CHAPTER 12 : NEW GUY
Haruno Sakura masih meringkuk di tempat tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi gadis yang memiliki rambut berwarna soft pink itu belum bisa menutup matanya. Pikirannya masih melayang kemana-mana, terutama pada kata-kata pemuda yang tadi siang berkunjung ke rumahnya. Dia merasa semakin bersalah, dia merasa semakin terpuruk. Rasa sakit yang menyerang tubuhnya sejak kemarin sudah sembuh, tapi rasa sakit yang sudah menyerang hatinya sejak beberapa hari yang lalu masih belum mau membebaskannya. Laki-laki itu benar, ada rasa sakit yang tidak bisa diobati dengan kapsul atau berbagai pengobatan medis lainnya.
...Harus dia sendiri yang menyembuhkannya.
Kenyataan bahwa pilihan ada di tangannya, tidak membuat segalanya lebih baik. Justru Sakura merasa dirinya adalah penyebab semua ini. Dia tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya, kesalahan fatal apa yang dilakukannya hingga dia terjebak di masalah ini. Sakura yakin sekali sebelum dia menjadi pacar Sai semuanya baik-baik saja, dia selalu menjalani kehidupannya apa adanya, menerima berbagai hinaan dengan hati yang terbuka, mengetik fic, lalu belajar dan belajar—tidak ada yang istimewa. Akhirnya setelah melewati berbagai pikiran kejam yang berkecamuk di kepalanya, Sakura bangkit dari tempat tidur dan mengambil laptopnya.
Gadis Haruno itu menatap fic yang tadi dibuka oleh Uchiha Sasuke—laki-laki yang tadi datang menjenguknya. Berusaha berkonsentrasi, Sakura memejamkan matanya lalu membukanya lagi. Kesepuluh jarinya kini menari di atas keyboard laptopnya, mengetik kata demi kata lalu merangkainya menjadi sebuah cerita. Fic yang sudah terbengkalai selama beberapa bulan itu kini semakin menemui titik terangnya. Di dalam fic itu, Sakura menaruh sebuah harapan.
.
.
"Kau dan dia adalah bulan dan bintang..."
"...sedangkan aku adalah malam, yang membutuhkan cahaya kalian."
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, misstypo?
Genre(s) : Romance/Angst/Friendship/Drama
Main Pair : SasuSakuSai
.
.
REVIEW AND ART
.
.
TENG TENG
Bel masuk sekolah hari ini sudah berbunyi. Sementara anak-anak yang lain sudah mulai berlarian memasuki kelasnya, Sasuke masih terdiam di depan lokernya. Menatap kaca di dalam loker yang memantulkan wajahnya. Sasuke menghela napas, entah kenapa dirinya merasa tidak siap untuk menerima pelajaran hari ini. Uchiha bungsu itu menutup lokernya perlahan lalu melangkah menuju kelasnya di lantai dua.
Saat Sasuke masuk, anak-anak sudah duduk di kursinya masing-masing walau mereka masih berbicara dengan teman mereka satu sama lain. Memang, ada beberapa gadis yang langsung menghentikan acara berbicaranya dan menoleh untuk sekedar melihat wajah salah satu pangeran sekolah ini, Uchiha Sasuke. Berusaha untuk tidak mempedulikannya, Sasuke kembali berjalan dengan langkah pelan. Dan saat dia berbelok untuk berjalan di tengah barisan kursi dan meja milik murid lain, bola mata obsidiannya membulat kaget.
Dia di sana. Gadis yang sempat tidak masuk kemarin itu kini sudah duduk di kursinya yang terletak di sebelah kursi pangeran sekolah tersebut. Haruno Sakura sepertinya tidak menyadari seorang laki-laki tengah menatapnya dengan perasaan lega, karena dia sendiri terus menerus menatap keluar jendela. Saat Sasuke akan menghampirinya—
BRAK!
Semua anak-anak di dalam kelas tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara. Beberapa gadis terkenal di sekolah ini adalah pelaku dari suara keras tadi. Mereka menggebrak meja Sakura, membuat sang pemilik juga langsung menggerakkan kepalanya untuk menatap mereka dengan kaget. Salah satunya memiliki rambut berwarna dark pink, bernama Tayuya. Dialah yang menggebrak meja Sakura, seringai licik keluar dari bibirnya, "Hai, nona miskin~"
"Ada apa?" tanya Sakura dengan tenang. Iris hijau emeraldnya tidak terlihat takut sama sekali, membuat Tayuya sempat tertegun beberapa saat. Tapi setelah itu dia kembali berbicara.
Tayuya bergerak untuk duduk di atas meja yang terletak di samping meja Sakura tanpa minta izin terlebih dahulu pada orang yang bersangkutan, "Kau tahu? Kemarin benar-benar hari yang menyenangkan lho, Sakura-chan," gadis yang memiliki bola mata berwarna coklat tua itu kini menyilangkan kakinya di samping badan Sakura. Bahkan tadi ujung kakinya sempat menyenggol bahu gadis yang memiliki rambut berwarna soft pink itu, "para murid terlihat bersemangat menerima pelajaran, para guru juga terlihat sangat senang mengajari murid-muridnya, apa kau tahu kenapa?" tanya Tayuya dengan nada angkuhnya. Gadis-gadis di sebelahnya terlihat mengikik menahan tawa, begitu pula dengan anak-anak lain.
Tayuya menarik dagu Sakura hingga gadis itu menatap matanya, "Yeah, aku yakin kau sudah tahu jawabannya, nona miskin. Itu karena KAU tidak datang kemarin, sekolah ini jadi BERSIH tanpa adanya SAMPAH yang berkeliaran. Kalau kau tanya mengapa bisa begitu, TANYA PADA DIRIMU SENDIRI! Lihat kedudukanmu, DASAR SAMPAH!" dengan kasar Tayuya melepaskan tangannya dari dagu Sakura hingga gadis itu meringis sakit dan menyentuh dagunya. Sementara gadis berambut dark pink tersebut mengibas-ngibaskan tangannya seolah jijik.
"Eew, bagaimana ini? Hei teman-teman!" kini Tayuya memutar posisi duduknya hingga dia menghadap seluruh anak-anak di dalam kelas dan membelakangi Sakura yang tetap diam—berusaha tidak mempedulikannya, "—Aku sudah menyentuh anak miskin ini, apa yang harus kulakukan? Mencuci tangan dengan sabun biasa kurasa tidak cukup, apa aku harus mencuci dengan air tanah?—oh, atau aku harus mencuci tangan lalu memakai shampo anjing milik penjaga gerbang sekolah?" tanya Tayuya dengan nada kasihan yang dibuat-buat.
Tawa anak-anak di dalam kelas segera meledak. Semua tertawa puas seolah yang barusan dikatakan Tayuya tadi adalah lelucon paling lucu di sekolah ini. Gadis yang memiliki bola mata coklat tua itu menyilang tangannya di depan dada dan tersenyum mengejek pada Sakura yang tidak mau balik menatapnya. Yah, wajar saja jika Sakura kembali menjadi target anak-anak yang sering menindasnya, karena Sai yang merupakan pacar Sakura dan termasuk salah satu pangeran sekolah juga kini tengah hilang entah kemana. Sakura menarik napasnya, dia harus sabar. Kedua tangannya mengepal erat dan sudah sangat siap untuk menonjok wajah puas Tayuya. Tapi, apa daya? Yang kaya selalu berkuasa. Dan Sakura tidak mau mengambil resiko yang terburuk.
"Maaf mengganggu acaramu, tapi kau menduduki mejaku."
Hanya dengan beberapa kata yang keluar dari mulut Uchiha Sasuke, sudah bisa membuat seluruh kelas menghentikan tawanya. Ruangan yang tadi sempat terlihat hidup kini sunyi senyap. Seolah mereka adalah para mangsa yang langsung terdiam dan meningkatkan kewaspadaannya begitu sang elang berbicara. Tayuya sempat merasa takut begitu onyx yang tajam itu menembus bola mata coklat tuanya. Tapi dia tidak gentar, gadis itu menarik napasnya untuk membuat dirinya tetap tenang, "Kau aneh, Sasuke." Ucap Tayuya dengan nada yang menyindir. Sasuke mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, "Kenapa kau mau duduk di sebelah sampah itu? Kenapa kau tidak protes pada guru kemarin saat kau disuruh duduk di sebelahnya?" tanya Tayuya bertubi-tubi.
Sasuke hanya diam menatap Tayuya, dengan tenang dia duduk di kursi sebelah Sakura yang juga menatapnya. Anak-anak yang lain seolah menahan napas melihat setiap gerakan yang dilakukan Sasuke, sampai laki-laki berambut raven itu menatap tajam Tayuya hingga gadis itu merinding, "Bisa kau minggir secepatnya? Kau mengganggu penglihatanku."
"Apa? Sialan—"
"Dan jika kau begitu ingin tahu kenapa aku tidak protes saat guru menyuruhku duduk di sebelahnya, jawabannya mudah saja," Sasuke menyeringai tipis membuat wajah Tayuya mengeluarkan semburat merah tipis saat melihatnya. Dia segera turun dari meja Sasuke dan menatap Uchiha bungsu itu dengan gelisah, "karena melihat sampah lebih baik dari pada harus melihat perempuan sepertimu." Sasuke membuang mukanya dan mulai membuka buku yang tadi sempat dia ambil dari tasnya, seolah tidak mempedulikan keberadaan gadis berambut dark pink yang terlihat menarah amarahnya, tanpa menoleh Sasuke terus berucap, "Aku bahkan tidak tahu harus menyebutmu apa, yang jelas kau lebih rendah dari sampah sekalipun."
Semua anak menahan napas termasuk Sakura. Julukan 'pangeran es' untuk Sasuke memang bukan hanya sekedar julukan belaka. Itu merincikan semuanya, mulai dari penampilan, wajah, sifat, bahkan ucapannya. Jika Sasuke sudah mengeluarkan kata-kata yang merendahkan, semua itu bagaikan es-es runcing yang siap menusuk dada pihak yang bersangkutan. Sakura sangat tahu hal itu, karena dulu dia sudah beberapa kali menerima es runcing itu mentah-mentah. Tayuya membuka mulutnya, tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa. Seolah es yang menusuk dadanya menyebar dan membekukan seluruh gerakannya. Air mata perlahan menggenang di ujung matanya sementara Sasuke sama sekali tidak peduli dan terus membaca buku yang berada di atas mejanya. Sedetik kemudian, Tayuya langsung menghentakkan kakinya dan berlari keluar kelas hingga teman-temannya yang lain mengejarnya.
Tubuh Sakura menegang melihat hal tadi. Bagaimana tidak? Semua murid di kelas XI-A langsung melihat ke arahnya, seolah-olah Tayuya menangis karena dirinya. Sakura menunduk, tidak berani menatap langsung anak-anak yang menatapnya dengan pandangan menuduh. Sasuke melirik Sakura dari ujung matanya, "Kalau kalian mengira aku berkata seperti tadi untuk melindungi Sakura, kalian salah." Kini Sasuke tidak lagi menatap bukunya, tapi menatap seluruh anak di kelasnya, "Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku tentang perempuan tadi, itu saja." Dan setelahnya Sasuke kembali membaca bukunya.
Sesuai yang diharapkan, para murid langsung kembali ke kegiatannya masing-masing. Mereka berusaha untuk mengganggap kejadian tadi tidak pernah ada. Tentu tidak ada yang mau berurusan dengan pangeran es itu. Sakura juga mengerti, apa yang dikatakan Sasuke tadi ada benarnya. Dia tidak boleh berharap laki-laki itu melindunginya, bukankah kemarin dia sudah menyakitinya? Sakura berusaha menahan rasa sakit yang ada, dia berusaha menenangkan hatinya dengan menoleh keluar jendela. Tapi, bisikan pria berambut biru dongker itu setelahnya berhasil menghancurkan pertahanannya. Air mata—entah sedih, entah bahagia—turun begitu saja dari pipinya. Gadis itu menangis dalam diam sementara dia terus menatap pemandangan di luar dengan senyum tipis yang keluar dari bibirnya.
"Aku senang kau sudah kembali ke sekolah..."
#
"Hei teman-teman, mohon perhatiannya sebentar!" di tengah pelajaran pertama, Sai baru datang. Sekarang dia tengah menepuk kedua tangannya, meminta perhatian dari temannya untuk pengumuman yang sebentar lagi akan dia umumkan. Sai menghela napasnya, "Seperti yang diumumkan guru sebelumnya, akan ada anak pertukaran pelajar di sini selama seminggu. Dan kebetulan, dia akan masuk ke kelas ini. Aku minta supaya kalian ramah dengannya, oke?" jelas Sai diakhiri dengan senyumannya yang mampu membuat para fangirl-nya berwajah seperti kepiting rebus. Sai membuat gerakan isyarat hingga anak pertukaran pelajar itu memasuki kelasnya.
Sai sudah menduga hal ini, semua gadis di kelasnya langsung bengong melihat anak pertukaran pelajar itu. Pemuda yang terkesan tenang itu berdiri di depan kelas tepat di samping Sai. Laki-laki dengan mata lavender-nya yang indah itu menatap tajam seluruh anak di kelasnya, "Hyuuga Neji. Mohon bantuannya." Ucap Neji dengan tenang dan dia pun membungkuk hormat. Laki-laki itu melirik Sai di sampingnya, seolah ingin bertanya, 'apa-lagi-yang-harus-kukatakan?' tapi pemuda dengan rambut hitam kelimis itu sama sekali tidak menanggapinya. Dia malah terus tersenyum melihat sesuatu. Neji bingung melihat itu, dia pun menoleh untuk melihat siapa yang dilihat Sai hingga wajahnya terlihat begitu bahagia.
Dan dia menemukannya, karena yang ditatap Sai juga menatap balik dengan senyum merekah di wajahnya. Gadis yang memiliki rambut seperti warna bubble gum. Neji terus menatap gadis itu lalu dia mengerutkan alisnya. Dari senyum gadis itu, ada yang aneh. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan.
"Ah, maaf Neji," pemuda berambut coklat panjang itu langsung menoleh ke sumber suara, "kau bisa duduk di sebelahku. Kebetulan Naruto—anak yang duduk di sebelahku sedang izin menjenguk neneknya yang sedang sakit." Setelah berkata seperti itu, Sai langsung menghampiri tempat duduknya dan mempersilahkan Neji duduk di sebelahnya.
Beberapa saat keduanya terdiam begitu guru datang dan langsung mengajar di depan kelas. Neji awalnya diam memperhatikan guru di depannya tapi kemudian dia melirik Sai di sampingnya, "Hei," panggilnya membuat Sai menoleh, "gadis yang memiliki rambut soft pink itu—" Neji menggerakkan kepalanya, membentuk isyarat menunjuk gadis yang duduk di paling ujung kiri, "—kekasihmu?"
Sai awalnya tersentak kaget, tapi setelahnya dia langsung tersenyum dengan semburat merah menghiasi pipi putih pucatnya, "Ya, bagaimana kau bisa tahu?" Neji tidak menanggapi pertanyaan Sai itu, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, "Namanya Haruno Sakura, dia gadis yang paling kusayangi." Lanjut Sai dan dia terus melihat ke arah gadis yang tengah membaca buku pelajarannya itu. Perlahan tangannya bergerak untuk mengambil kertas gambar dari dalam laci mejanya. Neji tidak memperhatikan hal itu, dia terus menatap Sakura dengan alis yang mengernyit. Sampai dia menangkap sesuatu.
Laki-laki berambut raven yang duduk di sebelah gadis itu, berkali-kali Neji menangkap basah laki-laki itu tengah melirik gadis di sebelahnya. Rambut coklat panjang Neji bergerak sesuai gerakan kepalanya yang kembali menoleh ke arah Sai, "Kalau laki-laki yang duduk di sebelahnya?" tanya Neji lagi. Gerakan tangan Sai yang sedang menggambar langsung terhenti. Air wajahnya langsung berubah, Neji bisa menangkap ada aura kebencian yang keluar dari tubuh laki-laki ramping itu.
"Uchiha Sasuke." Jawab Sai dengan dingin dan penekanan di setiap katanya. Neji menopang dagunya dengan tangan kirinya. Menatap Sai dan Sasuke bergantian. Sampai Sai kembali berkata, "Kalau kau ingin mengetahui laki-laki itu lebih lanjut, jangan tanya padaku. Aku tidak ingin meledak lagi." Ucap Sai dengan ambigu. Neji menatap datar rahang laki-laki dengan bola mata onyx itu yang tiba-tiba mengeras.
Detik demi detik dan menit demi menit perlahan berlalu. Hingga sampai pelajaran kedua hari ini dan sekarang sudah istirahat. Semua murid keluar kelas begitu pula Sai yang langsung mengajak Sakura ke kantin. Neji melirik Sasuke yang terlihat menghela napas lalu menyusul anak-anak lain yang ikut keluar kelas hingga sekarang tinggal Neji yang tersisa. Pemuda keturunan Hyuuga itu menatap kelas barunya yang kosong ini. Dengan ekspresi datar yang tertera di wajahnya, Neji berjalan menuju tempat duduk gadis yang tadi dia ketahui bernama Haruno Sakura. Pemuda berambut coklat panjang itu menjulurkan tangannya untuk mengambil Hp di dalam laci meja Sakura lalu mengotak-atiknya. Jarinya berhenti begitu menemukan sesuatu dan senyum tipis keluar dari bibirnya.
"Sudah kuduga—"
"Hei!" Neji tersentak kaget saat seseorang memanggilnya. Dia mengangkat kepalanya dan kini dia mengerti siapa yang tadi baru saja meneriakinya, Uchiha Sasuke. Uchiha bungsu itu mengernyitkan alisnya dan menatap lavender yang berada beberapa jarak di depannya dengan tajam. Sasuke melangkah lagi untuk lebih mendekat kepada murid pertukaran pelajar tersebut, "Apa yang kau lakukan di sini? Dan itu—" Sasuke menatap Hp di tangan Neji, "—Hp Sakura, benar?" Neji menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya dia mengembalikan Hp itu di laci tadi.
"Tenang, aku tidak berniat mencurinya—jika itu yang kau pikirkan," Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Kedua tangan dari dua laki-laki itu masih setia di dalam saku celana mereka masing-masing, "daripada itu, ada yang ingin kutanyakan padamu, Sasuke." Kini lavender dan onyx saling bertatapan. Sasuke menunggu ucapan Neji selanjutnya.
"Haruno Sakura," Neji tersenyum melihat wajah Sasuke yang sempat menegang untuk beberapa detik. Setetes keringat dingin mengalir di pelipis laki-laki tampan itu, "apa kau suka padanya?"
Meski sesaat, Neji sempat mendengar suara gemeletuk gigi di balik bibir tipis Uchiha tersebut. Sungguh reaksi di luar dugaan untuk ukuran laki-laki dingin seperti Uchiha Sasuke. Dilihat dari reaksinya, Neji bisa memperkirakan seberapa jauh perasaan Sasuke pada Sakura, "Sepertinya itu bukan urusanmu, Neji." Jawab Sasuke dengan tegas. Neji menatap datar laki-laki itu. Hm, berkilah rupanya.
"Ini memang bukan urusanku, dan aku tidak berniat untuk mencampuri urusan orang lain, tapi..." Neji memejamkan matanya lalu membukanya lagi, untuk menatap bola mata yang sehitam batu obsidian itu dengan tajam, "...apa susahnya menjawab pertanyaanku tadi, Sasuke? Apakah segitu susahnya menjawab antara iya dan tidak?" dan kini Neji tersenyum menang melihat ekspresi Sasuke yang kembali berubah.
Uchiha bungsu itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan menyelidik. Mendengar gelarnya yang merupakan murid pertukaran pelajar, Sasuke bisa memperkirakan Hyuuga Neji adalah pemuda yang cerdas. Dia tidak bisa menganggap remeh keturunan Hyuuga itu. Sasuke tidak bisa memperkirakan sejauh mana kecerdasan Neji, tapi dari cara bicaranya Sasuke tahu Neji adalah orang yang pintar bicara dan bisa memojokkan lawannya dengan mudah. Dan dari tatapan Neji yang begitu intens padanya, Sasuke mengerti kalau Neji sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan sendiri kepadanya. Sasuke hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan perasaan cemas.
"Tidak mau jawab?" tanya Neji lagi setelah keduanya lama terdiam. Sasuke mengernyitkan alisnya untuk yang ke sekian kalinya. Sepertinya untuk kali ini, Sasuke memilih diam. Neji menghela napas, hanya akan membuang-buang waktu di sini dan dia benci itu, "Kalau begitu, apa aku boleh mengutarakan pendapatku tentangmu, Sasuke?" tanya Neji dengan sebelah alis terangkat. Sasuke sempat melotot kaget, tapi dia berusaha mengendalikan emosinya.
"Uchiha Sasuke, kau menyukai Haruno Sakura, meskipun kau tahu dia adalah kekasih Sai. Apa aku salah?" degup jantung Sasuke berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Laki-laki berambut raven itu mengepalkan kedua tangannya di balik saku celananya. Dia menunggu saat Neji kembali membuka mulutnya, "Aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Sai sebelum Sakura menjadi kekasih Sai. Tapi yang jelas, sepertinya Sai mengetahui perasaanmu dan dia membencimu karena itu."
"Untuk informasimu, Sai adalah sahabatku." Bola mata Neji sempat membulat mendengar Sasuke mengucapkan hal itu, tapi dengan cepat dia dapat mengatur kembali ekspresi wajahnya, "Sebelum dia menjadi kekasih Sakura dan sampai sekarang pun, dia tetap sahabatku." Neji menatap bola mata onyx yang entah kenapa ketajamannya mengurang. Kini dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"...Meskipun dia membencimu?"
Sasuke terdiam, tapi beberapa detik kemudian dia mengangguk, "Ya," menarik napas dan menghelanya, pangeran es itu kembali berbicara, "tapi... bagaimana kau bisa tahu sampai sejauh ini, Neji?"
Mendengar pertanyaan Sasuke, Neji menyunggingkan senyum di bibirnya, "Aku hanya memperhatikan kalian bertiga beberapa saat dan aku langsung mengambil kesimpulan itu," tertawa kecil, Neji membalikkan tubuhnya, "biasanya jika aku tahu sesuatu, aku tidak pernah mengatakannya kepada yang bersangkutan."
"Lalu kenapa?" tanya Sasuke, tidak mengerti apa yang dimaksud Neji. Tapi laki-laki berambut panjang itu tidak menjawab Sasuke sampai dia duduk di kursinya dan menopang dagu dengan tangan kirinya.
Neji mendengus menahan tawa, "Kalian bertiga menarik," diambilnya buku tebal yang biasa dibacanya, dan kini bola mata lavender itu bergerak ke kanan kiri untuk membaca tulisan yang berada di buku tersebut, "aku merasa ada dinding kokoh yang berdiri di antara kalian satu sama lain, jujur saja aku tertarik untuk memecahkan dinding itu. Tapi di lain pihak, aku juga benci mencampuri urusan orang lain," jeda sesaat, Neji membalik halaman yang sudah selesai ia baca, "oh ya, dan satu lagi." Laki-laki yang memiliki rambut coklat panjang lurus itu menoleh sekilas dan menatap Sasuke.
"Menurutku, kau adalah laki-laki yang menyedihkan, Uchiha Sasuke."
Sasuke tersentak, dia ingin mengelak tapi tertahan di tenggorokannya—entah karena apa. Akhirnya pemuda yang memiliki rambut berwarna biru dongker itu memilih diam dan kembali duduk di kursinya. Sesekali dia menoleh pada laki-laki keturunan Hyuuga tersebut. Sepertinya Neji sama sekali tidak memusingkan apa yang baru saja dikatakannya pada sang Uchiha bungsu. Dengan tenang dia membaca buku tebal faforitnya seolah beberapa waktu lalu tidak terjadi apapun. Sasuke meremas rambutnya frustasi di atas mejanya.
Kenapa... aku tidak bisa membantah kata-kata Neji?
.
#
.
Waktu selalu terasa cepat berlalu tanpa kita sadari. Sakura sadar ada yang tidak beres melihat Sasuke yang setiap di tengah pelajaran berulang kali menghela napasnya. Ingin bertanya, tapi Sakura merasa tidak punya hak akan itu. Akhirnya dia memilih diam untuk beberapa saat, tapi sayangnya rasa penasaran mengalahkan semuanya. Di saat semua murid bersiap-siap untuk pulang, Sakura akhirnya bertanya, "Ano..." Sasuke menghentikan kegiatannya memasukkan buku ke dalam tasnya, dia mengangkat kepalanya dan menatap Sakura, "...ada masalah?"
Sasuke sempat terdiam beberapa saat, lalu begitu dia melihat Sakura yang gelisah dengan muka memerah, akhirnya laki-laki itu tersenyum, "Aku tidak apa-apa." Jawab Sasuke singkat, lalu dia kembali memasukkan bukunya ke dalam tas. Hari ini ada Sai, dan Sasuke tidak mau mengambil resiko sakit hati lagi melihat kedua insan itu bermesraan. Selesai membereskan tasnya, Sasuke langsung membawa tas tersebut dan keluar kelas. Meninggalkan Sakura yang menatapnya dengan penuh tanya.
Sakura akhirnya melanjutkan kembali membereskan tasnya yang sempat tertunda. Selesai, kini Sakura menoleh ke arah Sai yang juga baru saja menyelesaikan beres-beres tasnya, saat Sai akan menuju ke tempat Sakura, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya. Sakura memperhatikan saat Neji membisikkan sesuatu ke telinga Sai. Awalnya laki-laki berambut hitam kelimis itu terlihat bingung tapi akhirnya dia mengangguk. Dan kini Neji yang berjalan ke arah Sakura, "Sakura, bisa bicara sebentar saja?" gadis yang memiliki bola mata hijau emerald itu menatap lavender di depannya dengan bingung, "Tapi tidak di sini, bisa ikut aku?"
Tadinya Sakura ingin menolak, karena dia sudah janji akan pulang bersama Sai hari ini. Tapi melihat Sai yang memberi isyarat, 'pergi-saja-dulu' akhirnya Sakura menurut. Gadis itu berjalan di belakang Neji. Entah kenapa firasat tidak enak menghinggapi dadanya. Punggung Neji yang berjalan di depannya entah kenapa memiliki aura yang membuat tubuh Sakura merinding. Ada sesuatu yang akan ditanyakan Neji dan Sakura merasa itu bukan hal yang akan bisa dia jawab dengan mudah.
Neji terus berjalan dan kini dia membawa Sakura ke atas gedung sekolah Konoha Highschool ini. Angin menerbangkan rambut Sakura juga rambut coklat Neji yang panjang. Laki-laki itu kini berbalik dan menatap Sakura. Keduanya terdiam hingga Neji mengeluarkan suaranya, "Sebelumnya, aku akan memberi pertanyaan pembuka," Sakura mengangkat sebelah alisnya, Neji mengangkat satu jarinya, "Dengan nama apa aku harus memanggilmu? Sakura—"
"—atau cherryblossom?"
Iris hijau emerald itu pun membulat kaget.
.
.
To Be Continued
.
.
Special thanks for :
Ka Hime Shiseiten, Haza ShiRaifu, Hikaru Haruno, 4ntk4-ch4n, Sagaarayuki, Snoppi, Valkyria Sapphire, resiwon407, Rurippe no Kimi, Qren, Nita UzuHaruChi, Ame Kuroyuki, Andromeda no Rei, OraRi HinaRa, Micon, RizkaRina, Kikyo Fujikazu, ArhiiDe-chan 'HongRhii' Hikari, ck mendokusei, Rin Akari Dai ichi, rere uchiha, Yuuto Tamano, LuthRhythm, Nurama Nurmala, Michilatte626, Park Ra Ra, Kazuki Namikaze, Soraka Menashi, Sabaku no Uzumaki, Chwyn, Akari Nami Amane, N0i-san, Frozenoqua, Nanairo Zoacha, Mika Harashi, Hoshi Yamashita, Oliversykes Ewiq'Uchiha, sheila, amie uzumaki, uchiha priz alexa runo, risa-chan-amarfi, Sekar Putri Ariandini Brata, Pink Cherry, Misaky Uchiha, niwa ga login, Mimi Namikaze naruto, Chiwe-SasuSaku, Myori kensho, Sorane Midori, ulquiorra zelga, Nina Zahra Zatulini, Ritardando Stanza Quint, UchiHaruno 'Nee, nikita, Eunike Yuen, justin, fuyu yurriehana, Kuraudo umika chinen, V2, Lucy Farron
Dan jika ada yang namanya tidak tertulis, arigato gozaimasu :)
Yak, halo semuanyaaaa~ Sudah berapa lama ya saya menelantarkan fic ini... ada yang tahu? =w= #dilempar
Maaf deh maaf, awalnya karena males ngetik #diinjek Terus baru-baru ini kemarin ada yang nge-COPY PASTE fic ini di notes Fbnya dan mengaku bahwa fic ini miliknya, yah saya nggak akan menyebut namanya selain karena kasihan, dia juga sudah menghapus fic ini dari notesnya. Dan bukan cuma fic ini yang mengalami nasib itu, fic dari beberapa author lain juga ada yang dia copy paste. Ahaha, saya antara kasihan dan jijik sama dia. Jadi, berterima kasihlah padanya karena berkat dia fic ini jadi tertunda (=w=)v #dor
Lalu akhir-akhir ini saya sibuk nonton anime dan fangirling jadi gak ada waktu buat ngetik fic #dibantai Tapi, terima kasih banyak yang udah setiaaaa banget nungguin fic ini. Saya terharu :') Kalau ada yang mau ditanyain seputar fic dan lain sebagainya, silahkan follow twitter saya dan tak usah ragu untuk mention ;D atau supaya lebih nyaman (?) lewat PM FFn dan message FB juga bisa wkwkwk. Soalnya kalau nanya lewat review, saya suka jarang lihat dan ujung-ujungnya pasti kelupaan orz Dan untuk kak Luth... meskipun saya telat update, tolong jangan siksa saya lagi m(_,_)m #kabur
Satu catatan penting, saya pasti telat update. Jadi jangan review 'update kilat!' yaaa, soalnya itu nggak mungkin~ 8D #dibakar Tapi kalau mau nagih update sih silahkan saja, itung-itung supaya saya nggak lupa juga x3 #woy Selain itu, REVIEW sangat penting untuk para author—saya yakin itu. Dengan review, mereka akan bersemangat mengetik cerita yang lebih baik untuk readernya, bukan begitu? Karena itu, kata siapa review itu tidak penting? Para reader dan reviewer itu sangat berharga untuk semua author, termasuk saya ;)
Gak tahu mau ngebacot apa lagi, review? :D
