Author : July

Main cast : B.A.P Bang Yongguk & Kim Himchan (BANGHIM)

Support cast : B.A.P member (Pairing DaJae & JongLo) – Bang Natasha

Gendre : Romance, Hurt, BoyXBoy / Yaoi, AU, Drama

Length : Chapter 12 of?

Rate : T – M

Disclameir : The story it's mine but not for all the cast

Nb: Kalimat yang di bold adalah isi pesan (SMS)

.

.

.

.

.

Warning!

No Bash!

Please noted, I'm not a pro writter/author!

Just leave if you don't like the gendre or the pairing

Typo is normal

Cast akan bertambah demi kelancaran cerita

.

.

.

.

.

.

Sunlight

[Part 12]

"Hyuung,,, ini sudah siang. Kau masih belum mau bangun?"

"Euuung,,"

Tangan dengan otot tegas itu semakin mengeratkan dekapannya pada namja manis yang tengah sibuk memandangi wajahnya, memainkan helaian rambutnya dengan jemari lentiknya. Jongup belum ingin merubah posisi nyamannya saat ini dengan Junhong diatas tempat tidur diapartement miliknya.

"Hyung mau aku buatkan sesuatu? Ramen misalnya?" dan lagi Junhong hanya mendapatkan gumaman sebagai jawaban, membuatnya hanya bisa tersenyum dengan tingkah manja sang kekasih padanya saat ini.

"Junhongiee, bisa kau berikan aku sarapan yang manis?"

"Euum ne. Kau mau sarapan apa Hyung?"

"Morning kiss"

Jongup masih memejamkan matanya, senyum menghiasi wajahnya karena Jongup yakin kini wajah Junhong dihinggapi semburat merah. Junhong bergerak, melepaskan rengkuhan Jongup darinya, membuat Jongup akhirnya membuka kedua matanya dan terjadi kemudian adalah Junhong yang tersenyum manis, mendaratkan bibir pinknya untuk memberikan sarapan manis yang Jongup minta sebelumnya. Junhong menyesap manis bibir Jongup.

.

.

.

(u_u)(n_n)

.

.

.

'Bbang, kau sudah bangun?'

Sebaris kalimat itu yang jadi sambutan pagi menjelang siang seorang Bang Yongguk, membuat hatinya menghangat, sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya. Inginnya Yongguk bicara langsung, mendengar suara yang selalu mampu menggetarkan hatinya, membuat jantungnya berdenyut dengan antusias namun untuk saat ini Yongguk menahannya karena yang dia dengar dari Daehyun, Himchan masih harus menempuh beberapa kali lagi terapi untuk bisa ketahap itu, meski hanya bicara lewat telpon.

'Ne, baru saja. Hari ini kau terapi?'

Bukan gaya seorang Bang Yongguk sebenarnya untuk melakukan percakapan dengan berkirim pesan, dia lebih menyukai komunikasi langsung, tetapi saat ini adalah pengecualian. Baginya tiga minggu ini mengirim dan membalas pesan adalah hal yang wajib dilakukannya, bahkan kini Yongguk tidak bisa jauh dari ponselnya karena dia tidak ingin Himchan harus menunggu lama untuk sebuah balasan dari pesan yang dikirimkannya.

'Ne, nanti sore aku terapi. Youngjae yang akan menemaniku'

Yongguk masih asik berkirim pesan dengan sesekali senyum muncul diwajahnya hingga tanpa dia sadari kini pintu kamarnya telah terbuka dan sang kakak cantiknya sedang memandang bingung kearahnya. Jelas rasa bingung itu menghampiri Natasha karena sudah sangat lama dia tidak melihat senyum manis nan lepas itu menghiasi wajah sang adik.

"Sepertinya sedang senang"

"Aah ne?"

"Kau. Kau kelihatannya sedang senang, ada apa?"

Natasha beranjak dari pintu kamar, melangkah menghampiri Yongguk di tempat tidurnya dan yang bisa Yongguk lanjutkan hanya meletakkan ponselnya di nakas. "Tidak ada Noona, hanya Daehyun dan cerita bodohnya" tidak bermaksud berbohong, hanya saja Yongguk merasa belum saatnya memberitahu soal Himchan pada Natasha.

.

.

.

(u_u)(n_n)

.

.

.

"Hyung, jangan memaksakan diri"

"Aku hanya ingin cepat sembuh Jae"

Youngjae sepenuhnya mengerti apa yang Himchan inginkan, tetapi Youngjae juga dapat melihat jika Himchan kini sangat memaksakan dirinya untuk sembuh dengan mengikuti terapi hampir setiap hari dan itu membuat Himchan kelelahan. Beberapa kali saat menjalani terapinya Himchan masih harus merasakan organ tubuhnya bereaksi, bahkan beberapa hari yang lalu Himchan tidak tahan untuk menahan rasa mualnya dan harus mengeluarkan isi perutnya diruangan dokter terapinya.

"Jaeaa, bagaimana keadaannya? Yongguk. Dia, apa kabar?"

Mata marbel Himchan terfokus pada langit cerah diluar jendela kamarnya, menatapi dengan perasaan yang sangat merindu pada beda angkasa yang bernama matahari disana. Bagi Himchan bukan hanya matahari yang menjadi sumber kehidupannya, dibumi ini ada seseorang yang berfungsi sama layaknya matahari untuknya. Bang Yongguk.

"Yongguk hyung terlihat lebih hidup Hyung. Pertama kali aku bertemu dengan Yongguk hyung dia memang beberapa kali tersenyum namun dua hari lalu saat aku bertemu lagi dengannya dan melihatnya tersenyum rasanya jauh berbeda. Senyumannya yang sekarang ini lebih terasa menyenangkan dibandingkan senyumannya dulu yang terasa hambar".

"Benarkah?" senyum tipis tercipta diwajah Himchan yang terlihat sedikit pucat, kini jika boleh jujur Himchan sangat iri dengan Youngjae yang bisa melihat senyum Yongguk. "Hyung, istirahatlah beberapa hari, kau kelelahan. Terapimu tidak akan memberi hasil baik jika kau kelelahan seperti ini" sekali lagi Youngjae mencoba membujuk Himchan.

"Kau tidak tau rasanya jadi aku Jae" ucap Himchan dengan helaan nafas pelan.

"Ne, aku memang tidak tau bagaimana rasanya jadi kau Hyung, tapi aku tau kau sangat ingin sembuh untuk bisa bersama dengan Yongguk hyung lagi. Tapi Hyung, kau hanya akan buang-buang waktu mengikuti terapi jika tubuhmu sendiri kelelahan dan dengan seperti itu kau bukannya akan cepat sembuh namun malah memperlambat penyembuhanmu"

Menarik nafas panjang, penjelasan beserta ungkapan hatinya barusan pada Himchan membuat Youngjae serasa kehabisan nafas. Bukan bermaksud menggurui, Youngjae hanya terlalu perduli kepada Himchan.

"Ne, ne baiklah. Hari ini aku tidak akan terapi. Kau puas?" saut Himchan dengan nada malas dan pelukkan hangat Youngjae dipunggungnya seakan menajadi hadiah akan keputusannya untuk tidak mengikuti terapi hari ini.

"Kau sudah mau pergi?" tanya Himchan ketika Youngjae beranjak untuk mengambil tas punggungnya yang tergeletak diatas tempat tidur Himchan. "Ne Hyung, sebentar lagi Daehyun sampai" saut Youngjae kini sudah dengan tas yang tersampir dipundak kanannya. "Oo, jadi kau memang sudah merencanakan untuk mengagalkan terapiku hari ini rupanya" decak Himchan seakan jengkel dan mendapatkan Youngjae yang tersenyum kearahnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan untuk membuat tanda perdamaian.

Youngjae hampir membuka knop pintu kamar ketika Himchan mengintrupsi kegiatannya dengan satu permohonan kecil. Youngjae hanya menganggukkan pelan kepalanya untuk menyanggupi permintaan Himchan.

Seseorang yang beberapa saat lalu dimintanya untuk istirahat kini malah sibuk didapur dan upaya Youngjae untuk menanyakan kegiatannya hanya berbalaskan dengan "Kau tunggu saja" dan alhasil setelah beberapa kali mendapatkan jawaban yang sama, akhirnya Youngjae hanya duduk diam dimeja makan dapur. Tidak lama, bahkan tidak sampai tiga puluh menit Himchan telah menyelesaikan acara masaknya didapur. Memberikan satu kotak bekal kepada Youngjae. Himchan tau akan kebingungan yang terlihat jelas diwajah Youngjae saat ini dan jujur saja Himchan merasa jika adik sepupunya terlihat sangat manis dengan wajah bingungnya.

"Berikan pada Yongguk dan jangan katakan jika ini dariku. Kau harus melihat dia memakannya lalu beritahu aku bagaimana responnya, arachi?" jelas Himchan dengan mengakhiri ucapannya menyentuh lembut poni yang menutupi kening Youngjae.

"Ne baiklah, aku akan berikan ini pada Yongguk hyung dan sekarang penuhi janjimu untuk istirahat Hyung. pergi kekamar dan tidur" Youngjae mendorong pelan bahu Himchan dari belakang, menggiring langkah Himchan untuk menuju tangga.

.

.

.

(u_u)(n_n)

.

.

.

"Yaa, kenapa kau hanya memberikannya pada Yongguk hyung. Mana untukku?"

"Jangan cerewet"

"Igo, kau saja yang makan" Yongguk mengarahkan kotak bekal berwarna merah pekat itu kepada Daehyun, namun belum sempat Daehyun mengambilnya sudah lebih dulu Youngjae mendorong tangan Yongguk, menjauhkannya dari jangkauan Daehyun.

Youngjae membuka kotak bekal itu, memberikan sumpit kepada Yongguk. "Makanlah Hyung, Kudengar Hyung suka ramen jadi aku membeli ramen dekat rumahku, mereka terkenal memiliki ramen yang sangat enak" jelas Youngjae ketika melihat guratan dikening Yongguk dan bagaiman Youngjae tahu jika kotak bekal itu berisikan ramen? Mudah saja karena dia melihatnya ketika Himchan memasukkan ramen kedalam panci. Yongguk merasa ada aneh, bagaimana tidak karena hanya Yongguk yang mendapatkan ramen itu sedangkan kekasihnya sendiri, Jung Daehyun tidak. Lagi pula kalau dilihat dari kotaknya bukan seperti kotak kemasan rumah makan, melainkan memang kotak bekal biasa.

Tidak ingin membuat Youngjae yang sudah membelikannya ramen kecewa, Yongguk menggunakan sumpit yang sudah berada ditangannya untuk mengambil batang lentur ramen dihadapannya dengan sedikit merusak hiasan diatas ramen tersebut, dimana ada irisan terlur juga ayam berserta bawang bombay dalam keadaan setengah matang.

Rahang tegas itu bergerak untuk mengunyah makanan didalam mulut dan hanya butuh beberapa detik hingga kemudian gerak rahang itu berhenti, satu yang bisa Yongguk lakukan ketika menelan ramen yang memenuhi rongga mulutnya adalah menatap kearah Youngjae.

"Ini ,,"

"Aku rasa Hyung tau" Youngjae tersenyum manis, sangat manis malah.

"Ya, apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti"

"Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Ayo, sekarang kita berangkat. Aku harus menemui Park sosengnim"

Youngjae menarik tangan Daehyun untuk bangkit dari sofa nyaman diruang tamu Yongguk, meski dengan matanya yang masih tertuju pada ramen milik Yongguk, Daehyun tetap mengikuti langkah Youngjae.

"Youngjae. Terima kasih" ucap Yongguk tulus.

"Jangan sungkan Hyung" senyum Youngjae lagi dengan manis dan ingatkan Yongguk untuk memukul keras kepala direktur muda itu jika suatu saat Daehyun melukai makhluk manis bernama Yoo Youngjae karena sudah menyiayiakan malaikat seperti Youngjae.

.

.

"Yoo Youngjae, apa-apaan tadi itu?"

Kesal, ya tentu saja. Daehyun diminta Youngjae untuk mengantarkannya kerumah Yongguk hanya untuk mengantarkan sekotak ramen yang bahkan dirinya sendiri tidak dapatkan, lagi pula tau dari mana Youngjae jika Yongguk suka dengan ramen dan lagi Youngjae dua kali menampakkan senyum manisnya pada Yongguk, senyum yang biasanya hadir karena dirinya. Tentu saja Daehyun boleh kesal untuk itu.

"Itu dari Himchan hyung, dia memintaku memberikannya pada Yongguk hyung dan berkata untuk tidak memberitahu Yongguk hyung jika itu adalah buatannya, mungkin Himchan hyung hanya ingin tahu apa Yongguk hyung masih ingat bagaimana rasa masakannya dan seperti yang kau lihat tadi. Yongguk hyung mengingatnya"

"Jadi berhenti cemburu Tuan Jung" Youngjae tertawa kecil kearah Daehyun.

"Aku tidak cemburu"

"Akui saja. Kau tidak melihat kearahku saat tadi kau bertanya dan itu tandanya kau sedang cemburu" lagi tawa Youngjae lepas, sungguh lucu akan sikap Daehyun.

"Ne, baiklah. Kau benar"

"As always baby"

.

.

.

(u_u)(n_n)

.

.

.

Himchan berbaring ditempat tidurnya, menyelimuti tubuhnya sebatas perut, jendela kamarnya masih dibiarkan terbuka dan angin sore kini berhembus masuk kedalam kamar miliknya, menggoyangkan gorden. Hanya berbaring tanpa memejamkan matanya untuk tidur, Himchan mencoba untuk menikmati waktunya saat ini ketika langit mulai bersemu orange diatas sana. Bunyi dering pesan masuk menghentikan aksi tarik nafas teraturnya.

"Mashita. Sudah lama aku tidak makan ramen karena tidak ada yang bisa membuatnya seenak buatanmu"

Himchan tersenyum lembut, ada rasa bangga dihatinya akan perkataan Yongguk, jika hanya masakkannya yang bagi Yongguk adalah yang paling enak. Himchan ingat ketika dulu jika Yongguk memintanya membuatkan ramen, didapur Yongguk hanya akan membuat Himchan jengkel dengan terus mengatakan 'Hime cepatlah, aku lapar'.

Rasa bahagia yang sempat hadir hilang ketika Himchan mengingat kegiatan terapinya belakangan ini, dimana tidak ada peningkatan dan malah dirasanya mengalami kemunduran. Jemari Himchan perlahan menuliskan pesan untuk Yongguk.

"BBang, bagaimana jika aku tidak bisa sembuh?"

Ragu, namun Himchan tetap menekan tombol send untuk mengirimkan pesan yang membuat hatinya sakit.

.

.

Yongguk tidak mengira jika balasan seperti itu yang akan dia terima dari Himchan. Yongguk menghela nafasnya berat, dia tidak menyalahkan Himchan akan apa yang kini pria cantik itu derita, trauma itu jauh lebih menyakitkan untuk Himchan dibandingkan dengan apa yang menimpanya selama ini.

.

.

"Tak apa. Berhenti terapi jika itu menyakitimu, kau sudah terlalu lama sakit. Sudah cukup bagiku untuk mengetahui jika kau bernafas Hime, cukup bagiku kau hidup dengan baik, sehat dan bahagia"

Air mata begitu saja mengalir ketika Himchan membaca rentetan kata dari pesan yang Yongguk kirimkan padanya dan sebelum Himchan sempat membalasnya, satu pesan lagi muncul dari Yongguk.

"Maaf untuk membiarkanmu merasakan sakit sendirian, aku bersedia menanggungnya menggantikanmu jika saja itu mungkin. Berhenti mengingatku jika itu hanya membuatmu sakit. Aku tidak pernah menyalahkanmu akan apapun, jadi kau tidak perlu merasa bersalah. Hiduplah dengan baik karena aku juga akan mencoba hidup dengan baik. Ingat orang tuamu dan Youngjae jika kau berfikiran berbuat bodoh. Like the sun, I'm not must have you beside me. It's enough to me, to know if you're alive at the same place where I life then I can breath for life. If you really love me, please do this for me. Please don't think about me and don't remember me because as you know how much I hate myself when someone hurting you and how much I hate myself when I cant help you to take your pain away like the past when we're together"

Himchan terisak, laju nafasnya bahkan terganggu akan isakkannya saat ini, tangan kirinya yang bebas kini memukul daerah dadanya, sesak seakan menggerogoti bagian tubuhnya itu. Himchan dengan sangat jelas bisa mengerti maksud pesan panjang yang Yongguk kirimkan padanya saat ini.

Pintu itu tertutup, jalan yang sekiranya ingin ditempuhnya untuk mengantarkannya menuju tujuannya kini seakan hilang. Kesempatan yang sempat Himchan bayangkan sebelumnya kini seakan menguap, tak berbekas. Himchan tau bagaimana sakitn seluruh tubuhnya selama mengikuti terapi demi kesembuhannya, bahkan sakitnya lebih dari apa yang selama ini dirasakannya karena Himchan harus mencoba berbagai scenario dalam menghadapi traumanya.

Satu pesan yang mungkin akan menjadi pesan terakhir membuat Himchan harus kembali memukul keras dadanya karena rasa sesak itu datang berkali-kali lipat menghujamnya.

"My sunlight. I love you"

.

.

.

-The End? / TBC-

.

.

Akhirnya selesai juga Chapt 12nya setelah sekian lama cuma bisa nulis sebaris atau paling banyak satu paragraph. Julz tau chapt ini lebih pendek dari yang lainnya dan (seperti biasa) jauh banget dari ekspektasi kalian, but I've trying ma best.

Buat yang bingung kenapa Himchan jadinya malah kayak nyerah gitu, itu karena dia pesimis akan hasil terapinya selama ini dan dia juga udah ngerasa capek dan untuk selebihnya semoga bisa dicerna sendiri. Buat waktu dekat mungkin Chapt 13 enggak akan di post karena sebagai bocoran aja akan ada scean yang agak smut hiihii..

Btw, kasih tau Julz dong soal gimana screan sebelum tidur yang kalian suka untuk dilakuin barengan sama pasangan kalian. It's free jika itu imagine kalian bareng sama bias atau pacar beneran hiihii.. Ada planning mau bikin Fluff soalnya tapi buat castnya siapa, Julz belum tau.

Happy Fasting!

#ForeverWithBAP

#EarthNeedsRespect

Mind to review (again)?