Aku cuma bercanda waktu bilang mau nulis 'THE END'. Setelah moment jinseob yang menggemparkan(?) beberapa hari ini, aku mikir mereka harus bareng. They deserve their happy ending.
BIG THANKS TO
verenakiem, Delicious Choco-pie, thtlovely, Jeonoona, airinotirene, 123 . dulset, kim naya, juhyeon, passeromio, RabbitV, Ena-Sama, xysoff, minsainza, sewoona, seeyou-y, SinRin4lyfE dan untuk yang sudah menekan tombol fav/follow.
The door of wanting to open
Your memories come and find me
My heart keeps getting torn
What shall I do now?
Woojin menyadari ketika matanya tidak menemukan sesuatu yang meyakinkannya bahwa dia masih di dunia. Semuanya gelap dan kosong. Sangat kosong. Bahkan Woojin tidak yakin bisa mendengar suara selain suara nafasnya sendiri. Disini begitu sepi. Keyakinan Woojin bahwa dia sudah mati adalah fakta yang tidak bisa sanggah. Baru saja Woojin bangun—mungkin saja karena jiwanya baru sampai di tempat ini. Matanya mencari, namun tetap tidak menemukan apapun. Duduk menunggu, Woojin yakin seseorang akan datang. Entah siapapun itu, dia berharap seseorang akan mendatanginya. Namun, sekelebat pemikiran lewat di kepalanya.
Jika dia sudah mati, harusnya Woojin tidak berada disini. Bagaimanapun juga, Demigod pasti akan dibawa ke underworld ketika mati. Tetapi kenapa dia ada disini? Di tempat sekosong ini?
Matanya mencari, melihat setiap sudut dengan seksama,"Tidak, aku tidak seharusnya disini." Bisiknya pelan. Suaranya menggema berkali-kali dan terdengar semakin jauh. Dia bangkit, mulai melangkah tanpa tahu tujuan ataupun arah.
Woojin terus melangkah.
Ketika sekedipan berlalu, cahaya berusaha memasuki retina Woojin, merefleksikan setiap sudut dunia lewat matanya walau masih samar-samar. Kakinya yang sesaat lalu berdiri dalam udara, kini berdiri dalam tempat yang solid. Yang semula bernafas hanyalah formalitas, Woojin kembali dapat mencium busuknya polusi dan harum makanan dari kedai pinggir jalan.
Sekedip lagi.
Dan semuanya terlihat normal. Jalanan yang ramai. Penyebrang jalan yang menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Suara hiruk pikuk; tawa, obrolan, umpatan, omelan. Dan Park Woojin yang berdiri di seberang jalan menghadap sebuah toko buku. Keadaan yang sepertinya pernah terjadi.
Kemudian sebuah suara menyadarkannya.
"Heh, kenapa malah melamun?"
Woojin menoleh, tidak mengira bahwa ada Lee Euiwoong di sebelahnya. Tangan cupid itu sudah siap membidikkan panah namun kembali menurunkan busurnya saat menyadari ekspresi Woojin yang linglung.
Bukannya Lee Euiwoong sudah mati?
Lalu kenapa cupid itu masih disini? Kenapa juga Woojin terlihat sehat? Bukankah hal terakhir yang terjadi padanya adalah sekarat di rooftop sekolah?
"Tidak—" Woojin tersedak suaranya sendiri. Kepalanya berdenyut, menghantarkan ribuan sinyal rasa sakit.
"Kenapa? Kau terlihat tidak baik."
Woojin kembali sadar bahwa keadaan seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Beberapa bulan sebelum Haknyeon menjadi penghancur. Sistem waktu terasa hancur. Woojin tidaklah yakin jika tadi adalah tadi kalau sekarang adalah kemarin.
Euiwoong mengendikkan bahunya ketika Woojin tidak membalas secara verbal. Pemuda bergingsul itu masih terbengong. Merasa tidak mendapat jawaban, Euiwoong kembali mengarahkan pandangan ke keberang jalan. Jarinya stand by memegang benang busurnya, siap menariknya kala target masuk ke area tembak. Woojin diam-diam ikut memperhatikan seberang jalan.
Bukankah setelah ini Euiwoong akan membidik Daehwi dengan panahnya dan panah itu malah menancap di dada Hyungseob.
Sedangkan Woojin masih menerkan kelanjutan kejadian, Lee Daehwi keluar dari toko buku. Sendirian.
Tidak ada Hyungseob (atau siapapun).
"Berhenti!" Woojin menarik busur Euiwoong turun.
"Kenapa lagi?" Euiwoong hanya menatapnya penuh tanya. Bukankah Woojin memintanya untuk membidik Daehwi, lalu kenapa sekarang dia malah diminta berhenti?
"Bukan, bukan ini," Woojin bergumam pada dirinya sendiri, matanya terus mengedar ke balik tubuh Daehwi, berharap Hyungseob disana,"Dimana Hyungseob?"
Euiwoong mengernyi bingung,"Hyungseob siapa?" Tanyanya.
Begitu menoleh, Euiwoong dikejutkan dengan ekspresi ketakutan Woojin,"Ahn Hyungseob." Pemuda bergingsul itu menjawab putus asa.
Euiwoong tidak tinggal diam. Segera ia menyimpan busur dan panahnya di punggung dan menarik Woojin untuk fokus menatapnya,"Suatu hal pasti sudah terjadi, bukan?"
"Harusnya ada pemuda bernama Ahn Hyungseob disana, disebelah Daehwi. Panahmu melenceng mengenai Hyungseob. Harusnya begitu."
Euiwoong terpaku ditempatnya. Dirasa kakinya melemah dan tatapannya berkunang-kunang. Bukan cupid namanya kalau dia tidak tahu perasaan apa yang Woojin simpan untuk Hyungseob. Perasaan itu bergejolak dalam tubuh Woojin. Begitu kuat dan besar, menutupi kekurangan-kekurangan yang dimiliki Woojin. Mewarnai darah pemuda tan itu dengan warna jingga; kehangatan, kenyamanan, keceriaan. Cocok sekali dengan Ahn Hyungseob, kan?
"Beri aku alasan agar aku bisa menolak permintaanmu yang sebelumnya." Euiwoong tidak perlu tahu sebenarnya. Dia hanya ingin Woojin mengeluarkannya.
Warna jingga yang ada dalam tubuh Woojin perlu menguar agar pemuda bernama Ahn Hyungseob—yang entah dimana—itu bisa menangkap sinyalnya.
"Dia—
.
.
.
.
—aku mencintainya."
Broken Arrow
2017 (c) tryss
.
PARK WOOJIN X AHN HYUNGSEOB
JINSEOB
.
"Aku benar-benar tidak mengenal yang namanya Ahn Hyungseob," Daehwi menegaskan intonasi suaranya, wajahnya mengeras karena marah,"Aku pergi."
Park Woojin masih menetap di pinggir jalan, terpaku dengan jawaban Daehwi.
Hari berikutnya Woojin menggunakan bus untuk berangkat ke sekolah. Daehwi tetap berada disana, duduk di kursi yang biasanya digunakan bersama Hyungseob tapi, Hyungseob tetap tidak disana.
Hilang tertelan kerakusan Woojin.
Lapangan sekolah penuh dengan sampah daun ketika Woojin melangkahkan kakinya di pinggiran lapangan bersama siswa-siswi yang datang. Sapaan yang menyambut telinganya hanya dibalas senyum tipis tak bermakna. Sorot mata itu terlihat lelah—akibat dari memikirkan Hyungseob semalaman. Seorang merangkul pundaknya dari belakang, mendorong tubuhnya hingga sedikit limbung,"Kenapa murung sekali?"
Apa-apaan ini!
Lai Guanlin, merangkulnya akrab, bibirnya menyunggingkan senyum menggoda. Tidak lama kemudian giliran Bae Jinyoung yang menepuk pundaknya dan mengucapkan selamat pagi.
Sungguh, Woojin tidak merasa bahwa ia pernah membentuk tali pertemanan dengan dua orang ini. Lai Guanlin mungkin pernah menjadi bagian ceritanya bersama Hyungseob tapi, kenapa Bae Jinyoung ikut berada disini?
"Mukamu serius sekali. Kenapa?" Bae Jinyoung mendorong dahi Woojin dengan telunjuknya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Woojin. Kepalanya berdengung memikirkan banyak hal.
Begitulah hari ini berlalu (dengan Woojin dikepung rasa bingung). Lingkup pertemanannya berubah. Genknya—yang dulu hanya peduli popoler dan uang—berubah menjadi penghuni tetap perpustakaan sekolah, sedangkan orang-orang yang bahkan tidak dikenalinya, malah berlagak begitu mengenalnya.
Bae Jinyoung mendatanginya ke pinggiran lapangan basket sekolah ketika istirahat makan siang. Menepuk pundaknya pelan dan ikut duduk di sebelahnya. Woojin tersenyum titip sambil mengibaskan kaosnya yang basah keringat karena bermain basket sendirian.
"Kau tidak biasanya seperti ini. Pagi tadi juga begitu," Jinyoung mengarahkan pandangannya ke langit, mengamati awan-awan yang bergerak cepat,"seperti kehilangan sesuatu." Jinyoung kembali menoleh sesaat setelah mendengar helaan nafas panjang dari Woojin, menatap wajah sedih sahabat karibnya heran.
Woojin menatapnya penuh harap diantara wajah sedihnya,"Mengenal seseorang bernama Ahn Hyungseob?"
Jinyoung mengerutkan dahinya, mengira kalau Woojin sedang mencoba bermain tebak-tebakan dengannya, namun ia tetap menjawab (walau dengan suara ragu),"Tidak." Ujarnya,"Tidak ada yang namanya Ahn Hyungseob di sekolah ini."
Jinyoung kembali diherankan dengan senyum nanar yang Woojin sematkan di bibirnya. Seterluka itukah sahabatnya ini? Tapi karena apa? Apa karena seseorang yang namanya baru disebut Woojin?
"Aku jatuh cinta," Jinyoung tetap mendengarkan,"pada seseorang yang—mungkin—tidak ada di dunia ini."
Senyum Jinyoung merekah, menepuk pundak Woojin dan meremasnya (berusaha memberi semangat). Siang itu tetaplah panas. Tidak ada angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambut mereka ataupun nyanyian burung, namun terasa begitu lembut. Woojin membiarkan perasaannya meluap, menenggelamkan pikirannya, hatinya, seluruh tubuhnya. Senyum menghiasi kedua pemuda itu. Membolos kelas sepertinya tidak buruk.
Keesokan harinya, kelas Woojin dibuat heboh dengan bertambahnya jumlah bangku dan kursi di ruangan mereka. Ada dua pasang kursi dan bangku kosong di kelas mereka. Berarti ada dua murid tambahan yang akan datang. Guanlin bergerak cepat, menyiapkan yel-yel penyambutan dan menuliskan liriknya di papan tulis kelas. Woojin tertawa keras karena Guanlin mengajarkan seluruh kelas untuk mengikuti tingkah konyolnya. Jinyoung berdiri di depan pintu kelas, mengawasi guru yang akan datang saat bel sudah berbunyi. Tinggal menunggu saja, karena Guanlin juga sudah kembali duduk di kursinya, menanti dua murid baru antusias.
Jinyoung berlari kecil ke bangkunya,"Datang! Datang!" ujarnya gembira.
Woojin sebenarnya tidak terlalu memikirkan dua murid yang akan datang, mengingat bahwa kelas lamanya tidaklah seperti ini, sudah mampu meningkatkan mood Woojin. Nyatanya, perubahan yang terjadi juga tidak semena-mena untuk menyengsarakan Woojin. Dia juga bisa bahagia jika menikmati momen-momen kecil seperti ini.
Sambil menunggu wali kelasnya sampai, Woojin memainkan pesilnya, memutar pensil yang ujungnya sudah penuh bekas gigitan Woojin diantara jari tengah dan jari telunjuknya. Kelas sudah hening saat wali kelas mereka masuk, saking heningnya Woojin sampai terkejut ketika mendengar suara ketukan pantovel Guru Jo di depan kelas. Pensilnya lepas dari jemarinya dan jatuh ke kolong meja, menimbulkan suara berisik kecil tanpa mengganggu yang lain.
Woojin membungkukkan tubuhnya, mencoba meraih pensilnya yang nyaris berada di bawah bangku Yoojung yang duduk di hadapannya. Woojin tentu tahu tahu ada dua pasang kaki berbalut celana mengikuti langkah Guru Jo. Telinganya bahkan menangkap suara nafas teman-temannya yang tercekat. Beberapa murid memuji bagaimana tampan dan cantiknya dua sosok di depan kelas dalam gumaman lirih.
"Park Woojin, apa yang sedang kau lakukan?"
DUK!
"Argh!" erang Woojin,"Mengambil pensil, saem." Ujar Woojin diiringi tawa satu kelas yang memenuhi pendengarannya.
Buru-buru tangannya meraih pensil yang sudah berada di jangkauan dan kembali duduk. Kepalanya menunduk dan mengelus bagian yang baru saja terhantam bagian bawah mejanya sendiri. Tidak sakit tapi, malunya luar biasa. Untung Yoojung tidak sampai berpikir macam-macam. Bisa panjang urusannya kalau seperti itu.
Kadang dalam momen seperti ini, Woojin juga bisa lupa kalau dia masihlah demigod. Sejak kejadian dimana dia keluar dari ruangan gelap itu, semuanya seakan ter-reset ulang ke hari dimana belum ada kejadian-kejadian meresahkan seperti sebelumnya. Kekuatannya kembali pulih dan jalan cerita kehidupannya seakan diputar balikkan. Benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya. Bukan menjadi lebih buruk tapi, jauh lebih baik. Atau mungkin malah menjadi yang terbaik.
Hanya Ahn Hyungseob yang kurang.
"Jadi, kalian pasti sudah tahu kalau ada dua murid yang pindah ke kelas ini." Woojin mendongak, matanya menatap ke arah gurunya untuk menyimak namun tidak bohong juga kalau matanya sibuk melirik-lirik memperhatikan dua murid yang berdiri di hadapan kelas.
Sebenarnya dia tidak benar-benar melihat wajah kedua murid laki-laki itu. Yang satu, dengan rambut coklat madu, bibir merekah dan pipi chubbynya berdiri di depan mereka semua, sedangkan yang satu lagi bersembunyi di belakang, hanya menampakkan dua kaki yang berpijak di tanah dan rambut hitamnya.
Seruan dari warga kelas kembali menyadarkan Woojin untuk fokus. Sosok berambut coklat muda itu sangat manis, senyumnya merekah untuk mereka semua. Berbagai kalimat berlomba memasuki pendengaran Woojin tentang menggemaskannya sosok itu.
"Kalian bisa memperkenalkan diri." Ujar Guru Jo final.
"Halo, namaku Park Jihoon. Aku pindahan dari Seoul High School. Dan ini—" kemudian tangannya menarik sosok mungil dari belakangnya (walaupun Jihoon sendiri juga terbilang mungil). Dua sosok manis itu berdebat kecil, lebih tepatnya Jihoon yang menyikut pinggang sosok—yang masih setia menunduk itu—berkali-kali.
Seluruh warga kelas tetap diam, begitu gemas mendapati kedua orang itu berdebat lucu di depan kelas. Sosok berambut hitam itu sepertinya sangat pemalu sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menunduk dan memainkan ujung sepatunya.
Jihoon menghela nafas, menyerah pada sifat pemalu sosok di sebelahnya,"Namanya—"
Sosok itu mendongak dan tersenyum kikuk,"Aku Ahn Hyungseob."
Woojin merasa waktunya memelan. Setiap detik bagaikan sepuluh menit. Matanya sibuk terpaku pada sosok di depan kelas, menangkap setiap detail gerakan Hyungseob dengan seksama. Menyimpannya sebagai memori terbahagia pada sosok yang eksistensinya sangat ia rindukan. Disela hiruk pikuk keramaian kelas, hanya Woojin sendiri yang membeku di posisinya. Matanya memanas bersamaan dengan jantungnya yang berpacu cepat.
Jinyoung tidak punya waktu untuk tetap diam dan tenang. Matanya sibuk memperhatikan ke dua arah; ke pemuda manis bernama Ahn Hyungseob dan Park Woojin. Jinyoung ingat bahwa nama itu barusaja disebut Woojin kemarin dan tiba-tiba saja ada kejadian seperti ini, jelas Jinyoung kebingungan.
Mata kedua makhluk itu bersirobok, mengunci tatapan satu sama lain. Rindu yang begitu besar itu meluap, tersampaikan lewat tatapan singkat sebelum Hyungseob kembali menunduk.
Kemudian senyum terlukis di bibir Woojin,"Aku menemukanmu."
.
.
.
(masih) TBC
