Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ A DREAM ~

[ Chapter 11 ]

.

.

.

.

Hari ini aku akan mencari Kiba lagi, dia pasti punya salinan dari data rekam medicku, tapi.

"Maaf, tuan Inuzuka sudah keluar kemarin, dia sudah sembuh dan telah selesai menjalani perawatannya." Ucap seorang perawat kepadaku.

Kiba sudah keluar! Sia-sia, aku tidak bisa mendapat data rekam medicku lagi, hanya dia yang bisa membantuku dan dia sudah tidak berada di rumah sakit, kenapa dia tidak pamit padaku jika akan pulang? Atau dia masih menganggapku musuhnya, padahal aku juga punya janji untuk membalas kebaikannya.

Kembali ke kamar, seorang perawat baru saja keluar dari kamarku.

"Nona Sakura, dokter Tazuna meminta ada ke ruangannya." Ucap perawat itu, dia datang untuk mencariku.

"Iya, aku akan kesana". Ucapku.

Demi kesembuhan dan cepat keluar dari rumah sakit ini, aku harus rajin bertemu dokter Tazuna dan melakukan terapi, berharap dia tidak menceritakan hal yang membosankan lagi.

"Silahkan masuk Sakura, aku sudah menunggumu." Ucapnya, senang, tapi aku sama sekali tidak senang.

"Dokter, bisakah kau mengubah metodemu, ini sangat membosankan." Ucapku, aku ingin mengeluh kepadanya.

"Benarkah? Aku pikir semua ceritaku akan berkesan padamu."

"Berkesan apanya? Cerita tentang desa, kota kuno, tempat-tempat yang sering anda kunjungi, itu sangat membosankan, bisakah tidak bercerita hal itu lagi?" Ucapku, aku mohon, ceritakan hal lain saja yang tidak membosankan.

"Ini sedikit menarik, kau masih mengingat setiap ceritaku, bahkan cerita pertama kali bertemu."

"Aku ingat semuanya hingga tidak bisa lepas dari pikiranku." Ucapku dan menatap malas padanya.

"Jadi masalahmu sekarang hanya tak ingat identitas dirimu." Ucap dokter Tazuna dan aku mengangguk cepat. "Baiklah, sekarang kita ubah metodenya, kali ini aku ingin kau berbaring di ranjang dan lebih rileks." Ucapnya dan memintaku berbaring.

Mengikuti ucapan Tazuna, aku senang metodenya sudah berubah, jadi apa yang akan di lakukannya?

"Aku akan mencoba membuatmu yang membuka sendiri pikiranmu."

"Apa ada hal semacam itu?" Tanyaku.

"Tentu ada, jadi anggap saja kau sedang santai, jangan tegang dan rilekskan tubuhmu, bernapaslah perlahan."

Mengikuti setiap ucapan dokter Tazuna, rileks dan bernapas perlahan, menutup mataku dan dokter Tazuna mulai memberikan beberapa pengarahan, aku tetap tidak boleh membuka mataku selama sesi ini, aku harus lebih tenang.

Selama menutup mata, dokter Tazuna memintaku membayangkan diriku sendiri, aku kesulitan membayangkan diriku, yang muncul adalah orang lain, anak kecil, rambut softpink pendek dan warna mata itu sama denganku.

"Apa yang kau lihat Sakura?" Tanya dokter Tazuna.

"Anak kecil, berambut softpink pendek, aku tidak mengenalnya." Ucapku.

"Tanya padanya, siapa dia?"

Aku bertanya padanya dan dia hanya terdiam, wajahnya terlihat sedih dan terus menatap ke arahku.

"Jangan ingat padaku."

Akhirnya dia berbicara, tapi mengucapkan hal berbeda, kenapa aku tidak boleh ingat padanya?

"Kenapa?" Tanyaku, aku harus tahu siapa dia.

Bukannya menjawab pertanyaanku, gadis kecil itu berlari, dia berlari cukup cepat, dia menjauh dariku, mengikutinya, aku tidak boleh membiarkannya pergi, aku rasa jika dia mengetahui segalanya, bahkan tentang siapa aku sebenarnya.

Langkahku terhenti, tiba-tiba kobaran api menghalangiku, aku tidak bisa menjangkau gadis itu, dia terus berlari memasuki api yang besar itu, terasa begitu panas, panas sekali, aku tidak bisa di sini, aku harus pergi, anehnya kemana pun aku pergi semuanya terbakar, aku akan terbakar jika terus berada disini.

"Ahhh! Aku akan terbakar! Panasss! Panaas! Siapa saja tolong aku!" Teriakku.

Aku mendengar suara tawa anak kecil, tawa itu menggema di manapun, menutupi telingaku, aku tidak ingin mati di sini, kenapa tidak ada siapapun yang menolongku, kenapa?

"Sakura?"

Membuka mataku, i-ini dimana?

"Woi, Sakura! Kau tidak mendengarkanku?" Teriak seseorang, menatap ke arahnya, dia, siapa? "Kenapa wajahmu seperti itu, kau ini aneh sekali, menutup kupingmu di tengah jalan, cepat pergi, nanti dosen killer itu marah jika kita terlambat." Ucapnya.

Dia sampai menarikku pergi, dosen killer? Apa aku sedang kuliah? Apa ini mimpi? Aku benar-benar bingung, sejenak aku berada di kobaran api, dokter Tazuna! Dimana dokter Tazuna? Aku yakin sedang bersamanya di ruangannya, dia sedang melakukan terapi kepadaku, kenapa malah seperti ini?

"Sakura, jika kau melamun terus seperti itu, aku jadi khawatir, kau jadi aneh." Ucapnya. Menatap baik-baik pemuda itu, tunggu, aku pernah bertemu dengannya, apa dia.

"Dokter Kabuto?" Ucapku.

"Apa? Hahaha, kau ini ada-ada saja, aku belum jadi dokter, kita masih mahasiswa, kenapa kau cepat sekali memanggil dengan gelarku nanti." Ucapnya.

Tidak-tidak, aku bukan hanya asal memanggil nama dan gelarnya, dokter berkacamata ini pernah keluar dari ruangan dokter Sasuke, bagaimana aku bisa tahu namanya? Dia tidak pernah memperkenalkan dirinya, saat itu pun dia berbicara seperti sangat akrab denganku.

"Cepatlah!" Ucapnya, dia menarikku untuk bergegas mendatangi sebuah kelas, kami ada di sebuah universitas jurusan kedokteran, apa aku calon dokter? Calon dokter dan malah berakhir dirumah sakit?

Kami masuk sebelum dosen yang katanya dosen killer masuk, Kabuto sampai bernapas lega, aku tidak tahu dosen ini benar-benar galak, kelasnya begitu sunyi saat dia masuk.

Pelajaran yang cukup penting aku terima hari ini, semua ini membuatku bingung, aku harus terapi, tapi kenapa berada disini?

"I-ini dimana?" Tanyaku setelah kegiatan perkuliahan selesai.

"Hey, jangan bercanda Sakura, kau ini sedang pura-pura lupa ingatan?" Ucapnya dan menatap bingung padaku.

"A-aku sungguh tidak tahu dimana." Ucapku.

"Sudah jangan bercanda lagi, ayo pergi makan, aku lapar, mungkin kau juga lapar jadi seperti ini, jika sudah makan kau pasti akan ingat segalanya." Ucapnya.

Dia kembali mengajakku pergi, kampus ini sangat luas, dia mengajakku di sebuah restoran, kami bisa makan banyak disini dan harganya sangat murah.

"Kau mau pesan apa?" Tanyanya.

"Aku pesan nasi goreng saja." Ucapku.

"Aku juga sama." Ucapnya pada seorang pelayan. "Kau hari ini tiba-tiba aneh, berhenti di jalan dan menutup kupingmu, sekarang kau menanyakan tempat ini, apa kau sedang amnesia tiba-tiba?" Ucapnya padaku.

"Ti-tidak, aku hanya sedikit- ah, anggap saja tadi aku sedikit melamun." Ucapku, aku tidak ingin dia menanyakan hal aneh lagi.

Jika benar, aku ini seorang mahasiswa, membuka tasku, aku pasti punya tanda pengenal, membuka sebuah dompet, semoga ini milikku, menemukan kartu mahasiswa dan juga tanda kependudukan.

"Kenapa melihat kartumu itu." Tanyanya.

"Aku pikir aku menjatuhkannya, ternyata ada di dompet." Bohongku.

Nama yang tertera adalah Haruno Sakura, jadi benar ini adalah namaku, mahasiswa kedokteran kampus Z, aku berada di kota Kiri, kartu pendudukku menuliskan hal yang sama, ada sejumlah uang yang cukup banyak di dompet, beberapa kartu kredit, dan tidak ada hal lain lagi, bahkan sebuah foto pun tak ada, mencari ponselku, mungkin saja ponsel bisa menjelaskan apapun.

"Kau ini sibuk sekali." Tegur Kabuto.

"Aku hanya mengecek benda-benda pentingku, aku selalu terburu-buru ke kampus." Bohongku lagi, aku harap dia tidak curiga, aku seperti pencuri yang sedang menggeledah tas seseorang.

Di ponsel pun tidak ada hal aneh, semua biasa saja, foto di galery, ada beberapa foto, semua mungkin foto mahasiswa di fakultasku. Mengecek nomer kontak, aku tidak tahu siapa saja di nomer ini.

"Dokter Kabuto, ma-maksudku, Kabuto, aku hanya ingin berbicara padamu, tapi aku harap kau tidak menganggapku gila, sejujurnya saat tadi, aku benar-benar melupakan segalanya, aku lupa jika aku seorang mahasiswa dan aku lupa mengenalmu, bisakah kau menceritakan segalanya?" Ucapku.

Kabuto semakin bingung menatapku, dia pikir aku sedang gila sekarang.

"Apa mau ke rumah sakit? kita bisa periksa keadaanmu di rumah sakit kampus." Sarannya.

"Aku baik-baik saja, hanya lupa." Ucapku, aku tidak ingin ke rumah sakit, aku muak ke rumah sakit.

"Ja-jadi apa yang kau ingin ketahui?" Tanyanya.

Kabuto mulai menceritakan bagaimana kami bertemu, pertemuan kami hanya karena satu kelompok saat penerimaan murid baru. Selebihnya karena sering bersama, kami jadi lebih akrab sebagai teman di fakultas kedokteran, ada beberapa teman lagi, tapi hanya Kabuto yang selalu bersama denganku, selain itu tidak ada hal yang ingin aku ketahui lagi, Kabuto mengatakan jika aku tinggal sendirian, jadi dia tidak pernah bertemu dengan keluargaku, margaku Haruno Sakura, tapi kenapa saat di data rekam medic, margaku Yamanaka? Aku cukup bingung, menatap sekitar, dan apa ini mimpi?

Mencubit pipiku, ah, sakit.

"Selain lupa, apa lagi? Kenapa mencubit pipimu sendiri? Kau pikir kau sedang bermimpi?" Ucap Kabuto dan tatapan aneh itu terus mengarah padaku.

"Tidak, abaikan apa yang aku lakukan." Ucapku.

Setelah makan bersama, kami berpisah, Kabuto punya urusan lain dan aku hanya mematung di depan restoran, sejujur aku tidak tahu tinggal dimana, oh ya, alamat di kartu pendudukku.

Aku bahkan tidak tahu alamat ini berada dimana, sebaiknya bertanya pada orang-orang sekitar. Mulai berjalan dan bertanya-tanya pada setiap orang yang aku temui, katanya aku harus naik bus di halte nomer 303, dari sana aku harus turun di halte 304 dan berjalan lagi.

Mengikuti petunjuk orang-orang yang sudah aku tanyai, aku menemukan halte 303 yang tidak jauh dari area kampus, sebuah bus berhenti dan menaikinya, aku harap tidak salah jalan, bus ini kembali berhenti di halte 304, aku harus turun disini, kembali berjalan, menemukan seseorang dan kembali bertanya, dia menunjuk ke arah sebuah gedung besar, itu seperti sebuah apartemen, aku tinggal di apartemen?

Berdiri dan menatap gedung besar ini, gedung yang sangat besar, berjalan masuk, bahkan ada penjaganya, jika aku masuk apa mereka akan menahanku? Aku yakin ini apartemen yang sangat di jaga.

"Nona Sakura, sudah pulang yaaa." Sapa ramah seorang security, dia mengenalku.

"Kau ini, mengganggu nona Sakura, saja." Tegur yang lainnya, dia lebih tua dari security yang menyapaku tadi.

"Ku-kuliah sudah selesai, jadi pulang cepat." Basa-basiku, pamit pada mereka dan bergegas pergi, kenapa aku takut sekali? Aku pikir mereka akan mengusirku.

Apartemen ini menggunakan kartu, jika aku menempelkan kartu, aku akan tahu tinggal di nomer berapa, kartu yaa, jangan-jangan kartu berwarna hitam yang ada di dompet, aku pikir kartu apa, mencoba menempelkannya dan benar ini adalah tempat tinggalku dan nomer apartemenku adalah 100, itu berada di lantai 4, masuk ke lif.

Kembali mematung seperti saat berada di depan gedung apartemen ini, ini apartemenku, ini adalah rumahku, aku harus masuk, kata Kabuto aku tinggal sendirian, jadi tidak akan ada siapapun berada di rumahku, membuka pintu dan membukanya perlahan, aku benar-benar seperti pencuri yang sedang masuk, di dalam cukup luas dan ruangannya tertata dengan baik, bergegas masuk dan menutup pintu, hal pertama yang aku lakukan bukan istirahat, tapi menggeledah tempat ini, aku harus tahu sesuatu, keluargaku atau orang terdekatku, apa aku pernah berada di rumah sakit Konoha atau apapun, aku harus tahu.

Sialnya tidak menemukan apapun, kamar ini benar-benar steril, semua benda hanya milikku, mungkin, semua milikku, jadi benar aku tinggal sendirian tanpa siapapun.

Menatap sebuah laptop di atas meja di dalam kamar, apa ini juga punyaku? Membukanya dan untung saja tidak perlu menggunakan password, aku saja tidak tahu jika menggunakan password. Mengecek setiap filenya, ada sebuah folder keluarga,membukanya dan tidak ada apapun didalamnya, apa sudah di hapus? Membuka Recycle Bin, semuanya bersih.

Selain itu tidak ada file penting lainnya, lebih banyak data tugas kampus, laporan-laporan dan folder lagu.

Tringg!

Ada email masuk, di apertemen ini punya wifi, sebuah email dari Yamanaka Ino, ini adalah dokter Yamanaka, segera membuka pesan email itu.

Sebuah foto undangan, undangan pernikahan, aku bisa melihat nama yang tertera disana, Yamanaka Ino dan Uchiha Sasuke, dokter Sasuke dan dokter Yamanaka akan menikah? Jadi apa dokter Yamanaka adalah istri dokter Sasuke? Tapi kenapa dokter Sasuke mengatakan jika istrinya pun lupa padanya? Mereka membuatku penasaran, dokter Yamanaka takut pada dokter Sasuke dan juga dia tidak menggunakan marga dokter Sasuke, seharusnya menjadi Uchiha Ino kan? Dokter Yamanaka tidak menggunakan cincin pernikahan, sedangkan dokter Sasuke menggunakannya, aku akan pusing jika terus memikirkan hubungan mereka.

Membaca sebuah pesan teks dibawah foto undangan itu.

Meskipun kau tidak datang, aku hanya ingin menyampaikan jika aku akan menikah dengannya, aku harap kau tidak marah padaku, kau juga ingin aku bahagia bukan? Aku sudah sudah berbicara pada Sasuke dan dia mau menerimaku. Aku harap kau menemukan pemuda yang lebih baik lagi, ayah dan ibu merindukanmu, mereka berharap saat kau kembali ke Konoha, kau sudah menjadi dokter yang sukses.

Aku hanya bisa menatap pesan itu dan tidak tahu harus membalas apa, anehnya rasa sakit menyerangku dan itu tepat pada dadaku, rasanya begitu sesak dan menyakitkan, saat di rumah sakit dokter Sasuke begitu peduli dan sangat baik padaku, bukannya dia janji akan segera kembali dan membawakan kue yang enak untukku? Sekarang aku malah berada di kota ini dan menjadi mahasiswa.

"Bangun, Sakura."

Suara ini, aku mendengarkan sebuah suara.

"Kau mendengarkanku Sakura?"

Kembali suara itu terdengar, seperti sebuah pantulan suara dan aku tidak tahu berasal dari mana.

"Jika kau melihat jendela yang terbuka, lompatlah dari sana."

Apa? kenapa kau harus lompat? Bukannya aku akan mati dan ini adalah lantai 4.

"Jangan bimbang Sakura, kau tidak tidak akan keluar jika ragu."

Melihat sekitar dan aku melihat satu jendela yang terbuka lebar, aku rasa disana tidak ada jendela, berjalan ke arahnya, apa aku harus lompat? Aku jadi takut, menengok ke bawah, ini sangat tinggi.

"Lompat, Sakura."

Suara itu terus memintaku untuk lompat, menaikkan satu kakiku pada pinggiran jendela itu, seseorang menarik kaki bajuku, menoleh dan aku kembali bertemu anak kecil itu, menjauh dari jendela dan menatap anak kecil itu.

"Kau, kau dari mana saja? Apa kau tidak terluka?" Ucapku, aku melihatnya berlari ke dalam kobaran api, memeriksa keadaannya dan dia baik-baik saja.

"Aku akan membantumu jika kau tetap disini." Ucapnya dengan suara yang terdengar imut itu.

.

.

TBC

.

.


updatee...~

akhirnya bisa update...~

ehem, beberapa hari yang lalu kesehatan memburuk dan bahkan sulit untuk bangun, jadinya nggak ketik ffn, nggak kerja (ijin sakit) dan lain-lain, pada akhirnya sembuh juga, terima kasih doa dan dukungannya, *hiks* jadi terharu. author akan mulai rajin update lagi. *semangat* meskipun masih batuk2. XD

dan terima kasih masih setia bica fic yang penuh misteri ini dan bikin bingung, tenang-tenang, semua akan ada penjelasannya, jadi nikmati aja pelan-pelan setiap misteri yang terungkap perlahan-lahan.

kali ini fic A dream yang update duluan, yang lain nyusul.

yah, hanya mau sampaikan itu saja.

.

.

See you next chapter.