Saya minta maaf jika chapter kemarin kurang bisa nyambung dengan chapter sebelumnya. Karena dari chapter 9, semua plotnya berubah tidak sesuai apa yang pertama kali saya pikirkan. Seharusnya setelah SasuNaru menikah, Sasuke sakit parah karena terlalu banyak menggunakan EMS. Dan untuk menyelamatkan Sasuke, Naruto akhirnya menyerahkan bola matanya dan meninggal.
Tapi ada yang ingin agar Naru tidak meninggal dan rate dinaikkan. Disitu kesulitan saya mengobrak-abrik ide awal. Lalu ada rape KazuNaru. Mungkin kesalahan saya mulai terlihat dalam menyusun plot. Iya, saya tahu memang setelah itu antara chapter selanjutnya tidak begitu nyambung, karena saya ingin memasukkan plot tersebut ke dalam flashback.
Sekali lagi saya minta maaf, jika cerita ini banyak kekurangannya.
.
.
.
Balasan Review:
miszshanty05: kalau g ceroboh, bukan anaknya Naru, hehehe
: kan dari dulu diburu, Sasu sich berani nyulik(?) Naru
Aristy: ini sudah lanjut, kok
MJ: SasuNaru lagi seneng-seneng tuch di kamar, hehe
heera as aulia: ntar pasti dibahas kok buat flashback
kkhukhukhukhudattebayo: Cuma pemain pendukung, kok
Ini sudah lanjut
.Micha007: ini sudah lanjut.
Kapan tuch fic kamu lanjut, mana lama pula.
MISA… aku nungguin nich lemonnya#digampar
iqyuzuchan14: Cuma pemain pendukung, ndak akan ikut ke inti cerita kok, hehe.
Maklum perpaduan Uzumaki-Uchiha jadinya nakal
Guest: silahkan membaca
989seohye: ini sudah lanjut
LadySaphireBlue: iya, kemarin kehabisan kata-kata buat diskripsi. Bingung mau nulis apa juga. Jadi publis seadanya saja, hehe#digampar berjama'ah
Nitya-chan: silahkan membaca
widi orihara: ini sudah lanjut
RANadAU: ndak deh, kasihan Naru masa' meski hamil lagi
ca kun: saya juga bingung ca kun. Bingung obrak abrik dan naruh plotnya. hehehe
ryanfujoshiSN: ini sudah lanjut
dame dame no ko dame ku chan: ini sudah lanjut
Angel Muaffi: ini sudah lanjut
Iya, nanti buat flashback kok tentang Naru pas hamil Yuki
Aegya woosukjongkiwife: makasih buat kata seru dan review-nya
poeace0: Yuki cowok. Kurang asyik kalo cewek# digampar.
Habis tiap ngetik ayam punya tetangga ngangguin terus -_- jadinya ikutan keketik hehe
kinana: maklum, ponsel saya nginep di tempat service 2 minggu lebih, jadi baru bisa ngelanjutin ini fic. Ndak discontinued kok. Ini aja lagi ngebut buat namatin ini fic, hehe
Gunchan CacuNalu Polepel: ini udag lanjut Gun. Maaf kalo update-nya makin lama, hehehe
RANadAU: ini sudah lanjut
hanazawa kay: iya, makasih udah mau review
Ichigo 'Momo' Citrusz: ndak akan diculik kok, ntar fic ini makin kayak senetron jadinya, hehehe
Farenheit July : ini sudah lanjut
Iya, kemarin kurang teliti waktu ngeceknya. Nanti ingatkan lagi kalo ada typo ya, hehehe
.
.
.
Truth, That I Love You
Disclaimer: Masashi Kishimoto
By: Ran Hime
Rate:M
Pair: SasuNaru, NaruSaku
Genre: Romance, Angst
Warning: OOC, Canon, Typo, Shonen-ai, Alur cepat dan alur maju mundur xp.
.
.
.
Chapter 12
.
Setelah berlari dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan preman yang ia temui di pasar, Yuki berhenti di suatu tempat yang tak jauh dari pemukiman desa. Ia duduk sembari memeluk lututnya. Menatap air jernih di danau di depannya. Ini ketiga kalinya Yuki memperlihatkan Sharingan. Emosi yang tak terkontrol yang telah membuatnya tanpa sadar telah membangkitkan Sharingan.
Bagaimana ini? Sharingan tak mudah dihilangkan olehnya begitu saja, ia pernah mencobanya sekali. Walau dengan ketenangan yang dikatakan oleh ayahnya, tetap saja matanya tak mau berubah kembali. Ia tak mungkin meminta ayahnya untuk membantunya, karena ayahnya sedang pergi bekerja.
Yuki menoleh ke belakang ketika ada yang menyentuh bahunya. Reflek ia terkejut ketika tahu siapa yang ada di belakangnya.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Tsunade menatap tiga Jounin di depannya. Untuk kesekian kalinya, tak pernah ada hasil memuaskan dari misi untuk menemukan Naruto. Sebenarnya di mana bocah rubah itu? 9 tahun telah berlalu, namun sosok pemuda berambut pirang itu seolah tertelan bumi. Di mana kau, Nar? Bathin Tsunade. Ia memijat pelipisnya merasakan tubuhnya semakin lelah. Ia harus cepat menemukan Naruto bagaimana pun caranya.
"Kami sudah mencarinya di seluruh pelosok Amegakure, namun tak ada cakra yang menunjukkan keberadaan Naruto atau pun Sasuke," ucap Chouji.
"Wilayah mana saja yang belum pernah tersentuh kita?" tanya Tsunade sembari menegakkan tubuhnya."
"Desa Suna dan desa Kuni!" seru Shikamaru.
"Desa Suna!" gumam Tsunade sembari berpikir.
Mengapa ia tak pernah memikirkan tempat itu sebelumnya? Bukankah Naruto dan Gaara itu sahabat baik. Bisa saja kan, kalau Gaara membantu Naruto untuk bersembunyi. Tapi itu juga tidak mungkin, mengingat Gaara dan Sasuke tidak mungkin bisa akur.
"Shizune!" panggil Tsunade dengan nada biasanya.
"Iya, nona Tsunade!" Shizune melangkah mendekat ke arah Tsunade.
"Apa sudah ada kabar dari kelompok Neji?"
"Sampai saat ini belum ada."
Tsunade nampak berpikir sejenak. Ia sudah memerintahkan Neji dan lainnya untuk mencari Naruto di desa Kuni. Selanjutnya adalah desa Suna. Ia harus memerintahkan Shinobi Konoha sendiri untuk mencari Naruto. Karena jika meminta bantuan Gaara itu tidaklah mungkin. Karena Gaara adalah sahabat Naruto, sekalipun mungkin bocah itu tidak ada di sana.
"Kalian boleh istirahat beberapa hari lagi, dan misi kalian selanjutnya adalah ke Suna!" seru Tsunade dengan tegas.
"Baik!" teriak Shikaru, Chouji, dan Tenten.
Shizune menatap Tsunade yang nampak gelisah. Sampai kapan mereka bersembunyi. Sampai kapan mereka ingin membuat Tsunade seperti itu. Seandainya dari awal dibicarakan secara baik-baik, pasti perang dunia Shinobi ke empat akan benar-benar berakhir damai dan indah. Bukan berakhir seperti ini.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Yuki melengos ketika mengetahui sosok di belakangnya adalah ayahnya. Ia semakin menunduk dan menyembunyikan wajanya di balik kedua lututnya. Apa yang harus ia katakan kepada ayahnya. Berbohong, itu tidaklah mungkin. Ayahnya selalu bisa menebak apa yang ia sembunyikan. Namun mengatakan hal sebenarnya juga tidaklah mungkin.
Yuki dapat merasakan sentuhan dari ayahnya ketika Sasuke mengangkat tubuh putranya. Yuki dapat merasakan pelukan ayahnya ketika Sasuke memangku putranya tersebut.
"Kenapa Yuki marah!" ujar Sasuke sembari mengelus rambut putranya.
Sementara itu Yuki semakin menyembunyikan tubuh mungilnya dalam dekapan sang ayah. Darimana ia harus menjelaskan? Apakah dari perkataan kakak kelasnya bahwa sang ayah adalah ninja penghianat? Ataukah mengatakan bahwa ada preman yang mengatakan bahwa sang ayah adalah burunonan berharga tinggi.
"Kenapa diam?" seru Sasuke lagi ketika Yuki tidaklah berniat untuk buka mulut.
Mereka terdiam cukup lama. Dan Yuki menikmati setiap belaian menyejukkan dari sang ayah. Yuki meraih tasnya dan mengeluarkan buku sejarah perang shinobi. Tanpa menatap wajah sang ayah, ia menyerahkan buku tersebut.
Sasuke meraih buku yang Yuki ulurkan tadi. Ia menatap buku itu tanpa ekspresi. Melihat judul buku tersebut, ingin rasanya ia tertawa. Sampai kapan hidupnya dihantui oleh Konoha. Ia lelah bila harus berurusan dengan desa itu. Sampai kapan ini akan berlanjut?
"Kau hanya perlu menyakini apa yang ada di hatimu!" ucap Sasuke sembari meletakkan buku tersebut di atas rerumputan, "Kau boleh percaya tentang sejarah atau pun tidak. Karena orang hidup bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri. Dan itu disebut kenyataan. Tapi pengetahuan itu sesuatu yang samar," lanjutnya sambil teringat akan ucapan Itachi sebelum ia membunuh saudara kandungnya belasan tahun yang lalu.
Andai saja Uchiha tak pernah ada, mungkin semua ini takkan berlanjut seperti ini. Amarah, dendam, balas dendam, dan penyesalan.
Yuki terdiam mendengarkan semua ucapan sang ayah. Dalam hati ia menyakini bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Ayahnya bukan buronan atau pun penghianat. Ya… ayahnya adalah orang baik!
Perlahan bola mata Yuki berubah seperti semula. Biru seterang langit siang itu. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang ayahnya.
"Sebaiknya kita pulang. Ayah yang akan bicara pada ibunya jika ia marah karena kau membolos."
Yuki mengangguk. Sementara itu Sasuke bangkit dan meraih tangan Yuki. Setelah itu ia berjongkok dan menunggu anaknya untuk naik di punggungnya. Sasuke berdiri perlahan dengan Yuki di gendongan punggungnya. Sasuke berjalan sembari mencoba membuat Yuki kembali ceria. Ah, sungguh ia jadi ingat akan masa kecilnya setelah selesai berlatih dengan Itachi. Uchiha sulung itu selalu menggendongnya.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Suasana pasar di desa Kuni nampak masih ramai, meskipun waktu mulai menunjukkan pukul delapan pagi. Nampak dua perempuan berambut indigo dan kuning pucat menyusuri suasana keramaian dengan penglihatannya. Sementara seorang pemuda berambut cokelat nampak berbincang-bincang dengan salah satu penghuni pasar. Ia melirik temannya yang lain, seorang pemuda yang sedang mengamati sekitarnya bersama anjing piaraanya.
Hinata mengaktifkan Bakyugan-nya menerawang sejauh yang ia bisa. Namun nampaknya tidak ada tanda-tanda dari orang yang ia cari bersama teman-temannya.
"Apa anda pernah melihat orang ini?" tanya Ino yang ada di samping Hinata, ketika seorang perempuan muda lewat di depannya.
Perempuan itu menatap sosok di photo yang disodorkan kepadanya. Matanya nampak menyipit mencoba mengingat apakah ia kenal dengan seseorang yang ada di photo tersebut.
"Maaf, nona! Saya orang baru di sini. Dan sepertinya saya belum pernah melihat dia." Jawab perempuan muda tadi.
Ino nampak menghela nafas, sementara perempuan itu berlalu dari hadapannya. Ino mengusap keringat di keningnya. Ini sudah kesekian kalinya ia bertanya namun jawaban yang ia temukan selalu sama. Sebenarnya di mana Naruto berada?
"Hey, aku menemukan dia!" seru Kiba sedikit berteriak.
Tanpa menunggu lagi, Neji, Ino dan Hinata segera berlari ke arah Kiba. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berlalu dengan sia-sia, kini Naruto akan ditemukan. Dengan begini tugas mereka akan berakhir.
"Salah satu warga mengatakan jika Naruto tinggal tak jauh dari pemukiman ini, hanya dengan berjalan 20 menit ke utara kita akan sampai." Ujar Kiba menerangkan.
"Naruto-kun!" seru Hinata dengan mata berkaca-kata, hampir tak percaya pencariannya akan membuahkan hasil.
"Kita berangkat!" seru Neji dengan Bakyugan yang perlahan aktif. Sasuke akan jadi musuh yang berat untuk merebut Naruto.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Entah kenapa sedari tadi pagi, perasaan Naruto tidak enak. Setiap kali memandang langit biru, perasaannya kian membuat dadanya sesak. Perasaan itu bahkan telah lama tertimbun dengan jutaan kebahagiannya bersama Sasuke, tapi kini ia mulai rasakan lagi. Sebenarnya apa yang akan terjadi?
Ia nampak terkejut ketika baru saja keluar dari rumah. Matanya membulat melihat empat tamu yang mulai menginjak pekarangan rumahnya. Astaga? Bagaimana mereka bisa menemukan dirinya. Ini sudah lama, akan tetapi orang-orang Konoha masih juga mencari dirinya. Naruto berniat masuk ke dalam rumah lagi. Berharap ia tidak akan menemui keempat orang yang memakai hitai ate berlambang Konoha tersebut. Namun semua terlambat, ketika salah satu di antara mereka memanggil namanya dan membuat langkahnya terhenti di tengah pintu.
"NARUTO-KUN! Panggil Hinata dengan nada sedikit berteriak.
Sesak. Naruto merasakan dadanya sesak mendengar suara itu. Orang yang dulu begitu menyukai dirinya. Perempuan yang merelakan dirinya bertunangan dengan orang lain. Perlahan Naruto memutar badannya. Ia menatap para Shinobi Konoha. Semuanya memang takkan berakhir kecuali ia mau kembali ke Konoha.
"Akhirnya kami menemukanmu, Narr?" seru Kiba memeluk Naruto ketika telah sampai di depan Naruto, "Seharusnya kau tidak meninggalkan desa 9 tahun yang lalu," lanjut kiba, melepas pelukannya.
Namun Naruto tetap diam tak membalas ucapan Kiba. Pandangannya kosong, pikirannya tertuju kepada Uchiha kecil. Bagaimana ini? Jika mereka menemukan Yuki, pasti semua akan semakin rumit. Identitasnya sebagai mantan Shinobi akan diketahui oleh putranya. Dan semua yang Sasuke lakukan akan sia-sia.
"Pergilah, Kiba!" seru Naruto lirih, "Katakan bahwa aku tak mungkin kembali ke Konoha."
"Kami hanya menjalankan misi!" seru Neji menyela percakapan Naruto dan Kiba, "Hidup atau mati, kami harus membawamu pulang. Sekalipun kami harus melawan Sasuke."
"Neji-nii!" teriak Hinata tak setuju dengan ucapan Neji.
Naruto terdiam. Setelah sekian lama ia hidup sebagai penduduk biasa, kini ia mungkin harus bertarung lagi. Semua demi keluargnya. Ia kuat! Pasti bisa mengalahkan para sahabatnya dulu.
Naruto mengepalkan kedua tangannya. Meyakinkan diri bahwa dia memang harus bertarung. Namun sebelum ia melepaskan cakranya, sebuah suara membuatnya terkejut. Ia mendongak dan menatap seseorang yang kini tengah berdiri di tengah halaman rumahnya.
"Sasuke!" seru Naruto lirih.
"Langkahi dulu mayatku, baru kalian boleh membawa Naruto."
Seketika itu mata Sasuke berubah ke mode EMS. Ia menurunkan Yuki dari gendongannya.
Yuki nampak bingung dengan apa yang terjadi di rumahnya. Dia menatap keempat Shinobi dari Konoha. Apa mungkin memang benar, apa yang ia dengar dari laki-laki tadi pagi. Ayahnya adalah buronan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, ayah!"
Sasuke terdiam. Tanpa melihat wajah anaknya, ia berseru, "Apa pun yang kau lihat, ayah selalu menyayangimu. Kau harus tumbuh kuat dan melindungi ibumu."
"AYAH!" teriak Yuki merasa tidak suka dengan kalimat yang Sasuke ucapkan.
Sementara itu, keempat Shinobi Konoha nampak terkejut ketika mendengar bocah bermata biru di samping Sasuke, memanggil ayah. Siapa bocah itu. Tidak mungkin itu anak Sasuke dan Naruto.
Neji maju selangkah. Ia memandang datar musuhnya. Sampai kapan pun, Neji tidak akan menganggap Sasuke adalah teman.
"Kami datang secara baik-baik!" seru neji dengan Bakyugan yang aktif, "Dan kami harap, kalian ikut ke Konoha secara baik-baik."
"Huh, dalam mimpimu!" ucap Sasuke dengan Chidori di tangannya.
Sasuke melesat ke arah Neji. Sementara Neji telah siap memasang kuda-kuda andalannya sebelum menggunakan Juuken.
Tak mau ketinggalan, Kiba dan Akamaru ikut dalam petarungan. "Tsuga!" teriak Kiba sembari berputar dengan cepat ke arah Sasuke.
Sasuke yang menyadari pergerakan Kiba pun menghindar. Ia tak jadi melaju ke arah Neji dan memfokuskan diri untuk menghindari serangan Kiba.
"Hakke Sanjuni Sho!" Hinata mulai ikut menyerang serangannya terhadap Sasuke.
Sasuke yang tidak seimbang dalam pertarungan itu mulai terdesak. Apalagi ia tidak pernah lagi bertarung semenjak Yuki terlahir ke dunia. Seharusnya ia bisa menghadapi semuanya, jika ia serius. Namun ia tak mau mengambil resiko yang bisa membuat fatal cidera di tubuhnya. Dan satu-satunya yang bisa ia keluarkan hanya Chidori.
"Chidoori!"
"Rasengan!"
Teriak Naruto dan Sasuke secara bersamaan, dan…
JDUUAARRR….
Suara ledakan terdengar dasyat. Sasuke terpental setelah Chidori yang ia arahkan ke arah Neji, malah bertabrakan dengan jutsu Naruto. Rasanya seperti mengenang masa lalu. Tapi kenapa Naruto seolah ingin membantu orang-orang Konoha.
"Uhuk!" Sasuke terbatuk dan mengeluarkan darah. Ia mengernyit merasakan tubuhnya menghantam pohon di belakangnya.
Sementara itu, Naruto yang berhasil mendarat dengan baik di tanah, nampak terkejut melihat Sasuke yang terbatuk-batuk. Ia segera berlari ke arah Sasuke dengan panik. Ia menelan ludah ketika melihat Kondisi Sasuke yang sepertinya tidak baik.
"SASUKE…" teriak Naruto sembari merengkuh tubuh Suaminya.
Ini tidak mungkin, pikirnya dalam hati. Tidak mungkin Sasuke terluka separah itu, hanya karena mengadu jutsu. Bukankah dulu mereka juga pernah melakukan itu.
Yuki yang sedari tadi terdiam gemetaran karena melihat ayahnya nampak menakutkan, kini mulai ikut berlari ke arah Sasuke. Ia segera merangkul ayahnya yang terbatuk-batuk tanpa henti.
"Ayah, kenapa?" seru Yuki dengan nada bergetar, "Ayah tidak boleh pergi. Ayah harus bertahan." Lanjutnya sembari menatap Naruto, "Ibu … ayo bawa ayah ke rumah sakit."
Tanpa sadar air mata mulai mengalir.
Sejujurnya, bukan ini yang diharapkan Naruto. Ia tidak bermaksud melukai Sasuke. Ia hanya ingin mengakhiri pertarungan yang tidak berguna tadi. Naruto tak ingin Sasuke melukai orang lagi. Namun nyatanya …
"Sasuke!" seru Ino mulai ikut menjongkok di depan Sasuke yang tengah berbaring.
Ino mengarahkan tangannya di atas dada Sasuke dan mulai menggunakan Shosen Jutsu untuk mengobati luka Sasuke. Untuk beberapa saat kemudian ia menggeleng dengan berat.
"Ada apa, Ino?" ucap Naruto untuk pertama kalinya menyebut nama oorang yang membuat kekacauan di rumahnya.
"Lukanya begitu parah, seharusnya ia tidak dapat bertahan sampai sejauh ini."
"Apa maksudmu? Sasuke baik-baik saja!"
"Nar, Sasuke mengalami kerusakan sel. Seharusnya kau tahu perubahan yang dialami Sasuke."
"AYAHKU BAIK_BAIK SAJA!" teriak Yuki tidak terima dengan penjelasan Ino.
Naruto menatap wajah anaknya yang mulai sembab. Apa maksudnya Sasuke sedang terluka parah?
"Kita harus membawanya ke Konoha." Ucap Ino.
"Aku tiak akan membawa Sasuke ke tempat itu."
"Sebaiknya pikirkan nasib anakmu," ucap Neji dingin.
Naruto terkejut. Seharusnya ia memikirkan nasib Yuki jika sasuke tidak mendapatkan perawatan yang serius. Dengan berat hati ia pun mengangguk dan mengikuti saran ino. Ya… demi Yuki, setelah Sasuke sembuh ia akan pergi dari konoha.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
"Kita terlambat!" seru Karin dengan terkejut, ketika ia melihat pekarangan rumah Naruto nampak berantakan. Sisa-sisa perkelahian pun masih terlihat. Beberapa pohon tumbang dan hancur.
"Kita harus bagaiman?" tanya Suigetsu tak kalah tegang.
"Kita harus menyusul mereka ke Konoha. Dan menghubungi Kazekage dan juga Juugo."
Karin tak mampu membayangkan bila Sasuke ke Konoha dan berhadapan dengan tetua desa yang masih menginginkan Uchiha untuk dimusnakan.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Seandainya menggunakan Kuchiyose elang Sasuke, pasti tidak akan membutuhkan waktu beberapa hari hanya untuk bisa sampai ke Konoha. Apalagi mereka menggunakan jalur darat dan harus beristirahat ketika malam datang. Kapan akan sampai di Konoha? Tanya Naruto dalam hatinya. Sementara keadaan Sasuke sepertinya semakin parah, mengingat pemuda Uchiha itu belum siuman dari pingsannya. Dari penjelasan Ino, Sasuke tengah terluka parah, selnya mengalami kerusakan secara perlahan.
Naruto menatap putranya yang masih tertidur di pelukannya di atas Akamaru. Mengapa ia sebodoh ini, sampai tak pernah tahu jika suaminya tengah sakit. Sebagai 'istri', ia merasa sangat-sangat bodoh, karena tak pernah curiga sedikit pun dengan kondisi Sasuke selama mereka hidup bertahun-tahun bersama. Benarkah ia bodoh? Ataukah Sasuke memang terlalu pintar menyembunyikan rahasia tentang kondisi tubuhnya.
Sejujurnya, Naruto enggan kembali ke Konoha jika bukan karena Sasuke.
"Kita sudah sampai!" seru Neji, membuat Naruto bangun dari lamunannya.
Naruto menggendong Yuki yang masih terlelap. Mungkin ia lelah karena belum istirahat dan terlalu banyak menangis, setelah melihat kondisi ayahnya yang menyedihkan.
Mereka berjalan melewati gerbang desa. Sementara itu Sasuke berada di gendongan Kiba. Nampak para Shinobi yang sedang bebas dari misi terkejut dengan kehadiran Naruto dan Sasuke yang dalam keadaan seperti itu.
Naruto enggan menghiraukan bisik-bisik yang menghampiri telinganya. Ia menarik nafas panjang, sementara pikirannya masih melayang ke sosok Sasuke yang belumlah sadar sampai tiga hari ini. Sakit apa Uchiha tersebut? Naruto mendongak, menatap patung para Hokage. Di sana nampak patung wajah ayahnya. Sudah lama … bertahun-tahun ia tidak pernah melihat wajah ayahnya. Sudah lama mimpinya agar bisa mengukir patung wajahnya sebagai Hokage terlupakan. Dan sudah lama ia tidak berharap bisa kembali ke Konoha. Tapi mengapa semua tidak sesuai rencana hidupnya bersama Sasuke.
Di persimpangan, Naruto berpisah dengan Neji. Sementara ia dan yang lainnya pergi ke rumah sakit, Neji pergi ke kantor Hokage untuk memberitahukan bahwa misi telah berakhir.
Seharusnya Neji senang karena misi untuk menemukan Naruto telah berhasil. Tapi kenapa perasaannya malah tidak enak. Semoga semua akan semakin baik, do'anya dalam hati ketika wajah perempuan yang ia sayangi nampak terlintas di pikirannya.
"Sakura!" ucapnya lirih tanpa sadar.
Apakah perempuan itu masih menyimpan dendam terhadap mantan orang yang ia sayangi. Bagaimana reaksi Sakura, ketika ia mengetahui bahwa bocah bernama Yuki adalah anak orang yang ia benci.
.
.
Flashback on
.
Malam semakin larut dan itu mengharuskan mereka untuk beristirahat sampai pagi datang. Naruto nampak mencoba menenangkan Yuki yang menangis melihat kondisi ayahnya dalam perawatan Ino. Dengan ekor matanya, Neji memperhatikan gerak-gerik Naruto sembari membuat api unggun. Sementara itu, Kiba belum kembali dari mencari kayu bakar.
Anak itu memang mirip dengan Sasuke. Kulit alabaster pucat dan rambut hitam kebiruan dengan model melawan gravitasi itu membuatnya mirip seperti Sasuke. Dan mata seterang langit itu mungkin didapat dari Naruto.
Malam yang semakin larut, membuat mereka satu persatu tertidur. Dan tidak ketinggalan, Yuki yang nampak tidur sambil memeluk Sasuke. Neji mulai mendekati Naruto dan duduk di samping sahabat lamanya itu.
"Aku tak pernah berharap akan kembali ke sana!" seru Naruto sebelum Neji membuka mulut.
"Tapi nona Tsunade selalu berharap kau akan pulang."
"Aku sudah pulang," ucapnya mencoba menelan ludah dengan susah payah ketika mengingat tempat pulang, "Tempatku pulang adalah di rumah yang Sasuke bangun dengan hasil keringatnya selama menjadi tukang kayu," lanjut Naruto mencoba agar tidak menangis mengingat Sasuke yang selalu bekerja keras dan hidup sebagai orang biasa.
Neji nampak terkejut mendengar penuturan Naruto tentang profesi yang Sasuke jalani, selama tinggal di desa Kuni. Masih terdiam, Neji mengalihkan pandangannya ke arah bocah 9 tahun yang nampak tertidur pulas di samping ayahnya.
"Bocah itu-"
"Anakku dan Sasuke!" ucap Naruto memotong kalimat Neji.
Neji terdiam. Ternyata apa yang dikatakan Sakura benar. Ada atau pun tak ada wanita di samping Sasuke, Uchiha akan tetap bangkit dengan adanya Naruto.
"Seharusnya Konoha tak perlu mencari kami karena Konoha tak menginginkan Uchiha," ucap Naruto lirih, "Semua itu hanya akan membuat Yuki terluka. Yuki tak pernah tahu orang tuanya adalah Shinobi"
Neji terdiam. Yuki tak hanya akan terluka. Namun Neji tahu bahwa Yuki akan menjadi seperti ayahnya yang pendendam jika tahu Konoha tak akan mengampuni Sasuke karena telah membawa lari calon Hokage.
.
Flashback end
.
Neji melangkah masuk ke dalam ruangan Hokage, setelah suara Tsunade menyuruhnya masuk. Ia terus berjalan hingga sampai di depan meja Tsunade lalu berhenti. Ia memberi hormat dan menunggu Tsunade untuk mengucapkan sesuatu.
"Bagaimana dengan desa Kuni. Apa mereka ada di sana?" tanya Tsunade mengenai hasil pencarian Neji bersama yang lainnya.
"Kami menemukan mereka." Seru Neji membuat Tsunade terkejut, "Mereka sedang berada di rumah Sakit bersama yang lainnya."
Mata Tsunade melebar. Berada di rumah sakit? Sebenarnya apa yang terjadi hingga mereka harus pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Apakah mereka bertarung lalu terluka? Tapi itu tidaklah mungkin. Naruto kuat. Ia adalah pahlawan.
"Sepertinya Sasuke sudah lama sakit parah."
Tsunade semakin terkejut ketika mendengar kabar dari Neji. Sasuke sakit? Itu tidak mungkin. Memangnya apa yang terjadi dengan Uchiha tersebut.
"Kita harus ke sana!" seru Tsunade panik. Ia bahkan tak membiarkan Neji meneruskan laporan misinya. Tsunade terlebih dulu keluar dari ruangannya sebelum Neji mengatakan bahwa Uchiha telah bangkit.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Naruto nampak cemas menanti di depan ruangan operasi. Bagaimana keadaan Sasuke? Ia semakin mengeratkan pelukan putranya yang kini sudah bangun. Sasuke harus selamat bagaimana pun caranya, meski ia harus memohon di depan Tsunade-ninja medis terhebat itu. Yuki tidak boleh kehilangan sosok ayahnya, karena Yuki masih terlalu kecil.
Pintu ruangan operasi terbuka. Dengan tergesa Naruto menurunkan Yuki, lantas berdiri dan melangkah ke arah tim medis yang menangani Sasuke.
"Itu sudah terlalu parah, Nar!" seru ninja medis tersebut.
"Tapi selama ini Sasuke selalu baik-baik saja," ucap Naruto mencoba menyakini bahwa Sasuke memang baik-baik saja."
"Sel-selnya mengalami kerusakan. Bahkan seharusnya penglihatannya juga terganggu. Setelah kami melakukan pemeriksaan, mungkin selama ini Sasuke mendapatkan bantuan medis dari seseorang."
Naruto terdiam. Luka parah, bantuan medis … sebenarnya sejak kapan Sasuke sakit? Siapa selama ini yang membantu suaminya agar tetap bertahan dan terlihat baik-baik saja? Ia memutar ingatannya. Shinobi yang mengetahui keberadaannya dan Sasuke, ninja medis … ayolah berfikir, Nar! Mata Naruto membulat ketika ia mengingat satu nama yang selama ini membantu agar ia bisa bersama dengan Sasuke. Karin!
"Kita hanya bisa-"
"NARUTO!" seru Tsunade memotong perkataan laki-laki tersebut.
Tsunade mengatur nafasnya sejenak sebelum melangkah ke arah Naruto. Ia berjalan tergesa lalu memeluk Naruto, "Bodoh!" serunya hampir berbisik, "Kenapa kau meninggalkanku, heh! Kau pergi dan menghilang bertahun-tahun."
Namun Naruto hanya terdiam, ia tak tahu mesti berkata apa. Ia sudah lama lupa bagaimana dirinya yang dulu. Ceroboh dan selalu membuat orang lain cemas.
"Ibu … " seru Yuki sembari menarik baju Naruto, "Yuki mau pulang! Yuki tidak suka di sini," lanjut Yuki setengah merengek.
Tsunade mengikuti arah pandangan Naruto yang tengah menatap bocah beramput raven tersebut. Astaga … bocah itu mirip Sasuke. Apa itu anak Naruto dengan Sasuke? Tsunade yang dari awal memang mengetahui bagaimana tubuh Naruto, tidaklah begitu terkejut. Ia menarik nafas. Uchiha telah bangkit.
"Kau kembali juga bocah rubah!" ujar seseorang membuat semua yang ada disitu memandang laki-laki dan perempuan tua tersebut. Penasehat desa. Rupanya mereka masih berumur panjang, sementara semua teman seangkatannya sudah meninggal semua.
Naruto mengepalkan kedua tangannya. Mengapa pula dua tua bangka itu masih hidup. Seharusnya mereka pensiun dan digantikan para Shinobi muda yang masih punya stamina kuat, sehingga Naruto tidaklah segan untuk bertarung ketika Sasuke terancam keselamatannya.
"Bagus jika Uchiha busuk itu juga ikut," seru Koharu dengan sinis, "Sehingga hukuman mati atas penghianat dan buronan seperti dia bisa segera dilaksanakan."
Mendengar ucapan penasehat yang selalu membenci Uchiha itu, Tsunade sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Uchiha memang sebuah kutukan." Homura ikut bicara, "Tidak leluhur, tidak keturunannya, semuanya selalu membuat masalah. Madara, Itachi dan Sasuke!"
Tsunade baru akan membuka suara, namun suara Barithon kecil membuatnya menutup kembali mulutnya.
"Kau tua bangka jangan bicara macam-macam!" ucap Yuki setengah berteriak, "Ayahku orang baik. Kau tidak berhak menghinanya."
"Yuki …" seru Naruto tidak suka ketika putranya bicara kurang sopan.
"Tapi itu memang benar, aku tidak suka orang lain menjelek-jelekkan ayah."
"Kau, bocah!" seru Koharu, "Tahu apa tentang penghianat Uchiha Sasuke."
Emosi Yuki semakin naik. Sudah ia bilang kalau ia tidak suka ayahnya dihina. Namun dua tua bangka di depannya semakin membuat telinganya panas. Perlahan pupil matanya berubah, sementara itu ia tidak berhenti bicara.
"Kau … mata itu …." Seru Koharu dan Homura bersamaan. "Tidak mungkin!" ucap mereka tidak percaya.
"Aku tidak akan memaafkan mereka yang menghina ayah. Kalian pantasnya pergi ke neraka. Ka-"
"NAMIKAZE YUKI … BERHENTI BICARA KATAKU!" sela Naruto dengan berteriak, "Berhenti mengumpat. Ayahmu tidak pernah mengajarimu berkata kasar kepada orang tua," lanjut Naruto sedikit menurunkan nada bicaranya.
Semua yang ada di situ semakin terkejut ketika mendengar nama marga Yuki. Namikaze … bukankah itu nama marga Hokage keempat? Astaga … ada apa ini sebenarnya?
"Tapi mereka keterlalauan ibu! Aku tidak suka-"
"Berhenti kata ibu! Atau ayahmu akan semakin sakit."
"Aku tidak suka-" ucap Yuki menoleh ke belakang, membuat Naruto terkejut ketika melihat mata Yuki berubah. "-mereka menghina ayah!" lanjut Yuki.
Sharingan! Naruto menatap mata penuh kebencian yang pernah ia lihat di mata Sasuke. Anaknya mempunyai Sharingan! Tapi sejak kapan? Ia segera menggendong Yuki dan membawanya keluar dari rumah sakit. Ia harus membantu Yuki untuk mengembalikan pupil mata anaknya seperti semula. Tidak ada yang boleh tahu tentang Yuki yang seorang Uchiha.
.
.
.
To be Continue…
