.

.

.

countdown


Energi alam milik Putri sulung klan Otsutsuki sepenuhnya tersalurkan ke suaminya. Sel-sel suaminya bahu-membahu mengobati lukanya. Luka dalam tubuhnya juga sudah sembuh total. Energi alam menyembuhkan semuanya.

Hiashi berdiri. Tubuhnya kembali kekar. Meskipun senjatanya menghilang tetapi itu tidak akan membuatnya lemah. Justru Ia semakin kuat melebihi dirinya yang sebelumnya bahkan bisa membuat senjata dengan energi alam yang diberikan Istrinya.

Istrinya kelihatannya baik-baik saja. Dia sama sekali tidak memiliki energi alam tetapi memiliki energi dari segel iblis yang digunakannya. Tubuh Istrinya berkali-kali lipat lebih kuat daripada dirinya. Dia tersenyum maklum. Dari dulu dia tahu Istrinya memang wanita yang sangat kuat. Tetapi dia agak ngeri melihat penampilan Istrinya bagai Permaisuri Iblis yang begitu rupawan dengan rupa yang amat mengerikan.

Putri sulung Otsutsuki atau Istri dari Hiashi membuka penghalang gaib yang menyerupai jeruji besi berwarna amethyst. Kelihatannya Monster-monster itu kewalahan saat menghancurkan jeruji gaib itu. tentu saja kewalahan. Jeruji gaib berwarna amethyst itu mengambil kekuatan monster itu dan menyalurkan kekuatannya ke segel yang dipakai Putri Sulung Otsutsuki itu.

"Aku rasa segel Iblisnya akan berhenti. Anata kejarlah Toneri dan bawa Hinata ke sini. Biar aku mengurung mereka dengan jeruji gaibku." Istrinya berbisik di telinganya. Hampir dia tidak mendengarkan apapun karena suara Istrinya begitu kecil.

Hiashi berbalik melihat muka Istrinya. Dia tersenyum dan mencium sayang kening Istrinya lalu berbalik ke arah monster-monster yang bersiap menyerang mereka. Dengan cepat dia berlari melewati Monster dan Permaisuri yang menghadangnya. Hiashi lolos dari Permaisuri setelah jeruji gaib menahan Permaisuri bersama monster-monster mengerikan. Istrinya yang berada jauh darinya tersenyum meyakinkan dirinya untuk terus berlari.

Hiashi berlari-lari melewati lorong yang pengap dan remang-remang. Dia melihat ke bawah dan mengikuti jejak kaki Toneri. Larinya semakin cepat dan diujung lorong dia melihat cahaya menyilaukan mata.

Lorong itu sepertinya menanjak secara perlahan. Dia lihat Toneri berhasil keluar dari lorong. Hiashi semakin tidak tenang. Dia terlalu jauh dari Toneri. Jaraknya mungkin sekitar 1,5 km dari Toneri. Dengan terpaksa dia membuka portal menuju Hinata.

...

"Kau mau membawaku ke mana? Kenapa kau tidak menyerahkan diriku pada orang tuaku? Bukankah itu lebih mudah?" Hinata mencoba menawarkan dirinya. Dia tidak ingin dibawa lari seperti ini. apa yang salah pada dirinya? Memangnya dia melakukan sesuatu apa sampai dia ditatap penuh kesalahan oleh seluruh kerabat Otsutsuki?. Bahkan dirinya diincar dan dikejar-kejar. Setelah dikejar-kejar dirinya disiksa lalu dilindungi. Hinata semakin bingung dengan apa yang terjadi pada orang-orang Otsutsuki itu.

"Hm.. aku tidak tahu alasan ayahku menyekap dirimu dan ibuku yang melindungi dirimu tapi yang jelas aku tidak ingin kau pergi dengan orangtuamu." Toneri terus berlari tanpa melihat Hinata. dipikirannya hanya satu. Dia harus menjauhi lorong itu sebelum orangtua Hinata mengambil Hinata dari pelukannya.

"Tapi kenapa? Bukannya dulu kau ingin aku bahagia? Kalau kau ingin aku bahagia seharusnya kau menyerahkan diriku pada orangtuaku." Hinata melihat dagu dan rahang tegas Toneri dari bawah. Kedua tangannya memeluk leher Toneri. Lutut dan lehernya dipeluk erat oleh kedua tangan Toneri. Langkah Toneri yang sangat cepat dan larinya yang tidak beraturan membuat badannya berbenturan dengan badan Toneri. Hinata merasa lumayan sakit karena terbentur lama dengan badan Toneri sekaligus sangat senang karena dipeluk oleh orang yang sangat disenanginya itu.

"Karena aku tidak mau-" jawaban Toneri terpotong saat sesuatu menganga lebar di depannya seperti lobang berwarna amethyst mengeluarkan tangan untuk mengambil Hinata dan mendekapnya. Toneri kaget dan langsung menarik Hinata dari tangan itu. tarik-menarik terjadi dan Hinata merasa tubuhnya akan remuk jika terus begini. Dia langsung meronta dan kedua tarikan itu lepas. Hinata berlari menjauhi kedua orang itu. Pikirannya kosong. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan tadi. Dan dia tidak mengerti kenapa dia berlari.

Hinata semakin kelimpungan saat melihat Prajurit Otsutsuki berpatroli di sekitar rumah penduduk. Dia kembali berlari ke tempatnya tadi tapi salah satu prajurit melihatnya. Prajurit itu memanggil prajurit lain dan prajurit lain berlari memberitahukan kabar ke markas besar bahwa Hinata telah ditemukan dan harus ditangkap. Prajurit yang melihat Hinata mengejar Hinata sedang Hinata berlari tak karuan menuju hutan belantara. Dia tidak tahu jika lorong itu mengarah ke hutan.

Hinata bingung. Dia juga semakin takut. Kakinya terus berlari.

Hinata semakin berlari bagai dikejar anjing saat mendengar teriakan bala tentara yang mengejar dirinya. Hinata berbalik sedikit memastikan keadaan baik-baik saja akan tetapi keadaan semakin buruk. Dia tidak menduga hal ini. Bala tentara itu sangat banyak dengan senjata-senjata magic yang di arahkan padanya. Hinata menjerit dan berlari sekuat tenaga. Berharap siapapun dapat menemukannya dan membawanya pergi. Hinata tidak kuat disiksa oleh prajurit-prajurit itu.

"Berhenti!" Hinata berhenti dan tersenyum lega. Toneri memang selalu dapat diandalkan. Toneri berdiri di hadapannya dan meneriaki prajurit yang berada di belakang Hinata untuk berhenti dan menghilangkan senjata magic yang hampir mereka lemparkan ke arah Hinata. Toneri lalu mengulurkan tangannya pada Hinata. Hinata menggapai tangan itu dan menggenggamnya kuat. Toneri menarik Hinata sampai Hinata berdiri. Mereka saling berhadapan.

Reflek Hinata memeluk Toneri. Otak Hinata juga tidak sadar telah memeluk Putra Mahkota.

Hinata amat senang. Air matanya kembali tumpah. Mukanya yang penuh keringat, kotor dan ditutupi poni yang acak-acak tidak menghilangkan senyuman yang terukir tulus di wajah ayunya itu. dia bahagia. dia bahagia karena Toneri selalu datang kapanpun disaat dia tidak punya harapan untuk HIDUP lagi.

Sedangkan Toneri bingung. Dia tidak membalas pelukan Hinata. tangannya masih kaku dan masih betah bergelantungan di kiri dan kanan badannya. Matanya membulat dan bibirnya tertutup rapat. Badannya membeku tapi dadanya terasa hangat. Rasanya pertengahan dadanya disirami air hangat yang terasa amat lembut lalu menjalar ke seluruh tubuhnya yang membuat setiap sarafnya kaku. Rasanya otaknya tak punya kendali atas jantungnya yang berdetak tak karuan. Rasanya hangat dan tidak nyaman di saat yang bersamaan. Rasanya bahagia dan panik di saat bersamaan. Rasanya bahagia dan bodoh di saat yang bersamaan. Rasanya dia tidak tahu kalau dia dipeluk seorang gadis kecil. Rasanya dia tidak sadar kalau pipinya diselimuti warna merah jambu meskipun samar. Rasanya dia tidak tahu kalau kondisi sangat tidak terkendali.

Rasanya waktu begitu lama. Dekapan yang memeluknya erat seakan membuat sesuatu hal berubah pada dirinya. Lalu perasaan yang tidak pernah Ia rasa muncul. Perasaan yang tidak dia mengerti diumurnya yang masih sangat muda.

"Terimakasih telah datang. Tolong hentikan mereka." Toneri masih tidak menanggapi permintaan Hinata. Hinata yang tidak mendapat respon langsung melepaskan pelukannya. Tangan Hinata memegang kedua bahu Toneri dan mengguncangnya. Toneri tiba-tiba tersenyum kepadanya, "Ya tentu saja."Untunglah Toneri telah sadar dari hipnotis pelukan hime kecil Hyuuga.

"Kalian harus tahu kalau akulah yang memegang kekuasaan. Dengan berat hati aku mengatakan bahwa Raja telah mangkat dari kekuasaannya. Tapi kita masih memiliki Permaisuri yang terjebak di dalam lorong. Permaisuri akan dibunuh jadi kita akan bergegas menuju Lorong tersebut." Semua prajurit mematung. Dia tidak percaya jika Raja mereka yang amat bijaksana itu telah pergi meninggalkan mereka. Rasanya terlalu cepat dan sangat tiba-tiba. Tapi mau bagaimanapun mereka tidak boleh berdiam diri. mereka langsung berlari mengikuti Toneri yang menarik pergelangan tangan Hinata ke suatu tempat.

"Toneri kau belum menyelesaikan apa yang ingin kau ucapkan." Riuh langkah kaki bala tentara membuat Hinata berteriak pada Toneri. Toneri tersenyum sambil berlari di depan Hinata. Menarik Hinata untuk berlari lebih cepat lewat pergelangan tangannya.

"Karena aku tidak mau kehilanganmu, Hinata." jawab Toneri sambil berteriak lebih keras dari Hinata tanpa memedulikan apakah orang lain mendengarnya ataukah tidak.

Hinata hanya tersenyum. Hinata masih gadis polos berusia lima tahun. Dia mana tahu perasaan yang dirasakan Toneri.

...

Putri Sulung klan Otsutsuki kewalahan menghadapi dua monster yang masih bertahan di depannya. Delapan monster berhasil dia lumpuhkan. monster-monster yang berada di depan mereka sangat kuat. Mereka adalah Raja dan Jendral monster.

Wanita itu semakin tidak karuan karena dia tersadar bahwa suaminya belum kembali juga. Apakah sesuatu hal yang buruk terjadi di luar sana? Dia harus cepat melumpuhkan dua monster yang berada di depannya sebelum Hinata datang dan diambil oleh mereka dan sebelum batas peminjaman kekuatan Iblis berakhir.

Wanita itu menambahkan waktu peminjaman segel lalu tiba-tiba mulutnya memuntahkan darah berwarna hitam pekat. Darahnya telah bercampur dengan darah iblis. Semoga iblis tidak menguasai dirinya. Dia sudah melampaui batas pemakaian segel iblis. Bisa saja dia direkrut menjadi Iblis.

Wanita itu mengusap kasar sisa darah yang berada di mulutnya. Dia tersenyum meremehkan. Wanita itu berjalan dengan sangat santai ke arah monster itu lalu dia mengangkat tangannya seakan ingin meniupkan sesuatu.

Wanita itu berucap beberapa mantra dan meniupkan mantra itu ke arah monster-monster yang berlari ke arahnya. Tiba-tiba monster itu berubah menjadi abu saat tiupan yang dipenuhi mantra mengenai tubuhnya.

Wanita itu tersenyum. Ternyata amat mudah membunuh dua monster itu jika dia memakai segel iblis lebih banyak. Dia tersenyum penuh kemenangan melihat Permaisuri jatuh lemas melihat dirinya yang mendekati Permaisuri.

...

Toneri tahu waktu mereka menipis dan mungkin saja ibunya dalam bahaya. Toneri berhenti dan diikuti oleh seluruh prajurit yang berada di belakangnya. Dia berbisik mengucapkan beberapa mantra. Melepaskan genggaman tangannya dari Hinata dan mengarahkannya ke depan. Sebuah portal berwarna amethyst tercipta. Lobang itu sangat besar dan menganga begitu lebar.

Toneri tersenyum. Akhirnya dia berhasil membuat portal setelah sekian lama ayahnya melatih dirinya. Oh Tuhan kenapa tidak dari dulu dia bisa menggunakan segel ini? andai saja dari dulu mungkin dia bisa bebas dari pembelajaran Kerajaan dan bermain di luar Istana tanpa pengawasan prajurit. Tapi mungkin Tuhan punya rencana tersendiri sehingga portal itu dapat tercipta disituasi genting seperti ini.

Toneri mempersilahkan jendral masuk lebih dulu. Jendral yang barus saja tiba karena mereka menyiapkan banyak hal sebelum pergi jadi mereka terlambat mengikuti Putera Mahkota akan tetapi mereka tak perlu takut. Mereka memiliki kuda untuk mengejar Putera Mahkota yang sudah sangat jauh.

"Prioritaskan Permaisuri!" seru Toneri pada Jendral terakhihr yang memasuki portal itu. lalu dia dengan cepat menyuruh seluruh tentara memasuki portal itu. Toneri antara serius dan hampir ketawa menyuruh mereka masuk ke dalam portal. Bagaimana tidak ketawa? Lorong itu begitu sempit, pengap dan remang-remang. Kalau dia memasukkan 100 tentara dan 10 jendral apakah lorong sempit itu muat? Sepertinya tidak.

Tiba-tiba prajurit tidak bisa masuk. Toneri tahu prajuri itu memenuhi lorong yang sempit itu. mungkin lebih baik membiarkan portal ini terbuka sehingga prajurit yang mati di dalam lorong itu bisa digantikan oleh prajurit lain.

Toneri sangat sibuk mengurusi tentara yang akan masuk ke dalam portal. Kadang tentara itu masuk dengan lancar bagai arus air yang mengalir deras lalu kadang-kadang barisan itu tersendat-sendat memasuki portal bagai mobil yang melaju, berhenti, melaju dan berhenti. Sehingga Toneri tidak memedulikan Hinata yang tengah menggenggam telapak tangannya erat. Menyatukan jarinya di sela-sela jari Toneri. Entah kenapa Hinata melakukannya. Hinata hanya takut. Entah takut karena apa.

"Bagaimana keadaan di dalam?" Tanya Toneri sembari mengangkat tangannya mengarahkan bala tentara untuk terus masuk sementara dia masih belum sadar jika sebelah tangannya digenggam erat oleh Hinata.

"Buruk! Ada Iblis yang menyerang kami. Iblis itu meniupkan mantra ke arah kami dan yang terkena hembusan mantra berubah menjadi abu!" teriak salah satu prajurit yang memasukkan kepalanya ke dalam portal lalu mengeluarkan kepalanya dan melapor kepada Putra Mahkota. Putra Mahkota kaget bukan main. Ibunya dalam masalah. Dia semakin takut. Apa dia harus bertahan menjaga Hinata atau menyelamatkan Ibunya yang sangat disayanginya?.


TBC