RE=SET—

Let's accept both the good things

and the bad things

Sepuluh: Biro Transportasi Kage Corp.

AN's: kalau tidak keberatan, baca dari chapter satu (fict ini sudah terlalu lama nggak di update, mungkin sudah banyak yang lupa... heh, heh)

Motel Ebisu

Konohagakure bagian Tenggara

Uchiha Sasuke mengerjap, tangan kanan di atas alis, memblok sinar yang kelewat berlebih untuk ukuran senja. Dia membaca papan mengilap di atas kepala hitamnya lalu mendengus.

Tempat ini masih sama seperti dulu.

"Ada apa?"

Sasuke hanya mengangkat bahu pada pertanyaan Kiba lalu memberi tanda dengan matanya untuk masuk ke dalam motel.

"Lagakmu seakan pemilik tempat ini saja!" walau begitu Kiba mengekor Sasuke, diikuti Sakura dan Ino yang sama-sama bertampang khawatir, saling bertukar pandang dalam diam.

Mereka memasuki lobi kecil melalui pintu geser otomatis, bergerombol menuju meja resepsionis yang kosong. Kiba menemukan switch merah yang dilakban di atas meja, memencetnya dengan kekuatan berlebih—suara bel mesin yang timbul setelahnya sangat tidak-relevan untuk ukuran motel yang tak terlalu luas.

Benar saja, mereka bisa samar-samar mendengar gerumbel tak-senang yang berasal dari tamu-tamu di lantai atas. Tak lama kemudian pintu bertanda 'staff' di belakang meja resepsionis terbuka, memperdengarkan suara tinggi bernada jengkel,

"…dan tolong jangan melecehkan karyawati baru kita, Ebisu-san. Saya sudah tak mau mencari pengganti kalau ada yang mengundurkan diri lagi!"

Pemilik suara itu adalah seorang wanita berpakaian rapi; dia memandang Sasuke untuk beberapa saat tepat setelah tidak lagi memunggungi tamu-tamu barunya.

"Ah, Sasuke-kun?"

Sasuke balas menyapa dengan cuek, "Hn, Shizune."

"Panggil 'Kak' Shizune kenapa?"

"Penting?"

Shizune melempar tatapan tajam padanya sebelum memutuskan untuk meladeni tamu selain Sasuke,

"Kiba-kun... Hana-chan titip pesan. Dia minta Kau menghubunginya begitu sampai di sini. Coba kulihat... ehm, Hondou-san?" Ino mengangguk, "…lalu Haruno-san?" Sakura tersenyum grogi, "...kalian bersama Sasuke-kun istirahatlah dulu—coba, tunggu sebentar…lantai dua, kamar nomor sebelas, tigabelas, dan empatbelas kosong!"

Shizune menyambar kunci-kunci kamar yang dimaksud lalu memberikannya pada Sasuke. Dia mengedip, "Tidur dulu, kalian akan kubangunkan kalau sudah waktunya makan malam!"

Sasuke mengedarkan kunci-kunci tersebut dan berkata cepat, "Aku mau langsung ketemu si Kakek!"

"Nah?" Shizune berputar di tempat, dari ekspresinya kelihatan sekali dia telah menunggu-nunggu pernyataan semacam ini.

"Mana Sarutobi-jiji?"

"Sasuke, aku…."

"Sori Shizune. Aku bukan Naruto. Sudah cukup. Tak ada penjelasan panjang-lebar lain. Aku tahu semuanya," Sasuke menunjuk Kiba sambil lalu, "… dari orang ini."

"Dengar, apapun informasi itu," Shizune menatap sebal pada Kiba, yang langsung memutuskan untuk segera menyingkir dari jangkauan lengan wanita itu, "… jangan terprovokasi!"

Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan bosan dan cercaan, "Teruskan saja alasan-alasanmu. Aku cuma ingin tahu dimana Kakek itu," dia menambahkan dengan penekanan kuat, "… Shizune-neesan."

Shizune menghela nafas panjang, menatap pemuda keras hati di depannya. Dia memastikan kepala Kiba dan dua gadis yang lain menghilang di tikungan tangga, lalu memanggil, "Ebisu-san... tamu kode-D sudah datang. Tolong awasi tamu-tamu ini selagi Saya mengantar Sasuke ke tempat Sarutobi-sama."

Terdengar bunyi logam beradu dengan kayu, umpatan keras, lalu seruan rendah teredam, "Eehh, Kau bilang Sasuke?"

"Iya, Ebisu-san."

Hening sesaat. Lalu suara yang sama,

"Hei, Shizune-kun. 'Sasuke' itu bukan kode 'kan?"

Shizune menepuk dahinya, frustasi.

-ii-

Ketika Shizune bilang akan mengantarnya ke tempat Sarutobi Hiruzen, Sasuke menyangka dia, akhirnya, akan mengetahui kediaman laki-laki itu. Tapi ternyata Shizune mengantarnya ke bangunan kecil di taman belakang motel; bangunan yang letaknya berada tepat di depan gudang.

Sasuke belum pernah masuk bangunan itu walau dia bersama Naruto sering bermain-main dengan peralatan berkebun di gudang. Biasanya laki-laki mesum berkacamata yang bernama Ebisu atau Shizune ini akan menghalau mereka dari tempat yang dimaksud. Apa mungkin 'kediaman' Sandaime...

Shizune mengetuk selama beberapa kali sebelum seseorang membukakan pintu.

"Woyo... Shizuneee," Sasuke mengamati orang yang menyapa mereka; laki-laki besar berambut putih panjang dan berbau alkohol, "...ada 'pa?"

Shizune mundur selangkah sambil mengernyit, tampaknya berusaha mengurangi intensitas bau yang disebarkan laki-laki itu. Dia menoleh sekilas pada Sasuke sebelum berkata, "Saya tidak tahu kalau Anda di sini, Jiraiya-san."

"Hmn. Aku 'da perlu dengan pak tua," laki-laki bernama Jiraiya mengibaskan tangan setelah bersendawa keras, "S'apa bocah itu?"

Shizune bergumam enggan, "Uchiha Sasuke."

Sasuke menahan keinginan untuk menyeringai pada Jiraiya yang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut terbuka lebar.

"Uchiha... tentu saja. Wajah mereka sama semua—,"

Shizune cepat-cepat berkata setelah menangkap ekspresi Sasuke, "Permisi, kalau begitu, Jiraiya-san. Bisa Anda ke samping? Kami mau masuk."

Jiraiya terhuyung maju, "Oooh... Aku mau ke danau saja... cari udara segar."

Shizune mengangguk diam-diam dan memberi tanda pada Sasuke untuk mengikutinya. Tak ada yang istimewa di ruangan itu; hanya dua rak buku besar, seperangkat sofa dan beberapa meja berukir. Ada pintu berkeset hijau di sudut, kemungkinan besar toilet.

Tapi Sasuke tidak tertarik samasekali dengan pola kertas dinding maupun buku-buku; dia menatap laki-laki tua yang duduk di belakang meja kerja. Laki-laki itu mendongak saat Shizune menutup pintu, bahkan tidak berkedip pada Sasuke yang memandangnya dengan tatapan menuduh. Laki-laki itu hanya berkata dengan suara kering dan dalam, "Duduk. Sasuke-kun... dan kalau tidak keberatan, Kau bisa keluar Shizune-kun...?"

Shizune tahu telah diusir dengan cara halus tapi dia bergeming; sikapnya ini mengundang pertanyaan; tapi karena Sasuke tidak mau repot-repot bertanya maka kalimat, "Ada yang ingin Kau sampaikan, Shizune-kun?" keluar dari laki-laki di belakang meja.

"Mengenai...," Shizune melirik Sasuke ragu-ragu seolah dia tidak seharusnya mengatakan hal ini di depan pemuda itu, "Kyuubi."

"Ah, Kau tidak perlu memanggilnya dengan nama itu tapi... Ya. Teruskan."

Sasuke memandang ingin tahu tapi yakin benar tak akan mendapat jawaban.

"Apa... apa kita harus mengirim seseorang untuk menjaganya? Dia—dia hilang dari pengawasan dan... Saya khawatir kalau dia sudah sadar mengenai kemampuannya—sejak tidak berada dalam penjagaan Anda lagi," Shizune menambahkan setelah menghela nafas panjang, "Kekhawatiran Saya beralasan dan Anda harus tahu soal ini, Sarutobi-sama."

Sebuah gelengan geli, "Kita sudah bicarakan ini, Shizune-kun. Lagi, aku akan berbagi cerita dengan Sasuke-kun mengenai Naruto dan Itachi jadi jangan segan-segan untuk tidak menggunakan kode."

Shizune tampak terkejut, bergumam lambat, "Jadi... Anda, oh... begitu,"

Di sampingnya, Sasuke yang telah hilang sabar berkata keras, nyaris membentak, "Jangan segan-segan juga untuk memberitahuku alasan kenapa kalian tidak cerita soal Itachi sejak dulu!"

Shizune mengernyit pada nada kasar itu sementara Sandaime hanya tersenyum muram, samasekali tidak membuat otot-otot kendur di sekitar pipinya tertarik keatas. Menurut pandangan Sasuke dia malah tampak ingin meludah.

"Duduk dulu Sasuke. Aku tak bisa meladeni emosi anak muda. Aku terlalu tua untuk itu. Shizune-kun... tolong?"

Shizune, agak ragu, mengangguk dan meninggalkan keduanya dengan hentakan pelan pintu yang tertutup.

Mereka saling mendiamkan selama kurang lebih sepuluh menit; atau tepatnya Sasuke duduk di ujung sofa seakan siap menerkam dan menggebrak meja setiap saat sementara si pemilik meja menangkupkan kedua belah tangannya sambil mengawasi gerak-gerik pemuda itu.

Di menit ke sebelas Sasuke hilang sabar.

"Maaf. Tapi aku tidak mendengar apa yang Anda katakan, Sarutobi-san."

Sandaime terkekeh, "Ya... yaa... melihatmu aku jadi lupa harus mulai dari mana."

"Bagaimana kalau mulai dari alasan Itachi meninggalkanku bersama kalian, dan soal organisasi yang dipimpin laki-laki bernama Danzo?"

Kalaupun Sandaime terkejut dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi Sasuke memberi penjelasan sekadarnya, "Inuzuka Kiba. Dia yang memberitahuku."

"Oh. Apa lagi yang dia katakan padamu?"

Sasuke tiba-tiba merasa kasihan pada Kiba, tapi dia memutuskan untuk tidak peduli, "Itachi. Dia kenal kakakku sebagai anak buah Danzo dan agen organisasi kalian yang sedang menyamar—oh iya, ingatkan aku... sejak kapan memulai bisnis mengumpulkan orang-orang aneh? Karena seingatku kalian tak pernah menjelaskannya padaku— atau Naruto. Dia memang bodoh tapi kupikir dia juga harus tahu."

Sandaime berdiri dari balik meja kerjanya dan memilih duduk di sofa di seberang Sasuke.

"Akan kumulai dengan alasan kami tidak menceritakannya padamu; ini semua permintaan Itachi dan demi dirimu sendiri."

Sasuke mendengus, "Huh! Kedengarannya memang seperti permintaan Itachi," dia menambahkan dengan skeptis, "Demi diriku sendiri... omong kosong."

Ketika tidak ada interupsi lain, Sandaime melanjutkan, "Apa yang Kau ketahui tentang Fugaku?"

"Aku kenal nama itu. Kalau tidak salah dia laki-laki yang sangat dibenci Itachi karena meninggalkan kami."

Sandaime mengerjap sekali, "Ya. Kurang lebih jawaban yang seperti itu," Sasuke mengernyit namun Sandaime masih terus melanjutkan, "Itachi sedang mengejar Fugaku dan dia memutuskan untuk tak melibatkanmu."

"Kenapa?"

Sasuke tahu nada suaranya terdengar mendesak. Namun tampaknya Sandaime tidak mempermasalahkannya.

"Karena Fugaku adalah pria yang sangat berbahaya. Buronan. Di beberapa daerah dia masuk dalam daftar kriminal. Lebih lagi, dia bukan manusia biasa— Kau sudah lihat Inuzuka Kiba 'kan?"

Sasuke diam. Dia harus mendengarkan lebih dari ini.

"Lalu Danzo... dia sahabatku dan agak terobsesi dengan... orang-orang yang memilih jalan hidup sama seperti Fugaku. Danzo punya metode sendiri untuk menangani orang-orang ini, aku tak bisa bilang metodenya salah atau benar."

"...dan dia menggunakan Itachi. Tapi Itachi pernah bilang kalau ayah tak pernah sekalipun menganggap kami anak-anaknya. Jadi rencananya gagal."

Sandaime, entah kenapa, menatap Sasuke dengan ekspresi sedih.

"Kau belum tahu... Hanya belum tahu."

"Tapi kalian tahu dan tidak memberitahuku."

"Kami sudah memberitahumu," Sandaime mengoreksinya, "Dan sekarang Itachi membutuhkanmu."

Sasuke diam. Diam yang sangat lama.

Dia berada di ruangan berbau kertas basah bersama seorang laki-laki tua yang mengatakan kalau sekarang Itachi membutuhkan adiknya. Laki-laki tua yang memeliharanya sejak Itachi pergi ke tempat seseorang bernama Danzo untuk alasan yang sangat tidak dia mengerti. Laki-laki tua yang membuat mereka kehilangan rumah. Laki-laki yang menguasai hampir seluruh Konohagakure. Laki-laki yang selalu memberinya daifuku setiap hari ulangtahunnya sebagai olok-olok karena dia tidak suka makanan manis. Laki-laki yang sangat dihormati Naruto, dan beberapa tahun belakangan ini dia juga mulai mencoba menghormatinya...

"Katakan apa yang harus kulakukan."

Sasuke agak kaget pada dirinya sendiri saat mengatakan hal itu; nada suaranya bukanlah pertanyaan tapi perintah, namun dia yakin benar bahwa kalimatnya ini sangat tidak sesuai dengan prinsip harga dirinya. Walau begitu Sandaime hanya terkekeh dan membalas dengan, "Pertama-tama kenali kekuatanmu."

-ii-

Sakura memandangi taman hotel yang berpenerangan remang dari jendela kamarnya di lantai dua. Terakhir kali Sakura berada di Konohagakure adalah saat ayahnya mengajak kemping sepanjang liburan musim dingin dua tahun lalu. Dia tersenyum sendiri saat mengingat kelakar ibunya soal duel antara monyet hutan dan suaminya ketika berebut kantung persediaan makan. Sebenarnya dia lahir di Konohagakure dan tinggal hanya tiga blok dari tempat itu hingga berumur tujuh tahun sebelum ayahnya memutuskan untuk menerima kontrak kerja di Ame. Saat melewati bekas rumahnya, Sakura agak terkejut karena tempat itu sudah menjadi gudang kebun.

Dia meninggalkan jendela saat seseorang mengetuk pintu dan menyapa, "Ehm... masih tidur ya..."

"Tidak," dia tahu dari suaranya, orang yang ada di balik pintu adalah Hondou Ino, "Masuk saja."

Pintu terbuka dan Ino menjengukkan kepala pirangnya, "Aku disuruh Shizune-san untuk memanggilmu. Makan malam sudah siap, dan dia eee... mengharapkan kita hadir."

Sakura mengangguk dan mengikuti Ino keluar kamar, turun dari tangga dan menuju koridor kecil yang menghubungkan lobi utama dengan dapur. Begitu menginjakkan kakinya di dapur Sakura langsung tahu kalau dia tak seharusnya berada di disitu. Dia bisa merasakan Hondou Ino juga berpikir sama sepertinya.

Di tengah-tengah dapur, sekelompok orang telah duduk mengelilingi meja oval lebar. Hanya Sasuke dan wanita resepsionis bernama Shizune saja yang mereka kenal. Inuzuka Kiba tidak ada di situ.

Sakura dan Ino mengambil kursi di seberang Sasuke dan laki-laki bermasker dengan rambut putih. Melihat warna rambut laki-laki itu (mungkin usianya tak lebih tua dari Shizune) Sakura segera membenahi letak topi rajut yang menutupi hampir seluruh kepalanya dengan agak gelisah. Shizune menepuk bahu Sakura dan berkata, "Haruno-san... mungkin kupanggil dengan Sakura saja? Boleh 'kan? Nah, tolong bantu mengedarkan pasta ini... terima kasih. Lalu Ino—tolong ambilkan teko jus di sana—yak, itu!"

Sebenarnya Sakura punya waktu empat puluh menit untuk mengawasi sekelilingnya kalau saja dia punya keberanian untuk mendongak dan menatap balik orang-orang yang (dia kira) mengamati dirinya dan Ino. Baru setelah piring-piring kotor disingkirkan dan diganti dua piring biskuit, delapan cangkir, dan satu teko berisi teh panas; dia bisa mendongak dan melihat.

Shizune, setelah menyelesaikan tugasnya mengumpulkan piring kotor, duduk di ujung meja. Tepat di sebelah Shizune; bagian kiri ditempati laki-laki berumur yang tampaknya ramah, di bagian kanan duduk laki-laki pirang yang mengingatkannya pada seseorang tapi Sakura tak yakin siapa. Di ujung lain yang berseberangan dengan Shizune duduk laki-laki berambut putih lain yang tidak bermasker dan rambutnya jauh lebih panjang. Dengan dirinya sendiri, Hondou, Sasuke, dan laki-laki bermasker; ada delapan orang yang ada di ruangan itu.

Laki-laki berumur di samping Shizune-lah yang mulai bicara. Sakura hanya mengangguk dan mulai menatap cangkir teh saat laki-laki itu menyebut namanya, agak tidak mendengar apa yang dikatakan setelah itu.

"...Yamanaka. Silahkan."

Ketika Sakura mendongak, Ino telah keluar ruangan bersama laki-laki berambut pirang. Dia jadi sadar laki-laki itu mirip dengan siapa. Laki-laki besar berambut putih terkekeh geli dan menggumamkan sesuatu—lalu dia keluar dari dapur setelah melambaikan tangan pada Shizune yang hendak mengatakan sesuatu padanya.

"Anu...," Sakura memandang Shizune, "Apa Saya melewatkan sesuatu?"

Shizune menggeleng ramah, "Tidak."

Sakura mengangguk, tak tahu harus menanyakan apa lagi.

"Sarutobi Hiruzen... atau, banyak yang lebih suka memanggilku dengan 'Sandaime dari Konoha'. Haruno-kun."

"Sandaime?" Sakura terbelalak, "Anda Sandaime yang itu?"

Sarutobi Hiruzen terkekeh dengan suara rendah, "Ya, aku Sandaime yang itu."

Menyadari ketidaksopanannya, Sakura memandang cangkir tehnya lagi dan menggumamkan permintaan maaf.

"Saya terkejut... tak menyangka akan bertemu dengan orang terkenal. Saya pernah tinggal di sini, ibu selalu cerita kalau kakek adalah pengemar berat Anda."

Sandaime tiba-tiba menjadi sangat tertarik, "Siapa nama kakekmu?"

Sakura memberikan satu nama, dibalas dengan anggukan.

"Ya! Tentu saja aku mengenalnya. Dia pekerja yang sangat rajin dan efisien. Ah, Kau sudah kenal Shizune-kun dan Sasuke. Lalu dia ini," Sandaime mengerling laki-laki bermasker di sampingnya, "Hattake Kakashi. Hm, Sasuke-kun juga baru tadi berkenalan dengan Kakashi."

Hattake Kakashi mengangkat tangannya dan tersenyum (Sakura mengasumsikan begitu karena hanya ekspresi matanya saja yang terlihat). Sandaime masih melanjutkan, "Kupikir Kiba-kun telah menjelaskan beberapa hal padamu?"

"Y...ya."

"Haruno-kun. Kita abaikan dulu keterangan Kiba-kun mengenai organisasi kami yang bisa memperbaiki masalahmu," Sakura bisa mendengar Sasuke mendengus meremehkan dari tempatnya duduk diam-diam, "...kemampuanmu adalah hal yang sangat langka, bahkan di kalangan kami. Imortalitas adalah sesuatu yang mendekati kemampuan Tuhan, dan kutekankan di sini; itu bukanlah penyakit. Jadi tak ada yang harus disembuhkan."

Sakura menahan diri untuk tidak terisak.

"Aku memiliki kemampuan untuk menekan kemampuanmu, mungkin juga menghilangkannya—tapi bahkan aku pun tak yakin pada kemungkinan ini."

"Anda bisa melakukannya—?" Sakura mendongak, memandang Sandaime penuh harap.

"Aku bisa. Tapi sayang sekali. Aku tak mau."

"Kenapa?"

"Karena kemampuanmu sangat berguna bagi kami."

"Apa maksud Anda?" Sakura berusaha tidak menggunakan nada menuduh tapi gagal, "Saya datang kemari bukan untuk jadi... jadi—obyek penelitian!"

"Maaf. Terkesan kejam untukmu. Tapi semua orang yang memutuskan bergabung dengan organisasi ini siap menghadapi takdir mereka."

Sakura hendak mengatakan kalau dia tidak sepenuhnya setuju bergabung dengan kelompok mereka. Dia langsung sadar pikiran tersebut bisa dibilang terlalu naif.

"Saya punya keluarga," Sakura mulai berargumen, memaksakan teori kalau dia hanyalah manusia biasa, "...dan punya kehidupan! Saya tak pernah minta kemampuan ini!"

"Tidak... tidak... Kau salah sangka Haruno-kun. Kami tak pernah menyuruhmu meninggalkan kehidupan. Yang kami inginkan hanya keikutsertaanmu."

Sakura tiba-tiba merasa sangat malu.

"Aaa... kalau begitu, Saya bisa menerimanya."

Sandaime mengangguk puas dan beralih pada Hattake Kakashi.

"Mulai sekarang gadis ini dan Sasuke-kun berada dalam pengawasanmu Kakashi,. Nah—, " dia memandang Sasuke dan Sakura bergantian, "sama seperti anggota lain, kalian akan tetap sekolah seperti biasa. Tapi mulai sekarang kalian mengambil pekerjaan paruh-waktu di biro transportasi Kage Corporation."

-ii-

A/N: Akhir-akhir ini lebih suka cross-overan daripada AU. Tapi tenang saja, Fict ini pasti selesai!