Deidara terbangun ketika mendengar suara keributan di dalam kamarnya. Ia mengerjapkan matanya sebelum membangunkan tubuhnya. Mencoba untuk duduk. Ia menatap sekeliling dan menenukan kakaknya tengah adu jotos dengan Obito. Ia takut, panik dan tidak sedikitpun mampu bergerak dari tempatnya.

Deidara telah berjanji untuk tidak membuat kakaknya dalam masalah. Namun kenyataanya kini Kyuubi memukul Obito habis-habisan. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi. Yang ia lihat, Obito berusaha untuk mencekik Kyuubi. Dan Kyuubi yang terdesak mencoba melawan.

Lalu ketika Deidara melihat tangan Obito tiba-tiba lepas dari leher Kyuubi dengan lemas. Saat itulah ia melihat sebuah pisau yang lepas dari tangan Kyuubi yang berlumuran darah.

"Aaaarrrhhhhggg!"

Dan setelahnya ia jatuh pingsan. Ia cukup terkejut ketika melihat kakaknya melukai Obito.

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present:

Naruto © Masashi Kishimoto

After Today: Let It Be A Secret © Ran Hime

SasuNaru

Drama, Family, Hurt/Comfort

AU, OOC, Yaoi, Typo.

.

.

.

Chapter 11

.

Naruto tidak mampu berkata apapun atas kabar yang dibawa oleh Itachi. Ia masih tidak percaya jika adiknya bisa melakukan hal senekat itu. Ia tahu bagaimana Kyuubi jika sudah menyangkut Deidara. Namun untuk sampai melakukan hal tersebut, itu benar-benar sesuatu yang tidak mungkin.

"Kyuubi telah melukai Obito-kun."

Naruto mempercepat langkah kakinya sekalipun ia tertatih. Keadaannya belum begitu membaik dan tidak seharusnya ia meninggalkan kamar inapnya. Namun ia benar-benar cemas akan keadaan Kyuubi.

"Obito-kun belum melewati masa kritisnya dan itu membuat kakek marah."

Naruto semakin gusar dalam langkahnya. Ia tidak berharap Kyuubi menghabiskan masa mudanya di penjara. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan kebebasan adiknya. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sampai Kyuubi tidak bisa keluar dari tempat itu.

"Naruto-kun .. Kumohon kembalilah ke kamarmu." Itachi berusaha membujuk Naruto walau tidak berhasil.

Naruto hanya diam sembari terus melangkah di sepanjang lorong rumah sakit. Ia tidak mempedulikan sedikitpun rasa sakit yang mulai terasa.

Naruto berhenti melangkah setelah keluar dari rumah sakit. Ia berbalik dan menatap Itachi dengan penuh harap, "Tolong antar aku ke tempat Madara-sama."

Itachi hanya bisa menatap Naruto dengan khawatir. Menemui Madara bukanlah sesuatu yang baik. Kakeknya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yg dimau.

.

.

.

Naruto menatap wajah kusut Kyuubi. Setelah menemui Madara, ia pun beranjak mengunjungi Kyuubi di tahanan kota Konoha. Ia mencoba tersenyum dan menyakinkan bahwa semua akan berakhir baik. Kyuubi akan mendapatkan kebebasannya lagi. Kyuubi akan kembali menemani Deidara saat adiknya itu terbangun dari tidurnya.

"Apa sakit?" tanya Naruto dengan sedih. Tanpa sadar tangan kanannya terulur dan menyentuh luka memar di wajah Kyuubi. Ia menahan diri agar tidak terlihat sedih melihat kondisi Kyuubi. Adiknya baru kemarin malam berada di tahanan, namun sudah begitu banyak luka di tubuh Kyuubi. Apapun bisa dilakukan Madara dengan kekuasaannya itu. Kyuubi tidak boleh terlalu lama di dalam penjara.

Bagaimana pun ia harus bisa segera mengeluarkan adiknya itu.

"Maaf."

Hanya kata itu yang Kyuubi keluarkan setelah terdiam sejak kedatangan Naruto. Ia takut. Ia khawatir jika kakaknya akan terlukai lagi saat berusaha membawanya dari penjara.

"Kakak akan berusaha mengeluarkanmu secepatnya."

"Jangan lakukan apapun, kakak."

Naruto menatap Kyuubi dengan senyuman di bibirnya, "ini bukan hanya demi dirimu, Kyuu. Tapi demi adikmu."

Naruto bisa melakukan apapun untuk adik-adiknya meskipun ia harus mengkhianati Sasuke. Ia tidak bisa membiarkan Kyuubi terluka. Karena bagaimanapun hubungannya dengan Sasuke akan berakhir juga.

.

.

After Today

.

.

Sejak kejadian di malam itu, Deidara belum juga siuman. Bocah itu mengalami syok saat melihat tangan Kyuubi berlumuran darah. Deidara menjerit dan setelahnya pingsan.

Naruto mengelus puncak kepala Deidara. Ia terdiam dengan mata yang tertuju pada wajah pucat Deidara. Ia pikir semua akan membaik saat ia menerima tawaran dari Sasuke. Ia pikir kehidupannya bisa membaik ketika Sasuke berjanji akan memenuhi kebutuhan adik-adiknya. Namun semua tidak berjalan semulus apa yang ia harapkan.

Naruto sudah memutuskan apa yang akan dilakukan untuk Deidara. Ada baiknya adiknya itu melakukan operasi secepatnya. Bahkan ada baiknya jika ingatan Deidara akan terganggu setelah operasi nanti. Hanya satu hal yang Naruto harapkan. Deidara bisa menjalani kehidupan barunya tanpa ingatan yang menyakitkan. Ia hanya ingin Deidara bisa menjalani hari-harinya tanpa rasa takut akan Obito.

Naruto sudah memutuskan semuanya. Ia akan menerima tawaran Madara. Bukan hanya demi Kyuubi, tapi juga untuk Deidara.

.

.

Let it be a Secret

.

.

Naruto meletakkan surat cerai yang telah ia tandatangani di atas meja kerja Madara. Ia tidak akan berpikir terlalu lama untuk mengambil keputusan dan menyetujui apa yang diinginkan Madara. Karena pada akhirnya ia dan Sasuke akan tetap berpisah setelah kontrak mereka selesai. Dan lagi tidak ada poin yang menyebutkan jika ia harus mengganti rugi jika ia memutuskan untuk berhenti di tengah jalan dalam hubungan mereka. Jadi ia tidak begitu mengkhawatirkan soal uang.

"Terima kasih atas uangnya. Surat cerai sudah ku tanda tangani."

Naruto mengambil bungkusan amplop coklat tebal yang berisi uang dari atas meja Madara. Pria itu tidak hanya akan menjamin kebebasan adiknya namun juga akan mempermudah kepergiannya dari Konoha.

"Ternyata memang hanya uang yang kau inginkan."

Naruto hanya bisa terenyum tipis. Apalagi yang ia butuhkan jika bukan uang. Uanglah yang selama ini membuat hidup adiknya tidak nyaman. Uanglah yang membuat kehidupan adiknya menderita. Jika saya ia mempunyai uang banyak, mungkin adiknya tidak perlu hidup serba kekurangan.

"Saya harap anda bisa menepati janji anda."

"Uang itu sebagai imbalan atas surat cerai ini." Madara menatap Naruto dengan senyum mengejek dan membuat Naruto merasa tidak nyaman dengan firasat buruk, "jika kau ingin adikmu bebas, maka kau harus merelakan adikmu yang lain sebagai balasannya."

"Apa?"

Harusnya Naruto sadar bagaimana sifat licik Madara. Harusnya ia lebih cepat mengetahui rencana Madara dengan memanfaatkan kejadian yang menimpa cucunya.

"Aku tidak tahu kapan Obito akan sadar, jadi berikan putra Kagami sebagai jaminannya."

"Anda tidak bisa melakukan itu." Naruto berusaha menekan rasa kecewanya. Ia tidak akan membuat masalah lebih rumit lagi dengan menyerang Madara.

"Aku hanyalah pria tua yang hidup sendirian, Naruto. Apa kau tidak kasihan dengan masa tuaku."

Naruto sadar jika Madara mencoba mengelabui dirinya dan membuat seolah dirinya adalah orang yang kejam.

"Ibumu telah merebut putraku dari pelukanku."

Tidak. Itu tidak benar. Naruto bahkan masih ingat saat ayah tirinya itu mencoba mencari kebebasan dari cengkeraman Madara. Bagaimana ayah tirinya itu memberontak hingga akhirnya memutuskan untuk menikah dengan ibunya. Bahkan setelahnya Kagami mencoba mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dengan tekanan dari Madara.

"Lalu adik-adikmu menjauhkan Itachi dariku."

Itu juga tidak benar. Itachi pergi dari kediaman Uchiha atas kemauannya sendiri. Itachi mengurusi adik-adiknya juga atas permintaan Kagami. Naruto bahkan pernah menolak apa yang Itachi lakukan untuk adik-adiknya. Ia tidak pernah memaksa Itachi untuk mengatasi setiap masalah yang Kyuubi buat.

"Lalu kau mengambil Sasuke dariku juga."

Tidak ada yang benar dari semua tuduhan yang Madara katakan padanya. Sasuke yang memaksa ia masuk kedalam masalah yang tengah dialami olehnya. Sasuke lah yang tidak mau memasuki keluarga Uchiha karena penolakan Madara saat pria itu masih kecil.

Kenapa Madara melimpahkan semua kesalahannya padanya? Menyudutkan dirinya seolah ialah yang bersalah.

"Lalu apa salahnya jika aku berharap Menma akan menemani masa tuaku."

Rasanya Naruto ingin tertawa dengan kalimat yang Madara lontarkan. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana Madara menyebut Menma sebagai sebuah kesalahan yang dibuat oleh Kagami. Bagaimana bisa ia lupa saat Madara menyebut Menma sebagai anak haram. Setelah semua yang terjadi, pria itu dengan egonya yang tinggi menginginkan cucu yang pernah dibuang olehnya.

Pada akhirnya Naruto keluar dari ruangan Madara dengan banyak kekecewaan. Ia tidak akan bisa mengorbankan adiknya demi adiknya yang lain. Ia tidak akan mampu menerima penolakan Menma jika suatu hari mereka bertemu lagi. Ia bahkan tidak akan bisa membayangkan kebencian yang Menma rasakan atas apa yang terjadi.

.

.

SasuNaru

.

.

Naruto menuntun Kyuubi untuk memasuki kereta yang akan membawa mereka ke Uzushio. Ia tidak mempunyai pilihan dan meninggalkan Menma bersama Itachi. Akan lebih baik jika adik bungsunya itu tinggal bersama keluarga Uchiha. Itachi akan selalu mengurus Menma, walau ia ragu jika Madara akan menyayangi adiknya itu. Dan lagi, dengan begitu Itachi akan terbebas dari adik-adiknya. Itachi akan kembali kepada keluarganya dan hidup dengan lebih baik tanpa harus kerepotan memberekan ulah Kyuubi.

"Kau lelah?"

Naruto menatap wajah lelah Kyuubi yang duduk di sebelahnya. Luka di tubuh Kyuubi bertambah setelah dijenguk Naruto.

Naruto hanya terdiam ketika Kyuubi menyenderkan kepalanya di bahu kakaknya. Seberapa banyak penyesalan di hati Kyuubi, semua itu tidak akan merubah apa yang telah terjadi. Harapan Kyuubi untuk 'menyingkirkan' Menma telah terwujud'. Lalu apa yang perlu ditangisi?

Operasi Deidara beberapa hari yang lalu telah sukses. Adiknya hanya perlu sedikit waktu sampai Kabuto memindahkan Deidara ke rumah sakit di Uzushio. Sementara Itachi akan menjaga keberadaan Deidara dari orang-orang yang mencoba untuk menemuinya.

Naruto menatap pemandangan musim panas sepanjang perjalanan. Musim panas yang akan datang, akankah juga semenyakitkan ini?

.

.

.

To be Continue ...