Harry Potter © Jk Rowling.

Will you be My Parents © Saitou senichi

.

Hermione berdiri di depan jendela yang menghadap jalan, tercenung menatap langit yang sudah gelap, matanya menerawang jauh. Tiba—tiba ia mengingat perjuangannya memutuskan anak itu tetap tumbuh dalam rahimnya. Pun ia mengingat senandung Mommynya ketika ia kecil. Ah… ia begitu merindukan kedua orangtuanya, sungguh. Lalu entah dengan sengaja atau tidak, sewaktu pertumbuhan Rose dan Hugo, ia pun selalu menyenandungkan lagu ini.

Hermione belum pernah menyenandungkan lagu itu untuk Suri.

Tersenyum miris, Hermione bertekad akan membahagiakannya, membahagiakan anak-anaknya. Lamunannya buyar ketika ekor matanya menangkap sesosok anak perempuan tengah berjalan tergesa-gesa. Ia memicingkan mata mencoba memfokuskan penglihatannya. Hatinya berdegup kencang, tanpa memikirkan apapun, Hermione bergegas keluar rumah menghampiri anaknya yang berada di luar.

.

Chapter 12 : lullaby

.

Hermione membantu mengeringkan tubuh Suri yang basah terkena air hujan. Rose yang sedang terduduk di ruang keluarga hanya memperhatikan perlakuan Ibunya pada Suri. Wajah Suri pun terlihat tidak baik-baik saja, selalu terlihat murung. Rose jadi bertanya-tanya, sesulit itukah kehidupan Suri? Kadang ia membayangkan dirinya yang berada di posisi Suri. Dengan cepat ia menggelengkan kepala dengan keras, ah, itu terlalu miris baginya. Maksud Rose, di tinggal ibu di panti asuhan, apa jadinya bila yang di tinggal Mum adalah dirinya. Kembali meluruskan pandangannya pada buku tebal, otaknya berpikir keras. Akhir-akhir ini ia mencoba mendinginkan kepalanya, mencoba meredam emosinya pada Suri dan berpikir positif―meski sangat sulit― seperti kata Hugo.

"Anak itu tidak salah, sepertinya… kenapa tidak berdamai saja Kak?"

Rose kembali memutar kepalanya untuk melihat apa yang Mum-nya dan Suri lakukan. Matanya berubah sendu ketika melihat Suri yang terdiam di ruang penghubung dapur dan ruang keluarga. Menatap Suri yang tengah menunggu Mum mengambilkan sesuatu.

'Ya ampun, kenapa ia terlihat menyedihkan…' batin Rose sembari mengalihkan pandangannya lagi.

"Rose," ia menjengit ketika bahunya di sentuh pelan.

Ia berbalik, "yes mum?"

"Mum, mau menemani Suri ke atas, sepertinya ia tidak enak badan," ada jeda disana. "Tak apa 'kan kamu sendiri di bawah?"

Mata Rose hanya berkedip, lalu mencuri-curi pandang pada sosok yang beberapa hari lalu ia benci. Sebenarnya ia tidak membenci Suri, ia… hanya… "Ya, aku tak apa, mum." Entahlah…

Sebelum pergi keatas, mata mereka bersirobok. Ada kecanggungan disana, tapi Rose tidak ingin ia membuang muka, lalu ia melihat gerakan bibir Suri seperti mengatakan 'terimakasih'. Kemudian Suri pergi mengikuti mum. Meninggalkan Rose yang tengah membeku di tempat.

Suri memang sengaja berkata terimakasih pada Rose, karena ia sudah di perbolehkan berdua dengan Hermione. Terdengar suara pintu tertutup, dan langkah kaki mendekatinya. Hari ini sepertinya masalah kembali datang, dengan terpaksa acara makan malamnya di batalkan karena tiba-tiba saja tuan Potter terkena sakit kepala yang dahsyat. Albus memaksa mengantarkannya pulang, tapi Suri menolaknya mentah-mentah. Ia tidak ingin merepotkan Albus.

"Ibu," ia memanggil disela-sela mengganti pakaian.

"Hm?" Hermione maju dan meraih rambut Suri, kemudian menyisirnya.

"Tadi Mr. Potter terserang sakit aneh di kepalanya," tubuh Hermione menegang, "tepat saat mata beliau melihatku."

Suri menunggu reaksi Ibunya, tapi nihil. Hermione tetap mematung dengan lengan berada di atas kepala Suri. Lidahnya kelu, otaknya berpikir keras. Apakah luka di dahi Harry pun bereaksi sama pada Suri? Jantungnya berdentam dentam, ia takut, rasa ketakutan ini tercipta ketika ia tidak mengetahui apa yang terjadi.

"Ibu?"

Suara Suri menyadarkannya dari segala pikiran negative yang menggelayut. Dengan nada dibuat tenang ia mengalihkan topic, "kau lelah, harus tidur sekarang," pun ia lelah menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti.

'Tapi ini baru jam enam, bu."

"Kau lelah, sayang. Lihat lingkaran hitam di matamu― sungguh seperti madam Gillu," ia menggiring Suri menuju ranjang.

Suri bergeser, ketika Hermione merangsek masuk di dalam selimut. "Jangan berkata ranjang ini tak muat untuk dua orang, ibu tetap tak akan pindah Suri," Suri terdiam menatap Ibunya. "Ibu dari dulu selalu menyenandungkan lagu ini untuk Rose dan Hugo ketika hendak tidur, dan sekarang giliranmu."

Mereka saling bertatapan.

"Ketika kau tertidur, ku pandangmu dari jauh… masih inginku mendekapmu, masih ingin ku menciummu.

Hermione ingat saat pertama kali ia menyusui Suri, kepalan tangan Suri menggapai udara seakan-akan mencari sesuatu. Ketika ia menyodorkan telunjuknya, dengan sigap Suri meraihnya dan menggenggam begitu erat. Seperti tahu bahwa ia akan di tinggalkan, bahwa ia mencoba menahan kepergian Hermione dengan lengan kecilnya. Mencoba memberikan kepercayaan pada Hermione, bahwa ia memanglah anaknya.

Tak pernah ku sadari, waktu cepat berlalu.

Mata Hermione berkaca-kaca, ketika ia dengan teganya menyerahkan buntalan kain berisikan Suri yang sedang menangis kepada Madam Gillu. Memilih pergi. Bahkan ia tidak mengingat nama pemberian madam untuk anaknya, bahkan ia tidak menunggu ketika Suri membuka matanya, membuka mata untuk memperlihatkan bahwa ada sosok Ibu di hadapannya, bahwa meski sebentar, Suri pernah di dekap oleh Hermione. Membuka mata untuk Hermione, untuk memperlihatkan warna matanya.

Kini tanpa ku sadar, kini engkau menjadi besar… kini engkaulah harapanku…

Benar saja…. Hermione begitu banyak melewatkan pertumbuhan anak satu ini. Padahal ketika Rose maupun Hugo berkembang―bagaimana saat pertama kali mereka berkata ma-ma, pertama kali berjalan, mereka melalu fase itu dengan keberadaannya, dengan tawa kebahagiaan. Dengan kasih sayang yang melimpah tak terbatas dari dirinya maupun Ron. Suara Hermione bergetar namun tetap melanjutkan senandungnya.

Tumbuh, tumbuhlah anakku.

Ia mengusap surai panjang Suri, membayangkan bagaimana cara Suri tumbuh, mengingat-ingat beberapa surat yang pernah di kirimkan madam Gillu tentang pertumbuhan Suri― yang diacuhkannya saat itu.

Madam Gillu berkata, kalimat pertama yang di ucapkan Suri memang sama dengan anak yang lainnya, yaitu; Ma-ma. Namun yang membedakannya adalah ketika ia selalu terdiam di depan jendela atau di depan pintu… seperti menanti seseorang, atau ketika tiba-tiba ia mengadahkan kedua lengannya kepada seorang perempuan paruh baya―meminta agar di gendong― yang ingin mengadopsi anak panti lainnya.

Raih raihlah cita-citamu, jangan pernah ragu sayang.

Do'aku selalu bersamamu, membuat aman bersamamu."

Hermione memeluk Suri yang kini sudah terlelap, mencoba menyalurkan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan. Pun mencoba menguatkan dirinya sendiri. Sebelum turun dari ranjang, ia mendengar knop pintu di buka. Dan benar saja, ketika ia menoleh ternyata Ron berdiri di ambang pintu, bersedekap sembari memberi kode ada yang harus di bicarakan.

Ron benar-benar meminta Hermione ikut ke suatu tempat―yang ternyata rumah keluarga Weasley― dengan ber-Apparate. Menghela napas pelan, Hermione mencoba menghadapi beberapa masalah yang akan menghadang.

Ketika memasuki rumah itu, terasa sunyi sekali. Hanya terdengar samar-samar percakapan di suatu ruang. Hermione merasa kejadian ini persis sekali ketika mereka akan membahas strategi melawan Kau—tahu—siapa ketika itu.

Ia mengikuti langkah Ron dari belakang memasuki ruangan itu. Sejenak pembicaraan mereka terhenti ketika Hermione masuk. Kilat pandangan mereka begitu berbeda-beda, tapi ia tahu satu hal. Mungkin kejadian yang di ceritakan Suri akan dibahas sekarang.

"Ah, Dear," Molly memeluk Hermione dengan erat. "Kau tampak kurus dari terakhir kita bertemu."

Hermione hanya tersenyum. Setelah lepas dari pelukan maut itu, ia kembali memandang kawan-kawan lamanya. Ginny dengan raut khawatirnya, dan Harry dengan raut—apakah ia menyadari sesuatu?

"Duduklah, aku akan membuatkan kalian sesuatu," ucap Molly seraya pergi dari ruang pengap itu.

"Ada apa?" Tanya Hermione memecahkan keheningan.

Semuanya terdiam, enggan berbicara.

"Seamus dan Neville…" Harry berucap lamat-lamat, "menemukan seekor mirip Basilisk di hutan terlarang," lagi dan lagi jantung Hermione berdetak cepat, ia tahu ular itu milik Suri. "Beberapa jam lalu aku langsung menyusul mereka ke Hogwarts― ku harap itu lelucon, tapi ketika melihat langsung dan berkomunikasi dengannya…" napas Hermione terasa sesak, akankah rahasianya yang sudah ia tutup akan terbongkar. Bahkan belum genap empat hari ia mengaku memiliki anak dari pria lain pada Ron, kini ia cepat atau lambat harus mengaku identitas pria lain itu. "Dia berkata My Lady, dan Tom Riddle berulang kali sebelum Seamus memotongnya menjadi dua bagian."

Hermione mencelos mendengarnya. Ia ingat ucapan Suri kala itu, ketika mereka memasak bersama untuk pertama kalinya.

"Ayah memberikan ku hadiah…! seekor hewan peliharaan yang tidak biasa," Hermione mengingat wajah Suri yang begitu berbinar, "Panjangnya seperti menera astronomi!"

Mereka membunuh Clara… Menghilangkan satu-satunya hadiah pemberian Tom. Batinnya berteriak tidak peraya.

"―lalu menjelang malam, Al membawa seorang anak perempuan yang membuat luka di dahiku kembali sakit," Harry beserta Ginny menatapnya penuh dengan luka, "beberapa menit sebelumnya Ron pun bercerita tentang anakmu yang lain Mione."

Tidak….

"Apa yang kau sembunyikan? Mione."

Tidak….

Ron yang berada di jendela besar dekat rak buku, mulai angkat bicara, "kemana kau selama dua tahun itu?" ada nada perih disana, "ceritakan semuanya…"

.

.

A/n : Rush Plot? I know.

Saran dan kritik di terima.