My Wishes

Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.

Main Cast : Luhan, Sehun, JongIn and Kyungsoo

Rated : T

Chapter : 12/21?

Sehun dan Luhan baru saja pulang dari taman, Luhan sedang berlayut manja pada tangan Sehun. Mereka sedang berjalan menuju motor Sehun yang diparkirkan di bawah pohon. Tapi saat mereka sampai didepan motor Luhan langsung mengerucutkan bibirnya.

"wae?" tanya Sehun.

"Apa kita harus pulang sekarang?" Tanya Luhan dengan raut wajah yang sedih. Hey… ayolah, Sehun tak mungkin melihat wajah sedih Luhan seperti ini.

"Kau ingin tetap berada disini?" Tanya Sehun. Luhan mendongak dengam tanya yang membulat.

"Bolehkah?" tanya Luhan. Sehun terlihat berpikir sejenak. Dia melepaskan jaket kulitnya dan menggantungkannya pada bahu Luhan yang tereskpose karena pakaian yang digunakannya.

"Tidak hari ini ne? ini sudah malam, aku tidak mau kau masuk angin saat kita pulang dari sini." Luhan kembali mengerucutkan bibirnya dan menarik ujung baju Sehun.

"Sebentar lagi saja… jebal… ini masih jam 7 malam." Rengek Luhan. Sehun menggeleng pelan dan memegang pundak Luhan.

"Tidak hari ini baby~ ini sudah malam." bujuk Sehun. Luhan mendesah kecewa. "Tapi tenang saja aku akan kembali membawamu kesini." Ucap Sehun.

"Jeongmal?" Tanya Luhan meloncat kegirangan.

"Ne, sekarang kita pulang ya?" Luhan mengangguk manis. Tapi tak sengaja sebuah suara dari perut Sehun terdengar.

"Oh… jangan katakan kalau kau belum makan?" Tanya Luhan spontan saat mendengar suara cacing dari perut Sehun. Sang pria hanya menyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Kanjja, kita ke apartemenmu, akan aku buatkan makanan." Ucap Luhan menarik Sehun agar menaiki motornya.

"Eh? Apa maidmu tidak akan khawatir?" tanya Sehun.

"Tidak, aku sudah memberi tau mereka kalau hari ini aku tak akan pulang." Jawab Luhan sambil memakai helmnya. Dia tak sadar kalau Sehun menyunggingkan senyuman evilnya.

"Tidak akan pulang?"

"Ne, aku pikir hari ini kita akan merayakan hari dimana pasangan KaiDo itu kembali bersama, tapi sepertinya dugaanku salah." Ungkap Luhan.

Mereka sudah sampai diapartemen Sehun. Sang pria membuka pintunya dan menatap Luhan yang mengikuti dibelakangnya.

"Ladies first?" Luhanpun mendahului Sehun masuk kedalam apartemen itu. Dia menghirup parfum Sehun yang merebak diseluruh apartemennya. Sungguh Luhan sangat menyukai apartemen ini, walaupun tidak sebesar rumah mliknya tapi apartemen ini sangat – sangat nyaman.

Tak sengaja mata Luhan menangkap sebuah vas bunga yang diisi dengan bunga layu. Dia melihat kearah keranjangnya dan langsung mengganti bunga layu itu dengan bunga segar yang baru saja dipetiknya. Luhan merangkai bunga – bunga itu kedalam vas. Luhan memekik kecil saat hasil rangkaian bunganya sangat cantik. Beberapa warna dan bentuk bunga berbaur menjadi satu disana. Tapi tiba – tiba saja tubuh Luhan membeku saat seseorang memeluknya dari belakang.

"Apa kau terlalu senang dengan bunga itu sehingga melupakanku?" tanya Sehun sambil menaruh kepalanya dibahu Luhan.

"eh?" Luhan kaget saat dia sadar kalau dia memang melupakan Sehun.

"Aku lupa kalau kau lapar, baiklah aku akan membuatmu makanan." Ucap Luhan melepaskan pelan pelukan Sehun.

"Tidak, aku hanya bercanda." Ucap Sehun kembali memeluk Luhan. "Jika kau masih asik teruskan saja, aku masih bisa menunggu." Ucap Sehun kembali menaruh kepalanya di pundak Luhan.

"A-aku…" Sehun menggeleng sambil memeluk Luhan.

"Stt… lanjutkan saja, aku bisa menunggumu." Bisik Sehun. Luhan mendesah napas panjang dan melanjutkan kegiatannya lagi. Dia kembali menambahkan beberapa bunga lagi disanana menambah cantik tatanan vas bunga itu.

"Kau memang berbakat untuk merangkai bunga." Ungkap Sehun.

"Aku belajar semua ini dari umma saat kami masih tinggal di china." Jawab Luhan dengan bangganya. Kemudian wanita itu berbalik membuat Sehun melepaskan pelukannya.

"Aku sudah selesai, apa kau masih ingin makan?" Tanya Luhan.

"Tentu saja, aku sudah tak sabar ingin kembali mencicipi makanan buatanmu." Jawab Sehun antusias.

Luhan kembali ingat kalau sudah lama dia tidak memasakan makanan untuk Sehun.

"Baiklah, hari ini aku akan membuatkan makanan special untukmu." Ucap Luhan sambil berlari kecil menuju dapur. Dia membuka lemari es dan menemukan beberapa bahan makanan sudah dipakai.

"Sehun, kau memasak?" tanya Luhan masih menundukan tubuhnya, mencari beberapa bahan makanan yang dia perlukan.

"Tentu saja, untuk apa kau membeli bahan makanan dan menaruhnya disana kalau tidak aku pakai." Jawab Sehun.

"Bukan begitu maksudku, aku pikir kau tidak bisa memasak."

"Aku bisa memasak, hanya saja kadang masakanku terasa sangat aneh." Jawab Sehun sambil menggelengkan kepalanya, saat dia ingat bagaimana rasa masakannya yang terlalu asin.

"Kalau begitu aku akan selalu membuatkannya untukmu." Ucap Luhan sambil membawa bahan – bahan makanan yang sudah didapatkannya dari kulkas.

"Baguslah, karena perutku sepertinya hanya menyukai masakanmu." Jawab Sehun sambil berjalan mendekati Luhan yang sedang sibuk memotong sayuran.

"Ada yang bisa aku bantu?"

"Em? Tidak usah, kau duduk saja, nanti kalau sudah selesai aku akan memanggilmu."

"Baiklah." Ucap Sehun langsung melenggang dan keluar dari dapur. Luhan menggelengkan kepalanya pelan dan kembali bekerja.

"Sehun…" panggil Luhan setelah selesai menata semua makanan di atas meja. Tapi sang pria tak kunjung datang. Luhanpun berdecak kesal dan melepaskan celemeknya, dia mencari Sehun keseluruh penjuru apartemen, tapi sayang wanita itu tak menemukan Sehun. Kemana sebenarnya pria satu itu.

Tiba – tiba suara pintu terdengar, Luhan mendongak dan menemukan Sehun baru saja masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal.

"Darimana saja?" tanya Luhan sambil mengerucutkan bibirnya. "Kau tau? Aku sudah mencarimu kemana-mana." Protes Luhan.

"Mianhae, aku baru saja membeli piama tidur untukmu, aku tidak mau melihatmu memakai bajuku lagi." Ungkap Sehun sambil menyodorkan sebuah paperbag yang berisi beberapa piama untuk Luhan didalamnya.

"Gomawo." Jawab Luhan. "kalau begitu ayo kita makan, aku sudah membuatkan makanan untukmu."

"NE! KANJJA." Teriak Sehun antusias dan menarik Luhan menuju meja makan.

"Woaaa… sepertinya semua makanan ini sangat enak." Ujar Sehun sambil duduk disalah satu kursi. Luhan hanya terkekeh pelan dan menuangkan beberapa makanan pada piring Sehun. Dengan sigap pria itu segera memakan semua makanan yang ada dipiringnya.

"Sehun… makannya pelan – pelan kalau tidak kau…"

"Uhukkk…"

"…tersedak." Lanjut Luhan sambil menyodorkan segelas air pada Sehun.

"Goma… uhuk… wo… uhuk…" Luhan hanya mengangguk dan membantu Sehun untuk meminum airnya.

"Sudah kubilang juga apa." Ucap Luhan saat Sehun berhenti terbatuk.

"Hehe… ini karena aku sangat merindukan masakanmu. Ehmm, sudah berapa lama lidahku tidak merasakan masakanmu?" tanya Sehun sambil kembali menyantap makanannya.

"Mungkin sudah lama, mianhae, aku terlalu sibuk mengurusi Kai dan Dyo jadi aku melupakanmu."
"Stt… sudah kubilang jangan memikirkannya, aku mengerti akan hal itu, aku tau mencintai mereka dan ingin membantu mereka untuk kembali bersama. Aku justru bangga padamu yang bisa membuat mereka kembali." Sela Sehun. Entah kenapa dimata Luhan kini Sehun terasa sangat dewasa membuatnya semakin jatuh kendalam jerat dan pesona seoranh Oh Sehun.

"Aku sangat beruntung mendapatkan pria sepertimu." Ucap Luhan spontan.

"Seharusnya aku yang bilang seperti itu, aku jauh lebih beruntung mendapatkan wanita sepertimu." Ucap Sehun sambil mengelus tangan Luhan yang ada diatas meja.

Sedangkan ditempat dan jam yang lain, Kai dan Dyo baru saja menyelesaikan pelajaran terakhir mereka. Dengan senangnya Kai menggandeng tangan Dyo keluar dari kelas, beberapa orang menatap mereka dengan pandangan tak suka, mungkin sebagian dari orang – orang itu mengharapkan kalau mereka tak kembali bersama. Kai membawa Dyo menuju tempat parkir. Kai membukakan pintu untuk Dyo kemudian dia ikut masuk.

Kai memekik kegirangan saat dia masuk kedalam mobil, entah kenapa Kai merasa sangat senang saat dia bisa melihat Dyo berada dimobilnya.

"Kau baik – baik saja Kai?" Tanya Dyo saat melihat tingkal laku kekasih yang agak aneh.

"Tentu saja, aku baik dan sangat baik. Kau tau? Aku terlalu senang saat bisa melihatmu duduk disampingku. Ah… sudah lama sekali kita tidak pergi berdua." Ucap Kai sambil menatap Dyo yang tersenyum kearahnya. Kai membungkukan badannya kearah Dyo yang hanya bisa membeku dan membulatkan matanya. Ternyata tangan Kai terulur untuk memasangkan slipbelt pada Dyo.

"Kai-ah." Gumam Dyo yang dibalas dengan senyuman manis Kai.

"Kita pulang ne?" Dyopun mengangguk dengan sebuah senyuman yang terukir manis dibibirnya.

Akhirnya… dan akhirnya… kau bisa kembali tersenyum manis seperti dulu padaku. Ujar Kai dalam benaknya.

Kaipun menancap gasnnya keluar dari sekolah mereka yang besar itu. Diperjalanan Dyo bersenandung kecil sambil menatap keluar jendela. Entah kenapa rasa senang kini tengah menyinggahi hatinya. Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah mini market yang berjarak beberapa meter didepannya.

"Kai, bisa berhenti didepan?" Tanya Dyo menganggetkan Kai.

"Wae?"

"Berhenti saja di depan mini market itu." Kaipun mengangguk dan memutar kemudinya kearah mini market. Dyo melepas slipbeltnya dan menyambar tas.

"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."

"Apa aku perlu menemanimu?" Tanya Kai.

"Tidak usah, aku tak akan lama." Kaipun mengangguk pelan, sedangkan Dyo langsung membuka pintu dan berlari kecil menuju mini market itu. Kai menunggu dengan tidak sabar, dia menggetuk – ngetukan jarinya di kemudi mobil sambil melihat kedalam mini market. Tak lama kemudian matanya menangkap seorang wanita manis keluar dari mini market itu dengan wajah yang ditundukan dan rambut yang menutupu wajahnya.

"Ah… aku juga membeli snack, kau mau?" Tanya Dyo sambil menyodorkan sebuah snack pada Kai.

"Suapi aku chagi~ aku sedang menyetir." Jawab Kai manja. Dyopun terkikik pelan dan menyuapi Kai.

Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Dyo. Kai membukakan pintu untuk Dyo dan menggandeng sang wanita masuk kedalam rumahnya. Semua maid menyambut kedatangan mereka dengan mata yang membelalak kaget.

"Saya kira nyonya pulang bersama Jonghyun-sii." Ucap Sang maih membuat Kai mendongak kearahnya.

"Tidak, sekarang Dyo akan selalu pulang denganku." Ucap Kai menegaskan. Sang maid hanya mengangguk dan langsung melesat kembali kebelakang karena takut dengan tatapan Kai.

"Kai, seharunya kau tak berkata seperti itu."

"Kenapa? Aku hanya ingin menegaskan kalau kau hanya milikku." Ucap Kai sambil mendudukan dirinya di sofa panjang.

"Egois."

"hey… aku akan menjadi orang yang paling egois jika menyangkut dirimu." Dyo hanya memutarkan matanya dan segera menuju dapur untuk membuat pasta. Kai yang merasa bosan hanya duduk – duduk sajapun menyusul Dyo menuju dapur. Sang wanita tengah asik membuat pasta, sama sekali tak menyadari kalau Kai menghampirinya. Sedangkan sang pria mengedap – endap mendekati Dyo dan kemudian langsung memeluk Dyo dari belakang membuat sang wanita terkesiap kaget.

"Masih lama kah?" tanya Kai sambil menaruh kepalanya di bahu Dyo.

"Oh tuhan, Kai… kau mengaggetkanku." Ucap Dyo sambil menggerakan tubuhnya mencoba melepaskan pelukan Kai, tapi bukannya melepaskan Kai semakin mengeratkan pelukannya.

"Masih lama ya? Aku sudah lapar chagi~" rengek Kai.

"Tidak, aku sudah selesai. Kanjja." Ucap Dyo. Kaipun melepaskannya dan membantu Dyo membawa piring kemeja makan, beberapa maid yang ada disana hanya memperhatikan mereka berdua yang terlihat kembali mesra. Semua maid yang ada diruang tamu dan ruang makan kembali menuju dapur yang ada dibelakang, mereka tau kalau Dyo dan Kai ada disana itu berarti mereka tidak mau diganggu dan semua maid harus meninggalkan tempat itu kalau tidak mereka akan kena amuk Kai. Jujur saja Kai adalah tipe orang yang tidak suka diganggu acara romantisnya bersama Dyo.

"Ayo kai makan." Ucap Dyo sambil mulai menyuapkan pasta kedalam mulutnya.

"Suapi aku." Pinta Kai. Dyo menatap Kai dengan pasta yang masih menggantung dibibirnya. Kai menatap pasta yang ada dibibir Dyo dengan wajah yang em… nafsu? Mungkin. Dyo yang merasa ada tanda bahaya saat Kai mulai mendekatkan wajahnya langsung menyeruput pasta itu sampai habis ditelahnya.

"Kau mau aku suapi? Kalau begitu Aaa…" Ucap Dyo langsung menyodorkan garpu pada Kai. Sang pria hanya menghela nafas panjang dan memakan pasta itu, sepertinya rencananya kali ini gagal.

"Enak?"

"Semua buatanmu pasti enak chagi~" ucap Kai. Dyo hanya tersenyum dan kembali menyuapkan pasta pada Kai.

.

.

.

~To Be Continued~