Beautiful Prince(ss)

.

Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka

Park Chanyeol as Mafia Phoenix

.

SUMMARY

Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.

.

WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!

Don't bash! Don't plagiat!

.

Chapter 12

Suara detik jarum jam terus berlalu, detik berganti menjadi menit dan Chanyeol masih terdiam tanpa suara. Tatapan setajam mata pisaunya menghujam Baekhyun yang juga hanya terdiam dan terisak kecil. Anak itu sudah mencoba untuk menghentikan tangisnya namun sangat sulit saat ia merasa sukmanya begitu tersayat.

Ia mendongak menatap Chanyeol sekali lagi dengan kristal amber nya. Menatap wajah yang luar biasa tampan itu dengan detail seakan tak ada lagi hari esok untuk melihatnya.

Lantas lelaki delapan belas itu membuang muka kala dirinya tak sanggup lagi melihat wajah prianya. Rasa yang membuncah didalam hatinya terlalu sulit untuk dilupakan, terlalu sakit untuk di tiadakan. Chanyeol adalah gambaran sempurna dari seorang Dewa. Bagaimanapun ia jatuh hati dengan mudahnya pada pria itu hanya dalam beberapa hari. Chanyeol terlalu memikat untuk di abaikan.

Tempatnya memang bukan disini. Ia tidak lahir dengan darah penuh adrenalin seperti halnya orang-orang Phoenix yang hebat. Ia lahir karena harapan rakyat Jepang yang menginginkan seorang pangeran. Meskipun tak ada tempat untuk kembali, jauh didalam hatinya ia sangat ingin untuk kembali menjadi seorang anggota kekaisaran. Tetapi ia tahu semuanya tak akan berjalan sesuai keinginannya. Chanyeol tak akan melepaskannya begitu saja setelah ia tahu bagaimana Phoenix beroperasi dan kejahatan apa saja yang dilakukan oleh mereka. Lagipula sebuah janin sedang tumbuh didalam perutnya, itu akan mempersulit keadaannya untuk pergi.

"Sebaiknya kita bersikap seperti orang asing saja, Chanyeol." Ia berusaha setegar mungkin agar suaranya tak terdengar bergetar lalu ia berbalik dan melangkah untuk menjauh dari eksistensi Chanyeol.

Pria itu bergerak cepat seperti api yang menjilat, mendekap Baekhyun dari belakang dengan sangat erat seolah tak ingin kehilangan. Menyalurkan apa yang ia rasakan pada anak itu supaya ia mengerti.

Kepala sang Phoenix tenggelam dalam ceruk leher Baekhyun, menghisap aroma yang menjadi candu barunya dalam-dalam. Memberikan kecupan-kecupan lembut disana.

"Sudah kukatakan bahwa kau bisa berharap padaku. Kau tahu apa artinya itu Baekhyun?"

Chanyeol mempererat pelukannya, tak membiarkan Baekhyun bergerak sedikitpun meski pada kenyatannya lelaki mungil itu tetap terdiam seperti manekin.

"U're mine, Byun Baekhyun. Kupastikan itu." Phoenix telah mengklaimnya. Entah atas dasar apa, tapi perasaan Baekhyun menghangat setelahnya. Chanyeol mampu menyakitinya, tapi juga lebih mampu untuk mengobati luka hatinya. Pria itu menyakiti, tetapi pria itu juga yang mengobati.

"Kau percaya padaku, bukan?" Suara bisikan Chanyeol menenangkannya. Membuatnya luar biasa nyaman hingga ia mengangguk atas pertanyaan Chanyeol.

Tubuhnya berputar ketika Chanyeol menariknya hingga mereka saling berhadapan. Chanyeol menangkup wajahnya dengan tegas, memberikan sebuah tatapan yang tak dapat ia jelaskan.

Wajah mereka kian mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. Chanyeol memiringkan wajahnya, menatap sepasang amber cantik itu dengan teduh sebelum menyatukan tautan diantara mereka.

Keduanya saling memagut satu sama lain, menikmati kontur bibir masing-masing tanpa tuntutan gairah.

Sang dominan mendekap tubuh submisifnya dengan posesif. Membawa tubuh keduanya untuk berbaring di ranjang, melucuti semua pakaian yang mereka kenakan hingga tak ada lagi yang tersisa. Lalu ia mulai bergerak diantara kedua paha submisifnya, memberi kenikmatan tiada tara untuk keduanya. Berusaha selembut mungkin untuk menjaga janin Baekhyun tetap dalam kondisi baik-baik saja.

Hormonnya meledak-ledak setelah 2 minggu terlewati tanpa cengkeraman Baekhyun pada dirinya. Dan kini ia sangat menikmati penyatuan ini, berniat tak berhenti sampai lelah menjemput mereka.

"Jangan pernah berpikiran untuk menjauh dariku, baby wolf." Chanyeol berbisik parau. Disusul oleh pencapaian puncaknya yang pertama. Lalu dilanjutkan oleh permainan putaran kedua dan seterusnya hingga malam berbintang itu diisi dengan kegiatan erotis mereka.

e)(o

Suara rintik hujan diluar jendela menarik perhatian Baekhyun yang masih berbaring nyaman dibawah selimutnya. Beberapa kali matanya berkedip untuk memulihkan kesadarannya hingga ia menyadari bahwa pagi ini langit cukup mendung dengan rintik air hujan yang turun dari langit.

Pagi yang cukup buruk, tapi Baekhyun suka hujan. Selalu. Alasannya sangat sederhana, hanya karena suara hujan yang menurutnya seperti sebuah melodi dari surga. Sangat menenangkan dan indah.

Matanya kembali teralih ke arah lain ketika mendengar suara pintu geser dan mendapati Chanyeol baru saja keluar dari walk in closet dengan kemeja putih yang belum sepenuhnya terkancing serta jas dan dasi yang ia bawa di tangannya.

Pria itu menatap sekilas ke arahnya lalu berdiri di depan cermin. Mengancingkan kemejanya dengan benar sebelum memakai jas kerjanya.

Baekhyun menguap sejenak, turun dari ranjang lalu menghampiri Chanyeol. Ia hanya mengenakan kemeja besar milik Chanyeol setelah kegiatan mereka malam tadi.

"Kenapa tidak membangunkanku?" Anak itu merengut dengan suara parau yang begitu menggemaskan membuat perhatian Chanyeol teralih dari cermin. Pria itu menarik pinggang Baekhyun hingga tubuh mereka saling menempel. Tanpa berkata apapun atau tersenyum sekalipun, Chanyeol mengecup dahi Baekhyun sebagai ucapan selamat pagi. Cukup lama dan dalam hingga Baekhyun merona.

Remaja itu bergerak pelan, meraih dasi hitam bergaris biru muda yang masih Chanyeol genggam lalu mengalungkannya di kerah kemeja yang pria itu kenakan. Merapikan kerah kemejanya lalu membuat simpul untuk dasi itu sehingga tampak terpasang rapi di leher Chanyeol. Dia terlihat seperti seorang istri di pagi hari.

Chanyeol tersenyum kecil, sangat minim hingga bibirnya bahkan tak terlihat melengkung sama sekali. Justru tetap datar dengan tatapan matanya yang khas, selalu tajam dan waspada terhadap apapun. Kilatan berbahaya dari matanya tak pernah hilang kapanpun itu seolah itu adalah tabiatnya.

"Kau mau menggodaku, hm?" Chanyeol kembali menarik Baekhyun untuk mendekat. Mencium ceruk leher carrier nya yang manis lalu meraih tengkuknya dengan hati-hati seakan dia adalah bayi yang rapuh. Chanyeol bahkan dapat merasakan ujung tulang punggung Baekhyun di tengkuknya, anak itu terlalu kurus. Ia harus menyuruh seseorang untuk mengawasi kegiatan mengisi perut Baekhyun agar berat badan anak itu bertambah.

"Kau saja yang sensitif, tuan Park." Baekhyun berujar tanpa minat. Lantas kelopaknya melebar saat merasakan tangan besar Chanyeol yang dingin meremas bokongnya tanpa permisi. Persetan dengan Phoenix, ia sangat malu saat ini. Itu seperti kegiatan pelecehan. Sayangnya Chanyeol telah melakukan yang lebih dari itu dan ia menerimanya dengan baik. Jadi rasanya sangat konyol saat ia merasa bahwa itu adalah sebuah pelecehan.

"Kau harus banyak makan, baby wolf. Dia perlu asupan makanan darimu." Mata violet Chanyeol yang dingin menatap amber Baekhyun, memperlihatkan sebuah keseriusan yang nyaris seperti perintah yang tak terbantahkan. Tangannya mengelus perut Baekhyun dengan lembut saat ia berbicara seolah ia tengah merasakan kehadiran seseorang didalam sana. Padahal jelas-jelas yang ada didalam sana saat ini hanyalah segumpal darah tak bernyawa.

"Selera makanku menurun, Chanlie. Kau tahu aku sering mual. Itu membuatku tidak ingin makan apapun." Adunya. Tanpa rengekan. Tanpa tingkah yang manja.

Chanyeol selalu suka bagaimana cara Baekhyun bersikap. Terlihat manja di matanya namun tak benar-benar demikian. Darah biru itu mengalir dengan baik didalam tubuh submisifnya hingga menghasilkan kepribadian kuat yang juga lembut dalam waktu bersamaan.

Byun Baekhyun tak akan pernah bisa di samakan dengan jalang-jalangnya. Tak akan pernah. Karena Baekhyun begitu berharga.

"Aku akan meminta obatㅡ"

"Tidak! Aku tidak mau tergantung pada obat-obatan. Itu tidak baik untuk anak ku."

Alis Chanyeol berubah menukik, menunjukkan air muka tidak senang atas bantahan Baekhyun. "Kau sudah berani memotong ucapanku, sayang?" Tangan Chanyeol bermain di sekitar ceruk leher Baekhyun, mengambil sejumput rambut Baekhyun dan membawanya ke belakang telinga.

Tenggorokan Baekhyun terasa kering, bahkan sangat sulit untuknya menelan saliva akibat kegugupan. Tak seharusnya ia bersikap demikian pada Phoenix. Chanyeol tetaplah Chanyeol yang tak bisa dibantah. Tak ada alasan apapun yang masuk akal dimata pria itu. Selama ia menentang, ia tetaplah terlihat salah.

Sebelum ia sempat berucap, Chanyeol telah lebih dulu menyerangnya dengan ciuman yang menuntut hingga punggungnya menabrak cermin datar di dinding. Ia meringis kecil namun Chanyeol bahkan tak memberinya waktu untuk bernafas. Pria itu semakin ganas dari waktu ke waktu dan ini tak bisa di biarkan. Chanyeol akan lepas kendali dan itu tak bagus.

"Ch-Chanyeol.. hentikan" usahanya untuk mendorong dada pria itu sungguh sangat sia-sia. Chanyeol seakan memiliki kekuatan sepuluh pria hingga ia sangat sulit untuk dilawan.

"Chanyeol.. i-ini sudah siang. Kau harus bekerja" Baekhyun mulai kewalahan. Ia tak bisa dan tak mampu membalas setiap lumatan Chanyeol. Lagipula ia bukan seorang good kisser seperti Chanyeol. Ia hanyalah amatiran yang bahkan baru merasakan yang namanya ciuman panas dengan Phoenix seorang.

Paru-paru Baekhyun nyaris kosong saat Chanyeol tak jua menghentikan aktivitas sepihaknya. Lantas ia menjambak rambut Chanyeol hingga pria itu melepas tautan mereka.

Baekhyun mengambil oksigen dengan cepat, terengah-engah dengan bibir merah yang terbuka. Sangat seksi dan menggairahkan dimata Phoenix. Sangat ingin ia terjang namun waktu tak mengijinkannya. Ia memiliki janji penting di perusahaan yang tak bisa ia tinggalkan. Ia punya komitmen yang kuat dalam bisnis dan komitmen itu tak bisa di tiadakan hanya karena seonggok makhluk menggoda yang selalu menantinya untuk pulang ke rumah.

"Jangan membantahku lagi. Mengerti?" Chanyeol berbisik serak. Suara beratnya mendominasi didalam ruangan. Berhasil membuat jiwa submisif Baekhyun menjerit-jerit gila karena suara bariton seksi itu.

Setelahnya ia mengangguk patuh, menatap Chanyeol dengan sorot teduhnya. "Tapi aku tak ingin membuat anakku sering mengonsumsi bahan kimia, Chanlie."

Tangan kiri Chanyeol kembali menangkup wajah Baekhyun, mengusap pahatan cantik bak boneka itu dengan sayang. "Anak kita, baby." Ralatnya.

Pipi Baekhyun bersemu merah. Kalimat sederhana yang membuat hatinya menghangat. Ia sangat senang mendapati Chanyeol yang mengakui kehadiran janinnya. Anak mereka.

"Kalau begitu makan yang banyak. Taeil mengatakan mual adalah hal yang biasa. Paham?"

Baekhyun mengangguk patuh. Chanyeol akan melakukan segala cara untuk membuatnya makan dalam takaran yang diinginkan pria itu. Jadi tak ada gunanya ia terus membantah. Batinnya lelah jika harus beradu mulut lagi dengan Chanyeol.

Lagipula, Kyungsoo pernah mengatakan padanya bahwa tubuhnya memang terlalu kecil jadi dia harus menambah berat badannya. Demi anaknya, anak Chanyeol, anak mereka.

"Aku akan berangkat. Pergilah mandi dan sarapan. Joonmyeon akan mengawasimu." Chanyeol memberikan sebuah kecupan di ujung hidung Baekhyun. Lalu menyentuh ujung hidung itu dengan jari telunjuknya seperti tengah memperlakukan seorang anak-anak. "Kau milikku."

Tak ada percakapan apapun lagi setelahnya. Chanyeol hanya menatapnya seperti biasa, lalu pergi dengan penampilan rapi nya. Chanyeol terlihat seperti pria normal jika seperti itu.

Tungkainya segera berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya mulai mual lagi dan ia memuntahkan sisa makan malamnya di wastafel. Selalu seperti itu. Ia juga kehilangan banyak asam lambungnya akibat morning sick menyebalkan ini.

"Ah.. aku tak tahu jika mengandung sesulit ini." Ia bergumam, menatapi pantulan dirinya di cermin. Mendapati jika kontur wajahnya mirip dengan potret seorang wanita yang mereka sebut sebagai ibunya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah. Tak seharusnya ia disini. Tempatnya adalah di istana kekaisaran. Seharusnya di kepalanya terletak mahkota seorang putra mahkota.

Tetapi, persetan dengan mahkota. Pamannya telah membuat semuanya berjalan dengan buruk. Entah apa yang akan pria itu lakukan jika nanti ia sudah resmi mengumumkan pada seluruh dunia bahwa ia bukan lagi seorang anggota keluarga kekaisaran Jepang. Itu pasti akan mengundang banyak kontroversi.

"Menyebalkan" desisnya pelan, sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti suara bisikan angin.

Setelah memastikan bahwa mual di perutnya hilang, Baekhyun pergi ke jakuzi dan mengalirkan air hangat ke dalamnya hingga tubuhnya terendam disana. Tentunya setelah seluruh pakaiannya tanggal.

Dalam diam ia mengelus perutnya, sesekali tersenyum saat membayangkan bahwa sebentar lagi sebuah kehidupan akan tumbuh didalam sana. Itu sebuah anugerah yang luar biasa.

Tak pernah terbesit dalam benaknya bahwa menjadi seorang carrier akan berubah menjadi menyenangkan. Dulu, ia sangat membenci dirinya sendiri. Membenci kenyataan bahwa ia terlahir sebagai seorang carrier yang menyebabkannya tak cocok untuk menduduki takhta kelak. Tetapi sekarang semuanya berubah. Ia telah memiliki kehidupan lain yang ia yakini lebih baik daripada menjadi seorang pangeran.

Waktu berlalu dengan begitu cepat dan Baekhyun keluar dari kamar Chanyeol setelah 30 menit berkutat untuk mengurus dirinya sendiri. Ia menolak segala bantuan pelayan yang sengaja Chanyeol hadirkan untuknya. Setidaknya ia harus belajar menjadi seseorang yang mandiri. Kini ia warga sipil. Bukan lagi seseorang yang akan selalu diikuti para penjaga atau puluhan pelayan yang siap menyediakan segala kebutuhannya.

Meskipun kehidupan ini nyaris sama dengan yang sebelumnya, setidaknya ia bisa meluapkan seluruh emosinya disini. Menjadi dirinya sendiri. Ia tak perlu menjaga etika. Persetan dengan etika istana karena orang-orang Phoenix adalah sekumpulan orang bar-bar yang hidupnya dipenuhi adrenalin.

"Ohayou, darling." Minseok menyapanya di halaman belakang. Entah bagaimana figur pria dominan itu justru terlihat manis di mata Baekhyun. Minseok seperti gambaran seorang carrier. Lagipula ia pikir jiwa Minseok dan Joonmyeon mungkin saja tertukar. Joonmyeon yang notabene nya seorang carrier justru selalu terlihat manly seperti seorang dominan. Begitupun sebaliknya, Minseok justru terlihat sangat lembut dan keibuan seperti seorang carrier. Padahal semua orang tahu bahwa pria itu adalah seorang dominan.

Dan juga, sapaan pria itu terdengar begitu.. entahlah. Sangat sulit menjelaskannya. Apakah Minseok memanggil semua orang seperti itu? Mungkin tidak. Tak ada yang spesial saat Minseok memanggilnya demikian. Tapi justru akan sangat luar biasa rasanya saat Chanyeol yang melafalkannya. Menjauhlah dari pikiranku, Chanyeol! Kau harus bekerja, ia mendumel dalam batinnya. Chanyeol selalu muncul dalam kepalanya seperti hantu setiap saat dan itu terasa menjengkelkan bagi Baekhyun karena itu membuatnya tak bisa untuk fokus dalam suatu aktivitas.

"Kudengar kau mahir menggunakan pistol di kali pertamamu."

Suara kikikan kuda keluar dari mulut Baekhyun sebagai tanggapan. Ia mendekat pada Minseok dan baru menyadari bahwa pria itu tengah mengasah sebuah pisau. Belati? Tidak, itu tidak terlihat seperti belati. Pisau dapur? Mata pisau nya lebih tajam dari pisau dapur. Lagipula pisau itu mengkilat. Pisau buah? Tidak mungkin, ukurannya terlalu kecil untuk dikatakan pisau buah.

"Oh, ini pisau bedah milik Kai. Dia si dokter bedah kematian, ingat? Kai sering menggunakan pisau ini untuk membunuh musuhnya. Dan pisau ini temannya dalam operasi bedah."

"Bukannya alat bedah itu harus benar-benar steril?" Kening Baekhyun berkerut sangsi. Melihat kembali pada pisau yang sedang Minseok pertajam.

"Maksudku, operasi bedah dalam misi, darling." Mata Minseok mengerling nakal padanya dan Baekhyun hanya tertawa dengan kikuk hingga terdengar sangat aneh. "Jangan tertawa jika kau tidak mau."

Baekhyun berhenti tertawa, Minseok selalu bicara seperti itu. Seolah ia tak memiliki kebohongan apapun yang ia sembunyikan. Atau memang begitu. Setidaknya Minseok adalah orang yang nyaman diajak mengobrol, seperti Joonmyeon.

"Ah, omong-omong darimana kau tahu?" Baekhyun mengangkat kedua alisnya, sangat penasaran. Dan Minseok menatapnya tak mengerti. Pertanyaan itu sungguh ambigu. Jadi ia hanya terdiam tanpa menjawab. "Maksudkuㅡ ah, lupakan. Pasti Kyungsoo yang memberitahunya."

Tak ada orang lain dari Phoenix yang melihatnya disana selain Kyungsoo. Ia bertarung bersama Kyungsoo jadi lelaki itu pasti yang mengatakannya.

"Jika Chanyeol tahu dia bisa marah."

"Apa?"

"Apanya yang apa?" Minseok tertawa lebar. Mengobrol dengan Baekhyun selalu membuatnya terhibur. Apapun topiknya. Dimanapun itu. Baekhyun selalu jadi orang favoritnya di rumah ini untuk diajak berbincang. Lelaki Jepang itu sangat pandai berucap dan logis.

"Maksudku, kenapa Chanyeol harus marah?"

Minseok mangangkat bahunya terkesan tak peduli, tetapi kemudian ia berucap, "Chanyeol tak akan suka saat mengetahui carrier nya mempertaruhkan nyawanya diluar sana."

"Tapi dia yang membuatku pergi bersama Kyungsoo ke kasino. Kupikir dia tak peduli."

"Terkadang dia memang sulit di tebak, Baekhyun darling. Chanyeol membagi kasih sayangnya dengan cara yang berbeda yang tak akan pernah bisa kau tebak atau pikirkan." Senyum Minseok menenangkannya. Pria itu memiliki banyak makna dibalik senyumannya dan entah kenapa itu selalu berhasil membuat sesuatu yang masuk akal melintas di benaknya. Ia jadi teringat Joonmyeon. "Kau sudah sarapan?"

Ia menggeleng dan Minseok yang kebetulan melihatnya lantas memasang mimik terkejut yang sungguh menghibur. "Demi Monggu yang berbulu lebat! Ini sudah jam 9 darling! Ayo, aku akan memanaskan makanan di pantri. Marc memasaknya tadi sebelum dia pergi." Minseok membersihkan pisau bedah Kai, lalu ikut serta membawanya kedalam rumah saat ia menuntun Baekhyun untuk menuju dapur. Minseok sangat perhatian seperti seorang ibu alih-alih seorang dominan yang biasanya terlihat begitu otoriter.

"Jadi, kemana Marc pergi?"

"Oh, dia pergi untuk mengawasi restoran cepat saji milik Chanyeol. Kau tahu, bisnisnya bergerak di segala bidang. Makanan, saham, elektronik, senjata, fashion, entertainment, dan masih banyak lagi. Sejauh ini hanya pabrik senjatanya yang masih ilegal. Sangat sulit mendapatkan izin untuk itu. Dan pamanmu adalah kuncinya, babe." Minseok terus mengoceh setelah menyimpan pisau bedah milik Kai di atas lemari. Kai bisa saja membedah otaknya jika pisau kesayangannya hilang. Kai mengatakan pisau itu sudah seperti kekasih baginya, tentunya bukan kekasih dalam artian sesungguhnya karena dia tidak akan dan tidak mungkin berpaling dari Kyungsoo.

Lengan kemeja Minseok sudah tersingkap sampai sikut dan tangannya cekatan untuk mengambil makanan di pantri lalu memanaskannya di atas tungku. Sementara itu Baekhyun duduk di balik meja makan seperti anak baik, diam-diam memperhatikan pergerakan Minseok yang sangat apik. Pria itu terlihat sangat profesional seolah berurusan dengan dapur adalah hakikatnya.

"Apa ini ada hubungannya dengan penculikanku?" Diam-diam ia mengeratkan kedua kepalan tangannya di bawah meja. Perasaannya selalu sensitif terhadap topik ini. Menurutnya ini sangat menyakiti harga dirinya. Dalam satu hari ia kehilangan jati dirinya, identitasnya, mahkotanya, dan kedudukannya. Betapa mengesankannya pamannya, dan juga Phoenix. Jangan lupakan mereka yang membuat semua ini terjadi. Persetan dengan segala kebaikan yang ia lihat, mereka tetaplah penjahat, mafia, kumpulan kriminal, pelanggar hukum.

"Pamanmu menjanjikan operasi kami di pasar Jepang lancar. Itu mencakup banyak hal, seperti menjauhkan bentrokan dengan kelompok Yakuza, dan salah satunya adalah memberi izin pada pengoperasian pabrik senjata Phoenix di Jepang dengan dalih untuk kepentingan militer Jepang. Kedudukan membuat isi kepala pamanmu sangat liar, Baekhyun. Kau tak akan pernah bisa membayangkan betapa buruknya dia." Kepala Minseok menggeleng dengan prihatin. Ia memanglah seorang mafia. Tak terhitung nyawa yang sudah ia hilangkan dengan kedua tangannya atas kesadaran penuh. Namun diluar semua itu, keluarga adalah hal terpenting dalam hidupnya. Tentunya setelah kesetiannya pada Phoenix. Ada banyak alasan yang membuat mereka ㅡpara mafioso Phoenixㅡ betul-betul mengabdi dan menyerahkan seluruh sisa hidup mereka untuk mengabdi pada Phoenix. Berkomitmen dengan Phoenix adalah suatu kehormatan besar bagi mereka. Seperti halnya tidak membunuh keluarga, entah itu keluarga dalam Phoenix atau yang memiliki artian sebenarnya. Mereka memang terlihat seperti sekumpulan pria brengsek namun diluar semua itu mereka adalah sekumpulan pria sejati yang mempunyai aturan hidup tinggi. Sebuah komitmen yang tak bisa dilanggar begitu saja dengan jaminan kematian.

Dan yang dilakukan oleh paman Baekhyun adalah sebuah kejahatan yang begitu di tentang oleh mereka ; membunuh anggota keluarga sendiri.

"Aku tidak tahu bahwa dia melindungi para Yakuza hanya untuk kedudukannya." Gumaman Baekhyun sampai pada telinga Minseok hingga pria yang nyaris menginjak kepala tiga itu menoleh sekilas padanya sebelum kembali berkutat dengan masakan Marc yang ia panaskan.

"Kedudukan membuatnya gelap mata, sayang." Lalu Minseok mematikan tungku, berjalan pada Baekhyun dengan beberapa piring makanan yang ia susun di tangannya, seperti koki profesional. "Nikmatilah. Kau harus memberi makan 2 orang mulai saat ini." Minseok tersenyum begitu tulus ke arahnya. Pria itu tak sabar untuk segera menantikan Phoenix kecil yang kelak akan menggantikan Chanyeol di atas takhta nya. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok, Chanyeol yang begitu mendominasi dan otoriter, sedangkan Baekhyun yang lembut dan penuh bantahan logisnya. Seolah Baekhyun adalah penetral racun yang dapat menetralkan seluruh emosi pria itu. Ia harap Chanyeol dapat membuka hatinya kembali setelah sekian lama tertutup rapat. Ia hidup bersama Chanyeol sejak mereka kecil, dan ia sebagai yang tertua diantara kawanan mereka akan tetap dan selalu menyayangi mereka, termasuk Chanyeol. Meski Chanyeol memiliki kedudukan yang lebih tinggi darinya, baginya pria itu tetaplah sosok seorang adik.

"Apa aku terlalu kurus?"

Kepala Minseok meneleng mengamati Baekhyun, beberapa saat kemudian ia tersenyum kecil dengan tidak pasti, "entahlah."

"Chanyeol mengatakannya padaku. Dia menyuruhku untuk makan banyak."

"Ya dan dia memberikan mandat padaku untuk mengawasimu makan."

e)(o

Suara deru 5 iringan mesin mobil begitu kontras mengisi jalan yang sepi dengan reruntuhan bangunan itu. Chanyeol, yang berada didalam mobil kedua bersama Jongdae tak hentinya mengecek arlojinya, memastikan ketepatan waktu mereka.

"Setelah ini kau harus menghadiri peresmian cabang hotel kita yang baru dibuka di Cheongdam." Ujar Jongdae setelah mengecek jadwal Chanyeol. Beberapa hari ini ia merasa jenuh karena sering kali harus mengatur ulang jadwal Chanyeol dalam satu hari. Alasannya? Simpel ; Chanyeol terlalu menikmati bisnis bawahnya dibanding Feon Group dan cabang-cabangnya. Dan pria itu tak dapat ditegur oleh siapapun. Godfather bisa berbuat sesuka hatinya. Mereka sebagai kepala divisi hanya bisa tunduk dan melakukan hal sesuai dengan apa yang godfather inginkan.

"Ah, aku lupa. Saham Feon Resort di Thailand sedikit menurun setelah kejadian nyaris pengeboman itu. Apa yang akan kau lakukan Chanyeol?" Jongdae terlihat sangat lelah, lingkaran hitam bahkan menggelayuti kantung matanya.

"Kupikir itu tugasmu, Jongdae. Bukannya 70% anggota disana dibawah kakimu." Nada bicara Chanyeol jelas-jelas terdengar datar dan tidak peduli. Itu hanyalah masalah kecil yang tak seharusnya ia urusi. Ia memiliki beberapa kepala divisi, jadi seharusnya mereka bekerja dengan benar, bukan hanya melapor dan menunggu keputusannya.

"Maaf aku melupakannya, maksudku tentang laporanku padamu. Aku sudah mengatasi masalah fisiknya, orang itu berasal dari organisasi teroris di Timur Tengah yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Phoenix. Jadi itu adalah murni ketidaksengajaan. Maka dari itu aku menyerahkannya pada militer Thailand. Kupikir itu lebih aman. Jadi ini adalah masalah sahamnya, Bos." Jongdae berkoar-koar dalam satu tarikan nafas panjang. Ia berusaha membuatnya sesingkat mungkin, Phoenix tak suka laporan yang berbelit-belit, cukup pada poin penting yang ingin ia tahu. Jadi sekarang ia menunggu reaksi Chanyeol. Masalah saham bukan lagi kuasanya. Ia hanya sekretaris Chanyeol, jadi itu bukan lagi haknya dalam mengurusi saham.

Jongdae dapat melihat Chanyeol menarik nafasnya dengan tenang, tatapannya tetap lurus kedepan dengan kedua tangan saling bertautan. Mereka benar, bahwa Chanyeol adalah duplikat dari kesempurnaan paras para Dewa. Jika ia adalah seorang wanita atau carrier, ia juga sudah pasti jatuh dalam pesona Phoenix yang benar-benar tak dapat di tolak.

Dan Minseok benar soal Baekhyun yang cocok bersanding dengan Chanyeol. Wajahnya yang luar biasa cantik nan lembut begitu kontras disandingkan dengan Chanyeol yang juga luar biasa tampan nan tegas. Mereka memiliki kharismanya sendiri dalam cara memimpin, bagaimanapun Baekhyun tetaplah seseorang yang dipersiapkan untuk memimpin sebuah negara kelak, meski mungkin sekarang hal itu tak akan pernah terjadi.

"Cari aliansi baru yang dapat menguatkan kembali saham disana. Aku tidak peduli."

Inginnya Jongdae mengerang, tetapi ia tak akan sanggup melakukannya jika jaraknya dengan Chanyeol bersebelahan, di mobil. Pria itu bisa saja menembak lehernya sampai putus jika ia betul-betul mengerang. Baginya Chanyeol terlihat tidak peduli dengan bisnis Feon, atau mungkin memang begitu. Meski sebenarnya Chanyeol tak pernah main-main dengan bisnisnya, apapun itu.

"Dan, kau mendapatkan kartu ucapan selamat tentang kehamilan Baekhyun, omong-omong. Dari Choi Sooyoung. Dia menyesal tak dapat kembali ke Korea dalam 2 bulan kedepan. Dan dia mengatakan bahwa dia harus jadi orang pertama yang melakukan USG pada janin Baekhyun. Dia mengambil spesialis kandungan dan kebidanan dalam magisternya omong-omong."

"Kirimkan balasan padanya, ucapan selamat tentang kelulusan pendidikan magisternya." Chanyeol lagi-lagi berkata seakan tak peduli.

Choi Sooyoung adalah putri dari pimpinan fraksi klan Choi yang masuk kedalam lingkaran hitam Phoenix sejak belasan tahun silam. Dan mereka telah melakukan perjanjian darah bahwa mereka dan keturunan-keturunannya akan setia mengabdi untuk Phoenix. Dan kini, Choi Sooyoung sebagai anak perempuan satu-satunya dari Choi mengabdi padanya, bekerja sebagai dokter di rumah sakit Phoenix, dibawah kendali Kai yang merupakan kepala divisi kedokteran.

"Ah, ya, aku akan mengirimnya nanti."

Lantas saat getaran ponselnya ia rasakan di balik jas yang ia pakai, Chanyeol mengambilnya. Melihat ID Minseok di layar ponselnya.

"Ada apa?"

"Chanyeollo!" Bukan suara Minseok yang menyapa, itu jelas-jelas suara lengkingan Baekhyun yang terdengar begitu ceria. Jelas sekali anak itu berada dalam mood yang bagus. Dan hal itu tak ayalnya membuat Chanyeol ikut tersenyum kecil, tertular keceriaan yang dibawa Baekhyun. Perasaannya selalu menghangat saat merasakan lelaki kecilnya itu senang. Suatu ikatan diantara mereka tak dapat terelakkan lagi. Dan andai Baekhyun lebih mengerti dan dapat merasakannya tanpa ia harus mengatakannya. Karena baginya mengatakan yang ia rasakan adalah malapetaka karena ia mati-matian untuk menolak itu.

"Kenapa menggunakan nomor Minseok, Baekhyun?"

Jongdae meneleng ke arah Bosnya saat pria itu menyebut nama Baekhyun. Ia juga ikut tersenyum kecil ㅡgeli lebih tepatnyaㅡ saat melihat lengkungan tipis di bibir Chanyeol kala berbicara dengan Baekhyun. Anak itu sumber kebahagiaan Phoenix, seperti Jisung, batinnya berkata.

"Aku melupakan tempat dimana terakhir kali ku letakkan ponsel itu, Chanlie." Panggilannya selalu berubah, seputar 3 nama yang selalu ia sebutkan. Dan entah kenapa Chanyeol tak mempermasalahkannya. Jantungnya berdesir lembut tiap kali Baekhyun memanggil namanya dengan sebutan yang ia buat sendiri.

"Terimakasih sekali soal Chiko. Aku sangat senang. Tidak menyangka kau mendengarkan permintaanku. Terimakasih Chanyeollie. Aku menyayangimu." Keadaan sempat lengang setelah Baekhyun berkata demikian. Maupun Baekhyun ataupun Chanyeol sama-sama terdiam. Baekhyun berharap Chanyeol akan mengatakan yang sama meski itu mustahil dan Chanyeol harap ia tak pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Baekhyun.

Setelah melewati jeda yang sangat kaku, Chanyeol berdeham dan berkata, "aku harus pergi."

Bahkan sebelum Baekhyun membalas, pria itu terlebih dahulu menutup sambungannya, secara sepihak. Tanpa ampun.

Ia tak mampu membalas perkataan Baekhyun. Ego nya terlalu tinggi untuk itu. Yang tidak ia sadari adalah bahwa keputusannya membuat si mungil di seberang sana teramat kecewa dan sakit hati, merasa di abaikan dan di campakkan. Chanyeol bertingkah seperti lelaki brengsek, dan mungkin itu adalah tabiatnya.

Beberapa menit setelah keheningan, mobil berhenti di sebuah bangunan tua yang jelas-jelas merupakan kontruksi gagal di tengah-tengah kota hancur yang di tinggalkan. Bekas-bekas puing bangunan terlihat tergeletak di tanah dengan tidak menyenangkan, menambah kesan yang teramat kumuh pada tempat ini. Bahkan cahaya matahari seakan enggan mampir kesini.

Seseorang membukakan pintu untuk Chanyeol maupun Jongdae. Kepala mereka menunduk patuh seakan jika mata mereka bertabrakan dengan mata milik pemimpin Phoenix itu adalah sebuah dosa besar.

Chanyeol membenarkan letak jasnya dengan gaya yang klasik dan elegan. Kemudian berjalan paling depan menuju kedalam gedung. Jongdae dan para pengawalnya jelas-jelas selalu berada di belakangnya, siap sedia seandainya ada yang dapat mengancam keselamatan Bos mereka.

Jauh didepan sana, sekelompok lain telah menunggu. Kelompok yang telah sepakat untuk melakukan transaksi gelap bersama Phoenix.

Mereka, kelompok itu, lantas berubah waspada saat melihat kawanan Phoenix datang hingga kedua pemimpin dari dua kelompok tersebut saling berhadapan dengan harga diri yang tinggi.

"Senang kau datang tepat waktu Phoenix." Pria di hadapan Chanyeol memberikan senyuman miringnya. Bang Yongguk dari Black Aster.

"Dan senang melihatmu belum mati, Bang" Kris dan anak-anak lainnya datang, mereka sedikit terlambat akibat bahan bakar mobil yang habis. Dan kini mereka disini, bertugas untuk menjaga dan mengawasi transaksi ini agar tetap berjalan dengan seharusnya. Black Aster terkenal dengan tipu dayanya. Meskipun ini bukan transaksi yang pertama, tapi kelompok mereka patut di curigai.

"Sungguh kehormatan bagiku melihat Godfather dan para kepala divisi berada disini." Yongguk melihat satu persatu para pria Phoenix yang berada di belakang Chanyeol lalu ia mengangkat alisnya dengan jenaka, "ah.. sayang sekali Minseok tidak ada."

Phoenix adalah kelompok yang terkenal di benua Asia, bahkan namanya melambung tinggi hingga ke Benua Eropa dan Afrika. Tidak satupun mafioso yang tidak tahu siapa pemimpin Phoenix, Leone Park. Dengan ketampanan yang luar biasa dipuji kaum hawa. Phoenix di sebut-sebut sebagai mafia idola kaum hawa dengan Godfather dan para kepala divisi yang memiliki paras luar biasa.

Dan Bang Yongguk, tidak mungkin tidak tahu satu-persatu orang yang berpengaruh di kelompok Phoenix.

"Oh baiklah, sepertinya kau tak ingin berbasa-basi, Leone. Kalau begitu langsung saja" Yongguk menggedikan bahunya. Dan Chanyeol tetap menatapnya dengan wajah dingin yang selalu menjadi ciri khas nya.

Chanyeol menggerakan kepalanya ke samping, memberi kode pada Jongdae untuk membawa barang yang akan mereka jual pada Yongguk.

Jongdae melangkah dengan pasti dan percaya diri, membawa serta koper hitam dengan lebar 785 mm untuk dibuka di hadapan Godfather Phoenix dan si bedebah Bang.

Setelah memasukkan beberapa digit angka, Jongdae menarik bagian atas koper sehingga Bang dan Park bisa melihatnya. Itu adalah produk paling baru yang dihasilkankan industri persenjataan milik Phoenix.

Sebuah senapan serbu. Dengan kemampuan memuntahkan 900-950 butir peluru permenit. Dapat di isi dengan 50 butir peluru 5.56 nato dalam setiap magasinnya. Jarak efektif penembakannya adalah 750 meter.

"Kalian selalu berhasil melakukan inovasi" Yongguk mengangkat bahunya dengan gaya santai. Tapi tidak demikian dengan para Phoenix, mereka bersikap tak bersahabat dan Yongguk terlalu meremehkan mereka.

"Aku tidak butuh pujianmu, " Jongdae menutup kopernya dengan keras tepat di depan wajah Bang membuat pria itu mendesis tidak suka. Senjata itu dirancang dan di kembangkan oleh Jongdae selaku ketua divisi 3. Semua itu murni hasil pemikiran kepalanya yang jenius. Tentu saja, orang-orang Phoenix memiliki kecerdasan yang tak bisa di ragukan. Karena tentu Chanyeol tidak akan mempercayai orang semudah itu untuk menjadi bagian keluarganya.

"Kau selalu angkuh, Kim Jongdae."

"Ya, dan kau brengsek." Jongdae menelengkan kepalanya dengan acuh. Tak mempedulikan air muka Bang yang sudah sangat tidak senang. Lalu ia beralih menatap Godfather Phoenix yang diam dan tenang seperti biasa.

"Baiklah sepertinya kalian tak suka berbincang. Jadi, mari mulai berbisnis." Yongguk menghentakkan kepalanya sekali ke samping, lalu salah seorang antek Bang mengambil dua buah koper, menyerahkannya pada Yongguk dan pria itu membuka isinya tanpa basa-basi. "70 juta dolar, seperti yang ku janjikan."

Chanyeol mengembuskan nafasnya pelan sebelum ia mengambil selembar dari tumpukan uang itu, mengamati uang dolar tersebut agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Tapi, mana berani Bang menipunya. Mereka pasti tidak cukup bernyali untuk itu.

Setelah memastikan uang itu asli, Chanyeol memberi isyarat pada Bang untuk menutupnya. Pria itu melakukannya. Tersenyum pongah dengan begitu menyebalkan di hadapan Phoenix.

"50 buah. Seperti perjanjian."

"Wakil divisi sendiri yang akan mengantarnya." Chanyeol menjabat tangan Yongguk yang lebih dulu mengulurkan tangannya padanya.

Waktu berjalan begitu lambat saat Jongdae hendak menyerahkan satu sampel senjata rancangannya pada Yongguk hingga sebuah keributan terjadi. Jongdae menarik kopernya dengan cepat saat menyadari bahwa kini mereka di kepung oleh sekelompok pria bersenjata dengan seragam serba hitam. Itu jelas-jelas bukan dari sebuah kelompok seperti mereka.

"Sialan, pemerintah, Bos." Secepat mereka datang, secepat itu pula Kris mendekat pada Chanyeol dan menutup wajah Godfather mereka dengan topeng. Semua orang Phoenix mengenakan topeng mereka dengan cepat, meminimalisir wajah mereka untuk tak terlihat oleh si pengepung.

Chanyeol beralih menatap Yongguk dengan nafas memburu, hampir murka. Pria Bang itu kelihatan bodoh dengan tampangnya, pura-pura terkejut. Dari tampang bodohnya itu, Chanyeol tahu bahwa Yongguk telah menjebaknya.

Bocah tengik sialan, batinnya berteriak nyalang.

"Kalian datang terlalu cepat. Aku belum mendapatkan barangku sialan" Yongguk mengoceh tak tahu malu, mendelik pada koper hitam yang setia di genggam Jongdae.

Yongguk tersenyum remeh pada Phoenix, mulai melangkah mundur dan berbalik pergi. Namun sebelum itu terjadi, ia lebih dulu berkata, "aku menyesal karena pertemuan terakhir kita tidak cukup baik, Leone Park dari Phoenix."

Persetan dengan orang-orang tolol yang mengepung mereka, Bang Yongguk telah menaikkan titik didih pada darahnya hingga ia ingin melempar bom pada wajah pria tengik itu.

Ditengah ketegangan, Sehun dan Yixing saling melempar pandangan, memberi kode lewat mata mereka sebelum keduanya menarik pistol dari balik punggung masing-masing. Lalu saat satu-persatu orang yang mengepung mereka berjatuhan dengan lubang di kepala, mereka sadar bahwa diam-diam salah satu ㅡatau mereka pikir beberapaㅡ dari Phoenix menyerang dengan pistol yang dilengkapi peredam.

Masing-masing menggenggam senjata api di tangan mereka. Entah siapa yang memulai, keadaan berubah menjadi tak terkendali. Suara tembakan-tembakan peluru terdengar memekakan telinga kala baku hantam terjadi.

Tanpa menghiraukan keributan yang terjadi, Chanyeol justru berlari ke arah dimana para Bang pergi. Bukan untuk lari tentu saja. Ia mengejar Bang dan tangannya sudah tidak sabar untuk menarik pelatuknya didepan kepala Bang.

Sementara itu, Jongdae yang juga sibuk melindungi dirinya sendiri justru di sibukkan dengan koper berisi senjata yang harusnya dibawa oleh Bang. Mungkin itu akan terjadi jika Bang tidak berbuat hal bodoh macam ini pada mereka.

Tangan kirinya terangkat ke udara, menekan pelatuk pistolnya kesana-kemari pada setiap musuh yang mendekatinya. Sementara itu satu tangannya yang lain sibuk memutar kode untuk membuka koper yang sialnya sangat sulit untuk dibuka dalam keadaan mendesak macam ini.

"Sialan! Ayolah! Ayolah! Aku tidak boleh mati sebelum melamar Minseok!" Mulutnya terus mengumpat, mengeluarkan sumpah serapah yang tak patut didengar.

Lalu saat kunci di koper berbunyi 'klik', ketua divisi 3 yang juga handal mengemudikan pesawat itu tersenyum sangat lebar hingga nyaris robek sampai ke telinga.

"Joon!"

Kim Joon, kepala divisi 7 yang tengah sibuk melakukan pergulatan satu lawan satu menoleh sejenak pada Jongdae sambil berusaha menghindari serangan lawannya. Lantas Jongdae melempar pistol yang sejak tadi menemaninya hingga Joon berhasil menangkapnya dan ia pakai untuk melubangi jantung lawannya.

"Terimakasih kawan!" Joon berteriak sambil berlalu untuk membantai yang lainnya. Sementara itu Jongdae meraih senjata didalam koper, tertawa seperti orang gila lalu mengokang senjata yang besar dengan keras, ia mulai menembaki orang-orang yang berdatangan untuk melawannya dengan hujan peluru hingga mereka berteriak kesakitan. Pun ia ikut berteriak dengan semangat menggebu sambil tersenyum lebar.

Disisi lain gedung, Chanyeol masih berlari mengejar Yongguk yang berada di depannya. Kai, yang kebetulan bersamanya sudah menghabisi anak buah Yongguk dengan revolver serta belatinya tanpa kendala. Hanya Yongguk yang tersisa dari kumpulan bedebah itu.

Sesekali pria berambut pirang itu berbalik hanya untuk menembaki Chanyeol dan Kai meski itu hanya berbuah percuma.

DOR DOR DOR

Tiga peluru melesat ke arah Chanyeol dan Kai. Chanyeol menghindar dengan gesit tetapi tidak dengan Kai hingga pria Kim itu terkena tembakan peluru di lengannya.

"Tidak apa, Bos. Ini tidak parah!" Kai sedikit berteriak saat ia memutuskan untuk berhenti karena rasa panas yang menjalar, Chanyeol menatapnya sejenak sebelum kembali berlari dengan kaki-kaki panjangnya.

DOR!

Chanyeol menembak Yongguk di pahanya, dan itu berhasil sehingga Yongguk tersungkur ke tanah dengan keras. Ia mendesis dan mengumpat sambil berusaha mengambil pistolnya yang berada kurang dari satu meter darinya. Namun kenyataannya Chanyeol lebih cepat. Pria bersurai merah itu menendang pistol Yongguk hingga terlempar jauh lalu menginjak ruas telapak tangannya hingga Yongguk memekik keras seperti seorang pecundang.

"Kau pikir bisa mengenyahkanku semudah itu, brengsek?" Suara Chanyeol menggeram rendah, penuh perhitungan dan penuh bahaya. Chanyeol menekan kakinya lebih keras pada tangan Yongguk hingga pria itu memekik lebih keras lagi.

"Sialan kau Phoenix!"

"Kau yang memulai duluan Bang. Dan ya, itu aku, Phoenix" Chanyeol tak berekspresi, pria dengan seribu pesona yang sulit ditolak kaum hawa itu menodongkan moncong pistolnya pada Bang. "Selamat tinggal, pecundang Bang."

DOR

DOR!

Peluru Chanyeol bersarang di kepala Yongguk dan peluru dari seseorang yang lain berhasil menembus bagian dada Chanyeol, nyaris mengenai jantungnya, hanya beberapa sentimeter lagi sebelum peluru itu melubangi jantungnya.

"Sial" Chanyeol menggeram rendah, nafasnya tersendat dengan tangan yang memegang dadanya refleks. Darah segar merembes dari jas hitam Chanyeol hingga tangannya berlumuran darah. Pistol silvernya sudah ia jatuhkan ke tanah dan ia terhuyung, nyaris jatuh ke tanah.

"BOS!"

DOR

Kai berteriak kalap, matanya merah dengan hidung kembang-kempis. Ia menembak seseorang dari pihak pengepung yang tadi menembak Chanyeol. Lalu disusul oleh beberapa tembakan kemarahan yang lain dari Kai pada orang yang sama hingga tubuhnya memiliki banyak lubang seperti keju Swiss, meskipun ia tahu pria bajingan itu sudah mati tapi seakan ia tak pernah puas. Satu lubang yang pria itu buat di tubuh Chanyeol bahkan tak bisa dibayar dengan nyawanya sendiri.

"PRIA SIALAN!" Kai menendangi tubuh yang telah terbujur kaku itu dengan mata berair. Rasa marah dan bersalah dalam dirinya betul-betul tak terbendung. Merasa marah karena melihat seseorang yang sangat ia hormati mengalami kesakitan, dan merasa bersalah karena ia tak bisa melindungi Chanyeol seperti sumpahnya saat memutuskan untuk mengabdi pada Phoenix. Seandainya saja tadi ia tak berhenti berlari hanya karena luka tembak di lengannya, mungkin Chanyeol tak akan tertembak.

"Chanyeol-ssi, aku akan mengikutimu sampai akhir hidupku. Aku akan melindungimu dengan nyawaku! Aku berjanji!"

Sementara itu Luhan yang melihat tubuh Phoenix nyaris jatuh ke tanah langsung berlari seperti orang kesetanan. Ia mengabaikan Kai yang masih melampiaskan kemarahannya pada mayat pria yang ia bunuh.

Luhan menopang tubuh Chanyeol dengan cepat. Beban tubuh Chanyeol yang jauh lebih berat darinya membuatnya kewalahan. Beruntung Sehun dan Yixing segera datang untuk membantu.

"Apa yang terjadi?" Yixing mengambil alih tubuh Chanyeol dari Luhan lalu ia membopongnya bersama Sehun.

"Sepertinya father tertembak oleh pria yang dibunuh Kai. Kai kelihatan sangat marah." Luhan menggigit bibirnya, melihat darah Chanyeol yang semakin banyak terbuang. "Kita harus cepat membawanya pergi."

Sehun dan Yixing mengangguk, mulai memapah Chanyeol dengan kesadarannya yang semakin menipis.

"Bos, aku akan memberimu morfin. Oke?" Kris yang mengambil alih kemudi berbalik sejenak, mengeluarkan satu botol kecil morfin untuk di suntikkan pada Chanyeol. Keningnya berkerut khawatir melihat Chanyeol yang memucat dengan bersimpah darah. Ia menyuntikkan morfin itu pada lengan Chanyeol.

Chanyeol mendesis, menggeram dan meraung akibat rasa sakit dan panas di dadanya. Kepalanya berputar-putar dengan pandangan yang mulai menggelap.

Sebelum ia jatuh jauh dibawah alam sadarnya, sebuah nama meluncur dari celah bibir pucatnya.

"Baekhyun.."

Mereka tertegun, disaat kritis Chanyeol justru memikirkan Baekhyun daripada keselamatannya sendiri.

Lalu Kai membuka pintu depan di sebelah Kris, masuk kedalamnya dengan penampilan yang tak bisa dikatakan baik-baik saja.

Mobil mulai melaju dengan kencang agar Chanyeol dapat segera mendapatkan pertolongan.

"Sial!" Teriak Kai tertahan. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan brutal, mengabaikan rasa ngilu pada lengannya yang terkena timah panas. Baginya itu bukanlah apa-apa dibandingkan keselamatan Chanyeol. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri dan Sehun hanya mendesau samar, mengambil morfin dari saku jeansnya lalu menyuntikkannya pada lengan Kai. Tapi Kai tak butuh morfin, ia tak tenang bukan karena rasa sakit di lengannya. Ia tak merasa tenang saat melihat tubuh bersimpah darah milik Godfather mereka.

"Kai, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, itu bukan salahmu." Kris berujar ditengah konsentrasinya. Jalanan yang lengang memudahkannya untuk mengendarai mobil secepat yang ia bisa dengan mobil-mobil lain berada di belakang. Kris berusaha setenang mungkin meski pada kenyataannya benaknya penuh akan rasa cemas yang berlebihan. Siapapun akan merasa panik saat melihat Bos mereka dalam keadaan seperti ini.

'Bertahan, kumohon bertahan untuk kami, Chanyeol. Untuk Baekhyun, untuk anak kalian'

Puluhan doa sudah ia rafalkan dalam diamnya. Berharap keberuntungan dan keselamatan selalu menyertai Bos mereka.

"Tapi ini memang salahku, Kris! Seandainya saja aku tidak berhenti berlari hanya karena luka bodoh ini aku pasti bisa menyelamatkan Big Boss!" Kai berteriak dengan air mata yang bercucuran. Emosinya sudah tak terbendung lagi hingga meluap-luap tak terkendali. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tak becus.

"Kai bodoh diamlah! Big Boss bisa diselamatkan apapun yang terjadi. Kau pikir dia lemah, heh? Diam dan tenangkan dirimu agar kau bisa melakukan operasi padanya. Aku akan hubungi Seungcheol dan Kun. Paramedis utama dari divisimu yang akan menangani ini. Jadi diamlah sebelum kupukul kau." Luhan mengeluarkan ponselnya dengan kesal, menghubungi Taeil untuk segera datang ke kediaman Phoenix bersama timnya.

Setelah melewati 15 menit dengan ketegangan luar biasa, mobil yang dikendarai Kris sampai di pelataran rumah Chanyeol. Tanpa berpikir panjang mereka semua keluar, membawa tubuh Chanyeol melewati pintu depan untuk menuju ke ruang bawah.

Bodohnya mereka. Tidak memikirkan konsekuensi apa yang terjadi jika mereka membawa tubuh sekarat Chanyeol melewati pintu depan. Seperti, Baekhyun yang akan melihatnya.

Dan itu benar-benar terjadi.

Remaja itu menegang dalam diam, menatap tubuh berlumuran darah Chanyeol. Bagaimana kemeja putih yang tadi pagi dipakai Chanyeol kini berubah menjadi merah, bagaimana jas hitam itu basah oleh darah, bagaimana mata tajam Chanyeol tertutup rapat, bagaimana bibir merah itu kini terlihat pucat. Semua itu membuat Baekhyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak histeris, berlari untuk memburu tubuh Chanyeol yang terus dibawa hingga mencapai pintu besi menuju ruang bawah tanah.

"Kau tak bisa ikut, Baek." Jongdae menahan bahu Baekhyun yang bergetar hebat, menghadangnya untuk tak melangkah lebih jauh.

Ruang bawah tanah tak hanya digunakan untuk perawatan medis, banyak hal lain disana yang tak bisa dilihat orang lain tanpa izin Godfather Phoenix. Dan ia tak bisa seenaknya memutuskan apa Baekhyun bisa masuk kesana atau tidak.

Minseok berjalan cepat di belakang bahu Baekhyun, beralih merangkul remaja hamil itu dengan erat. Kerutan samar di keningnya jelas menandakan sebuah kebingungan. Tubuh Chanyeol sudah menghilang di balik pintu bersama kepala divisi yang lainnya. Yang tersisa hanya Joon dan Jongdae.

"Apa yang terjadi?"

Joon dan Jongdae saling bertatapan, mempertimbangkan apa mereka harus menjawab pertanyaan Minseok disini atau di lain tempat. Baekhyun yang jadi masalahnya. Mereka berpikir bahwa mungkin Baekhyun seharusnya tak mendengar ini.

"Tidak, katakan saja. Dia berhak tau" Minseok menggelengkan kepala dengan tegas, memberi kejelasan pada keduanya untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Bang menjebak kita. Mereka bekerja sama dengan kapten Ji dari kepolisian untuk menangkap kami. Bos tertembak oleh salah satu dari mereka saat ia telah menyingkirkan Bang Yongguk." Joon yang berbicara. Pria itu memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam erat. Ia mendapatkan beberapa goresan peluru di pipinya, tapi itu bukan masalah.

Seluruh Phoenix akan sangat panik setelah mendengar berita ini. Bagaimanapun Chanyeol pemimpin mereka. Godfather yang melindungi dan mengatur mereka semua, ayah baptis mereka. Tak akan mudah menjalani masa-masa ini tanpa kehadiran Chanyeol. Ia harap Chanyeol baik-baik saja, apapun yang terjadi.

"Tidak.. Chanyeol" Baekhyun terisak kalut. Ia meremas rambutnya kuat-kuat kala merasakan himpitan menyesakkan di dadanya. Matanya tak bisa berhenti menangis saat bayangan Chanyeol yang bersimpah darah terus hadir di kepalanya. Lantas kepalanya menggeleng kuat, hendak menerobos pertahanan Jongdae juga Joon namun jelas kedua pria itu jauh lebih kuat darinya.

"MENYINGKIR HYUNG! BIARKAN AKU LEWAT!" Suaranya menggema dengan keras, memberi peringatan yang berbahaya pada Jongdae maupun Joon. Belum lagi Minseok yang mencoba menariknya menjauh.

Namun, bagaimanapun juga ia seorang pria dan seorang bangsawan. Dengan emosi yang menggebu, Baekhyun mengeluarkan semua kekuatannya untuk mendorong Minseok, Jongdae serta Joon hingga mereka terjungkal.

Air matanya masih bercucuran dengan deras saat ia membuka pintu besi itu dan berlari cepat menyusuri tangga menuju bawah tanah tanpa ragu. Cahaya remang yang berpendar dari lampu-lampu dinding yang dipasang di sepanjang lorong tak membuatnya kesulitan untuk melangkah. Ia ingin melihat Chanyeol-nya.

Langkahnya terus berlari semakin cepat hingga ia sampai di bawah, tak mempedulikan ketiga pria yang ia dorong tadi yang mungkin juga tengah berlari untuk membawanya kembali.

Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri, mencari arah kemana ia harus pergi karena ternyata ruang bawah tanah tidak seperti yang ia bayangkan.

Lalu saat ia melihat tetesan darah di lantai yang ia yakini itu adalah darah Chanyeol, ia langsung berlari tanpa pikir panjang, mengikuti kemana jejak darah itu akan membawanya.

Air mata tak bisa berhenti jatuh dari pelupuk matanya ketika ia menyaksikan tubuh tinggi prianya yang selalu memeluknya kini terbaring di meja operasi dengan beberapa orang yang menanganinya. Tangannya memukul-mukul dinding kaca dengan kalut, ingin mendekat pada tubuh Chanyeol dan memeluknya seerat mungkin.

"Baekhyun disini." Taeil bergumam dibalik maskernya saat tak sengaja melihat siluet Baekhyun diluar ruang operasi. Ia memberikan pinset pada Kai dan Kai menggunakannya untuk mengambil peluru di dada Chanyeol dengan telaten.

"Dia berhak untuk melihat." Balasnya dengan mata yang tetap teliti pada peluru yang hendak ia ambil. Sesekali ia meringis karena peluru di lengannya sendiri belum sempat ia keluarkan karena keselamatan Chanyeol jauh lebih penting darinya.

"Jahit lukanya, Kun."

Lelaki China itu mengangguk paham dan mulai menjahit luka Chanyeol dalam diam.

"Bisa kau bantu keluarkan peluru dari lenganku, Taeil?" Kai membuka maskernya, lalu duduk di ranjang lain, memberikan kuasa pada Taeil untuk mengambil pelurunya.

Ia mendesis dalam saat merasa sakit yang teramat ketika Taeil membelah jaringan kulit dan dagingnya untuk memudahkan mengambil peluru didalam lengannya.

CLANG

Taeil membuang peluru itu pada wadah stainles yang sama dengan tempat peluru Chanyeol di buang.

"Dia akan baik-baik saja, Bos. Kami akan merawatnya." Kun membuka masker dan tersenyum kecil setelah ia selesai menjahit dada Chanyeol. Memberikan secercah harapan untuk Kai yang nyaris menyerah melihat Chanyeol yang telah banyak kehilangan darah.

e)(o

Ketika membuka matanya, semua terlihat begitu samar hingga berubah menjadi putih. Ia pikir ia sudah mati. Tapi saat melihat wajah penuh harap milik Joonmyeon ia sadar bahwa sesuatu telah menimpanya. Dan ia belum mati. Tidak, ia tak akan mati semudah itu. Ia tak akan meninggalkan tanggung jawabnya untuk memimpin armadanya dalam pasang surut bisnis gelap dunia. Juga tak akan meninggalkan Baekhyun serta janinnya.

"Dia sudah sadar!"

"Biarkan aku memeriksanya!"

"Jangan terlalu dekat, bodoh. Dia akan susah mengambil nafasnya."

Suara orang-orang yang penuh dengan gejolak emosi itu bersahut-sahutan di telinganya dengan samar seolah mereka menimbulkan gema yang dalam. Lantas ia mengalihkan pandangannya dari Joonmyeon untuk melihat satu persatu orang yang mengelilinginya.

"Bos, Bos, apa kau dengar aku? Apa kau bisa melihat?" Kai berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya hingga ia dapat melihat dengan jelas raut penuh kelegaan itu. Kai mengarahkan senternya pada mata Chanyeol secara bergantian untuk memeriksa apakah Bosnya itu baik-baik saja. Kornea Chanyeol terlihat begitu transparan saat cahaya putih dari senter menyorot tepat ke arahnya hingga pupil yang dilapisi iris violet itu mengecil sedemikian rupa.

"Menjauh dariku, Kim Jongin." Chanyeol mendesis pelan sementara Kai bersikap dramatis dengan berpura-pura kaget juga sakit hati.

"Sepertinya kau sudah sehat, Bos." Ujar Luhan, tersenyum kecil menunjukkan kelegaannya. Dia bersandar di sebelah pintu dengan kedua tangan terlipat, ia terlihat baik-baik saja. Sangat. Hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak kemarin.

Sebuah hukuman.

Hukuman yang akan diberikan Phoenix pada mereka yang tempo lalu melanggar perintah Phoenix. Dan ia menunggu untuk mendapat hukuman itu, meski mungkin itu akan menyakitkan.

"Baekhyun tidak disini," Minseok bergedik dengan air muka menyebalkan saat ia mendapati mata Chanyeol mengitari seluruh ruangan dengan ekspresi yang jelas dapat Minseok tebak, "dia bersama Kris dan Kyungsoo yang berusaha membujuknya makan, dia merasa buruk sejak melihatmu bersimpah darah kemarin. Salahkan orang-orang bodoh yang membawamu lewat pintu depan." Minseok jelas menyindir mereka, mereka yang waktu itu bersama Chanyeol dan bertanggung jawab atas keterdiaman Baekhyun sampai saat ini.

"Kami tidak punya pilihan, hey! Mana sempat aku memikirkan bagaimana cara membawa Bos tanpa harus dilihat lelaki hamil itu!" Yang paling merasa tersinggung diantara semuanya adalah Kai, pria yang memiliki peliharaan tak lazim itu mendengus dan bersedekap seperti anak-anak saat Minseok justru memojokkanya.

"Itu memang salahmu, Kim. Akui saja."

"Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Aku merasa sangat bersalah atas insiden itu dan pikiranku sangat kacau."

"Itu bukan alasan yang cukup kuat."

"Teman-temanㅡ" Joon menyela, namun tak satupun dari mereka berdua yang mau mendengarkannya.

"Kenapa kau hanya bisa menyalahkan orang lain, Minseok?"

"Dan kenapa kau tidak mau mengakui kesalahanmu Tuan Kim Kai?"

"Hey! Hey! Cukup teman-teman. Kurasa itu bukan lagi masalahnya. Masalahnya sekarang lebih baik salah satu diantara kita memberitahu Baekhyun agar dia mau menghabiskan makanannya dan agar ia merasa tenang. Kupikir itu lebih bermanfaat daripada membuat keributan didepan orang yang baru saja siuman pasca operasi." Joon berdiri ditengah-tengah Minseok dan Kai yang seolah siap untuk saling menghantam satu sama lain. Terkadang ia berpikir, bagaimana mungkin Minseok yang bahkan lebih tua dalam hal umur dari bocah macam Kai dan Sehun justru sering sekali menjadi tokoh utama dalam beradu mulut.

"Aku suka gayamu," jari telunjuk Joonmyeon terarah pada Joon lalu ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jenaka, "dan Minseok, kenapa kau tidak pergi ke atas dan beritahu Baekhyun, hm?" Joonmyeon tersenyum masam, mendorong bahu Minseok untuk keluar dari ruang medis. Tetapi suara rendah Chanyeol menghentikan segala aktivitas disana, bahkan Zitao menahan nafasnya hingga seketika ia merasa konyol.

"Jangan beritahu dia."

Kali ini Jongdae ikut bicara, keningnya berkerut dengan tangan yang menggaruk pangkal hidungnya, "maaf aku mempertanyakan keputusanmu. Tapi kenapa, Bos?"

Beberapa saat terlewati dalam keheningan dan Jongdae nyaris berniat untuk memotong lidahnya sendiri jika Chanyeol sampai merasa tersinggung dan marah. Tapi sebelum niatnya sempat terealisasikan, Chanyeol lebih dulu menjawab.

"Aku tak ingin dia melihatku seperti orang lemah."

"Oh, masalah harga diri." Zitao berbisik pada Luhan namun Luhan hanya menanggapi dengan lirikan matanya.

"Tapi dia sangat khawatir, Chanyeol. Percayalah, dia bahkan tak berhenti menangis semalaman. Tadinya aku tak ingin mengatakan ini, tapi kau harus tahu bahwa keadaannya jauh dari kata baik-baik saja. Kantung matanya terlihat sangat mengejek." Pada akhirnya Joonmyeon membuka kartu As nya, setidaknya ia tak bisa membiarkan Chanyeol membuat Baekhyun semakin tersiksa. Lelaki Jepang itu sangat mengkhawatirkannya, dan rasanya sangat jahat saat ia harus berbohong padanya.

Rahang Chanyeol mengeras mendengar kejujuran dari Joonmyeon. Matanya mendelik tajam dan sekarang sosok Byun Baekhyun terus bergentayangan didalam kepalanya.

"Dimana ponselku?"

"A-ah ya.. soal itu..." tatapan Chanyeol beralih pada Sehun yang terlihat gelagapan. Pria dengan tinggi badan yang nyaris sama dengannya itu mengusap tengkuk dengan eskpresi meringis. Matanya berlarian kesana kemari, memastikan bahwa ia tak bertatapan langsung dengan Phoenix. "Maafkan aku, sungguh. Aku tidak sengaja, aku bersumpah."

"Katakan Oh Sehun!" Chanyeol tak suka berbasa-basi, sikap Sehun sungguh membuang-buang waktunya dan ia menginginkan agar pria itu mengatakan apa yang ingin ia katakan, dengan cepat. Meski ia tahu bahwa dibalik wajah itu, Sehun telah melakukan sebuah kesalahan padanya.

"Maafkan aku bos. Aku tak sengaja meledakkannya." Mata Sehun menutup dengan erat, kepalanya menunduk dalam penuh rasa bersalah. Kejadiannya terjadi begitu saja saat ia membakar baju yang Chanyeol kenakan kemarin. Baju itu bersimpah darah, dan ia berniat membakarnya, tapi ia tak tahu bahwa ponsel Bos nya juga ada disana. Lantas saat sebuah ledakan kecil terjadi dari dalam tong, ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.

"Berikan ponselmu, Oh Sehun" uluran tangan Chanyeol tak bisa ditolak tentu saja. Jadi Sehun hanya menurut dan memberikan ponselnya dengan lemas. Mungkin saja Godfather Phoenix itu hendak melakukan hal yang sama terhadap ponselnya. Semacam balas dendam. Tapi tentu saja ia tahu bahwa Chanyeol tidak bersikap kekanakan seperti itu. Chanyeol bahkan memiliki lebih dari segudang uang untuk membeli ponsel dan bahkan dengan perusahaan peluncurnya.

Chanyeol menghubungi seseorang dengan ponsel Sehun, tidak seperti yang pria itu duga bahwa Chanyeol mungkin akan meremukkan ponselnya.

"Ada apa, Sehun?" Suara Kris menyapa dari seberang sambungan.

"Berikan ponselnya pada Baekhyun."

"ApaBOS? Kau kah itu? Kau sudah sadar? Oh astaga syukurlah."

"Kris Wu" Chanyeol memberikan peringatan keras pada Kris hingga aura kebahagiaan pria itu menguap sirna dan tergantikan oleh kegugupan luar biasa.

"A-ah. Tentu Bos"

Ada jeda panjang setelah Kris berkata demikian. Chanyeol tetap menunggu, menunggu demi mendengar suara wolf kecilnya yang lembut. Lalu saat suara itu terdengar mendayu indah, rasa rindunya seolah terobati begitu saja.

"Halo?" Anak itu menyapa di seberang sana dengan ragu, Kris tidak memberitahu dengan siapa ia harus bicara.

"Baekhyun.. baby wolf.." suara berat Chanyeol sampai di telinga si mungil dengan lembut. Panggilan itu, hanya Chanyeol yang mengatakannya. Jadi saat ia sadar bahwa yang berbicara dengannya adalah Chanyeol, prianya, ia memekik senang dengan air mata yang berlinangan menahan rindu dan sesak yang tiada tara.

"Chanlie.." sebuah isakan lolos dari bibirnya, bersamaan dengan panggilan manisnya untuk Chanyeol. Perasaan lega begitu mendominasi, betapa takutnya ia sejak kemarin setelah melihat Chanyeol bersimpah darah dan tak sadarkan diri. Ia takut jika saja pria itu meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Kepala Chanyeol terasa pening seketika, bagian luka di dadanya juga berdenyut sakit seperti apa yang ia rasakan didalamnya saat mendengar suara sedih Baekhyun. "Jangan menangis, baby wolf. Aku disini."

"Aku ingin bertemu denganmu Chanyeol" anak itu sedikit merengek, getaran dari suaranya begitu kentara hingga Chanyeol tersenyum kecil. Baru kemarin ia tak melihat Baekhyun, tapi rasanya sudah sangat lama, ia ingin memeluk wolf kecilnya itu, mengecap bibirnya dan berbagi kehangatan dengannya.

"Tidak bisa, Baekhyun. Kau harus menunggu lebih lama."

"Kenapa? Kau tidak ingin bertemu denganku?" Chanyeol bisa membayangkan bahwa saat ini Baekhyun tengah merengut dengan mata ambernya yang berkaca-kaca. Remaja tetaplah remaja.

"Aku tidak bisa bertemu denganmu sekarang, baby wolf. Ada sesuatu," ia memberikan jeda, memberi waktu pada Baekhyun untuk menyahut namun lelaki kecil itu tetap terdiam hingga detik ke-5, "aku akan menemuimu saat semuanya selesai. I'm promise, my lil' wolf."

Baekhyun merengek kecil, ia sangat rindu pada Chanyeol dan cemas tentunya. Tapi ucapan pria itu absolut, bagaikan ultimatum baginya, tak bisa dibantah. Jadi ia hanya dapat mengangguk kecil meski Chanyeol tak dapat melihat anggukannya.

"Kau sudah berjanji."

"Ya, aku berjanji untuk itu, sayang."

"Kau harus menepatinya."

"Phoenix tak pernah mengingkari janjinya."

"Aku merindukanmu, Chanyeol."

Pria itu terkekeh sejenak, mengabaikan bahwa ia tak sendiri didalam ruang medis. Ada para mafioso Phoenix lain yang dengan antusias memperhatikan setiap perubahan ekspresi dan kata-katanya untuk si cantik Baekhyun. Tapi ia tak merasa terganggu sedikitpun, ataupun merasa keberatan mereka mendengar apa yang ia katakan.

"Aku juga. Aku juga merindukanmu, baby."

Dilain tempat Baekhyun tersenyum begitu lebar hingga Kris meringis dan Kyungsoo bertanya-tanya tentang apa yang membuat lelaki Jepang itu begitu antusias dan bahagia. Dia masih setia membawa nampan yang berisi makanan Baekhyun, jika Chanyeol sudah sadar seharusnya Baekhyun mau makan dan tugasnya untuk membujuk selesai sampai disana. Ia lebih baik diberi tugas untuk menyamar menjadi perempuan berdada besar seperti di Hawaii waktu itu daripada harus membujuk Baekhyun memakan makanannya.

"Kau harus makan, baby. Jangan menyakiti anak kita"

Lantas Baekhyun berdeham samar, merasa bersalah dan malu, "ya, aku akan makan."

"Jadilah baby wolf yang baik selama aku tidak ada."

"Cepatlah selesaikan urusanmu, Chanyeollie."

"Pasti, baby."

Setelahnya tak ada lagi suara, masing-masing dari mereka memilih untuk mengakhiri sambungan meski Baekhyun merasa sangat berat untuk melakukannya. Ia masih dan sangat merindukan Chanyeol. Rindu itu akan terus ada sampai ia bisa melihat langsung prianya itu.

.

Bersambung

.

Pertama, gue mau ucapin terimamasih sama readers yang setia baca BP. Thanks yupp.. salam cium dari Zio wkwkk

Kedua, gue mau nyampein unek-unek gue sama si kunyuk tetangga sebelah yang dengan seenak jidat mereka ngata-ngatain panggilan sayang EXO ke EXO-L dan gak minta maaf. Gue emosi banget sumpah pas tau arti dari perkataan mereka. Gosh! Enak banget ya tu mulut sampah ngatain 'aeri' pake hujatan. 'aeri' terlalu lembut buat di kata-katain please. Kalo gue ketemu orangnya rasanya pen gue jambak, gue tendang, gue colok matanya pake garpu antik grandma gue, gue sumpel lubang idungnya pake sumpit ramen, gue rontokin semua giginya, gue potong lidahnya terus kasihin ke anjingnya tetangga gue, gue lelepin pala nya ke lava gunung merapi, dan yang terakhir gue cincang tubuhnya terus gue kirim ke temen-temen seperbangsatannya biar mereka tau seberapa sampahnya mereka dimata gue. Oke fiks gue marah banget. Dasar mulut sampah ya gak pernah sekolah kali. Gak malu apa dia gitu ngomong gituan di acara fanmeet idolnya sendiri. Suka heran gue.. itu sama idol nya gak suka di tegur gitu fansnya kalo bikin masalah sama fandom lain? Dasar urakan ewhh. Like idol like fans, yep guys? Gak sadar sadar sih udah di baikin sama Kerries juga, udah mah temennya dikasih batre lightstick masih aja gak tau sopan santun. Kurang kerjaan banget sih.

Ketiga, gue mau nanya EXO-L PADA KEMANA SIH INI KOK VOTE KITA BANYAK YANG KETINGGALAN SAMA GAP NYA JAUH YAK? gue jadi males nulis ff kan kalo liat hasil vote nya. So, kalo kalian EXO-L sejati yuk vote guys, kita buktiin kalo EXO-L itu lebih banyak dan lebih kuat dari mereka, kita buktiin kalo EXO itu JAUUUUUHHHH lebih berkualitas dari tetangga, kita buktiin kalo uri EXO itu emang real KING.

Keempat, gue mau jawab pertanyaan-pertanyaan kalian di bawah ini. And... gue ketawa sendiri pas liat banyak yang kaget sama 00 line gue wkwk.. emang kenapa sih? Gue terlalu cimit ya buat nulis ginian? Terlalu dewasa kah? Wkwk

Check it out guys...

Q : Huang Renjun sama Ren anggota baru Phoenix sama gak?

A : Jelas beda lah say.. Huang Renjun itu member NCT dream yang ganteng buangettt wkwk yang gigi taringnya unyu itu lohhh LOL, dan Ren yang gue maksud di Phoenix itu Ren Nuest jadi jelas beda yaa

Q : Yang mau direbut sama Wang dari Phoenix? Apa Baekhyun itu Wang?

A : liat aja nanti ya wkwkwk

Q : Tiffany itu siapa ya?

A : di chapter sebelumnya udah disebutin kalo Tiffany Hwang itu salah satu yang ngedudukin takhta Wang tapi sebenernya dia terpaksa gitu karena dia keturunan Wang

Q : IG author apa?

A : gue gapunya.. wkwk gadeng. Gue punya nya real akun, jadi gabakal gue kasih tau di dunia fanfic wkwk.. gue orangnya sok misterius \eaakk

Q : Gapapa kan kalo disuruh fast up sama reader?

A : ya gue sih gimana yaaa... b aja sih. Itu gue jadiin salah satu motivasi buat terus nulis. Lagian kan konsekuensi jadi penulis harus siap dong dikejar deadline meski ini cuma dunia ffn. Gue sih semampu gue aja kalo gue bisa ya pasti fast up kalo gak ya berarti agak lama up nya soalnya kan inspirasi gak datang gitu aja \ya meski terkadang isnpirasi datang disaat yang tidak tepat.

Q : Phoenix itu gimana sih? Terus divisi-divisi itu siapa aja terus apa tugasnya? Kok bisa Chanyeol kaya?

A : gue bikin mafia Phoenix itu di ibaratin sebuah armada kapal, tau kan? Kalo yang nonton One Piece pasti tau armada Shirohige yang salah satu kepala divisi nya Ace \gue jadi kangen dia T_T/ jadi di suatu armada kapal itu ada beberapa kapal di bawahnya (armada = pasukan kapal, biasanya kapal perang atau kapal dagang), Chanyeol itu pemimpin tertinggi di armada itu, dia Big Boss; Godfather; pemimpin dari semua pemimpin. Nah para kepala divisi itu kapten di masing-masing kapal yang jadi bagian dari armada Phoenix. Gue sebutin aja nama divisi sama kepala divisi nya ya, sama beberapa orang yang penting didalam divisi

Divisi 1 - Executioner (Joonmyeon), tugasnya paling vital, paling penting, soalnya mereka kayak algojo di lapangan gitu, kek pembunuh bayaran, anggota-anggotanya itu yang terbaik di antara semua divisi lain, misalnya kek Luhan yang paling terbaik di divisi IT

Anggota : Sehun, Luhan, Kai, Yixing

Divisi 2 - IT (Kris)

Anggota : Luhan, Jaehyun, Ren, Zico

Divisi 3 - Weapons Supplier (Jongdae)

Anggota : Sehun, Yixing, Zitao, Zelo, Johnny

Divisi 4 - Disguise (Kyungsoo)

Anggota : Jeno, Donghyuck, Daehyun, Hansol

Divisi 5 - Medical (Jongin)

Anggota : Qian Kun, Taeil, Choi Sooyoung, Choi Seungcheol

Divisi 6 - Smuggler (Minseok)

Anggota : Taeyong, Chenle, Mark, Mingyu

Divisi 7 - Alcohol Supplier (Kim Joon)

Anggota : Jinyoung (Jr), Bambam, Jaebum, Hoshi.

Divisi 8 - Drugs Supplier (Vernon Choi)

Anggota : Jihoon, Wonwoo, Junhui, Seungkwan.

Nah anggota setiap divisi itu banyak bisa nyampe ribuan orang kecuali divisi 1 karena divisi 1 itu emang orang-orang pilihan doang. Di setiap divisi juga ada orang-orang pentingnya kek Sehun, Zitao, dll lah yang gue sebutin di atas. Mereka itu kek tim inti dari divisi nya sementara yang lain itu cem anak pion catur dan mereka para pimpinannya.

Chanyeol bisa kaya kan karena dia itu businessman, perusahaannya aja bentuk GROUP yang pastinya banyak anak perusahannya. Terus dia bisnis gelap juga kan jadi udah bisa kebayang kan seberapa banyak uangnya itu soalnya bisnis gelap itu jauh lebih menguntungkan daripada bisnis bersih tapi ya gitu risiko nya besar.

Q : kapan Baekhyun gak tersakiti?

A : sampe Chanyeol buka hati \wkwk

Q : Baekhyun cucunya Hwang Seungri?

A : eum... entahlah XD

Q : anak pertama ChanBaek?

A : gabakal gue kasih tau LOL. Entar gak surprise dong hohohoo

Q : alasan mereka ngabdi sama Phoenix?

A : nanti di chapter-chapter selanjutnya bakal dibahas

Kelima, alesan gue jadiin Lee Sunbin sebagai 'ehem', karena jujur gue gasuka dia. Mungkin ini karena gue terlalu sayang sama ChanBaek ampe ngeliat Sunbin deket-deket sama Chanyeol aja gue kesel luar biasa padahal kan MUNGKIN mereka b aja. Gue tegesin kalo gue itu CHANBAEK HARD SHIPER. TYTYCK! Apalagi pas di Master Key... beuhhh itu loh yang waktu Sunbin duduknya mepet banget sama Cey terus Cey nya ngegeser wkwkk ngakak gue, tapi kesel juga gue sama si Sunbin. Gue kan mikirnya jadi 'kok dia gatel banget sih?'

Keenam, masalah Ceye yang ngidam, wkwkwkk gatau sih gue itu kenapa jadiin si Cey yang ngidam. Kata orang sih kalo misalnya istrinya lagi hamil terus suaminya yang ngidam berarti dia cinta banget sama istrinya *eaaakkk \wkwkwk.. terus udah mainstream aja gitu kalo si Baek nya yang ngidam.

Ketujuh, gue cuma mau bilang JANGAN LUPA VOTING EXO GUYSSSSS! gamau kan pada liat uri EXO sedih? Makanya... kita harus ngejaga senyum mereka sampai akhir, okay? Kita pasti bisa kok... yakin deh kalo jumlah kita itu JAUH lebih banyak daripada FANDOM SEBELAHH

Segitu aja yuppss

See Yaaaa!