©Anggara Dobby
[Warning!] Bahasa Campuran —Alay teenlit kekinian gak baku—BoysLove alias Humu, DLDR, typo(s), Absurd.
Indonesia!AU
Saya menganut aliran keras 'Tidak Suka Tidak Usah Baca!'
.
.
Chapter 12 : Menjadi Kita
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari Jumat, tepatnya jam empat sore, Luhan mendadak 'diculik' oleh Baekhyun. Padahal hari itu sekolah diliburkan, dan Luhan hanya ingin menghabiskan waktunya di atas kasur kesayangannya seharian, tapi Baekhyun dengan tidak berperikemanusiaan menariknya pergi. Bahkan, anak itu tidak mengizinkannya ganti baju. Alhasil Luhan hanya mengenakan celana training biru tua-nya dan t-shirt bergambar minion yang cukup kebesaran —iya, Luhan itu suka sekali pakai baju yang oversize— dan ikut Baekhyun .
Dan di sinilah Luhan berada, di Warkop punya Bang Seungri yang tak jauh dari asrama, bersama teman-teman regu Garuda II-nya.
Kemarin saat kemah, regu mereka mendapatkan penghargaan regu terfavorit dan regu terkompak—bahkan Pinru terbaik, padahal awalnya, senior-senior tidak memberitahu bahwa akan ada kompetisi seperti ini. Hal ini memang dirahasiakan, karena para senior ingin para peserta kemah benar-benar menunjukan kerja sama dan kemampuan mereka tanpa tahu mereka akan mendapat imbalan atas kerja sama mereka nantinya. Walau regu Garuda II tidak berhasil mendapatkan gelar regu terbaik, tapi mereka sangat puas dengan pencapaian mereka.
Itulah mengapa Luhan terjebak di sini sekarang, Hanbin mengadakan 'syukuran' mendadak. Si Ketua itu mengajak teman-teman se-regunya makan-makan di Warkop Bang Seungri. Kebetulan kemarin hadiah hasil pos games yang mereka menangkan itu berupa uang ratusan ribu, jadi cukup lah untuk makan-makan di sini. Selain harganya pas di kantong pelajar, menu di Warkop Bang Seungri itu juga enak-enak (kayak slogan yang terpampang di depan Warkop; harga kaki lima tapi rasa hotel bintang lima), di Warkop ini juga menyediakan Wi-Fi gratis dan layar lebar untuk nobar setiap malam minggu. Makanya Warkop Bang Seungri ini jadi tempat nongki-nongki favorit anak-anak asrama.
"Bang Seungri, di sini nggak ada bakso apa?" Baekhyun yang sedang melihat-lihat menu itu berteriak protes pada Si Pemilik Warkop yang sedang sibuk menonton acara gosip di televisinya.
"Heh, ini teh Warkop! Bukan warung bakso!" Bang Seungri menyahut sensi.
"Ohhh, jadi kalo di Warkop teh nggak boleh ada bakso, kitu? Nyebelin pisan." gerutu Baekhyun, ikut-ikutan memakai basa sunda.
Bang Seungri cuma geleng-geleng kepala. Sudah biasa dia sama Unyil yang satu itu, kalau ke sini belum afdol kalau belum membuatnya kesal. Diladeni pun percuma, karena Baekhyun mulutnya lebih licin dan tidak bisa dikalahkan.
"Ya udah, ayo rakyatku, pesen aja sepuas kalian. Biar Boss Hanbin ganteng yang bayarin." kata Hanbin, dengan wajah songongnya.
"Bener nih, ya? Aku pesen semua yang ada di menu, nih?" sahut Kyungsoo.
Hanbin mendelik, "Ehhhh, ya gak gitu juga! Bisa bangkrut mendadak gue,"
"Katanya sepuasnya?" kali ini Luhan yang menyahut.
"Ya dikira-kira juga, Luhannnnn!"
Luhan cuma ngangguk-ngangguk polos, terus lanjut pilih-pilih makanan di buku menunya. Matanya seketika berbinar ketika melihat menu baru yang paling mentereng di sana. Es kepal Milo—minuman primadona yang lagi nge-trend dimana-mana. Sontak saja anak itu menunjuk-nunjuk bagian itu dengan semangat.
"Bang Seungri, ini beneran ada es kepal Milo?" tanya Luhan dengan wajah bling-blingnya.
"Iya, cantik. Topping-nya juga banyak, sok tinggal dipilih mau yang mana. Khusus buat Adek Luhan yang geulis pisan, nanti Abang banyakin deh topping-nya." Bang Seungri masih sempat-sempatnya modus.
"Asik!" Luhan berseru girang, tidak menggubris bahwa Seungri baru saja memanggilnya cantik—biasanya itu adalah kata kramat yang tidak boleh disebut di depan Luhan. "Hanbin, aku mau tiga, boleh yaa?"
"Banyak amat? Gak mau pesen makanannya emang?" tanya Hanbin.
Luhan menggeleng, dengan wajah kucing dibuang dia menarik-narik ujung baju yang Hanbin kenakan. "Ya, Hanbin, yaaa?"
Duh, Hanbin lemah.
Ini kenapa Luhan gemesin banget, sih?
Andai Jinan kayak gini sama dia—Eh? Hanbin menepis pemikiran konyolnya barusan jauh-jauh. Apa-apaan, kok dia malah kepikiran Si Pendek Judes itu, sih?
"June, bujuk Hanbin..," pinta Luhan, kali ini menarik-narik baju milik Junhoe yang sejak tadi diam dan hanya memperhatikan Luhan.
"Engga. Nanti kamu bisa pilek minum banyak-banyak es." tolak Junhoe.
Luhan merengut, "Nggak bakaaal. Ayolah, Junee?"
Junhoe saling lirik dengan Hanbin. Kedua cowok itu tampak frustrasi sesaat menghadapi Luhan yang terlalu kiyowo, terlalu menggemaskan, terlalu lucu, terlalu manis, terlalu—asdfghjkl! Kudu (harus) kuat-kuat menahan diri dan memperkuat iman jika berhadapan dengan Luhan.
"Hhh, yaudah, deh. Tapi sama makanannya juga, ya?" kata Hanbin.
"Awas ya, kalo nanti abis ini kamu pilek." tambah Junhoe.
Luhan mengangguk cepat, sampai rambutnya yang dikuncir seperti apel itu (Baekhyun yang menguncirnya tadi) bergoyang lucu. "Makasih, Hanbin, June! terbaik deh hehehehe."
"Woy, woy! Matanya biasa aja kali! Mau dicolok, ya?" Baekhyun memukul kasar tangan Hanbin dan Junhoe bergantian. Membuat kedua cowok itu meringis sakit.
"WADAW—baek, sakit! Apaan, sih?" protes Hanbin sambil mengelus tangannya. Baekhyun kalau mukul itu tidak kira-kira, pakai kekuatan penuh. Padahal tangannya mungil gitu, tapi tabokannya cukup pedas.
"Ya lagian itu mata penuh nafsu banget ngeliatin Luhannya!" kata Baekhyun, ketus.
Hanbin dan Junhoe menggaruk tengkuk mereka dengan canggung, telinga keduanya terlihat memerah. Membuat teman-temannya tertawa keras, minus Baekhyun yang masih dalam mode mamak galak, dan Luhan yang kini sudah ngacir ke dapur, merecoki Bang Seungri.
"…gemes abisnya sama Luhan, Baek. Gak kuat gue, rasanya pengen—"
SREEETT
"—ATATATAT! BAEK, JANGAN DIJAMBAK INI RAMBUT GUE! YAH BOTAK DAH, YAH!"
Ya.., bagaimana ya, salahin saja Luhan. Suruh siapa punya muka yang buat orang-orang suka pengen khilaf. Hanbin 'kan juga manusia biasa.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan berjalan santai di pinggir jalan dengan mulut mengulum sedotan susu kotaknya. Akhir-akhir ini dia lebih sering minum susu, bahkan sehari bisa habis tujuh susu kotak Milo. Gara-gara diejek Mas Minho waktu latihan futsal minggu lalu, Luhan jadi dendam dan bertekad tumbuh tinggi —iya, Minho bilang badannya ini paling mungil di antara anak-anak futsal lainnya, makanya Luhan panas— . Luhan 'kan baru 17 tahun, masa pertumbuhannya masih panjang, jadi dia yakin dia pasti bisa tinggi seperti teman-teman satu tim-nya.
Lagian, apa salahnya sih punya badan mungil gini? Toh, Luhan paling lincah dan paling bisa mencetak gol di tim-nya. Mereka itu yang tinggi-tinggi memang bisanya cuma mengejek kaum pendek. Nyebelin.
"Huh, Mas Minho aja yang ketinggian. Dasar rese." Luhan ngedumel, lalu kembali menyedot susunya.
Suasana jalanan sore itu cukup ramai, banyak kendaraan yang berlalu-lalang, dan kebanyakan pengendara itu adalah cowok-cowok remaja yang membonceng pacarnya. Maklum, ini hari sabtu, mereka pasti sudah siap-siap mau malam mingguan. Apalah daya Luhan yang seumur hidup belum pernah merasakan malam mingguan sama sekali. Baekhyun bilang, jalan-jalan di malam minggu bersama pacar itu lebih seru sensasinya. Luhan tidak tahu dimana letak 'keseruannya' karena menurutnya malam minggu dan malam lain 'kan sama saja. Tidak ada spesial-spesialnya, kecuali karena esoknya libur, baru itu bisa dikategorikan 'spesial'.
(itulah mengapa Luhan jalan sendirian menuju asrama sekarang, karena sudah pasti dua teman Unyilnya sudah diculik pacar masing-masing).
Dan bicara tentang pacar dan malam minggu, Luhan mendadak teringat Mas Sehun.
Ini sudah minggu ke-dua sejak kemah di Buper Cibubur, dan berbagai kenangan serta kejadian manis yang terjadi di sana masih sangat membekas di ingatan Luhan, tapi Sehun—si pelaku yang memberikan goresan manis di ingatan Luhan— mendadak hilang begitu saja. Seperti ditelan bumi. Dihisap Dementor.
Serius, Luhan mulai merasa dipermainkan.
Sehun jarang kelihatan di sekolah. Di kantin pun Luhan tidak melihat batang hidung seniornya itu. Mungkin dia ada di ruang OSIS—dan Luhan tidak mungkin menghampirinya ke sana karena selain banyak kakak kelas, dia juga malu. Tidak lucu jika Luhan sudah datang ke sana, tapi Sehun mengusirnya karena merasa terganggu. Bahkan saat Pramuka, Sehun tiba-tiba bolos bersama Jongin, entah kemana. Tentu saja hal ini membuat Luhan cukup…, sedih.
Apa Sehun menghindarinya, ya?
Tapi, apa salah Luhan?
Setelah memberikan perlakuan super manis kepadanya saat di Buper, Sehun tiba-tiba menjauh. Luhan yang tadinya sudah mantap dengan perasaannya, kini kembali ragu. Baekhyun bilang, yang Sehun lakukan padanya itu tarik ulur. Luhan tidak mengerti istilah itu. Tarik-ulur? kayak main layangan aja, sih—pikirnya.
Luhan mencoba berpikir positif. Mungkin saja Mas Sehun sedang sibuk dengan kegiatan OSIS dan semua organisasinya. Tapi di satu sisi Luhan merasa kecewa, apa sebegitu sibuknya seniornya yang satu itu hingga tidak mengabarinya atau sekadar menyapanya? Memang sih, mereka sempat berpapasan di koridor sesekali, tapi Sehun hanya melemparkan senyum kecil padanya, lalu setelah itu melewatinya dengan berbagai macam tumpukan kertas entah apalah itu di tangannya.
Luhan menghela napasnya, kemudian membuang kotak Milo-nya ke tempat sampah yang kebetulan ada di sana.
Kadang, dia tidak mengerti apa arti dan maksud perlakuan Sehun selama ini. Lelaki itu memang mengutarakan rasa sayang padanya dan memperlakukannya seolah-olah dirinya ini orang yang begitu spesial, tapi di sisi lain, Luhan merasa Sehun begitu jauh. Sulit digapai. Dan Luhan tidak mau berharap lebih pada seniornya itu.
'Kan kalau kata Ali bin Abi Thalib; aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.
Iya, makanya Luhan tidak mau berharap apa-apa sekarang. Dia harus menekan sekuat mungkin harapan dan perasannya.
Walau Luhan sangat nol dalam percintaan dan kata orang-orang dia ini tidak peka serta menyerempet ke polos-polos bodoh, tapi Luhan cukup mengerti perasaannya. Jelas, dia menyukai Sehun. Menyayanginya.., bahkan mencintainya. Jadi, insiden menghilangnya Sehun mendadak ini sukses membuatnya merasa kecewa.
"Permisi,"
Lamunan Luhan buyar ketika suara baritone yang agak cadel serta deruman mesin motor menyapa gendang telinganya. Dia menoleh ke samping, lalu mendelik kaget melihat si pemilik suara yang tengah tersenyum ganteng ke arahnya di atas motornya.
Itu Sehun. Dengan jaket denimnya yang mengingatkan Luhan pada Dilan —karakter favorit Baekhyun dan cewek-cewek di sekolah— , tapi bukan Retro ataupun Norton yang ditungganginya, melainkan Ninja hitam-nya yang gagah.
Baru aja dipikirin, tau-tau orangnya udah nongol. Panjang umur.
"Saya cari orang yang namanya Luhan. Badannya kurus, kayak orang kurang makan, rambutnya cokelat madu, wajahnya manis.., bikin susah tidur. Adek liat nggak kira-kira orang itu?"
Luhan mendengus, menyembunyikan senyumnya mendengar ucapan Sehun. Dia memang sedang kecewa dengan seniornya itu, tapi melihat Sehun ada di dekatnya saat ini membuat Luhan cukup senang. Sehun belum melupakannya.
"Akhir-akhir ini saya dijauhin sama yang namanya Luhan itu. Gak tau kenapa, kalau liat saya, anak itu langsung pergi. Padahal niat saya baik, mau pedekate."
Luhan terbatuk. Apa-apaan...
Mas Sehun setelah menghilang beberapa hari otaknya kok jadi geser begini? Luhan mulai penasaran kemana perginya lelaki itu kemarin-marin.
"Enak aja! Mas yang mendadak ngilang, bukan aku yang ngejauh!" protes Luhan, melirik sengit ke arah Sehun yang masih mengendarai motornya pelan-pelan di sampingnya.
"Lho, Luhan? Sejak kapan kamu ada di situ?" Sehun bertanya dengan nada sok kaget.
Luhan merotasikan bola matanya, "Sejak negara api menyerang!" jawabnya, ketus.
Sehun tertawa, masih sangat menawan seperti biasanya. Ada yang beda dari seniornya itu, rambutnya yang biasa ditata hair-up sekarang tidak, membiarkan poni rambutnya yang agak panjang jatuh ke dahinya. Terlihat soft dan lebih…, manis?
"Karena sekarang Luhan udah ketemu, aku mau nawarin sesuatu nih sama Luhan."
Luhan bertanya bingung, "Nawarin apa?"
Sehun tersenyum —dan Luhan masih belum bisa mengontrol detak jantungnya melihat senyuman itu— "Jok belakang aku kosong, mau jadi sukarelawan ngga?"
Luhan menahan tawanya. "Kalo aku gak mau, gimana?"
Seniornya itu memasang wajah sok berpikir, lalu sebuah senyum janggal terlukis di wajahnya. "Yaudah, aku cari sukarelawan lain."
Luhan tanpa sadar merengut. Gitu aja? Nggak ada pemaksaan atau bujukan kayak biasanya, gitu?
"Penawarannya cuma berlaku sekali, lho. Dapat bonus jalan-jalan keliling kota bareng aku plus dapet jajanan gratis. Gimana?" ujar Sehun.
Luhan kali ini benar-benar tertawa, membuat Sehun tidak mengalihkan sedikit pun pandangan darinya.
"Oke!"
Motor Sehun itu tinggi sekali, apalagi jok belakangnya tidak ada pegangannya, membuat Luhan agak takut. "Mas.., ini gak ada pegangannya, ya?"
"Ada, kok." jawab Sehun seraya menjalankan motornya pelan-pelan.
"Mana?"
"Ini,"
Luhan merasakan pipinya menghangat ketika Sehun menunjukan pinggangnya sendiri. Dia tidak mau ambil risiko jantungnya meledak lebih hebat dengan memegang pinggang Sehun selama perjalanan. Nggak, terimakasih. Luhan sudah cukup capek dengan detakan jantungnya yang tidak normal setiap kali berdekatan dengan seniornya itu.
Akhirnya, kedua tangan Luhan terulur mencari pegangan. Bukan pada pinggang Sehun, melainkan pada bahu lebarnya.
"Kok di situ? Kamu kira aku ojek?" protes Sehun.
Luhan membuka bibirnya, hendak membela diri, tapi Sehun lebih dulu meraih satu tangannya lalu menaruhnya di pinggang Sehun sendiri.
"Pegangan yang kuat, ya! Aku mau ngebut."
"Eh? bentar aku—WAAAAAAAAAA! MAS SEHUN, PELAN-PELAN!"
Dan dengan terpaksa, Luhan harus memeluk kuat-kuat pinggang Sehun selama perjalanan.
.
.
.
.
.
.
"Marah, ya?"
Sehun membuka percakapan lebih dulu setelah bermenit-menit mereka saling diam di jalan. Setelah bahunya digigit oleh Luhan, Sehun akhirnya mau memelankan laju motornya. Ya gila aja, di jalanan yang cukup ramai ini seniornya itu malah ngebut dengan kecepatan nyaris 80 km/jam. Bagi Luhan, itu sudah ngebut banget dan membuat nyawanya nyaris melayang. Padahal menurut Sehun, kecepatan segitu tidak ada apa-apanya.
"Marah kenapa?" Luhan balik bertanya. Tangannya sekarang tidak lagi memeluk Sehun, melainkan berada di sisi-sisi jaket yang dikenakan oleh seniornya itu. Luhan malu. Masa' dia harus peluk Sehun terus kayak cewek-cewek yang diboncengin pacarnya di jalan?
"Akhir-akhir ini kamu ngehindarin aku."
Luhan memandangi pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang jalan dengan angin sore membelai-belai lembut wajah serta rambutnya. Sudah lama dia tidak jalan-jalan ke luar seperti ini. "Aku gak ngehindar, Mas Sehun yang ngejauh." dia menjawab ucapan Sehun dengan pelan.
Luhan merasakan tangannya digenggam oleh Sehun. Dia mau protes, karena bahaya jika Sehun harus berkendara dengan satu tangan saja, tapi sepertinya seniornya itu tidak menerima protesan.
"Maaf," —lagi. kalimat itu lagi yang keluar dari bibir Sehun. Luhan terdiam, membiarkan lelaki berambut hitam itu menjelaskan semuanya. "Jangan salah paham sama sikapku akhir-akhir ini. Aku lagi ngelatih anak-anak SMP Mentari, bulan depan ada Jambore di Tarumajaya soalnya. Udah gitu, OSIS juga lagi sibuk ngurusin pergantian anggota OSIS untuk periode baru. Belum lagi, tugas-tugas sekolahku yang numpuk."
Luhan mendengar Sehun menghela napasnya. Terdengar lelah.
"Aku akuin, aku emang gak pinter bagi waktu buat kamu. Kelihatan jahat banget aku, ya? Ketemu kamu malah melengos. Pasti kamu mikirnya yang macem-macem."
Luhan merasakan tangannya semakin digenggam erat, bahkan kali ini Sehun mengelus punggung tangannya menggunakan ibu jari. Nyaman.
"Awalnya emang gitu..," ujar Luhan mengantung, "Tapi setelah denger penjelasan Mas Sehun, aku malah ngerasa bersalah. Aku terlalu cepet nyimpulin sesuatu dan overthinking."
Baekhyun sering uring-uringan di kamar karena Chanyeol tidak menemuinya akhir-akhir ini dengan alasan sibuk dengan kegiatan OSIS-nya. Seharusnya Luhan menyadari itu, karena Sehun juga pasti sama sibuknya dengan Chanyeol. Hhh.., dia ini memang kekanakan.
"Gak apa-apa, wajar kok. Sekarang, aku mau ngabisin waktu sama kamu. Anggep aja bayaran karena kemarin aku gak ketemu kamu. Kangen rasanya,"
Wajah Luhan kembali memanas mendengar kalimat terakhir yang Sehun ucapkan. Apalagi lelaki itu sejak tadi selalu mencuri-curi pandang lewat kaca spionnya, membuat Luhan ingin sekali memukul kepala Sehun —Luhan memang anarkis jika sedang salah tingkah— .
"Jangan rindu, berat." balas Luhan, membuang wajahnya ke arah lain.
"Kata siapa berat?"
"Kata Dilan."
Sehun mendengus, "Dilan dipercaya. Yang berat badannya Pak Barudin, tuh. Lemak semua."
Luhan tertawa, lalu mencubit pinggang Sehun. "Pak Barudin tau Mas Sehun bisa dipentung nanti lho!"
"Ya aku tinggal kabur."
"Terus kalo dikejar, gimana?"
"Aku sembunyi, lah."
"Dimana?"
"Hati kamu."
Luhan kali ini mendengus keras-keras, membuat tawa Sehun pecah.
Obrolan ringan, tidak jelas, bahkan terkesan tidak ada faedah-nya sama sekali seperti ini justru yang membuat Luhan bahagia. Dia senang dengan Sehun yang bisa membuatnya tertawa karena hal-hal sepele seperti ini, karena sisi Sehun yang seperti ini 'lah yang jarang lelaki itu tunjukan pada orang lain.
Sekarang, apa pantas Luhan merasa istimewa?
"Terus, kita mau kemana sekarang?" tanya Luhan.
"Aku udah nyiapin tiga tujuan," ujar Sehun.
Luhan memandangi wajah Sehun dari samping, menunggu ucapan lelaki itu selanjutnya.
"KUA, pelaminan, rumah masa depan kita. Kamu mau kita kemana dulu?"
Jaringan otak Luhan sedang 4G, maka tidak perlu berpikir lama untuk mengerti ucapan Sehun barusan. Dengan wajah sepenuhnya memerah malu, dia memukul bahu Sehun keras-keras sebagai kamuflase salah tingkahnya.
"Aku pilih yang masa depan aja," jawab Luhan dengan tawa malu-malunya.
Sehun tertawa—ah, lelaki itu jadi senang sekali tertawa sekarang. sebuah kemajuan yang pesat.
"Tapi, aku mau bawa kamu ke masa lalu aku dulu. Boleh?"
"Masa lalu?"
Sehun mengangguk, "Biar kamu tau siapa itu Oh Sehun yang sebenarnya."
.
.
.
Oh Sehun.
Luhan mengenal orang dengan nama di atas lima bulan yang lalu, lalu menyukainya dalam hitungan detik, dan mulai sadar bahwa dia mencintai orang itu sebulan yang lalu. Yang Luhan tahu, lelaki dengan rambut sehitam jelaga itu adalah kakak kelasnya yang memiliki pandangan tajam, aura ketegasan yang kental dan kedisiplinan yang tinggi. Dia juga professional, apabila diberi tugas, dia akan menjalankan tugasnya itu sebaik mungkin. Citranya sangat bagus di sekolah, dan seluruh warga sekolah tahu betapa sempurnanya sosok lelaki itu.
Oh Sehun.
Kalau kalian bertanya siapa orang dengan nama di atas, maka orang-orang akan menjawab 'Oh, dia anak kebanggaannya SMA Lazuardi!' atau 'Dia itu Pangerannya Lazuardi.' . Dengan Kawasaki Ninja ZX-6R hitam mate yang selalu setia menjadi tunggaannya serta aura-nya yang memikat, tak perlu waktu lama untuk orang-orang jatuh ke pesona Oh Sehun. Tapi tidak untuk Luhan. Bukan karena kendaraan Sehun yang keren, atau karena wajahnya yang rupawan, lebih dari itu.., Luhan menyukainya. Di luar kepribadiannya yang dingin dan tegas, Sehun adalah sosok hangat yang mampu membuat Luhan merasa nyaman dan terlindungi. Itu alasan utama Luhan menyukainya. alasan kedua dan seterusnya, tidak bisa Luhan utarakan. Karena terlalu banyak sehingga sulit dijelaskan per kata.
Oh Sehun.
Tidak banyak yang tau kehidupannya, dimana rumahnya, darimana asalnya atau siapa orang tuanya. Orang-orang hanya tau dia adalah seorang pemuda dengan pesona memikat serta kepribadian yang tegas nan santun. Kehidupan pribadinya seolah dirahasiakan rapat-rapat oleh si empunya. Dia tidak membiarkan secuil pun telinga-telinga kepo orang-orang di luar sana dapat mendengar kisah hidupnya lalu dijadikan topik perbincangan yang seru.
Tapi hari ini, Luhan merasa beruntung. Tidak perlu usaha keras atau bujuk rayu murahan, Sehun mendatanginya sendiri dan menceritakan semua kisah hidupnya dan bagaimana dia bisa ada di sini, di Jakarta.
"Kamu liat tempat itu?"
Luhan mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Sehun. Di seberang jalan sana, ada sebuah tempat seperti rumah dengan banyak motor-motor besar terparkir di depannya. Banyak lelaki-lelaki berusia sepertinya yang berkumpul di sana, ada yang merokok, mengotak-atik mesin motornya, berbincang dengan suara keras, adapula yang sedang heboh nonton siaran ulang bola di Warkop yang ada di samping rumah itu. Sebuah banner dengan tulisan Kere-kere Hore Racing Team tertempel di dinding depan rumah, terpampang jelas.
"Itu rumahku," Sehun tersenyum kecil ketika mengatakan itu, membuat Luhan menoleh.
"Rumah?"
Sebuah tawa kecil mengalun dari bibir Sehun, "Rumah kedua." jawabnya. "Yang pertama ada di Bandung. Sebenarnya itu Mabes, alias markas besar. Tapi, aku lebih seneng nyebutnya rumah."
Luhan ingat, Sehun pernah bercerita sedikit bahwa dia dulu adalah anak geng motor. Mungkin, ini maksudnya. Tapi, jujur, sampai sekarang Luhan masih tidak menyangka bahwa seniornya yang terlihat 'sangat baik-baik' di luar itu ternyata pernah bergabung dengan komunitas seperti ini.
"Kok namanya Kere-kere Hore?" tanya Luhan, geli.
"Katanya, biarpun nggak punya duit kita tetep seneng bareng-bareng. Nggak tau tuh siapa yang namain, tau-tau udah ada namanya aja."
"Namanya lucu. Nggak ada unsur serem-seremnya," celetuk Luhan.
Sehun mengangguk dengan senyuman geli. Luhan bisa melihat pandangan Sehun berubah ketika menatap Mabes-nya yang ia sebut rumah itu. Seperti ada tatapan kerinduan yang sulit dijelaskan.
"Dulu itu, aku tinggal di Bandung. Lahir di sana dan besar di sana. Papa aku seorang Brigadir Jenderal TNI-AD.., beliau orang yang sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya, terutama aku, anak pertamanya. Dia pengen aku ngikutin jejaknya suatu hari nanti, mengabdi sama negara. Tapi, aku punya mimpi lain. Dengan ego dan emosiku yang tinggi, aku membangkang ke Papa. Aku selalu pergi dari rumah, ikut balapan di jalan dan gabung sama anak-anak geng motor yang waktu itu citranya sangat buruk di Bandung."
Luhan baru mengetahui fakta itu, tapi dia memilih bungkam dan mendengarkan kalimat per kalimat yang keluar dari belah bibir Sehun.
"Mino, Yongguk, Namjoon.., dia itu sahabat-sahabatku, bahkan udah aku anggep keluarga sendiri. Cuma mereka dan temen-temen sekomunitasku yang aku anggap bisa ngerti aku, yang bisa buat aku bahagia. Solidaritas mereka nggak bisa dianggap rendah. Nggak kayak keluargaku yang selalu mengekang dan memaksa agar aku harus jadi anak baik-baik dan nomor satu dalam segala bidang. Sampai pada akhirnya, untuk pertama kalinya aku dapat tamparan dari Papa karena beliau tau aku pake obat-obatan dan sering balapan liar. Beliau marah besar, bahkan Mama yang biasanya ngebela aku juga ikut marah."
"Motorku disita dan aku dikurung di rumah, setiap mau sekolah selalu dipantau sama orang suruhan Papa, biar aku gak kabur. Lucu kalo inget itu, berasa buronan aku. Tapi itu cuma beberapa bulan, karena aku masih keras kepala dan masih mau berontak ke Papa. Aku beli motor baru, uang hasil tabunganku selama ini aku ambil, aku juga diem-diem minta tambahan ke Kakek buat beli motor. Akhirnya, aku bisa ikut balapan lagi. Tapi kayaknya Tuhan mau beri pelajaran ke anak bandel kayak aku waktu itu.., aku kecelakaan. Nyaris mati di tempat malah."
Luhan melotot terkejut. "Nyaris mati?"
Sehun mengangguk dengan senyum geli, "Iya, badan aku udah di kolong truk, kok. Tapi, untungnya, temen-temenku langsung sigap ngebawa aku ke RS. Nyawaku tertolong tapi hidupku bener-bener berubah sejak itu." kali ini raut wajah Sehun berubah keruh, lalu dia melanjutkan, "Papa bukan lagi marah, tapi kecewa besar. Aku bisa liat untuk pertama kalinya beliau bener-bener ngerasa putus asa dan menyerah karena sikap aku. Nggak ada tamparan atau bentakan lagi yang aku dapetin, Papa cuma diam. Tapi, besoknya beliau tanpa persetujuanku, mengirim aku ke Jakarta. Aku sadar, aku diusir dan diasingin dari rumah saat itu. Papa bahkan memilih SMA Lazuardi yang memiliki asrama untuk sekolah baruku. Beliau nggak main-main sama keputusannya itu. Dia bahkan nggak ngasih aku uang jajan, cuma bayaran untuk keperluan sekolah aja."
"Coba kamu bayangin, kamu di Jakarta sendirian, tanpa uang, tanpa orang yang dikenal, tanpa sanak saudara.., aku rasanya ngga tau harus gimana. Aku bener-bener kacau. Untuk pertama kalinya, aku ngerasa nggak bisa berbuat apa-apa tanpa Papa sama Mama. Aku berniat untuk nyerah, keluargaku udah nggak sayang sama aku, buat apa aku hidup 'kan? Tapi, saat itu aku tau kalau temen-temenku yang di Bandung juga pindah ke Jakarta. Mino dan yang lainnya ikut pindah sekolah ke sini, walau bukan di sekolah yang sama denganku. Aku yang waktu itu nggak mau berurusan sama balap dan motor lagi akhirnya terpaksa gabung lagi. Karena dari balapan liar itu aku bisa dapat uang untuk keseharianku selama di Jakarta. Itu juga cuma beberapa bulan, karena Papa akhirnya mau berbaik hati mentransfer uang jajanku setiap bulan. Tapi, bukan berarti aku ninggalin komunitasku gitu aja. Aku bukan kacang lupa kulitnya. Bahkan sampai sekarang aku masih berhubungan baik dengan anak KKH."
"Tapi.., tepat dua tahun yang lalu, aku memilih ninggalin dunia gelap balapan. Kamu tau apa alasannya?" Sehun memandang Luhan dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca.
Luhan menggeleng.
Sehun tersenyum kecil, sedih, "Papa meninggal."
Luhan tertohok, terkejut dengan plot twist yang diberikan Sehun. Dia mencoba mencari kebohongan di mata Sehun, tapi yang dia temukan hanya sorot mata seorang anak yang putus asa karena Papanya telah tiada. Mendadak, Luhan merasa tercubit. Dia bahkan merasa matanya memanas secara tiba-tiba.
"Papa kecelakaan tepat setelah balik dari Kalimantan. Aku ngerasa gagal jadi seorang anak. Aku bahkan nggak ada di samping beliau saat beliau mengembuskan napas terakhirnya. Aku bener-bener.., hancur. Aku belum minta maaf sama beliau atas perlakuanku nakalku selama ini. Aku udah banyak nyusahin Papa.., bahkan bikin beliau malu sama kelakuanku."
Mengikuti impulsnya, tangan Luhan terulur untuk memegang bahu Sehun. Sekadar menyalurkan rasa simpatinya. "Mas Sehun..,"
Sehun tersenyum tipis melihat Luhan. "Mama sempet bilang ke aku, sebelum Papa pergi, beliau nulis surat buat aku. Surat itu ada di kamarku, isinya tentang Papa yang minta maaf ke aku karena udah ngasingin aku dari rumah dan memperlakukan aku dengan kasar selama ini. Lucu.., beliau seorang Brigjen, tapi minta maaf ke anaknya sendiri lewat surat. Bahkan, beliau yang ngurus Satria selama aku di Jakarta." Sebuah tawa kecil mengalun dari bibir Sehun, tapi raut wajahnya masih terlihat sedih.
"Satria?" Luhan berkedip bingung.
Sehun tertawa seraya menepuk badan motor besarnya, "Ini namanya Satria. Adek aku yang kasih nama."
Luhan ikut tertawa kecil. Tangannya masih bertengger di bahu Sehun, sesekali memberi usapan lembut di sana.
"Sampai sekarang aku masih belum bisa maafin diri aku sendiri, Lu. Aku bener-bener ngerasa durhaka banget ke Papa. Seharusnya aku sadar, bahwa yang dilakukan Papa selama ini memang untuk kebaikan aku, untuk masa depan aku. Dia itu bener-bener.., apa ya? Pahlawan yang nggak mau terlihat sisi kepahlawanannya, mungkin. Makanya, aku intens ikut Pramuka dan Paskibra, aku mau berusaha menyukai dunia militer, dunia yang dicintai Papa. Dan ternyata, aku jatuh cinta sama kedua ekskul itu dengan mudah."
"Lewat Pramuka, seenggaknya bisa mengobati rasa kangen aku ke Papa. Karena dari sana, aku bisa dapat didikan yang tegas dan keras, seperti yang Papa lakukan ke aku dulu. Aku berniat masuk Akmil setelah ini, aku mau ngewujudin mimpi Papa yang pengen anak pertamanya ngikutin jejaknya. Anggep aja penebusan dosa aku ke Papa, walau aku tau, kesalahanku ke Papa terlalu besar. Sampai kapanpun nggak bakal bisa ditebus."
Luhan tidak tahu sejak kapan matanya basah. Dia menangis. Mendengar cerita Sehun membuat dadanya merasa sesak. Ayah Luhan juga seorang TNI-AD, pangkatnya kolonel, tapi beliau tidak pernah mendidiknya dengan keras seperti di militer. Hal yang paling membuat Luhan marah pada Ayahnya adalah karena beliau menyuruhnya tinggal di asrama, dia sempat ingin kabur, tapi tidak berani melakukannya. Namun, walau begitu, Luhan sangat menyayangi Ayahnya, dia sangat dekat dengan sosok lelaki pahlawannya itu. Maka mendengar cerita Sehun cukup membuatnya sedih. Luhan tidak bisa membayangkan jika dia ada di posisi Sehun.
"Eiy, kenapa nangis?" tanya Sehun seraya mengusap mata Luhan menggunakan ibu jarinya dengan senyuman geli.
Luhan menggeleng, kemudian berujar, "Mas Sehun kuat banget, ya?"
"Bukan kuat, tapi dipaksa untuk kuat." jawab Sehun, "Dunia ini nggak butuh orang yang lemah, apalagi cengeng kayak yang di depan aku, nih."
Luhan merengut seraya memukul lengan Sehun kuat-kuat.
"Lagian, suruh siapa cerita sedih!"
Sehun tertawa, memperlihatkan gigi taringnya yang menawan. "Kamu nggak mau nanya kenapa tiba-tiba aku ceritain masalah ini ke kamu?"
Luhan mengucek matanya sebentar. Perih matanya habis nangis tuh. "Kenapa emang?" tanyanya dengan suara sengau.
"Biar kamu yakin sama perasaan kamu ke aku. Aku tau kamu masih ragu karena kita baru kenal beberapa bulan. Aku mau kamu tau cerita hidup aku, biar nanti ketika aku nyatain perasaan ke kamu, kamu gak bisa nolak aku dengan alasan aku belum terlalu kenal Mas dan gak tau asal-usul Mas Sehun. oke?"
Luhan tertegun dengan darah yang berkumpul di kedua pipinya, membuat bagian sana yang tadinya putih menjadi penuh sapuan kemerahan.
Sial. Sial. Sial!
Maksudnya apa, sih?
Mas Sehun rese!
.
.
.
.
.
.
.
Malam itu di alun-alun kecamatan —atau orang-orang di sini sering menyebutnya TTJ, alias Taman Tarumajaya— cukup ramai. Fakta bahwa malam ini adalah malam minggu, membuat tempat ini diburu oleh para kaum muda-mudi yang ingin menghabiskan waktunya bersama pacar atau teman-temannya. Pedagang jajanan kaki lima tidak kalah ramai, mereka berjejer di sekitar alun-alun, menyajikan aroma-aroma sedap yang membuat siapapun mendadak lapar dan ingin membeli semuanya.
Termasuk Luhan.
Anak itu sudah duduk anteng dengan berbagai jajanan di tangannya, bahkan sampai ada yang ditaruh di depannya. Mumpung gratis, 'kan Sehun bilang bonus jadi sukarelawannya adalah dapat jajanan gratis. Luhan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula, Sehun tidak keberatan. Lelaki itu malah sangat antusias membelikannya banyak makanan.
"Mas Sehun sering ke sini?" tanya Luhan seraya memasukan satu sendok penuh jagung susu keju ke dalam mulutnya.
"Sering. Soalnya kalo ada acara Pramuka sama Paskib pasti diadainnya di sini. Juga, di ujung alun-alun sana ada jalanan besar yang sering dijadiin arena buat balapan."
Luhan mengangguk-angguk mengerti. Dia sendiri jarang ke sini, selain karena jauh dari asrama, Luhan juga malas keluar malam-malam. Paling, dia hanya nongkrong di Warkopnya Bang Seungri atau di sekitar asrama saja.
"Mas Sehun kenapa sih kok suka balapan? 'Kan bahaya," ujar Luhan.
"Kamu kenapa suka futsall? 'Kan capek?" Sehun malah balik bertanya.
Luhan mendengung seperti lebah, berpikir, "Gak tau. Suka aja."
"Sama. Aku juga gitu." jawab Sehun dengan senyuman. "Untuk suka sama sesuatu, kita nggak perlu pakai alasan 'kan?"
Luhan terdiam dengan sendok plastik terjepit di antara bibirnya. Dia sedang berpikir. Matanya bahkan mengerjap-ngerjap lambat—kebiasaan Luhan jika sedang berpikir. Perkataan Sehun barusan cukup membuatnya terusik, sehingga sebuah pertanyaan polos terlontar begitu saja dari bibir Luhan.
"Mas Sehun…, apa Mas juga suka aku tanpa alasan?"
Kemudian hening mengambil alih. Suara cekikikan para gadis yang berbaur dengan suara lagu milik Band ternama di dekat mereka tidak dihiraukan. Luhan merutuki kesalahannya. Merutuki bibirnya yang selalu kelepasan berbicara, yang selalu mengutarakan isi pikirannya tanpa disaring lebih dulu. Keterdiaman Sehun membuatnya malu luar biasa. Pasti seniornya itu risih karena pertanyaannya barusan.
Dasar begobegobego!
"Mas, aku mau beli siomay dul—"
"Kamu mau tau?"
Luhan mengerjap ketika Sehun memegang pergelangan tangannya, menahannya yang hendak kabur dengan dalih ingin membeli siomay. Dia terpaksa duduk lagi di samping Sehun dengan wajah tertunduk.
"Pengecualian untuk kamu. Ada banyak alasan yang buat aku suka sama kamu, bahkan aku nggak tau harus ngutarain alasan yang mana saat ini."
Luhan merasakan tangan Sehun turun, beralih menggenggam tangannya. Rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan kembali Luhan rasakan. Dia senang sekali jika Sehun sudah menautkan kedua tangan mereka seperti ini. Terasa begitu pas.
"Kamu orang ter-apa adanya yang pernah aku temuin, Lu. Kamu selalu bisa bahagia karena hal-hal sepele, bahkan orang-orang di dekat kamu juga ikut tertular kebahagiaan kamu. Hal itu yang jarang aku temui di diri orang lain. Kamu itu kayak anak kecil.. bener-bener murni dan polos, tapi soal sikap, terkadang kamu bisa sangat dewasa. Kamu gampang maafin kesalahan orang lain, kamu juga jujur banget anaknya. Aku salut sekaligus iri sama kamu. "
Sehun mengangkat dagu Luhan dengan lembut, membuat wajah anak manis itu yang tadi menunduk kini berhadapan dengannya. Obsidian tajam milik Sehun bertemu dengan bola mata cantik milik Luhan. Dan, jika boleh jujur, Sehun jatuh ke sekian kalinya ketika matanya menyelami mata Luhan. Luhan terlalu cantik.., terlalu indah. Sehun pusing bagaimana cara mendeskripsikan manusia di depannya ini.
"Dan tanpa sadar, rasa sukaku berubah jadi rasa cinta..,"
Jantung Luhan berdetak lebih cepat dari biasanya kala mendengar kalimat yang keluar dari bibir Sehun barusan. Dia mempertanyakan kemana perginya gadis-gadis berisik di dekat mereka tadi, sehingga keadaan saat ini sungguh hening. Hanya ada mereka berdua. Sehun dan Luhan—dua nama yang begitu cocok jika disandingkan.
Luhan menyesal telah bertanya. Jawaban Sehun tidak bagus untuk kesehatan jantungnya.
"Bahkan perasaan aku ini bertambah setiap harinya, setiap menit, setiap detik… kalau ada kata yang lebih tinggi dari Aku Mencintaimu, aku pasti udah ngegunain kata itu saat ini."
Jika ada warna yang lebih merah dari merah, itu pasti cocok menggambarkan wajah dan telinga Luhan saat ini. Dipandangi sebegitu intens dan memujanya oleh Sehun saja sudah membuatnya lemas, apalagi ditambah dengan ucapan-ucapan manis yang keluar dari bibir lelaki itu. Luhan semakin tidak berdaya.
Heran.., dia ini cowok. Tapi kenapa jika diperlakukan seperti ini oleh Sehun, dia sangat lemah? Luhan mulai mempertanyakan kemanly-annya.
"Makasih ya, Luhan."
"Buat?" tanya Luhan pelan.
Sehun mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan. Luhan merasakan wajahnya terbakar ketika merasakan deru napas Sehun yang hangat dan segar menerpa wajahnya.
"Senyum kamu, tawa kamu, semuanya.., kamu ngebuat aku ikut bahagia walau dengan hal-hal kecil yang sederhana. Duniaku jadi lebih 'hidup' sejak ada kamu."
Setelah bisikan yang membuat Luhan merasakan perutnya tergelitik itu, Sehun memegang sebelah pipinya, lalu mempertemukan bibir mereka. Luhan refleks memundurkan wajahnya karena gugup, tapi Sehun tidak melepaskan tautan bibir mereka, malah membawanya pada sebuah ciuman lembut nan manis. Tangan Sehun yang sejak tadi menggenggam tangan Luhan kini bahkan memberi sebuah remasan lembut seiring lumatannya pada bibir Luhan, membuat anak manis itu sedikit rileks.
Luhan tidak berani berbuat apapun. Dia bahkan tidak bergerak sama sekali. Ciuman kali ini berbeda ketika Sehun menciumnya di Buper lalu. Rasanya lebih menakjubkan, seperti ada kembang api yang meletup-letup di dada Luhan. Dia menyukainya. Menyukai bagaimana cara Sehun menjilat lembut bagian bawah bibirnya, lalu menghisapnya kecil. Serta, bagaimana tangan Sehun menggenggam tangannya, seolah menyalurkan seluruh perasaannya saat ini. Semuanya terasa begitu memabukan dan membuat melayang.
Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta.., begitu luar biasa dan mendebarkan, apalagi ketika si dia yang kita damba membalas perasaan kita. Tuhan memang hebat karena telah menciptakan sebuah perasaan luar biasa yang dinamakan 'cinta' oleh para hamba-Nya.
Sehun melepaskan tautan bibir mereka, tapi tidak menjauhkan wajahnya. Senyum rupawan terpatri di wajahnya, membuat Luhan semakin merona.
"Kalo aku minta kamu buat jadi pacar aku, kayaknya kurang spesial. Karena aku mau kamu di samping aku bukan untuk berbulan-bulan atau setahun-dua tahun lalu putus. Nggak. Aku nggak mau. Aku mau kamu ada di hidupku sampai kita harus LDR antara langit dan bumi seperti Papa dan Mamaku."
Sebuah permintaan manis dengan kalimat sederhana itu nyatanya mampu membuat Luhan tertegun. Dia mencoba tidak mengharapkan status yang jelas dengan Sehun (—karena Luhan takut kecewa dengan harapannya sendiri), tapi saat ini, lelaki itu malah memintanya langsung. Ini benar-benar melampaui ekspektasi Luhan.
Luhan memberanikan diri mengalungkan satu tangannya di leher Sehun, dengan senyuman manis serta jantungnya yang masih belum pulih atas debarannya yang kencang, dia menjawab pelan, "Iya, aku mau."
Sebuah senyum penuh kebahagiaan terlukis di wajah Sehun. "Mau apa? Jadi pacar aku, pendamping hidup aku, atau apa, nih?" godanya.
"Apa aja. Yang penting bisa terus bareng sama Mas Sehun—" Luhan sedikit berjengit kaget ketika Sehun mengecup bibirnya sekilas, begitu cepat, bahkan sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Oh, Luhan belum terbiasa dengan ini.
"Saat ini, jadi pacar aku dulu, ya? Nanti lima atau tujuh tahun mendatang, aku bakal ngubah status kita ke jenjang yang direstuin Tuhan. Jangan bosen ya.., aku nggak mau mengumbar janji buat bikin kamu bahagia terus, tapi aku bakal berusaha semampuku." ujar Sehun tulus, kemudian mengecup tangan Luhan yang digenggamnya tanpa melepaskan pandangannya dari anak itu barang sedetik pun.
Luhan mengangguk, sejurus kemudian dia menghambur ke dalam pelukan Sehun. Menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang lelakinya itu. Perasaan bahagia yang meletup-letup membuat bibirnya tak berhenti tersenyum-senyum.
"Manis banget, sih." Sehun terkekeh kecil. Bibirnya kemudian tidak henti-hentinya mengecupi pucuk kepala Luhan yang beraroma shampoo bayi. Ah, anak ini senang sekali memakai produk bayi sepertinya.
Luhan protes, "Ganteng, tau!"
"Siapa?"
"Aku."
"Aku?"
"Iya!"
"Hahah, makasih. Aku emang ganteng."
"Ihh, maksudnya aku itu yaa aku! Bukan Mas Sehun!" Luhan kembali protes, kali ini ditambah dengan cubitan di lengan Sehun.
Cubitan tersebut dibalas dengan gelitikan. Lalu, dibalas lagi dengan sebuah gigitan dan kemudian berakhir dengan saling menggelitiki satu sama lain hingga keduanya tertawa bersama. Sejenak mereka melupakan fakta bahwa saat ini ada banyak orang di sekitar mereka yang juga ingin memamerkan kebahagiaan bersama pasangan masing-masing. Keduanya terlarut dalam dunia mereka sendiri, membuat orang-orang yang melihat merasa iri.
Ah, mereka tidak peduli.
Yang terpenting mereka bahagia
—untuk saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tobecontinued—
.
.
.
.
.
.
.
.
a/n :
Yo! bosen gak liat gue update ini terus? Nggak ya? Nggak dooong. Yang bosen mah bodoamat, gue gak peduli wkwk.
Sebenernya… gue rada gak pede ngepublish chapter ini. Edannnn lur, ini geli pisan! Sok mau buat yang manis-manis, jatohnya malah bikin eneg gini. Idih. semoga kalian gak muntah di tempat ya:)
Iya emang si dobby itu gak jago buat yang romance-romance sampe bikin anak gadis jejeritan gegulingan dan baper-baper sampe muntah pelangi. Gak jago gue mah. Ciyus. /ngumpet/
Tapi gengs, ini buat kepentingan cerita.
Yang kemaren minta HunHan jadian, tuh udah gue buatin.
Padahal dulu, pas buat ff ini, gue rencananya mau tamatin ini ff pas hunhan jadian. Tapi kayaknya gue ketagihan nulis ff ini. ya salahin aja respons kalian yang bikin gemes dan greget itu. Uh.
Yaudah, sampai ketemu di next chapter, ya! Wassallamuaallaikum warrahmatullahi wabarrakaatuuuuh!
p. s WOY ITU YANG PENCETUS TIM MAS SEHUN RATED M SIAPA SIH? GUA GIGIT DULU SINI IDUNGNYA! CABUL YA OTAK KLEAN!
