Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto
Akatsuki in Humor
Humor, Parody, Friendship
Rate : K+/T/M
Main cast : Akatsuki and friends
Place : Peta Shinobi di Naruto Ultimate ninja 5
Warning! : OOC, typo(s), No EYD, suka-suka authornya, hanya untuk hiburan guys..
Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
.
Chapter 12 Akatsuki Pergi ke Mal.
.
.
Cuaca panas membuat para anggota Akatsuki bergantian memakai kipas. Kipas itu hanya ada satu dan anggota Akatsuki ada sebelas orang. Yang paling bawel di antara mereka adalah Hidan. Hidan sosok anggota Akatsuki yang selalu merasakan kepanasan sehingga ia tidak pernah memakai baju dalaman. Hanya jubah Akatsukinya saja yang menutupi dadanya yang bidang itu.
"Oiii, cepetlah bawa ke sini kipas itu, panas banget, nih!" ucap Hidan kepada Tobi yang sedang memegang kipas.
"Senpai, Tobi baru aja pegang, masa mau langsung dikasihin, sih! Kipas aja belum dipake," sanggah Tobi si anak baik.
"Teme! Lo tadi udah make kipasnya, gantian napa!" Itachi berseru.
"Oi, oi! Cuaca panas banget nih, gak tahan gue." Hidan kemudian mengipasi dirinya dengan jubahnya sendiri.
Mereka berada di depan pintu lantai satu karena sedang mencari angin, tapi sayangnya masih saja tetap terasa panas. Padahal kalau dipikir, di belakang mereka banyak pepohonan. Tapi entah mengapa hari itu matahari sangat terik membakar kulit.
"Dah gini aja, kita pergi ke mal aja, yuk! Di sana kan banyak AC, pasti dingin." Sasori mengeluarkan idenya.
Akhirnya, tanpa banyak perlawanan mereka setuju untuk pergi ke mal. Dengan Kamui Tobi, mereka segera tiba di Mal Tokyo. Namun, sesuatu kemudian terjadi di sana.
.
.
.
Di mal...
"Wuuiiihhh, ademnya."
Hidan berjalan menikmati kesejukan di dalam mal dan membiarkan dadanya yang bidang itu terlihat. Ia terbiasa tidak mengancingi atasan jubah Akatsukinya.
Semua anggota Akatsuki berjalan memasuki mal yang ada di kota Tokyo tersebut. Mata mereka tak henti takjub akan megahnya mal yang mereka kunjungi. Kakuzu yang berada di samping Hidan sempat-sempatnya berhayal dalam imajinasinya sendiri.
Andai gue yang punya ini mal, pasti duit gue tambah banyak ya? khayal Kakuzu.
Lamunan Kakuzu itu terhenti saat Zetsu menabrak Kakuzu. Ia tanpa sengaja menabrak Kakuzu karena berkejaran bersama Tobi di dalam mal tersebut.
"Oiii, Teme! Lo kagak liat badan gue segede ini apa?!" Kakuzu marah dan melototkan kedua matanya ke arah Zetsu.
"Aduuhhh." Zetsu pun kesakitan karena cangkangnya terkena badan Kakuzu.
"Maaf, Senpai, kami tidak sengaja." Tobi meminta maaf sambil membantu Zetsu bangun dari jatuhnya.
Saat itu Tobi yang mengejar Zetsu. Tapi karena Zetsu tidak melihat Kakuzu, terjadilah insiden tabrakan itu.
"Kalian ini, jangan kejar-kejaran di dalam mal, Tobi. Begitu kan akhirnya." Konan menceramahi.
"Ya kalo mereka kejar-kejaran di taman bunga itu namanya lagi maen kuch kuch hota hai, Konan." Sasori menimpali perkataan Konan.
"Tobi emang begitu orangnya, gak di mana-mana aktif terus dia. Kalo ada aja yang jualan remote. Pasti udah gue pause tuh anak!" Deidara ikut kesal.
"Si Itachi kan punya genjutsu, Dei," sahut Kisame.
"Tobi mah susah di genjutsu, Me. Dia keburu lari pake kamuinya itu. Lagipula gue ama dia sama-sama punya Sharingan dan Mangekyo. Satu-satunya cara yah cuma ameterasu yang mempan ke dia." Itachi mencoba menerangkan.
"Udahlah, kalian ini ngomong apaan! Mending kita ke toserba aja beli alat mandi." Pain menengahi.
Akhirnya, mereka menuju toserba yang ada di dalam mal itu dan melupakan sejenak apa yang baru saja terjadi.
.
.
.
Satu jam kemudian...
Akatsuki terlihat berbaris, mereka mengantri untuk membayar di kasir. Tobi yang sudah dahulu membayar membuka kembali barang belanjaannya. Ia berjongkok membelakangi anggota Akatsuki yang sedang mengantri.
"Aduh, sempak Tobi mana, ya? Kok gak ada, sih!" Tobi mencari-cari celana dalamnya di kantong belanjaan. "Padahal perasaan Tobi tadi udah dibeli, deh?" Tobi berucap sambil berpikir.
Anggota Akatsuki yang lain hanya bengong melihat tingkah Tobi yang grasak-grusuk itu. Tobi pun memeriksa belanjaan anggota yang lain. Kali-kali sempak yang Tobi beli ada di salah satu keranjang belanja mereka. Tobi terus mencari-cari.
"Apaan sih lo, Tob?! Bikin rungsep gue aja, minggir lo!" Deidara risih keranjang belanjaannya diperiksa oleh Tobi.
Tobi si anak baik tidak putus asa, dia memeriksa keranjang yang lain. Saat itu giliran Deidara yang membayar. Tapi tiba-tiba…
"Biar saya saja yang membayar, Mbak, ini."
Pria berbaju hijau di samping Deidara memberikan ATM debit-nya untuk membayar semua barang belanjaan Deidara. Anggota Akatsuki lainnya langsung melirik ke arah Deidara, membiarkan Maito Guy mendekati pria berambut kuning terkuncir itu.
Setelah anggota Akatsuki telah selesai membayar semua barang belanjaan, mereka berkeliling mengitari dan berjalan-jalan di dalam mal. Namun lain dengan Deidara.
"Mmm, aku sudah lama menantikan hal ini, Dara.
Maito Guy malu-malu menatap Deidara. Keduanya saat ini tengah duduk sambil meminum jus di salah satu kafe yang berada di dalam mal.
Tampak keraguan di hati Deidara seketika itu juga.
"Entahlah, mungkin bisa dibilang aku kagum, ngefans atau apa gitu yang sejenisnya," lanjut Guy sambil tersenyum-senyum sendiri.
Deidara memandangi Guy. Alisnya naik-naik sendiri. Menahan jijik di hati.
"Maukah besok kita berjalan bersama lagi?" tanya Guy kemudian.
Deidara kaget dan seketika tersedak jus yang diminumnya.
"Uhuuukk!"
Napas Deidara seakan berubah bentuk menjadi padat, serasa berat udara dihirupnya kala ini.
Melihat Deidara yang tersedak, Guy segera mengambilkan tisu dan mengelap serpihan jus yang menempel di bibir Deidara. Deidara pun semakin tidak karuan.
Duh, nih orang enggak tau apa ya kalo gue ini laki-laki? tanya Deidara di dalam hati.
Guy meneruskan pembicaraan, "Dara, kau sungguh cantik. Dan kulitmu begitu halus." Guy memberanikan diri memegang tangan Deidara yang berada di atas meja.
Rasanya saat itu Deidara ingin segera kabur dari kafe. Ia memenuhi ajakan Guy hanya sebagai ucapan terima kasih karena belanjaannya telah dibayarkan oleh Guy. Tapi ternyata lain yang diartikan oleh Guy.
Tak lama kemudian…
"Senpai, Senpai!" Tobi berteriak dari kejauhan sambil berlari.
Tobi datang bersama Anggota Akatsuki yang lainnya. Mereka ingin mengajak pulang.
Hahh, untung mereka datang. Kalo enggak, bisa mati berdiri gue di sini. Deidara menggerutu di dalam hati.
Guy yang melihat anggota Akatsuki lainnya sudah datang, segera berpamitan kepada Deidara.
"Dara, besok kau ku jemput, ya?" Guy berpesan sambil beranjak pergi, meninggalkan Deidara.
Saat itu juga setelah Guy pergi...
"Ciee-ciiee, yang abis dibayarin belanjaannya," ledek Hidan.
"Sering-sering aja, Dei. Bisa ngehemat pengeluaran Akatsuki kalo lo dibayarin terus mah," sambung Kakuzu.
Deidara hanya diam dan tidak menghiraukan ledekan teman-temannya itu. Mereka pun pulang ke rumah dengan Kamui Tobi.
.
.
.
Di rumah Akatsuki…
Mereka berkumpul membuka dan memeriksa belanjaan mereka masing-masing. Tiba-tiba...
"Oii! Ini sempak siapalah warna ijo di belanjaan gue?!" tanya Itachi sambil menunjukkan celana dalam yang dia maksud.
Saat Tobi memeriksa belanjaan Itachi, Itachi menggenjutsu Tobi. Sehingga warna hijau yang Tobi lihat berubah menjadi warna pink. Karena kebetulan Itachi juga membeli celana dalam yang berwarna pink.
Sontak Tobi menghampiri Itachi lalu mengambil celana dalam itu.
"Ih, Senpai! Ini kan sempak Tobi. Kok ada di Senpai Itachi, sih?" tanya Tobi yang terheran.
"Mana gue tau, masuk sendiri kali ke belanjaan gue," jawab Itachi kalem.
"Tuh Senpai kok beli sempak warna pink?" tanya Tobi lagi sambil melihat-lihat celana dalam yang Itachi beli.
"Itachi mah misterius mukanya aja, Tob. Hatinya mah sebenernya girly," sahut Kisame.
"Dah lo diem, Kisame! Gue jadiin ikan bakar juga ntar lo!" ancam Itachi.
"Weh, Itachi mah maennya ameterasuan. Ngeri weh!" celetuk Nagato.
"Sudah-sudah, beresi barang belanjaan kalian dan letakkan pada tempatnya." Konan segera menutup pertengkaran.
.
.
.
Bersambung…
