebelum menjelaskan ini dan itu
Readers: ICHAAAA,, JANJI LO WOY! JANJI WOY!
Jadi, sebelum menjelaskan ini dan itu tentang *pura pura gak dengar* Fic ini, Icha mohon maaf kepada Readers-san karena Icha tenggelam di dunia nyata dalam kesibukan. Karena UN sudah lewat, Icha sebagai anak baik yang sudah lulus, akan menyapa Readers semua dengan senyuman indah, KYAHAHAHAHAHA *Icha tawa gila mode: On*
Wosha! Soal MSB ya…MSB tu apa ya? *Dilempar pakai kolor Mbah Orochi* bercanda ding…hehe, maaf ya, Icha lagi dalam tahap membangun feel nulis nih, jadinya
Readers: INTINYA LO BELUM ADA PERSIAPAN UNTUK MSB KAN CHA?!
-_-III…Iya nih *digeplak* Tetapi tenang aja kok Readers-san, Icha pasti akan membuat MSB-nya, setelah humor Icha balik lagi, dan siap menistakan Naruto dan Akatsuki khekhekhe.
Oh ya, Naruto di sini Kakoi ya, cool dan LAKI banget. Oh ya, setelah berbicara dengan Doni-san soal project TU ini, kami memutuskan mengubah POV-nya menjadi Normal POV. Memang dengan One Person-POV akan membuat Doni-san bisa merangkai pemikiran Naruto yang indah, seindah ingus meler Sasyukei*CHIDORI*, tetapi saat Icha baca di chap 10, ternyata itu membuat alurnya menjadi agak sedikit lambat. Diputuskan lah membuatnya menjadi Normal POV^_^
Satu lagi, di Part 2 ini Icha dan Doni-san berusaha membangun konflik awal dulu dan mengakhirI setiap arc penyelamatan Naruto di puncak pertarungan konflik tersebut. Tapi…tapi…tapi…Readers-san jangan bosan ya kalau awal-awal ceritanya ngebosenin kayak wajah Doni-san *WOY!*
Ada tambahan ketikan dari Doni-san abang sepupuku sayang, Doni-san…check in!
Doni-san Check in. Tambahan dari ane untuk Bro and Sis. Dasar petualangan Naruto ane dapatkan ide dari arc Shion di TBT S1. Kalau Readers-san sudah membaca TBT s1 apalagi mengamati arc bagian Shion, pasti para Readers tahu bagaimana alur cerita ane nantinya. Jadi, tetap butuh saran dari Bro-Sis semua untuk kelanjutan fic ini. Tetap semangat membaca dan tanyakan apa saja dalam The Uzukage Universe ini. Icha ada tambahan?
Icha: TIDAK ADA! OH ya, sebenarnya yang mengetik tetap saja Icha ya Readers-san, Doni-san hanya ngomong di bagiannya dan suruh Icha mengetiknya dengan paksaan *cemberut*
Doni: CUKUP PEMBERITAHUAN TEKNIS MENGETIKNYA ICHAAA!
Hahaha, saatnya Icha membalas review ya^_^ check in!
Readers: CHECK INI TU APA MAKSUDNYA?!
Luthfi Gupix: Oke Lutfi-saan^_^
Narutouzumaki47: Mau tahu? Baca chap selanjutnya GYAHAHAHA*Tawa nista, digeplak* Yap, kemungkinan besar 47-san(?)
B-zetterian: Arigatou, tetap ikuti yaaa^_^
Uzumaki-irat: Hihihi…mungkin chap lalu Doni-san lagi kesepian, jadi butuh chat.
Rindo Fukateki: Hahaha, mungkin itu hal yang akan membuat kepala kita berasap. Humor ya hahaha^_^
Yudha Bagus Satan Lucifer: Soal itu, seperti di chap atas, tampaknya Naru-chan malah mengawasi duo Zetsu Yudha-san. Arigatou ne…
JoSsy aliando: Just Right, flick and bring to *Naruto: Ngomong apa sih Cha-_-*
Al-Faraoh: Wah Faraoh-san banyak nanya nih *pasang wajah cemberut* Naruto: APA SALAHNYA READERS BANYAK TANYA CHAAAA?! Hahaha, mungkin Naruto akan 'dibantu' tetapi dia harus menyelesaikan arc di Kiri ini dulu. Ditunggu saja Faraoh-san.
Shiruetto: Tidaaak, salah satu Readers jadi pengikut Doni-san O. Pleasestandby tu apa Shiruetto-san?! Ehem…ehem…arigatou ya masih ingat dengan kata DEWA Minato *Puppyeyes Jutsu* SALAM HIDUP ITU INDAH^_^
Sederhana: Oke Sederhana-san, arigatou ne ^_^
Guest: Ah ya…kami akan berusaha membuatnya panjang Guest-san, arigatou ya…
QioQio. P: WUAHAHAHA, Mungkin Doni-san sudah kehabisan ide kali *Doni-san: JANGAN BILANG RAHASIA AUTHOR KE READERS ICHAAA!* Bukankah dengan guyonan mengetik ini lebih memberitahu rahasia ide Author Doni-san-_-. Hahaha, oke Qio-san.
Zink: Arigatou Zink-san^_^
8Blue: Haha, begitulah hidup *Tuing(?)* yosh, arigatou ne…
PredX: Daan itu akan menjadi next stoy ke depannya PredX-san, ano…saat Icha membaca nama akun PredX-san kok teringat sesuatu ya…hihihi
Error Boss: Oke Boss^_^
Koko: Oke Koko-san^_^
Kushina lucifer: Sepertinya Icha bisa jawab iya Kushina-san^_^
Akira: Gomen ne Akira-san, mungkin di chap lalu Doni-san ga ada yang nge-chat sama dia GYAHAHAHA*Tawa nista mode on*
Fadjar: Hm…Fadjar-san bisa simpulkan di chap lalu, apa tujuan Naruto yang sebenarnya.
Uzuna. Akira: Oke Uzuna-san.
AripRif'an368: Untuk satu lawan satu melawan Kage, mungkin kekuatan Naru-chan sekuat seperti Orochi yang marah salah mencuri singlet Sasuke dan dapatnya singlet bolong Jiraiya^_^
Ae Hatake: Hmm…di awal Part 2 ini tampaknya tidak Ae-san^_^
MATA: Hahaha…one answer…secret *kedip mata sok imut, Orochi ikutan kedipin mata (?)*
Tu: Uff, udah updaten nih Tu-san^_^
Ashuraindra64: Naru-chan seperti yang dia jelaskan di chap lalu Ashura-san. Dia tetap memegang prinsipnya sebagai pemimpin yang akan menyelamatkan istrinya *Kyaa, Naru-chan Kakoi banget di fic ini3 3*
Ahmad s. syafii. 9: Sip Ahmad-san
Archilles: Just Right, I am Playing to best and *Naruto: Ngomomg apa lagi Cha-_-*
The KidSNo OppAi: Nama akun ini *pasang wajah horror* jangan terpengaruh Doni-san ya Kids-san. Arigatou ne…
Grand560: Shion ada di Kiri Grand-san. Di chap lalu juga masih di tempat yang sama.
Guest: Yap, seperti itulah…hihi.
Jebrik: Haha, dan juga gak sekalian nanya kegiatan apa yang mendampingi kegiatan mencret kan Jebrik-san ^_^ *NaruPeinKakuzu: Ichaaa-_-*
123: Just Right, You-*Naruto: Udah Cha!*
Motochikakun: Oke vak, hajar terus! Arigatou ne…
So, met malam minggu ya hahaha. Kalau yang free bolehlah read fic ini, review dan berikan kirtik, saran, tanggapan dan semangat kalian untuk Icha. Icha…Icha aja ya, orang yang bernama D-piip- gak perlu disemangatin*Diketekin Doni-san, eh D-piip-.
Dan, Jaa ne…see you in Chap 13, masih di Arc Kirigakure yang semakin rumit dan memanas khukhukhu
Tertanda Icha Rend an D-piip Ren
