WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
"Jangan membuat ini sulit Oh Sehun, aku tidak pergi selamanya. Kau bisa pergi ke Jepang mengunjungiku, aku tau itu mudah bagimu. Aku juga bisa pulang saat libur."
"Aku memintamu memilih?!" bentak Sehun.
Jongin tersentak. "Aku pikir kau akan mengerti Oh Sehun."
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja tanpa perlindungan, seseorang bisa menyakitimu, mengertilah Kim Jongin!" Sehun berteriak frustasi.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, percayalah." Tangan kanan Jongin terangkat untuk menyentuh lengan kiri Sehun pelan.
"Jika kau keluar dari ruangan ini—maka hubungan kita berakhir."
Jongin tersenyum lembut. "Terimakasih untuk semua kebaikanmu padaku dan keluargaku, aku mencintaimu Oh Sehun." Kemudian iapun berbalik dan melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Oh Sehun.
BAB DUA BELAS
Sehun menyandarkan sisi kanan kepalanya pada meja bar, tangan kirinya memutari gelas whiskey, hari ini Jongin berangkat ke Jepang. Jepang, seharusnya Negara itu tak menjadi masalah besar baginya, ia bisa pergi kesana kapanpun ia inginkan. Jepang adalah rumah kedua baginya mengingat Negara itu adalah tempat liburan favorit keluarganya.
Namun sekarang, semuanya berbeda. Dia merasa Negara itu menjadi terlalu besar, terlalu mengerikan, untuk Jongin. Dia tidak ingin melepaskan Jongin seorang diri ke sana. Tanpa pengawasannya, seseorang atau sesuatu bisa menyakiti Jongin disana. Di sisi lain ia tahu Jongin ingin mewujudkan impiannya, dan seperti biasa. Seorang Oh Sehun yang sebenarnya pengecut memilih untuk memutuskan semua ikatan, sebelum semuanya terlalu menyakitkan untuk dilepaskan.
"Cukup Hyung kau sudah mabuk, aku akan menyuruh sopir Sehun hyung mengantar pulang."
"Cih! Anak kecil tau apa." Cibir Sehun.
"Aku cukup tahu jika Sehun hyung sedang memendam masalah."
"Kau pulang saja Taeyong."
"Aku bukan anak kecil, jika aku anak kecil aku pasti sudah di tendang keluar dari tempat ini."
Sehun tersenyum miring. "Kau bisa menyuap penjaga dengan uang orangtuamu."
"Sudah diam, kau juga tidak lebih baik dariku. Orangtua kita kan sama."
"Tidak, hanya ayah kita saja yang sama."
"Tapi Ibu juga mengatakan aku anaknya."
"Kau percaya?"
"Tidak."
"Baguslah."
Taeyong terdiam untuk beberapa saat mengamati gelas berisi wine di hadapannya yang belum tersentuh sama sekali. "Apa kau memikirkan Baekhyun atau mungkin Jongin?"
"Bukan urusanmu."
"Baiklah kita hanya setengah saudara tapi kau bisa berbagi denganku, jika kau tidak mau menganggapku saudara anggap saja aku sebagai temanmu."
"Aku selalu menganggapmu sebagai teman."
"Tapi kita tak pernah saling bercerita."
"Karena kita tidak dekat. Aku jadi berpikir mengapa kita tidak dekat?" Sehun tertawa pelan di akhir kalimat.
"Mungkin karena kau terlihat menakutkan bagiku jadi aku memilih untuk mengambil jarak darimu."
"Kupikir kau iri dengan posisiku."
"Tidak." Taeyong mengangkat gelas wine-nya, menyesapnya sekali. "Sejak awal aku tidak menginginkan posisimu, aku memiliki hal lain yang ingin aku lakukan."
"Impian?" Sehun nyaris mendengus ketika bertanya.
"Ya, apa itu terdengar lucu untukmu?"
"Tidak. Aku hanya tidak tahu apa itu impian. Bukankah itu sesuatu yang tidak pasti, aku selalu mengambil langkah pasti dan terencana dalam hidupku, membuat keputusan yang paling menguntungkan untukku, bukannya berjudi dengan sesuatu yang bernama impian."
"Kurasa karena itulah hidupmu membosankan."
"Terserah kau mau mengejekku seperti apa." Kali ini Sehun mendengus.
Taeyong melirik Sehun, kakak tirinya itu sudah cukup mabuk tapi dia bisa diajak bicara dengan lancar. "Jika kau tidak paham apa itu impian, apa kau paham jika aku bertanya dengan cara berbeda?" Sehun hanya mengendikan bahu. "Kau punya sesuatu atau mungkin seseorang yang benar-benar kau inginkan di dalam hidupmu."
"Aku…," Sehun nyaris menuangkan isi hatinya. "Tidak, aku tidak menginginkan sesuatu atau menginginkan seseorang. Aku pergi sekarang." Sehun lantas berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Ketika kalimat Taeyong menohoknya.
"Kau selalu bersikap pengecut Oh Sehun." Sehun menatap Taeyong sengit. Taeyong berdiri dari kursinya. "Aku juga berpikir untuk pulang sekarang."
"Ulangi kalimatmu."
"Yang mana?"
"Jangan bersikap bodoh Taeyong, aku tau kau tidak bodoh." Ucap Sehun menahan geram.
Taeyong menggaruk pelipis kanannya. "Sesuatu yang digenggam terlalu erat, kau justru akan kehilangan pada akhirnya."
"Omong kosong." Sehun menganggap kalimat Taeyong adalah kalimat bodoh yang keluar dari mulut anak kecil. Iapun memutar tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan bar.
Sehun mulai merasakan denyut tidak nyaman pada kepalanya, tapi dia termasuk orang yang cukup kuat dengan alkohol. Membuka pintu penumpang belakang mobilnya. Sehun mengisyaratkan kepada sopir pribadinya untuk pergi meninggalkan bar.
Tangan kanan Sehun memijit batang hidungnya, ia menoleh ke kiri jalan melihat toko keluarga Kim yang masih buka. Bukan kebetulan, tapi kepalanya seolah bergerak sendiri ketika mobil yang membawanya melewati jalanan yang begitu akrab dengannya.
, Dan Kim Jongin ada di luar. Membantu ibunya memindahkan peti-peti kayu. Sehun mengeluarkan ponsel dari sakunya, Sehun nyaris mengirim pesan kepada Jongin namun dia membatalkan maksud itu. "Kurasa lebih baik seperti ini," gumam Sehun sebelum meletakkan ponselnya ke atas kursi penumpang.
.
.
.
Jongin menurunkan peti kayu di tangannya dengan tergesa, ia berlari hingga ke pinggir trotoar. Mungkin ia salah lihat, tapi dia merasa jika sedan hitam yang baru saja melintas adalah salah satu sedan milik Sehun. "Apa benar-benar berakhir seperti ini?"
Menggigit pelan bibir bawahnya, Jongin bergegas memasuki toko. Meraih ponsel di belakang meja kasir. Mengetik pesan dengan cepat, sebelum mengirimkannya kepada Sehun.
"Jongin jangan kabur! Pekerjaanmu belum selesai!" Boram berteriak dengan cara menyebalkan.
"Astaga! Kau tidak akan melihat wajah adikmu ini dalam waktu dekat, bersikaplah sedikit manis padaku." Gerutu Jongin sebelum meletakkan kembali ponselnya di balik meja kasir.
"Jongin cepat! Peti kayu ini berat!"
"Noona!" Jongin berteriak panik sambil berlari menghampiri sang kakak yang terlihat hampir terjengkang ke belakang ketika berusaha mengangkat peti kayu berisi Nanas. "Jangan nekad!" kesal Jongin.
.
.
.
Langkah kaki Sehun menggema di dalam kamar tidurnya yang terasa terlalu luas sekarang. Menutup lantas mengunci pintu kamar, ia lepas jaket musim gugur berwarna biru tua miliknya. Melemparkan jaket itu ke atas single sofa kemudian diapun duduk di sofa yang lain. Ia putuskan untuk memeriksa ponselnya yang tak berhenti bergetar sejak melintasi toko keluarga Kim Jongin.
Pesan Line dari Jongin. Sehun tidak ingin membacanya, namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengetahui kabar tentang Jongin mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Jongie: Aku melihat mobilmu melintas, apa itu benar kau?
Jongie: Ah…, aku mungkin salah lihat
Jongie: Kupikir kau akan berhenti dan sekedar menyapaku
Jongie: Tapi, aku benar-benar bodoh, kita tidak memiliki hubungan apapun sekarang, bahkan dulu sebagai sahabat kita masih bisa dekat.
Jongie: Dua hari lagi aku akan berangkat ke Jepang. Semoga kau bahagia, maaf jika bersamaku hanya membuatmu terluka
"Haah…," Sehun menghembuskan napas kasar. Semua pesan Line dari Jongin sudah selesai dibaca. Iapun membalas pesan Jongin, dengan semua pemikiran yang berkecamuk di benaknya.
Kedua tangan Sehun gemetar, ketika dia memutuskan untuk mengirim pesan balasan, ia merasa kosong. Sesuatu yang berharga telah diambil dari hidupnya, begitulah yang dia rasakan. Namun, dirinya terlalu pengecut untuk mengakuinya.
.
.
.
Oh Se Hoon: Maaf jika aku egois dan maaf jika aku tidak bisa membuatmu bahagia.
Oh Se Hoon: Aku masih berpikir hal yang sama, jika kau pergi itu tidak akan baik untukmu.
Oh Se Hoon: Aku tahu aku tidak bisa egois, impianmu penting untuk kau perjuangkan semoga kau mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, kau tahu hatiku hancur saat mengatakan ini.
Oh Se Hoon: Semoga kau sukses di Jepang, selamat tinggal Kim Jongin.
Pilihan Jongin untuk membuka pesan Line-nya di dalam kamar adalah tepat, pesan Sehun membuat lututnya lemas dan kedua matanya memanas dengan cepat. Ia mencintai Sehun, sangat mencintai sahabat masa kecilnya itu, ia ingin berlari menemui Sehun sekarang, memeluknya, dan mengatakan bahwa dia tidak akan pergi. Tapi, pilihan sudah dibuat dan tidak ada jalan mundur lagi.
"Selamat tinggal Oh Sehun." Gumam Jongin sambil menarik selimut menutupi tubuhnya sebatas leher.
Suara ketukan pelan pada pintu kamarnya membuat Jongin membuka kedua kelopak matanya cepat. "Jongin, apa kau sudah tidur sekarang?" Suara Boram menyusul selang beberapa detik setelah suara ketukan itu.
"Belum." Balas Jongin sambil menurunkan selimut dari tubuhnya.
"Apa kita bisa bicara sebentar?"
"Apa yang ingin Noona bicarakan denganku?"
"Sehun."
"Ah." Jongin tersentak.
"Apa kau keberatan membicarakannya?"
Jongin tak langsung menjawab, dia diam mempertimbangkan tawaran topik pembicaraan Boram. "Noona jangan membuatku pusing." Balas Jongin dengan nada memperingati. Ia mendengar tawa Boram dari luar kamarnya.
"Tidak, aku janji."
"Baiklah." Balas Jongin dengan suara yang sama sekali tak terdengar tulus, ia melangkah menuruni ranjang tempat tidur berjalan menuju pintu kamar kemudian membukanya.
Boram tersenyum manis padanya membuat Jongin tanpa sadar membalas senyuman itu, lantas mempersilakan Boram untuk memasuki kamarnya. "Aku yakin Sehun tidak mengijinkanmu pergi." Ucap Boram tanpa berbasa-basi sementara Jongin masih menutup daun pintu kamarnya.
"Jangan asal tebak." Dusta Jongin.
"Sehun terlalu menyayangimu, dia panik saat kau mengalami luka gores kecil, dan membiarkanmu pergi ke Jepang seorang diri sama seperti melepaskanmu ke hutan belantara yang penuh bahaya."
"Itu terlalu berlebihan Noona." Jongin masih berusaha berkelit.
"Apa Sehun mengijinkanmu?" pertanyaan Boram membungkam Jongin. "Apa Sehun mengijinkanmu?" ulang Boram.
"Tidak." Pada akhirnya Jongin melihat tidak ada ruang untuk berdusta.
"Apa yang terjadi dengan hubungan kalian?"
"Berakhir."
"Apa?!" Boram memekik tidak percaya. "Semudah itu?!"
"Ya, semudah itu." Jongin tertawa pelan. "Begitu mudah setelah semua yang terjadi. Hanya karena aku ingin meraih impianku, hanya karena aku ingin membahagiakan keluargaku dengan tanganku sendiri, hubungan kami berakhir dengan begitu mudah."
"Jongin…," gumam Boram iba dengan wajah sedih sang adik serta suaranya yang terdengar begitu tersakiti.
"Semua orang yang aku kenal tidak bisa mengerti keputusanku, ternyata Sehun tak lebih baik dari Changmin."
Boram ingin memeluk sang adik, namun Jongin menolak pelukannya dengan melangkah mundur. "Aku mulai mempertanyakan apa aku benar-benar mencintai Sehun, apa Sehun benar-benar mencintaiku, apa semua ini hanya permainan, lalu Changmin bagaimana?"
Kedua mata sembab Jongin kini benar-benar mengalirkan air mata. "Apa aku salah meninggalkan Changmin? Apa yang dikatakan Changmin benar? Jika perasaanku terhadap Sehun hanya sebuah kebimbangan karena ciuman singkat bodoh itu? Semua pertanyaan itu bercampur menjadi satu di dalam kepalaku, dan aku tidak tahu jawabannya, aku merasa semua keputusan yang aku ambil selalu salah."
Boram tidak mengatakan apapun kecuali memberikan sang adik sebuah pelukan erat, mengusap pelan punggung sang adik. Detik ini, ia melihat Jongin kecil sekali lagi. Jongin yang selalu memeluknya, berbagi semua cerita di TK dengannya, Jongin yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi, Jonginnya yang lucu, Jonginnya yang ceria, dan Jonginnya yang akan menari setiap mendengar suara musik.
"Aku dan Ibu akan selalu mendukungmu, jika Sehun dan Changmin tidak bisa menghormati keputusanmu, mereka tidak bisa membahagiakanmu, dan mereka membuatmu menangis. Mereka tidak pantas untukmu, kau akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Changmin dan juga Sehun. Aku yakin itu." Hibur Boram.
"Terimakasih Noona." Bisik Jongin sambil mempererat pelukannya pada Boram.
.
.
.
Sehun duduk di belakang meja kerjanya, ia tidak bisa berpikir, tidak ada pekerjaannya yang selesai selama empat hari ini. Terhitung sejak Jongin mengungkapkan keinginannya untuk pergi ke Jepang. "Tuan Oh." Panggilan itu menarik Sehun kembali ke dunia nyata.
"Bobby?"
"Maaf saya langsung masuk Tuan, Anda tidak menanggapi ketukan saya."
"Ada apa?"
"Tuan Oh, Changmin sudah bisa bekerja kembali sebagai pelatih sepak bola, saya akan terus mengawasi Changmin memastikan dia tidak mencoba mendekati Kim Jongin."
"Terimakasih." Gumam Sehun.
"Dan satu lagi Tuan Oh, hari ini Tuan Kim Jongin meninggalkan Korea, apa ada hal lain yang ingin Anda perintahkan kepada saya Tuan Oh?"
"Tidak ada, pastikan Changmin tidak mencoba mendekati Jongin atau keluarga Jongin."
"Baik Tuan. Saya permisi dulu."
Sehun tak menanggapi, setelah pintu ruangannya kembali tertutup. Sehun menelungkupkan setengah badannya ke atas meja kerjanya. Tangan kanannya bergerak memainkan ponsel, membuka galeri melihat foto-foto Jongin.
"Apa kau memikirkan aku sekarang?" Sehun menggumam sambil mengusap pelan foto wajah Jongin di ponselnya menggunakan ibu jari kanannya.
"Apa kau merindukanku? Apa kau ingin aku menemuimu? Apa dadamu terasa sakit sekarang? Kenapa semuanya begitu rumit Kim Jongin. Kenapa kau tidak mengerti kecemasanku? Dan kenapa aku tidak bisa mengerti impianmu? Siapa yang bodoh dalam hal ini sekarang?"
.
.
.
Jongin memeriksa ponselnya untuk yang terakhir kali, sebelum ia memasuki pesawat. Berharap Sehun mengiriminya pesan, berharap Sehun bersedia mempertahankan hubungan mereka. Namun, hingga detik-detik terakhir rupanya harapan Jongin hanya bertemu dengan kenyataan yang pahit. Jongin menarik napas dalam, kemudian memeluk ibu dan kakak perempuannya.
Ia melambaikan kedua tangannya setelah melesakkan ponselnya ke dalam saku ransel. Jika Sehun memutuskan untuk mengakhiri semuanya, Jongin tidak akan berharap lagi. Memutar tubuhnya memunggungi ibu dan kakak perempuannya. Iapun melangkah pasti. Jongin meyakinkan dirinya untuk meninggalkan semua kenangan tentang Sehun di belakang. Jepang dan kehidupan baru sudah menunggunya.
TBC
Halo semua, terimakasih sudah membaca cerita ini, terimakasih sudah mengikuti cerita ini dan terimakasih untuk review kalian ariksa, arvipark794, laxyvords, VampireDPS, doubleuu, doubleuu, KyungXe, Oh Titan, Ongin, okta saputri, Guest, hun, Nikmah444, NishiMala, dytdyt, JonginOh, 9488, sehxkai, Guest, OhSehunKimJongin, Hana, cute, Athiyyah417, Wiwtdyas1, Puji Hkhs, ismi ryesomnia, jongbae, k1mut, Natsu Kajitani, troalle, Kiki2231, vivikim406, lela wyfhzt, GaemGyu92, elidamia98, Saiueo, tobanga garry, Xingmandoo, Park RinHyun Uchiha, bksekaii, ulfah cuittybeams, awreirei, dhantieee, Kim762, jjong86, Sekai Candyland, adi chandra, Kim Jongin Kai, YooKihyun94, micopark, jongiebottom, oracle88, luckyOne94, ohkim9488, dejong. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, bye…, bye…,
