Title : All That I Am

Chapter : 12

Author : Yukishima aka Daiichi

Rating : T to M

Genre : Drama, Romance, angst

Fandom : Super Junior

Pairing : Sibum; Sichul; slight Changbum, GS

Disclaimer : Minjem nama doang. Tapi cerita milik saya ^_^

Note Author : Saya gak akan banyak komen.

Ingat2 pesan saya, ini hanya fic bukan kenyataan. Ambil yang baik, jangan ditiru hal yang buruknya :-D

=o=

Sraak..

Siwon meletakkan berkas-berkas yang sedari tadi ia pegang dengan sedikit kasar ke atas meja kerja. Memejamkan sepasang mata tajamnya lalu memijit pangkal hidungnya pertanda ia merasa penat. Mungkin bukan tubuhnya tapi lebih tepat pikiran dan hatinya. Mulai pagi hingga siang ini Siwon berusaha mengkonsentrasikan pikirannya dengan semua pekerjaan. Bagaimanapun pelik masalah yang ia hadapi namun Siwon ingin tetap bersikap profesional dalam pekerjaan. Selama ini dirinya mampu melakukannya. Namun beberapa hari ini entah menguap kemana semangat kerja yang selama ini ia miliki.

Sudah satu minggu lebih Siwon menjauhi gadis tambatan hatinya, Kim Kibum. Siwon tak pernah lagi mengunjunginya, mengajaknya keluar, bahkan menelefon atau sekedar mengirimi pesan gadis itu. Ketika berada di kantor pun, tak sedikit tanda yang menunjukkan kedekatan hubungan mereka. Siwon bersikap seolah tiada hal yang istimewa dalam hubungan mereka, Kibum hanyalah salah satu karyawatinya saja tidak lebih dari itu. Walaupun Kibum menanggapi dengan tenang seperti biasa seolah memaklumi sikapnya, namun Siwon bisa menangkap guratan kekecewaan di mata sang Snow White ketika ia memperlakukannya dengan dingin seperti ini.

Sungguh Siwon tak ingin seperti ini, namun memang harus dilakukannya. Seharusnya dari awal dirinya memang tak terlibat hubungan apapun dengan Kibum. Karena perasaan romantisme tersebut, dirinya melupakan tujuan awalnya. Ia lupa bahwa hal seperti ini mampu membuyarkan semua hal yang telah terskema sebelumnya. Siwon harus mengembalikan semuanya seperti keadaan semula. Mungkin ia harus mengorbankan perasaannya pada gadis cantik bernama Kim Kibum tersebut, namun beginilah seharusnya yang terjadi.

Betapa Siwon merutuki kebodohannya bertindak ceroboh sehingga Heechul mengetahuinya. Kali ini sudah bisa dipastikan bahwa kepercayaan Heechul kepada dirinya akan berkurang. Entah bagaimana mendapatkan kembali kepercayaan istrinya tersebut. Selama berhari-hari ini Siwon telah memikirkannya. Memang Heechul bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi di antara mereka. Namun Siwon tak senaif itu. Ia sangat tahu apa yang dipikirkan oleh istri cantiknya tersebut. Tak mungkin semudah itu Heechul memaafkan dan melupakan apa yang terjadi. Entah apa yang akan direncanakan oleh Heechul selanjutnya. Siwon hanya bisa menebak-nebak berbagai kemungkinan yang ada dan akan terjadi.

Lamunan Siwon terbuyarkan oleh dering nada pesan yang masuk ke ponselnya. Dengan sedikit malas Siwon meraih ponsel mahalnya. Dibacanya pesan yang baru masuk tadi. Terdiam beberapa lama sambil menggenggam erat ponsel tersebut. Kelopak matanya terpejam sekali lagi, menyembunyikan sepasang iris mata yang selalu terlihat tajam ketika menatap subjek di sekitarnya. Menahan deru nafas memburu yang terasa menyesakkan dada.

"Kibummie...," bibir joker itu bergumam menyebut nama seseorang.

Mungkin bagi orang lain ini hanyalah sebuah pesan singkat, tapi tidak bagi Siwon. Bagaimana mungkin Kibum masih begitu memperhatikan dirinya, menanyakan keadaannya padahal selama beberapa waktu ini Siwon telah mengabaikannya. Tangan Siwon terasa gatal ingin segera membalasnya, namun Siwon bersikeras menahan diri. Ia memang tak boleh melakukannya. Betapa pun ia merindukan Kibum, seberapa dalam perasaannya, hal seperti ini akan merusak segalanya. Hanya kata maaf dalam hati yang bisa ucapkan dan tentus aja Kibum tak mungkin mendengarnya.

"Choi sajangnim," Siwon mengalihkan pandangan kearah sumber suara yang memanggilnya tadi.

"Changmin?," Siwon menatap heran kearah Changmin.

"Ini waktunya jam istirahat. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?," ajak Changmin yang merupakan sepupu dari Heechul tersebut.

"Maaf, masih banyak pekerjaan yang harus kukerjakan sekarang. Kau makan siang saja dulu," tolak Siwon halus.

"Jangan bekerja terlalu keras. Nanti kau cepat tua hyung. Kali ini aku yang traktir."

Tanpa ragu Changmin langsung menyeret Siwon keluar ruangan kerjanya. Sementara Siwon hanya terdiam saja karena sebelum ia memikirkan penolakan yang lain Changmin sudah memaksanya seperti ini. Sedikit kesal dengan sikap seenak sendiri dari sepupu Heechul tersebut, tapi lebih baik kali ini Siwon menurutinya saja.

"Ah, sebentar hyung!"

Changmin tiba-tiba meninggalkannya di lobi dan berlari menghampiri sosok cantik yang amat dikenalnya. Benar. Ternyata Changmin menegur gadis bernama Kim Kibum. Siwon bisa melihat mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan karena Siwon hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Hanya melihat keakraban mereka saja mampu membuat darah Siwon seakan mendidih, apalagi ia melihat Kibum tersenyum kepada Changmin. Wajah tampannya itu terlihat menegang dan berubah menjadi lebih serius. Tanpa sadar menggeletukkan gigi-geliginya serta mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Cemburu. Itu yang dirasakan Siwon saat ini. Terdengar tidak adil karena Kibum hanya kekasih rahasianya, bukan istrinya. Lagipula saat ini Siwon sedang menjauhinya bukan? Terlalu beresiko mendekati Kibum lagi. Heechul pasti akan mengetahuinya. Karena itu, Siwon harus lebih berhati-hati.

"Maaf membuatmu menunggu hyung," ujar Changmin setelah kembali padanya. Wajahnya terlihat ceria.

"Tidak apa-apa," sahut Siwon dengan rasa enggan. Segurat senyum tipis terpaksa ia sematkan untuk basa-basi. Bagaimanapun suasana hatinya memburuk setelah melihat Changmin dan Kibum tadi, namun Siwon tak ingin memperlihatkannya.

"Aku menyukainya," perkataan Changmin yang tercetus tiba-tiba itu membuat Siwon terpaku, mengalihkan pandangan pada laki-laki yang lebih tinggi darinya tersebut.

"Kenapa wajahmu begitu hyung? Jangan menatap seolah aku akan merebut barang berhargamu saja. Kau kan sudah punya Heechul noona," ujar Changmin sambil terkekeh. Mungkin bagi orang lain yang mendengarnya, perkataan Changmin tadi hanya sekedar candaan, namun bagi Siwon lebih terdengar sindiran. "Apa salah jika aku menyukai seorang gadis cantik? Lagipula aku dan dia sama-sama masih single. Tidak apa-apa jika aku mendekatinya kan?"

Siwon hanya terdiam sambil menatap tajam Changmin. Ia bisa menebak bahwa Changmin telah mengetahui semuanya.

"Lebih baik kita cepat makan siang saja karena masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," ujar Siwon kemudian sambil melangkah mendahului Changmin. Sikap Siwon ini tak urung memunculkan senyum penuh arti di wajah tampan Changmin yang tentu saja tak diketahui oleh Siwon.

=o=

"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi."

Sejak tadi berkali-kali Kibum menelepon ponsel Siwon namun hanya nada pemberitahuan yang ia dapat. Gadis ini hanya bisa menghela nafas panjang. Bukankah tadi siang ketika ia mengirimkan pesan dapat langsung masuk? Tapi kenapa tiada balasan dan ketika kini Kibum berusaha menghubungi, nomor itu tidak aktif.

Siwon mulai jarang mengunjunginya atau mengajaknya keluar. Seorang Siwon yang dulu sering menghiburnya dengan pesan-pesan romantis yang memberinya semangat atau sering menelefonnya berkali-kali dalam sehari hanya untuk mendengar suaranya kini mulai jarang menghubungi maupun mengiriminya pesan. Kemana semua perhatian yang selalu Siwon berikan padanya? Kenapa tiba-tiba menghilag begitu saja.

"Siwonnie, kenapa denganmu?," ucap Kibum lirih sambil memandang sendu semburat berwarna jingga di ufuk Barat yang mulai memudar di sore itu dari balik jendela cafe. Tentu saja seorang diri tanpa ditemani siapapun.

Sungguh saat ini terasa ada ruang hampa di dalam hatinya tanpa kehadiran Siwon. Biasanya mereka sering menghabiskan waktu bersama, namun akhir-akhir ini Siwon menjauh darinya. Kibum bukannya tidak peka dengan keadaan. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Apakah Heechul istri Siwon telah mengetahui hubungan mereka? Tapi kenapa Siwon tak menjelaskan satu patah katapun kepada dirinya? Mungkinkah akan seperti ini akhir cinta mereka?

Kibum meremas cangkir kopi di tangannya untuk menahan kepedihan. Sepasang mata indahnya memanas, tapi ia berusaha menahan agar tak setitik pun airmata yang keluar. Lelah. Hanya itulah yang ia rasakan kini. Kibum sudah lelah menangis dalam keheningan. Lelah harus menderita karena dirinya bukanlah seseorang yang istimewa di hati Siwon padahal cintanya begitu tulus. Meskipun Siwon selalu mengatakan bahwa ia membutuhkan Kibum, mencintainya, atau mengatakan bahwa dia takkan pernah meninggalkan Kibum, tapi hati nurani gadis ini sering berkata bahwa itu semua mungkin hanya kata-kata manis belaka.

Namun cinta telah membutakan mata hatinya, membuatnya menjadi gadis yang bodoh karna perasaan yang disebut cinta itu sendiri. Semakin lama perasaan itu semakin dalam. Membunuh logika dalam dirinya. Kibum menelan mentah-mentah semua perkataan Siwon. Menyerahkan seluruh hati begitu juga tubuhnya terhadap laki-laki tampan yang ternyata telah beristri itu atas nama cinta.

Selama Siwon tidak menyakitinya, berbuat baik padanya dan berada di sisinya, maka Kibum akan memberinya segalanya dan menerima semua rasa sakitnya karena ia sangat mencintai seorang Choi Siwon. Kibum tak mempunyai siapapun di dunia ini selain rasa cintanya pada Siwon. Ia telah menyerahkan segalanya pada laki-laki itu. Laki-laki tampan yang telah merubah jalan hidupnya. Merubah hatinya yang dingin menjadi hangat. Meskipun yang diberikan Siwon mungkin bukan sebuah ketulusan. Mungkin saja Siwon hanya ingin memiliki tubuhnya, bukan hatinya. Tapi ada sisi di ruang hati Kibum berharap bahwa selama ini Siwon pun juga memiliki perasaan yang sama padanya, bukan sekedar memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu belaka.

"Sepertinya ada nona cantik yang sedang kesepian," sebuah suara membuat Kibum menolehkan wajah. Ia mengenali sosok tersebut. Seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi.

"Changmin-ssi," ucap Kibum pelan.

"Kau sendirian?," tanpa menunggu persetujuan Kibum, Changmin mengambil duduk di hadapan gadis itu.

"Begitulah," jawab Kibum dengan sedikit enggan.

"Karena aku baik hati, maka akan kutemani dirimu," Changmin tersenyum mempesona.

"Hmm..," Kibum hanya tersenyum terpaksa. Walaupun Kibum butuh seseorang untuk menemani dan menghiburnya, namun bukan Changmin yang ia harapkan bertemu untuk saat ini. Semenjak tahu bahwa Changmin masih bersaudara dengan Heechul istri Siwon, ada rasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan laki-laki tinggi tersebut.

"Kenapa berwajah masam begitu Kibum-ssi. Apa wajahku ini sangat menakutkan sehingga membuatmu enggan melihat diriku?," canda Changmin saat melihat wajah muram Kibum tersebut. "Seharusnya kau senang melihat wajah tampanku ini Kibum-ssi. Bahkan gadis-gadis diluar sana banyak yang mengagumi ketampananku."

"Bukan begitu Changmin-ssi," tak urung Kibum tersenyum samar mendengar perkataan narsis Changmin tadi. "Aku hanya tak ingin merepotkanmu saja. Lagipula, kau nanti bosan jika harus menemaniku."

"Ck..siapa bilang? Untuk menemani orang yang kucintai, tidak akan ada kata bosan dalam kamusku," rayu Changmin.

"Changmin-ssi," mendengar kata cinta dari Changmin semakin membuat Kibum merasa tak nyaman. Berapa kali Changmin mengatakannya dan berapa kali pula Kibum menolaknya. Kibum semakin merasa telah menjahati laki-laki itu. Sebenarnya ia tak ingin menyakiti atau mengecewakan Changmin, tapi bagaimanapun Kibum tak bisa mendustai perasaannya yang telah terisi seorang Choi Siwon.

"Aku tahu kau bosan mendengar perkataan cintaku. Baiklah, aku minta maaf. Tapi, walaupun tidak bisa menjadi kekasihmu, bisakah kita berteman?," ucap Changmin tulus.

"Baiklah," Kibum berusaha memberikan senyum terbaiknya kepada Changmin. Ia bisa melihat ketulusan disana.

"Bagus. Kau memang harus mau karena meskipun kau menolak aku akan tetap akan memaksamu," canda Changmin yang membuat Kibum mau tak mau mengulas senyum geli.

Changmin memahami apa yang sesungguhnya tengah dihadapi gadis berparas Snow White yang telah mencuri hatinya itu. Ia juga tahu bahwa Kibum sebenarnya adalah gadis yang baik. Hanya saja nasib baik tak berpihak padanya. Gadis itu terjebak dalam hubungan cinta yang rumit. Setulus apapun perasaan Kibum pada Siwon, namun tetap hal itu salah karena Siwon adalah suami dari Heechul, sepupunya.

Changmin menyayangi Heechul seperti kakak kandungnya sendiri. Bagaimanapun Changmin tak ingin sepupu tersayangnya itu mengalami sakit hati untuk yang keduakalinya karena cinta. Changmin teringat ketika Heechul amat terpuruk karena Hangeng. Changmin tak bisa membayangkan bagaimana kelak Heechul jika suaminya kini juga mengkhianatinya. Ia akan melakukan apapun untuk menjaga Heechul karena Kyuhyun telah menitipkan sang kakak padanya sampai Kyuhyun pulang dari Jepang.

Disisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa Changmin juga mencintai Kibum dengan tulus. Semula Changmin hanya menyukai gadis itu karena kecantikan parasnya saja. Ia penasaran dengan sikap dingin Kibum. Namun semakin lama mengenalnya, tak butuh waktu lama bagi Changmin untuk jatuh cinta pada gadis itu. Diluar memang Kibum terlihat dingin dan tertutup. Namun sesungguhnya Kibum berkepribadian lembut, hangat dan penuh perhatian pada orang lain. Changmin tak habis pikir kenapa gadis itu bisa jatuh cinta dengan Choi Siwon? Sebegitu hebatkah pesona suami dari Heechul tersebut sehingga seorang Kim Kibum yang mempunyai kepintaran di atas rata-rata dibodohi oleh cinta. Kadang Changmin mengutuk sendiri, betapa beruntungnya pria brengsek bernama Choi Siwon itu karena bisa mendapatkan dua orang perempuan cantik dalam hidupnya. Bahkan Siwon memiliki tempat khusus di dalam hati seorang Kim Kibum sementara ia sangat sulit menjangkaunya.

Saat mengetahui hubungan terlarang Kibum dengan Siwon, Changmin berusaha mati-matian meraih hati Kibum agar berpaling padanya. Ia tak ingin ada yang tersakiti. Tidak Heechul, tidak pula Kibum yang dicintainya. Bagaimanapun keadaan Kibum, Changmin tetap akan mau menerima apa adanya. Namun sepertinya sangat sulit meraih hati seseorang seperti Kibum. Yang bisa Changmin lakukan hanya berusaha menghiburnya saja.

"Mumpung ini masih sore, maukah kau mau menemaniku ke suatu tempat?," kata Changmin kemudian.

"Maaf, aku harus segera pulang Changmin-ssi."

Kibum menolak permintaan Changmin. Tapi sebelum Kibum beranjak meninggalkan laki-laki itu, lengannya telah dicekal dan dibawa keluar cafe setelah terlebih dahulu meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.

"Kita mau kemana Changmin-ssi?," kesal Kibum karena Changmin memaksanya masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya entah menuju kemana.

"Nanti kau akan tahu," ujar Changmin sambil menyeringai membuat Kibum tak urung sedikit merasa takut namun berusaha menyembunyikannya. "Jangan memanggilku formal saat diluar jam kerja. Membuatku tidak nyaman. Panggil saja aku Changmin. Karena kau lebih tua, aku akan memanggilmu noona."

Kibum tak menjawab hanya anggukan kecil saja. Dalam hati ia masih bertanya-tanya kemana Changmin akan membawanya. Tak lama kemudian mobil itu berhenti. Masih tetap kebingungan, Kibum menurut saja ketika Changmin mengajaknya masuk ke sebuah tempat.

"Game Center?," bibir merah itu akhirnya melontarkan kalimat.

"Kau tidak keberatan bukan? Sudah lama aku tidak kesini. Dulu sewaktu ada Kyuhyun kami sering bermain bersama."

Changmin tertawa senang memperlihatkan sisi kekanakannya. Tanpa sadar Kibum tersenyum melihat itu. Dengan penuh semangat ia menyeret Kibum menuju salah satu permainan. Sepertinya tidak ada salahnya juga menuruti permintaan Changmin. Bukankah dirinya dulu juga suka bermain PSP? Hari ini Kibum ingin melupakan kesedihannya sejenak dengan menemani Changmin bermain.

=o=

Sosok gadis berparas bak Snow White itu menggeliat tak nyaman ketika sinar matahari pagi menerobos melalui celah-celah tirai jendela kamarnya. Perlahan mengerjap, menampakkan sepasang iris kelam nan indah miliknya. Bibir merah mungilnya mendesah pelan, sedikit merasa enggan untuk beranjak dari peraduannya. Tubuhnya masih terasa lelah dan sepasang matanya masih mengantuk karena kemarin ia pulang larut malam setelah Changmin mengajaknya ke game center dilanjutkan dengan makan malam. Kibum baru tahu jika nafsu makan Changmin ternyata sangat besar padahal tubuhnya kurus. Mereka telah makan sebelumnya tapi ternyata Changmin merasa lapar lagi sehingga sepulang dari game center mereka pun makan malam keduakalinya.

"Engh..."

Kembali bibir merahnya mengeluh karena merasakan pusing yang teramat sangat mendera kepalanya ketika bermaksud bangun. Serasa ada beban ribuan ton yang diletakkan di atas kepalanya. Setelah beberapa saat mencoba terdiam tanpa beranjak dari tempat tidur, akhirnya Kibum pun memaksakan diri berjalan menuju kamar mandi yang terletak di luar kamar. Ia tak ingin terlambat masuk kerja.

Selesai mandi, Kibum segera menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun ia harus mempunyai tenaga untuk mempersiapkan diri bekerja hingga nanti sore. Paling tidak ada tenaga sampai nanti makan siang agar konsentrasi bekerjanya tidak terganggu. Hanya setangkup sandwich serta segelas susu. Memang terkesan sederhana seperti biasanya. Bahkan rasanya begitu sunyi karena harus sarapan seorang diri tanpa ada yang menemani. Kibum hanya bisa menghembuskan nafas saja memikirkan semua itu.

"Ugh..."

Kibum segera menghentikan kegiatan sarapannya ketika baru dua gigitan sandwich tiba-tiba perutnya serasa bergejolak hebat. Jemari lentiknya refleks menutupi mulutnya. Buru-buru ia menghambur ke kamar mandi, memuntahkan semua isi lambung yang belum sepenuhnya terisi tersebut. Meskipun sepertinya semua telah ia keluarkan namun rasa mual itu masih juga belum hilang hingga hanya cairan berwarna kekuningan saja yang keluar lewat mulutnya, meluncur dengan lancar ke dalam lubang pembuangan.

Cukup lama juga Kibum berjongkok di kloset hingga selesai memuntahkan semua isi perut tanpa tersisa. Tubuhnya lemas, keringat dingin bercucuran membasahi kening dan pelipisnya, dan wajahnya pucat pasi. Akhirnya Kibum hanya bisa terduduk dengan lemas sambil memejamkan mata di lantai kamar mandi yang dingin.

Kibum berpikir bahwa ia harus memastikan sesuatu. Bukan hari ini saja dirinya mengalami hal seperti ini. Akhir-akhir ini ia merasa tidak sehat terutama di pagi hari. Rasa mual selalu datang mendera dan tubuhnya serasa lemas serta sering merasa lelah. Begitu pula tadi di rumah dirinya telah mengeluarkan semua isi lambungnya hingga tak bersisa. Nafsu makannya berkurang dan merasa lebih sensitif dari biasanya. Dan yang paling membuatnya cemas adalah bulan ini ia belum mendapatkan menstruasi. Ia bukanlah gadis yang bodoh. Kecerdasan Kibum diatas rata-rata. Meskipun dirinya bukan seorang dokter, tapi ia pernah membacanya. Banyak tanda-tanda yang menunjukkan gejala itu.

Membulatkan tekad agar segera mendapatkan kepastian jawaban, Kibum meraih sebuah kotak kecil di atas wastafel yang telah ia beli beberapa hari yang lalu. Sebuah alat tes kehamilan. Mengeluarkan isinya kemudian mencelupkan ujungnya ke dalam sampel urine-nya sendiri. Bahkan tangannya terlihat gemetar saat melakukannya. Dengan perasaan cemas Kibum menunggu hasilnya selama beberapa waktu. Sesekali Kibum memainkan jemarinya meredam kecemasan yang sedang melanda dirinya kini. Setelah dirasa sudah cukup, dengan ragu Kibum meraih test pack tersebut lalu melihat hasil yang terpampang disana. Mata teduhnya membulat tak percaya. Ia menggeleng keras lalu mencoba melakukan tes kembali.

Positif.

Kibum memandang tidak percaya pada benda tipis persegi panjang berukuran kecil berwarna putih di tangannya. Disana terlihat jelas tanda garis berjumlah 2 buah. Ia telah mencobanya 3 kali dan hasilnya sama semua. Ia terduduk lemas di atas kloset dalam waktu lama. Tidak tahu harus berbuat apa dan ia tak dapat memikirkan apapun. Bahkan untuk menangis pun tak sanggup lagi.

"Siwonnie…bagaimana ini?," hanya itu yang terucap dari bibir indahnya. Ia benar-benar sedang dalam masalah yang ditakutkannya kini benar-benar terjadi. Tentu saja hal ini akan terjadi karena selama ini ia membiarkan Siwon menggaulinya tanpa alat pengaman karena Siwon selalu menolak memakainya dengan alasan tidak nyaman. Kibum yang sangat mencintai Siwon hanya bisa mengiyakan permintaan kekasihnya saja meskipun tahu resikonya.

Setelah beberapa waktu termenung, Kibum mulai berusaha bangkit. Dengan tertatih, ia menuju wastafel untuk mencuci muka. Senyum miris terkembang dari bibir merah yang terlihat memucat itu. Wajah cantik yang biasanya seputih susu dan merona itu kini terlihat tak bercahaya dan ada lingkaran hitam di sekitar mata. Tapi Kibum tak mau berlama-lama. Bagaimanapun juga ia harus segera berangkat kerja karena ia harus menghidupi dirinya bukan? Buru-buru ia baurkan make up tipis di wajah cantiknya untuk menutupi kantung mata dan juga wajah pucatnya, kemudian mengganti piyamanya dengan pakaian kerja. Kibum tak lagi berselera melanjutkan sarapannya.

Perlahan melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju halte bis. Jika biasanya Kibum bersemangat, namun beberapa hari ini ia terlihat lesu. Selama perjalanan itu entah kenapa langkahnya terasa sangat berat. Mungkin karena ia sedang tidak enak badan. Beruntung tak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu bis yang akan mengantarkannya ke tempat kerja.

Tak sampai 30 menit, Kibum turun dari bis lalu berjalan kaki sekitar 2 blok menuju kantor. Sesekali ia menarik nafas panjang lau menghembuskan perlahan karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya. Bisa saja ia memakai mobil yang telah Siwon belikan, namun dalam hati Kibum menolaknya dengan keras. Meskipun memang kenyataannya ia hanyalah wanita simpanan Siwon, namun bukan sepenuhnya keinginan dirinya begitu. Kibum mencintai Siwon dengan tulus, bukan karena semua yang dimiliki Siwon juga bukan demi mendapatkan fasilitas-fasilitas mewah yang mungkin bisa dengan mudah didapatnya jika meminta itu dari Siwon.

Tanpa terasa kini Kibum telah sampai di tempat kerja. Meskipun Kibum terlihat dingin, namun biasanya ia akan membalas sapaan setiap rekan kerjanya dengan ramah, memamerkan senyum pembunuhnya yang mampu memikat lawan jenis yang menatapnya. Namun kali ini hanya sekedar senyum terpaksa sebagai tanda kesopanan saja yang mampu ia berikan.

'Siwonnie...'

Kibum hanya bisa memanggil Siwon dalam hati ketika tak sengaja mereka berpapasan di lobi. Tentu saja ia tak mau mengambil resiko melakukannya. Yang bisa dilakukannya hanya menggangguk sopan sebagai formalitas bawahan terhadap atasan. Betapa kecewanya Kibum ketika Siwon hanya melewatinya saja kemudian melenggang dengan gagah mendahuluinya menuju lift. Kibum berusaha mengejarnya. Siapa tahu ia bisa berbicara dengan Siwon ketika berada di dalam lift nanti. Namun seolah tak mempedulikan keberadaan Kibum, Siwon memasuki lift begitu saja dan tak menghiraukan gadis itu padahal Kibum telah berada di depan lift tepat sebelum pintunya tertutup. Pandangan mata keduanya sempat bertemu, namun Siwon hanya menatapnya dingin. Membekukan hati Kibum saat itu juga.

Butiran airmata mendesak ingin keluar dari sepasang mata indahnya. Namun mati-matian Kibum berusaha menahan. Bagaimanapun ia tak ingin menunjukkan emosinya di hadapan orang lain apalagi ini di tempat kerja. Kibum tak ingin orang lain mengetahui masalah pribadinya. Tak lama kemudian pintu lift di hadapannya terbuka lagi. Kibum melangkah pelan memasukinya lalu menekan tombol lift yang menuju ke lantai tempat kerjanya. Sesampainya di lantai yang dituju, Kibum segera membawa dirinya menuju meja kerja miliknya.

"Bummie, kau baik-baik saja?," tanya Eunhyuk rekan kerjanya yang kebetulan meja kerjanya berada di seberang meja kerja Kibum. Bagaimana tidak heran ketika melihat wajah Kibum yang pucat dan tampak tidak bersemangat itu.

"Hmm..aku baik-baik saja," Kibum mencoba tersenyum pada Eunhyuk.

Kibum bisa saja berbohong pada orang lain dengan mengatakan baik-baik saja, namun ia tidak bisa membohongi diri sendiri. Bagaimana ia harus menjelaskan ini pada Siwon? Entah apa reaksi laki-laki tampan yang juga atasannya tersebut. Kibum benar-benar takut menghadapi kenyataan pahit yang mungkin saja ia dapati nanti. Apalagi dengan sikap Siwon terhadapnya tadi. Bagaimana jika Siwon menolak bertanggungjawab dan tidak mengakui janin yang dikandungnya? Selain itu, bagaimana Kibum meminta pertanggungjawaban Siwon sedangkan laki-laki tampan itu masih berstatus suami orang? Mana mungkin Kibum meminta Siwon untuk menceraikan istrinya bukan? Kibum tak sejahat itu untuk merebut suami perempuan lain dan ia kuasai sendiri. Mungkin yang dilakukannya selama ini sudah salah dengan merelakan dirinya menjadi kekasih simpanan dari Siwon. Karena itu, Kibum akan semakin merasa bersalah jika rumahtangga Siwon hancur karenanya. Lantas bagaimana nasib bayi yang sedang dikandungnya kini? Kibum tak ingin menambah dosa dengan menggugurkannya. Tapi ia juga tak ingin buah hatinya kelak berstatus tak jelas tanpa seorang ayah. Sungguh Kibum merasakan dilema yang amat rumit ketika memikirkan hal itu.

Tidak. Sekarang bukan waktunya memikirkan masalah pribadi. Segera Kibum berusaha menghilangkan kerisauannya dan mulai menekuni pekerjaan yang berada di hadapan mata sambil sesekali menelan minuman dalam gelas yang berada di meja kerjanya. Meskipun agak merasa mual tapi ia meneguk sedikit demi sedikit minuman sereal yang baru saja dibuatnya di pantry tadi. Bagaimanapun ia harus mempunyai tenaga untuk bekerja bukan?

Belum satu jam Kibum menekuni pekerjaannya, tiba-tiba rasa mual menderanya kembali. Dengan langkah tergesa Kibum pun menuju toilet. Tak menghiraukan keberadaan sosok perempuan mungil yang sedang mencuci tangan di wastafel. Buru-buru mengunci diri di dalam salah satu kamar mandi lalu memuntahkan kembali isi lambungnya yang baru saja ia isi dengan sereal. Tubuh tak berdayanya kini merosot ke lantai toilet karena merasa lemas setelah isi lambungnya terkuras kembali.

"Bummie, ini aku Ryeowook. Kau baik-baik saja?," tanya perempuan manis bertubuh mungil rekan kerja Kibum. Ia mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi memastikan keadaan Kibum. Bagaimanapun mereka adalah teman dekat dan Ryeowook merasa cemas ketika melihat Kibum yang tadi buru-buru masuk ke dalam toilet tanpa sempat menyapanya. "Bummie..," panggil Ryeowook lagi.

"Aku tidak apa-apa eonni," sahut Kibum dari dalam dengan nada lemah.

"Benarkah? Tapi sepertinya tidak begitu," tidak ada sahutan dari dalam. Tentu saja, karena Kibum tidak sedang dalam keadaan baik karena tubuhnya terduduk lemas didekat kloset dengan wajah pucat dan penampilan berantakan. "Bummie...," sekali lagi Ryeowook mengetuk pintu itu karena Kibum tidak menyahutnya.

Cklek.

Pintu itu terbuka perlahan memunculkan Kibum yang jauh dari kesan sehat. Wajahnya pucat dengan peluh membanjiri kening dan pelipisnya, serta penampilan yang kacau.

"Astaga..Bummie!," Ryeowook langsung memegangi lengan Kibum membimbingnya menuju wastafel. "Kau bilang ini baik-baik saja? Kau sedang sakit Bummie," ujar Ryeowook sambil masih memegangi lengan Kibum yang sedang bersandar lemah apda pinggir wastafel.

"Aku sedikit tidak enak badan saja," ujar Kibum tersenyum lemah.

"Ck, jangan meremehkan keadaanmu Bummie. Tadi kudengar kau muntah-muntah di dalam," Ryeowook menatap cemas Kibum sambil menyeka butiran keringat di dahi temannya itu menggunakan tissu.

"Mungkin aku kelelahan Wookie eonni. Beberapa hari ini aku sering lembur, lalu kemarin malam keluar rumah dan baru pulang larut malam, jadinya aku masuk angin," kilah Kibum berusaha menenangkan Ryeowook. Ia tak ingin temannya itu mencemaskan dirinya.

"Seharusnya kau menjaga kesehatanmu Bummie, jangan terlalu memaksakan diri. Sebaiknya ijin pulang saja lalu beristirahat di rumah," saran Ryeowook.

"Tidak bisa eonni. Hari ini kita ada meeting redaksi. Aku tidak mungkin pulang sekarang," tolak Kibum.

"Tapi, kau terlihat buruk Bummie."

"Wookie eonni, tenanglah.. Terimakasih sudah mencemaskanku. Aku hanya butuh istirahat sebentar disini saja," kata Kibum.

"Sungguh?," Ryeowook memastikan.

"Hmm..," Kibum mengangguk pelan.

"Kalau begitu, kuantar ke meja kerjamu. Nanti kupesankan teh hangat pada OB."

"Terimakasih Wookie eonni," Kibum tersenyum tulus. Hatinya sedikit merasa hangat karena ada orang lain yang mempedulikannya disaat ia membutuhkan seseorang seperti ini.

=o=

Mengelus perutnya yang masih rata, gadis berparas Snow White itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Dua hari yang lalu sepulang kerja Kibum memeriksakan diri ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil yang akurat. Ia telah mendapatkan hasil tes tersebut. Kibum benar positif hamil. Kini janin berusia 3 minggu itu bersemayam di rahimnya. Buah cintanya dengan Choi Siwon.

Ada perasaan bahagia karena janin itu adalah anak dari orang yang sangat dicintainya. Tapi sebagian dari dirinya merasa takut. Sikap dingin Siwon akhir-akhir ini membuatnya berpikir kemungkinan yang buruk. Apalagi Siwon tak pernah menghubunginya lagi bahkan tak membalas pesan-pesannya sekalipun. Bagaimana jika nanti Siwon tak mau mengakuinya? Setelah menikmatinya tak bersisa lalu Siwon mencampakkannya beserta darah dagingnya tersebut.

Tapi Kibum harus mencoba. Bagaimanapun Siwon adalah ayah dari janin yang dikandungnya, dan ia harus mengetahui hal itu. Dengan membulatkan tekad, Kibum pun memberanikan diri untuk menemui Siwon di ruangannya. Saat ini jam istirahat. Ia telah menolak ajakan Eunhyuk dan Ryeowook untuk makan siang bersama.

"Siwonnie, aku mau bicara," Kibum memberanikan diri menemui Siwon di ruang kerjanya saat jam istirahat karena sekertaris Siwon sedang makan siang saat itu.

"Nanti saja. Ini masih di kantor," ucap Siwon dengan wajah dingin sambil menyibukkan dengan berkas-berkas di meja kerjanya.

"Tapi ini penting. Sebentar saja," Kibum memohon.

"Apa kau tidak bisa menuggu nanti? Aku masih banyak pekerjaan."

Siwon berkata dengan nada rendah, tapi entah mengapa hal tersebut sudah membuat hatinya sakit. Siwon mengusirnya. Wajah tampan itu terlihat datar tak menunjukkan ekspresi apapun. Seolah tak ada kenangan apapun di antara mereka, tak ada jalinan cinta yang pernah terjadi antara keduanya padahal selama ini Kibum telah memberikan segalanya, hati dan tubuhnya. Ketika Siwon meminta apapun, maka Kibum akan memberikannya tanpa mengeluh. Tapi kali ini ketika Kibum ingin meminta waktunya sebentar, hanya sebentar saja, Siwon menganggap itu tak penting.

"Sajangnim, aku tidak bisa menghubungimu beberapa hari ini. Aku..aku…," suara Kibum tertahan di tenggorokan. Menghembuskan nafas panjang, Kibum lalu meletakkan sebuah amplop putih di atas meja kerja Siwon. "Baiklah..aku hanya ingin menyerahkan ini."

"Apa ini?," Siwon memicingkan mata.

"Bukalah," pinta Kibum.

Perlahan Siwon meraih amplop putih tersebut lalu mengambil selembar kertas di dalamnya dan membacanya. Sesaat ekspresi terkejut terpancar dari wajah tampan itu namun buru-buru Siwon menyembunyikannya. Siwon terdiam selama beberapa saat dengan wajah yang tenang.

"Lalu?," ucap Siwon kemudian.

"Siwonnie.. ini anakmu," sepasang mata kelam nan indah itu mulai berkaca-kaca.

"Kita bicarakan saja nanti. Aku mohon, biarkan aku melanjutkan pekerjaanku." Siwon berkata sambil tersenyum, namun bukan senyuman manis dan penuh kelembutan seperti yang selama ini Kibum lihat dari paras tampan Siwon. Senyum itu terlihat dingin, angkuh, dan seolah merendahkan.

"Baiklah," Kibum melangkah dengan berat keluar dari ruangan itu sambil menahan perasaan tak menentu yang berusaha tak ditunjukkannya saat itu juga.

Sesaat setelah berada diluar ruangan Siwon, butiran bening airmata mengalir tak terbendung lagi dari kedua matanya. Serasa ribuan pisau ditancapkan ke ulu hatinya. Begitu sakit dan perih. Kibum bisa menebak bahwa dirinya tak bisa lagi berharap banyak dari Siwon. Terlihat itu dari reaksi dingin laki-laki tampan tersebut. Siwon tak menginginkannya lagi, begitu juga janin yang dikandungnya kini.

"hati ini begitu sakit

Bagai ada pisau tajam yang menghujam dalam tepat di nadinya

Aku tak bisa bernafas dengan bebas

Mengapa

Mengapa cintamu begitu kejam?"

TBC