Bab 12 Warna Persahabatan

Harry berpamitan dengan walinya, meyakinkan mereka bahwa dia akan mengirim Hedwig kalau dia memerlukan apa saja. Sirius sekali lagi mengingatkan Harry agar berhati-hati dengan Profesor Karkaroff. Harry menyadari itu lebih dari sekadar peringatan bersahabat, tapi tahu dia tidak dapat bertanya lebih banyak dengan Ron dan Hermione berdiri di sana. Ini akan harus jadi pembahasan yang menunggu sampai libur Natal.

Kembali ke Menara Gryffindor, Harry menemukan pendengaran Remus benar. Seisi Ruang Rekreasi telah didekorasi dengan spanduk yang digambari Dean Thomas. Piring-piring kertas makanan di mana-mana, berikut bermug-mug jus labu dan Butterbeer. Begitu semua menyadai tamu kehormatan mereka tiba, sorak sorai dan seruan memenuhi udara. Ron mengambil Firebolt Harry ke atas ke kamar mereka sementara Harry dibombardir jabat tangan dan tepukan di punggung. Begitu banyak orang berbicara bersamaan sehingga sulit memahami apa yang mereka katakan.

Setelah Harry menyeruak keramaian, dia menjatuhkan diri di kursi, Ron dan Hermione duduk di kanan-kirinya. Meletakkan telur emasnya, Harry sambil lalu mencomot kue labu dan makan pelan-pelan. Dia tidak dapat mengingat terakhir kali dia makan lebih dari beberapa gigit sebelum perutnya sakit. Dia juga tidak dapat mengingat terakhir kali dia tidur nyenyak.

Harry sudah lelah sekali sehingga tidak menyadari Lee Jordan mengangkat telur emas sampai dia bicara. "Benda ini berat lho, Harry," katanya, terkesima. "Sudah coba kaubuka, belum?"

Harry menggeleng dan tersenyum. "Aku akan mulai mengurusnya besok," katanya. "Kurasa aku layak mendapat libur sehari."

"Betul, tapi bukan berarti kita tidak boleh mengintip," kata Lee dengan cengiran dan suara yang cukup keras sehingga yang lain mendengar. "Ayolah, Harry. Buka dong." Beberapa orang menggaungkan antusiasme Lee begitu Lee mengembalikan telur itu ke Harry.

"Dia seharusnya memikirkannya sendiri," protes Hermione. "Itu peraturan Turnamen."

"Kami tidak akan membantunya memecahkan petunjuk," bela Fred, seraya menghampiri Lee ke sisinya. "Kami hanya ingin tahu apa isi telurnya. Lagipula, kami bisa jaga rahasia, Hermione, apalagi kalau ada hubungannya dengan Harry dan Turnamen. Dia kan di peringkat pertama. Kami tidak ingin membahayakan itu dengan melakukan sesuatu yang bodoh. Itu kebiasaan anak-anak Slytherin."

Harry menoleh ke Hermione dan mengangkat bahu, putus asa, sebelum membuka kunci telurnya dan hampir menjatuhkannya begitu tangisan keras menusuk telinga memenuhi ruangan. Secepat mungkin, Harry menutup lagi telurnya saat anak-anak membekap telinga mereka. Keheningan mengisi Ruang Rekreasi. Semua menatap horor telur itu. Tidak ada yang membayangkan sesuatu semengerikan itu tersimpan di dalamnya. Harry di lain sisi tersenyum dan memandangi Fred dan Lee tanpa rasa bersalah. "Yah, kalian tidak bisa bilang Hermione tidak memperingatkan kalian," katanya, apa adanya.

Ron menangkupkan tangan ke mulut saat dia mendenguskan tawa. Beberapa anak lain juga tertawa. Fred dan Lee pun turut tertawa dan kembali memeriahkan pesta. Menunduk dan mengamati telurnya, Harry mulai berpikir. Jadi itulah petunjuknya. Sekarang Harry paham mengapa mereka diberi waktu tiga bulan sampai tugas berikutnya. Dia mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk mencari tahu suara apa itu tadi.


Selama beberapa minggu berikutnya, perpustakaan seperti rumah kedua Harry. Sebagai tambahan PR-PR-nya, Harry mencari-cari setiap buku bahasa yang dapat dia temukan untuk mencoba dan memecahkan suara apa yang keluar dari telur itu katakan. Hermione dan Ron bertekad membantu Harry semampu mereka. Ada waktu-waktu mereka menengadah dari buku dan menemukan Harry pingsan kelelahan. Mereka separo tergoda mengirim burung hantu ke wali-wali Harry tapi tahu itu tidak mengubah apapun. Kalau Harry sudah bertekad, tak ada yang dapat menghentikannya.

Harry bukan satu-satunya juara yang menghabiskan kelewat banyak waktu di perpustakaan. Viktor Krum juga dikelilingi buku dan penggemar-penggemar yang datang ke perpustakaan hanya untuk memata-matainya. Suara kikik tawa anak-anak perempuan membuat Hermione jengkel bukan kepalang. Bahkan ada waktu-waktu rasa frustrasi Hermione menguasainya dan dia membanting bukunya menutup di meja, tiba-tiba membangunkan Harry.

"Ada apa?" tanya Harry cepat.

Hermione mengembuskan napas panjang. "Sori, Harry," katanya tulus seraya melihat melalui bahu kiri Harry ke arah Viktor Krum. "Aku hanya tidak lagi bisa menahan diri. Dapatkan mereka berpikir dia suka mereka bertingkah begini?"

Harry menggosok sisa kantuk di matanya sebelum berbalik dan melihat Viktor yang sama jengkelnya dengan Hermione. Mengumpulkan sebanyak mungkin keberanian, Harry berdiri dari kursinya dan menghampiri sang wakil Durmstrang. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi dia rasa apapun lebih baik daripada mendengar Hermione mengeluh berjam-jam berikutnya.

Menarik napas dalam-dalam, Harry menarik kursi dan duduk di seberang Viktor. Dia hanya dapat berharap Viktor memiliki perasaan yang sama dengannya tentang para penggemar. "Er—tolong jangan tersinggung, tapi apa kau suka—ermereka," dia memaksudkan penggemar-penggemar Viktor yang menonton adegan itu dengan penuh ketertarikan, "bertingkah begini? Mereka bisa sangat mengganggu."

Viktor menggulirkan mata. "Ceritakan padaku," katanya, terus terang. "Aku harap mereka paham aku bukan sesuatu untuk dipandangi. Kalau ini mengganggumu dan teman-temanmu, aku bisa pergi..."

"Tapi itu tidak benar-benar membantumu," kata Harry, serius. Yah, langsung saja. "Apa kau mau bergabung denganku dan teman-temanku? Aku janji kami tidak menakutkan seperti terlihatnya. Kami juga bisa merapalkan mantra-mantra pembungkam kepada mereka yang bebal..."

Viktor tampak skeptis mulanya, tapi kemudian mulai mengumpulkan buku-bukunya. "Aku amat sangat menghargai itu," katanya, bersyukur, seraya berdiri dan mengikuti Harry kembali ke tempat Ron dan Hermione duduk.

Keheningan mengisi perpustakaan. Tak ada yang dapat mempercayainya. Begitu Harry mencapai meja, baik Hermione dan Ron menatap Harry, syok. Ini jelas hal terakhir yang mereka harapkan. "Viktor, ini sahabat-sahabatku," kata Harry dengan ekspresi yang mengisyaratkan 'bantu aku'. "Ron Weasley dan Hermione Granger. Ron, Hermione, aku yakin kalian mengenal Viktor."

"Senang bertemu denganmu," kata Hermione lirih seraya mengulurkan tangan kepada Viktor, yang menjabatnya. Ron mengikuti. Harry duduk di seberang Hermione, sementara Viktor duduk di seberamg Ron. Hermione melirik buku-buku Viktor. "Satwa Gaib?" tanyanya, ingin tahu. "Kau mungkin harus bicara dengan Hagrid. Dia tahu banyak soal hal-hal semacam itu."

"Harusnya begitu, karena kebanyakan piaraannya termasuk ke kategori itu," timpal Ron, mendengus. "Fluffy... Aragog... Buckbeak... Norbert... harus aku tambahkan lagi?"

Viktor mengerling Harry dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Yah, Fluffy itu anjing raksasa berkepala tiga yang entah bagaimana kami temui waktu kelas satu di sini," Harry mengklarifikasi. "Aragog itu Acromantula yang kami temui waktu kelas dua, Buckbeak itu Hipogriff yang kami temui tahun lalu dan Norbert itu naga peliharaan Hagrid... er... katakan padaku lagi, dia itu apa?"

"Punggung-Bersirip Norwegia," kata Ron seketika. "Aku benci makhluk itu. Dia hampir mematahkan jariku. Baguslah kita berhasil membujuk Hagrid agar mengizinkan Charlie membawanya ke Romania waktu dia masih kecil. Setidaknya dia tidak berusaha memakan kita seperti anak-anak Aragog. Aku masih mimpi buruk soal itu."

Viktor membelalak memandangi ketiga remaja empat belas tahun itu. "Kalian bertiga sudah menghadapi semua itu?" dia bertanya. "Tapi kalian masih empat belas tahun. Bagaimana kalian bisa selamat?"

"Banyak keberuntungan," gumam Harry selagi dia memandang sekitaran, mendapati anak-anak masih menonton mereka. "Kita tidak seharusnya membicarakan ini di tempat macam ini. Tidak serius kok. Dengan Hagrid menjadi guru Pemeliharaan Satwa Gaib, bertemu satwa aneh jadi biasa saja."

"Biasa, Harry? Sejak kapan melawan Basilisk—ow!" Hermione meringis saat Harry menginjak kakinya, menyuruhnya diam.

Viktor memandang Harry lurus-lurus. "Kau bilang itu semua cuma rumor," katanya, lirih, dan cengiran merekah di wajahnya. "Aku setuju ini bukan tempat yang cocok tapi aku berharap bisa mendengar semua petualanganmu nanti."

Setelah itu, Viktor duduk bersama Harry, Ron dan Hermione di perpustakaan. Ron dan Hermione ragu pada mulanya tentang pengelompokan itu, tetapi mereka tidak berkomentar apa-apa karena toh tidak ada pembahasan tentang tugas yang akan datang. Viktor sesekali memberi masukan ketika mereka mengerjakan PR, yang membantu sekali. Bahkan Hermione bersyukur atas bantuan Viktor.

Rumor mengenai Rita Skeeter menggentayangi halaman Hogwarts mencari-cari wawancara telah tersebar. Para guru telah diperingatkan untuk tidak berbicara dengannya karena topik utamanya Harry Potter. Ancaman aduan ke Sirius Black berhasil menjauhkannya dari Harry, tetapi anak-anak lain tidak seberuntung itu. Saat ini Rita tahu siapa teman-teman dekat Harry dan siapa yang dia sudutkan setiap mereka keluar ke halaman. Pemeliharaan Satwa Gaib adalah kesempatannya menyudutkan anak Gryffindor manapun yang dapat dia temukan. Meskipun mereka yang dia tanyai hanya menjawab "tidak ada komentar".

Seolah-olah tidak ada hal yang menarik dibicarakan di sekolah, Profesor McGonagall mengumumkan Pesta Dansa Yule akan dilaksanakan pukul delapan pada hari Natal sampai sekitar tengah malam di Aula Besar. Pesta itu terbuka bagi anak-anak kelas empat ke atas, tetapi yang lebih muda juga boleh diundang. Mereka wajib mengenakan jubah pesta. Harry membiarkan pengumuman itu masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Dia toh sudah ada rencana selama libur Natal, rencana yang sudah dia tunggu-tunggu sejak tahun ajaran baru dimulai. Harry belum pernah pulang ke rumah tempat dia tidak dibenci. Sirius dan Remus bilang padanya kalau Rumah Black jauh dari modernisasi, tapi Harry terlalu penasaran ingin melihat tempat dia akan menghabiskan libur musim panasnya... bersama peri rumah keji ataupun tidak.

Begitu pelajaran berakhir, Harry hendak keluar bersama anak-anak lain, tetapi suara tegas menghentikannya. "Mr Potter, kalau kita boleh bicara sebentar," kata Profesor McGonagall. Harry berbalik dan menunggu sampai semua pergi. Profesor McGonagall menghapus jarak di antara mereka berdua. "Harry, aku perhatikan namamu tidak termasuk dalam daftar murid yang tinggal selama liburan."

Harry bingung mendengarnya. Mengapa namanya harus ada dalam daftar itu? "Karena saya tidak bermaksud tinggal," kata Harry, berhati-hati. "Saya bermaksud pulang. Ini Natal pertama saya bersama Sirius dan Remus. Mengapa saya harus tinggal?"

Profesor McGonagall berdehem gugup. "Harry, duduklah dulu," katanya, lalu juga duduk sendiri. Setelah Harry menurut, McGonagall menautkan jari dan tampak berjuang mencari kata-kata yang tepat. "Harry, aku mengerti kalau kau ingin menghabiskan Natal bersama walimu dan Mr Lupin. Aku tahu betapa pentingnya keluarga bagimu... tapi, kau adalah wakil sekolah dan punya sejumlah kewajiban—"

"—kewajiban?" tanya Harry, gelisah. Dia benar-benar tidak suka arah pembicaraan ini. "Kewajiban seperti apa yang mungkin dapat saya punyai? Saya sudah melakukan semua yang kalian minta. Saya menahan rasa malu dan tekanan karena menjadi bagian dari Turnamen. Saya rasa tidak berlebihan jika saya ingin istirahat dari melihat dinding-dinding ini."

MvGonagall mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya. "Harry, kami telah meminta sangat banyak darimu tahun ini, aku tahu," katanya, sabar. "Kau telah luar biasa menjalani tantangan ini. Aku tahu ini terdengar tidak adil, tapi sudah menjadi tradisi bagi para wakil untuk membuka pesta dansa bersama pasangan mereka. Kau salah satu wakil. Kalau kau bersedia, aku dapat menghubungi Mr Black dan Mr Lupin untukmu. Aku tahu mereka akan mengerti..."

Harry hanya dapat menatapnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ini tidak terjadi. Mengapa dia harus membayar hasil perbuatan orang lain? Ini tidak adil. Dia sudah menunggu-nunggu kesempatan ini sejak Sirius mengadopsinya. Memejamkan mata, Harry menahan beberapa kata pilihan yang tidak akan Profesor McGonagall setujui dan memaksa dirinya tenang. Ini bukan salah Profesor McGonagall. Dia hanya mengantarkan pesan.

Membuka lagi matanya, Harry menatap lurus-lurus Profesor McGonagall, yang membalas tatapannya dengan yang tampaknya seperti campiran simpati dan rasa kasihan. "Saya tidak punya pilihan, kan?" tanya Harry, lirih.

Profesor McGonagall meremas lembut tangan Harry, memberikan semua konfirmasi yang dia butuhkan. "Apa kau ingin aku bicara dengan walimu?" dia bertanya lagi.

Harry menggeleng. "Tak usah, saya saja," katanya, seraya berdiri. "Toh ada yang ingin saya bicarakan dengan mereka juga." Meraih tas sekolahnya, Harry dapat merasakan pikirannya mencari-cari cara menyampaikan berita ini kepada Sirius dan Remus. "Terima kasih, Profesor," katanya lirih, lalu pergi meninggalkan kelas menuju Menara Gryffindor.

Dia linglung menyusuri selasar, bahkan tak sadar sudah sampai di Menara Gryffindor sampai Nyonya Gemuk mengentaskannya dari pikiran. Harry menggumamkan kata kunci sambil lalu, kemudian masuk melewati Ruang Rekreasi dan mendaki tangga. Memasuki kamarnya, Harry menutup pintu dan menguncinya sebelum buru-buru menghampiri koper dan mengeluarkan cermin kecil yang dia butuhkan untuk menghubungi Sirius. Duduk di tempat tidurnya, Harry mengambil napas dalam, memanggil Sirius dan menyiapkan diri menghadapi percakapan menegangkan.

Tidak butuh lama sampai wajah Sirius muncul di cermin. "Hei, Pronglet!" kata Sirius, senang. "Bagaimana kabar anak asuh favoritku?"

Harry mendengus mendengarnya. "Sirius, aku anak asuhmu satu-satunya," katanya, lalu ingat alasan utama dia menghubungi walinya. Harry menggigit bibir bawahnya, tegang. Ini lebih sulit daripada yang dikiranya. "Remus bersamamu?"

"Dia di bawah menyerang Boggart," kata Sirius, hati-hati. "Harry, apa yang terjadi?"

Menarik napas dalam-dalam, Harry mengira dia tidak perlu basa-basi. "Aku tidak bisa pulang untuk Natalan," dia memulai. "Profesor McGonagall bilang padaku hari ini, aku harus menghadiri pesta dansa Yule yang dilaksanakan waktu Natal karena aku salah satu wakil. Sebenarnya aku tidak mau ikut dan aku harus membuka pesta. Apa pula maksudnya itu?"

Sirius nyengir. "Harry, itu artinya kau dan teman kencanmu harus berdansa tarian pembuka," katanya, geli. Harry tampak ngeri atas gagasan itu yang membuat Sirius terbahak. "Sori. Aku benar-benar lupa soal dansa Yule. Itu tradisi dalam Turnamen Triwizard. Makanya ada jubah pesta disebutkan dalam daftar perlengkapan tahun ini. Aku yakin kami melupakan sesuatu yang harus kami katakan kepadamu."

Harry mengerang dan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Jadi kau tidak marah?" dia bertanya.

Sirius mendesah dan menggosok matanya. "Harry, aku mengerti ini sesuatu yang harus kaulakukan," katanya. "Tentu aku tak marah. Aku akan bicara kepada Dumbledore dan membahas kalau ada sesuatu yang bisa dia lakukan. Ada ide siapa yang akan kauajak jadi pasangan?"

Harry bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya. "Tidak ada," jawabnya jujur. "Saran apapun yang dapat kauberikan akan sangat kuhargai."

"Yah, di masa-masa aku masih sekolah, aku akan mengajak yang cewek paling cantik menjadi pasanganku," kata Sirius, jujur. "Sekarang, aku mungkin akan mengajak siapa yang kukenal dan aku nyaman bersamanya. Kalau kau tidak nyaman dengan pasanganmu, Harry, kau hanya akan semakin tegang. Ajaklah seseorang yang lumayan kaukenal, jadi setidaknya kau tahu apa yang dapat kalian obrolkan."

"Tapi kenalan cewekku tidak banyak," kata Harry, apa adanya. "Satu-satunya hal yang mereka lakukan kalau ada aku adalah menatap dan cekikikan."

Sirius terkekeh, yang membuat Harry kesal. "Misteri para wanita akan jadi diskusi panjang yang harus menunggu sampai di lain kesempatan," katanya, terus terang. "Tapi aku akan memperingatkanmu. Cewek-cewek yang menatap dan cekikikan itu mungkin bukan yang akan kupilih. Ada kemungkinan mereka cuma tertarik mengencani Anak yang Bertahan Hidup daripada mengencani Harry."

Harry memutar mata. "Baguslah," gumamnya. "Aku bahkan tidak bisa berdansa. Ini mimpi buruk."

"Tidak banyak yang bisa berdansa di usiamu, Harry," kata Sirius, jujur. "Bertanyalah ke kanan-kirimu. Mungkin ada yang bersedia mengajarimu. Kurasa aku pernah dengar Moony bilang sesuatu soal Chaser tim Quidditch-mu ada yang cewek. Kau kan sudah bertahun-tahun kenal mereka. Kalau mereka tidak bisa berdansa, mereka mungkin tahu siapa yang bisa."

Harry harus mengakui gagasan itu masuk akal. Angelina Johnson, Katie Bell dan Alicia Spinnet adalah tiga cewek yang tidak memberi perlakuan berbeda antara Harry dengan anggota lain di tim. Dia hanya berharap mereka mau membantu. "Trims, Sirius," kata Harry, bersyukur. "Kau tidak akan sibuk, kan... hanya berjaga-jaga."

"Kalau aku tidak ada, masih ada Moony," kata Sirius, menenangkan. "Tidak usah terlalu dipikirkan, Harry. Kau kan sudah menghadapi naga. Ini tidak ada apa-apanya dibanding itu."

Untuk beberapa alasan tertentu, Harry tidak setuju. Menghadapi naga membutuhkan insting. Harry punya banyak pengalaman di bidang itu. Di sisi lain, sisi wanita di ras manusia adalah bidang yang paling tidak Harry kuasai.


Malam setelah makan malam, Harry berhasil menemui Angelina dan Katie. Ingat Angelina pernah memasukkan namanya ke Turnamen, Harry mencoba sehati-hati mungkin menyusun kata-kata. Ternyata pada akhirnya, itu bukan masalah. Kedua Chaser Gryffindor itu sangat memahami dilema Harry dan langsung mengajukan diri mengajarinya berdansa. Mereka akan belajar sejam setiap malam sepanjang Harry memerlukannya.

Memilih siapa yang harus dia ajak lebih sulit lagi. Harry bertekad menuruti nasehat Sirius. Dia akan dapat menjalani malam itu lebih santai jika Harry nyaman bersama pasangannya. Masalahnya, dia kalah cepat. Pada hari dia hendak mengajak Hermione di perpustakaan, dia mendengar seseorang yang bicaranya beraksen telah mengajaknya ke pesta dansa Yule. Harry bisa mendengar kegembiraan Hermione dalam suaranya saat dia menerima dan mau tak mau dia ikut gembira. Dia jarang mendengar nada itu dalam suara Hermione selain waktu dia membicarakan PR.

Sepertinya berdansa dengan seorang wakil menjadi tujuan sebagian besar populasi perempuan di Hogwarts. Harry diajak beberapa gadis yang belum pernah dia temui sebelumnya dan harus sopan menolak mereka. Lama-lama Harry berpikir semakin cepat dia mendapat pasangan, semakin baik. Setidaknya itu dapat menyingkirkan cewek-cewek yang cekikikan itu dari mengikutinya ke mana-mana.

Jauh dalam lubuk hatinya, Harry sebenarnya tahu akan mengajak siapa, tapi dia takut apa yang sebagian orang akan katakan. Mengerjakan PR bersama Ron dan Hermione, Harry mengira dia langsung saja menuju sasaran. "Er—Ron," tanyanya, pelan. "Kau marah tidak, kalau ada yang mengajak Ginny ke pesta... sebagai teman, tentu saja."

Ron menatap Harry dengan satu alis terangkat. "Apa yang kaudengar?" dia bertanya, protektif. "Siapa yang mengincar adikku?"

"Ron!" Hermione menegurnya, lalu merendahkan suaranya sehingga hanya Ron dan Harry yang mendengarnya. "Bukan itu maksud Harry. Dia bertanya padamu, kau marah tidak, kalau dia mengajak Ginny ke pesta."

Kalau ada yang bilang otak Ron bekerja lamban, itu belum apa-apa. "Kenapa kau mau mengajaknya?" dia bertanya, tidak paham. "Dia kan adikku. Ada banyak cewek lain di sekolah ini—"

"—yang lebih tertarik berpasangan dengan Anak yang Bertahan Hidup daripadaku," potong Harry. "Sirius bilang aku sebaiknya mengajak seseorang yang membuatku nyaman. Ginny sudah seperti adikku sendiri. Selain Hermione, Ginny satu-satunya cewek yang percaya aku tidak mendaftarkan diri ke Turnamen sejak awal. Dia sudah tahu semua yang kita alami jadi dia tidak akan minta diceritakan lagi semuanya untuk melengkapi rumor yang dia dengar."

"Itu masuk akal," kata Hermione, serius. "Kau jelas sudah mempertimbangkan ini, Harry. Aku bangga padamu."

"Kenapa kau tidak mengajak Hermione?" tanya Ron, penasaran.

Harry mengerling Hermione, gugup, sebelum berpaling. "Er—aku yakin Hermione sudah ada yang mengajak," katanya, ragu, membuat Hermione terbelalak kaget. Dia belum bilang apa-apa kepadanya soal dia tidak sengaja menguping.

Ron memandang Hermione dan Harry bergantian. "Siapa yang mengajakmu?" dia bertanya kepadanya, curiga.

"Seorang teman yang mengajakku," kata Hermione, mengindar. "Kurasa kau ada benarnya, Harry. Lagipula, kau sudah dianggap bagian dari keluarga Weasley. Akan lebih baik bagimu mengajak Ginny daripada kalau dia diajak orang lain yang mungkin akan memanfaatkannya. Kau setuju, kan, Ron?"

Itu berhasil. Ron langsung melupakan kekeraskepalaannya dan mengizinkan Harry mengajak Ginny ke pesta dansa. Setelah Ron kembali sibuk dengan PR-nya, Harry mengucapkan terima kasih tanpa suara pada Hermione, yang membalas tanpa suara "kita bicara lagi nanti". Mereka berdua tahu ada yang harus dijelaskan di antara mereka.


Hermione terkejut mengetahui Harry mendengar pasangan dansanya mengajak ke pesta di perpustakaan. Dia juga kaget Harry mempertimbangkan mengajaknya dan bersikeras pasangan dansanya hanya sebatas teman, yang Harry anggap aneh. Toh mengapa dia peduli? Selama dia menikmati, mengapa harus jadi masalah? Hermioe tak pernah menyebutkan siapa pasangan dansanya, yang Harry anggap dia belum ingin semua tahu. Dia sih langsung mengenali suara siapa itu, tetapi memutuskan untuk menghormati keputusan Hermione.

Dengan bantuan Hermione, Harry berhasil menyusul Ginny waktu dia sedang sendirian keesokan paginya. Meminta izin Ron terasa mudah jika dibadingkan dengan menyusun kata-kata yang tepat sehingga Ginny tidak salah menangkap maksudnya. Satu-satunya masalah adalah semua yang telah dia pikirkan seperti tidak mau keluar dari mulutnya. Mengapa ini sulit sekali? Ini kan Ginny.

Harry memandang Ginny tepat di mata dan diam-diam berdoa dia tidak mengacaukan ini. "Ginny, kupikir kau tahu apa yang harus aku lakukan di pesta dansa Yule," dia memulai dan mengeluarkan napas lega saat dia mengangguk. "Aku tidak suka menjadi pusat perhatian dan kalau aku membawa pasangan yang tidak kukenal hanya akan menambah masalah. Aku tahu kita belum kenal dekat, tapi aku menganggapmu sebagai salah satu teman dekatku, begitu juga keluargamu. Kau berada di pihakku Oktobr kemarin waktu sebagian besar sekolah berpaling dariku. Kau tak tahu betapa itu sangat berarti bagiku. Kurasa yang ingin kukatakan adalah apa kau mau ikut aku ke pesta dansa Yule... sebagai teman?"

Ginny menatap Harry agak lama, sebelum membiarkan senyum lebar merekah di wajahnya dan melingkarkan lengan ke leher Harry. "Dengan senang hati aku akan ikut denganmu, Harry," katanya senang, lalu mundur dengan senyum hati-hati di wajahnya. "Kau mau memberi tahu kakak-kakakku, atau haruskah kita bikin kejutan?"

Harry menggigit bibir bawahnya. "Yah, Ron sudah tahu," katanya, berharap Ginny tidak marah. "Aku hanya ingin meyakinkan dia tidak marah soal ini. Dia sahabatku dan aku tahu bagaimana dia protektif terhadapmu..."

Ginny sekarang memandangi Harry, terpukau. "Bagaimana kau berhasil meyakinkannya?" dia bertanya.

"Kau bisa berterima kasih pada Hermione untuk itu," jawab Harry jujur, lalu menceritakan bagaimana Hermione meyakinkan Ron kalau Harry pilihan terbaik untuk adik kesayangan Ron. "Kadang aku berpikir kalau dia seharusnya masuk Slytherin," tambahnya, serius. "Dapatkah kaubayangkan kalau Hermione dan Malfoy—"

"Iiihh!" Ginny meringis jijik. "Jangan bayangkan!"

Mereka berdua lalu tertawa. Harry jadi lega. Sekarang yang dia butuhkan tinggallah menyelesaikan pelajaran dari Angelina dan Katie, mengira-ngira petunjuk untuk tugas kedua dan menyelesaikan PR sebelum akhir tahun. Angelina dan Katie telah meyakinkan Harry kalau dia cepat belajar dan akan baik-baik saja saat tiba waktunya pesta dansa Yule. Sulit sekali belajar dansa dengan dua cewek yang lebih tinggi darinya, tetapi pada akhirnya lancar-lancar saja. Harry searang dapat melalui pelajaran itu tanpa menginjak kaki seseorang dan lupa langkah, yang berarti kemajuan pesat. Di atas itu semua, Harry senang sekali. Dia tidak akan terlihat tolol pada akhirnya.

Begitu akhir minggu tiba, pesta dansa Yule adalah satu-satunya topik perbincangan. Beberapa guru bahkan menyerah mengajar sementara sisanya tetap meneruskan materi, apapun gangguannya. Profesor McGonagall, Profesor Moody dan Profesor Snape yang terparah. Profesor McGonagall selalu tegas, tak ada yang berani membantah Profesor Moody, dan bersenang-senang di kelas Ramuan hampir sama mungkin terjadinya dengan Profesor Snape tidak membenci setiap Gryffindor yang berpapasan dengannya.

Harry dan Ginny sepakat tidak mengumumkan mereka akan pergi berdansa sebagai pasangan. Sebenarnya, Ginny memohon kepada Harry agar dia bisa bersenang-senang dengan kakak-kakaknya, Fred dan George. Ron dan Hermione berjanji tidak mengatakan apapun meskipun Ron agak lebih sulit bungkam daripada Hermione. Ron agak tidak suka Harry dan Hermione punya pasangan sementara dia belum mengajak siapapun. Ron juga agak jengkel karena adiknya mendapat pasangan sebelum dia.

Duduk di depan perapian, Harry sekali lagi membolak-balik halaman buku bahasa-bahasa gaib. Pelajaran sudah selesai digantikan liburan, memberinya waktu memusatkan perhatian sepenuhnya pada tugas kedua. Hermione dan Ginny duduk di sebelahnya, berceloteh tentang band yang akan tampil di pesta dansa, namanya The Weird Sisters. Harry belum pernah mendengar lagu-lagu mereka sebelumnya, dan dari terdengarnya, Hermione juga demikian.

"Apa kau harus melakukan itu sekarang, Harry?" tanya Ron dengan nada bosan dari kursi di seberang Harry. "Kan masih ada dua bulan buat memecahkan teka-teki telur bodoh itu. Kenapa kita tidak main catur atau Exploding Snap?"

Harry mendongak ke arah temannya, tiba-tiba merasa jahat sekali telah ditelan masalahnya sendiri dan tidak melihat Ron juga punya masalah. Masalahnya, Ron menciptakan masalahnya sendiri dengan menunda-nunda pekerjaan. "Aku lebih memilih menyelesaikan teka-tekinya di awal dan dapat menyiapkan diri daripada terlihat idiot, Ron," katanya jujur. "Aku beruntung aku sudah belajar mantra pemanggil untuk tugas pertama. Kau mengerti itu, kan?" Dia mendesah waktu Ron memberengut dan berpaling. "Baiklah, bagaimana soal pesta dansa? Sudah ada yang kauajak? Kami bisa membantumu mencarikan seseorang..."

"Buat apa?" tanya Ron keras kepala, seraya memandangi api. Kesedihan dalam suaranya menyesakkan. "Aku tidak sepertimu, Harry. Aku bukan wakil. Cewek-cewek tidak mengantre di depanku seperti mereka mengantre di depanmu."

Harry menutup bukunya dan menyingkirkannya. Terdengarnya hampir seperti Ron cemburu, tapi dia selalu mengeluhkan banyaknya waktu yang Harry habiskan untuk belajar demi Turnamen. Tidak masuk akal. "Tapi toh aku masih harus mengajak seseorang," kata Harry. "Aku bahkan harus minta izin dari kakaknya dulu, jadi secara teknis aku harus mengajak dua kali. Dan juga, menjadi wakil tidak sebagus terdengarnya. Kalau mau jujur, aku merasa seperti sepotong daging dipamer-pamerkan."

"Setidaknya kau terkenal," gumam Ron pahit.

Cukup sudah. Menenteng buku di tangan, Harry berdiri dan siap berbalik. "Oh betul, aku terkenal," katanya ke Ron melalui bahunya. "Satu-satunya alasan kenapa aku terkenal adalah karena seseorang selalu menginginkanku mati; biasanya orang yang sama seperti yang membunuh orangtuaku dan mengutuk hidupku. Kalau kau ingin kehidupanku, Ron, silakan ambil... ambil semuanya."

Tak ingin dengar permintaan maaf terbata-bata, Harry pergi meninggalkan Menara Gryffindor ke perpustakaan. Dia tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang. Kecemburuan Ron melukainya dalam. Harry semula percaya Ron telah melupakan "ketenaran"-nya saat mereka menemukannya ketiduran di pinggir danau pagi hari setelah dia diumumkan sebagai juara. Ternyata Ron tidak melupakannya. Dia hanya tidak berkata apa-apa soal itu.

Harry sama sekali tidak terkejut menjumpai perpustakaan kosong. Toh siapa yang belajar di awal liburan? Dia menghampiri meja terjauh di perpustakaan dan mencoba membaca. Dia hampir separo melewati separo buku, baru mulai membaca satwa-satwa yang dimulai dengan huruf M. Ini mungkin cara terburuk mencari tahu telur itu bicara dengan bahasa apa, tapi Harry kehabisan ide.

Untungnya, usaha Harry membuahkan hasil sewaktu dia mencapai Merfolk—Duyung. Deskripsi bahasa mereka, mermish—bahasa duyung, paling cocok dengan bunyi tangisan yang dia dengar dari telur emasnya sejauh ini. Dengan harap-harap cemas, Harry bergegas menuju seksi Satwa Gaib dan mencari-cari buku tentang duyung. Dia mengambil beberapa buku dan membawanya kembali ke mejanya, dan mendapati dia sudah kedatangan anak-anak berambut merah.

Si kembar Weasley, keduanya tampak marah. Harry hanya dapat berasumsi mereka sudah dengar apa yang terjadi di antara dia dan Ron. "Ada yang bisa kubantu untuk kalian berdua?" tanyanya, seraya duduk lagi dan membuka salah satu buku.

"Ginny sudah cerita apa yang terjadi," kata George. "Kami cuma ingin bilang—"

"—maafkan kalau adik kami bertingkah kurang ajar," Fred melanjutkan George. "Kami datang kemari untuk meminta izin—"

"—mengerjai bajingan tengik itu," kedua kembar itu selesai bicara bersamaan.

Harry menggeleng pelan, dan menggosok mata di balik kacamatanya. "Meskipun aku menghargai itu, kalian tahu kalian tidak boleh begitu," katanya lirih. "Adik kalian itu Ron, bukan aku. Kalau kalian terus-terusan membelaku, itu cuma akan memperparah kecemburuannya."

Ekspresi di wajah si kembar tampak lucu. Keduanya seperti terjebak antara bingung atau murka. "Tapi dia keterlaluan!" teriak Fred, tidak percaya. "Hanya karena dia terlalu pengecut mengajak cewek, bukan berarti dia berhak—"

"—apa?" potong Harry. "Cemburu? Itu kan sudah seperti tema khusus tahun ini. Malfoy cemburu padaku, jadi dia menyerangku... Ron cemburu..." Harry tidak menyelesaikan kata-katanya. Harry tidak membutuhkan ini terjadi sekarang. Dia tidak ingin sahabatnya berpaling darinya. Dia tidak ingin keluarga Weasley jadi canggung karenanya. "Tidak usah cemaskan aku," katanya, seraya kembali menekuni buku di depannya. "Aku akan baik-baik saja."

Untungnya, Fred dan George menganggap itu sebagai permintaan agar mereka meninggalkannya. Harry tetap di perpustakaan sampai tiba waktunya belajar lagi dengan Angelina dan Katie, dan kembali lagi ke perpustakaan setelahnya. Liburan baru saja mulai dan Harry sudah cemas bukan kepalang. Sendirian di perpustakaan yang sepi, Harry hanya dapat berpikir bahwa menjadi wakil Hogwarts ternyata mengacaukan hidupnya.


Taqabalallahu mina wa minkum, minal aidin wal faidzin. Maafkan translator yang nggak tahu diri ini ya m(_ _)m Met lebaran bagi yang merayakan