Naruto bukan punya saya, tapi isi cerita ini punya saya
FemNaruto x Sasuke
Rate M
Drama, Romance
Chapter 12
Mungkin abal, mungkin GaJe, mungkin typo, mungkin juga gak sesuai dengan selera para readers semuanya. Tapi dengan saya terus mencoba untuk memasuki dunia fic standart para readers, saya akan terus mengusahakan yang terbaik.
Waktunya balas riview:
Hyull
/Iya ini happy end
mifta cinya
/Itu rahasia, :D
.12576
/Cup..cup... Nanti Narunya d balikin ke Sasu kok... tpi ada jalannya sendiri... dont cry again ok?
choikim1310
its okay lnjttt
/Ini udc lanjut, selamat membaca
julihrc
/Hayooo, tebakannya siapa?hehehe
Dark
/Gaara ya? Emph... nanti ada jalan ceritanya sendiri klo Gaara di tunggu aja ya?
Aiko Michishige, Namikaze Eiji, 85
/Ini udc lanjut, selamat membaca
ayurifanda15
/Target mungkin di bawah 20 biar gkk ngbosenin, tapi mudah"n 3-4 chap lagi... thanks buat support y...
andikayoga784
/emph... begitu yah? soalnya udc dua kali di edit ulang, mungkin masih ada yang terlewat, makasih atas masukannya. tapi bgitulah bahasa yg terlintas d otak saya, gomen.
AprilianyArdeta
/hayooo, siapa? hehehe. iya ini udc di lanjut kok, selamat membaca
zadita uchiha
/Yuki d culik? boleh tuh, makasih atas sarannya... tapi sepertinya Uchiha-san satu pemikiran dengan saya, kalo SasuNaru y gkk bkal romence dlu kali yah, soalnya bkal ada yang dilema... xixixi updatenya mungkin sekarang rutin seminggu satu kali, karena saya sekarang sibuk kerja jadii gkk bisa ngtik semaunya kaya kmren... Gomen ne.
DONT LIKE DONT READ, KLICK KEY BACK and DONT COMEBACK
Pagi hari yang hangat telah menyapa kota Konoha. Begitu indah dan juga begitu bersemangat. Namun tidak bagi Sasuke. Sasuke terbangun dan menjalani harinya seperti biasa. Hampa. Tak ada seulas senyum-pun yang hinggap di wajah tampannya. Sasuke berubah menjadi lelaki slenge-an, semuanya berawal dari satu setengah tahun yang lalu. Meskipun mentari selalu menampakkan keceriaanya, namun bagi Sasuke matahari yang selalu dirindukannya entah berada dimana. Meskipun terang benderang kala siang, namun terasa bagaikan malam pekat untuk Sasuke.
Sasuke menjalani aktifitas sebiasa mungkin. Meskipun hatinya enggan. Walaupun akhirnya Sasuke menjalaninya dengan terpaksa. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Sasuke turun dari kamarnya untuk sarapan di ruang makan. Sudah ada Itachi, Neji dan Shikamaru.
"Kau akan kuliah hari ini Suke?", tanya Itachi. Namun hanya di jawab dengan tradmark andalannya saja, "Hn". Shikamaru terlelap dengan melipatkan kedua tangan diatas meja makan. Dan Neji menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. "Hei Sasu, kau tak ingin mencari wanita lain?", tanya Neji. "Maksudmu?", tanya Sasuke. "Haaaah, kau ini. Sudah hampir dua tahun ini kau tidak pergi berkencan Sasu. Apa tidak bosan menunggu si pirang kembali?", Neji menghela nafas bosan. "Hn", jawab Sasuke. Padahal jauh didalam hatinya Sasuke ingin sekali mencari sendiri keberadaan si pirangnya yang lama menghilang.
Setelah sarapan Sasuke mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding garasi tempat mobilnya terparkir. Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya memegang dadanya, takut terserang penyakit jantung saking cepatnya Sasuke memacu mobilnya.
Setelah kepergian Sasuke, Neji menatap bosan pada Itachi yang masih hanyut dalam aroma kopi yang menjadi teman sarapannya. "Hey Tachi, kenapa kau diam saja? Padahal selama ini kau tahu keberadaan Naruto. Apa kau tak kasian pada Sasuke?", tanyanya. "Biarkanlah dia begitu, nanti dia sendiri yang menemukannya.", jawab Itachi. "Ck, kau ini. Kemarin aku melihat Naruto dikampus!", seru Neji. "Benarkah?", tanya Shikamaru yang baru tersadar dari alam mimpinya. "Ya, dan dia sepertinya akan kuliah dikampus kita Shika.", lanjut Neji. "Baguslah. Biar Sasuke mendapatkan obatnya!", seru Shikamaru klise.
~•~•~•~•~•~•~•~
Mansion Uzumaki
Naruto menggendong Yuki dengan hati hati sambil menuruni tangga untuk sarapan di ruang makan. Yuki yang masih menggunakan piyamanya terlihat sangat menggemaskan. Dengan raut wajah yang masih terlihat mengantuk dan masih terlihat belum sepenuhnya sadar, Yuki mengeratkan pelukannya pada leher Naruto. Naruto hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya yang semalaman bermain dan baru tertidur ketika malam telah larut.
"Selamat pagi Tou-san!", sapa ceria Naruto seperti bias pada Minato. "Selamat pagi, Naru. Yuki baru bangun?", tanyanya ketika melihat Yuki masih menggunakan piyamanya bergambar rubah merah. "Iya tou-san belum sempat aku mandikan. Karena terlihat masih mengantuk", jawab Naruto sambil mendudukan Yuki dipangkuannya. "Kau kuliah hari ini Naru?", tanya Minato. "Iya tou-san.", Naruto menepuk nepuk punggung Yuki yang kembali terlelap dalam pelukan Naruto. "Hanabi, kemarilah!", seru Naruto. "Ada yang perlu saya bantu Naru-chan?", dengan ragu Hanabi menyebut Naruto dengan suffix -chan. "Tolong tidurkan Yuki dikamar, dan jaga dia baik baik ya Hana?", Naruto tersenyum sambil memberikan Yuki pada Hanabi. Hanabi pun mengangguk dan membawa Yuki kembali ke kamarnya
"Ne tou-san, mengapa dia disini semalam?", tanya Naruto. Minato tahu pasti, jika Naruto pasti akan menanyakan keberadaan seorang pemuda dirumahnya tanpa ijinnya semalam. "Maafkan tou-san Naru, kau marah pada tou-san?", tanya Minato lebih dulu. "Tidak tou-san, hanya saja Naru merasa tak ingin menemuinya lagi", Minato mengerti tentang perasaan putrinya. "Ne Naru, dia pemegang perusahaan Sabaku Corp, tou-san pun awalnya tak percaya. Tapi apa boleh buat Rei sang Presedir Sabaku Corp menunjuknya untuk mengurus perusahaannya. Apa kau keberatan?", tanya Minato. "Tidak, Naru tak keberatan. Lagipula tak seharusnya tou-san mencampurkan urusan keluarga dengan urusan perusahaan bukan?" tanyanya. "Kau sangat pengertian Naru. Jadi apa yang semalam terjadi saat Gaara melihat Yuki?", tanya Minato. Sedangkan Naruto mengingat kembali apa yang terjadi malam tadi.
Flashback On...
"Hai Naru... Lama tak berjumpa!", sapa pemuda bersurai merah dihadannya yang tengah tersenyum kearahnya. Sekilas terbayang kembali, kenangan yang sangat ingin Naruto lupakan. "K-kau...", sebisa mungkin Naruto mengendalikan dirinya. Naruto tak ingin terlihat lemah, terlebih dihadapan pemuda yang merupakan ayah biologis Yuki.
"Kau baik baik saja Naru?", tanya pemuda itu lagi. "Ah, aku tak apa Gaara. Kau sedang apa disini?", tanya Naruto senatural mungkin. "Aku ada pekerjaan bersama Minato-jiisan", Gaara melihat sekilas gadis kecil dipelukan Naruto. Tapi Gaara tak bisa memungkiri jika gadis kecil itu memiliki surai yang sama dengannya. "Kau menggendong siapa Naru?", sambung Gaara. Naruto mengeratkan pelukannya pada tubuh Yuki, 'Mungkin sudah saatnya aku memberi tahu Gaara', batin Naruto. "Dia putriku, Yuki", sekilas Naruto dapat melihat pancaran sebuah tanya dari iris jade milik Gaara. Seolah mengerti Naruto memberikan Yuki pada Hanabi untuk ditidurkan dikamarnya.
Gaara mengikuti Naruto dengan berjalan dibelakangnya setelah Naruto memintanya untuk berbicara berdua. Gazebo menjadi tempat yang dituju Naruto. Gaara pun mendudukan dirinya berseberangan dengan Naruto. "Apa yang ingin kau bicarakan Naru?", tanya Gaara to the point. "Ini mengenai Yuki," jawab Naruto. "Apa maksudmu?", tanya Gaara. Seakan Naruto bisa menyelami hatinya, Naruto menganggukan kepalanya. Gaara hanya bisa terperangah dengan pengakuan Naruto. "Benarkah dia putriku Naru?", tanya Gaara tak percaya. "Iti benar Gaara, kau tak melihat identiknya dua denganmu? hanya sifat cerianya dan iris matanya yang mirip denganku.", jawab Naruto. "Kau tidak mempermainkanku Naru?", tanya Gaara.
"Untuk apa aku berbuat seperti itu Gaara? Apa untungnya untukku? berharap kau menikahiku? Aku tidak mengharapkan itu.", jawab Naruto serius. Terdengar suaranya yang sedikit bergetar menahan buncahan emosi yang menggelayuti perasaannya sekarang. "Gaara, meskipun kau tak mengakui Yuki sebagai putrimu. Tapi dia tetap putriku. Takkan ku biarkan siapapun mengambilnya dari hidupku. Termasuk Kau!", pinta Naruto tegas. Gaara merasakan gejolak emosi didalam hatinya. Merasa senang jika Yuki adalah putrinya. Tapi Gaara bisa merasakan kesedihan. Merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya dulu pada Naruto.
"Jadi, apakah aku boleh berkunjung menemuinya Naru?", tanya Gaara. "Tentu, Yuki membutuhkan sosok seorang ayah Gaara. Tapi kuharap kau tak mengambil Yuki dariku!", Gaarapun mengangguk. "Naru, aku masih mencintaimu seperti dulu. Mungkinkah kita bisa kembali seperti dulu? dan memberikan keluarga yang utuh untuk Yuki?", tanpa jeda Gaara menuturkan keinginannya. Berharap Narutopun mempunyai pemikiran yang sama dengannya. "Maaf Gaara, aku tak bisa.", Naruto meninggalkan Gaara sendirian di Gazebo dengan segudang tanya yang menghantui pikirannya.
Flashback Off...
"Jadi sekarang kau sudah memberitahukan ini pada Gaara?", tanya Minato menanggapi cerita dari sang putri tercinta. "Ya begitulah tou-san, mungkin dengan begitu sedikit bebanku terangkat.", jawab Naruto dengan raut muka yang tak bisa ditebak. Ini terasa terlalu cepat untuknya bertemu dengan lelaki merah itu. Karena tidak mungkinkan Yuki terus disembunyikannya?
"Naru, bagaimana jika Sasuke menemuimu di KU?", sesaat Naruto tersentak dengan pertanyaan Minato. Mencoba untuk menekan segala gejolak perasaan yang tiba tiba menyesakkan dadanya. Mendengar sebuah nama yang selama ini ia rindukan, membuat perasaan yang di pendamnya selama ini menguat dan menjadi sebuah dilema untuknya. Minato menyadari gestur putrinya yang menjadi menegang, dan Minato bisa melihat betapa rindunya Naruto pada Sasuke.
"Tousan, bisakah kita tak membicarakan hal itu?", elak Naruto. Minato sadar jika putrinya ini masih belum bisa melupakan pemuda yang dicintainya hingga saat ini meskipun Naruto telah memiliki Yuki. "Baiklah. Tousan berangkat ke kantor dulu ya Naru?", Minatopun bangkit kemudian mengambil jas dan tas nya. Sekilas ia mencium kening putrinya, Naruto.
Tak lama berselang Naruto pun akhirnya menyudahi acara sarapan pagi itu dan bergegas untuk berangkat ke KU. Ini adalah hari pertamanya, tidak lucukan jika dihari pertamanya Naruto sudah terlambat? Meskipun dengan segudang pekerjaan kantor dan urusan galeri yang sekarang dikelolanya, tapi Naruto masih menjunjung tinggi kedisiplinannya selama ini. Tak sekalipun ia menelantarkan pekerjaannya.
Begitu pula dengan kuliahnya yang menjadi prioritas utamanya setelah Yuki . Menurutnya pendidikan itu penting. Narutopun memacu mobil Bugaty miliknya dengan kecepatan sedang, dan hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di Konoha Univercity.
~•~•~•~•~•~•~•~•~
Sasuke yang telah memarkirkan mobil Ferarry hitam miliknya, menjadi pusat perhatian semua mahasiswi KU. Tak hanya sekedar tampan, dengan kekayaan yang melimpah dan merupakan adik dari pemilik Uchiha Corp. Siapa yang tak akan tertarik dengan pesona dan kharismanya sebagai pria dewasa yang memiliki nilai plus plus dimata kaum hawa? bahkan di antara kaum adampun banyak yang memandang segan dan juga takjub akan semua yang dimiliki Sasuke.
Tapi seketika semua perhatian itu berpaling, pada seorang mahasiswi cantik yang baru saja turun dari mobil Bugatty merah miliknya. Sosoknya sungguh sangat mempesona. Menonjolkan kredibilitas yang tinggi, fashionable, dan juga elegan disaat yang bersamaan. Celana jins yang dipadukan dengan kemeja tanpa lengan berwarna baby blue terkesan manis. Wedges sewarna kulit yang melekat dikaki jenjang nya dan tas serupa warna sepatunya, bagaikan paduan trend fashion yang benar benar sempurna. Tak ada satu pun yang mengalihkan pandangannya dari sang mahasiswi blonde.
Sasuke yang berdiri diseberang sang mahasiswi blonde hanya bisa menatapnya tak percaya. Terlintas sebuah nama dalam benaknya, namun fikirannya menolak keras. Tak percaya. Sulit untuk dipercaya.
'Benarkah...?', hanya satu pertanyaan yang terlintas. Sasuke tanpa sadar melangkahakan kakinya menuju sang mahasiswi blonde yang kini berjalan ke arahnya. Namun nampaknya dia tak menyadari, jika Sasuke sedang berjalan kearahnya.
Saat Sasuke berpapasan, mahasiswi blonde itu seperti tak menyadari keberadaanya. Sasuke yakin jika mahasiswi itu melihatnya dalam. Sasuke bagaikan membeku seketika, ketika mahasiswi blonde itu melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. "Naruto.", Sasuke bergumam.
Naruto Pov
Aku melajukan mobilku dengan santai, ini masih pagi dan jalanan masih cukup lengang. berhubung jam kantor sudah berlangsung semenjak setengah jam yang lalu. Jadi aku tak perlu berpartisipasi dalam kemacetan kota Konoha pagi ini.
Pagi ini aku meningglkan Yuki yang masih tertidur. Kuharap setelah ia bangun, tak membuat Hana-chan kerepotan. Putriku itu sangat aktif dan tak bisa diam. Persis seperti diriku waktu kecil. Mengingatnya saja aku sudah merasa senang, bahagia. Hidupku lengkap dengan kehadirannya.
Kuparkirkan mobilku di tempat parkir KU. Inilah kampusku yang baru, meskipun baru satu minggu kembali. Tapi rasanya aku tak pernah meninggalkan tempat kelahiranku ini. Merasa nyaman dan tentram. Tapi tunggu, aku melihat sosoknya. Pemuda yang dulu sangat aku cintai. Apakah aku bermimpi? tampaknya tidak. Ini nyata. benar benar nyata.
Aku melihatnya berjalan kearahku, hatiku bergejolak. Rindu. Tapi ini bukan saatnya. Aku tak boleh kalah. Biarlah untuk sekali ini saja aku melewatinya, tanpa menatap matanya. Kami-sama, tolonglah. Sepertinya kakiku mendadak lemas saat ku tatap sekilas matanya.
Begitu memabukkanku. Sungguh. Aku tak bisa melakukannya. Dia semakin dekat, dia menatapku lekat. Namun aku berusaha untuk menghindari tatapannya. Aku mengalihkan pandanganku jauh keatas langit cerah tanpa awan yang menghalangi.
Aku melewatinya. Aku tak melihatnya. Aku berpura pura tak melihatnya. Tapi mengapa hatiku merasa kecewa? apakah aku begitu merindukannya? Rasanya tidak. Tapi, aku ingin sekali membalikkan badan dan menatapnya. Aku ingin. Tapi aku tak bisa melakukannya. Biarlah. Kali ini saja, tolong biarkan aku. 'Sasuke...'.
Naruto Pov Off
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
Skip Time
Mata kuliah pun berakhir ketika waktu menunjukkan pukul 14.35. Begitu juga dengan Naruto yang telah membereskan semua alat tulis dan gambarnya. Naruto menjalani semuanya dengan bersemangat, dan senyuman yang tak luput dari wajahnya yang membuatnya nampak cantik sempurna. Tak heran jika di hari pertamanya Naruto langsung menjadi mahasiswi populer.
Ditempat lain, Sasuke terus menatap ke arah koridor gedung dimana Naruto berada di dalamnya. Sasuke benar benar tak percaya dengan sikap Naruto yang seakan mengacuhkannya saat bertemu untuk pertama kalinya semenjak Naruto menghilang.
Berbagai macam pertanyaan hinggap dihatinya. Begitu banyak hal yang ingin Sasuke ketahui tentangnya. Namun semuanya sirna saat Naruto berlalu melewatinya begitu saja. Kecewa pasti. Tapi mengapa Naruto mengabaikannya? mungkinkah Naruto tak mencintainya lagi? Apakah ada pria lain yang mengisi hatinya? Menggantikan posisinya di hati Naruto? Ini membuatnya frustasi.
Sekian lama menunggu, dan saat bertemu diacuhkan begitu saja? Bahkan mencoba untuk menyapapun tidak? Masih banyak pertanyaan yang menguras fikiran Sasuke. Tapi semuanya seakan sirna kala Sasuke melihat senyuman matahati cerah yang begitu menyilaukan. Bahkan bisa memercikan api kehidupan dalam jiwa yang telah lama padam.
Perasaan yang berkecamuk menguap begitu saja. Berganti dengan rasa rindu yang menyeruak, mendesak untuk segera disampaikan. Bagaikan terhipnotis, Sasuke melangkahkan kakinya ke arah sang blonde.
Naruto yang melihat Sasuke berjalan ke arahnya, menjadi gugup. Ini bahkan tak terduga. Seakan berat kakinya untuk melangkah, tapi perasaannya mencegah otaknya untuk menghindari pria didepannya. Sangat membuat gamang. Tapi cepat atau lambat ini pasti akan terjadi.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi Sasuke mendekati Naruto. Selintas ia bisa melihat betapa banyak rasa yang tersimpan dihati gadis yang kini ada dalam jarak pandangnya. Sudah lama Sasuke menantikan momen ini. Bertemu kembali dengan mataharinya. Dalam hitungan detik, gadis itu kini berada di hadapannya. Tak membuang waktu, Sasuke memeluk tubuh ramping sang gadis dengan erat. Meresap aroma sitrus yang menguar menyapa indra penciumannya. Namun sang gadis menegang, dan bergetar. "Sasuke...". Terdengar gumaman dari sang gadis, tapi Sasuke lebih mengeratkan pelukannya. "Tolong, biarkanlah sebentar saja!", seakan de javu Sasuke merasakan emosi yang tersampaikan. Meskipun berbeda. Namun kehangatan yang diberikan sang gadis masih sama seperti saat dulu, Sasuke memeluknya pertama kali.
"Aku merindukanmu Naruto!", bisikan lembut nan tegas merasuk dalam pendengaran Naruto. Mencoba untuk melupakan sejenak semua permasalahan yang tengah dihadapi, Naruto membalas pelukan Sasuke erat. Melupakan tatapan sinis, takjub dan kagum untuk sesaat. "Suke, ini kampus bukan dirumah!". Seakan tak menghiraukan ucapan Naruto, Sasuke kunjung melepaskan pelukannya setelah lebih dari lima menit berlalu.
Begitu banyak pasang mata yang melihat adegan romance gratis bak drama serial televisi berating satu. Semuanya mengarahkan pandangan ke arah Naruto dan Sasuke. Meskipun mengganggu tapi tak dihiraukannya. "Kau kemana saja Naru, selama ini aku mencarimu", tutur Sasuke. "Suke, aku masih ada urusan. Bisakah kita mengobrol lain kali saja?", tanya Naruto menghindar. "Kau tak merindukanku Naru?", lirih Sasuke. "Sangat. Sangat rindu, tapi ada yang lebih penting Suke", Naruto berusaha untuk tenang dan mengendalikan detak jantungnya yang kian menggebu.
"Apa kau akan meninggalkanku lagi Naru?", terlihat pandangan kosong nan hampa dari iris onyx milik Sasuke. Naruto melihatnya. Selama ini Naruto menyakitinya. Naruto tahu itu. Tapi apakah ada alasan lain? jawabannya, tidak.
"Aku tak akan pergi lagi Suke. Tunggulah jika mungkin kau bisa menerima keadaanku.", dengan lembut Naruto mengelus wajah Sasuke yang terlihat amat pucat dari biasanya. Terlihat tirus dan tidak bercahaya, memancarkan pesonanya. Hanya kesepian yang terlihat dari sorot matanya. "Benarkah kau tak akan pergi lagi?", Sasuke memastikan. "Aku berjanji padamu Suke, aku tak akan pergi lagi.", Naruto memberikan senyuman menenangkan hati Sasuke.
Hangat. Begitu hangat. Setelah sekian lama menunggu dan kini terbayarlah sudah rasa rindu dan sepi yang menggelayuti hati Sasuke. "Baiklah, aku mencintaimu Naru!". Hati Naruto bergetar kala mendengar ungkapan rasa cinta Sasuke. Tak bisa dipungkiri jika Naruto masih menyimpan rasa yang sama pada lelaki di hadapannya ini. Namun keadaan belum mengijinkan.
"Aku pergi dulu Suke, jaa nee...", Naruto melangkahkan kaki menjauhi Sasuke yang masih menatapnya. Begitu banyak rasa yang berkecamuk dalam hati Naruto. Begitu juga Sasuke hanya bisa menatap siluet gadisnya pergi menjauh meninggalkannya. "Aku akan mengikutimu Naru..."
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
Skip Time
Sasuke mengikuti kemanapun Naruto pergi. Dari mulai pergi ke kantor setelah pulang kuliah, mengunjungi Uzushio'Galeri hingga pulang ke kediaman Uzumaki. Sasuke berusaha untuk menjaga jarak agar tidak sampai diketahui Naruto, jika sebenarnya Sasuke mengikutinya.
Dahi Sasuke mengernyit ketika Naruto menggendong seorang anak kecil bersurai merah. Senyumannya merekah menyilaukan pandangan Sasuke. Betapa terlihat begitu bahagianya Naruto kala melihat anak kecil itu. "Siapa anak kecil itu?", tanya Sasuke entah pada siapa. Namun terus dipandanginya Naruto yang mendengarkan anak kecil itu berceloteh meskipun tak jelas apa yang sedang disampaikannya.
Taman belakang Uzumaki mansion Naruto masih menggendong Yuki yang dengan semangatnya berceloteh, seolah bercerita pada sang bunda apa yang dialaminya seharian ini. Dengan antusias Naruto menanggapinya. Senyum hangat yang menenangkan tak luput dari wajah Naruto Betapa bahagianya Naruto memiliki Yuki saat ini. Segala rasa penat, lelah dan frustasi akibat pekerjaan dan tugas kuliahnya serasa menguap begitu saja saat melihat senyuman Yuki. "Kau anugerah terindah kaa-san Yuki.", seolah mengerti Yuki mengecup pipi Naruto lembut.
Naruto bukannya tak menyadari kehadiran Sasuke. Tapi sengaja membiarkannya terus mengikuti Naruto. Mengamatinya, meskipun sedikit ingin tertawa karena sikap kekanakan Sasuke yang terus mengikutinya.
Tanpa sepengetahuan Sasuke, Naruto menyelinap keluar dari taman itu. Taman belakang Uzumaki mansion langsung terhubung ke jalan pintas yang menghubungan jalan khusus mansion ke jalan raya meskipun dengan arah memutar dan agak tersembunyi karena jarang dilewati.
"Sampai kapan kau akan mengikutiku Suke?", tanya Naruto. Sasuke tersentak dan membalikan tubuhnya. "Sejak kapan kau disitu?", dengan OOC nya Sasuke membelalakan matanya, kaget dan tak percaya atas keberadaannya yang terbongkar. "Hei, jangan kau pikir aku masih dobe seperti dulu Suke-teme!", Naruto menyeringai. "Hn, jadi kau sudah pintar yah?", dengan wajah datarnya Sasuke menanggapi meskipun dadanya masih berdetak cepat.
"Jadi siapa anak kecil yang kau gendong Naru?", tanya Sasuke to the point. "Dia putriku, Suke", jawab Naruto santai sambil berjalan menduduki kap mobil Sasuke. Sasuke tersentak atas ucapan Naruto yang begitu mengejutkannya. "Apa maksudmu Naruto?", Sasuke menuntut penjelasan. "Ya, dia putriku Suke. Saat aku meninggalkanmu dulu aku tengah mengandung Yuki.", jawab Naruto sambil menatap langit malam tanpa bintang.
"Kau hamil, bagaimana bisa?", tanya Sasuke mengikuti Naruto duduk diatas kap mobil. "Aku hamil, karena Gaara memperkosaku dulu Suke. Awalnya akupun tak percaya, tapi inilah kenyataannya.", tutur Naruto. "Kenapa kau tak menceritakannya padaku Naru?". "Aku takut kau akan meninggalkanku Suke. Aku tak ingin kehilanganmu", jawab Naruto. "Tapi kenapa kau meninggalkanku Naru?", tanya Sasuke Lagi.
"Suke, seandainya aku menceritakan kondisiku apakah kau akan menerimaku?", tanya Naruto. Sasuke terdiam. "Aku tahu, aku bukan gadis baik baik Suke, tapi perasaanku padamu masih sama seperti saat aku mengatakannya dua tahun lalu.", Naruto tersenyum memandang langit malam. "Tapi, aku tak bisa menerima jika saat aku menceritakan semuanya padamu kau pergi meninggalkanku.", Sasuke menatap Naruto yang masih menatap pekatnya malam.
"Kau bisa menerimaku dengan Yuki sebagai putriku Suke?", tanya Naruto. Sasuke mengalihkan pandangannya pada langit malam seperti Naruto. "Naru, aku menunggumu sampai saat ini. Aku mencintaimu.", Naruto melirik Sasuke dan tersenyum. "Maafkan aku Suke, ku harap kau bisa menerima Yuki.", Naruto turun dari kap mobil dan berjalan meninggalkan Sasuke. "Naruto, kau harus menjadi milikku!", teriak Sasuke. "Suke, kau masih tak bisa menerima penolakkan?", tanya Naruto berbalik. "Ya, aku tak menerima penelokanmu!", Sasuke menyeringai dan kembali masuk ke mobilnya. Dipandangnya lekat Uzumaki mansion. Setelahnya Sasuke menyalakan mobilnya untuk pulang.
TBC
Hallo minna-san, ketemu lagi sama author gaje satu ini. hehheeh, Gomennasai ya? saya telat update lagi soalnya kuota y baru d isi, berhubung baru gajian kmaren + ada wktu libur kerja y hri ini.
Saya udc nyoba buat manjangin wordnya sesuai permintaan para readers sekalian, tpi berbeda alurnya. jadi seginilah adanya, berhubung mulai chapter depan bakal ada aksi action lagi(*gkk janji tapi bakal ada adegan menegangkan). Buat yg ngeriquest Yuki d culik, itu pasti ada. Masalah akatsuki itu beda cerita, tapi mudah"n ini selesai gkk lebih dari 20 chapter.
Kalo mau bkin Fic lain takutnya kecampur, jadinya keblinger. daya gkk mau ada Discontinued atoupun Hiatus. jadi tunggu aja ya, d usahakan rutin meskipun saya sibuk. makasih minna-san udc mau baca and riview Fuc gaje saya ini.
akhir kata RIVIEW PLEASE!
