Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!
Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery
Rated : T+
Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!
-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-
.
.
Chapter 12
.
.
Itachi menatap Tobi dengan kekagetan luar biasa. Ia sungguh tak menyangka Tobi yang ia kenal sebagai Obito Uchiha itu memiliki rencana sebusuk ini. Bagaimana mungkin ia memiliki pikiran untuk menjadikan tubuh Sakura sebagai wadah jiwa kekasihnya?!
Tobi menyeringai sekilas memandang Itachi yang tampak ingin memberontak, kemudian pandangannya beralih pada Sasori. "Sasori, biarkan pengkhianat ini berbicara."
"Brengsek! Apa kau sudah gila hah?" Itachi langsung memaki Tobi begitu ia bisa menggerakkan mulutnya. Namun, sayangnya ia masih belum bisa menggunakan tekhnik apinya.
Tobi mendekatkan wajahnya pada Itachi, perlahan Ia melepaskan topeng spiralnya dan membisiki Itachi, "Gila? Hahahaha! Aku mungkin memang gila."
"Kau tahu? Jiwa Rin bahkan masih bersamaku hingga saat ini. Benarkan anata?" Itachi mengernyit melihat Tobi a.k.a Obito yang tengah tersenyum entah pada siapa. "Kau gila! Mana mungkin jiwanya masih berada disini! Seharusnya ia bereinkarnasi!"
Obito menatap Itachi marah. "Rin masih ada disini! Ia tak akan bisa pergi meninggalkanku! Sasori, biarkan jiwa Rin mengisi bonekamu!"
Sasori membiarkan bonekanya terlepas dari benang pengendalinya. Secara ajaib, boneka itu bergerak sendiri. Sekarang Itachi percaya jika jiwa Rin benar-benar masih berada disekitar Obito
"Anata.. sebentar lagi kita akan kembali bersama. Kau lihat gadis itu? Tubuhnya akan menjadi milikmu." Obito mengelus wajah boneka itu seakan ia sedang berbicara pada Rin.
Tak Tak Tak
Boneka itu terjatuh. Pertanda jiwa Rin tak lagi mengisi ruang itu. Sasori kembali menyambungkan benangnya pada boneka khususnya.
'Aku harus memanggil Sasuke' Itachi menarik setengah kesadarannya kedalam awah bawah sadarnya. Disana ia terlihat berkonsentrasi.
'Sasuke, kau mendengarku?'
'Jika kau mendengarnya, cepat datang ke tempat Sakura. Dia dalam bahaya, Obito mengincar tubuhnya.'
.
.
'Sasuke, kau mendengarku?'
Deg!
Sasuke merasa suara Itachi memanggilnya. Setengah kesadarannya seakan tersedot.
Srettt
Sasuke berada di dimensi yang pernah Itachi ciptakan sebelumnya. Ia tak menemukan apa-apa disini. Namun, ia bisa mendengar suara Itachi.
"Itachi?!"
'Jika kau mendengarnya, cepat datang ke tempat Sakura. Dia dalam bahaya, Obito mengincar tubuhnya.'
"Apa maksudmu?! Ita-"
Srett
Dengan cepat dimensi Itachi menghilang. Membawa Sasuke kembali ke dunia nyata. Tanpa memperdulikan Yahiko yang sekarang kembali bersiap untuk menyerangnya, Ia segera melesat pergi.
"Jangan kabur Uchiha!"
Sasuke mendecih, Yahiko berlari menerjangnya. Dengan cepat, ia meraih pistol peraknya dan mengarahkan benda itu tepat kearah Yahiko.
Krakkk
Yahiko berhasil menghindari peluru itu. Ia bergerak cepat mengambil pistol Sasuke dan menghancurkannya.
"Kau tak bisa lari sekarang." Sasuke meringis saat tangan Yahiko mengenggam erat tangannya. Sepertinya lelaki itu hendak mematahkan tangan Sasuke.
"Amaterasu!" Api hitam Sasuke kali ini berhasil membakar tangan Yahiko yang mencengkram tangannya. Tapi secara mengejutkan, api hitam itu seolah hilang begitu saja.
"Cih sial." Yahiko menyerap api hitam Sasuke dengan kekuatan matanya. Ia sebelumnya tak mengetahui matanya bisa melakukan itu. Matanya seolah refleks untuk menyerap api hitam yang hampir saja membakar habis tangannya.
"Kita harus menyudahi pertarungan ini brengsek! Sakura dalam bahaya! Rekanmu membohongi kita semua!" Sasuke benar-benar kehilangan kesabarannya.
Yahiko memandang tajam Sasuke. Apa maksud pemuda Uchiha ini?!
"Apa maksudmu?"
"Tobi mengincar tubuh Sakura!" Yahiko membulatkan matanya, cengkramannya pada tangan Sasuke mengendur. Dengan cepat, Sasuke meninju dan menendang tubuh Yahiko.
Duagh
Brakk
Yahiko dengan cepat bangkit dan menyusul Sasuke yang sudah menghilang dari pandangannya. Ia tak peduli dengan pertarungannya dengan Sasuke. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa Sakura. Meski ia harus bekerja sama dengan Sasuke.
.
.
"Itachi!" Obito menyeringai memandang sosok Sasuke yang melesat cepat menghampiri tempatnya. Mata lelaki itu memancarkan kemarahan yang amat sangat.
"Oh, kau memanggilnya? Baguslah, aku akan mengajaknya melihat detik-detik kematian mate-nya." Itachi menyipit curiga melihat seringai licik Obito. Firasatnya buruk.
"Lepaskan Itachi dan Sakura!" Sasuke mengepalkan tinjunya menerjang Obito yang terdiam menyeringai didepan Itachi. Sedikit lagi tinjunya akan mengenai Obito jika saja sesuatu tak menarik tubuhnya.
Srettt
Sasuke membeku melihat pemandangan didepannya. Disana ia bisa melihat Sakura terduduk lemah. Tubuhnya terikat disebuah tiang dengan lingkaran merah yang mengelilinginya.
Sasuke menggerakkan kakinya hendak menghampiri Sakura. Namun tubuhnya seolah mati rasa. Persis seperti saat Itachi membawanya ke dimensi masa lalu yang dibuatnya.
"Sakura!" Sakura mendongakkan kepalanya. Air matanya mengalir deras melihat sosok Sasuke yang hanya bisa terpaku memandanginya.
"Sasuke-kun!" Ia memandang nanar gadis itu. Tubuhnya benar-benar tak berdaya.
"Ah selamat datang di acara perpisahanmu dengan kekasihmu, Sasuke!" Obito tiba-tiba muncul. Lelaki itu membentuk sebuah perisai yang mengelilingi tubuh Sakura. Seiring dengan terbentuknya perisai itu, sosok pria berjubah Akatsuki muncul disamping Sakura.
"Brengsek! Lepaskan Sakura! Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja sekarang! Jangan menyakiti Sakura!" Sasuke berteriak marah. Ia seakan pasrah. Kekuatan matanya mempan didimensi ini. Suara Sakura tak lagi terdengar olehnya. Sepertinya perisai itu meredam suaranya.
Obito menggeleng pelan, memandang Sasuke dengan pandangan sinis, "Membunuhmu? Aku akan melakukannya nanti setelah kau menyaksikan kekasihmu tewas. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan!"
"Obito! Bocah itu berisik sekali! Bungkam saja dia!" Sasuke memandang tajam sosok yang berdiri disamping Sakura itu. Pemuda bersurai putih klimis itu menyeringai kearahnya.
"Oh, maafkan aku Sasuke. Tapi Hidan membenci suaramu." Sasuke tak bisa mendengar suaranya sendiri. Lelaki itu membuatnya tak bisa berbicara. Ia bisa melakukan apa saja di dimensi ciptaannya ini.
Sasuke memandang tajam Obito, kemarahannya meluap sudah.
"Sebenarnya aku ingin melakukan ini sejak lama. Tapi sayangnya, kekasih manusiamu dulu sudah meninggal sebelum aku melaksanakan rencanaku." Obito memandang remeh Sasuke yang tak berdaya didepannya.
"Kekasihku mati didepan mataku sendiri, dan aku ingin kau merasakannya juga." Pandangan Sasuke menyiratkan apa yang ada dipikirannya kini. Ia memandang Obito dengan pandangan penuh intimidasi.
"Jiwa mate-ku yang dibunuh oleh Uchiha masih berada disisiku hingga saat ini. Kau tahu? Begitu aku mengetahui jika mate-mu juga seorang manusia, aku berencana untuk membunuhnya dan mengambil tubuhya sebagai wadah jiwa Rin, kekasihku." Sasuke memandang marah Obito yang kini tengah membeberkan seluruh rencana tersembunyinya.
Obito menggeleng pelan, lalu melanjutkan kata-katanya. "Tapi sayang sekali ia sudah mati. Jadi saat itu aku tak jadi melakukannya. Tapi ternyata Itachi membiarkanmu hidup, dan bodohnya aku baru menyadarinya saat pengkhianat itu kabur."
Sasuke bisa merasakan kemarahan menguasai seluruh tubuhnya, namun sekali lagi ia tak bisa melakukan apa-apa.
"Tapi tak apa, rencanaku semula memang ingin melenyapkanmu begitu tahu kau masih hidup. Kau ingat misi di Konoha Barat itu? itu adalah ulahku dan aku berencana memusnahkanmu disana. Aku menunda penyerangan itu saat tahu kau telah mengubah mate-mu menjadi vampire. Aku kembali ke rencana awalku, mengambil tubuh gadis itu untuk Rin."
Obito menyeringai, "Aku cukup baik untuk memberimu waktu bermesraan dengan mate-mu bukan? Aku sengaja menundanya cukup lama agar kau bisa melihatnya mati bersama kenangan indah kalian." Sasuke terbelalak. Tidak, ini tak boleh terjadi, ia harus melakukan sesuatu!
"Tapi sayangnya, Itachi memanfaatkan penundaan penyerangan yang kulakukan dengan mengirimkan anak buahnya seolah penyerangan kembali terjadi. Ia melakukannya agar kau pergi meninggalkan kastil dan ia bisa membawa Sakura. Pengkhianat itu mengetahui rencanaku untuk menculik Sakura." Sasuke dibutakan oleh kemarahan, sesuatu dari dalam alam bawah sadarnya seperti memberontak untuk keluar.
"Jadi terpaksa aku mengerahkan Kisame untuk membunuh anak buah Itachi, sekaligus menyerang anak buah seorang monster hunter yang berada dibawah kendali klan Nara." Sasuke membeku mendengarnya, bukankah itu berarti anak buah Shikamaru?
"Tapi untungnya Yahiko berhasil mengambil Sakura dari Itachi tanpa dicurigai olehnya."
"Karena kau terlanjur pergi, jadi aku mempercepat rencanaku. Dan memerintahkan beberapa anggota Akatsuki untuk mencelakaimu disana dan membawamu kemari. Tapi sayang kau meninggalkan misi palsumu itu sebelum sampai di lokasi." Obito menyeringai senang melihat Sasuke yang benar-benar tak berdaya.
Sasuke lepas kendali. Alam bawah sadarnya seolah melepaskan sesuatu yang kini memberontak didalam tubuh Sasuke. Perlahan, aura Sasuke berubah semakin kuat, api berpendar ungu mengelilingi tubuhnya. Matanya berputar liar membentuk pola yang rumit.
Obito melunturkan seringainya menyadari perubahan pada diri Sasuke, 'Sial, Susano'onya bangkit. Auranya bisa menembus dimensi ini dan membuat Itachi bisa melacaknya!'
.
.
.
.
Deg
Itachi bisa merasakan aura Sasuke yang terasa berbeda. Ia masih saja terperangkap dengan benang pengendali Sasori. Ia bisa melihat Yahiko yang kini tengah memeluk Sakura. Disini hanya ada Itachi, Sasori, dan Yahiko.
"Sial! Aku akan membunuh Tobi." Sasori bisa mendengar desisan rendah Yahiko. Matanya memandang Yahiko yang menyandarkan kepala Sakura ke pangkuannya. Ia merasa déjà vu.
Srettt
Secara tiba-tiba mereka terhisap. Sasori bisa melihat Yahiko mengalami hal yang sama dengannya.
Tap
"Sasuke!" Itachi berlari menghampiri Sasuke yang berdiri terpaku tak jauh darinya. Ia berhasil mencari dimensi Obito dan membawa Yahiko serta Sasori ikut bersamanya. Itachi merasa terlalu berbahaya jika membiarkan kedua orang itu berada disana dengan tubuh tanpa jiwanya. Mereka bisa menghancurkan tubuhnya.
"Sakura!" Yahiko yang melihat Sakura terikat disamping Hidan menerjang maju menghancurkan perisai yang menghalangi Sakura.
Duagh
Brakk
"NII-SAN!" Seiring dengan hancurnya perisai itu, suara Sakura perlahan mulai kembali.
'Nii-san!'
'Nii-san!'
'Nii-san!'
Sasori terpaku menatap Sakura yang berteriak memanggil Yahiko. Ia benar-benar merasa déjà vu. Suara dan teriakan itu terasa begitu familiar. Tiba-tiba, ingatan masa lalunya kembali berputar.
"Saki.."
#FLASHBACK
"Saso-nii! Sebaiknya kau tinggalkan aku! Mereka pasti akan menemukan kita! Tou-san dan Kaa-san akan menghukummu!" Sasori tak menghiraukan perkataan gadis dalam gendongannya. Ia terus saja melesat pergi menjauh dari kastilnya.
Sasori menunduk, memandang gadis bersurai hitam dalam gendongannya. Mata sayunya menatap sayang sosok itu. "Tidak Saki, meski kau seorang manusia, aku tak akan membiarkanmu dibunuh oleh keluargaku sendiri."
Saki perlahan meneteskan air matanya, ia benci menangis.
"Saso-nii, aku pasti akan mati cepat atau lambat.." Sasori menggeleng, iris hazelnya menatap sendu wajah Saki –nama gadis dalam gendongannya. Gadis itu diasuh oleh keluarganya dengan tujuan untuk menjadikan tubuhnya sebagai bahan percobaan boneka manusia. Awalnya ia memang tak peduli akan hidup gadis manusia ini. Namun lambat laun, ia menganggap Saki sebagai adik kandungnya sendiri, meski mereka adalah manusia dan vampire yang bertentangan.
Sasori tahu, sebentar lagi tubuh Saki akan digunakan untuk percobaan. Maka dari itu, ia sekarang membawa kabur Saki untuk menyelamatkan hidup gadis itu dari keluarganya sendiri.
"Kita akan bermalam disini Saki. Aku rasa ini sudah cukup jauh dari kastil." Sasori menurunkan tubuh Saki disebuah rumah kosong yang tampak tak begitu terawat.
"Nii-san-"
"Jangan membantah Saki. Kau sudah kuanggap sebagai adik kandungku, meski kita berbeda, tapi aku menyayangimu." Sasori memandang lekat sepasang emerald Saki. Tangannya merengkuh tubuh mungil gadis itu. Perlahan, ia membelai lembut surai hitam Saki.
"Aku tak akan membiarkan mereka membunuhmu dan mengambil tubuhmu. Aku berjanji."
#END FLASHBACK
'Aku tak akan membiarkan mereka membunuhmu dan mengambil tubuhmu. Aku berjanji.'
'Aku tak akan membiarkan mereka membunuhmu dan mengambil tubuhmu. Aku berjanji.'
"Saki!" Sasori berlari mendekati Sakura yang menatap kearahnya dengan sorot ketakutan di matanya.
"Sasori! Apa yang kau lakukan!" Obito berteriak memperingati Sasori yang kini tampak sedang mempersiapkan boneka penghisap jiwanya.
"Sasori!" Yahiko meninju Hidan dengan keras membuat pria itu terpental agak jauh dari mereka. Dengan cepat, ia mengarahkan matanya untuk menghipnotis kedua mata Hidan. Seketika, tubuh Hidan diam membeku.
"Sasuke!" Sakura berteriak ketakutan melihat Sasori yang semakin mendekatinya.
"Saki.. Saki ini aku Sasori. Sasori-nii kakakmu." Sakura merasa kepalanya berputar. Sekelebat ingatan, mulai memenuhi pikirannya.
'Sasori-nii'
'Saso-nii aku menyayangimu!'
'Aku akan menjagamu, Saki..'
"Sa-so-ri..?" Sasori memandang Sakura lembut. Gadis itu sudah mulai mengingatnya.
Tangan Sasori terulur, hendak menyentuh Sakura. Namun tiba-tiba, Yahiko menendangnya menjauh.
"Jangan macam-macam padanya!" Yahiko berdiri menghalangi Sasori yang kembali mendekati Sakura. Mereka berdua saling bertatapan tajam.
"Dia adikku." Yahiko mengernyit mendengar desisan Sasori.
"Dia adikku di masa lalu." Semua orang yang berada disana terkejut mendengar perkataan Sasori.
Syuttt
Obito dengan tiba-tiba lenyap dan menghilang dari dimensi itu.
"Obito!" Yahiko dan Sasori sontak mengalihkan pandangannya pada Itachi yang terlihat panik. Mereka tak menemukan sosok Obito disana. Seketika, firasat buruk memenuhi pikiran mereka.
"Sasori! Bawa jiwa Sakura! Obito akan mencelakai tubuh Sakura. Aku akan membawa kalian semua keluar dari dimensi ini!" Sasori dengan cepat menggunakan boneka penghisap jiwanya untuk mengambil jiwa Sakura yang terikat. Yahiko terdiam memandang sekelilingnya. Ada banyak orang yang memiliki ikatan dengan Sakura. Semua ini terlihat begitu rumit baginya.
Srettt
Tap
Itachi dengan cepat membawa Sasori, Yahiko, dan Sasuke keluar dari dimensi Obito. Mereka sekarang bersiap untuk menyerang Obito. Tak peduli sebelumnya mereka adalah kawan ataupun lawan, karena sekarang mereka semua harus menyelamatkan Sakura yang berarti dihidup mereka.
"Obito! Hentikan!" Sasori memperingati Obito yang terlihat akan melakukan sesuatu dengan tubuh Sakura. Samar-samar, ia bisa merasakan jiwa Rin yang menghampiri tubuh tanpa jiwa Sakura.
"Obito akan memasukkan jiwa Rin ke tubuh Sakura!" Sasori memperingati Itachi, Yahiko, dan Sasuke yang bersiap menyerang Obito. Mereka satu persatu melancarkan serangannya, mencoba mencegah Obito melakukan rencananya.
"Amaterasu!" Sasuke dan Itachi menggunakan mata mereka untuk membakar Obito dengan amaterasu mereka. Namun sayangnya Obito dapat menyerap amaterasu yang hampir membakarnya itu.
"Sial!"
"Mati Kau!" Yahiko dengan cepat melancarkan tinjunya kearah Obito. Tapi kepalan tangannya hanya meninju udara. Obito menghilang dan kembali muncul dibelakang Yahiko.
Duagh
Brakk
Yahiko terpental. Sasori yang hendak maju menyerang, tertahan Itachi, "Sasori, kau jaga jiwa Sakura. Kami akan mengalihkan Obito lalu kau ambil tubuh Sakura!" Sasori tak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Itachi. Ini semua demi Sakura.
"Kita tidak bisa sembarangan menyerangnya. Kecepatannya diatas rata-rata." Sasuke mengangguk dalam diam mendengar perkataan Itachi. Mereka harus memikirkan cara untuk mengimbangi kecepatan Obito.
"Sasuke, kita harus menyerangnya dari dua arah secara bersamaan." Itachi bersiap menyerang Obito. Tapi dengan tiba-tiba Obito kembali menghilang dan kini muncul menghalangi Sasori dan Yahiko yang hendak mengambil tubuh Sakura.
"Genjutsu!" Seketika Sasori terdiam membatu. Ia sudah terperangkam genjutsu Obito. Namun genjutsu Obito sama sekali tak mempan pada Yahiko.
Obito memandang sengit Yahiko, "Mata Ootsuki eh?"
Yahiko kembali menerjang Obito, namun ia berhasil menghindar. Sasuke dan Itachi yang samar-samar bisa melihat arah tujuan Obito dengan Mangekyo Sharingan mereka sontak melesat kearah Obito.
Duagh
Brakk
Tinju mereka berhasil mengenai Obito. Wajah Obito sedikit retak. Namun, ia dengan cepat bangkit dan berbalik menyerang mereka.
"Akan kubunuh kalian!"
DOR!
.
.
.
.
-TBC-
Huaaaaaa author kembali lagi. Bentar lagi multichap ini bakalan tamat lho *krik
Terimakasih untuk para readers yang sudah meninggalkan jejaknya pada fic ini yaa. Silahkan tuliskan kritik, saran, pendapat readers pada kotak kuning dibawah inii. Arigatouu *kecupkecup
Balasan review :
lyra (Guest) : Arigatouuu atas reviewnyaa :D hehe endingnya gimana yaa? Baca aja terus fic ini pasti ketahuan *plak alurnya membingungkan? Gomen gomen. Author error nih hehe.
Uchiru (Guest) : Hoho arigatou atas reviewnyaa :D ini sudah dilanjutkan yaaa
RnR?
