Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, BL, OOC

Pairing: SasuNaru, KakaIru dengan hint KakaYama, ShinoKiba, NejiGaa dan SaiHina


Pandemonium: Revival

Chapter 12. Lovers


Sasuke berbalik, menepis tangan Naruto dengan kasar, "Cukup! Naruto, aku ... sudah muak dengan semua ini …."

"Sasuke—"

"Dengar baik-baik ... mulai sekarang, detik ini juga ... aku …" Ia terdiam sejenak, menarik nafas dalam-dalam seolah mempersiapkan diri baik-baik untuk mengucapkan kata-kata berikutnya,

"Uchiha Sasuke ... menyatakan keluar dari ANBU."

.

.

.

Naruto tercengang mendengar peryataan itu. Apa ia tidak salah dengar? Sasuke keluar dari ANBU?

"Teme ... kau tidak serius kan dengan apa yang kau katakan barusan!"

Sasuke tertawa sinis, "Oh, aku sangat serius, Dobe …" Jawabnya dengan intonasi ringan, kemudian ia menambahkan dengan suara yang kali ini lebih rendah, sedikit bergetar, "Kau pikir aku bisa diam saja menerima kenyataan kalau ternyata selama ini aku menerima perintah dari orang-orang yang sama dengan para bajingan dibalik pemusnahan klan ku."

Naruto terdiam, tidak mampu berkata apa-apa mendengar hal itu. Memang benar hal itu tidak bisa dimaafkan. Tapi tetap saja, ia berharap kalau Sasuke tidak secepat ini mengambil keputusan. Ia ingin agar mereka, sebagai sebuah tim menyelesaikan semua masalah ini bersama. Ya, begitu sebaiknya. Untuk itu, Naruto akan terus berusaha merubah pikiran sahabatnya, "Tapi kita sudah bersama selama ini, apa Sasuke tidak merasakan apapun, meninggalkan semuanya?"

"Kau itu masih naif Naruto."

Perkataan itu menyulut sedikit emosi dalam diri lawan bicaranya, "Aku yang naif? Memangnya apa yang berusaha kau capai kalau kau keluar sekarang? Bisa apa kau kalau sendirian? Sasuke!"

"Jangan beri aku omong kosong itu, Naruto. Aku yakin pasti bisa mencari jalanku sendiri. Karena aku berbeda denganmu."

"... Kau itu yang masih seperti anak kecil!" Tinju Naruto mendarat keras di pipi Sasuke, membuat remaja itu terhuyung kebelakang, berusaha menyeimbangkan pijakannya agar tidak jatuh ke lantai. Darah menetes dari bibirnya yang sedikit robek. Partnernya tidak membuang waktu dan kembali menyerangnya, "Kau itu egois!"

"Brengsek! Apa maumu!" Sasuke balas memukul Naruto, dan Naruto kembali mengembalikan pukulannya.

Kali ini Sasuke menghindar, didorongnya Naruto dengan badannya sendiri sehingga mereka berdua terhempas di dinding. Ditahannya lawannya disana dengan lengannya untuk membatasi pergerakan.

Suara Naruto seakan tercekat di tenggorokannya ketika ia berkata, "Kau ... selalu saja begini, kalah oleh emosi"

"Diam!"

Naruto jelas menolak perintah itu, "Apa kau tidak memikirkan perasaan orang lain, hah! Bagaimana dengan Kakashi-sensei, Yamato-san! Teman-teman kita yang lain! Apa Sasuke tidak pernah memikirkan mereka semua? Setelah sejauh ini berusaha, berjuang bersama ... apa kau tidak merasakan apapun!" Naruto berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawannya, agak lama ia memberontak. Namun Sasuke tetap tak bergerak menahannya.

Sampai akhirnya kemudian Naruto menyerah, seluruh badannya kembali lemas, ditatapnya lurus-lurus sepasang mata gelap yang penuh amarah itu, "Lalu ... perasaanku ... bagaimana dengan perasaanku? Sekarang jawab, apa sedikitpun kau tidak memikirkannya ... Sasuke?"

"PaPadahal saat itu kau bilang akan selalu menjagaku ... selalu ada disampingku. Kalau Sasuke pergi, bagaimana nantinya ... aku juga tidak bisa melindungi Sasuke, kan? Kalau kau jauh dariku ... bagaimana aku bisa tahu keadaanmu?"

Kalau Taka terbang terlalu tinggi, Kitsune tidak mungkin mengejarnya.

Kalimat sederhana yang mempersatukan mereka berdua. Sasuke mendadak terdiam, perlahan diturunkannya tangannya. Tombolnya telah ditekan, dan sedikit demi sedikit logika kembali mengambil alih pikirannya. Bagaikan sebuah prosesor komputer, ditelaahnya kembali seluruh rentetan informasi yang masuk kedalam otaknya, mencari-cari kesalahan dalam dirinya yang berujung pada insiden kecil ini.

Insiden kecil yang telah membuat orang yang paling kausayangi di dunia ini meneteskan air mata.

Kau itu memang bodoh, Uchiha Sasuke.

"NaNaru …" Ia terbata-bata, mengulurkan sebelah tangannya untuk menghapus bulir-bulir hangat yang perlahan mulai mengalir dipipi Naruto.

"Makanya, kumohon …." Pinta partnernya pelan, disela-sela isak tangisnya.

"Naruto …."

"Tetaplah disisiku, Sasuke …."

Sasuke menjawab dengan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Ditelusuri bingkai mulut remaja berambut pirang itu, memohon akses ke dalam ruang privasinya. Naruto menyambutnya dengan sepenuh hati, mengembalikan ciuman pasangannya sementara disaat yang bersamaan tangannya meraih kebelakang kepala, bertaut dalam untaian gelap milik Sasuke. Remaja Uchiha itu kembali mendorong Naruto ke dinding, jemarinya bergerak menelusuri dada rekannya sampai ke bawah, menyusup ke dalam kaus yang dipakainya.

Mereka berdua hanyut dalam lingkaran waktunya sendiri, tidak sadar bahwa ada beberapa pasang mata, tersembunyi di balik kegelapan yang mengamati mereka sejak tadi.

"Wuah, tidak apa-apa nih kita melihatnya?" Kiba bertanya dengan suara yang direndahkan.

"Ini baru namanya semangat masa muda!" Teriakan Lee yang agak keras itu langsung disambut oleh protes dari teman-temannya, "Jangan Berisik!"

"Hmm ... Sasuke-kun lihai juga ya." Celetuk Sai.

Mulut Kiba langsung setengah menganga mendengar komentar itu, "Lihai? Hei, Sai ... kau mesum juga ya tidak seperti tampangmu."

"Ah, sayang Naruto tampak pasrah sekali." Neji tidak mau ketinggalan bertindak sebagai komentator. Sayangnya kali ia kurang pintar dalam memilih kalimat.

"NeNeji lebih suka yang sedikit melawan?"

"BuBukan itu maksudku, Gaara," Neji menoleh ke arah partnernya, kembali ia dibuat tak mampu berkata-kata ketika berhadapan dengan sepasang emerald yang memandang penuh iba seperti seekor kucing yang kehilangan induknya. Kalau Gaara punya alis mata, pasti sekarang kedua alisnya sudah terangkat ke atas.

Kiba mengernyitkan kening mendengar pembicaraan kedua rekannya. "Eh, ngomongin apa sih kalian berdua? Kok gelagapan begitu?"

Shino menepuk pundak Kiba penuh arti, "Biarkan mereka, Kiba. Tidak pantas kalau kita masuk ke urusan pribadi orang lain."

Sementara itu, masih di ruang rapat, Kakashi dan Yamato hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak buah mereka.

"Dasar remaja. Cepat sekali moodnya berubah." Kakashi kembali bertopang dagu, menatap kumpulan remaja yang berkumpul di ujung lorong dari balik pintu yang terbuka, "Gaara dan kawan-kawan juga, katanya mau menghentikan pertengkaran, nyatanya …."

"YaYah ... yang penting semuanya berjalan lancar kan, senpai …." Yamato tertawa dengan canggung.

Kakashi ikut tertawa. Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Yamato, "Tampaknya begitu."


Kakashi and Iruka side: Storge


Jam sudah menunjukkan beberapa menit sebelum pukul lima pagi. Kira-kira setengah jam sebelumnya, Kakashi bersama Yamato dan Sai tiba di rumah dan mereka langsung menuju kamar masing-masing. Saat ini Yamato sudah tertidur pulas si kamarnya, begitu juga dengan Sai. Sementara itu, Kakashi masih asyik menelusuri channel televisi ketika sebuah suara mengagetkannya.

"Kakashi sudah bangun?" Iruka bertanya sembari menguap, baru saja ia keluar dari kamar. Iruka memang selalu bangun pagi untuk bersih-bersih dan menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Rutinitas yang mencerminkan seorang ibu rumah tangga yang baik. Kalau ia perempuan, pasti banyak pria yang mengantri untuk menjadikannya istri.

"Bukan sudah, tapi masih." Jawabnya, memberhentikan browsingnya di salah satu saluran berita.

"Hah, jadi dari tadi belum tidur? Baru pulang ya? Ngomong-ngomong tadi sepertinya lewat sedikit dari tengah malam Sai juga keluar rumah. Belum sempat aku bertanya, dia sudah pergi. Apa sekarang sudah pulang ya?" Iruka turut duduk di sofa sebelah Kakashi.

"Kenapa, Iruka khawatir?"

"Tentu saja. Walaupun katanya dia jago beladiri, kalau nanti dia diserang geng motor atau sekelompok perampok bagaimana? Memangnya Kakashi tidak cemas?"

"Tentu saja cemas." Tapi bukan Sai yang dia cemaskan, melainkan anggota geng dan perampok malang yang berani mengganggu salah satu anggota terbaik squad ANBUnya. Lagipula Sai kan selalu membawa senjatanya kemanapun. Bersamaan dengan pemikiran miring itu, roda-roda di otak sang Kapten ANBU berputar dengan keras, berusaha mencari-cari alasan yang kira-kira dapat diterima akal sehat Iruka, "Tadi Sai dan Yamato bersamaku. Ada teman sekelasnya yang berulang tahun. Kami baru saja pulang dari pestanya."

"Ooh ... begitu. Dari Konoha Academy juga?"

"Bukan, sih ..." Kakashi, yang tidak ingin kebohongan kecilnya berubah menjadi novel bersambung memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, "Ehm, bagaimana sekolah? Sudah mulai terbiasa dengan sistem pengajaran disini?"

"Yaah, lumayan ... agak sedikit berbeda dengan di Mizu ..." Untungnya Iruka tidak bertanya lebih jauh lagi dan ganti mulai bercerita mengenai pengalamannya mengajar, dilanjutkan dengan nostalgia hari-harinya ketika masih berada di negara asalnya. Kakashi sesekali melemparkan komentar, pertanyaan ataupun sebatas anggukan singkat. Beberapa menit kemudian, Iruka mulai menyadari berkurangnya respon yang diberikan lawan bicaranya.

"Kakashi?" Panggilnya.

Iruka tersadar bahwa sekarang kepala Kakashi telah bersandar di bahunya, suara dengkuran halus dapat terdengar datang dari arah pria berambut perak itu. Dadanya naik dan turun dalam interval yang teratur, sinkron dengan setiap tarikan nafas yang diambilnya.

"Tidur, ya?" Iruka tidak tega untuk membangunkannya. Ia tersenyum, merangkul bahu Kakashi dengan sebelah tangannya, kemudian memberikan kecupan lembut di keningnya. Tanpa ia sadari, sampai matahari benar-benar naik dan sinarnya yang hangat menerangi setiap sudut kota Konoha, ia ikut tertidur di sofa itu di samping Kakashi.


Shino and Kiba side: Pragma


Seakan tidak terpengaruh dengan kejadian di malam sebelumnya, hari itu sekolah berjalan seperti biasa. Jam pelajaran terakhir bagi para siswa X-A, kelas Sasuke dan Naruto, adalah Matematika bersama Yamashiro Aoba. Tetapi karena kali ini guru yang bersangkutan berhalangan hadir karena alasan yang tidak diketahui, mereka dibebaskan untuk beraktivitas. Sebagian murid lelaki memilih untuk bermain basket di Gymnasium.

"Kiba! Oper sini!" Naruto masuk ke wilayah lawan di bawah ring, mengangkat sebelah tangannya.

Kiba, yang bertindak sebagai Point Guard, menggeleng singkat sambil terus mendribble, "Itu dibelakangmu ada Sasuke!"

Naruto menyadari kehadiran partnernya itu dibelakang dirinya, yang tengah mengambil posisi defense, "Cih, Teme ... kenapa sih kau menempel dan menjagaku terus dari tadi?" Tanyanya kesal. Berkat hal itu juga sejak tadi ia gagal mencetak angka bagi timnya.

"Hn ..." Sebuah senyum licik terulas diwajah Sasuke ketika ia memikirkan jawabannya, semakin ditempelkan dadanya ke punggung Naruto, kemudian remaja Uchiha itu berbisik lembut ditelinganya, "Menurut mu kenapa ... Dobe?"

Efek dari suara rendah yang mengalun lembut membelai indera pendengarannya itu sungguh luar biasa. Wajah Naruto memerah seketika, jantungnya berdetak kencang, membuatnya tak mampu menahan derasnya arus dopamine yang mengguyur tubuhnya. Kesadarannya sejenak terlepas dari permainan, ingatannya melayang ke kejadian malam tadi.

Karena melihat semua anggota timnya tidak ada yang bebas, akhirnya dengan berat hati Kiba memutuskan untuk memberikan operan keras ke arah Naruto. Sayangnya, ia tidak tahu kalau rekan satu timnya itu telah sepenuhnya kehilangan konsentrasi.

Bola dengan sukses mendarat manis tepat di wajahnya.

Pemuda blonde itu langsung jatuh tersungkur ke lantai kayu.

"Naruto!" Serta merta Sasuke berlutut di samping rekannya, memeriksa keadaannya.

Namun keajaiban terjadi, ia tidak apa-apa. Dengan gerakan kaku bagaikan robot, ia langsung bangkit. Wajahnya masih memerah, tapi hanya sebatas itu saja. Keributan kecil itu tidak berlangsung lama dan permainan pun dilanjutkan. Beberapa menit berlalu, saat ini tim Kiba dan Naruto sedang tertinggal.

Shino membawa bola, ia mendribble dengan lihai melewati beberapa guard tim lawan. Tinggal selangkah menuju ring, ia pun meloncat untuk memasukkan bola dengan lay up sederhana. Tiba-tiba Kiba muncul dihadapannya dan dengan mudah memblok tembakannya.

Keduanya bertabrakan di udara dan berikutnya Shino terjatuh keras diatas punggungnya sendiri, disusul Kiba yang mendarat diatasnya.

"Uh …."

"Hah? Aww ... sakiiit ..." Kiba berusaha berdiri ketika ia melihat Shino terkapar dibawahnya, "Wuaah, maaf Shi"

Permintaan maaf itu urung terucap dari bibirnya. Kenapa? Ternyata karena tabrakan barusan kacamata hitam yang selalu bertengger di hidung bocah kolektor serangga itu terpental entah kemana dan mengekspos kedua matanya. Kiba, yang baru pertama kali melihat apa yang ada dibalik kacamata tersebut, langsung terdiam. Ia tidak mampu bergerak, hanya menatap tak bergeming ke arah dua manik dibawahnya itu. Perhatiannya seolah tersihir dengan wajah yang begitu dekat dengan pandangannya.

"Minggir, Kiba ..." Shino berusaha mendorong Kiba untuk turun, namun partnernya tidak juga bergerak, "Kiba?" Shino mengernyitkan kening melihat ekspresi temannya yang seakan menerawang menembus keberadaan dirinya itu, "Hei …."

Momen aneh tersebut berlanjut sampai sebuah bola oranye besar tanpa ampun mendarat keras di kening si calon penerus klan Inuzuka.

"Aduh!" Ia menoleh ke arah datangnya bola, dilihatnya tidak jauh dari garis tengah lapangan, seorang remaja berambut raven dengan senyum menyebalkan sedang berdiri bertolak pinggang, "Sasuke!"

"Bodoh. Kalian berdua, rencananya mau sampai kapan pasang posisi begitu?"

Kiba akhirnya bangkit dan mengambil posisi duduk disebelah Shino. Saat itu entah darimana dan bagaimana pemuda Aburame itu sudah kembali mengenakan kacamatanya.

Naruto tertawa sembari berlari menghampiri Sasuke, "Woohoo~ tabrakan barusan intense sekali, dattebayo!"

Sasuke tersenyum mengejek mendengar perkataan itu, "Oh, hebat ... kau bisa pakai kata-kata sulit sekarang?"

"Apaa?" Naruto menggeram kesal, mendekatkan wajahnya ke muka Sasuke, sehingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Tak lama kemudian keduanya terlibat perang mulut, kata-kata makian dan ejekan mengalir bebas dari mulut mereka, memenuhi aula.

Sementara itu Shino dan Kiba kembali beradu pandang, masing-masing mempertahankan ekspresi datar yang tidak dapat ditebak. Kembali dihadapkan dengan wajah partnernya itu, Kiba diam-diam berusaha menenangkan jantungnya yang masih saja berdegup kencang, memutar kembali insiden yang masih segar diingatannya.

Tanpa mereka ketahui, saat itu keduanya bertanya hal yang sama kepada diri masing-masing, "Perasaan yang tadi itu ... apa?"


Neji and Gaara side: Eros


Bel pulang berbunyi. Hyuuga Neji menyusuri lorong gedung sekolah menuju pintu keluar dengan langkah ringan. Cukup senang karena hari ini tidak ada pekerjaan rumah yang menjadi bebannya, bebas dari rapat OSIS, dan lebih lagi ada orang yang sudah menunggunya diluar gerbang.

"Neji!"

Neji menoleh ke arah sumber suara. Dengan rambut merahnya yang familiar, hari itu Gaara mengenakan jaket kulit berwarna hitam diatas t-shirt putih polos dan celana jeans biru gelap. Sepasang sepatu Converse biasa melengkapi fiturnya. Disebelahnya, terparkir motor balap Honda CBR 250 cc berwarna senada dengan jaketnya.

Ya, hari itu pulang sekolah, Gaara kembali menjemput Neji. Sebenarnya kali ini atas request Neji sendiri, yang meminta Gaara untuk menemaninya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Konoha.

"Kali ini aku pinjam motornya Sasuke. Tidak apa-apa kan?" Tanya Gaara.

"Tentu tidak."

"Biar tidak mencolok juga sih." Gaara tersenyum puas. Neji tidak yakin akan hal itu, karena masih ada beberapa siswi yang memandang tersipu ke arah mereka berdua sambil berbisik-bisik, malah tidak sedikit juga yang mengambil foto dengan kamera handphone. Sesaat Neji tergoda untuk menuntut royalti kepada mereka. Namun si pemilik Suna tampaknya tidak menyadari hal itu, ia kemudian menyerahkan sebuah helm cadangan yang juga berwarna hitam kepada Neji. "Eh, memangnya Neji mau kemana?"

"Lihat saja nanti."

"Heh. Kejutan ya ... aku suka itu."

"Aku tahu." Neji tersenyum, memakai helmnya. Dari situ, ia mengambil alih kemudi dan menyalakan mesin motor. Kemudian dengan Gaara di kursi belakang, ia memacu kendaraan itu meninggalkan kompleks sekolah.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan toko yang dituju. Begitu turun, jika diperhatikan mata Gaara sedikit berbinar-binar melihat pemandangan dihadapannya, "Ikan hias, ya …" Dengan nada suara yang penuh semangat ia menambahkan, "Aku baru tahu kalau Neji juga ternyata memelihara ikan."

"Yah, begitulah …." Neji hanya angkat bahu dan segera masuk kedalam toko.

Di dalam, mereka melihat banyak sekali ikan hias dengan berbagai jenis dan warna berenang berseliweran di dalam aquarium. Mereka menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana, melihat-lihat. Sesekali Gaara menjelaskan kepada Neji mengenai asal dan karakteristik ikan-ikan yang mereka temui. Neji tidak menduga kalau Gaara tahu sebanyak itu. Sama seperti waktu ia menerangkan panjang lebar tentang tanaman favoritnya, kaktus.

"Kalau Gaara, dari yang sudah dilihat tadi, ada yang menarik perhatianmu?"

"Ehm, yang itu." Ia menunjuk sebuah ikan eksotis yang mirip dengan ikan mas koki, hampir sama dengan miliknya di rumah, tetapi kalau Micchan berwarna merah-oranye dengan sedikit sentuhan hijau, yang ini bersisik pucat dengan warna kecokelatan di bagian kepalanya.

"Permisi, Oyaji," Neji memanggil penjaga toko, "Yang ini jantan atau betina ya?"

Bapak penjaga itu menghampiri mereka dari balik counter, kemudian tersenyum melihat ikan yang ditunjuk Neji, "Wah, pilihan bagus nak. Kebetulan sedang ada potongan harga untuk jenis itu, karena ini stock terakhir ... dan kebetulan kelaminnya jantan."

"Baguslah kalau begitu. Aku ambil yang ini."

Pemilik toko mengangguk, segera memasukkan ikan itu ke dalam kotak plastik kecil yang diisi air dengan lubang kecil diatasnya. Setelah Neji membayarnya, mereka berdua keluar dari toko.

"Oke. Ini buat Gaara." Kata Neji kemudian, menyerahkan container kecil itu kepada Gaara.

"Eh?" Hanya itu yang keluar dari mulut si rambut merah.

"Ya. Ikanmu di rumah betina kan? Anggap saja pasangannya Micchan. Memangnya dia tidak kesepian kalau selama ini cuma sendiri? Apalagi kalau kau sedang ada misi. Makanya aku belikan ini buatmu. Bagaimana, maukah kau menerimanya?"

Gaara sedikit tercengang mendengar pernyataan itu. Ternyata Neji sengaja mengajaknya kesini untuk hal itu. Perlahan garis wajahnya melunak, ekspresi kagetnya berubah lembut, dan sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, "Tentu saja. Aku menerimanya," Ia mengambil ikan itu dari tangan Neji, "Terimakasih."

Neji turut tersenyum melihat wajah bahagia partnernya. Seandainya ini bukan di tempat umum, pasti ia sudah ...

"Eh, itu bukannya Sai ya? Tumben dia jalan dengan wanita …" Celetukan itu menarik Neji dari fantasinya. Ia melihat Gaara memicingkan mata, berusaha memandang ke kejauhan, "Itu bukannya Hinata?"

"Hime? Tidak mungkin …." Secepat kilat Neji berbalik, pupilnya berkontraksi untuk memastikan kedua sosok yang tengah berjalan berdampingan, sambil sesekali tertawa melihat ke arah etalase toko yang mereka lewati.

"Hime?"

"Begitu aku biasa memanggil Hinata. Karena saat ini dia memegang posisi utama sebagai Heiress klan kami." Neji menjelaskan, matanya masih memandang tajam keseberang jalan, "Pepegangan tangan?"

Wajah Gaara yang nyaris tanpa emosi menyembunyikan dengan baik kebingungannya, apa kekhawatiran berlebihan Neji ini ada alasannya? Memangnya apa salahnya kalau mereka berpegangan tangan? Bagus kan kalau akhirnya Hinata menemukan pria yang menjadi tambatan hatinya?


Sai and Hinata side: Banquet


Sai senang sekali. Entah kenapa hari ini ia merasakan seluruh tubuh dan perasaannya amat-sangat ringan. Seolah jika genggaman tangannya diatas tangan Hinata terlepas, serta merta ia akan terbang ke udara. Berlebihan memang, tapi ia tidak peduli. Apa kehadiran gadis disebelahnya yang menimbulkan perasaan itu? Memang sudah lama ia tidak sedekat ini dengan orang lain. Sejak pertemuan mereka pada hari itu, kemudian kejadian buku sketsa di hari berikutnya, pertemuan mereka di tebing menjadi semakin rutin. Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa terasa kini mereka sudah melangkah berdampingan, menyusuri keramaian kota sepulang sekolah.

Kalau ada satu-satunya yang mengganggu Sai saat ini adalah rasa kantuk yang menyerangnya sejak tadi pagi. Ia tak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak menguap.

Gerakan kecil itu sayangnya tertangkap oleh sudut mata Hinata, "Aano ... Sai-kun mengantuk? Bosan ya? Maaf"

"Ah, tidak ... hanya sedikit mengantuk karena tadi pagi-pagi sekali di rumah berisik. Tidurku jadi terganggu." Keluhnya.

"Kenapa?"

"Yaah ... bagaimana ya menjelaskannya padamu? Yang jelas ... ehm, ayahku bad mood tadi pagi karena memergoki pacarnya terlalu akrab dengan rekan kerjanya." Katanya kemudian dengan air muka datar. Selama ia menghabiskan waktu di rumah Kakashi, pemuda berkulit pucat itu sebenarnya sudah cukup frustasi melihat kelakuan tiga pria dewasa yang tinggal bersamanya. Kalau bisa, ingin rasanya ia mengunci mereka semua dalam satu kamar agar masing-masing bisa menegaskan perasaannya kepada pihak lain.

"Pasti sulit ya, untuk Sai. Setelah ibumu meninggal, ayahmu berkencan lagi."

Kalau Naruto atau Kiba yang ada di tempatnya sekarang ini, mereka berdua pasti sudah tertawa terbahak-bahak mendengar komentar Hinata barusan. Sai pun berusaha keras agar tawa tidak lepas dari mulutnya. Bagaimana tidak, respon Hinata itu kelewat manis untuk jawaban Sai yang kalau diterjemahkan berarti: Yamato sedang bad mood karena memergoki Kakashi terlalu akrab dengan Iruka. Isu yang niscaya bisa membuat geger seluruh Konoha Academy sekaligus pantas jadi headline koran sekolah.

Tetapi untungnya Sai adalah Sai, dan ia menanggapinya dengan sebuah senyuman tulus, "Aku sudah terbiasa kok."

Namun semua gestur palsu itu belum cukup untuk menghilangkan kecemasan di wajah Hinata, "Tapi, Sai pasti merasa"

"Hime," Suara yang berat, tegas sekaligus tidak asing bagi keduanya memotong kalimat Hinata.

"Neji nii-san?"

Neji tersenyum ke arah Hinata, kemudian memberi salam kepada remaja lelaki dihadapannya, namun dengan ekspresi yang jauh berbeda, "Sai."

"Kalian berdua ... ada waktu? Ikut aku dan Gaara makan disana yuk." Neji menunjuk dengan ibu jarinya ke arah restoran tradisional Jepang yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, "Gaara sudah kesana duluan."

"Ah, maaf senpai, tapi aku dan Hinata sudah punya rencana"

"Yang tadi itu bukan permintaan, Sai ... biar aku yang traktir."

Sai perlahan menelan ludahnya mendengar kalimat itu. Kata-kata dan tatapan Neji seolah melelehkan sol sepatunya, membuat kakinya menempel ke jalan, tak mampu bergerak. Kenapa ia bisa mendadak jadi segugup ini? Ia bukanlah tipe orang yang mudah terintimidasi. Apalagi oleh orang yang sepantaran dengannya. Kemudian berikutnya yang ia tahu, ia sudah berjalan mengikuti Neji bersama dengan Hinata ke arah restoran yang dituju.

Di tengah jalan, Sai dapat merasakan genggaman tangan Hinata semakin erat, dan ketika ia menoleh kearah gadis itu, sebuah senyum yang menenangkan terpancar dari wajah sang Heiress.

Aksi kecil yang cukup untuk mengembalikan sedikit warna cerah pada pikirannya yang kalut. Diremasnya kembali tangan Hinata, dan dengan senyuman yang sama ia pun memantapkan langkahnya, sedikit kepanikan yang sempat melanda dirinya berangsur luntur.


[Tbc]


A/N: Chapter 12! Romance is in the air and fillers are on the loose :P Chapter ini dibuat seringan mungkin, buat mengimbangi chapter kemaren yang kayak pelajaran sejarah bin angsty itu ... hehehe. Cukup menyenangkan bikinnya, mudah"an menyenangkan buat yang baca juga :) Mohon maaf atas segala kekurangannya dan terimakasih udah tahan baca chapter ini sampe abis!

Balasan review no account:

Yoichidea syhufellrs: Hehe ... nggak sama kan nasibnya kayak di canon? Kan ada Naru ... sebenernya Kishi-sensei juga mau bikin gitu di manga, tapi nanti nggak seru, cepet slese ceritanya. Jadi Sasukenya dibikin jahat deh :D #fangirl Saya juga blm nonton animenya. Baru nonton satu episode doang. KHR jauh lebih bagus kalo baca manganya, animenya kualitasnya kurang. Sekarang saya baru baca sampe chapter 190, ya ampun ... ngiler" jorok saya ngeliat sosok mereka yg dari 10 tahun kedepan. Wow! Semuanya hot sih, Tsuna, Gokudera, Yamamoto, sampe Ryohei juga (kenapa saya jadi KHR-an disini?).

Lightning Fang: Sai spynya Kaka ... nggak elit bgt ya. Udah gitu ceritanya hampir mirip sama di manga lagi. Gpp lah, lagi nggak pengen bikin yang ribet :D I just want this to be fun. Action dipending dulu. Nanti buat chapter-chapter akhir bakal action semua sampe tamat kayaknya (demen banget sih author dodol ini ngasi spoiler, grr ...) Genjutsu disini sama kayak ilusi biasa kali ya, kayak itu tuh dulu yg di tipi ... Damien sang ilusionis :D Biar keren aja saya kasi istilah Genjutsu. Nggak bakal ada Sharingan"an, serem kan kalo tiba-tiba di dunia nyata mata orang berubah jadi merah terus bisa muter" pupilnya? :D

Trivial things and whatnot:

Bagi yang tertarik, silakan lanjut dibaca. Judul-judul yang saya pake diatas untuk setiap pair: Stroge, Pragma, Eros, dan Banquet itu sebenernya adalah 4 dari 6 jenis Cinta/Love. Berikut penjelasannya:

1. Eros: cinta yang passionate, physical, kadang penuh nafsu

2. Pragma: cinta yang sifatnya practical, kadang-kadang waktu cinta jenis ini datang, orangnya sendiri nggak nyadar kalo dia udah nemuin pasangan hidupnya.

3. Banquet: cinta yang melibatkan pengorbanan dari pihak yang terlibat, karena mereka cuma mikirin kebahagiaan pasangannya.

4. Storge: cinta yang berdasarkan hubungan persahabatan, orang yang terlibat cinta ini pengen partner yang bisa diajak berbagi, membentuk hubungan yang berdasarkan kedekatan, kepercayaan dan rasa kasih sayang.

Dan yang 2 lagi itu Mania (obsesif bisa menjurus kekerasan) dan Ludus (cinta seneng", nggak mau menjalin hubungan serius).

Mind to review?

Cheers,
Sei