Author Notes :

Yay besok promnight! Doakan lancar ya! (panitia gitu makanya pengen hasilnya bagus)

Ini update terakhir untuk minggu ini karena weekend aku mau pergi ke luar kota, jadinya gak bakal sempet buat nulis-nulis.

Harap sabar menunggu chapter selanjutnya ya, readers :)

Bytheway, gimana selanjutnya hubungan si Emospada dan gadis berambut orange itu?

Cari tau yuk! Selamat membaca chapter 12 dan jangan lupa review ya… *nyengir*

Disclaimer :

Bleach punya Tite Kubo. Sudah jelas anak-anak?


Chapter 12

Awkward Relationship

Seminggu berlalu semenjak hari ulang tahun tak terlupakan bagi Orihime. Malam itu, dirinya bagaikan seorang Cinderella, bintang utama pesta ulang tahun pertama di Las Noches yang selalu suram ini. Siapa yang pernah menyangka, bahwa ketiga belas jajaran atas penghuni Las Noches itu, akan memperlakukan seorang tahanan seperti Orihime, dengan istimewa?

Malam itu, malam yang takkan terlupakan.

Orihime menyantap makanannya siang itu. Mata abu-abunya memandangi penjaga setianya yang berdiri tak jauh darinya. Ulquiorra bersandar di perbatasan kamar dan balkon. Kedua tangannya dilipat di depan dada dan mata emerald itu, menangkap basah pandangan Orihime.

"Apa ada yang aneh denganku, Orihime?" Ulquiorra bertanya pada gadis itu.

Wajah Orihime sontak memerah. "T-tidak apa-apa, Ulquiorra…"

Orihime melanjutkan makan siangnya. Ulquiorra tetap setia mengamati gadis itu.

Pikiran Ulquiorra melayang jauh. Seminggu yang lalu, di tempat ini, dia mencium gadis itu. Entah apa yang merasuki dirinya sehingga melakukan itu pada Orihime. Melihat sosok gadis itu, tampak bersinar bak seorang dewi di bawah sinar bulan, membuat otak Ulquiorra seakan kehabisan oksigen.

'Mengapa aku melakukannya?' pertanyaan itu selalu muncul di kala Espada keempat itu teringat akan kejadian lalu.

Bibirnya masih bisa merasakan rasa manis saat kedua bibir mereka bertemu. Ulquiorra memaki dirinya sendiri saat merasakan lubang Hollownya kembali berdenyut keras.

'Apa yang sedang terjadi pada tubuhku…?' Ulquiorra memegang dahinya, seakan kehabisan akal untuk berpikir.

Diam-diam Orihime melirik Ulquiorra. Semenjak malam itu, tak henti-hentinya batinnya bertanya pada diri sendiri, apakah gerangan yang telah terjadi. Malam itu, hanya di malam ulang tahunnya itu Ulquiorra benar-benar berbeda dari biasanya.

Mata abu-abunya tertuju pada bibir Ulquiorra.

'Bibir itu… menciumku malam itu…'

Ya, malam itu Orihime mendapatkan ciuman pertamanya. Ciuman yang seperti dalam mimpi. Terasa lembut, hangat dan… takkan pernah terlupakan.

Cuatro Espada yang dingin itu, ternyata… hangat.

Setelah kejadian itu, tidak ada satu pun hal yang berubah di antara mereka. Ulquiorra tetap melaksanakan rutinitasnya seperti biasa. Orihime tidak berani mengungkit kejadian itu dengan Ulquiorra. Memandang mata emerald Ulquiorra lebih dari lima detik, langsung membuat Orihime teringat akan ciuman itu.

Mengapa Ulquiorra mencium Orihime? Bukankah Cuatro Espada itu mengatakan padanya, kalau dia tidak memiliki 'hati'?

Apa mencium seseorang itu… harus memiliki hati dahulu sebagai syarat?

Apa mungkin… Cuatro Espada itu… memiliki perasaan tertentu pada-

Semburat merah kembali menghiasi pipi Orihime. 'A-apa yang kamu pikirkan, Orihime!'

"Kamu sudah selesai?" suara Ulquiorra membuyarkan lamunan Orihime.

Orihime buru-buru melihat piring di pangkuannya. Untunglah sudah habis tanpa sisa.

Cuatro Espada kembali memasukkan tangannya ke saku celana dan melangkah maju mendekati Orihime lalu duduk di sofa bersama gadis itu. Orihime bisa merasakan jantungnya kembali berdebar keras.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Ulquiorra bertanya tanpa memandang gadis itu.

"… umm, berbagai macam hal," jawab Orihime sambil meletakkan piring makannya di meja.

Alis Ulquiorra mengkerut, tidak puas akan jawaban Orihime. "… misalnya?"

Orihime menundukkan kepalanya. "Salah satunya tentang kehidupanku saat ini."

Ulquiorra menoleh, mata emeraldnya terkunci pada sosok gadis berambut orange itu.

"Aku… sebelumnya tidak pernah menyangka bahwa kehidupanku akan seperti ini. Setelah kamu mengajakku untuk pergi ke Las Noches dan meninggalkan teman-temanku… awalnya aku mengira hidupku sudah selesai…" Orihime mulai berkata.

Orihime memberanikan diri untuk memandang mata emerald itu.

"… tapi setelah aku menjalani kehidupanku di sini… aku merasakan sesuatu yang baru, yang tidak pernah aku rasakan saat di kota Karakura."

"Apa itu, Orihime?" tanya Ulquiorra.

"Bersahabat dengan kalian semua. Rasanya sangat berbeda dengan persahabatanku sebelum-sebelumnya. Kalian… memiliki sesuatu yang membuatku… merasa aman."

Secara tidak langsung, pernyataan itu khusus ditujukan untuk Ulquiorra, bukan?

"… bersahabat? Apa bedanya dengan 'pertemanan' yang dulu pernah kamu katakan padaku?" Ulquiorra tidak paham akan hal ini, tentu saja.

Orihime harus menahan dirinya sendiri agar wajahnya tidak memerah ketika mata emerald itu memandangnya serius.

"Sahabat itu berbeda dengan teman, Ulquiorra. Jika sahabat, mereka akan selalu ada di saat kamu susah ataupun senang. Mereka selalu ada untukmu, bagaikan belahan jiwamu yang lain. Kita dan sahabat akan saling berbagi dan bisa merasakan satu sama lain," jawab Orihime.

"… aku mengerti," Ulquiorra kemudian mengangguk.

"Umm, eh… Ulquiorra?" gadis berambut orange itu langsung merasa tegang.

"Hmm?"

"M-malam itu m-m-mengapa… kamu m-men-menciumku?" tanya Orihime terbata-bata, dan kali ini memilih untuk menundukkan kepalanya.

Ulquiorra positif kalau wajah pucatnya mulai memerah sekarang. Duh, mengapa gadis ini menanyakan hal yang sensitif seperti itu?

"Aku…" Cuatro Espada seakan kehilangan kata-kata. Harus menjawab apa?

Jantung Orihime berdebar. Apa yang akan dikatakan Ulquiorra?

"… hanya terbawa suasana," jawab Ulquiorra.

Mata abu-abu Orihime melebar. Apa dia sedang bercanda? Itu… hal yang 'sakral' seperti itu… Hanya karena terbawa suasana?

"H-hanya itu?" Orihime bertanya pelan. Mengapa hatinya terasa sedih saat Ulquiorra mengatakannya?

"Hanya itu."

Seakan ada orang yang menyayat tubuhnya dengan pisau, Orihime bisa merasakan sakit. Ya, untuk apa berharap kalau ciuman itu berarti penting bagi Ulquiorra?

Itu sesuatu yang tidak mungkin, bukan…?

Tapi mengapa…

"Oh," jawab Orihime lemah. Gadis itu merasakan air mata mulai menggenangi matanya. Duh, dia paling benci terlihat lemah di depan Cuatro Espada.

Orihime segera berdiri dan berjalan menuju balkon. Ulquiorra tidak boleh sampai melihat air matanya ini.

Ulquiorra mengerutkan alis. 'Mengapa… nada suara Orihime terdengar… begitu lemah?'

Orihime menutupi sebelah matanya dengan tangan, sekaligus menghalangi Ulquiorra untuk memandang wajah gadis itu. Orihime terlihat gemetar. Ada yang tidak beres, tapi mengapa gadis itu justru memilih memandang keluar?

"Orihime," panggil Ulquiorra.

Orihime tidak menjawab.

Ulquiorra menghela nafas kemudian berjalan mendekati gadis berambut orange itu. Orihime tetap teguh pada pendiriannya untuk membuang muka.

"Orihime, lihat aku."

"… maaf, b-bisakah kamu meninggalkanku sendiri?" Orihime sungguh membenci dirinya sendiri yang sekarang mulai menangis.

Yang benar saja!

"Kamu sedang menangis, aku tidak bisa membiarkanmu sendiri," jawab Ulquiorra.

'Kamu tidak tahu karena apa aku menangis, Ulquiorra…' Orihime membalas dalam hati. Cuatro Espada itu tidak tahu, dan pasti tidak akan peduli.

"Tinggalkan aku sendiri, kumohon." Orihime berkata lagi dan kali ini membuat Ulquiorra semakin bingung.

"… kamu marah padaku?" Ulquiorra menebak.

Orihime terpaku untuk beberapa detik, kemudian buru-buru menghapus air matanya. Gadis itu tersenyum pada Ulquiorra. Senyum yang dipaksakan.

"T-tentu tidak, Ulquiorra. Untuk apa aku marah… padamu?" Orihime kali ini tertawa.

'Kumohon, tinggalkan aku sendiri, Ulquiorra… aku tidak bisa kalau harus memandangmu. Aku… merasa sakit saat melihatmu…'

Tiba-tiba Ulquiorra mendorong tubuh gadis itu ke dinding kamar dan Cuatro Espada itu meletakkan kedua tangannya di samping kepala Orihime, seakan-akan mengurung gadis itu. Mata emerald itu memandangnya dingin.

"Jangan membohongiku," kata Ulquiorra datar.

Orihime, entah mengapa merasa ketakutan saat mata emerald itu memandangnya tajam.

"… kamu marah padaku, Orihime." Ulquiorra sedang membuat pernyataan.

"A-aku tidak marah padamu, sungguh…" Orihime menundukkan kepalanya lagi.

Ulquiorra mengangkat dagu Orihime dengan jemarinya, memaksa mata abu-abu itu untuk memandangnya. "Lihat? Kamu marah padaku sampai tidak mau melihatku, seakan aku sesuatu yang sangat mengesalkan."

Orihime menggeleng. "B-bukan begitu…"

"Lalu apa?"

"Aku hanya kesal pada diriku sendiri… k-karena..." Orihime berkata pelan.

Ulquiorra mendengarkan gadis itu berkata, namun pandangannya teralih pada bibir mungil di hadapannya itu. Bibir itu…

'Ulquiorra Schiffer, kendalikan dirimu!' Ulquiorra memaki dirinya sendiri.

"… itu ciuman pertamaku…" wajah Orihime memerah, "… kamu mungkin tidak mengerti… tapi bagi seorang gadis, ciuman pertama memiliki arti yang penting…"

"Oh. Dan kamu menyesal karena aku telah merebut ciuman pertamamu?" Ulquiorra berkata dingin. Pernyataan dari Orihime tadi terdengar kalau gadis itu… menyesal.

"T-tidak! Aku t-tidak menyesal… k-k-karena… aku melakukannya denganmu."

Mata emerald Ulquiorra melebar. Apa yang sudah dikatakannya?

'Bodohnya kamu, Orihime!' Dengan mudah gadis itu berhasil mempermalukan diri sendiri, bagus.

"Lupakan saja p-perkataanku tadi, Ulquiorra!" Oh Tuhan, Orihime ingin menyembunyikan wajahnya sekarang.

Mulut Orihime menganga saat mendegar sebuah suara asing.

Ulquiorra tertawa.

"U-Ulquiorra?" Orihime bingung, mengapa Cuatro Espada itu tertawa? Apa karena keadaan dirinya sangatlah memalukan?

"Jadi karena itu kamu marah? Ha…" Ulquiorra menahan tawa lagi. Orihime sungguh gadis yang jujur. Kadang ini membuatnya gemas.

Jika bisa, Orihime ingin membenamkan wajahnya di bantal tempat tidurnya sekarang. Jika perlu, memakai topeng pemberian Aaroniero seumur hidupnya. Betapa memalukannya!

Tangan Ulquiorra sudah tidak berada di samping kepala Orihime lagi karena Cuatro Espada itu menggunakannya untuk menutupi mulutnya. Orihime menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari Ulquiorra.

Diambilnya topeng pemberian Aaroniero yang diletakkannya di lemari kaca. Ulquiorra, tetap sambil menahan tawa kemudian melangkah menuju pintu kamar Orihime.

Pemilik Shun Shun Rikka itu baru akan mengenakan topeng unik itu sampai dia mendengar Ulquiorra berbicara.

"… sebenarnya itu juga ciuman pertamaku."

Kemudian Orihime mendengar suara pintu kamar ditutup.

APA?


Sesuatu yang hangat itu kembali menjalar di lubang Hollownya. Perasaan apa ini, mendengarnya berkata bahwa itu adalah ciuman pertamanya…

'… dan itu juga ciuman pertamaku,' kata Ulquiorra dalam hati.

Ulquiorra tidak bisa menahan rasa geli yang melandanya sekarang. Betapa polos dan jujurnya gadis itu. Sungguh menggemaskan.

Cuatro Espada melangkahkan kaki di koridor menara kelima tersebut. Menara ini spesial dari menara lain karena di tempat ini pula kamar Aizen, Gin serta Tousen berada. Tidak sembarang Arrancar bisa pergi ke menara ini.

Suara langkah yang sangat keras terdengar dari ujung koridor, dan makin menghampiri sosok Espada keempat itu.

"Ulquiorra!"

Ulquiorra membalikkan badannya. "Ada apa, Aaroniero?"

Novena Espada itu, jarang sekali berlari menghampiri dirinya seperti ini. Aaroniero akhir-akhir ini selalu muncul dengan wujud Kaien Shiba, yang diklaimnya sebagai wujud yang lebih praktis. Menurut perkiraan Ulquiorra, Aaroniero melakukannya karena bosan beradu argumen dengan kepala yang satu lagi.

"… kamu menganggur? Jika iya, ayo kita semua berkumpul," Aaroniero tersenyum nakal, senyum khas Kaien dan Ichigo.

Mata emerald Ulquiorra memandang Aaroniero bosan. "Haruskah?"

Aaroniero menekuk wajah. "Duh, ayolah! Sudah lama kita tidak berkumpul, mengingat Grimmjow dan Nnoitra baru saja kembali dari misi!"

Mendengar nama Espada berambut biru itu, Ulquiorra merasa kesal.

"Ayolah, Ulquiorra! Apa aku perlu mengajak Orihime?" tanya Aaroniero.

'Orihime? Tidak, jangan sekarang, Novena!' Ulquiorra sedang tidak ingin bertemu gadis itu dalam waktu dekat, mengingat apa yang barusan terjadi di kamar Orihime.

"Tidak perlu, Aaroniero. Baiklah, aku akan ikut berkumpul," Cuatro Espada itu menjawab dan menghela nafas.

Espada kesembilan itu kemudian merangkul Ulquiorra. "Yes! Kalau begitu ayo segera ke kamarmu!"

Mata emerald Ulquiorra melebar. "Tunggu, mengapa ke kamarku?"

"Karena kamarmu adalah tempat yang nyaman, Ulquiorra! Lagipula, Espada yang lain tidak keberatan!" jawab Aaroniero, diiringi dengan tawa.

"Siapa yang mengusulkan pertama kali agar kita berkumpul di kamarku?" dari nada bicara Ulquiorra kali ini, terdengar jelas kalau Espada pucat itu sedikit kesal. Lagi-lagi, di kamarnya…

"Grimmjow."

Ulquiorra menghela nafas. 'Sudah kuduga.'


"Aku sudah membawa Ulquiorra!" Aaroniero berteriak senang setelah dia membuka pintu hijau kamar Cuatro Espada.

Ulquiorra tanpa ekspresi memasuki kamar. Walaupun Aaroniero tetap merangkulnya, dia tidak peduli. Kesal bukan main.

Mata emeraldnya melebar saat melihat kondisi kamarnya yang nyaman itu… lagi-lagi berantakan. Jika dulu berantakan karena persiapan membungkus kado, kali ini berantakan karena...

Buku berserakan di lantai, dalam kondisi yang beraneka ragam. Terbuka dan tertutup.

Bantal dan cushion tergeletak menemani buku-buku tersebut.

Berbagai macam botol dan bungkus makanan… memenuhi meja kecil di ruangan tersebut.

Dan yang membuat Ulquiorra kesal adalah sosok para Espada yang diyakininya, benar-benar menganggap ruangan ini adalah ruangan milik mereka.

"Emospada sudah datang!" Grimmjow melompat turun dari atas rak buku, membuat beberapa buku terjatuh dari rak dan mengenai kepala Szayel.

Espada berambut pink menggeram kesal kemudian melempar bantal yang ada di dekat kakinya ke arah Grimmjow. Sialnya, justru mengenai wajah Ulquiorra.

"Ups. Maafkan aku, Ulquiorra!" Szayel dengan senyum manisnya justru membuat Cuatro Espada itu makin kesulitan menahan emosinya.

Ulquiorra memegang bantal yang tadi mengenai wajahnya itu. Jika dia menghancurkan bantal tersebut apakah semua Espada akan pergi dari kamarnya? Ulquiorra tidak yakin.

Yammy dan Nnoitra tertawa sangat keras. Ulquiorra mendapati dua Espada itu sedang menggambar sesuatu di kertas. Espada pucat itu tidak peduli apa yang sedang digambar oleh Cero dan Quinto Espada, yang dia tahu adalah suara tawa tersebut cukup mengesalkan.

Barragan tertidur di sofa milik Ulquiorra. Zommari bermeditasi di dekat jendela, tapi melihat kepala Septima Espada itu mulai terangguk-angguk, sudah jelas kalau Zommari sekarang sedang tidur. Dua Espada ini mengagumkan, bisa-bisanya mereka tertidur di antara keramaian yang bahkan mendekati kegilaan seperti ini?

Starrk dan Hallibel tidak tidur dan mereka berdua duduk di lantai berkarpet tersebut. Perut Ulquiorra terasa geli saat melihat sepasang kekasih itu sedang asyik… bermesraan? Ulquiorra yakin betul kalau tangan Starrk sedang menggenggam tangan Tercera Espada.

"Aku butuh penjelasan." Ulquiorra berkata datar.

Szayel meletakkan kembali buku yang sedang dibacanya di rak buku. "Penjelasan apa, Ulquiorra?"

Ulquiorra melangkah ke tengah ruangan dan berdiri di dekat Yammy. "Mengapa lagi-lagi di kamarku?"

Espada bermata emerald itu masih ingat malam dimana mereka semua berkumpul di sini untuk membungkus kado. Berantakan bukan main saat semua kado sudah terbungkus rapi. Ujung-ujungnya, Ulquiorra-lah yang membersihkan semua sampah di ruangannya itu, karena Espada yang lain keburu kembali ke kamar mereka sambil membawa kadonya masing-masing.

"Kamarmu yang paling nyaman! Hanya itu alasannya!" Grimmjow berdiri di samping Ulquiorra. Seringaian nakal menghiasi wajahnya.

Jika ini bukan di kamarnya, Ulquiorra pasti sudah menembak Sexta Espada itu dengan cero.

"Jadi apa tujuan kita berkumpul hari ini? Apa hanya ingin menghabiskan waktu dengan tindakan tidak berguna seperti ini?" Ulquiorra bertanya pada Grimmjow, mata emeraldnya memandang Espada berambut biru itu dingin.

"Bukan itu, kelelawar! Aku hanya ingin menyampaikan laporan misiku dan Nnoitra tempo hari. Kalian pasti menyukainya!" jawab Grimmjow bersemangat.

Nnoitra kali ini menyeringai. "Ya, itu benar, Ulquiorra! Misi kami ke Hutan Menos tempo hari sungguh di luar dugaan!"

Szayel menaikkan kacamatanya. "Memang ada apa di Hutan Menos?"

"Selama ini yang kita tahu, di Hueco Mundo ini hanya ada pasir saja bukan?" Grimmjow bertanya pada semua rekan Espadanya.

"Bukankah memang begitu?" tanya Barragan yang entah sejak kapan terbangun dari tidurnya.

"Oh tidak, kalian salah! Aku dan Nnoitra menemukan tempat yang menarik di Hutan Menos! Tidak berisi pasir semata!" jawab Grimmjow.

Ulquiorra mengamati Grimmjow yang tampak antusias itu. Ini mengingatkan Ulquiorra pada sosok Orihime…

'Duh, mengapa tiba-tiba memikirkan gadis itu?' Espada bermata emerald memaki dirinya sendiri.

"Jauh di dalam Hutan Menos, ternyata ada tempat yang tidak kalah indah dengan taman buatan Aizen-sama," Nnoitra menambahkan perkataan Grimmjow, "… memang aneh jika mengingat di tempat suram seperti Hueco Mundo ini terdapat tempat seindah itu."

Octava Espada mulai mengeluarkan catatannya, dan menulis dengan cepat.

"Apakah tempat tersebut indah… maksudku, indah sesuai dengan penafsiran kami, Grimmjow?" tanya Hallibel.

"Tentu saja! Jika tidak, untuk apa aku memberitahu kalian semua?" Grimmjow menyeringai.

Oke. Cukup sudah.

"Lalu sekarang apa yang kamu inginkan dari kami, Sexta?" Ulquiorra bertanya tanpa nada.

Grimmjow merangkul Ulquiorra, membuat Cuatro Espada itu merasa jijik. Akhir-akhir ini Grimmjow sering sekali merangkulnya, yang Ulquiorra yakini pasti memiliki maksud tersendiri. Ada udang di balik batu?

"Ayolah. Kita semua pergi ke sana. Mari kita memohon pada Aizen-sama agar diberi hari libur… untuk bersantai," Espada bermata sapphire akhirnya mengatakan tujuan utamanya berkumpul di sini.

Ulquiorra menghela nafas. 'Sudah kuduga.'

"Hei, itu bukan ide yang buruk, Grimmjow. Aku juga bosan berada di Las Noches terus menerus," kata Starrk.

Zommari bangun dari 'meditasi'nya lalu ikut menjawab, "Aku setuju."

"Bagaimana, kakek? Tertarik?" Grimmjow bertanya pada Barragan.

Barragan merenggangkan ototnya kemudian menghela nafas. "Aku tidak pernah tahu ada tempat seperti itu di dalam Hutan Menos. Aku ingin tahu."

"Pasti ada banyak hal baru di tempat itu. Aku ikut denganmu, Grimmjow." Senyum scientist Szayel akhirnya muncul. Senyum yang bisa membuat Ulquiorra sedikit merinding karena menyeramkan.

"Aku merindukan teman-teman Gillian-ku! Aku ikut!" Aaroniero bersorak seperti anak kecil.

"Aku ingin bersantai!" Yammy kemudian tertawa.

"Hmm… kalau Starrk ikut, aku ikut…" jawab Hallibel tenang.

Mata emerald Ulquiorra melebar. 'Yang benar saja!'

"Tinggal kamu yang belum menjawab, Emospada..." pandangan Grimmjow sekarang beralih pada Espada pucat di dekatnya, yang masih dirangkulnya.

Jika dia pergi… dan semua Espada juga pergi… siapa yang akan menjaga Orihime?

Apa gadis itu akan aman di Las Noches, seorang diri?

"Bagaimana…" Ulquiorra tiba-tiba berkata.

"Hah?" Sexta Espada tidak mengerti.

"… dengan Orihime?" Ulquiorra bertanya pelan. Sialnya, tepat saat dia berkata, ruangan sunyi senyap.

Mata hijau cerah Hallibel langsung memandang Cuatro Espada itu. Hallibel sudah mengerti apa maksud perkataan Ulquiorra.

"Aha~ Kamu khawatir dengan Pet-sama…" Grimmjow membuat sebuah pernyataan.

Nnoitra dan Yammy langsung menyeringai mendengar perkataan Grimmjow barusan. Espada stoic itu mengenal kata 'khawatir'?

"A-apa maksudmu, Grimmjow…?" Ulquiorra bisa merasakan wajahnya mulai panas.

'Kena kau, Ulquiorra!' Grimmjow berteriak senang dalam hati.

"… Cuatro Espada kita mengkhawatirkan tuan putri," Starrk berkata datar tapi sangat mengena.

Apa wajah pucat Ulquiorra sudah berubah warna?

Grimmjow makin mendekatkan diri pada Ulquiorra, mempererat rangkulannya agar Ulquiorra tidak bisa kabur, "Akuilah itu, Emospada. Sangat jelas sekali."

Ya, wajah pucatnya kali ini memerah.

'Kucing sialan…!' Ulquiorra ingin sekali memukul wajah Grimmjow, atau jika bisa menghancurkan topeng Hollow yang ada di wajah Sexta Espada itu.

"Ulquiorra, wajahmu memerah! Apa sekarang kamu menyukai Pet-sama?" Nnoitra kali ini ikut-ikutan menggoda Ulquiorra.

"… b-bukan begitu…!" Cih, Ulquiorra tidak suka untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan Orihime, karena tiap topik itu muncul, dia selalu teringat tentang malam dimana dia mencium Orihime.

"Oh ya?" Grimmjow makin senang dengan reaksi Ulquiorra. Duh, wajah merah itu sungguh langka! Andaikan saja dia memiliki kamera seperti manusia di dunia nyata, pasti dia sudah mengabadikannya.

"Lepaskan aku, Sexta!" Ulquiorra makin tidak nyaman karena Grimmjow terus mendesaknya.

"Aku lepaskan kalau kamu setuju dengan rencana 'liburan' yang aku ajukan tadi," jawab Grimmjow.

'Cih, tidak ada pilihan lain…'

"Baiklah, aku setuju…" Ulquiorra mengaku kalah dengan tawaran dari Grimmjow itu.

"Kalau kamu khawatir dengan Orihime, bagaimana kalau kita juga mengajaknya kesana, Ulquiorra?" Szayel menyarankan.

"Memangnya Aizen-sama mengizinkan?" Barragan terdengar ragu, "… Hutan Menos bukan tempat yang aman untuk manusia seperti dia."

"Barragan, apa kamu lupa? Tentu saja aman karena Orihime akan bersama dengan sepuluh Espada sekaligus. Apa masih ada Adjuchas dan Gillian, atau mungkin Vasto Lorde yang berani mendekati Orihime?" Hallibel menjawab pertanyaan Segunda Espada itu.

Hallibel benar. Lebih aman jika Orihime pergi bersama para Espada daripada seorang diri di Las Noches.

"Ulquiorra, itu tugasmu untuk memohon pada Aizen-sama," entah mengapa Grimmjow langsung menyuruh Espada keempat tersebut.

"Mengapa harus aku?" tanya Ulquiorra, mata emeraldnya tampak kesal.

"Karena kamu adalah Espada yang ditugasi oleh Aizen-sama untuk menjaga Pet-sama! Jika kamu yang memohon pasti Aizen-sama akan mengizinkannya!" jawab Grimmjow.

Perkataan Grimmjow itu masuk akal juga.

Aizen-sama paling mempercayai Ulquiorra daripada Espada lainnya mengenai Orihime.

Jika penguasa Hueco Mundo itu mempercayainya untuk menjaga Orihime selama di Hutan Menos, mengapa tidak? Lagipula, ada sembilan Espada lain yang juga ikut menjaga pemilik Shun Shun Rikka itu.

Ulquiorra menghela nafas. "Baiklah."

"Yes! Sudah seharusnya begitu!" Espada bermata sapphire berkata dengan puas.

"Ngomong-ngomong, Grimmjow…" Ulquiorra berkata dengan datar.

"Hmm?"

"Lepaskan aku. Sampai kapan kamu mau merangkulku?"


Mengajak Orihime ke Hutan Menos?

Sebenarnya itu bukan ide yang buruk. Lagipula, Grimmjow mengatakan bahwa dia dan Nnoitra baru saja menemukan tempat yang indah. Apa salahnya jika gadis itu juga ikut menikmati keindahannya?

Ulquiorra menghela nafas.

'Apa Aizen-sama akan mengizinkan? Orihime akan pergi bersama kami, para Espada dan yang pasti akan jauh darinya…'

"Ada apa Ulquiorra? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu," suara Aizen membuyarkan lamunan Ulquiorra.

Ulquiorra buru-buru memandang penciptanya tersebut. Mata coklat Aizen menatapnya heran. Jarang sekali Ulquiorra seperti ini, di saat rapat Espada sedang berlangsung.

Orihime yang duduk di sebelah Aizen, juga ikut menatapnya bingung. Mata abu-abu itu kemudian bertemu dengan mata emeraldnya, membuat gadis berambut orange itu langsung membuang muka. Orihime masih malu mengingat kejadian kemarin saat dia mengakui sesuatu… tentang ciu-

'Hentikan Orihime! Berhenti memikirkan hal itu!' pemilik Shun Shun Rikka kembali memaki dirinya sendiri.

"Sebenarnya, Aizen-sama…. Grimmjow dan Nnoitra menemukan tempat yang indah di dalam Hutan Menos," kata Ulquiorra.

Grimmjow yang duduk di seberang Cuatro Espada itu, hanya menyeringai seakan berkata 'Ayo cepat katakan!'

"… lalu?" tanya Aizen.

"Jika anda mengizinkan, Aizen-sama… kami bersepuluh ingin pergi ke tempat tersebut," jawab Ulquiorra.

Alis coklat Aizen terangkat. Jarang sekali sepuluh Espada kesayangannya itu ingin pergi bersama. Ada apa gerangan?

"Aizen-sama, para Espada sepertinya ingin minta liburan," Gin menimpali permintaan Ulquiorra, diiringi senyum kecil.

"Hmm…" Aizen seperti sedang berpikir, kemudian pandangan matanya jatuh pada Orihime, "… bagaimana dengan Orihime?"

"Itu…" entah mengapa Ulquiorra seakan ragu untuk mengatakannya karena dia masih khawatir jika Orihime pergi ke Hutan Menos.

Grimmjow, kakinya yang berada di bawah meja menendang kaki Ulquiorra. Espada pucat itu harus menahan sakit karena tendangan tadi tepat mengenai tulang keringnya.

'Kucing biru sialan…' Ulquiorra membatin, dipandanginya Espada berambut biru di hadapannya dengan dingin.

Grimmjow memandang balik Ulquiorra, dengan pandangan berapi-api. Cuatro Espada itu bisa melihat percikan api yang terpancar dari mata sapphire itu. Grimmjow sudah tidak sabar untuk mendengar Ulquiorra mengatakan jawaban sebenarnya.

"… Orihime, dia bisa ikut bersama kami, Aizen-sama…" Ulquiorra memandang lurus pada mata coklat Aizen.

Aizen menghela nafas. "… kamu tahu Hutan Menos itu seperti apa, Ulquiorra…"

Starrk yang tidak tidur kemudian mengangkat tangan, "Orihime akan aman bersama kami, Aizen-sama. Ada sepuluh Arrancar terkuat di Hueco Mundo yang akan menjaganya."

Ulquiorra harus berterima kasih pada Primera Espada itu karena telah membantu memberikan alasan pada Aizen. Entah mengapa tiap menyangkut masalah Orihime, Ulquiorra tidak bisa mengatakan apa yang ada di benaknya dengan tenang.

"Benar, Aizen-sama! Anda tidak perlu khawatir karena kami akan menjaga Orihime," Aaroniero berkata dari ujung meja.

Aizen mengangguk pelan kemudian menoleh pada Orihime.

"Apa kamu ingin ikut dalam 'liburan' mereka, Orihime?" tanya Shinigami berambut coklat itu.

'Hutan Menos ya… sepertinya bukan ide yang buruk,' Orihime menimbang-nimbang dalam hati, akhirnya dia mengangguk.

"Aku ingin ikut, Aizen-sama. Sepertinya menarik," jawab Orihime.

"Espada," Aizen berkata datar pada barisan terdepannya itu, "… aku percayakan Orihime pada kalian bersepuluh. Jagalah dia selama kegiatan kalian di Hutan Menos tersebut. Aku hanya ingin mendengar kabar baik setelah kalian pulang nanti. Mengerti?"

"Kami mengerti, Aizen-sama," jawab semua Espada berbarengan.

"Aku memberi kalian waktu tiga hari dua malam di Hutan Menos tersebut. Lagipula sebelum kita menghadapi para Shinigami, ada kalanya kalian harus mengistirahatkan tubuh dan pikiran kalian," Aizen menambahkan.

Orihime menjadi penasaran dengan agenda barunya kali ini. Dia memang pernah pergi ke padang pasir Hueco Mundo, tapi belum pernah pergi mengunjungi hutan tempat domisili para Hollow berbagai tingkatan tersebut. Apakah indah seperti yang dikatakan tadi?


Setelah rapat tersebut selesai dan semua Espada serta Orihime telah meninggalkan ruangan, Gin tertawa kecil, membuat mantan kaptennya bingung.

"Mengapa kamu tertawa, Gin?" tanya Aizen.

"Aku baru ingat, Aizen-sama…" Gin mulai berkata, "… kalau ada sesuatu yang akan mengejutkan mereka di Hutan Menos tersebut."

Aizen tersenyum kecil. "Ah, itu maksudmu?"

Gin tersenyum rubah. "Anda benar, Aizen-sama."


Chapter 12 selesai!

Amee : *menghela nafas*

Orihime : Lho, ada apa Author?

Amee : Capek. Tidur dulu ya. *ngeluyur pergi*

Ulqui : Author yang satu itu semakin lama semakin aneh.

Grimmy : Cih, untuk kali ini aku setuju denganmu, Emospada.

Orihime : Ngomong-ngomong tadi Gin-sama bilang ada kejutan? Jangan-jangan…

Ulqui : Hmm?

Orihime : Apa ada dari kalian yang berulang tahun?

Grimmy : *sweatdrop* Ulang tahun untuk Hollow seperti kami? Mana mungkin.

Orihime : Well, readers… kira-kira apa sih kejutan yang ada di Hutan Menos? Ayo main tebak-tebakan sambil nunggu chapter selanjutnya nongol!

Ulqui : Aku tidak ikut-ikutan.

Grimmy : Nggak sabar pengen liburan. *nggak nyambung tapi muka innocent*