Dark Side

.

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Cast: Kim Jongin, Xi Luhan, Oh Sehun, etc.

Genre: Crime, Romance

Rate: M

Yaoi, Boys Love.

.

Typo betebaran dimana mana, ga sesuai EYD.

.

Ps: Fanfic ini terinspirasi dari Black Organization dalam manga Jepang Detective Conan, hanya mengambil dari beberapa karakter dalam manga tersebut. Untuk alur dan cerita akan sedikir berbeda.

.

.

.

.

Chapter 12: Anokata.

.

.

.

.

Jongin keluar ruangan Chanyeol dengan pintu yang terantuk keras, seolah melampiaskan kemarahannya terhadap Chanyeol. Dengan langkah besar-besar, ia berniat untuk keluar dari markas dan mencari si busuk anokata. Ia akan mencari keseluruh penjuru Jepang, lalu membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Pria tan itu berjalan di dalam lorong yang sepi, melewati beberapa deret pintu dengan tatapan nyalang penuh amarah. Entah pada langkah keberapa, ia mendengar sebuah suara di balik salah satu pintu. Hanya suara biasa, tetapi isi dari suara itulah yang membuat langkah kakinya terhenti.

"Aku rasa distrik Taito bukanlah tempat yang bagus untuknya" ujar salah satu rekan yang Jongin yakini itu adalah Kris.

Jongin memang berhenti di depan pintu ruangan Jongdae, tadinya ia ingin langsung saja keluar dari markas, namun saat mendengar Kris berbicara, kaki itu berhenti dengan sendirinya. Jongin sadar, ia tak mempunyai bekal apapun untuk membunuh Anokata, bahkan tempat beradanya si busuk itu pun ia tak tahu. Jadi tak ada salahnya menguping pembicaraan mereka bukan? Toh tindakannya juga menguntungkan organisasi, menurutnya.

"Justru itu sangat bagus, Taito sangat ramai dan itu mempersulit kita untuk mencarinya" kini Luhan yang berbicara.

"Untuk apa adanya si wajah kotak ini jika tak mampu mendeteksi dimana si sialan itu berada?" Kris menunjuk-nunjuk Jongdae yang sedang sibuk dengan laptop di depannya.

"Kalian hanya perlu menyamar, letaknya berada di apartemen blok 5 distrik Taito. Aku masih belum bisa memastikan anokata berada di kamar nomor berapa, tetapi setelah aku mengetahuinya kalian akan aku kabari" ucap Jongdae tanpa melepas pandangan mata pada layar datar tersebut.

Jongin yang menguping di balik pintu langsung melesat ketika ia mendapatkan informasi bagus mengenai keberadaan anokata. Dengan langkah gusar ia terus meninggalkan lorong sepi itu, menuju salah satu apartemen di distrik Taito. Setelah keluar dari markas besarnya, Jongin lekas mendudukkan tubuhnya di dalam mobil miliknya. Bukan mobil klasik yang selalu ia bawa jika dengan Chanyeol, tetapi ini mobil sport keluaran terbaru berlambang kuda hitam.

Pria berkarisma itu menekan pedal gas hingga mentok, menyebabkan mobil hitam itu melaju tanpa ada batasan apapun. Jongin tak ubahnya seperti orang yang kerasukan setan, ia tak perduli apakah lampu jalanan berwarna merah atau tidak, karna baginya tak ada alasan untuk berhenti. Dalam kurun waktu kurang dari sejam, Jongin sudah berada di kawasan distrik Taito. Berbekal informasi ilegal yang ia dapatkan, ia mencari apartemen yang terletak di blok 5 distrik itu. Jongin sempat kebingungan karna ternyata ada dua apartemen yang bersebelahan di blok 5, dan keadaan itu memaksanya untuk turun dan bertanya pada seseorang.

Jongin memarkir sembarangan Ferari hitamnya, lalu keluar untuk menanyakan sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tau harus menanyakan apa "Sial, kenapa aku tak menguping pembicaraan mereka hingga selesai tadi?" rutuknya.

Lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam itu terus saja mondar-mandir tak tentu arah. Dihadapannya ada dua gedung apartemen yang menjulan tinggi. Jongin masih terus berfikir gedung mana yang di tempati anokata, namun semakin lama ia berfikir, semakin sulit juga jawaban yang ia dapat. Sembari berfikir, ia melihat sekeliling kawasan apartemen itu. Kedua gedung ini memang bukanlah golongan apartemen mewah seperti yang ia ekspektasikan, tetapi mungkin anokata mempunyai maksud tersendiri mengapa ia memilih salah satu dari kedua gedung ini.

"Geurae? Kalau begitu aku tung... Akhhhh..."

Mendengar suara mengaduh dari balik tubuhnya, Jongin pun menoleh kebelakang. Iris hitamnya langsung melebar beberapa centi saat melihat seorang lelaki mungil yang terjatuh dengan barang belanjaan yang berserakan di lantai. Sebagai manusia yang baik, Jongin refleks membantu lelaki itu memunguti belajannya yang tercecar. Rupanya lelaki itu sedang bertelpon dengan kedua tangan yang di penuhi oleh barang belanjaan, dan ia menabrak Jongin yang masih mematung di depan gedung apartemen. Jadilah disini sekarang, ponsel pria mungiil itu jatuh beserta barang belanjaan yang tercecar.

"Daijoubu?" tanya Joingin setelah seluruh barang milik pria itu sudah kembali seperti semula.

"Hai" jawab lelaki itu dengan kepala tertunduk.

"Apa kau orang Korea? Sebab tadi aku sempat mendengar kau berbicara dengan bahasa Korea" Joingin bertanya lagi dan di buahi tatapan polos disertai dengan anggukan dari lawan bicaranya.

Melihat tatapan polos itu, waktu yang bergulir serasa terhenti detik itu juga. Seperti ada medan magnet dalam mata bulat milik lawan bicaranya. Katakanlah ia tabu akan rasa yang aneh saat ini, dirinya memang sering bercinta dengan orang lain, tapi seumur hidupnya ia tak penah begitu terpaku saat melihat mata seseorang. Dan baru Joingin sadari ternyata amarah yang tadi meluap-luap kini telah kabur entah kemana.

Melihat pria di depannya tak memberi respon apapun, lelaki mungil dengan mata besar itu pun bangkit, berniat untuk meninggalkan Jongin yang masih melamun. Namun belum ada satu langkah, tangan yang memegang kantung belanjaan itu pun di sekat oleh pria asing yang di tabraknya.

"Ada apa?" tanya pria mungil itu dengan raut wajah yang kebingungan.

"Apa kau tinggal disini?" Jongin malah membalik pertanyaan.

Pria bermata bulat itu mengangguk kecil yang mana membuat Jongin begitu gemas dengan dirinya "Ada apa?" tanya pria itu lagi.

"Siapa namamu?" Jongin tak lelah memberi pertanyaan rupanya.

"Kyungsoo, Do Kyungsoo. Ada apa?" Kyunsoo bertanya ada apa untuk yang ketiga kalinya.

"Apa kau tak berniat meminta maaf padaku? Kau yang menabrak ku tadi. Ah... punggung ku sakit" Jongin mengaduh dengan ekspresi yang di buat-buat.

"Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja menabrakmu. Aku tidak tahu kalau kau-"

"Aku memaafkan mu" potong Jongin "Tapi dengan satu syarat" lanjutnya.

"Apa?"

"Kau tinggal di gedung apartemen yang mana?" tanya Jongin dengan tangan yang beralih mengambil salah satu kantung belanjaan milik Kyungsoo.

"Aku tinggal di gedung yang ini" tunjuk Kyungsoo dengan wajah innocent mode.

"Aku ingin tinggal bersamamu"

.

.

.

.

.

"Aku mencintaimu"

Kalimat itu terlontar bersamaan dengan deru nafas Chanyeol yang memberat. Menyisir permukaan wajah Baekhyun dengan cara yang halus. Si kecil hanya mampu terpejam dengan hembusan nafas yang sama beratnya seperti milik Chanyeol. Dalam hati ia merasa begitu lega ketika Chanyeol menyatakan perasaannya, karna ia sendiri memiliki perasaan yang sama.

"Katakan sesuatu Baek" Chanyeol menginterupsi si mungil yang masih terlena dengan bau nafas maskulin dari lelaki yang ia cintai.

Baekhyun pun membuka kelopak matanya. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga hidung keduanya masih terus menempel satu sama lain. Mata sipit itu mengerjap satu dua kali, membuat Chanyeol merasa gugup setengah mati.

"Lalu?" jawab Baekhyun tepat di depan bibir kissable Chanyeol.

"Apa kau mau menjadi kekasihku?" Chanyeol mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Baekhyun, sementara si kecil terus menyesakkan jemarinya di sela-sela rambut hitam Chanyeol.

Dengan dahi yang masih menyatu selepas berciuman tadi, Baekhyun menganggukan kepalanya dengan senyum yang amat manis. Menandakan bahwa ia menerima Chanyeol sebagai kekasihnya. Entahlah, bagi Chanyeol tak ada yang lebih membahagiakan dari pada ini. Bagaimana penantiannya selama lima tahun membuahkan hasil. Ia berjanji akan menjaga dan melindungi Baekhyun sampai kapanpun.

Dengan posisi yang begitu intim, Chanyeol pun melumat lagi bibir tipis milik kekasihnya. Tangan besar yang masih melingkar perlahan mengusap pinggang ramping itu dengan gerakan seduktif. Nafas keduanya sama-sama memburu akibat ciuman panas yang mereka lakukan saat ini. Chanyeol terus memutar kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha memperdalam ciumannya pada Baekhyun.

Si mungil yang berada di pangkuan Chanyeol pun dengan senang hati membalas ciuman kekasihnya. Merasakan benda kenyal itu bergerak dengan tempo yang membuatnya mabuk kepayang. Debaran jantungnya terus berpacu hingga ia terlihat seperti orang yang sedang lari maraton. Terengah-engah dengan peluh yang bercucuran.

Waktu terus berjalan, dan ciuman mereka pun semakin memanas. Keduanya seolah terbakar oleh nafsunya sendiri, mengabaikan beberapa tetes saliva yang tercecar di sisi kanan dan kiri bibir mereka. Namun pada akhirnya tautan itu terputus juga, Baekhyun pun langsung mengisi kembali pasokan oksigen pada tubuhnya. Chanyeol yang melihat kekasih mungilnya sedang terengah pun hanya mampu tersenyum dan menghapus lelehan liur yang menetes hingga dagu Baekhyun, mungkin itu liur nya atau liur Baekhyun? Entahlah...

"Apa kau kepanasan?" tanya Chanyeol sembari menyingkirkan beberapa anak rambut yang lepek oleh keringat yang menutupi dahi Baekhyun.

Si kecil yang di tatap secara intens oleh Chanyeol hanya mampu tertunduk dengan anggukan kecil. Jemarinya pun sudah tak lagi berada di leher jenjang Chanyeol, melainkan meremat sepasang jemari miliknya sendiri. Baekhyun sedang gugup rupanya.

Chanyeol yang gemas sendiri akhirnya mencium dengan singkat pipi Baekhyun yang mulai gembil, tidak seperti waktu Baekhyun kembali dari rumah sakit tempatnya di sekap, terlihat kurus dengan pipi yang tirus. Lalu Chanyeol menyambar kedua jemari yang masih saling meremat, memisahkannya lalu menaruh kembali di perpotongan lehernya, menyebabkan tubuh Baekhyun yang tadinya sudah berjarak dari Chanyeol kini kembali mendekat karna ulah kekasih barunya.

Ketika tangan Baekhyun sudah bertengger dengan sempurna di leher Chanyeol, si pemimpin itu pun merengkuh lagi pinggang ramping Baekhyun yang masih ia pangku. Merapatkan lagi dua tubuh yang sempat terpisah jarak. Tatapan mematikan Chanyeol lagi-lagi menelan habis bola mata Baekhyun, hingga si kecil merasa seluruh dunianya sudah merasuk masuk melalui iris mata hitam milik Chanyeol. Lama kelamaan, rasa gugup Baekhyun kembali mendominasi, ia tak sanggup di tatap seperti itu terus-terusan.

Dengan pipi yang memerah Baekhyun pun memeluk tubuh tinggi Chanyeol, berusaha untuk menyembunyikan. Hingga wajah cantik itu berakhir di ceruk leher milik sang kekasih "Jangan tatap aku seperti itu, aku maluuu~" rengeknya.

Baekhyun yang sedang memeluk Chanyeol pun merasakan jika pria itu sedang terkekeh kecil akibat rengekannya. Rasanya bahagia sekali saat bisa mendengar Chanyeol tertawa bahagia seperti ini. Tidak lagi menyeramkan seperti dulu.

"Kekasihku yang menggemaskan" ucap Chanyeol sembari mengusak surai madu Baekhyun dari belakang "Hei, jangan menyembunyikan wajahmu. Aku kan ingin lihat wajah kekasihku" lanjutnya.

Baekhyun menarik wajahnya dari leher Chanyeol dengan kedua pipi yang makin memerah. Jantungnya berdebar saat Chanyeol mengklaim dirinya sebagai kekasih dari Chanyeol. Dan ia menyukai saat Chanyeol memanggilnya seperti itu.

"Aku mencintaimu Baekhyun" ucap Chanyeol lembut sekali, sarat akan ketulusan. Baekhyun yang mendengarnya pun ikut terenyuh dengan senyum yang mengembang dengan manisnya. Namum Baekhyun tak lantas menjawab dengan lisan pengakuan cinta Chanyeol, melainkan ia menjawabnya dengan ciuman yang membuat gairah keduanya panas kembali.

Entah siapa yang memulai, ciuman mereka semakin lama semakin menjadi. Baekhyun pun tanpa sadar melepas rematannya pada surai belakang Chanyeol dan beralih untuk melepas jas putih kebesaran yang membuatnya terasa seperti terbakar karna kepanasan. Padahal di ruangan itu sudah tersedia pendingin ruangan, namun tampaknya kegiatan mereka jauh lebih panas hingga pendingin ruangan itu hanya seperti angin lalu. Bunyi kecipak yang di hasilkan kedua bibir itu semakin terdengar nyaring dalam ruangan yang sepi. Seolah menjadi penguat tersendiri untuk keduanya agar tak mengakhiri permainan dengan cepat.

Chanyeol melepas lagi pagutan mereka saat merasakan nafas Baekhyun yang sudah naik turun. Dan sembari Baekhyun mengatur nafasnya, Chanyeol beralih pada leher mulus yang sudah terbebas dari jeratan jas putih mengganggu itu. Chanyeol menciuminya, melumatnya dengan gigitan kecil yang membuat Baekhyun sedikit tegang karenanya.

"Enghhh~ Chan... hen... ahh~ hentikaann..." Baekhyun meracau meminta untuk Chanyeol menghentikan kegiatannya di atas leher, tetapi tubuhnya terus mengingikan Chanyeol untuk berbuat lebih dari ini.

Namun desahan Baekhyun tadi membuatnya tak ingin melepas leher putih ini, hingga ia terus melumati leher itu dan meninggalkan beberapa jejak kemerahan, tanda bahwa Baekhyun hanya miliknya seorang. Tak ada yang bisa mengambil Baekhyun dari tangannya, bahkan Tuhan sekalipun.

"C-chan... emhhh~"

Desahan memabukan keluar lagi dari bibir tipis yang rada membengkak saat Chanyeol menyusupkan tangan besarnya kedalam kaus yang Baekhyun kenakan, mengelus punggung telanjang Baekhyun dengan gerakan yang seduktif. Tangan Baekhyun pun kembali pada habitat nya yaitu di belakang leher Chanyeol dan ia langsung meremas rambut belakang Chanyeol yang tak bersalah itu, berusaha mencari pelampiasan karna ulah Chanyeol yang begitu nikmat dan membuatnya ingin lebih.

Chanyeol pun bangkit dari kursi besarnya dan menggendong Baekhyun layaknya seekor koala yang sedang bergelendot dengan induknya. Chanyeol tak lagi bermain di area leher Baekhyun, tetapi ia kembali lagi melumat bibir manis Baekhyun hingga si kecil tak mendesah seperti tadi.

Langkah Chanyeol yang tergolong besar kini sampai pada sofa panjang dengan ukuran layaknya sebuah ranjang, karna sofa ini memang bisa di alih fungsikan menjadi ranjang dengan menekan kepala sofa hingga diameternya sekarang lebih besar. Chanyeol pun dengan hati-hati membaringkan Baekhyun, dan mengukungnya dengan tangan yang berada di sisi kiri dan kanan tubuh mungil itu. Ciuman yang panas itu tiba-tiba berhenti karna Chanyeol yang memutuskan tautan itu secara sepihak. Dan mata besar itu melihat Baekhyun yang mengernyit keheranan. Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. Apa Chanyeol akan menghentikan permainan yang bahkan belum di mulai? Batin Baekhyun.

"Baek, aku mencintaimu. Aku tak ingin melakukan apapun atas dasar keinginan diriku sendiri. Aku tidak ingin kau merasa-"

Belum selesai Chanyeol dengan kata-katanya, Baekhyun kembali mencium bibir Chanyeol dengan singkat lalu berkata "Just do it Chan, i'm okay"

Chanyeol tersenyum di atas Baekhyun, dan menciumi lagi bibir yang membengkak itu. Melampiaskan rasa bahagia yang tak terhingga pada Baekhyun, karna dirinya di perbolehkan untuk memiliki Baekhyun seutuhnya. Seperti apa yang selama ini ia impikan.

Waktu terus bergulir hingga kedua insan ini entah bagaimana caranya sudah berada dalam keadaan tubuh yang tanpa busana sama sekali. Chanyeol yang masih berada di atas Baekhyun kini merendahkan posisinya agar bisa meraih nipple pink menggemaskan milik Baekyun. Chanyeol layaknya bayi besar yang sedang menyusu, mengemut habis puting Baekhyun yang sudah menegang. Dan tangan yang menganggur itu memelintir dengan gemas nipple tegang yang satunya.

Mendapat kedua bendanya di maini oleh Chanyeol, Baekhyun hanya mampu mendesah-desah dengan nama Chanyeol sebagai objek desahannya. Baekhyun seperti sedang mengejar sebuah strawberry besar akibat Chanyeol. Dirinya terengah dengan desahan yang tak henti beracau dari bibir tipis yang telah bengkak.

"C-chan... Ohhh~" tubuh Baekhyun membusung saat Chanyeol menghisap dengan kuat nipple nya. Oh Tuhan ini sangat nikmat...

"Baek?" setelah puas menyusu, Chanyeol beralih menatap Baekhyun dengan bola mata yang memerah. Menahan hasratnya sedari tadi karna terus memanjakan tubuh Baekhyun. Dan Baekhyun yang masih terengah hanya mampu menatap Chanyeol dengan mata sipit yang sendu, sendu yang begitu menggoda bagi Chanyeol. Lihatlah, bagaimana si kecil sudah terkulai lemas dengan petting yang di lakukan Chanyeol pada tubunya. Tangan Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dan berakhir di pipi Baekhyun yang memerah, meminta izin lagi melalu tatapan mata itu.

Baekhyun yang mengerti pun mengangguk dengan senyuman "Lakukanlah Chan, aku ingin kau berada di dalam ku. Berada bersama ku" ucap Baekhyun sembari menghilangkan peluh di dahi Chanyeol yang terekspos, salah satu kelemahan Baekhyun yang sekarang ia ketahui.

Chanyeol mengecup dahi Baekhyun dengan sayang, seolah mencurahkan segala macam rasa bahagia melalui kecupan itu. Dan kecupan di dahi Baekhyun seperti mempermanis kegiatan panas mereka.

"Chan?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol masih betah mencium dahi nya.

"Hm?" Chanyeol mengakhiri kecupannya, lalu menatap Baekhyun dalam-dalam.

"Kau yang pertama untukku, jadi-"

Belum sempat Baekhyun menghabiskan kata-katanya, Chanyeol memotong dengan cara menaratkan ciuman singkat pada bibir Baekhyun "Aku mengerti, aku akan melakukannya dengan lembut. Aku mencintaimu Baek"

"Aku juga mencintaimu" jawab Baekhyun di sertai dengan kedua tangan yang menggantung lagi di leher Chanyeol.

"Kau mau melihat penyatuan kita atau mau melihat wajah tampan ku saja?" goda Chanyeol.

Pipi Baekhyun bersemu merah saat Chanyeol memberi pertanyaan konyol untuknya. Melihat kejantanan Chanyeol yang tegang dan menggantung itu saja membuat jantungnya ingin copot, bagaimana jika ia melihat proses penyatuan mereka? Ah... Baekhyun kan jadi malu.

Baekhyun memalingkan wajah memerahnya dan Chanyeol hanya mampu terkikik melihat reaksi menggemaskan kekasihnya, sisi pemalu Baekhyun membuat dirinya ingin cepat-cepat memiliki Baekhyun seutuhnya. Dengan satu tangan yang menopang tubuhnya, Chanyeol meraih bantai sofa yang berada di sebelah Baekhyun lalu menuntun Baekhyun untuk menindih bantal tersebut. Hingga kini posisi atas Baekhyun yang lebih tinggi memungkinkan si kecil yang masih malu itu untuk melihat langsung bagaimana proses penyatuan yang akan mereka lakukan.

"Bagaimanapun kau harus melihat prosesnya. Ya, proses pembuatan seorang malaikat kecil yang nanti akan kita rawat bersama" canda Chanyeol dengan kekehan di akhir kalimat. Tanpa Chanyeol sadari ternyata Baekhyun mengamini ucapan Chanyeol. Karna Baekhyun tahu, dirinya bukan lah lelaki yang sama dengan lelaki pada umumnya. Baekhyun berbeda.

Dengan dada berdebar, Baekhyun melihat jelas bagaimana kejantanan Chanyeol yang besar itu menggoda lubang luarnya. Degup jantung Baekhyun terus berpompa saat benda tumpul itu perlahan memaksa masuk, berusaha menerobos hole yang tak pernah di cicipi oleh siapapun.

"Akhhh..." geram Baekhyun tertahan.

"Jangan di tahan sayang, aku tau ini sangat sakit untukmu. Maka lampiaskan lah, lakukan apa yang membuatmu merasa lebih baik. Kau boleh menjambak ku jika kau mau" ucap Chanyeol di sela-sela usahanya menerobos lubang Baekhyun yang sangat ketat.

Setelah Chanyeol berkata seperti itu, Baekhyun tentu saja melampiaskan apapun yang tadi sempat di tahannya. Sial, ini sangat perih! Bahkan kepala penis Chanyeol belum sepenuhnya masuk tetapi rasa sakitnya seperti kau sedang di kuliti hidup-hidup. Baekhyun pun tanpa sengaja mencakar punggung Chanyeol, karna ia tidak bohong, ini memang sakit. Dan dengan sekuat tenaga, Chanyeol perlahan-lahan mendorong kejantanannya untuk masuk semakin dalam. Dan semakin dalam benda panjang itu masuk, semakin dalam juga cakaran pada kedua sisi punggung Chanyeol yang Baekhyun hasilkan. Mereka seimbang bukan? Sama-sama merasakan sakit.

Setelah penis besar itu sudah tertanam sepenuhnya di lubang Baekhyun, Chanyeol tak lantas memulai permainan. Ia mendiamkan dulu adik kesayangannya, membiarkan Baekhyun untuk terbiasa akan kehadiran Chanyeol di dalam dirinya. Mata besar Chanyeol melihat Baekhyun menangis dengan mata terbuka, rupanya kekasihnya itu benar-benar melihat bagaimana proses penyatuan mereka. Tapi tunggu, Baekhyun menangis? Menyadari kebodohannya Chanyeol panik bukan main melihat lelehan air mata masih terus mengalir. Chanyeol merasa bersalah, Baekhyun pasti sangat kesakitan.

"Baek, maafkan aku... maafkan aku" ucap Chanyeol panik dengan tangan yang menghapus lelehan air mata itu.

Baekhyun tersenyum dalam tangisnya, ini memang sakit, tapi ia merasa sangat bahagia bisa merasakan Chanyeol yang berada di dalam dirinya. Baekhyun menggeleng, lalu berkata dengan suara seraknya "Aku bisa merasakan Chanyeol berada di dalam tubuhku, aku sangat bahagia Chan" ucap Baekhyun sembari mencium wajah panik Chanyeol.

"Bergeraklah sayang, aku sudah tidak merasakan sakit lagi" lanjut Baekhyun ketika beberapa menit mereka habiskan dalam ciuman lembut, pengalihan rasa sakit yang Chanyeol lakukan untuk Baekhyun.

Perlahan tapi pasti, Chanyeol bergerak memaju mundurkan pinggulnya. Baekhyun yang masih melihat penis Chanyeol maju mundur pun mulai terhentak-hentak. Baekhyun sepertinya ketagihan melihat proses kegiatan mereka, buktinya mata sipit itu tak pernah lepas dari bagian bawah mereka. Baek, kau mulai mesum hm?

"Ahhh~ ahhhhh~ ahhhh~" desahan Baekhyun keluar saat Chanyeol menaikkan lagi tempo tusukannya.

"Mendesahlah... dengan... namaku" ucap Chanyeol putus-putus.

"Ouhhhh~ Chanyeolhhh~" Baekhyun menuruti sembari mencengram apapun yang berada di sekelilinganya, karna ia butuh pelampiasan atas kenikmatan ini.

Chanyeol yang berada di atas Baekhyun pun masih terus berusaha mencari titik manis milik Baekhyun yang belum ia temukan. Memompa lagi hingga tubuh Baekhyun makin tersentak-sentak. Tanpa keduanya sadari, ternyata cairan merah pekat meleleh dari kedua sisi punggung Chanyeol, membentuk sungai kecil melewati lengan kekar yang masih bertumpu pada sofa. Chanyeol tak merasa kesakitan sedikitpun ketika darah segar mengucur di tubuhnya. Ternyata cakaran Baekhyun sangat dalam menggores punggung Chanyeol, sampai darah terus mengaliri pergumulan panas mereka.

"Aahhhhh~ Chaannn~" tubuh Baekhyun membusung tanda Chanyeol telah menemukan titik manis itu.

"Aku menemukannya hm? Sial... ini... ah... sangat ketat" Chanyeol bergumam, dan menunbuk lagi spot manis yang barusan ia temukan.

Baekhyun merasa seperti terbang saat penis Chanyeol menyentuh sesuatu di dalam sana. Ia tidak mengerti apa itu, tetapi saat Chanyeol mententuhnya, ia seperti sedang berada di atas awan, sangat nikmat. Dan tanpa sadar, tubuh Baekhyun menginginkan penis Chanyeol untuk menumbuk titik itu lebih keras dan lebih cepat lagi, hingga kini Baekhyun ikut-ikutan untuk menggerakan pinggulnya berlawanan arah.

"Chan... emh~ lebih... lebih cepat~" Baekhyun mendesah sembari merengek.

Chanyeol dengan brutal menggejot lagi lubang Baekhyun, menghujami titik itu dengan keras berulang kali. Kecepatan tusukan Chanyeol tentu membuat penis itu terus bergesekan dengan lubang sempit Baekhyun, menyebabkan kejantanannya seperti sedang di urut karna lubang Baekhyun benar-benar sempit. Chanyeol mengetahui tanda-tanda bahwa ia akan sampai sebentar lagi saat merasakan penisnya membesar tiba-tiba, dan saat melihat tubuh Baekhyun mengeluh ia pun tau Baekhyun akan segera sampai.

Dengan tempo tusukan yang semakin cepat, Chanyeol merasa penisnya benar-benar di cengkram hingga ia merasa nikmat yang luar biasa. Sial, ia bisa gila jika tak cepat-cepat sampai. Dengan lengan yang berlumuran darah, Chanyeol terus menopang berat tubuhnya agar bisa leluasa menyetubuhi Baekhyun. Baekhyun pun tanpa ia sadari jemari yang berada di lengan kekar Chanyeol sudah di penuhi bercak merah dari darah kekasihnya sendiri. Namun, kenikmatan membutakan mata mereka.

Dan entah pada tusukan yang keberapa, Baekhyun merasa dirinya benar-benar penuh karna lubangnya terus mengetat dan penis Chanyeol terus membesar. Hingga...

"AAHHHHHH~ CHANYEOLHHHH~" Baekhyun membusung dengan mata terpejam.

"AHHH BAEK~" dan cairan cinta milik Chanyeol menyembur di detik berikutnya.

Baekhyun yang masih dalam fase klimas pun merasakan tubuhnya menghangay karna cairan yang Chanyeol tanamkan dalam dirinya. Mata sipit yang tadi terpejam kini terbuka perlahan, mendapati pria nya sedang sibuk mengatur nafas dengan mata tertutup di atas dadanya. Wajah Chanyeol dengan peluh yang mendominasi sangat tampan menurut Baekhyun. Jemari lentik itu terangkat, berniat untuk menghapus peluh di dahi Chanyeol yang masih terpejam. Namun ketika ia menghapus peluh itu, dahi Chanyeol yang tadinya putih kini berubah berwarna merah, dan ia menyadari warna merah pekat itu berasah dari tangannya.

Baekhyun menangis, saat tak sengaja melihat bahu Chanyeol yang masih mengeluarkan darah akibat cakarannya yang terlalu dalam. Chanyeol yang menyadari dada Baekhyun naik turun pun beralih menatap wajahnya, dan Chanyeol tentu langsung panik saat melihat Baekhyun menangis dengan jemari yang berlumuran darah.

"Baekhyun kau beradarah? Maaf kan aku Baek... maafkan aku" Chanyeol masih panik dan menyalahi dirinya sendiri, sedangkan Baekhyun terus menangis.

"Tidak Chan, maafkan aku" tangisan Baekhyun makin menjadi.

Chanyeol yang panik pun perlahan melepaskan tautan tubuh mereka dengan hati-hati, lalu setelah terlepas sempurna, tubuh tingginya berlarian menuju kotak obat yang berada di salah satu sisi ruangan, mengabaikan tubuh telanjangnya dan luka yang berada di punggung. Karna yang ia tau, Baekhyun sedang terluka karna nya.

Baekhyun semakin merasa bersalah saat melihat Chanyeol sibuk dengan kotak obat hanya demi dirinya yang tak terluka, dan memasabodokan luka yang sebenarnya berada di punggungnya. Dengan gusar Chanyeol membawa peralatan medis itu menuju sofa tempat mereka bersetubuh tadi. Tangan besarnya dengan telaten membersihkan noda merah pada jemari Baekhyun yang masih berbaring di sofa itu, dan perlakuan manis Chanyeol semakin membuat Baekhyun merasa bersalah, hingga tangisan Baekhyun terdengar semakin nyaring.

"Hiks... berhenti Chan..."

"Maafkan aku, biarkan aku mengobatimu dulu" kekeuh Chanyeol.

"Kau yang harusnya di obati, bukan aku!" Baekhyun membentak lalu menunjuk-nunjuk punggung Chanyeol, asal mula darah itu mengalir "Punggung mu terluka karna aku, hiks karna aku terlalu dalam saat mencengkram mu" lanjutnya.

Chanyeol bingung, ia tak mengerti.

"Hiks... maafkan aku Chan... aku.. aku..." Baekhyun masih terus menangis dengan suara yang bergetar.

Chanyeol dengan gentlenya merengkuh tubuh Baekhyun yang masih berbaring, mengelus pucuk kepala itu, berusaha menenangkan "Jangan menangis, aku tak apa sayang. Ini hanya luka kecil" walaupun Chanyeol tak perasakan sakit apapun, tapi ia mengucapkan itu demi membuat Baekhyun merasa lebih baik.

Setelah dirasa Baekhyun sudah tak sesegukan lagi, Chanyeol melepaskan pelukan pada tubuh telanjang Baekhyun. Mencium dengan singkat kedua mata yang sembab karna menangisi pria nya. Dan Chanyeol bahagia melihat Baekhyun khawatir akan dirinya.

"Jadi, apa kekasih ku mau menyengobati luka ku?" Tanya Chanyeol riang, dan Baekhyun mengangguk dengan pasti.

"Aku mencintaimu Park Chanyeol"

.

.

.

.

.

"Jadi apa kau sudah tau dimana lelaki itu berada?" tanya seorang pria pada seseorang di sebrang sana.

"Kami belum bisa memastikan dimana lelaki itu berada, karna tempat yang Tuan maksudkan tidak bisa terlacak dalam sistem kami"

"Bodoh! Jadi untuk apa aku membayar kalian kalau menemukannya saja kalian tidak becus!" geram lelaki itu.

"Maafkan kami Tuan"

"Jika dalam waktu satu minggu kalian tak berhasil menemukannya, maka akan aku hancurkan semua yang kalian punya, tidak perduli kalian adalah bawahan peninggalan ayahku. Camkan itu!" dengan kasar lelaki itu menutup sambungan telpon, dan membanting ponsel pintar tak berdosa dengan sembarangan.

Lelaki itu mendudukan tubuhnya di kursi ruang tamu, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat marah-marah tadi. Ini sudah sebulan lebih ia mencari sesorang yang telah meinghilang secara tiba-tiba. Awalnya ia ingin mencari tanpa melibatkan bawahan ayahnya yang sudah lama tak di tugaskan itu. Namun setelah seminggu mencari seorang diri, akhirnya ia menyerah dan menugaskan para bawaahan itu untuk mencari seseorang. Tapi ternyata bahawan ayahnya tidak sehebat yang ia perkirakan, buktinya hingga saat ini lelaki itu tak bisa di temukan. Dan ia bertekat, jika lelaki itu tak di temukan dalam satu minggu dari sekarang, maka para pekerja tak berguna itu akan ia lenyapkan dengan tangannya sendiri. Ya, cara yang sama seperti ayahnya dulu.

Ting Tong!

Mata yang tadi sempat terpejam kini terbuka, ia menyumpah serapahi orang yang datang saat dirinya sedang berapi-api seperti ini.

Ting Tong!

Bell terus saja berbunyi, membuat pria yang masih terduduk itu mau tak mau harus bangkit dan membuka kan pintu. Kalau sampai petugas kebersihan yang datang, ia akan menembak kepalanya hingga bolong, lihat saja nanti!

Cklek...

"Hai, aku kesulitan mengurusi barang-barang ku, kau mau membantu ku kan?"

.

.

.

.

.

"Vermouth, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Kris pada Luhan, mereka sedang berada di mobil, menuju distrik Taito.

"Aaaaaaa penampilanku menyedihkan" bukannya menjawab, Luhan malah mengeluh dengan penampilannya.

"Kau cantik, seperti barbie kkkkk~" ejek Kris.

"Aku benci jadi yeoja! Borubon, mari berganti perann~" Luhan merengek.

"Jika aku menyamar menjadi wanita dengan tubuh yang tinggi beserta suara bass menakutkan seperti ini, tak perlu waktu satu hari, bahkan setengah jam pun kita pasti akan langsung ketahuan bodoh!"

"Tapi kan aku tak ingin jadi wanita seperti ini" Luhan masih bersungut sembari mencengkram kedua buah dada imitasi dengan sebal. Dan Kris hanya mampu tertawa melihat aksi kekanakan public figure itu.

"Sudah lah, tak akan ada yang mengenalimu seperti ini. Nikmati saja kemalangan mu Vermouth" Kris sepertinya tak pernah bosan mengejek Luhan.

"Yak! Kau minta kubunuh rupanya!" Luhan meninggikan volume suara dengan tangan yang menodongkan pistol hitam ke arah Kris. Ya, beginilah organisasi hitam, kematian merpakan hal konyol sehingga patut menjadi bahan lelucon.

"Wanita cantik tidak akan bermain dengan benda mematikan itu" ejek Kris (lagi)

"Terserah" Luhan capek meladeni rekan nya yang satu ini.

Dan setelah beberapa menit, mereka pun sampai pada blok 5 distrik Taito. Namun Kris tidak memarkirkan kendaraannya di depan gedung, melainkan berhenti di sisi jalan yang masih berjarak beberapa puluh meter dari gedung itu.

"Vermouth"

Luhan diam, tak merespon panggilan Kris. Ia masih kesal karna di ejek terus-terusan oleh bule idiot yang sialnya menjadi rekannya sekarang.

"Vermoth" panggil Kris lagi.

Luhan bergeming, ia malah memainkan ponselnya.

"Vermouth"

"Apa sih?!" Luhan akhirnya kesal juga di panggil terus-terusan.

"Bukankah itu Vodka?"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

01:06

Wah... update tengah malem.

Btw hai semuanya~

Bagaimana kabar kalian? Kabar Ai baik kok wkwkwk tp mungkin setelah ini jadi ga baik, Ai yakin pasti bakal di gantung sama kalian karna kelamaan ga update hiks... Maafin ya? Kalian cantik deh, ganteng deh... wkwkwk

Akhirnya Chanbaek making love wkwkwk tp Ai ga tau feelnya dapet atau engga, karna ya... Ai pernsonally blm pernah sama sekali, jadi Ai terinspirasi nulis nc ini berdasarkan imajinasi dan pengalaman baca ff nc dari author-author senior yang lain.

Dan, bagaimana dengan anokata? Apa sudah ada yang nebak?

Banyak kemungkinan yang ada, dan Ai ga nutup kemungkinan anokata itu orang lama atau orang baru. Karna yang tau anokata itu siapa cuma organisasi sama Ai tentunya wkwkwk /dibash

Ah iya, disini ada yg Hunhan Shipper?

Ai lagi ikut Big Event HHI loh, kalian bisa baca di cerita sebelah DS yg judulnya Captured in Her Eyes. Ya, seperti yang kemarin Ai bilang, mau di ikutin ke suatu event. Niatnya mau oneshoot, tp ga jadi karna waktunya ga keburu, dan akhirnya ikut yang Gs chaptered deh.

Ff itu remake dari AADC lho, tp Ai ga tau itu di sebut sebagai remake atau engga, mengingat nanti di chapter-chapter terakhir bakalan melenceng jauh dari AADC. Jadi yaudah makanya Ai tulis Inspired by... tapi ada yg koreksi jadinya mungkin chap depan di tulis remake aja kali ya?

Yaudah skip...

Ai sengaja banyakin moment Chanbaek, karna di chap 12 atau 13, mau ada kejutan yang BOOM... bikin semua speechless. Semoga berhasil ya bikin kejutannya yehet~

Terus untuk yang tanya kabarnya Sehun gimana? Tenang, dia baik-baik aja kok. Tuh lagi bobo ganteng di sebelah Ai sambil ngiler /dibakar

Sehun nanti muncul kok, tenang ajin. Dan Hunhan Shipper mana suaranya?

Oh iya lupa, kemarin ada yang minta Kai dan Kyungsoo di pertemuin. Dan fualaaa~ Ai mengabulkannya wkwkwk bakal banyak Kaisoo mungkin di chap 12, tapi masih mungkin loh ya? Karna kan Ai juga ngikut alur.

Jadi, Hunhan Shipper dan Kaisoo Shipper mana suaranya?

Sip! Yaudah kalau gitu jangan lupa tinggalin jejak di kotak review ya? Ai ga pernah bosen bilangin ke kalian untuk menghargai semua author di luar sana yang sudah susah payah untuk buat sebuah cerita. Jadi hargailah apa yang harusnya kalian hargai :)

Papai ''