SUATU HARI YANG INDAH

Hidupku bergelimangan harta dan tinggal di rumah hatiku kosong sejak kedua orang tua kandungku meninggal dan aku tinggal bersama kedua saudara kandungku beserta kedua orang tua tiriku dan kedua saudara tiriku .Kemudian aku menemukan sosok yang membuatku jatuh cinta ketika aku menjadi artis film.

CHAPTER XII :TAHUN BARU DI KONOHA

Warning :kata banyak kepotong

Aku merealisasikan rencanaku untuk berlibur ke Konoha pada saat liburan tahun baru. Kegembiraanku bertambah saat aku mendengar kalau Kak Neji akan wisuda dan memiliki rencana untuk segera melepas masa lajangnya memulai biduk rumah tangga bersama kekasihnya yang kupanggil Kak Tenten. Nami dan Ishikawa menyambut kedatanganku dengan orang tua mereka a.k.a orang tua tiriku bersikap dingin seperti biasa. Hanabi memelukku saat aku baru tiba di rumah. "Oh kakak aku benar-benar merindukanmu!"ucapnya sampai air matanya menetes.

"Hinata,bagaimana kabarmu di Tokyo hm?"tanya Kak Neji."Baik kak. "Kak Neji terkekeh. "Kamu sudah pacaran belum?" "Err!Bisa dibilang belum."Kak Neji mencolek daguku. "Ah masa' adikku secantik ini tidak memiliki pacar sih?Oh ya kamu masih sering nelpon Ino nggak?" "Jarang sekali." "Wah sayang ya!Minggu kemarin dia tunangan sama pilot. Kalau tidak salah namanya Sai."Mendengar itu,aku sungguh terkejut."Aku sudah bisa tebak kalau kamu terkejut. Aku juga waktu dia ngantarin undangan kesini terkejut. Tapi wajarlah dia memang cantik."

Selama ini Ino selalu tertutup tentang masalah pribadinya pada media. Begitu pula aku. Kuakui hubunganku dengan Ino semakin jauh karena kesibukan kami. Aku terbilang jarang syuting karena aku sibuk dengan skripsiku. Sama halnya dengan Naruto. "Ngomong-ngomong,kamu sudah suka dengan seseorang belum?"tanya Kak Neji. "A...ada."jawabku. "Nah itu baru bagus."ujar Kak Neji. Aku lega karena Kak Neji tidak bertanya siapa seseorang
yang aku sukai itu. Kulihat Hanabi bermain bersama saudara tiri kami dengan gembira.

Ia sepertinya sudah terbiasa berteman dengan Nami sehingga dia tidak canggung berdekatan dengan saudara tiri kami itu. Tiba-tiba Karin menghampiriku dan tersenyum simpul."Hinata,kamu mau makan kue tidak?"tanya Karin."Boleh."jawabku. "Neji juga mau?" "Iya."Lalu kami mencicipi kue buatan Karin."Kamu pasti heran melihat Karin berubah kan?"bisik Kak Neji padaku. Aku mengangguk."Dia berubah baik gara-gara Nami dekat dengan Hanabi."jelas Kak Neji. Aku memutar bola mataku.

"Ya mudah-mudahan dia bisa baik seperti orang tua kandung kita."kataku pelan. Kak Neji menghela nafas. "Juugo dan Karin tidak akan mungkin bisa sebaik orang tua kandung kita,Hinata." Aku tahu itu Kak Neji. Tapi aku masih berharap mereka bisa sebaik orang tua kandung kami. Aku menghabiskan potongan kue yang dihidangkan Karin untukku. "Sekarang,Karin jadi rajin sejak pembantu kita menikah dan tidak bekerja disini lagi. Tapi keangkuhannya tidak pernah berubah."ujar Kak Neji seakan curhat padaku.

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. "Err!Ngomong-ngomong kakak mau wisuda ya sebentar lagi?"tanyaku. "Eh iya aku hampir lupa kasih tahu yang itu. Hehehe maklum sibuk curhat."jawab Kak Neji. Aku tersenyum geli. Kak Neji sekarang berubah ramah. Tidak sedingin dulu. Mungkin dia berubah karena dirinya sudah dewasa. "Aku bersyukur bisa lulus dengan nilai terbaik. Nah nanti kamu juga harus lulus dengan nilai terbaik sepertiku ya!"

Aku mengangguk. "Kak,bisa nggak besok kita dan Hanabi ziarah ke makam ayah dan ibu?"tanyaku. "Bisa saja Hinata!Kan sekarang liburan."jawab Kak Neji. Lalu aku membawa barang-barangku yang kuletakkan di ruang tamu ke kamarku dulu. Kamar ini cukup bersih meskipun kosong sekarang. Aku tersenyum melihat semua dekorasinya tertata rapi termasuk foto kedua orang tuaku. "Ayah,ibu,aku datang. Besok aku akan berziarah ke makam kalian." ucapku.

Esok harinya,aku,Kak Neji,dan Hanabi berziarah ke makam ayah dan ibuku. Kami berdoa khidmat agar doa kami didengar oleh Tuhan. Usai berziarah,kami berjalan untuk pulang. Tapi ketika akan keluar dari gerbang pemakaman,Kak Neji berpapasan dengan Christoper a.k.a Naruto. Naruto bersalaman dengan kami. "Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan kakak!"ujar Naruto. Kemudian Naruto menatapku. "Err!Kamu Hyuuga Hinata yang study di Tokyo University kan?" "I...iya." "Sudah kuduga kalau kamu adalah Hinata yang berasal dari Konoha itu. Ternyata dunia terasa sempit kalau begini." Aku tersipu malu karena tidak menyangka bisa bertemu Naruto disini.

"Oh ya Naruto. Aku dengar kamu itu Christoper De Hansel kan?"tanya Kak Neji."100 buat Kak Neji!"jawab Naruto jenaka. Hanabi tertawa kecil disampingku melihat kedua orang ini. "Hmm!Kamu ziarah sendirian disini Naruto?"tanyaku memberanikan diri. "Iya soalnya orang tuaku berlibur ke Hongkong."jawab Naruto. Kami pun berjalan pulang dengan jalan kaki karena pemakaman di Konoha tidak jauh dari rumah kami.

Ternyata,Naruto mampir kerumahku!Aku deg-degan ketika Naruto duduk berhadapan denganku. "Oh ya apa kamu satu kampus sama Hinata?"tanya Kak Neji. "Iya. Dan aku cukup dekat sama Hinata."jawab Naruto. Hanabi melirik jenaka ke arahku. Ia pasti berpikir kalau Naruto adalah pacarku. "Selain aku bertamu kesini,aku juga mau mengakui sesuatu pada Hinata."ujar Naruto. Jantungku semakin berdegup kencang. Untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung. "Yuk bicara berdua saja."ajak Naruto. Aku mengangguk dan mengikuti langkah Naruto ke teras. "Hinata,aku dulu pernah terucap untuk menikahi gadis bernama Hyuuga Hinata. Jadi aku mau menikah denganmu."bisik Naruto to the point. Oh Tuhan!Aku gemetar. Itu berarti Naruto mau memperistriku.

"Tapi sebelumnya aku mau jadi pacarmu dulu. Mau kan terima aku hm?"tanya Naruto. "A...aku mau menerimamu."jawabku gemetar. Naruto tersenyum lebar karena senang. Sedangkan aku tersenyum manis menahan gejolak di hatiku. Hidup memang penuh dengan kejutan. Tidak heran ada orang yang mau hidup abadi. Apalagi jika dia hidup bersama pasangan yang dia cintai.

TBC

Please review my story!