Baekhyun adalah satu-satunya hal terindah yang Chanyeol miliki. Kematian Baekhyun menyisakan luka yang sangat dalam pada dirinya. Bagaimana keajaiban akan menyembuhkan luka di hatinya?
Main cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre: Fantasy/Friendship
Scene 11: Sama
Tidak terasa hari-hari Chanyeol berlalu begitu saja setelah kembalinya Baekhyun. Dia merasa bahagia karena sahabatnya telah kembali, tapi kegelisahan hatinya telah mengikis kebahagiaan itu sedikit demi sedikit. Dia merasa waktu kematian Baekhyun semakin dekat. Usahanya untuk menjauhkan Baekhyun dengan hal-hal yang sama sepertinya tidak berjalan baik.
Pada saat-saat seperti ini, Chanyeol baru menyadari bahwa sebenarnya kebersamaannya bersama Baekhyun dulu tidaklah lama. Tapi bagaimana bisa dia terikat begitu kuat pada sosok temannya itu? Pasti kebersamaan itu sangat berarti untuknya. Dan itu yang membuatnya tak pernah menyerah untuk melindungi Baekhyun sampai saat-saat terakhir.
Chanyeol juga semakin protektif pada Baekhyun setiap harinya. Dia bahkan mudah marah untuk alasan yang tidak dimengerti Baekhyun dan dia pun tidak akan dapat menjelaskan alasannya. Setidaknya dia cukup beruntung karena sifat Baekhyun yang tidak pernah serius dan mood yang mudah sekali membaik, dia tidak perlu menjelaskan alasan-alasan itu karena Baekhyun pun tidak akan mencecarnya dengan pertanyaan rumit. Cukup memberikan alasan sederhana dan terkesan konyol, lalu Baekhyun akan berhenti bertanya.
Seperti hari ini, Chanyeol sengaja mengajak Baekhyun ke taman kota sebagai ganti agar Baekhyun tidak mengajaknya pergi ke kafe untuk bernyanyi dan meminun caffe latte seperti sore itu. Baekhyun sempat mengeluh karena dia sangat ingin minum caffe latte hari ini, tapi dengan mengatakan bahwa mereka harus mencoba hal-hal baru, Baekhyun pun menyetujuinya dengan cepat. Semudah itulah Baekhyun bagi Chanyeol.
Dia pun melangkah dengan senyuman ringan sambil membawa dua kotak susu strawberi di tangannya. Hari ini dia bertekad tidak akan membuat Baekhyun meminum caffe latte, bernyanyi, nonton theater atau pun mendengarkan musik. Dia masih ingin melihat apakah usahanya itu akan berhasil. Jika hal kecil itu berhasil, mungkin saja dia akan mendapat kesempatan untuk menyelamatkan Baekhyun dari kematian.
Tetapi langkah Chanyeol terhenti tiba-tiba. Dua kotak susu strawberri terjatuh begitu saja dari tangannya. Dia melihat Baekhyun sedang menikmati pertunjukan musik dari pengamen jalanan dan Baekhyun juga sedang menyenandungkan dengan pelan lagu yang dibawakan pengamen jalanan itu. Lagu yang sama. Like Music, Like Rain. Ditambah dengan sekaleng caffe latte yang telah terbuka di tangan kiri Baekhyun. Hal itu sanggup membuat jantungnya berhenti mendadak.
Seperti kesetanan, Chanyeol berlari ke arah Baekhyun. Dia merebut caffe latte di tangan Baekhyun dan membuangnya begitu saja. Dia juga menarik lengan Baekhyun dengan kasar dan menyeret Baekhyun menjauh dari sana.
"Chanyeol. Kau apa-apaan sih? Biarkan aku mendengarnya sampai selesai. Aku menyukai lagunya, suara penyanyinya juga bagus."
Baekhyun mengeluh saat lengannya ditarik paksa oleh Chanyeol.
"Kenapa kau juga membuang caffe latte ku? Aku baru saja meminumnya sedikit. Jadi sia-sia kan? Kau tahu aku menyukainya."
Baekhyun terus saja mengeluh tetapi Chanyeol tidak juga mempedulikannya.
"Chanyeol lepaskan, sakit!"
Sebuah kalimat yang mampu membuat kesadaran Chanyeol kembali. Dia pun berhenti dan melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Baekhyun. Dia sungguh tidak ingin Baekhyun merasakan sakit sekecil apa pun.
"Sudah kubilang jangan minum caffe latte lagi. Kau tidak mendengarku hah?"
Nada suara Chanyeol meninggi, matanya memerah menahan perasaannya. Dia benar-benar khawatir, tapi dia tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Atau Baekhyun akan menganggapnya gila.
"Ada apa denganmu? Kau aneh sekali hari ini? Memangnya kenapa jika aku minum caffe latte? Apa yang salah?"
"Bisakah kau tidak menanyakan alasanku berbuat seperti ini? Aku benar-benar tidak bisa menjelaskannya."
Chanyeol tampak gugup. Tidak tahu alasan apa yang harus dia gunakan untuk perbuatannya barusan yang sudah pasti tidak dimengerti oleh Baekhyun. Baekhyun sangat menyukai caffe latte dan dia baru saja melarang Baekhyun meminumnya lagi. Bukankah itu konyol?
"Apa yang kau katakan barusan? Aneh sekali. Kau tidak sedang demam kan? Mengatakan alasan untuk hal itu saja masa kau tidak bisa? Kau bilang kau pintar?"
Baekhyun yang memberondong Chanyeol dengan banyak pertanyaan membuat otaknya terasa membeku.
"Sekarang aku sedang tidak bisa berpikir."
"Kau sakit? Apa kita perlu ke dokter?
Baekhyun menempelkan punggung tangannya ke dahi Chanyeol. Dia khawatir Chanyeol benar-benar sakit. Tapi ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi senyum licik.
"Ahhh. Tapi kepalamu tidak panas. Jadi mungkin kau hanya gila. Kita ke rumah sakit jiwa saja. Bagaimana?"
Chanyeol hanya bisa tersenyum. Pada saat seperti Dia sungguh bersyukur karena Baekhyun sama sekali tidak pernah menanggapi ucapannya dengan serius. Dia pun mengacak-acak rambut Baekhyun gemas. Otaknya pun mulai bisa berpikir dengan jernih.
"Aku tadi membelikanmu susu strawberi. Aku khawatir kau bosan. Setiap hari kau selalu meminum caffe latte dan mendengarkan lagu itu."
"Tidak perlu cemburu seperti itu. Baiklah. Kita akan melakukan hal-hal yang kau sukai hari ini. Apa pun yang kau ingin lakukan Park Chanyeol."
Baekhyun tersenyum genit sambil memamerkan ekpresi imut andalannya. Membuat Chanyeol mambuang muka darinya.
"Hentikan senyum genitmu itu. Kau membuatku mual."
Chanyeol melangkah pergi dengan tersenyum, tapi hatinya sangat resah. Dia memang bisa mencegah Baekhyun pergi ke kafe, tapi nyatanya Baekhyun tetap bernyanyi lagu yang sama dan bahkan minum caffe latte juga. Bagaimana dia harus menafsirkan kenyataan ini? Baekhyun tetap melakukan hal yang sama meski dia telah merubah tempatnya. Apa Baekhyun memang harus mati hari itu meski di tempat yang berbeda dan dalam keadaan yang berbeda? Apa ini yang dinamakan takdir? Tidak bisakah dia merubahnya? Atau mengganti kecelakaan Baekhyun dengan dirinya?
"Kita ke toko buku saja."
Baekhyun belari menghampiri Chanyeol yang telah menjauh darinya. Dia menarik paksa lengan Chanyeol saat dia melihat sepertinya Chanyeol akan mulai melamun lagi. Dia tidak ingin sahabatnya bersedih. Entah karena temannya yang sudah meninggal. Atau karena ayahnya yang yang memukulinya. Atau pun karena ibunya yang meninggalkannya. Dia hanya ingin Chanyeol bahagia.
"Ngomong-ngomong mana susu strowberinya? Kau bilang kau membelikannya untukku."
"Aku sudah meminumnya"
Mereka berjalan beriringan. Sejenak Chanyeol bisa melupakan hal-hal mengerikan yang ada dalam bayangannya. Hatinya pun menghangat seperti hari itu. Hari-hari saat Baekhyun selalu menjaganya. Menjadi seseorang yang bisa diandalkannya. Ya, seperti hari itu.
Flashback
"Paman. Kenapa paman memukul Chanyeol?"
Chanyeol mendengar suara nyaring yang sangat familiar baginya. Suara itu berhasil mengalihkan pandangannya dan sesorang pria paruh baya yang baru saja menendangnya hingga dia jatuh tejerembab tepat di depan pagar rumahnya. Suara itu milik temannya. Lebih tepatnya sahabat terbaiknya.
Teman Chanyeol berlari menghampiri dua orang itu. Dia segera mendorong tubuh pria paruh baya itu agar menjauh dari Chanyeol.
"DASAR BRENGSEK. BERANINYA BOCAH KECIL SEPERTIMU IKUT CAMPUR URUSANKU!"
Pria paruh baya itu marah dan hendak melayangkan tinjunya pada wajah teman Chanyeol hingga membuat teman Chanyeol itu ketakutan dan memalingkan wajahnya.
Melihat hal itu Chanyeol segera mengumpulkan tenaganya dan bangkit. Dia lalu menahan tangan yang hendak meninju temannya itu sebelum tinju itu mengenai wajah temannya.
"HENTIKAN! Ayah boleh memukulku tapi tidak dengan dia. Aku tidak akan membiarkannya."
Chanyeol berteriak dan menghempaskan tangan pria paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya sendiri itu dengan kasar. Dia lalu meraih tangan temannya dan menyeret temannya menjauh dari tempat itu.
"DASAR BRENGSEK. JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!"
BRANKK
Dari jauh Chanyeol mendengar suara makian ayahnya dan suara pagar yang ditutup dengan keras. Dia sudah biasa mendengarnya dan dia tak lagi peduli. Dia tahu, kemarahan ayahnya akan segera berakhir setelah ayahnya sadar dari mabuknya dan keadaan akan kembali tenang. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
"Ahh sakit. Pelan-pelan."
"Cengeng sekali. Begini saja sudah meringis kesakitan. Kau kan bukan anak kecil. Dasar bodoh."
Teman Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya heran saat mengoleskan salep pada luka memar di wajah Chanyeol. Dia heran mengapa begitu saja Chanyeol mengeluh padahal tadi saat ayahnya memukulnya Chanyeol bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Kenapa manja sekali kalau padaku?"
Teman Chanyeol menempelkan plester pada luka memar di pelipis Chanyeol dan dengan sengaja menekannya hingga membuat Chanyeol merintih kesakitan lagi.
"Ahh kau sengaja?"
Teman Chanyeol hanya menyeringai mendengar kata-kata Chanyeol karena dia memang sengaja melakukannya.
"Pada saat seperti ini kau terlihat seperti seorang ibu dan aku akan berubah menjadi anak kecil."
Chanyeol tertawa kecil. Dia sangat menyukai temannya yang bisa menjadi banyak hal baginya. Kadang dia terlihat seperti seorang ibu. Kadang terlihat seperti ayah. Kadang seperti seorang teman yang lucu. Bahkan kadang bisa menjadi seseorang yang sangat menyebalkan.
"Kau merindukan ibumu?"
"Tidak. Aku hanya rindu memiliki seorang ibu."
"Oh."
Teman Chanyeol hanya menjawab singkat. Dia tahu Chanyeol berbohong. Dia tahu Chanyeol merindukan ibunya. Sama seperti dia yang berbohong dengan berkata tidak merindukan ayahnya. Dia pun tidak ingin membahas hal-hal yang menyakiti sahabatnya lagi.
"Oh iya. Kenapa kau diam saja saat ayahmu memukulimu? Kau bisa saja melawan seperti tadi."
Chanyeol hanya menerawang jauh mendengar pertanyaan temannya itu. Keinginan untuk melawan ayahnya muncul berkali-kali, tapi berkali-kali juga dia mampu menepisnya. Bukan karena tidak sanggup, hanya saja dia tidak ingin.
"Aku tidak bisa. Aku hanya memilikinya. Aku sudah beruntung dia tidak membuangku."
Teman Chanyeol tidak bisa berkata-kata lagi melihat ekspresi muram Chanyeol dan sepertinya Chanyeol juga akan menangis. Dia segera bangkit dari halaman sekolah tempat kesukaan mereka dan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sebentar lagi pelajaran dimulai. Ayo ke kelas."
"Aku tidak akan masuk hari ini. Aku malas menjawab pertanyaan pak Kang tentang bagaimana aku mendapat luka ini."
Chanyeol bangkit dan merapikan tasnya. Dia berdiri melangkah ke arah gerbang sekolahnya.
"Hei. Kita sudah di halaman sekolah dan kau bilang mau pergi? Memangnya kau mau kemana dasar pemalas? Kerjamu hanya membolos saja. Kau hanya beruntung karena kau pintar."
"Ke tempat kerjaku. Hari ini aku gajian. Akan ku traktir kau caffe latte sepulang sekolah nanti."
Chanyeol berbalik untuk menjawab pertanyaan temannya dengan senyuman termanis miliknya.
"Aku tidak mau caffe latte kalengan. Harus di kedai kopi. OK?"
Teman Chanyeol berteriak karena Chanyeol sudah cukup jauh darinya.
"Ok."
Chanyeol menjawab dengan melambaikan tangannya dan berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan sekolah. Bekas luka yang ditimbulkan ayahnya tadi tidak lagi terasa karena hatinya menghangat hanya karena seorang teman mungilnya itu. Bagaimana bisa? Dia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
Flashback end
-oOo-
TO BE CONTINUE
-oOo-
Sunbaenimdeul, don't be silent readers ya. Please review. Biar tambah semangat nulisnya. Fighting.
Mohon pembaca menginformasikan jika menemukan cerita yang serupa atau sekiranya ada unsur plagiat. Dimohon juga untuk memberikan review yang bersifat membangun untuk memperbaiki cerita selanjutnya. Terima kasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.
