Kembali ke mansion Hyuuga…kini Tenten bak seorang anak ketahuan mencuri makanan di depan orang tuanya. Ia harus duduk berlutut di depan Neji yang mengucapkan segala macam tetek bengek terkait perilakunya di pesta tadi. "Tenten sudah berapa kali kubilang jangan berkeliaran di pesta! Kau lihatkan tadi? Masa mereka dengan seenaknya membuatmu bekerja menjadi pelayan di pesta itu sih? Mereka pikir diri mereka siapa apa?! Kau juga! Kok mau-mau saja sih disuruh jadi pelayan mereka? Apa mereka tidak tahu kau itu seorang dokter dan istri satu-satunya pemilik Byakugan Hyuuga yang aktif? Kau tahu aku bisa menghajar mereka tahu!"

Tenten menulikan telinga mendengar ocehan tidak penting Neji. Oh astaga….sejak kapan sih Neji secerewet ini? Hal yang tidak menyenangkan lagi adalah Rei datang dan menambah suasana panas. "Apa?! Seseorang berani merendahkan pasangan hidup seorang Hyuuga? Berani sekali mereka! Mereka harus diusir segera dari sini". Gawat…..alaram tingkat dewa. Neji yang kaget langsung berbalik. "Ah, Tetua Rei…tidak perlu khawatir….ini hanya permasalahan sepele saja. Saya sudah menyelesaikannya…." Tenten juga menyahut, "Maafkan saya Tetua, saya memang tidak layak jadi istri Neji…kalo begitu saya keluar saja dari mansion ini. Keluarga Natsumi tidak bersalah, saya yang memang bersedia menjadi pelayan mereka. Salah seorang pelayan sakit dan saya menggantikannya."

Kening Rei berkerut. "Apa maksudmu, Tenten? Ceritakan padaku!". Tak lama setelah bercerita, Rei manggut-manggut. "Hmm, Hiroshi sangat keterlaluan. Kau Neji, kau lalai memperkenalkan Tenten!"tunjuknya pada Neji. Neji menunduk dan mengaku salah. "Kau, Tenten….aku bangga padamu…". Heeeeh? Tenten jadi bingung setengah hidup. "Kau memang memiliki hati yang baik, tidak sia-sia Neji melaksanakan Dragon Keeper padamu. Hatimu adalah hati yang baik seperti hati naga. Sekarang, silakan kembali ke kamar kalian. Istirahatlah, kalo bisa buat juga penerus Byaakugan malam ini". Pasangan suami istri itu pergi dengan muka memerah mendengar komentarnya.

Malam itu adalah waktu yang sangat hectic untuk Neji. Bagaimana tidak, entah bagaimana ceritanya Tenten mabuk. Hasilnya sudah sangat terduga. Tenten mengacau di mansion dengan gunting di tangannya. Saat ia baru selesai meditasi tengah malam, ia kaget melihat para tetua Hyuuga sudah kocar-kacir dengan rambut pendek. Neji bingung, rambut pendek? Hyuuga terkenal dengan rambut panjangnya dan di ujung lorong, Tenten berjalan dengan sempoyongan dan tampak cemberut sembari melempar rambut yang tampaknya baru ia potong. "Huaaaaa…rambutnya gak baguuuus. Tidak lembut…..Aku harus mendapat rambut yang sama dengan Neji…hiks".

"Astaga….Tenten….kau kenapa?"sahut Neji mendekat dan Tenten langsung menyodorkan gunting ke kepala Neji. "Sial….meleset..hiks…". Rei dan Kyou tampak tak berdaya dengan rambut pendek. "Istrimu kurang ajaaar! Berani sekali ia memotong rambut seorang Hyuuga."sahut mereka. Neji yang masih berusaha menghentikan Tenten memotong rambutnya langsung melempar gunting ke dinding dan membiarkan alat tajam itu menancap di sana. "Cu..curang hiks…rambutmu bagus…Neji….". Neji meringis saat Tenten menarik-narik rambutnya sambil menciumnya. "Hn…Tenten jangan berulah….ayo kita ke kamar." Neji dengan hati-hati membopongnya. Karena terlalu keras menariknya kepala Neji jadi tertunduk dan tak terduga ''cup" bibir mereka menyatu walau dibatasi oleh rambut tebal nan halus milik Neji. Segera saja, Tenten terjatuh ke futon secara kasar. Tenten hanya melenguh sebentar dan tertidur lagi di futon. Neji tidak bisa kembali tidur malam itu. "Demi leluhur Hyuuga, aku telah memperkosa bibir orang…..!" rutuknya dalam hati.

Malam itu juga Neji langsung menghadap para tetua. Para tetua sangat marah dengan perbuatan istrinya itu. Semua tetua lelaki dan para pelayan mansion kena imbas perbuatan Tenten, mereka semua berambut pendek jadinya. "Neji….istrimu sungguh lancang! Berani sekali ia memotong rambut seorang Hyuuga! Coba kau lihat kami semua terkena imbasnya". Sahut Rei. Neji berlutut minta maaf pada tetua, sebagai tanggung jawab seorang suami namun ia juga tahu Tenten tidak mungkin berbuat seperti itu tanpa sebab. Ia juga sempat melihat cakra Tenten yang kacau dengan Byaakugan yang sempat aktif sebentar saat ia berciuman tak langsung dengan Tenten. Ia yakin Tenten diperdaya. "Saya mohon ampun tetua, tapi saya sangat mengenal Tenten. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu jika tidak ada sebabnya. Saya rasa ada seseorang yang memasukkan sesuatu pada makanan dan minuman yang ia minum. Jika tidak, ia tidak mungkin bisa berbuat seperti itu karena selama saya menikahinya Tenten tidak pernah berusaha memotong rambut saya. Ia malah akan mengelusnya sepanjang waktu"sahut Neji dengan muka memerah. Para tetua wanita Hyuuga tersipu.

"Hmm, aku mengerti tapi biar bagaimana pun wanita itu tidak bisa tinggal di sini. Ia sudah mencemari Hyuuga dan tidak layak untukmu, Neji! Kami tidak akan merestui kau dengan wanita itu. Kau harus bercerai dengannya dan menikahi Natsumi!"sahut Kyou. Oh, sekarang Neji mengerti. Ternyata, para tetua tidak sepenuhnya bisa menerima istrinya dan mencoba menyingkirkannya. Yuriko mencoba membela Neji "Kyou, kurasa Neji ada benarnya. Jika memang ia berniat untuk memotong rambut Hyuuga, bukankah Neji akan menjadi korban pertamanya? Kurasa ini hanya salah paham". Hyou, salah satu dari tetua berbicara menengahi, "Neji, di masa lampau memotong rambut Hyuuga adalah penghinaan dan bagi kami perilaku istrimu tidak bisa dimaafkan dan dihukum mati". Pria itu memandang Neji lamat-lamat dan wajah Neji yang pucat itu membuatnya tahu pria itu khawatir pada Tenten.

Tiba-tiba terdengar suara pelayan yang memberi tahu Tenten muntah-muntah. Neji menyusul Tenten di kamar dan mendapati wajah Tenten sangat lemah. Tenten langsung dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Saat itu ia cukup terkejut mengetahui bahwa di tubuh istrinya ada kadar alkohol tinggi. "Sial! Mereka berusaha membuat Tenten menderita."sahut Neji sambil mengepalkan tangannya. Neji memegang tangan istrinya yang kini terbaring di tempat tidur rumah sakit. Sialnya, Tenten sampai bermimpi buruk tentang Neji lagi dan terbangun menjelang subuh. "Tenten ada apa? Tenanglah? Aku disini…"sahutnya.

"Neji, aku kenapa? Kenapa aku disini?"sahut Tenten. Neji menenangkan istrinya. "Sssh, sudahlah…kau istirahat dulu.". Tenten menggeleng pelan, "Tidak…aku…aku kenapa? Terakhir kali, aku baru saja dari kamar mandi dan seseorang membuatku tidak bisa bergerak dan meminumkan sesuatu padaku. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi…Neji apa yang terjadi?". Wajah pria itu menegang. "Apa kau melihat wajahnya?". Tenten menggeleng, "Tidak Neji….orang itu tidak bersuara…aku hanya melihat tangannya karena ia ada di belakangku dan meminumkan cairan aneh padaku. Maaf Neji, sepertinya ia memiliki kemampuan untuk bisa menghentikan gerakan seperti yang kau lakukan padaku dulu. Aku hanya berasumsi apa mungkin….". Neji melanjutkan, "Tetua yang merencanakan semua ini?". Tenten mengalihkan pandangannya.

"Mungkin saja Tenten….mereka dari awal tidak suka kita berada di mansion"sahut Neji. Tenten menggeleng, "Bukan kita….tapi mereka tidak suka padaku, Neji. Sebaiknya, aku pergi dari mansion. Besok saat keluar aku akan bersiap-siap. Aku tidak enak dengan keluargamu, Neji". "Tidak Tenten, jika kau pergi maka aku akan pergi. Bukankah seperti yang mereka katakan kekuatan Byaakugan ini muncul karena aku memilih orang yang tepat di sampingku? Lagipula kau benar, kita harus pergi. Mereka akan menghukum mati dirimu saat keluar dari rumah sakit". Tenten terkejut, "Kenapa? Apa maksud mereka menghukum mati diriku? Apa yang terjadi?". Dengan berat hati Neji menceritakan kejadian, saat Tenten tidak sadar.

"Baiklah kalau begitu…aku akan menerima hukuman itu."sahut Tenten. Mata suaminya langsung melotot "Apa?! Tidak! Aku tidak mau kau dihukum mati apalagi kau melakukannya tidak sadar. Lagipula kalau memang kau suka menggunting rambut Hyuuga, tentu saja rambutku yang pertama jadi sasaran, kan? Kau sendiri yang bilang kalo rambut halusku ini sangat kau kagumi". Tenten tersenyum tipis. "Kau bisa saja Hyuuga. Aku tidak apa-apa Neji…aku tidak mau jadi sahabat yang pengecut dan tidak mau bertanggung jawab. Besok, temani aku menghadap para tetua. Aku akan menjelaskan semuanya pada mereka."

Keesokan harinya Tenten benar-benar disidang, "Aku memohon maaf pada para tetua atas perbuatanku yang tidak layak". Dengan keadaan yang baru keluar dari rumah sakit dan tampak lemah itu, Tenten benar-benar lemah. Meski begitu ia tampak kuat berlutut di depan tua-tua Hyuuga. "Saya melakukannya tidak sengaja, saat aku bangun tengah malam ada yang mengunci gerakanku dan meminumkan sesuatu padaku. Aku tidak tahu ia siapa karena aku hanya melihat tangannya saja"sahutnya membela diri. Izuna mengangguk, "Berarti kau sama sekali tidak berniat memotong rambut para Hyuuga?". Gadis itu mengiyakan, "Tentu saja….di antara semua rambut Hyuuga, hanya rambut suamiku saja yang aku kagumi"sahutnya memandangi Neji.

Rei mengelus dagunya, "Apa kau mengenali identitas tangan yang meminumkan sesuatu padamu?". Tenten menunduk, "Tidak…tapi nampaknya orang itu seorang yang menguasai jurus Hyuuga. Jika tidak, aku tidak mungkin bisa berhenti bergerak setelah aku merasa ada yang menotok pinggangku. Neji pernah melakukan hal yang sama padaku saat ia tidur denganku". Para tetua tampak terkejut, "Jadi….kau menuduh kami para tetua yang melakukan ini semua…"sahut Kyou. Izumi maju dan memberikan ide yang mengerikan yaitu Tenten harus seorang diri melawan pusaka Hyuuga sebuah pedang perak yang konon di zaman lampau digunakan untuk mengeksekusi penghianat. Saat itu Hiashi yang juga ada di situ langsung tidak setuju. "Aku tidak mau….kalian mencelakakan menantuku….aku tahu Tenten melakukan hal yang fatal tapi mendengar dia tidak sadar saat itu. Pedang itu sangat berbahaya….kalian kira aku tidak tahu?! Tidak….aku tidak setuju….Neji…Tenten….ayo kita pulang."

Saat itu tiba-tiba dari arah berlainan jaring-jaring menutupi seluruh tubuh Hiashi dan Neji. "Hei….hentikan…..jangan apa-apakan istriku…!"teriak Neji. Kyou dan Rei berbalik ke arah Tenten. "Nah….kalau kau memang bukan pengecut….silakan ikut kami ke ruangan tertutup itu….". Tenten maju dengan sangat bergetar…tubuhnya masih sangat lemah. Saat sudah masuk, ke ruangan yang dimaksud pintu langsung tertutup.

Di tengah ruangan itu tampak sebuah pedang terikat rantai namun tidak terlihat karena ruangan itu gelap. Tak lama obor-obor menyala dan menampakkan pedang itu. Mata Tenten memandang kagum. Pedang tersebut terlepas dari rantainya dan melayang ke arah Tenten. "Kyaaaaaaaaa!"teriakan Tenten bergema. Di luar ruangan, Neji tampak kesal dan khawatir. Byaakugannya aktif dan melihat bagaimana pedang itu mengejar-ngejar Tenten. Ia berusaha mengeluarkan dirinya dari jerat jaring tapi terlalu sulit. "Tenten….bertahanlah…."bisiknya dalam hati.

Sementara dalam ruangan, Tenten langsung mengambil obor di dinding dan berusaha melawan pedang itu dengan obor itu. Well, weapon mistress seperti Tenten tidak boleh kalah dari yang seperti itu kan? Ia berusaha menghindar dari pedang yang berusaha menembusnya. Ia lalu berusaha menghindari dengan memakai beberapa obor lain, hingga ia melihat sarung pedang itu masih terikat rantai. Ia segera pergi ke sarung pedang itu dan menarik sarung itu keluar meski beberapa kali ia tersetrum saat menyentuhnya. Eh, kini malah pedang itu bergerak menjauhinya. Astaga….kini malah terjadi kejar-kejaran antara si pedang dan Tenten sebagai pengejar.

Neji yang melihat itu malah semakin heran, terlebih lagi saat ia melihat Tenten berhasil menyarungkan pedang itu dan memeluknya. Pintu ruangan terbuka dan Tenten keluar sambil memeluk pedang itu erat-erat di pelukannya, bukan hanya itu ia juga menciumi pedang itu. Tampaklah, aura pedang itu berubah jadi pink keunguan sejajar dengan cincin pernikahan yang diberikan Neji. Saat itu jaring-jaring langsung luntur. "Te..tetua…hmm..eeeeeeeeeehhhhhh" Tenten kaget saat melihat pedang itu keluar lagi dari sarungnya dan melayang ke arah Kyou, belum lagi sarung pedang itu menghajar tetua itu hingga ia mengaku. "Maafkan aku….aku tidak setuju dengan hubungan Neji…..maafkan aku pedang suci…"sahutnya sambil berlutut di depan pedang. Saat itu Neji mendekati Tenten dan sang pedang memasuki tubuh Neji dan langsung membuat Neji mencium Tenten di depan para tetua dan Hiashi.

Ciuman panas itu langsung berhenti saat si pedang keluar dari tubuh Neji dan berada dalam pelukan Tenten lagi. Neji langsung berbalik dan menyesal, "Ya ampuun, bibirku sekarang tidak perjaka lagi" bisiknya. Pedang di pelukan Tenten mendapat pelototan Tenten, dan gadis itu langsung melepaskannya. "Tidaaaaakkkkkk…bibirku dicium Neii Hyuuuugaaaaa! Ini gara-gara pedang ini….."teriaknya histeris. Tiba-tiba semua melihat ke arah mereka bengong….Krik..krik…krik….

"Apaaaaa?! Jadi kalian belum pernah ciuman walau sudah menikaaah? Apa jangan-jangan gak ada malam pertama juga?!"teriak tetua serentak bersama Hiashi. Baiklah, kini mereka berdua kembali disidang, bagaimana tidak ternyata hubungan ini ketahuan juga. "Kalau begitu, mengapa Byaakuganmu bisa keluar? Kau tidak pernah menyentuhnya kan?"sahut Hiashi. Neji juga tampak bingung hingga, "Ehm, mungkin karena rambut Tenten…sehari sebelumnya aku…aku sempat menyisir rambutnya dan paginya Byaakuganku muncul". Hiashi memijit-mijit kepalanya. "Sudahlah….kalian sudah cukup menyiksa keponakanku disini dan membuatku hampir kehilangan menantuku….aku akan tetap membawa mereka dari sini hari ini jugaa…Btw Neji, bisakah kau matikan Byaakuganmu atau kau memang sengaja mengaktifkannya?"Neji gelagapan "Ehm, maaf paman…aku tidak sadar kalau ini masih aktif". Neji langsung menonaktifkannya.

Tenten memeluk pedang yang mengejarnya tadi. "Kyaaaaaa…..paman…tetua…pedang ini sangat baguuus….boleh aku membawanya.?". Rei menggeleng keras, "Tidak boleh! Lihat….aura pedang itu malah jadi pink…"sahutnya sambil melihat sinar pedang itu berubah jadi pink. Neji membenarkan, "Itu benar Tenten…pedang itu aneh…aku tidak setuju kau membawanya. Bagaimana kalau pedang itu memasuki tubuhku lagi dan membuatku berbuat yang aneh-aneh padamu?". Tenten seketika menyadarinya dan melepas pedang itu, "Ah..kyaaa…benar…." pedang itu melayang dan kembali memasuki ruangannya secara tembus pandang.

Izuna tersenyum, "Ah, pedang itu sudah kembali ke tempat asalnya dan tersegel. Kau adalah orang pertama yang bisa menaklukkan pedang itu, nak. Rasanya meskipun kami tetua tidak mau mengakui namun pedang itu sudah merestuimu memasuki keluarga Hyuuga. Jadi, Tenten kau saat ini adalah anggota Hyuuga juga secara resmi…". Rei menyambung ucapannya, "Ya…kalian silakan kembali…Neji….jaga istrimu baik-baik. Tidak ada istri sebaik gadis ini…kau mengerti?" Neji mengangguk dan mereka pamit hari itu.

Keberangkatan mereka kembali menggunakan helikopter yang memang langsung diterbangkan sendiri oleh Neji. Satu kejutan yang memang tidak diketahui Tenten. Ternyata pamannya itulah yang mengajarkan cara menerbangkan kendaraan itu padanya. Perjalanan memakan waktu tidak begitu lama berkat kepandaian Neji mengemudikan heli itu. Sayangnya tenten yang tidak kuat itu langsung muntah di akhir perjalanan. "Hueeeeeek…hueeeeekkkk"dari arah kamar mandi terdengar suara menjijikkan itu. Neji mengkerutkan kening saat Tenten muntah. "Sial….aku lupa maagku kambuuh dan perjalanan heli itu membuatku mabuk."

Neji melap kening istrinya. "Maaf, aku lupa kau belum sarapan. Paman sudah menelepon Kou untuk membawa makanan ke sini. Untuk sementara, kau boleh makan ini…"Neji menyodorkan sandwich tuna yang ia buat tadi. Seketika Tenten melahapnya dengan sangat rakus bersamaan dengan itu bunyi bel terdengar dan wolaaaa….Kou dan makanannya datang. "Tuan muda….bagaimana kabarnya? Sudah 2 bulan anda tidak meminta saya memasak. Saya khawatir dengan tuan muda dan nyonya". Tenten tersenyum tipis, "Kou, terima kasih…ada sedikit masalah tapi jangan khawatir…semua beres….ah, ayo ke dalam".

Hari itu serasa hari balas dendam Tenten, hampir separuh masakan Kou dihabiskannya. Neji geleng-geleng kepala tapi ia lega karena inilah Tenten yang ia kenal. Kou memberikan sebuah undangan titipan dari Hiashi sebelum ia pergi. Undangan "Ballroom Party". Neji memicingkan mata dan menepuk dahinya. Ia berbalik pada Tenten yang baru selesai mencuci piring. "Ehm, tenten….kau masih bisa berdansa?"sahutnya sambil menyerahkan undangan itu. Tenten membaca undangan itu dan berkata, "Shit, not like this anymore. I refuse to wear gown" Tenten langsung pergi ke kamarnya. Neji menarik napas panjang, oke ia mengerti banget kalo itu bukan kesukaan Tenten. Neji pun mengejar Tenten ke kamar. Sudah berkali-kali diketoknya namun gak ada jawaban. Neji lalu mengaktifkan Byaakugannya dan tampaklah istrinya itu sedang tidur lelap di sana. Rasanya pria itu ingin jungkir balik, ia pikir istrinya itu sedang ngambek di kamar. Ya sudah, neji juga kembali ke kamar untuk istirahat.

Sore harinya, Kou kembali ke apartemen pasangan itu bersama Mikan, sang istri. Untuk apa? Tentu saja untuk menjadi pelatih dansa pewaris Hyuuga. Mengingat pengusaha yang lain juga akan ikut turun dalam dansa ballroom itu. Neji yang baru selesai mandi dan berganti pakaian yang membukakan pintu. "Selamat malam, tuan muda. Saya dan istri saya diutus Hiashi-sama untuk mengajar berdansa kalian berdua". Neji terlihat gugup, "Err…tunggu sebentar, Tenten akan segera kupanggil". Saat ia akan mengetuk, ternyata bersamaan Tenten sudah membuka pintu hingga pintu membentur wajah tampan Neji. "Neji…gomenasaiiiii….."sahut Tenten.

Singkat cerita hari itu Tenten setuju untuk berdansa dengan catatan tidak memakai gaun. Mikan justru tampak bersemangat dan memberikan mereka gerakan-gerakan yang lincah dan wanita itu juga sudah memberikan segala yang mereka butuhkan, termasuk tipe lagu yang mereka pakai berdansa dan pakaian. Tenten langsung tersenyum lebar mengetahui pakaian yang ia pakai.

Seminggu setelahnya, hari pesta dilaksanakan. Di antara sela-sela kesibukan yang padat pada sepasang suami istri itu, mereka menyempatkan diri untuk berdansa bukan lagi berkelahi seperti dulu. Namun kini sedikit lebih kikuk, entahlah mungkin karena peristiwa ciuman mereka di Mansion Hyuuga. Untungnya, gerakan mereka tidak mengharuskan mereka tampil mesra dan seksi. Di pesta yang sangat meriah itu, Neji dan Tenten datang bersama untuk pertama kalinya setelah menikah ke pesta. Tentu saja pertama karena 2 bulan sebelumnya mereka dikurung di mansion Hyuuga. Sebagian besar tamu mengerutkan kening karena tenten tidak menggunakan gaun tapi gadis itu cuek saja.

Saat yang dinanti itu tiba, pasangan pertama adalah Naruto-Hinata. Hinata tampak anggun dengan gaun birunya dan Naruto dengan kemeja hitamnya. Mereka berdansa Waltz. Gerakan-gerakan mereka yang anggun sangat memukau penonton dan mengundang decak kagum adalah saat Hinata berayun lembut pada Naruto membentuk gerakan melingkari tubuh suaminya itu (Adegan ini kuambil dari dancenya Katee and Joshua, liat dancenya di watch?v=cJAXCw6oqNs). Hinata berakhir dalam keadaan berlutut dan Naruto mencium keningnya. Wow….romantis banget.

Penampilan Gaara Sabaku dan sahabatnya Matsuri lebih mengejutkan lagi. Pasalnya gadis yang nampak kalem ini mampu membawakan tarian Paso Doble yang sangat tegas karakternya. Wajah tampan namun menyeramkan ala Gaara emang paling cocok untuk tarian ini. Sementara Matsuri juga menyesuaikan dengan ekspresi cantiknya. Gerakan-gerakan tegas dari langkah-langkah mereka berdua sangat meyakinkan (Adegan ini kuambil dari dancenya Patrick and Anya, liat dancenya di watch?v=kpLGbcZmX88). Neji mendengar gosip-gosip bahwa ia sengaja memilih Matsuri untuk menemaninya berdansa sebelum menyatakan perasaannya pada sahabatnya itu.

Setelah selesai, ia sempat melihat Sakura dan Sasuke bertengkar di belakang panggung. Sasuke nampaknya mengajak Sakura turun tapi istrinya itu menolak. Akhirnya Sakura naik dan membuka jubahnya….woooow…pakaian super seksi Sakura cukup bikin Neji melotot. Bagaimana tidak gaun ungu setengah jadi itu emang sangat seksi. Saat musik dinyalakan, Sakura bergoyang seksi di atas panggung hingga Sasuke menepuk bahunya dan wooops kaki Sakura tertempel di bahu Sasuke. Saat Sakura melepaskan kakinya ia akan jatuh tapi suaminya menangkapnya. Wow, tarian yang sangat menggoda. Tampaknya semua penonton setuju…beberapa gadis bahkan sampai teriak fansgirling apalagi liat Sasuke yang bergoyang sambil tersenyum. Gerakan dansa samba yang keren (Adegan ini kuambil dari dancenya Samba Katee and Joshua, liat dancenya di watch?v=nFZDO2Im71g). Adegan terakhir pun memperlihatkan kemesraan mereka apalagi mereka saling bertatapan. Saat Neji melirik, wajah Tenten memerah melihat adegan suami istri itu.

"Ehm, aku berubah pikiran….nampaknya mereka emang jatuh cinta Neji…". Neji mengerti maksud Tenten, mengingat saat pernikahan mereka pasangan Sakura-Sasuke jauh dari kata mesra, begitu pula dengan Naruto-Hinata. Neji menarik istrinya ke belakang panggung. "Kau gugup?"tanya Neji. Tenten menarik napas dan berkata, "Yaaaaa? Tentu saja….fuuh, untungnya kita tidak perlu semesra mereka kan?"kata Tenten. Neji tertawa, "Yaaa…tarian kita mungkin tarian paling konyol…tapi aku senang bila kita berdua nyaman melakukannya….baiklah…ayo kita ke atas". Mereka mulai berdansa, dansa yang terasa seperti main-main dan bercanda. Yah ini dansa jenis West Coast Swing, yang paling cocok dengan karakter mereka. Tenten beberapa kali menepuk bokong Neji, gerakan kaki menyilang dan rumit, Neji yang mengangkat badan Tenten. Tarian ini seperti saat mereka bertarung saja. Adegan penutup diberikan gerakan salto bergantian Neji dan Tenten. Belum lagi goyangan pinggul istrinya yang membuatnya terlempar (Adegan ini kuambil dari dancenya Swing Katee and Joshua, liat dancenya di watch?v=F-yv0tntLkk). Oke, yang terakhir itu sebenarnya ide Mikan dan Tenten setuju mengingat balas dendamnya pada Neji di Mansion Hyuuga. Akhirnya ia setuju juga gerakannya itu dilakukan. Herannya ternyata banyak orang yang bertepuk tangan juga pada gerakan dansa mereka.