Disclaimer © Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya saja)
…
Dandelion
By
Ann
…
Warning : Au, Ooc, typo(s).
Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.
and
Selamat membaca!
…
Bab XII
Perfect Love
...
Bagi orang lain mungkin kau memiliki begitu banyak kekurangan, tapi bagiku kau sempurna. Kau hadir untuk melengkapi hidupku.
...
Kamis siang merupakan waktu yang sibuk bagi Rukia dan tim klinik anak. Setiap kamis pada jam makan siang mereka harus menjamu puluhan ibu-ibu sekaligus melakukan penyuluhan kesehatan serta imunisasi pada bayi atau anak-anak mereka.
Dan kamis ini sama seperti kamis-kamis sebelumnya, para ibu datang dan berkumpul di ruang tunggu klinik. Hari ini Nanao mengundang seorang koki untuk mendemostrasikan cara memasak mudah dan praktis. Ibu-ibu muda yang datang tampak antusias saat sang koki memasak bahan-bahan sederhana menjadi masakan lezat hanya dalam waktu yang singkat, mereka sibuk mencatat resep dan tips memasak ke notes mereka.
"Syazel membuat memasak tampak begitu mudah," ujar Nanao sambil merapikan brosur yang akan dibagikan di akhir acara.
"Memang mudah," jawab Rukia yang duduk di sebelahnya dengan daftar tamu di tangan. "Hari ini yang datang lebih banyak dari minggu lalu," ujarnya setelah melihat halaman terakhir daftar itu.
"Semakin banyak yang tertarik dengan acara ini." Nanao mengangguk setuju. "Memasak itu sulit, Rukia. Kalau mudah aku pasti sudah mahir melakukannya sekarang," ia menambahkan.
Rukia hanya tersenyum simpul. "Latihan adalah kuncinya, semakin sering kau berlatih, kau akan semakin mahir."
Nanao mengangkat bahu. "Entahlah, kurasa aku lebih senang mengerjakan hal lain selain memasak."
"Aku setuju." Rangiku tiba-tiba muncul di samping Rukia. "Menjadi mahir seperti itu," ia menunjuk Syazel yang sedang mencincang daging ayam dengan lincah, "mustahil untukku."
"Aku jadi merasa kasihan pada Gin." Ichigo ikut bergabung di kumpulan wanita-wanita itu. "Maaf aku terlambat, pasien terakhirku sedikit cerewet."
"Gin tidak mempermasalahkan aku bisa memasak atau tidak," sahut Rangiku dengan mata memincing ke arah Ichigo. "Dia menerimaku apa adanya."
"Baguslah kalau begitu, susah menemukan seseorang yang bisa menerimamu apa adanya." Mata Madu Ichigo melirik Rukia setelah mengatakan hal itu.
"Apalagi jika orang itu pernah punya banyak sekali kekasih di masa lalunya." Rangiku menyindir.
Ichigo hanya tertawa mendengar sindiran itu. Ia mendudukkan diri di sudut meja dekat dengan Rukia. "Selalu ada seorang wanita yang berhati besar yang mau menerima mantan playboy sepertiku."
"Kata 'mantan' mengindikasikan kau sudah berhenti jadi playboy, dr. Kurosaki," ujar Nanao menimpali.
Ichigo mengangguk. "Saat aku menemukan pelabuhan yang tepat untuk berlabuh, mengapa aku harus berlayar lagi."
"Jadi, kau sudah menemukan seseorang dr. Kurosaki?" tanya Nanao penasaran.
Bibir Ichigo mengurva, membentuk senyum penuh arti. "Ya," jawabnya singkat, lalu tatapannya bertahan cukup lama pada Rukia sehingga siapa pun yang melihatnya tahu jika seseorang yang dimaksud pria itu tidak lain adalah Rukia.
Nanao memandang Rukia dengan tatapan tak percaya, sedang Rangiku memandangnya dengan tatapan tak setuju.
Di kejauhan Syazel memberi tanda bahwa ia sudah menyelesaikan demonya. "Kurasa sudah saatnya aku membaur," ujar Ichigo sembari berdiri dan melangkah ke tengah tamu-tamu mereka.
"Jujur saja, aku terkejut," ujar Nanao sambil memandang Ichigo di kejauhan. "Tapi pilihanmu sangat bagus, Rukia."
"Aku juga terkejut, rasanya seperti mimpi," sahut Rukia pelan. Ia seperti Nanao, memandang Ichigo dari kejauhan dengan sorot kagum. "Aku sempat tidak percaya saat dia bilang dia mencintaiku."
"Seharusnya kau berkeras dengan ketidakpercayaanmu itu, Rukia," sela Rangiku. Wanita yang akan menjadi pengantin dua minggu lagi itu tampak masih sangat tidak setuju dengan keputusan Rukia menerima Ichigo.
"Cinta itu seperti dongeng, Rangiku-san." Rukia mengulangi apa yang pernah Ichigo katakan padanya. "Tidak nyata tetapi ada. Cinta itu tidak dapat dilihat dengan pandangan sekilas, tetapi jika kau mengamati dengan jeli kau akan bisa melihatnya. Dan aku sudah mengamati, Rangiku-san. Itulah yang membuatku melunturkan ketidakpercayaanku." Ia menutup kalimatnya dengan senyuman.
Rangiku menggeleng pelan, masih tak bisa percaya. "Kau tak tahu bagaimana dia di masa lalu. Ichigo yang kukenal tidak bisa berkomitmen."
Anggukan diiringi sebuah senyuman Rukia berikan. Ia mengerti bahwa seniornya itu hanya mengkhawatirkan dirinya. "Jika Ichigo bisa menerima masa laluku, mengapa aku tidak?" ujarnya diplomatis.
Rangiku terdiam. Tak ada lagi sanggahan yang bisa ia berikan.
"Dan seperti katamu, aku harus menerima pria yang membuat jantungku berdebar kencang hanya dengan sebuah senyuman. Jadi aku benar-benar tidak punya alasan untuk menolak, sebab Ichigo membuatku merasa istimewa." Rukia mengambil setumpuk brosur dan meninggalkan meja, mengakhiri perdebatan dengan Rangiku.
Rangiku merenung sesaat sembari memandangi Rukia yang tengah berbicara dengan beberapa ibu muda. "Aku merasa jadi orang jahat," ujarnya. Ia memandang Nanao meminta pendapat.
"Kau bermaksud baik, dan kurasa Rukia tahu itu," tanggap Nanao sembari membenahi letak kacamatanya dengan tangan kiri. "Saranku, satu kata maaf akan membuat semuanya lebih baik." Ia meraih tumpukan brosur lain dan ikut berbaur dengan para ibu.
...
Sekitar dua jam kemudian Rukia dan Nanao dibantu Ichigo dan seorang staf kebersihan merapikan tempat acara.
"Mereka tidak menyisakan sup ayam dan risolesnya sama sekali," ujar Ichigo saat memandang mangkuk besar dan nampan yang kosong.
"Kenapa memangnya?" tanya Rukia bingung.
Ichigo hanya mengedikkan bahu. "Aku hanya ingin mencicipinya karena masakan Syazel tadi kelihatannya enak," ujar Ichigo sembari memungut lembaran brosur dari lantai.
"Bagaimana kalau kubuatkan untukmu?" Rukia menawarkan. "Mungkin tidak akan seenak masakan koki profesional tapi—"
"Pasti sangat enak," potong Ichigo. "Apalagi kalau ditambah banyak jamur dan seledrinya dihilangkan."
Sebelah alis Rukia terangkat. "Apa salahnya dengan seledri? Baunya harum."
"Aku tidak suka, jangan masukkan yang satu itu," Ichigo menjawab cepat.
Tawa renyah terdengar dari mulut Rukia. "Kau seperti anak kecil," ujarnya.
"Aku tidak akan makan kalau kau masukan seledri dalam supnya."
"Eh? Tapi Nao suka seledri, siapa yang harus kupilih?" Wanita berambut hitam itu menelengkan kepala, tampak berpikir keras.
"Bagi saja jadi dua," Ichigo menyarankan, "Setengah dengan seledri, setengahnya tidak."
"Itu merepotkan." Rukia menggeleng protes.
"Kau harus mengalah, Rukia. Kau ingin kami berdua bahagia kan?" Ichigo memperlihatkan raut memelas.
Rukia terkikik. "Baiklah, untuk kali ini aku mengalah tapi lain kali kau tidak boleh pilih-pilih makan, dr. Kurosaki. Kau wajib memakan semua makanan yang kusajikan," ujarnya setengah mengancam.
"Bolehkah aku memikirkannya dulu? Itu pengorbanan yang besar, Rukia."
Rukia melipat tangannya di depan dada. "Tentu saja perlu pengorbanan jika ingin bersamaku, dr. Kurosaki. Kau harus banyak mengalah, dan menerima jika aku tidak sempurna."
Ichigo meraih tangan Rukia, menggenggam erat jemari wanita itu. "Bagi orang lain mungkin kau memiliki begitu banyak kekurangan, tapi bagiku kau sempurna. Kau hadir untuk melengkapi hidupku."
Rukia tersenyum malu dengan wajah dihiasi rona merah muda. "Tidak heran dulu banyak wanita yang takluk padamu."
"Dulu memang begitu, tapi sekarang hanya satu wanita yang ingin kutaklukan." Ichigo tersenyum menggoda. Jantung Rukia berdentam hebat. Efek senyuman itu masih sama seperti sebelum-sebelumnya, membuat jantungnya mengentak cepat.
Di belakang mereka seseorang berdeham. "Pantas saja pekerjaan membersihkan ruangan ini berjalan lambat, kalian asyik pacaran." Rangiku melangkah mendekati mereka.
Ichigo mengalihkan tatapannya dari Rukia, tetapi tidak melepaskan genggaman tangannya. "Kau merusak moment romantis kami."
"Ini klinik, buka tempat romantis-romantisan, kalau mau pacaran pulang sana," sahut Rangiku sambil berkacak pinggang.
"Kau hanya iri," Ichigo membalas. "Ya kan, Rukia?" Ia menoleh pada kekasihnya mencari persetujuan.
"Kurasa..." ujar Rukia lambat-lambat, "kita harus kembali bekerja." Ia tersenyum jahil dan melepaskan tangannya dari genggaman Ichigo.
"Hey!" Ichigo mencoba protes. Protesnya seketika berubah menjadi senyuman saat mendengar bisikan Rukia di telinganya. "Sampai jumpa nanti malam." Wanita itu kemudian berlalu dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Rangiku memandangnya dengan galak. "Kalau kau menyakitinya, kau akan merasakan tinjuku," ancam wanita itu sebelum berlalu menghampiri Rukia.
"Menyakiti Rukia?" Ichigo menggumam sembari memandangi Rukia yang tengah memasukkan sisa-sisa brosur ke dalam kardus. "Bahkan memikirkannya saja aku tak sanggup."
...
"Rukia!"
Rangiku menghentikan langkah Rukia sebelum wanita itu memasuki ruangannya. Ia melangkah cepat menghampiri wanita yang lebih muda darinya itu.
"Ada masalah, Rangiku-san?" Rukia bertanya setelah beberapa detik Rangiku hanya diam memandanginya.
"Ah, maaf. Aku ... aku ingin minta maaf padamu untuk apa yang kukatakan tadi," ujar Rangiku. "Aku tidak seharusnya bersikap seperti itu."
Rukia tersenyum. "Tak apa, Rangiku-san. Aku mengerti mengapa kau bersikap seperti itu, kau hanya khawatir kepadaku."
"Ya, aku melakukannya karena aku menyayangimu, tetapi ternyata tindakanku berlebihan. Aku terlalu menghakimi." Rangiku mengakui.
"Terima kasih sudah peduli padaku," ujar Rukia.
Rangiku tersenyum. "Kau wanita yang baik, Rukia. Mungkin tidak mustahil jika akhirnya Ichigo benar-benar bertobat, dan hanya mencintai satu wanita."
Senyum simpul menghias wajah Rukia. "Dia bukannya tak tertolong, Rangiku-san. Mungkin selama ini dia hanya mencari orang yang tepat."
"Kuharap kaulah orang yang tepat itu, Rukia," ujar Rangiku. Wanita itu kemudian undur diri dan kembali ke pekerjaannya.
"Semoga saja," Rukia mengaminkan sembari masuk ke ruangannya.
...
Sabtu pagi setelah menitipkan Nao kepada Isshin dan Masaki, Ichigo dan Rukia berangkat ke Huceo. Perjalanan dua jam itu berjalan lancar dan cepat. Pukul delapan kurang lima belas menit mereka tiba di Healthy Hospital.
"Aku tidak bisa membayangkan bekerja di tempat sebesar ini," ujar Rukia saat mobil yang ia tumpangi melewati bagian depan rumah sakit menuju tempat parkir di basement.
"Rasanya tak jauh beda seperti di klinik menurutku," ujar Ichigo sembari membelokkan mobil memasuki lorong yang menuju tempat parkir. "Tapi tekanannya memang lebih besar, apalagi kalau bekerja di bagian IGD atau operasi." Ia memarkirkan mobilnya di dekat pilar bertulisan H-1, tepat di sebelah sebuah Mercedes hitam.
Ichigo mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Ia melirik jam tangannya. "Konferensi dimulai pukul sembilan, jadi kita masih punya waktu kurang lebih satu jam untuk melihat-lihat. Aku akan mengajakmu berkeliling."
"Memangnya boleh?" Rukia melepas sabuk pengaman dan meraih tas tangan.
"Siapa yang melarang?" sahut Ichigo. "Dan aku akan memperkenalkanmu dengan dokter yang merawat Hikari, dia teman baikku." Ia menambahkan lalu turun dari mobil.
Rukia mengikuti gerak Ichigo, membuka pintu dan turun dari mobil.
Mereka melangkah bersama menuju lift sambil mengobrol ringan mengenai rumah sakit yang mereka kunjungi. Mereka naik ke lantai dasar dengan lift, mendaftarkan diri di bagian registrasi, dan kemudian melangkah menuju aula tempat konferensi diadakan. Rukia sempat mendengar dua wanita muda yang duduk di belakang meja registrasi berbisik mengenai Ichigo. Mereka mengenalinya tetapi tidak cukup akrab sehingga tidak berani mengajak pria itu mengobrol.
"Aku punya firasat kita akan sering berhenti," ujar Rukia sembari menjajari langkah Ichigo.
"Tidak semua orang berniat mencegatku, aku tidak sebegitu menariknya," sahut Ichigo. Ia membimbing Rukia menuju bagian depan rumah sakit, ke ruangan besar yang merupakan unit gawat darurat. "Aku ingin mengunjungi beberapa teman, kuharap kau tidak keberatan."
Rukia mengangguk dan menghentikan langkahnya. "Aku bisa menunggu—"
Ichigo meraih tangan Rukia dan menariknya. "Kau ikut denganku."
Mereka disambut hangat saat memasuki unit gawat darurat yang saat itu memang tidak terlalu sibuk, hanya ada satu-dua pasien di sana. Tampak terlihat bahwa Ichigo memang disukai banyak orang. Para dokter dan perawat IGD menyapa pria itu dengan ramah, mengobrol dengannya, bahkan bercanda. Dan saat orang-orang mulai bertanya tentang Rukia, Ichigo dengan lantang memperkenalkan Rukia sebagai kekasihnya.
"Pacar barumu?" seorang dokter bernama Kisaragi bertanya.
Ichigo menggeleng, lalu menjawab, "Bukan."
Rukia menengadah, menatap bingung pada Ichigo. Pria itu hanya menjawab kebingungannya dengan sebuah senyuman, lalu dengan santai merangkul pinggangnya. "Dia calon istriku."
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi, semua mata menatap mereka tak berkedip. Rukia pun menatap pria itu dengan mata membelalak, tanpa kata meminta penjelasan dari pria itu. Tetapi tak ada kata yang keluar dari mulut Ichigo, pria itu hanya tersenyum padanya.
"Kenapa kalian tampak begitu terkejut mendengar aku akan menikah?" ujarnya geli. "Apa aku keliatan seperti orang yang tidak mungkin menikah."
"Yah, bagi kami berita ini memang cukup mengejutkan, Sobat." Dokter Kisaragi menepuk bahu Ichigo dan mengulurkan tangan. "Kurasa aku harus mengucapkan selamat," ujarnya, "dan jangan lupa mengirimiku undangan pernikahan. Akan kuusahakan untuk datang."
"Terima kasih." Ichigo menyambut uluran tangan itu. "Akan kukirimkan kalau kami sudah menentukan tanggalnya." Ia melirik sekilas pada Rukia, dan wanita itu memelototinya.
"Selamat juga untukmu, Nona," ucap Kisaragi pada Rukia. "Namun sayangnya Kurosaki begitu pelit sampai tidak mau memberitahuku namamu."
Rukia mengulum senyum. "Rukia Kuchiki." Ia menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangan.
Kisaragi langsung menyambut uluran tangan itu. "Nama yang cantik, aku Iori Kisaragi. Senang berkenalan denganmu." Pria itu berambut cokelat itu berlama-lama memandangi Rukia tanpa melepaskan jabat tangan mereka.
"Yang ini punyaku, Kisaragi. Kau harus cari yang lain," ujar Ichigo seraya melepas tangan Kisaragi dari Rukia dan menarik kekasihnya merapat ke tubuhnya.
"Nah, aku baru tahu kalau kau ternyata cemburuan, Kurosaki." Dokter muda itu mengerling pada Rukia. "Kau harus mengikatnya kuat-kuat, Kuchiki, yang satu ini pemikat wanita."
Ichigo menjitak kepala juniornya itu. "Jangan dengarkan dia," ujarnya pada Rukia.
"Jangan khawatir, aku sudah sering mendengar hal sama dari orang lain," sahut Rukia cuek.
"Lalu apa kau percaya?" tanya Kisaragi menyelidik.
Rukia menoleh pada Ichigo, tatapannya bertahan cukup lama di wajah kekasihnya itu. "Dia memang pemikat wanita, itu tidak diragukan lagi," ujarnya mengakui. Mulut Ichigo sudah terbuka untuk membantah, namun urung ketika mendengar lanjutan dari Rukia. "Tapi sayangnya dia hanya terpikat padaku."
Ichigo menyeringai. "Aku tidak akan membantah," ujarnya sembari mendaratkan kecupan singkat di pipi Rukia.
"Kalian membuat ruangan ini jadi panas, dr. Kurosaki." Seorang perawat wanita mendekat dan menyalami Ichigo, mengucapkan selamat pada pria itu juga Rukia. Setelah itu perawat dan dokter lainnya juga ikut memberikan ucapan selamat. Sebenarnya Rukia ingin mengklarifikasi kabar pernikahan itu, tetapi ia tidak tega mempermalukan Ichigo di hadapan orang banyak. Jadi ia diam saja dan menunggu hingga mereka tinggal berdua untuk menanyakan tentang hal itu.
Tak lama kemudian mereka berpamitan, dan Ichigo menarik Rukia ke ruangan lain yang berada di bangunan sayap rumah sakit.
"Kita akan ke bangsal anak, menemui temanku Ishida," ujar Ichigo di perjalanan. "Dia dokter yang merawat Hikari, kau ingin bertemu dengannya, kan?"
Karena tak mendapat respon dari Rukia, Ichigo menghentikan langkahnya dan menatap Rukia. "Apa ada yang salah?" Ia bertanya setelah melihat raut wajah Rukia yang tak seperti biasanya.
Mata violet Rukia menyipit ke arahnya. "Rasanya aku tak pernah mendengar darimu tentang pernikahan."
Untuk sesaat sulung Kurosaki itu terdiam, sadar jika ia sudah melakukan kesalahan. "Kita memang tidak pernah membahas hal itu, tetapi aku memang berencana untuk melamarmu," ujarnya berusaha menjelaskan.
"Kenapa kau memproklamirkannya jika masih berencana?"
Ichigo mengernyit, bingung dengan respon negatif Rukia terhadap rencana masa depan mereka. "Apa aku melakukan kesalahan?" Ia bertanya.
"Kau tidak merasa melakukannya?" Rukia balik bertanya.
"Aku—"
"Rukia!"
Sebuah suara memotong ucapan Ichigo. Mereka berdua menoleh ke arah suara. Ichigo mengeryit sebab tak mengenali pria berambut merah yang berdiri tak jauh dari merekan, sementara wajah Rukia seketika memucat, jelas mengenali pria itu.
"R-Renji..." Dengan bibir bergetar Rukia menyebutkan nama mantan suaminya.
Mata Ichigo beralih ke Rukia. "Dia mantan suamimu?" tanyanya.
Perlahan tatapan Rukia kembali ke Ichigo. Ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ichigo.
"Bagaimana bisa dia ada di sini?"
"Aku menghadiri konferensi, kurasa kalian juga." Renji yang menjawab pertanyaan Ichigo sembari melangkah mendekati mereka.
"Aku terkejut melihatmu di sini, Rukia," ujar Renji setelah sampai di sisi Rukia.
Rukia mengangkat matanya, menatap Renji. "Aku juga," jawabnya dengan nada dingin.
Renji tampak terkejut dengan sikap tak bersahabat yang ditunjukkan Rukia. "Kurasa kau masih sakit hati padaku."
"Mengingat apa yang sudah kaulakukan padanya, Rukia pantas merasa seperti itu."
Tatapan Renji langsung beralih ke Ichigo, memandang pria jingga itu dengan penuh penilaian sebelum akhirnya bertanya, "Dan apa yang kau tahu tentang itu?"
"Bisa dibilang aku tahu segalanya." Ichigo menjawab dengan sikap menantang.
"O ya?" Renji tersenyum sinis, lalu beralih ke Rukia. "Siapa dia? Pacar barumu?"
"Itu bukan urusanmu."
"Aku calon suaminya."
Rukia dan Ichigo menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Calon suami, heh?" ujar Renji meremehkan. "Sepertinya Rukia tidak menganggapmu begitu. Mungkin kau sedang berkhayal, Bung."
Jemari Ichigo terkepal di kedua sisi tubuhnya, siap melayangkan satu bogem mentah ke wajah angkuh pria di hadapannya. Namun kemunculan wanita membuatnya urung melakukan hal itu.
"Rupanya kau di sini, aku mencarimu dari tadi." Seorang wanita cantik berambut hitam sepanjang punggung menghampiri mereka—menghampiri Renji tepatnya. "Kita harus segera masuk, konferensinya hampir dimulai," ujarnya seraya menggandeng Renji.
"Maaf, Tatsuki." Renji tersenyum pada wanita itu. "Aku bertemu teman lama," ujarnya beralasan.
Teman lama? Rukia ingin tertawa mendengar sebutan Renji untuknya. Ternyata pria itu benar-benar hanya menganggap dirinya dan Nao bagian masa lalu tak berharga dan tak patut diingat. Tangannya mengepal menahan amarah yang menggelegak dalam dirinya. Ingin sekali ia memberi balasan tajam pada Renji, dan ia memang melakukannya.
"Mantan istri lebih tepatnya." Rukia menyahut dengan sinis. "Kenapa malu mengakuiku, Renji?"
Mata cokelat Renji mengarah pada Rukia. "Kita sudah berakhir, Rukia. Tak usah membahasnya lagi."
"Tentu saja kau tak mau membahasnya, bahkan kurasa kau ingin melupakannya," sahut Rukia tak gentar. "Tak masalah jika kau hanya melupakanku, tetapi Nao. Tindakanmu yang mengabaikan anakmu sendiri tidak bisa dimaafkan." Ia menutup kalimatnya dengan tajam.
Renji melepaskan tangan Tatsuki dari lengannya, melangkah hingga hanya berjarak selangkah dengan Rukia. "Kita sudah membicarakannya, bukan? Mengapa sekarang mengungkitnya lagi? Apa kau pikir dengan begini aku akan kembali padamu?"
Rukia memalingkan muka, tawa menyembur dari mulutnya. Ia melangkah maju, dan kini berada tepat di depan Renji. "Sayang sekali pikiranmu salah, aku sama sekali tak punya niat untuk kembali padamu. Aku hanya ingin menyadarkanmu bahwa kau sudah melupakan tanggung jawabmu terhadap Nao." Setelah mengatakan itu ia berbalik dan berbicara pada Ichigo, "Konferensinya hampir dimulai dr. Kurosaki, kita harus segera masuk." Kemudian tanpa menunggu ia melangkah menjauh.
Rukia terus melangkah menjauh, berusaha meredakan amarahnya dengan setiap hentak kaki yang ia pijakkan. Renji... Mengapa ia harus bertemu mantan suaminya itu sekarang? Kehidupannya baru saja mulai membaik dan...
"Rukia."
Suara Ichigo membuat langkah Rukia terhenti, namun ia tak menoleh hanya menunggu hingga Ichigo berada di sampingnya.
"Ruang konferensinya di sebelah sana," ujar Ichigo sambil menunjuk arah yang berbeda. Tanpa menjawab Rukia memutar arah dan berjalan ke arah yang ditunjuk Ichigo.
"Rukia."
Sekali lagi Ichigo membuat langkah Rukia terhenti, kali ini dengan menahan lengannya.
"Apa?!" Dengan gusar Rukia mencoba melepaskan diri.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik," sahut Rukia cepat tanpa memandang mata Ichigo.
"Jangan bohong, aku tahu kau tidak baik-baik saja."
Rukia memandang Ichigo, lalu menggeleng pelan. "Aku akan baik-baik saja," jawabnya dengan enggan.
Ichigo tak memercayai ucapannya, dan ia belum mau melepaskan tangan Rukia. "Kau sama sekali tidak terlihat baik-baik saja, Rukia."
"Kita harus masuk, Ichigo. Konferensinya..." Rukia berusaha mengalihkan pembicaraan. Tetapi Ichigo bergeming. "Aku akan baik-baik saja, beri aku waktu, bisa kan?" pinta Rukia dengan memelas.
Akhirnya Ichigo mengalah, dilepaskannya tangan Rukia. "Baiklah. Kita akan bicarakan ini nanti."
"Tak ada—" Rukia berusaha menyela, namun Ichigo dengan segera memotong kata-katanya dengan tegas. "Kita akan bicara nanti."
...
Bersambung...
...
Review's review:
Darries
Makasih dah RnR, Darries. Semoga terhibur dengan isi fic ini.
Rukia sudah ambil keputusan kok, dia milih buat nerima Ichigo tapi ... selalu ada sedikit hambatan untuk mereka bisa bersama.
Damai
Makasih dah RnR ya, Damai. *bahkan sampai 2x*
Saya baik-baik saja kok, sehat. Tapi ya itu kerjaan yang mulai padat bikin saya harus nyuri waktu buat ngetik.
Terima kasih sudah jadi penggemar saya. *bighug*
Amin... Saya lagi berusaha mengatur jadwal biar kerjaan dan hobi nulis bisa berjalan beriringan tanpa saling menabrak satu dan lainnya.
Sekali lagi makasih sudah memberi saya semangat. C U!
Chrisanne Sakura
Hola, Dek. Makasih sudah mampir dan baca, bahkan dan review. *peyuk~*
Tapi di chap ini Nao nggak ada ya, jangan dicariin. Wkwkwk...
Rasanya emang makin kompleks, saya aja sampai bingung mau ngetik apa, bikin lanjutan yang gimana. *meski plottingnya udah ada*
Hoi, papah Ichigo sewot ntar kalo anaknya kamu ganggu.
Pikiranmu kejauhan, lamar-melamarnya ntar di chap 13 atau 14 yah. Hehe...
Nih dah update, nggak bikin kamu merinding atau nangis kan? Tapi saya nggak janji buat chap depan ya. *evilsmirk*
C U, Dek. *-*
Kurosaki2241
Hola, makasih dah RnR lagi ya~
Iya tuh, Ichigo saking bahagianya sampai keceplosan. Hehehe...
Yup. Tantangan buat IchiRuki untuk membuktikan perasaan masing-masing.
Makasih semangatnya.
Loly Jun
Makasih dah RnR ya, Loly.
Cie... yang lagi bahagia, entah chap ini bikin kamu bahagia atau nggak. Hehe...
Udah lanjut nih. C U next chap, Nekko. *-*
...
Chap 12 up, minna-san! Saya nggak nyangka bisa update di pertengahan minggu, sebab rencana awalnya chap ini mau saya ketik akhir minggu nanti, tapi si ilham tiba-tiba muncul dan akhirnya chap ini selesai lebih cepat. Yokatta!
Seperti yang saya bilang di chap sebelumnya bahwa chap ini ada konfliknya (masih bagian awal) dan bang Renji dimunculin. Untuk penggemar Renji saya minta maaf membuat Si Nanas menyebalkan di sini, sebenarnya saya juga enggan melakukannya tapi demi plotting terpaksa deh bang Renji jadi sedikit jahat.
Akhir kata, terima kasih untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktu membaca, mereview, nge-fav dan nge-follow fanfik ini, semoga kalian terhibur setelah bacanya.
See ya,
Ann *-*
