Big Thanks To :

Babychickjojang | hopekies | Dimytjx | VashaDita127 | Mocinlee99 | ROXX h | anonym103 | kiyo | RinaPutry299 | rusacadel.

.

.

Johnny menatap aneh pada Jaehyun yang tengah menggembungkan pipinya itu. Dengan langkah pelan, Johnny berjalan mendekati sang kekasih dan mendudukkan dirinya di samping Jaehyun.

"Ada apa?" Tanya Johnny yang membuat Jaehyun tersentak kaget. Menolehkan kepalanya, Jaehyun menatap Johnny dengan kedua mata yang membulat. "Kau mengagetkanku hyung!" Seru Jaehyun seraya memukul bahu Johnny. Johnny hanya bisa tertawa kecil sebagai balasannya.

"Kau ini kenapa? Melamun terus dari tadi. Ada masalah?" Johnny kembali bertanya setelah menyelesaikan tawanya. Jaehyun mendesah pelan, ia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Johnny. "Kau lihat di sana hyung? Banyak sekali orang-orang yang berkencan dengan bebas. Aku ingin kita seperti mereka, tapi aku tahu, jika itu tidak mungkin.." Jaehyun menjawab dengan suara pelan.

Sinar mata Jaehyun yang meredup, menatap penuh keirian pada pasangan-pasangan yang berlalu lalang. Mereka ada di balkon dorm, jadi mereka dapat melihat apapun yang ada di luar sana. Johnny tersenyum tipis, ia lalu merangkul bahu Jaehyun dan membuat badan mereka menjadi lebih dekat satu sama lain.

"Aku mengerti akan perasaanmu, Jay. Tapi, kita harus bersabar, ini adalah konsekuensi yang harus kita terima demi mimpi kita yang sudah ada di depan mata. Kau juga harus yakin, bahwa suatu saat nanti, kita juga bisa seperti pasangan di luar sana."

Kedua mata mereka bertemu, Jaehyun mengangkat kepalanya dari bahu Johnny dan kembali menghela nafasnya sebelum menganggukkan kepalanya. "Iya hyung aku tahu. Lagipula, selama kita terus bersama, semua akan baik-baik saja bukan?" Jaehyun berujar dengan senyum yang menampilkan dimple manisnya.

"Of course Jeffrey. If we together, everything will be alright. Trust me," Johnny berkata dengan mata yang menatap dalam mata Jaehyun. "I trust you, Johnny hyung."

Jaehyun tidak bisa, untuk tidak kembali jatuh pada tatapan mata Johnny. Mata itulah, yang membuatnya merasakan getaran jatuh cinta sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata itulah yang membuatnya tidak bisa untuk mengalihkan pandangannya pada orang lain meskipun banyak orang yang silih berganti menemaninya. Mata itu juga yang membuatnya menangis saat mata itu tidak balas menatapnya. Dan mata itu juga yang saat ini tengah menatapnya begitu dalam dan penuh akan cinta. Jaehyun, tidak salah lihat 'kan?

"Jay," Jaehyun kembali ke dunia nyata saat tangan Johnny menyentuh pipinya lembut. Jaehyun mengerjapkan matanya begitu Johnny tersenyum padanya. "Maafkan aku. Aku belum bisa menjadi kekasih yang baik untukmu.." Johnny menunduk ketika mengatakan hal itu. Jaehyun pun menggeleng, Johnny itu amat sangat baik padanya. Johnny adalah yang terbaik untuknya. Menurut Jaehyun tentu saja.

"Kau ini bicara apa hyung? Kau itu yang terbaik untukku. Kau adalah kekasihku yang terbaik!" Jaehyun berkata dengan nada tegas, tangannya meraihnya tangan Johnny yang bebas dan menggenggamnya erat. Johnny mengangkat kepalanya, kembali bertatapan dengan mata Jaehyun dan membalas senyum yang masih berada di wajah Jaehyun.

"Terima kasih. Aku merasa sangat bodoh karena terlalu lama menyadari perasaanku padamu," Johnny membalas genggaman tangan Jaehyun. Saling bergenggaman tangan erat ditemani angin musim panas yang berhembus di sekitar mereka.

"Kau tidak perlu lagi memikirkan hal itu, hyung. Lihat sekarang? Yang pentingkan kita sudah bersama," Jaehyun terkekeh, kembali menyenderkan kepalanya di bahu Johnny dan matanya sekarang beralih untuk menatap langit malam di atas sana.

Johnny melirik Jaehyun sebentar, tangannya ia gunakan untuk mengusap rambut Jaehyun dan matanya ikut menatap langit malam yang gelap. Tidak ada satupun bintang apalagi bulan yang menemani mereka malam ini. Tapi mereka berdua yakin, meski tak ada bintang di atas sana, orang di samping mereka ini adalah bintang sesungguhnya untuk diri mereka masing-masing.

"Besok kita ke Tokyo, sudah mempersiapkan barang-barangmu, Jay?" Johnny bertanya, sebagai basa-basi untuk membunuh waktu di antara mereka. Malam sudah larut, namun tak ada satupun di antara keduanya yang ingin masuk ke kamar untuk tidur. Beruntung Taeyong dan Taeil tidak memarahi mereka. Kedua orang itu menganggap, karena Johnny dan Jaehyun baru saja menjalin hubungan, keduanya harus diberikan quality time. Meskipun dengan syarat, dilarang mengganggu member yang tengah beristirahat lewat apapun itu.

"Sudah hyung, kau sendiri?" Jaehyun balik bertanya. Matanya kini melihat pada Johnny, memperhatikan struktur wajah Johnny yang begitu tegas dan tampan. Johnny menoleh, bertemu tatap dengan mata Jaehyun dan menjawab, "Aku, belum."

"Ck, dasar pemalas!" Jaehyun berdecak, lalu berdiri dari duduknya dan diikuti juga oleh Johnny yang menatapnya dengan pandangan bingung. "Kau mau kemana?" Johnny bertanya dengan langkah kaki yang mulai berjalan mengikuti Jaehyun.

Jaehyun menoleh sekilas dan berkata, "Ke kamar. Membantumu bersiap."

Johnny tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar.

.

Doyoung menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti dentuman musik yang terdengar dari earphone yang ia kenakan. Tubuh Doyoung terdorong ke samping begitu Ten tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Doyoung melepas earphonenya, melirik Ten penuh tanda tanya begitu pemuda Thailand itu menyenderkan kepalanya pada bahu Doyoung.

"Kau kenapa?" Tanya Doyoung seraya mengelus rambut Ten. Ten mendongak, menatap Doyoung dengan mata besarnya sebelum mengerucutkan bibirnya. "Aku lapar Doyoung-ie~," adu Ten pada sang kekasih. Doyoung mengangguk, ia lantas memindahkan kepala Ten sebelum berdiri dan beranjak menuju dapur dorm.

Ten mengerjapkan matanya, menatap punggung Doyoung sebentar sebelum beranjak mengikuti Doyoung. Tiba di dapur, Ten dapat melihat Doyoung yang tengah menyiapkan sarapan untuk para member, terlebih dirinya. Ten melirik jam di dinding yang tak jauh dari tempat dirinya berdiri. Sudah jam tujuh lewat, dan penerbangan ke Tokyo sekitar tiga jam lagi. Jadi sebenarnya, masih cukup ada waktu untuk istirahat. Dan Ten heran kenapa Doyoung bangun begitu pagi dan memasak begitu cepat?

Ten berjalan mendekati Doyoung, memeluk pemuda Kim itu dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di punggung sang kekasih.

"Kau tidak lelah?" Suara Ten teredam di punggung Doyoung. Doyoung menggenggam tangan Ten setelah selesai menyiapkan sarapan untuk kekasihnya itu.

Doyoung lalu berbalik badan, menangkup wajah Ten untuk mendongak dan balas menatap wajah Doyoung. Ten mengerjapkan matanya beberapa kali membuat Doyoung tertawa karena perilaku imut sang kekasih. Doyoung lantas mencubit pipi Ten.

"Yakk! Sakit!" Ten menggembungkan pipinya sembari mengeratkan pelukannya. "Aku bertanya Doyoung-ie, kau tidak lelah?" Ten kembali mengulang pertanyaannya yang tak kunjung dijawab oleh Doyoung.

Doyoung tersenyum lebar, ia pun mengusap sayang pipi Ten, "Tidak. Untuk kalian, aku tidak akan pernah lelah. Terlebih ada dirimu Ten. Kau seperti vitaminku, kau tahu?"

Wajah Ten memerah, hingga dengan sadar, Ten mencubit pinggang Doyoung sebagai pelampiasan rasa malunya. "Auw, yakk!" Doyoung berseru kala rasa sakit di pinggangnya terasa begitu kuat.

Ten tak peduli, ia memilih melepas pelukannya pada Doyoung untuk duduk di kursi meja makan. Ten lantas mulai menyantap sarapannya tak mempedulikan jika member lain bahkan sang kekasih belum sarapan.

"Aku tidak mau ikut campur ya, jika Taeyong hyung dan Taeil hyung marah saat tahu kau sudah makan duluan," Doyoung berkata seraya mendudukkan dirinya di kursi sebelah Ten. Ten melirik sekilas, masih fokus dengan makannya sebelum akhirnya menelan makanan yang ada di mulutnya.

"Aku hanya tinggal bilang, jika Doyoung-ie yang memberikanku makanan. Aku 'kan hanya bilang lapar, belum bilang aku mau makan tapi kau sudah memberikanku makanan. Jadi, siapa yang salah di sini?" Ten mengangkat sebelah bibirnya membuat sebuah seringai tipis. Doyoung menghela nafas, dia memang tidak bisa menang jika melawan Ten. Meskipun dua-duanya jago berdebat, ada suatu alasan yang membuat Doyoung selalu kalah, atau lebih tepatnya mengalah pada pemuda mungil di sampingnya itu. Yaitu, cinta.

"Kalau begitu, cepat habiskan. Sebelum salah satu dari dua orang itu, atau malah member lain yang bangun. Kalau ada yang mengadu, bisa mati aku," Doyoung mengacak rambut hitam Ten gemas.

Ten tersenyum lebar sebelum menganggukkan kepalanya, "Siap Doyoung-ie hyung~"

.

Kini semua member NCT tengah berada di bandara untuk menuju Tokyo. Member NCT pun satu persatu mulai memasuki pesawat. Jaehyun mengedarkan penglihatannya, mencari sosok jangkung Johnny yang kini sudah duduk di kursinya dengan Taeil di samping pemuda jangkung itu.

Jaehyun menundukkan kepalanya, meremat pasport yang masih berada di tangannya sebelum berjalan menuju kursinya sendiri. Kursi yang berada di belakang kursi Johnny dan sudah ada Winwin yang duduk di sana. Jaehyun menghembuskan nafasnya pasrah seketika.

"Jaehyun-ie tunggu!" Taeil bangkit dari duduknya, menahan Jaehyun yang lewat dekat dirinya. "Kau duduk di sini saja. Aku yang akan duduk bersama Winwin," ujar Taeil seraya tersenyum manis.

Jaehyun terdiam, matanya melirik ke belakang Taeil untuk menemukan Johnny yang tengah tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya. Seolah mengiyakan perkataan Taeil.

"Baiklah, terima kasih sebelumnya, Taeil hyung," Taeil hanya balas tersenyum. Taeil menepuk bahu Jaehyun pelan sebelum pindah ke tempat yang seharusnya menjadi tempat Jaehyun. Jaehyun sendiri, berjalan mendekati Johnny. Duduk di sebelah pemuda Chichago itu sebelum menghembuskan nafasnya, lega.

"Pasti kau ya, yang meminta pada Taeil hyung untuk aku agar bertukar tempat duduk?" Jaehyun berbisik pada Johnny. Johnny hanya terkekeh kecil sebelum membalas, "Itu kemauan Taeil hyung sendiri. Dia tidak tega melihat wajahmu yang ditekuk saat melihat kami duduk berdua tadi. Makanya, dia ingin kalian bertukar tempat duduk agar kau bisa tersenyum lagi."

Jaehyun kemudian terdiam. Taeil sangat mengerti juga perhatian akan keadaan dirinya dan Johnny. Dan Jaehyun hanya dapat berdoa, semoga Taeil segera mendapat kebahagiaan yang seharusnya ia dapat sedari dulu.

"Dan di hotel nanti, aku ingin kita sekamar. Aku tidak menerima penolakan," bisik Johnny yang membuat wajah Jaehyun memerah entah karena apa.

"Dasar!"

.

Jaehyun merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal akibat terlalu lama duduk. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Johnny yang ternyata sudah berjalan terlebih dahulu dengan leader mereka, Taeyong. Jaehyun kembali menghembuskan nafasnya, ia pun meraih tasnya yang lalu ia gendong.

"Mereka ada obrolan penting, kau jangan lesu begitu dong, Jaehyun-ie," Tiba-tiba Yuta berjalan di sampingnya. Membuat Jaehyun berjengit kaget sebelum akhirnya dapat mengontrol ekspresinya.

"Aku, aku hanya-" Jaehyun menunduk. Mencoba mengatur emosi yang tiba-tiba menyerangnya. Ia kecewa, ingin marah namun juga tak tahu mengapa ia seperti ini.

"Aku mengerti perasaanmu kok Jaehyun-ie. Dan kau juga sudah tahu 'kan bagaimana sifat Johnny itu?" Yuta menepuk bahu Jaehyun, tersenyum manis yang membuat Jaehyun yang melihatnya menghela nafas pasrah dan menganggukkan kepalanya.

"Aku mengerti, hyung. Mungkin benar, menjadi kekasih Johnny hyung harus punya kesabaran lebih untuk sikap tidak pekanya dia," Jaehyun terkekeh di akhir kalimat yang dibalas kikikan geli oleh Yuta.

"Kau tahu benar hal itu, Jaehyun. Dan ku harap, kau dapat berhati-hati setelah ini."

Jaehyun mengernyitkan dahinya, merasa bingung dengan kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Yuta.

"Apa maksudmu, hyung?"

"Karena tadi, kalau aku tak salah dengar, mereka sedang membicarakan hal yang 'iya-iya' saat Johnny bertanya hal apa yang harus ia berikan padamu untuk month anniversarry kalian nanti."

Jaehyun membeku. Belum lagi tawa Yuta yang terdengar ditambah kedipan mata itu, membuat Jaehyun benar-benar kehilangan jiwanya. Berlebihan.

.

Jaehyun membungkukkan badannya ketika para sunbaenya lewat di hadapannya. Acara SM Town Concert in Tokyo, sudah selesai sejak beberapa menit lalu. Namun, dirinya juga member lain belum berniat untuk kembali ke hotel. Apalagi Johnny yang memintanya untuk menunggu pemuda blasteran itu selesai acara ini.

"Jay," Jaehyun menoleh ke arah kanannya begitu Johnny berjalan menghampirinya. Jaehyun tersenyum lalu membiarkan dirinya dirangkul oleh Johnny sebelum keduanya berjalan keluar dari backstage.

"Kita kemana, hyung?" Tanya Jaehyun sembari memperhatikan sekitarnya. Takut jika ada beberapa orang yang menatap mereka aneh maupun takut ada sasaeng fans yang mengikuti dan mencelakakan mereka. Dan lebih takut lagi adanya media yang nantinya akan menyebarkan berita-berita tak bermutu yang dapat menghancurkan karir mereka. Meskipun itu sebuah fakta.

"Kembali ke hotel," Johnny menjawab dengan santai. "Tapi kita berjalan saja, aku ingin melihat-lihat suasana kota Tokyo pada malam hari," sambung Johnny seraya melirik Jaehyun yang menatapnya.

"Kau tidak takut hyung?" Jaehyun kembali bertanya seraya masih menatap Johnny. Johnny tersenyum lebar, "Untuk apa aku takut. Jikapun nanti ada apa-apa, yang penting aku bersamamu. Dan tenang saja, aku akan selalu melindungimu."

Jaehyun mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan intens Johnny yang mengarah tepat pada wajahnya. Kemudian langkah keduanya berhenti. Berhenti di sebuah toko mainan yang sudah tutup dan jalan di sekitar mereka sepi. Jaehyun merinding seketika.

Johnny menggenggam kedua tangan Jaehyun yang berhasil membuat perhatian Jaehyun kembali kepadanya. Jaehyun meneguk ludahnya gugup begitu Johnny menatap dalam matanya.

"Aku mencintaimu," ujar Johnny seraya mengusap pipi Jaehyun. Jaehyun menggigit bibir bawahnya ketika Johnny kembali meneruskan ucapannya, "Maaf karena aku belum bisa menjadi kekasih yang baik untukmu. Tapi aku berusaha menjadi yang lebih baik. Dan mulai sekarang, berjanjilah jika kau akan membantuku. Mulai sekarang, katakan saja jika kau marah, cemburu atau kau menginginkan apapun. Maka aku akan memberikannya padamu. Karena aku juga ingin mengerti dan memahamimu, bukan hanya dirimu, Jaehyun-ie."

Jaehyun lantas menganggukkan kepalanya, "Aku mengerti hyung. Aku berjanji akan membantumu. Aku juga berharap kita bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Meskipun itu butuh waktu, tapi berjanjilah kau akan lebih memperhatikan orang lain hyung, terlebih aku."

Johnny tertawa kecil, ia lantas menarik Jaehyun ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Jaehyun pun membalas pelukan itu. Menyembunyikan wajahnya di dada Johnny dan memeluk erat Johnny.

"Aku mencintaimu, dan terima kasih telah mencintaiku."

.

.

TBC

.

.

A/N

Harusnya diupdate minggu kemarin, tapi belum selesai karena kesibukan yang menggunung (juga ide yang tiba-tiba ilang), jadi baru bisa diselesaiin hari ini (sok sibuk).

Chap ini gimana? Udah kan ya, JohnJaenya. Maaf nggak bisa bikin yg manis, habisnya setiap mikirin mereka Wi kepikirannya yg sendu-sendu mulu. Maaf juga DoTennya sedikit.

Chap depan enaknya siapa ya?

Wi!