.
Warning : Rate T, contain incest, yandere chara, siscon/brocon, twisted, AU, Chara death
Genre : School life/psychology/Tragedy
No Pair Inserted (slight hint)
Disclaimer Masashi Kishimoto
Story fan by DarkGrinSmile2
.
.
POSESIF : You Belong To Me
Chapter 12
.
Enjoy it!
.
Kediaman Akasuna
Saat ini Hidan berada persis di ruang tamu keluarga Akasuna. Pemuda itu berdiam sambil melihat ke sekeliling isi rumah yang keadaannya cukup berantakan. Tirai dari ruangan itu lepas seperti ada seseorang yang menarik paksa tirai berwarna putih itu. Bantal-bantal yang seharusnya ada pada sofa ruangan itu juga berserakan tak jelas di lantai. Beberapa pecahan dari benda-benda pecah belah juga turut 'mempermanis' keadaan ruangan tamu.
"Apa di sini baru saja terjadi gempa?" celetuk Hidan sambil melirik Sasori yang wajahnya berubah pucat.
"Sakura... " dengan raut wajah gelisah Sasori bergegas berlari meninggalkan ruangan tamu. Tak peduli pada Hidan yang tengah meneriakinya dengan heran.
Hidan membuntuti Sasori yang berlari ke arah lantai atas dan masuk ke salah satu ruangan kamar yang ada di sana.
Prangg!
Terdengar seperti suara benda dibanting dan pecah dari dalam ruangan kamar yang dimasuki Sasori barusan membuat Hidan semakin penasaran.
"Sebenarnya apa yang— " Hidan tercekat saat menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Di sana dia melihat sosok gadis berambut pink tengah mengacak-ngacak isi ruangan tersebut dan tangan gadis itu kembali terluka.
"Hidan, jangan diam saja! Bantu aku!" teriakan Sasori menyadarkan Hidan dari keterkejutannya.
"Sakura... Tolong lepaskan pisau itu dari tanganmu," pinta Hidan secara halus sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil pisau yang berada dalam genggaman Sakura.
"LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!" Sakura yang melihat kedatangan Hidan malah menjadi semakin histeris. Gadis itu memberontak dalam dekapan Sasori. Sorot mata emerald-nya menatap tajam ke arah Hidan.
"Sakura, kumohon lepaskan pisau itu... " Sasori yang sedang mendekap Sakura dari belakang berusaha untuk membujuk adiknya yang kalap. Dia berharap dengan pasrah agar Sakura mau mendengarkan apa yang dia katakan.
Disaat keadaan semakin sulit dengan Sakura yang terus-menerus meronta, terdengar suara tangisan dari ruangan lain. Suara itu membuat Sasori semakin pucat dan gelisah.
"Ibu... " gumamnya lirih, menyadari kalau ada orang lain lagi yang harus dia khawatirkan selain Sakura.
"Tolong pegangi dia," kata Sasori meminta Hidan untuk memegangi Sakura sebentar.
Hidan mengangguk dan dengan cepat mereka bertukar posisi. Hidan segera memegangi Sakura dari belakang dan menahan kedua tangan gadis itu yang masih tak mau melepaskan pisau dari genggamannya, sementara Sasori berlari keluar ruangan menuju ruangan lainnya.
"Lepaskan aku bodoh! Kenapa dia lebih mementingkan orang lain dibanding aku! KENAPAAA!" Sakura terus meronta-ronta dengan kuat membuat Hidan kewalahan dan berpikir dari mana gadis ini bisa mendapatkan kekuatan yang sangat besar.
"Aku tak akan membiarkannya pergi! Singkirkan tanganmu dariku!" Sakura benar-benar histeris seperti orang gila. Dia meraung-raung sambil terus memberontak hingga akhirnya salah satu tangannya yang menggenggam pisau diarahkan pada tangan Hidan yang sedang memeganginya.
Sadar kalau dirinya terancam bahaya Hidan secara spontan menyingkirkan tangannya dari Sakura dan membuat gadis itu bebas dari pegangannya. Sakura berlari menyusul Sasori yang diikuti dengan Hidan di belakangnya.
...
Hidan mengikuti Sakura memasuki satu ruangan lain dan mendapati di sana Sasori sedang bersama dengan seorang wanita yang meringkuk ketakutan sambil menangis di sudut ruangan kamar tersebut.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan. Sentuh. Wanta. Itu." Sakura berdiri di depan ruangan dan berjalan ke tengah sambil menodongkan pisau ke arah Sasori dan wanita yang ternyata adalah ibu mereka. "JANGAN SENTUH WANITA ITU!" Sakura mengulangi kalimatnya sambil berteriak-teriak dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kuat-kuat.
"Sakura hentikan! Kau membuat Ibu takut!" Sasori memarahi Sakura yang sudah kelewatan batas tapi hal itu justru membuat Sakura semakin emosi.
"DIAAAM!" Sakura kembali berteriak dan mengacung-acungkan pisau dalam genggamannya. "KENAPA KAU MEMBELA WANITA ITU DARIPADA AKU SEKARANG?" kini sakura mengarahkan pisau itu ke arah ibu mereka. Gadis itu berjalan semakin mendekat.
"SAKURA! DIA INI IBU KITA!" Sasori balas berteriak pada Sakura. Mencoba untuk mengembalikan kesadaran gadis yang tengah kalap itu.
"AKU TIDAK PEDULI!" Sakura lebih ngotot lagi dari Sasori.
Hidan yang melihat Sakura seperti orang yang tidak waras segera bertindak. Pemuda itu mengambil kesempatan disaat Sakura sedang tidak fokus. Dengan cepat pemuda itu mengambil pisau yang sedang dipegang Sakura lalu melemparkannya jauh-jauh.
"Kau... " Sakura berbalik dan menatap Hidan dengan penuh kebencian.
"Semua ini gara-gara kau! Semuanya keslahanmu!" Sakura menunjuk-nunjuk Hidan dengan sengit. Entah apa yang diperbuat Hidan sehingga membuat gadis itu terlihat sangat membencinya.
"Kau harus bertanggung jawab! Kau harus menerima hukumannya!" tanpa terduga Sakura mengambil sebuah vas bunga yang berukuran cukup besar yang berada di meja kecil pada ruangan itu dan diarahkannya pada Hidan.
CRASHH!
Kejadiannya terjadi begitu cepat. Benda yang terbuat dari keramik itu melayang begitu saja ke arah Hidan yang tanpa pertahanan karena tak menduga Sakura akan melakukan hal tersebut. Namun hal yang lebih tak terduga lagi adalah Sasori yang datang melindungi Hidan dari pukulan benda pecah belah itu.
"Sa-Sasori... " Hidan nyaris tak bisa berkata-kata melihat pemuda berambut merah itu berdiri di depannya dan menghalau hantaman vas bunga yang diarahkan kepada Hidan dengan kedua tangannya yang kini berlumuran darah.
"Ka-Kakak... " Sakura juga sama kagetnya dengan Hidan.
Keadaan menjadi hening. Baik Hidan, Sakura atau Sasori sama-sama masih terdiam berdiri di tempatnya masing-masing tanpa berani beranjak dari posisi mereka.
"Kenapa... Kenapa kau melindunginya?" Sakura mulai terisak. Dia seperti hancur berkeping-keping, sama seperti halnya vas bunga yang dia lemparkan tadi.
"Sakura... " Sasori berjalan mendekati Sakura. Tangannya mengusap pipi gadis itu, "jangan menangis Sakura... Kumohon, jangan seperti ini... " ucapnya untuk menenangkan Sakura. Hidan mengernyit melihat sikap Sakura yang mudah sekali berubah.
"Kau masih mencintaiku, kan?" tanya gadis itu sambil menggenggam tangan Sasori.
"Aku... mencintaimu Sakura... " jawab Sasori yang terdengar lirih. Pemuda itu seperti menahan suatu kepedihan yang terpaksa dia tahan.
"Janji kau tidak akan meninggalkanku, kan?" Sakura langsung memeluk kakaknya dengan begitu erat, hanya untuk memastikan kalau sang kakak tidak akan kemana-mana dari sisinya.
"Aku janji... " balas Sasori sambil mengusap lembut kepala merah muda adiknya itu.
"Selamanya?" tanya Sakura lagi.
"... Selamanya... " Sasori memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menjawab pertanyaan Sakura.
"Sa—" baru saja Hidan ingin membuka mulutnya untuk bicara tapi perkataannya sudah dipotong oleh Sasori.
"Hidan lebih baik kau pulang sekarang," sela Sasori meminta Hidan untuk meninggalkan mereka.
"Kau yakin?" tanya Hidan ragu untuk pergi. Apakah setelah dia pergi keadaan akan baik-baik saja atau malah akan semakin parah? Jujur saja kali ini dia benar-benar merasa cemas setelah mengetahui semua drama yang selama ini disembunyikan Sasori dari orang-orang.
"Kami akan baik-baik saja... Jadi, tolong... tinggalkan kami," pinta Sasori dengan suara lemahnya.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kalau kau butuh sesuatu jangan segan untuk datang kepadaku." Hidan menghela napas dan akhirnya mengalah. Dia tak ingin kehadirannya hanya akan memancing kemarahan Sakura. Kini dia mengerti semuanya.
"Jangan pernah kembali lagi," timpal Sakura sambil memberikan deathglare tajam pada Hidan.
"Kita lihat saja," balas Hidan yang sebelum meninggalkan tempat itu sempat melemparkan seringai pada Sakura.
TBC
