Sebelum itu kita HARUS sepakat dari sini, kalau aku akan menggunakan OC, suka tidak suka aku akan menggunakan OC.
Declaimer : Yuuri On Ice Not Mine
Sebagai sesama manusia kita harus saling memaaf-kan, jadi maafkan lah diriku yang suka typo di chapter sebelum, sekarang dan ke-depan. Akan aku perbaiki secepatnya (kalau niat). Maafkan juga atas keterlambattan Update-nya.
Still Yuuri's POV
o0o
Chapter 10
o0o
Promise me, Please…
Saat kami memasukki arena rink, banyak sekali mata yang tertuju pada kami –lebih tepatnya pada Viktor, banyak sekali bisikkan dan pembicaraan mengenai kenapa Viktor ada di sini dan siapa anak laki-laki yang ada di sebelahnya –aku. Semakin banyak pandangan dari para competitor yang jelas mengatakan kalau mereka iri karena melihatku yang berjalan berdampingan dengan Viktor Nikiforov, Juara world junior 3 kali dan pemecah record tertinggi di kelas junior di setiap kompetisi yang dia ikuti. Di dalam hati, di samping dengan rasa nervous, aku juga tersenyum bangga –pada diriku sendiri dan pada Viktor 'Sayang sekali, idola kalian adalah tunangan-ku yang sebenarnya sudah berumur 32 tahun!'
"Yuuri… kamu baru saja menyinggungku kan?" bisikkan Viktor yang terdengar sangat datar di telingaku, membuat aku berpaling kearah lain, melihat kearah bangku penonton.
'Bagaimana dia bisa tau…?!' aku mulai panic sendiri saat merasakan ada tatapan menusuk yang di berikan Viktor "Ti –tidak! Kamu bicara apa Vitya? Aku tidak mengerti apa maksudmu!" aku membuat catatan dengan tinta permanen di dalam pikiranku 'Jangan singgung soal umur dan rambut di depan Viktor'
Gyuuut!
Rasa sakit menjalar dengan sangat cepat di pipiku "Ah! Kamu menyinggungku lagi kan?! Karena Yuuri anak baik, ayo mengaku!" walaupun Viktor tersenyum ceria, tapi aku tidak melihat setitik cahaya keceriaan dari matanya, dan sungguh! Ini membuatku takut!
"Viktoh'! 'akit! He'hikan!" walau tidak benar-benar terasa sakit, tapi aku sedikit merasa malu karena menunjukkan kedekatan kami di depan public. Viktor melepaskan tangannya dari pipiku 'Uuhk… Viktoru no baka!' aku mengusap pipiku dengan kedua tanganku, memberikan tatapan kesal pada Viktor yang kali ini –dalam arti sebenarnya, tersenyum ceria.
"Dengan begini kamu tidak nervous lagi kan?" kalau saja ini ada di dunia doujinshi atau komik, sudah pasti ada efek…
Ba-thumb!
…atau…
Doki!
Di panel dimana aku menatap Viktor dengan pandangan malu dan juga bahagia "Vitya…" aku memberikan cover blade-ku pada Viktor.
"Mn?"
Bersamaan saat aku mengambil langkah pertamaku untuk memasuki rink "I love you" bisikku di telinganya –dengan suara yang sengaja aku buat sedikit nakal dan menggoda.
Viktor memberikan senyum sexy-nya padaku "…I know" mentalku serasa makin di uji saat melihat Viktor menjilat bibirnya sendiri, matanya menatapku dengan tatapan penuh hawa nafsu di dalamnya. Tidak kuat dengan cobaan di depan mataku, aku meluncur menjauh dari Viktor –tidak berani menatapnya.
'Note to self, jangan pernah menggoda Viktor di depan umum, itu hanya akan menggali lubang kuburmu sendiri' aku menarik nafas dalam di putaran ke-2-ku sebagai pemanasan awal untuk terbiasa dengan ukuran dari rink 'Focus, focus Katsuki Yuuri! kau harus focus! Aku tau kau sekarang senang karena ada Viktor di hadapanmu, tapi kau perlu focus!' saat merasakan detak jantung dan suhu tubuhku mulai stabil, aku mengingat kembali step sequence dan pola yang harus aku lalui di program-ku. Mataku melirik Viktor, dia memperhatikanku dengan sangat intens, dengan jari telunjuk yang menekan pelan bibir bawahnya –kebiasaan yang aku simpulkan kalau dia sedang memikirkan sesuatu atau sedang merencanakan sesuatu, dan lagi, dengan wajahnya sangat serius, tidak ada yang berani mendekati Viktor atau sekedar mengajaknya bicara.
'That's right, he is mine' saat melihat ada sisi rink bagian kanan yang sudah mulai kosong, aku mengarah ke-sisi tersebut, sisi di terdekat dengan di mana Viktor berdiri memperhatikanku. Sisi di mana aku bisa menggoda-nya di lebih dekat. Karena hari ini hanya sekedar latihan, aku tidak ingin memperlihatkan seluruh component dari programku, alasannya? Tentu saja untuk membuat Viktor terpukau dan terkejut saat kompetisi benar-benar di mulai besok.
Untuk langkah pertama 'Triple axel!'
Kassh!
Walau tidak melakukan kesalahan, aku mendarat dengan sedikit tidak terlalu mulus karena –mungkin, control dari kecepatanku yang kurang stabil "Yuuri! ototmu masih tegang dan kaku, biarkan mereka rileks dulu sebelum kau melompat" aku tau ini akan terjadi, tapi tidak aku sangka kalau Viktor sudah memberikan pencerahan-nya secepat ini.
"Hai!" jawabku singkat, sekali lagi, aku mencoba triple axel dan mengingat kembali kali ini mendarat dengan mulus dan sempurna. Aku bisa melihat sebuah senyum kepuas-an di wajah Viktor dari sudut mataku, menandakan kalau aku melakukannya dengan perfect.
'Selanjutnya… triple toe loop' kali ini aku menantang diriku untuk mengangkat kedua tanganku dalam jumb ini. Aku bisa merasakan bibirku tersenyum percaya diri dengan landing yang mulus dan sempurna 'Selanjutnya… combination spin' program SP untuk season tahun ini aku buat bersama Minako untuk memaksimalkan keahlianku dalam spin dan step sequence. Selesai dengan spin, aku melatih beberapa bagian step sequence yang ada di SP dan FP-ku, tanpa melakukan quad jump –sesuai permintaan dari Viktor. Lagi pula, biarpun aku memaksa untuk melakukan quad, 100 persen aku pasti akan jatuh.
Figure Skating adalah olah raga yang membutuhkan durability dan otot kaki yang sangat kuat, dan mengingat aku melakukan aktifitas plus pengalaman pertama dengan tubuh berumur 13 tahun, bersama dengan remaja yang berumur 17 tahun –yang jelas ukurannya 2 kali lebih besar dengan milikku, membuat otot pinggul, pinggang dan bagian selangkanganku SANGAT pegal dan nyeri!
"Ok Yuuri! turun dari rink, latihannya cukup sampai situ!" aku memandang Viktor dengan pandangan yang jelas mengatakan kalau aku tidak terima dan tidak mau turun dari es, masih belum ada 30 menit aku melatih programku. Baru aku mau membuka mulutku untuk protes "…Coach order"
Saat melihat ekspresi Viktor yang sekarang, entah kenapa memori di dalam otakku memutar balik moment di Cup of China 'De javu…' dengan –sangat! Malas, aku memanuferkan blade-ku untuk keluar dari rink "Excuse us" ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku pada competitor yang masih ada di atas es, tatapan menusuk dari mereka hanya seperti sentuhan gatal di kulitku 'Tatapan dari mata Yurio lebih tajam dari mereka…' aku menghentikan gerakan jariku untuk melepas sepatu skate-ku 'Yurio… apa yang terjadi dengannya? Lagi pula… aku juga belum tau kenapa Viktor kembali bersamaku… apa yang terjadi?' pertanyaan demi pertanyaan dalam otakku terus membuat cabang yang saling berhubungan '…Kalau aku kembali karena kecelakaan… apa yang membuat Viktor kembali padaku?' rasa penasaranku berganti dengan rasa takut dan cemas, entah sudah berapa lama aku tidak merasakan perasaan ini semenjak aku kembali.
Perasaan pesimis dan negative yang akan selalu menghantuiku.
"Yuuri!" suara Viktor mengagetkanku, aku tidak bisa menatapnya, aku terlalu takut untuk menatapnya. Tanganku kembali melanjutkan aktifitasku untuk melepas sepatu skate dengan sepatu biasa, masih tidak berani menatap iris celurian yang mungkin menatapku bingung.
"…Maaf Viktor… aku tidak mendengarkan" aku menggeret tasku setelah memasukkan sepatu skate-ku kedalamnya. Keheningan terus menyelimuti kami sampai kami keluar stadion "Hya!?" sepasang tangan yang kokoh memelukku dari belakang, bagian depan dari coat coklat yang di kenakan Viktor memeluk tubuh kecilku, membenamku di dalam kehangatan dari pelukkan yang di berikan Viktor "A… eh…?"
"…Care to share?" oh tuhan… nafas dan suaranya begitu panas di telingaku, dia benar-benar tau dengan apa yang membuat hatiku luluh.
Aku menutup mataku, menikmati sentuhan kecil dari bibir Viktor yang mencium rambutku "I will… but not here…" setelah beberapa saat, akhirnya Viktor melepaskan pelukkannya, memasukkan tangan kiriku kedalam kantong luar yang ada di coat yang ia kenakan, tangan kami saling bertautan, membagi kegangatan satu sama lain. Persaan negative-ku mulai hilang dengan perlahan saat ibu jarinya terus mengusap tanganku '…Aku tidak bisa terus lari di depannya…' aku memperhatikan wajah Viktor dari sudut mataku, dia terlihat sangat serius dan jika dugaanku benar, dia tau dengan apa yang membuat sisi negative-ku muncul secara tiba-tiba 'Kamu selalu tau perasaanku Vitya…'
.
Aku di kamar Viktor, meet you in lobby at tomorrow morning.
Selesai mengirim pesan singkat ke Minako, perhatikanku pindah ke Viktor yang menekan tombol lift yang akan membawa kami ke lantai 6, tempat di mana kamarnya berada '…Uuhk… awkward…' aku mengeluarkan helaan nafas singkat dan menyenderkan kepalaku di bahu Viktor, memeluk lengan kanannya –yang masih menggenggam tangan kiriku. Perasaanku selalu stabil saat menyentuh atau hanya sekedar berada di dekat Viktor, bahkan masih ada sisa rasa rindu di dalam hatiku, walau sudah melepaskan rinduku akan sentuhan Viktor, tapi perasaanku untuk membutuhkannya untuk tetap berada di dekatku masih belum terpuaskan. Aku tersenyum tipis saat merasakan genggaman Viktor di tangan kiriku semakin erat '…Mine…'
Ding
Sebelum ada yang melihat aku bermaksud untuk melepaskan pelukkanku di lengan Viktor, agar tidak ada yang melihat –
"VITYAA!"
–kami '…Terlambat…' beberapa meter di depan lift –tepatnya di depan pintu kamar Viktor, berdiri… err… berjalan dengan langkah cepat menuju arah diriku dan Viktor yang tidak bergerak dari depan pintu lift yang tertutup di belakang kami.
"…Shit, busted…" aku harus memaksa diriku untuk tidak tertawa saat mendengar gumamman Viktor. Tapi tanpa peduli sekita, dia masih menggenggam tanganku di dalan kantong coat-nya "Hi Yakov! Anything wrong?" Viktor mengeluarkan senyum lebarnya –dan aku yakin sekali kalau aku melihat bibirnya berbentuk hati saat dia tersenyum seperti itu, dan pada saat Yakov berhenti di depan kami –masih tidak menyadari dengan keberadaanku yang berusaha bersembunyi di belakang punggung Viktor. Aku bukan sama sekali tidak mengerti bahasa Russia, aku sudah belajar dasar bahasa Russia di sela kebosannan-ku saat mengikuti pelajaran di kelas –bukan karena aku sombong, tapi aku memang sudah mengerjakan semua essay yang ada di text book yang di berikan sekolah, hasilnya? Tentu saja all A. Dan itu membuat guru dan pihak sekolah kaget –lagi.
Aku menangkap beberapa kalimat seperti kemana, lapor, kabar, dimana, pada percakapan Yakov dan Viktor yang sangat cepat. Viktor tertawa pelan saat melihat Yakov menghela nafas panjang sambil memijit keningnya sendiri, pandangan Yakov kemudian mengarah padaku, dia menunjuk padaku dan menanyakan… emn… siapa bocah ini? pada Viktor menggunakan bahasa Russia "Kita bertemu di stadion saat aku mau pulang dari tour-ku tadi pagi" aku sedikit lega saat Viktor berbohong demi diriku dan mengganti bahasanya agar aku juga bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.
Yakov menatapku heran "…Dan kenapa kau menggandengnya?" seluruh tubuhku langsung berkeringat dingin, aku berusaha melepaskan gandengan tanganku dari dalam kantong coat Viktor, tapi usahaku sama sekali tidak membuahkan hasil, dia bahkan mempereratkan genggamannya di tanganku.
"Untuk melindunginya dari makhluk jahat" Yakov menampar jidatnya sendiri mendengar alasan dari Viktor, walau alasannya tidak terdengar salah bagiku. Sekali lagi, Yakov mengehela nafas panjang.
"Maaf kalau dia membuatmu repot" ucap Yakov pelan padaku, jujur, aku terperangah mendengar si pelatih tsundere dan temperament di hadapanku mengucapkan maaf padaku.
Aku menggelengkan kepalaku dengan sangat canggung "Tidak, tidak sama sekali" setelah itu Yakov kembali berbicara pada Yakov dengan bahasa Russia, lalu membalikkan badannya dan masuk kedalam kamar yang ada di sebelah kamar Viktor '…Sebelah kamar Viktor…?' keringat dingin kembali keluar dari kulitku "…Kamar Yakov ada di sebelah kamarmu…" aku langsung terkena panic attack "…Jangan-jangan?! –"
"Nope, dinding di hotel ini kedap suara" sekali lagi aku menghela nafas lega "Shall we?" aku mengangguk dan mengikuti langkah Viktor yang menuntunku ke dalam kamarnya.
.
Tidak ada yang membuka pembicaraan saat kami ada di dalam kamar, kami hanya duduk di atas kasur –dengan posisi aku duduk di atas pangkuan Viktor, membenam wajahku di pangkal lehernya, menikmati aroma Vanilla yang keluar dari tubuh Viktor "…Kenapa kamu bisa kembali?" ucapku pelan, mendorong jauh rasa takut yang ada di dalam diriku dan menatap lurus Viktor, iris celurian-nya terlihat kehilangan cahaya yang biasa menynari matanya.
"Harus kah…?" aku mengangguk yakin, kedua tanganku membingkai wajah Viktor yang terlihat sangat sedih –hampir menangis. Aku mencium bibirnya, melumat dan mengulumnya dengan sangat pelan "…Yuuri" dia membisikkan namaku dengan suara yang begetar, memeluk tubuhku dengan sangat erat "…Promise me that you never leave me again…"
"Eh…?"
"DO IT! JUST –khh… do it…please! For me…" bahuku terasa basah, suara Viktor juga terdengar sangat frustasi.
'Sebenarnya… apa yang terjadi? Aku tidak pernah melihat Viktor se-frustasi ini…'
"I do my love, I will not leave you"
.
Pada saat itu aku tidak tau, kalau ini adalah awal dimana Viktor mulai menunjukkan sisi gelapnya.
